Jadikan Sasando Milik Semua Orang

FESTIVAL musik sasando Piala Presiden RI yang bertema Ku Yakin Sampai di Sana berlangsung sukses, sejak Kamis hingga Minggu (17-20/12/2009). Sebanyak 300 pemusik sasando terlibat dalam kegiatan yang baru pertama di gelar di Kupang ini. Puncak kegiatan ini adalah Konser Musik Sasando yang menampilkan perpaduan para musisi sasando dengan Dwiki Darmawan Orkestra di Aula El Tari Kupang, Minggu (20/12/2009) siang.

Festival yang digagas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bersama Korem 161 Wirasakti Kupang ini sedikit menjadi obat kerinduan para pecinta sasando di NTT. Festival ini seperti memanggil dan mengumpulkan kembali para pencinta sasando dari berbagai tempat di NTT untuk bersama memberi citra yang lebih kuat pada musik sasando.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E, mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dirinya akan terus mendorong agar semua musik tradisional tetap eksis. Upaya itu dilakukan guna menghindari aset-aset budaya dan seni itu dari kepunahan.

Festival musik sasando merupakan salah satu upaya melindungi seni tradisional yang ada di masyarakat agat tetap terjaga. Selain upaya pengembangan sasando, baik dari segi kualitas maupun kuantitas tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kini musik sasando sedang diupayakan agar terdaftar sebagai warisan dunia pada badan dunia, Unesco.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat ini mestinya langsung dengan tindakan nyata di lapangan oleh pemerintah NTT. Apa yang dikhawatirkan oleh pemerintah pusat mengenai ancaman kepunahan alat musik sasando bisa menjadi kenyataan bila keahlian memetik sasando hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja.

Penguasaan kemampuan memetik sasando ini hanya di kalangan tertentu saja tergambar jelas dalam Festival Musik Sasando Piala Presiden kali ini. Tergambar jelas bahwa para juaranya dari keluarga tertentu saja. Mungkin hanya keluarga atau orang tertentu saja yang secara khusus menaruh minat pada musik jenis musik tradisional ini, tapi perlu disadari bila tidak ada pengembangan yang luas pada sasando, maka tidak mustahil suatu saat sasando akan tinggal cerita.

Mestinya sasando jangan cuma menjadi alat musik yang eksklusif milik kalangan tertentu. Sasando sudah menjadi ikon NTT. Secara nasional, bila bicara sasando maka masyarakat Indonesia langsung tahu bahwa musik ini berasal dari NTT. Orang tidak berbicara sasando identik dengan orang-perorangan atau kelompok tertentu. Demikian juga di mancanegara, bila bicara sasando, maka akan terbayang Pulau Timor dan Pulau Rote.

Apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah NTT, yaitu menjadikan sasando sebagai salah satu bahan ajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah merupakan bentuk terobosan.

Untuk menjadikan sasando bahan mulok, maka perlu ada semacam aturan dari Pemerintah Propinsi NTT. Bila memungkinkan perlu ada perda propinsi tentang sasando sehingga semakin melegitimasi sasando dalam peradaban orang NTT.
Sementara para pengelola sekolah atau kursus musik, mesti menambah satu item pengajaran tentang sasando. Mungkin saja peminat musik sasando ini banyak, tetapi tempat belajar musik ini yang hampir tidak ada.

Karena itu para pemusik sasando diharapkan memberi ruang kepada siapa saja untuk berniat belajar musik ini. Menjaga agar tetap eksklusif dalam bermusik hanya akan menjadikan sasando kurang berkembang, baik dalam dinamika musik maupun peminatnya.

Sementara para pemusik muda, cobalah belajar memetik sasando. Sebab, musik sasando juga bisa memberikan jaminan untuk masa depan. Mungkin sekarang belum, tetapi seiring berkembangnya zaman, dunia multimedia, tidak mustahil memetik sasando akan menjadi tontonan yang selalu ditunggu.

Semua upaya itu perlu kita lakukan bersama untuk menjadikan sasando menjadi menjadi milik semua orang. Sebab hakekat musik itu sendiri universal. Sasando bukan lagi milik Rote Rote atau Timor, bukan lagi milik orang-orang tertentu, tetapi sudah menjadi milik NTT. Masyarakat NTT juga bangga memiliki alat musik khas yang tidak ada tempat lain di dunia ini. *

Pos Kupang 22 Desember 2009 halaman 4 (salam)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes