Bumi

Di sini ada suara keangkuhan
Dan ringkik kepongahan!


IZINKAN beta menulis surat untuk bumi. Sepucuk surat dari beranda Flobamora, kampung besar kita yang sedang asyik masyuk mengeruk isi perut bumi. Perut ibu kehidupan kita yang ternyata berlimpah ruah dengan harta terpendam berabad-abad.

Bumi yang baik hati, demam tambang sedang melanda kampung kami. Dari Timor hingga Lembata. Dari Sumba hingga Flores Barat. Tambang! Kami sekarang sadar sesadar-sadarnya betapa Flobamora ini tak miskin papa seperti klaim orang? Di dalam isi perut Timor, Flores, Lembata, Alor, Sumba, Sabu, Rote, Solor, Adonara, Pura, Pantar terkandung kekayaan tiada tara. Tugas kami hari ini cuma satu. Keruk isi perut itu. Dapatkan uang berkarung-karung.


Dulu motto kami tanam, sekali lagi tanam. Motto kami hari ini adalah tambang, sekali lagi tambang! Bukan tambang galian C. Itu lagu lama. Kami mau tambang yang lebih berharga. Setelah marmer pamerkan pesona, bumi Timor kini booming mangan. Tiada hari tanpa mangan. Salahkah kami jika ingin makan dari mangan-mangan yang bertebaran? Setelah sapi dan cendana wangi masuk museum sejarah, biarkan kami menikmati kekayaan lain yang begitu melimpah ruah.

Bumi yang baik hati, kami tersentak kaget ketika tahu betapa Flores dan Lembata yang setiap lima menit bergoyang gempa vulkanis itu kaya emas murni. Emas berbukit-bukit. Jangan tanya lagi kalau sekadar perak, tembaga, gips atau biji besi.

Kekayaan isi perutmu menggiurkan. Banyak sudah yang berkulit putih, kuning, sawo matang hingga hitam legam datang ke negeri kami. Mereka ngiler dan memuji setinggi langit. Membuat kami jatuh hati hingga selalu ingin lebih cepat lebih baik mengeruk kekayaan itu mengingat kemiskinan masif di kepulauan ini.

Tapi ketahuilah bumi. Demam tambang di kampung ini telah melahirkan suasana miris memilu. Di sini terdengar riuh suara keangkuhan. Terngiang tegas ringkik kepongahan. Kerendahan hati entah ke mana pergi. Dan akal sehat menjauh!

Marmer dan mangan menggoreskan luka. Dan, emas sungguh mengobarkan kontroversi. Di sini kami bakugigit antara saudara sendiri. Yang pro dan anti tambang. Sudah lama dua kubu maklumatkan perang pernyataan dan aksi. Setuju dan tidak setuju. Yang satu berdalih sebagai pihak paling benar atas nama negara. Yang lain fokus pada kerusakan lingkungan hidup serta spirit pro rakyat.

Bumi, ibu kehidupan. Demam tambang menggiring kami melajutkan praktik salah urus, tega melabrak aturan serta mengabaikan pertimbangan akal sehat dan nurani. Egoisme menggumpal. Semua merasa paling benar. Beberapa sudah menghentikan (sementara) penambangan karena tak berizin serta penolakan dari rakyat. Yang lain tetap gigih pegang prinsip, lanjutkan! Demi wibawa negara dan pemerintah.

Di Flores barat 28 izin kuasa penambangan telah terbit dalam kurun waktu empat tahun (2004-2008). Bayangkan bagaimana jadinya bumi Manggarai yang menghijau jika 28 lokasi itu benar-benar ditambang dengan amdal hasil perselingkuhan? Mungkin suatu hari nanti ketika anak cucu kami ingin melihat gurun untuk tambah ilmu, mereka tak perlu pergi jauh ke Sahara.

Bumi yang baik hati, kontroversi tambang belum berujung. Kami bingung. Di kampung kami tak sedikit kaum cerdik pandai. Tak kurang kaum intelektual, orang- orang cerdas dan profesional. Tetapi mereka sepertinya diam-diam saja. Malas tahu atau mungkin lebih doyan mengupas politik dan kuasa yang memang nikmat.

Kontroversi ini membutuhkan pencerahan, tidak sekadar hitam atau putih. Tidak cukup menolak atau pro tambang. Kontroversi mestinya berujung solusi yang bisa diterima semua pihak yang berkepentingan dengan tambang.

Bumi, kami sungguh menyadari perutmu adalah sumber kehidupan kami. Tetapi mengeluarkan isi perutmu butuh pertimbangan. Butuh pengelolaan yang baik dan bijaksana agar hunian kami tidak rusak. Sepatutnya mengeruk tanpa merusak agar bumi ini tetaplah bumi yang menghidupkan sampai kapan pun.

Bumi yang baik hati, entah mengapa kami makin sulit berembug dan berdiskusi. Berdiskusi secara sehat. Ironis betul karena kami sudah hidup di alam demokrasi. Demokrasi langsung yang dipuji komunitas internasional.

Bumi yang baik hati, gara-gara tambang kami jadi cakap mengidentifikasi kawan dan lawan. Juga cerdas kobarkan prasangka. Yang "pro" kurang lebih terdiri dari perusahaan tambang, pemerintah dan masyarakat yang diuntungkan tambang. Sedangkan yang "anti" adalah LSM dan donornya, masyarakat yang dirugikan hingga para pihak yang mendapatkan risiko buruk dari pertambangan.

Kedua kubu belum mau mendudukan perkara secara elegan. Hari demi hari masih saja menjual kambing hitam. Yang "pro" menunjuk yang "anti" sebagai kambing hitam. Demikian pula sebaliknya. Kambing hitam bertarung hasilnya sama-sama hitam bukan? Sia-sia belaka. Tetap menggantung pertanyaan ini, siapa yang memetik manfaat dari kontroversi pertambangan? Rakyat? Belum tentu kawan!

Bumi yang baik hati, tambang sekali lagi tambang membuat kami bersua tanpa jumpa, bertemu tanpa sapa. Kami berprinsip menang-menangan. Kami teralienasi. Mulai lupa siapa diri kami sebenarnya.

Makin banyak di antara kami yang lupa bahwa manusia sekadar numpang hidup sesaat di bumi fana. Bumi ini sejatinya milik anak cucu yang lahir kemudian. Bumi yang baik hati, berilah kami setetes kekuatan guna berperang melawan lupa diri. Terima kasih bumi. (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 13 Juli 2009 halaman 1

Jegha: Melestarikan Alam di Mauponggo

IMBAUAN untuk senantiasa melestarikan alam sekitar di sejumlah kampung di Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, bukanlah hal baru. Bukan karena ada Kementerian Lingkungan Hidup.

Pola pelestarian alam di kampung-kampung di Mauponggo telah lahir, tumbuh dan berkembang semenjak zaman nenek moyang dan masih tetap bertahan hingga kini. Ada sejumlah kampung di Mauponggo yang masih mempertahankan tradisi tersebut, sebut saja Kampung Nuanage-Desa Lokalaba, Kecamatan Mauponggo.

Pola pelestarian alam secara tradisional oleh warga sertempat menyebutnya dengan nama Jegha. Meskipun tidak ada aturan tertulis yang secara ketat menggariskan, namun secara umum tradisi Jegha terjadi pada kurun waktu tiga atau empat tahun sekali. Artinya tradisi tersebut diawali dengan berkumpulnya setiap keluarga dalam kampung atau dalam satu desa pada salah rumah warga yang telah disepakati pada awalnya. Setiap keluarga yang datang wajib membawa satu ekor ayam dan ketupat yang bakal dijadikan makanan dan lauk pada saat pertemuan membahas soal Jegha.

Dalam pembicaraan yang dilakukan sambil makan para anggota keluarga akan saling memberikan usul dan saran kira-kira apa saja yang masuk dalam kategori Jegha.

Secara umum Jegha memberikan rambu-rambu bahwa dalam kurun waktu tertentu ada rumpun bambu atau pohon yang tidak boleh ditebang, tanah yang tidak boleh dibajak, sungai yang tidak boleh diambil hasilnya bahkan ada yang lebih mengikat pohon kelapa yang tidak boleh dipanjat meskipun itu milik pribadi.

Namun demikian dalam pembicaraan yang dilakukan secara musyawarah akan disepakati pohon kelapa mana yang akan selalu dipanjat selama proses Jegha berlangsung.

Istilah dalam bahasa setempat menyebut dengan nama Nio Uta artinya pohon kelapa yang boleh dipanjat untuk buat sayur. Tentu hanya pohon kelapa tersebut saja sedangkan pohon kepala lain dilarang keras untuk dipanjat selama proses Jegha berlangsung. Sedangkan pohon kayu maupaun rumpun bamboo dapat dipotong selama proses Jegha berlangsung namun hanya terbatas untuk kepentingan umum sedangkan untuk kepentingan pribadi dilarang keras.

Waktu pelaksanaan Jegha yang berlangsung selama satu tahun. Selama kurun waktu tersebut sama sekali tidak boleh dilanggar oleh warga dalam desa atau kampung dan juga warga lain karena jika melanggar maka sanski yang diberikan cukup keras misalnya yang bersangkutan harus membunuh babi atau kambing atau membayar denda lainnya. Babi dan kambing tersebut selanjutnya akan dibunuh dan dimakan secara bersama-sama oleh seluruh warga seisi kampung atau desa.

Untuk memberikan tanda kepada warga lain maka akan dibunyikan meriam bambu ataupun gong gendang. Selain itu juga akan digantung kaki ayam ataupun sayap ayam pada pohon. Maka bagi warga baru yang pertama kali memasuki wilayah Kecamatan Mauponggo dan jika beruntung dapat menyaksikan ada kaki ataupun sayap ayam yang tergatung pada pohon kayu atau bambu hal itu sebagai tanda bahwa di kampung tersebut sedang berlangsung acara adapt pelestarian alam yang dikenal dengan nama Jegha.

Hikmah positif yan dapat disimpulkan dari acara Jegha tersebut adalah dalam kurun waktu selama satu atau dua dua tahun lingkungan alam yang masuk dalam kategori Jegha akan semakin subur karena memang tidak pernah dijamah. Dalam kurun waktu Jegha alam seakan diberikan kebebasan untuk berkembang. Tanah dipastikan tetap subur dan air sungai dipastikan tetap jernih. Pemerintah tentu tidak perlu lagi harus menuliskan pesan yang digantung pada pohon dengan tulisan dilarang membakar hutan atau menebang pohon karena memang sudah dari dulu semenjak zaman nenek moyang hingga kini kampung-kampung di Kecamatan Mauponggo telah mengetahui bagaimana cara memenfaatkan sumber daya alam tanpa harus merusak. (Romualdus Pius)

Pos Kupang edisi Sabtu, 11 Juli 2009 halaman 5

Okula Pengganti Nasi

INOVASI dan modifikasi makanan lokal agar menjadi makanan yang berselera sebenarnya sudah lama dilakukan oleh masyarakat ini. Masyarakat yang sudah memiliki kebiasaan mengelola komoditi dari kebun mereka tentu tidak mengalami kekurangan pangan. Inilah yang dilakukan oleh warga Kampung Bina Tana-Desa Wee Kokora, Kecamatan Wewewa Timur-

Kabupaten Sumba Barat Daya.
Sebagian besar warga desa ini sehari-harinya sebagai petani, baik petani sawah maupun ladang. Selain itu, mereka juga beternak kerbau, kuda dan sapi, sementara kebun-kebun mereka ditanami aneka jenis kacang-kacangan, jagung, ubi kayu dan ubi jalar.

Aneka tanaman di kebun tidak selalu panen dan dikonsumsi begitu saja. Ada pula dari jenis hasil kebun tersebut dikelola menjadi jenis makanan yang lebih mengundang selera, namun berkalori.

Seperti halnya jenis makanan yang dikenal dengan nama Okula. Jenis makanan yang berbahan dasar ubi kayu ini hanya makanan pelengkap atau makanan ringan, namun makanan yang biasa dibuat ibu-ibu ini terkadang bisa menggantikan makanan pokok sehari-hari warga desa tersebut seperti nasi dan jagung.

Warga Desa Wee Kokora yang berdomisili di Kupang, Markus MP yang ditemui belum lama ini menjelaskan cara pembuatan jenis makanan ini cukup sederhana, bahkan hampir semua daerah di daratan Sumba mengenal makanan ini meski dengan nama berbeda. "Kalau di Sumba, makanan ini ada di semua daerah.Nama mungkin tidak sama, ada bahan yang sama, tapi urutan pembuatannya berbeda," jelasnya.

Menurutnya, pembuatan jenis makanan ini adalah ubi kayu (singkong) dijemur hingga kering. Biasanya pada musim panas, warga desa menjemur ubi kayu tersebut. Ubi kering tersebut kemudian ditumbuk hingga halus. Setelah halus, tepung ubi tersebut dicampur dengan air hangat.

Adonan ini akan membentuk gumpalan-gumpalan kecil warna putih yang bila dilihat sepintas mirip nasi. Setelah itu dicampur dengan parutan kelapa tua serta irisan gula merah (gula lempeng nira). Setelah tercampur, maka adonan yang sudah mulai kemerahan itu dikukus hingga matang. Sampai pada tahap ini, okula pun siap saji. Agar makanan ini lebih terasa enak, bisa ditambah degan gula atau parutan kelapa lagi.

Okula ini biasanya dimakan dalam setiap kesempatan. Makanan ini juga bisa sebagai pengganti nasi karena selain rasanya enak, orang yang memakan okula akan merasa kenyang tak ubahnya seperti makan nasi.

Bukan itu saja, makanan ini juga bisa disajikan dengan sayur labu serta lauk pauk lainnya. Bahkan warna dan aroma yang memikat dari makanan ini akan mengundang selera siapa yang saja yang menikmatinya.

Makanan ini juga biasa diberikan oleh ibu-ibu kepada anak-anak mereka. Bila biasanya anak-anak sulit diajak makan, maka dengan makanan ini membuat anak-anak tertarik untuk makan.
Bagi masyarakat Wee Kokora, mengelola makanan menjadikan makanan yang berselera menjadikan mereka bisa lebih optimalkan pemanfaatan kebun yang ada dengan menanam ubi kayu. Tanam ubi kayu juga tidak harus di kebun yang berukuran besar, tetapi bisa memanfaatkan halaman pekarangan rumah. (Alfred Dama)

Pos Kupang edisi Sabtu, 5 Juli 2009 halaman 5

Belu dan TTU Hambat Sertifikasi Guru di NTT

KUPANG, PK -- Panitia Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 23 Propinsi NTT sampai saat ini belum mengirim data- data portofolio guru di NTT untuk diproses di Jakarta.

Padahal batas waktu pengiriman yang ditetapkan adalah tanggal 20 Juni 2009. Pengiriman portofolio guru- guru di NTT itu terhambat karena Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara (TTU) belum mengirimkan portofolio guru dari kabupaten itu.

Ketua Panitia Pelaksana Sertifikasi Guru Rayon 23 Propinsi NTT, Prof. Mans Mandaru yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/7/2009), mengatakan pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena sampai saat ini data guru yang mengikuti sertifikasi dari Kabupaten Belu dan TTU belum juga dikirim.

"Kami tidak tahu apa alasanya sehingga sampai saat ini belum ada data dari dua kabupaten ini. Jadi kami tidak bisa mengirim data guru-guru ini ke Jakarta. Padahal, batas waktu terakhir pengiriman ke Jakarta adalah tanggal 20 Juni 2009," kata Mandaru.

Dia mengatakan sudah menyurati Dinas Pendidikan Belu dan TTU dengan dengan tembusan ke bupati dua daerah itu agar mempercepat pengiriman data portafolio guru-guru. Untuk kepentingan dimaksud, pihaknya bahkan sudah menyurati dinas pendidikan kota/kabupaten di NTT sejak Maret 2009 dan sudah disosialisasikan kepada para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP).

Mestinya, kata dia, kepala dinas sudah mensosialisasikannya kepada para guru. Namun menurut informasi yang diterima panitia, sertifikasi, katanya, selama ini guru-guru di Belu dan TTU tidak mendapat sosialisasi dari Dinas Pendidikan setempat.

Padahal, katanya, tahun 2009 ini ada kelunakan persyaratan dimana guru yang mendapatkan sertifikasi tidak harus guru yang srata satu (S1) atau diploma empat (D4), tetapi mereka yang berusia 50 tahun dan guru yang memiliki masa kerja 20 tahun. "Ini kan sudah sangat menolong guru-guru kita untuk meningkatkan kesejahteraan mereka," katanya.

Dijelaskanya, tahun 2009, NTT hanya diberi kuota 2.094 guru atau turun 50 persen, karena sudah dua tahun NTT tidak mampu memenuhi kuota yang diberikan oleh pemerintah pusat. Sedangkan, untuk guru-guru lingkungan Depag diberikan kuota 129 orang.
Menurutnya, sampai saat ini portofolio yang masuk sebanyak 1.757 orang dan untuk guru Depag baru 78 orang.

"Kami harapkan peran dari para kepala dinas pendidikan untuk mensosialisasikan kepada para guru sehingga bisa memenuhi kuota yang ditetapkan. Guru kita di NTT kan masih banyak yang belum disertifikasi," katanya.
Guru yang Terlambat
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Belu, Drs. Patris Asa yang dikonfirmasi, kemarin, membenarkan bahwa pihaknya belum mengirim portofolio guru-guru yang mengikuti program sertifikasi.

Dia mengatakan sudah beulang kali memberitahu para guru namun para guru terlambat mengirim ke dinas. Namun saat ini, katanya, data guru-guru itu sudah ada di dinas dan pihaknya merencanakan akan mengirimnya ke panitia sertifikasi guru di Kupang pada tanggal 10 Juli 2009.

"Jadi sebenarnya keterlambatan ini disebabkan karena gurunya yang terlambat masukan berkas itu ke dinas. Dinas hanya menunggu kapan berkas itu masuk lantas kami proses untuk dikirim ke propinsi. Tapi dari laporan staf bahwa berkas sudah sekitar 50 persen sehingga kami rencanakan tanggal 10 Juli baru kirim ke propinsi," katanya.

Sedangkan berkas sisanya (50 persen) akan dikirim kemudian. Dinas, katanya, akan segera meminta para guru yang masih belum memasukkan data untuk secepatnya dimasukkan. (yon)

Pos Kupang edisi Kamis, 9 Juli 2009 halaman 1

SBY-Boediono Unggul di NTT

KUPANG, PK -- Hasil pemungutan suara Pilpres, Rabu (8/7/2009) di Propinsi NTT menunjukkan pasangan SBY- Boediono unggul sementara di 21 kabupaten/kota. Pasangan Mega-Prabowo di urutan kedua, sedangkan JK-Wiranto di urutan terakhir.

Sampai pukul 20.00 Wita, semalam, KPU NTT baru mengeluarkan hasil sementara dari satu daerah yakni Kota Kupang. Di ibukota Propinsi NTT ini, SBY-Boediono memperoleh 35.874 suara, Mega-Prabowo 26.852 suara dan JK-Wiranto 4.698 suara. Data yang dilaporkan itu baru 30 persen yang direkap dari 18 dari 49 kelurahan.

Di Sumba Timur, perolehan suara sementara yang berhasil dihimpun Pos Kupang, di 27 dari 418 TPS di daerah itu menunjukkan SBY-Budiono unggul dengan 4.461 suara diikuti Megai-Prabowo 2.937 suara dan JK-Wiranto 726 suara.

Pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya cukup banyak. Di TPS I Kambaniru, misalnya, sebanyak 155 pemilih tidak datang ke TPS. Di TPS 6 Prailiu, 155 orang tidak menggunakan hak pilihnya.

Sementara secara nasional, hasil sementara yang diumumkan KPU pusat pukul 22.30 Wita, pasangan SBY- Boediono unggul dengan 2.485.581 suara (60,72 persen), disusul Mega-Prabowo 1.214.486 suara (29,67 persen) dan JK-Wiranto 393.677 suara (9,62 persen).

Mega Unggul
Di Ende, SBY-Boediono bersaing ketat dengan Mega- Prabowo. Di "kota Soekarno" itu, Mega-Prabowo unggul telak di beberapa TPS. Di TPS 01 Kelurahan Paupire di Kecamatan Ende Tengah, Mega-Prabowo unggul telak dengan 139 suara, SBY-Boediono memperoleh 51 suara dan JK-Wiranto hanya kebagian enam suara.

Masih di kelurahan yang sama. Di TPS 09, Mega- Prabowo unggul dengan 77 suara, SBY-Boediono 52 suara dan JK-Wiranto sembilan suara. TPS di Lapas Ende juga diungguli Capres-Cawapres nomor urut I ini. Di sini, Mega-Prabowo memperoleh 136 suara, SBY kebagian 54 suara dan JK-Wiranto hanya memperoleh empat suara.

SBY baru unggul atas Mega di Kelurahan Tanjung- Kecamatan Ende Selatan, dimana SBY-Boediono meraup 1.006 suara, diikuti Mega-Prabowo 323 suara dan JK-Wiranto 96 suara.

Di TPS 11 di Masjid Agung Ende, Mega-Prabowo mendapatkan 74 suara, SBY-Boediono unggul dengan 245 suara dan JK-Wiranto memperoleh 68 suara. Mega Prabowo kembali unggul di TPS 07 Kelurahan Kelimutu, Ende Tengah dimana pasangan ini meraih 130 suara, disusul SBY-Boediono 70 suara dan JK-Wiranto delapan suara.

Sedangkan di TPS 08 Kelurahan Mautapaga, SBY-Boediono unggul dengan 114 suara, disusul Mega- Prabowo 37 suara dan JK-Wiranto 15 suara. Di TPS ini terdapat 280 DPT namun yang mencontreng hanya 166 orang. Ada 113 pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya.

Masih di kelurahan yang sama, SBY-Boediono unggul di TPS 06 dengan 153 suara, Mega-Prabowo 55 suara dan JK-Wiranto 19 suara. Di TPS 07 kelurahan ini,

SBY-Boedino unggul dengan 194 suara, Mega-Prabowo 83 suara dan JK-Wiranto 21 suara.

Di Flotim, pasangan Mega-Pabowo menempel cukup ketat dari pasangan SBY-Boediono. Hasil sementara yang berhasil dikumpulkan Pos Kupang dari sejumlah TPS di 15 kelurahan menunjukkan SBY mempeorleh 5.529 suara, diikuti Mega-Prabowo 4.337 suara dan JK-Wiranto 1.472 suara.

Di Kabupaten ini, pasangan Mega-Prabowo menang di sejumlah desa/kelurahan. Di Kelurahan Sarotari misalnya, Mega-Prabowo unggul dengan 554 suara, SBY-Boediono 260 suara dan JK-Wiranto di urutan kedua dengan 339 suara. Di Desa Horowura-Adonara Timur, juga Mega-Prabowo menang dengan 314 suara, disusul SBY-Boediono 209 suara dan JK-Wiranto 65 suara.

Pasangan Mega-Prabowo juga unggul di Kelurahan Waibalun dengan 792 suara, SBY-Boediono 396 suara dan 74 suara untuk JK Wiranto.

Di Desa Wato One, Adonara, Mega-Prabowo menang dengan 640 suara disusul SBY-Boediono 189 suara dan 16 suara untuk JK-Wiranto.

Di Manggarai, khususnya di 10 kelurahan/desa di Kecamatan Langke Rembong, SBY-Boediono berhasil meraih 15.773 suara, disusul Mega-Prabowo 7.048 suara dan JK-Wiranto 1.189 suara.

Di Kabupaten Sikka, hasil sementara yang dikumpulkan Pos Kupang, memperlihatkan pasangan Mega-Prabowo unggul cukup telak dengan 27.514 suara, diikuti SBY- Boediono dengan 10.958 suara dan JK-Wiranto 1.960 suara.

Pasangan Mega-Prabowo dan SBY-Boediono kejar- mengejar di beberapa kelurahan. Di pusat Kota Maumere, SBY-Boediono unggul di Kelurahan Beru dan Kota Baru. Namun selisih suara antara pasangan SBY-Boediono dan Mega-Prabowo yang tidak terlalu signifikan membuat pasangan SBY-Boediono dapat digeser dengan mudah oleh pasangan Mega-Prabowo di Kelurahan Madawat, Kota Uneng, Kabor, Wairotang, Kecamatan Paga, Desa Nelle Urung, Kecamatan Nelle, Desa Habi, Kecamatan Kangae.

Di Nagekeo, yakni di TPS III di Pasar Danga, pasangan SBY-Boediono meraih 189 suara disusul Mega-Prabowo 189 suara dan JK-Wiranto 26 suara. Di TPS IV, Mega- Prabowo memperoleh 190 suara, SBY-Boediono 196 suara dan JK-Wiranto 9 suara.

Di Kabupaten Belu, di beberapa TPS di Atambua, pasangan SBY-Boediono unggul sementara. Di TPS 9, Haliwen, Kelurahan Manumutin, yang merupakan basis warga eks Timor Timur, pasangan SBY-Boediono meraih 236 suara disusul Mega-Pro (81 suara), JK-Wiranto (13 suara). Di TPS IV Kelurahan Kota Atambua, Mega-Prabowo memperoleh 90 suara, SBY-Boediono (137 suara), JK-Wiranto (24 suara). Di TPS III Kelurahan Birafu, Mega-Prabowo (88), SBY-Boediono (151 suara), JK-Wiranto (28 suara). TPS II Kelurahan Manuaman, Mega-Prabowo (71 suara), SBY-Boediono (238 suara), JK-Wiranto (46 suara). TPS V Kelurahan Rinbesi, Mega-Prabowo (122 suara), SBY-Boediono (246 suara), JK-Wiranto (15 suara).

Di Kabupaten TTS, hasil pemantuan penghitungan surat suara di 11 TPS, pasangan SBY-Boediono unggul dengan 1.444 suara disusul, Mega-Prabowo 520 suara dan JK-Wiranto 226 suara.

Sebelas TPS yang dipantau Pos Kupang itu adalah TPS V, Kelurahan Oekefan, TPS IV, Kelurahan Kota Baru, TPS V, Kelurahan Kota Baru, TPS 7, Kelurahan Taubneno, TPS I, Kelurahan SoE, TPS 5, Kelurahan SoE, TPS 2, TPS 3, TPS I, Kelurahan Kampung Baru, TPS 12, Kelurahan Karang Sirih dan TPS VI, Kelurahan Cendana. (aa/gem/dea/iva/rom/lyn/ee/aly/bb/nia/yel/dar)

Pos Kupang edisi Kamis, 9 Juli 2009 halaman 1

Menukik dari Pinggir

Hengky Ola Sura
Oleh Hengky Ola Sura


Ketua Buletin Sastra Seniman Kata Uniflor, bergiat pada Sanggar Sastra Sint. Conrad Ende


BETA (Beranda Kita) adalah kolom yang hadir setiap hari Senin pada Pos Kupang. Kolom yang diasuh Pemred Pos Kupang (selanjutnya disebut Beta) ini tak lain adalah ekspresi seorang wartawan yang coba mengulas lebih ringan, bernas dan jenaka akan semua yang telah menjadi pemberitaan Pos Kupang pada hari-hari sebelumnya.

Pilihan topik yang diulas pun hal-hal yang kurang mendapat perhatian publik NTT. Dan di sinilah letak kekuatan dari Beta. Beta, hemat penulis merupakan sebuah ulasan tak bedanya catatan pinggir pada Mingguan Tempo yang diasuh redaktur senior Tempo Goenawan Mohammad.


Mengapa Beta? Pertanyaan sederhana ini menjadi kajian penulis yang selalu setia menekuni Beta pada setiap edisi Senin. Beta tak ubahnya sebuah jurnalisme sastrawi. Ia menukik dari pinggir dan menghantam, mengajak semua pembaca untuk tidak sejenak merenung, tetapi mencoba tercenung dan merenung lebih lama akan hakekat hidup dan kehidupan yang seringkali luput untuk diperhatikan.

Beta menulis tentang Alorawe. Alorawe yang tidak terkenal itu sontak menghentak dan menggugat. Menggugat kebijakan sinterklas yang ditempuh pemerintah dengan rasa bangga selama ini melalui program beras untuk keluarga miskin (raskin) dan bantuan langsung tunai (BLT). Alorawe sekadar berita kecil demikian tulis Beta yang mungkin tak sempat dikecapi isinya oleh tuan dan puan (PK, Beta, Senin, 8 Juni 2009).

Alorawe memang hanya sebuah desa kecil di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagakeo. Berita tentang Alorawe pun tidak memiliki daya ledak tinggi. Desa yang terpencil dan terisolir ini tidak memiliki jalan. Bayangkan sudah setengah abad lebih kita merdeka dan salah satu aspek infrastruktur berupa jalan raya pun sama sekali tidak ada untuk warga Alorawe. Kisah yang diangkat Beta ini sungguh sebuah kisah dari pinggir, yang mencoba menembus sekat kemapanan sinterklas di lingkup Propinsi NTT dan Kabupaten Nagekeo sendiri untuk mencari alternatif tentang pembangunan.

Kolom Beta adalah sebuah kolom yang menurut penulis adalah sebuah kolom yang tak hanya sekadar menulis kembali semua yang menjadi pemberitaan Pos Kupang, melainkan lebih dari itu kolom Beta adalah sebuah kolom estetika. Estetika artinya ilmu tentang keindahan atau cabang filsafat yang membahas tentang keindahan yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat dan sebuah karya seni.

Beta identik dengan gulma tetapi bukan sembarang gulma. Kalau dalam dunia tanam-tanaman, gulma adalah tanaman pengganggu, maka Beta adalah gulma yang mengikat, menjerat, mencekik dan merasuk rasa nyaman orang-orang terhormat yang memang senang menerima penghormatan dan disapa dengan Yang Terhormat.

Simak ulasan Yth (PK, Beta, 22 Juni 2009). Cincin emas-berlian tanda ucapan terima kasih atas pengabdian yang luar biasa selama lima tahun memperjuangkan aspirasi rakyat Flobamora. Mereka yang selalu disapa Yth meski rumah dinas untuk mereka yang dibangun dengan uang pajak rakyat dibiarkan tanpa penghuni. Persoalannya bukan soal cincin emas karena telah memperjuangkan aspirasi rakyat (yang belum tentu juga benar) tetapi sapaan Yth jangan-jangan mirip talkshow negeri impian di televisi. Bangga karena selalu disapa Yth tetapi sebenarnya kegalauan sedang meliputi seluruh diri (apa sih yang telah diperjuangkan Yth, seperti saya ini?).

Demikian pertanyaan yang senantiasa mengganggu pikiran dan benak si Yth. Kemajuan tidak diukur dengan berdasarkan semakin banyaknya jumlah sapaan Yth. Ulasan Beta tentang Yth adalah sebuah bentuk protes akan kondisi impersonal, kondisi Yth sebagai manusia tanpa kemanusiaanya, tanpa kepribadian.

Para Yth di negeri ini memang harus senantiasa diusik agar jangan sampai mereka lelap. Maka suara Beta sebenarnya adalah seruan yang membangunkan para Yth dari tidur lelap. Yth harus diajak, diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan pengganggu tentang kebijakan-kebijakan yang diambil yang menyangkut masalah hidup orang banyak agar Propinsi NTT tidak terus-menerus dicap punya hobi unik yakni mengoleksi MoU (Memorandum of Understanding) yang selalu tidak tepat sasar.

Pos Kupang pada kolom Beta 1 Juni 2009 menulis demikian, coba periksa fakta di beranda Flobamora, adakah MoU yang sungguh menjejak bumi? Mudahkah tuan menemukan penjabaran konkret atau agenda aksi demi merealisasikan nota kesepahaman yang telah ditandatangani? MoU sungguh menebar pesona.. Suatu hari diakhir masa jabatan, terjadilah serah terima jabatan. Pejabat lama maju menyerahkan memori kepada penggantinya. Dia mengucap sepata dua kata. Hadirin yang terhormat, selama masa kepemimpinan saya, lembaga ini membuat sejarah. Saya menandatangani MoU dengan 50 mitra. Tidak ada institusi seperti kita! Pejabat baru menerima memori itu dengan senyum terangguk. Bangga! Tepuk riuh membahana.

MoU seperti yang disuarakan Beta merupakan sebuah pelajaran teramat berharga bahwa MoU harus telak benar mendarat dengan apa yang menjadi harapan rakyat banyak. Beta dalam seruan ini jelas menunjukkan keberpihakan terhadap rakyat sebagai korban dari MoU yang menindas. Beta mengingatkan bahwa MoU yang selalu melingkupi kehidupan rakyat banyak jangan sampai menjadi ironi.

Kolom Beta sesungguhnya adalah sebuah kritik sosial yang senantiasa menukik dari pinggir. Ia harus memulai dari pinggir, mengangkat realitas pinggiran yang sering terlewatkan dan menukiknya dalam-dalam. Tukikan itulah yang diulas dalam kolom Beta. Beta menjadi pengganggu, tukang kritik yang harus senantiasa ada untuk menyatakan bahwa diam-diam dalam keharmonisan itu tidak baik. Sebab keharmonisan kadang menjadi hegemonik yang menciptakan ketimpangan. Maka perlawanan dengan menukik dari pinggir adalah penting.*

Pos Kupang edisi Kamis, 9 Juli 2009 halaman 4

Mantan Sekda Ende Divonis 6 Bulan

ENDE, POS KUPANG. Com --Mantan Sekda Ende, Drs. Iskandar M Mberu, divonis 6 bulan percobaan oleh Pengadilan Negeri (PN) Ende.

Ia dijatuhi hukuman tersebut karena terbukti melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap anggota DPRD Kabupaten Ende, Heribertus Gani, S.Pd. Vonis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa 5 bulan penjara.

Vonis itu dibacakan Ketua PN Ende, M Purba, S.H pada sidang dengan agenda pembacaan vonis di ruang sidang PN Ende, Selasa (30/6/2009).

Hal yang memberatkan adalah sebagai seorang pejabat, terdakwa tidak arif menyikapi penilaian publik terhadap kebijakan yang diambil. Sedangkan hal yang meringkan, selama persidangan terdakwa berlaku sopan, tidak pernah dihukum dan berterus terang selama persidangan sehingga memperlancar proses persidangan.

Selain itu perbuatan terdakwa tidak semata-mata dilandasi oleh niat buruk, melainkan dipicu oleh perbuatan saksi korban yang mengintervensi kebijakan terdakwa dalam melakukan pembinaan terhadap bawahan.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua PN Ende, M Purba S.H dengan dua hakim anggota, masing-masing Agus Ardianto S.H dan Ronald Masang S.H, serta panitera De Maria Angglina S.H, terdakwa juga dibebani biaya perkara Rp 1.000,00.

Menyikapi vonis yang dibacakan oleh majelis hakim, baik terdakwa maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU), Faetony Yosy Abdullah, menyatakan pikir-pikir. Mereka diberikan waktu 7 hari untuk menyikapi lebih lanjut vonis tersebut.

Menurut Ronald Masang, S.H, yang juga Humas PN Ende, dengan hukuman gantung selama 6 bulan itu, berarti dalam rentang waktu tersebut, terdakwa tidak boleh melakukan perbuatan pidana maupun perdata. Jika tidak, katanya, yang bersangkutan langsung divonis 3 bulan penjara ditambah dengan hukuman atas kasus pidana atau perdata yang baru dilakukan terdakwa.

"Artinya selama 6 bulan menjalani masa hukuman percobaan ini, terdakwa jangan sekali-kali melakukan perbuatan pidana ataupun perdata," tandas Ronald.

Mengenai upaya banding yang diberikan oleh majelis hakim, Ronald mengatakan, baik terdakwa maupun JPU diberi tenggat waktu 7 hari. Jika selama kurun waktu tersebut tidak ada upaya hukum lainnya, maka keputusan majelis hakim yang memvonis terdakwa 6 bulan hukuman percobaan itu, dianggap telah diterima dan memiliki kekuatan hukum tetap. (rom)

1, 2, 3


Manajer itu prosa.
Pemimpin itu puisi.
Tuan pilih yang mana?


INGAT baik-baik angka ini. Satu, Dua dan Tiga. Bisa juga Tiga, Dua dan Satu. Formasinya masih boleh diobok-obok lagi. Misalnya, Satu, Tiga, Dua; Tiga, Satu, Dua; Dua, Satu, Tiga. Pokoknya terserah. Asal jangan sebut salah Dua, Tiga dan Empat atau Lima, Enam dan Tujuh.

Sekali lagi ingat 1, 2 dan 3 saja. Dan, pilih salah satu! Boleh pilih 1, pilih 2 atau pilih 3. Pilih semua tidak dianjurkan karena itu merupakan pilihan yang sia-sia. Nah, pusing kan mengutak-atik angka seperti di atas? Mau bilang apa, demokrasi pada akhirnya toh berurusan dengan angka dan jumlah.


Setelah jedah hampir delapan pekan, tuan dan puan kembali berurusan dengan angka. Setelah hampir dua bulan larut dalam hingar-bingar janji, kenyang mengecapi paparan visi dan misi, debat dan diskusi, perang kata-kata dan perang urat syaraf, sudah hampir tiba waktunya kita mencentang angka.

Tapi baik kiranya tuan dan puan hening sejenak dulu. Luangkan waktu untuk silentium magnum guna menimbang-nimbang angka mana yang hendak dicentang pada hari H pilpres, 8 Juli 2009. Sekadar saran, keheningan mesti dikelola dengan bijak. Jangan sekali-kali membiarkan diri hanyut dalam imajinasi yang melalang liar tiada batas. Hening yang sehat tak mesti pasif. Hening bukan berarti tanpa aktivitas budi dan hati dalam mencermati angka-angka tadi.

Dalam keheningan itu semoga tuan dan puan menemukan angka yang tepat. Toh angka Satu, Dua dan Tiga itu sarat makna. Itulah puncak pesta demokrasi memilih pemimpin. Tinggal dalam hitungan jam saja, kita anak-anak Ibu Pertiwi yang telah berhak memilih akan memilih pemimpin negeri untuk masa lima tahun ke depan.

Di bilik suara keberadaan kita tak lebih dari lima menit, tetapi hal itu sangat menentukan perahu Indonesia Raya berlayar pada hari-hari mendatang.

Salah pilih nakhoda perahu Indonesia bakal remuk redam dihempas gelombang zaman yang makin tak karuan. Keliru mencentang angka, menyesal kemudian tiada guna karena perahu Indonesia tak bergerak menuju dermaga tujuan.

Lalu siapakah pemimpin yang tuan cari? Ada banyak definisi. Sangat beragam pandangan dan teori. Para akademisi tentu lebih mahir dan ahli dalam hal ini. Buat beta, lagi-lagi ingin mengulang warisan Kanis Pari, salah seorang politikus terkemuka yang pada zamannya sangat menggairahkan demokrasi di beranda rumah Flobamora. Warisannya itu agaknya masih relevan hingga detik ini.

Kanis Pari atau lebih tersohor disapa Bung Kanis itu melukiskan pemimpin dan kepemimpinan sebagai Puisi dan Manajer adalah Prosa. Prosa dan Puisi tentu tak sama bukan? Bung Kanis lebih jauh menjelaskan maksudnya itu dalam buku suntingan sobatku, Jannes Eudes Wawa: Jangan Takut Berpolitik (Penerbit Bank Naskah Gramedia bekerja sama dengan Pakem, Jakarta 2004, hal 131).

Menurut Bung Kanis, tujuan seorang manajer adalah melaksanakan tugas dengan baik. Tujuan pemimpin melaksanakan sesuatu dengan tepat! Baik belum tentu tepat! Pemimpin menentukan arah yang tepat, menentukan kebijakan yang tepat. Meyakinkan secara tepat dan menggerakkan secara tepat ke arah sasaran.

Manajer berpikir tentang hari ini, esok dan lusa. Pemimpin berpikir sampai dengan hari sesudah lusa itu. Tugas pemimpin meyakinkan dan menggerakkan. Persuasi guna mobilisasi. Meyakinkan secara mantap dan mengarahkan (yang dipimpin) secara tepat arah.

Maka pemimpin mesti punya gambaran tentang sesuatu itu dan punya kapasitas untuk menghasilkan suatu tindakan. Ia menggaji para manajer untuk membantunya bekerja tetapi cuma dia yang cakap menentukan arah dan mengobarkan motivasi.

Sekarang silakan tuan dan puan periksa, siapa di antara ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden RI yang mendekati gambaran ideal tentang pemimpin itu? Yang mana puisi, yang mana prosa. Siapa yang sudah terbukti mampu, siapa yang sekadar omong-omong doang, dan siapa yang tidak begitu jelas?

Sebagai anak bangsa Indonesia beta bangga akan perkembangan demokrasi di ini negeri. Banyak kekurangan tetapi perkembangan hari ini sungguh luar biasa bila dibandingkan sepuluh tahun atau limabelas tahun silam. Dulu kita beli kucing dalam karung. Bahkan tuan dan puan yang empunya kedaulatan tidak diberi tempat nan elok dalam memilih pemimpin. Tuan dan puan cuma diwakili!

Kini sungguh menyenangkan karena puan pilih sendiri sesuai selera. Dan, selera tak boleh diperdebatkan. Kucing yang kita mau beli pun jelas warna bulunya, kita sudah tahu cara dia mengeong, menerjang, mencakar dan menggigit.

Tuan tentunya sudah kenal kira-kira kucing mana bergaya total football alias serangan total atas lawan-lawannya. Mana kucing berwatak jinak-jinak merpati. Murah senyum, kaya tawa tapi diam-diam mencakar dari belakang. Mana kucing yang otaknya berisi. Dapat diandalkan meski agak malu-malu kucing!

Sekarang berkat liputan media massa yang sangat terbuka serta kemajuan teknologi informasi nyaris tiada lagi yang ditutup-tutupi. Konstituen tahu siapa pemimpin, siapa manajer, siapa sekadar kepala yang diangkat dengan SK (Surat Keputusan). Pemimpin sejati tanpa SK pun aura kepemimpinannya tetap bening. Jadi ingat saudara-saudariku sekampung dan sehalaman, pilih Satu, pilih Dua atau Tiga. Golput tidak kuanjurkan. Selamat mencontreng! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 6 Juli 2009

44 Tahun Kompas

Oleh St Sularto

Empat puluh empat tahun bukanlah usia panjang untuk eksistensi sebuah surat kabar. Dibandingkan usia negara Indonesia yang sudah lebih dari 65 tahun, selama 44 tahun Kompas menjadi saksi sejarah pemerintahan Soekarno, Soeharto, Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sesuai dengan penggugatan- penggugatannya, Kompas ikut serta membentuk sosok kehidupan negara-bangsa Indonesia, sebaliknya Kompas dibentuk oleh perkembangan masyarakatnya. Kompas menjadi bagian utuh dari bangsa-negara Indonesia. Berlakulah adagium medium is the message (McLuhan), media itu bagian dari masyarakat.

Era reformasi sejak 1998 mengakibatkan antara lain loncatan besar dalam praksis demokrasi di Indonesia. Setelah 32 tahun berada dalam kekuasaan pemerintahan represif, suasana yang berkembang kini adalah serba antitesis, serba berkebalikan dari sebelumnya. Serba boleh, serba tidak perlu dipertanggungjawabkan. Kebablasan.

Pemilu presiden secara langsung yang antara lain didahului debat merupakan pengalaman baru.

Dua contoh di atas menunjukkan bangsa ini masih perlu belajar menjadi sebuah negara yang demokratis dan bebas korupsi. Demokrasi seperti digagas pemikir-pemikir besar adalah memberi dan menerima, tidak serba memutlakkan, bukan juga terbatas pada demokrasi politik, tetapi juga di bidang pemenuhan hak-hak dasar.

Kesaksian Kompas seolah-olah membenarkan adagium-adagium klasik selama ini. Kekuasaan cenderung korup. Jabatan selain membawa kenikmatan juga tanggung jawab. Demokrasi bukan kata benda, tetapi kata kerja. Keberpihakan pada kepentingan rakyat banyak perlu terus diperjuangkan. Kecenderungan komunalisme menuju kebersamaan merupakan perjuangan tidak kenal lelah.

Keberhasilan tugas Kompas sebagai lembaga yang mencoba ikut mencerahkan kehidupan masyarakat terjadi berkat sumbangan berbagai pihak. Oleh karena itu, selayaknya ulang tahun juga dimanfaatkan sebagai kesempatan berterima kasih. Mengucap syukur dan berterima kasih, selain berdimensi sosial, juga transenden atas penyelenggaraan-Nya.

Kita apresiasi upaya yang sudah dilakukan KPK dengan segala plus-minusnya. Eksistensi lembaga ini relatif ada hasil, setidak-tidaknya mengerem nafsu memanfaatkan keadaan karut-marut sebagai saatnya bancakan uang.

Kompas harus senantiasa berubah. Perubahan yang melekat erat dengan jati diri media dialami juga oleh industri-industri media cetak lain. Ketika puluhan, bahkan ratusan, tahun perusahaan pers menikmati bentuk single media, media cetak sebagai satu-satunya, hegemoni itu digoyang dan diancam dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi yang memaksa single media berubah jadi multimedia, merambah segala kegiatan yang berkaitan dengan usaha media, mulai dari bentuk media cetak kertas hingga proses sebelum dan sesudahnya. Pernyataan McLuhan barangkali bisa dikembangkan menjadi technology is the message karena teknologi komunikasi yang menghasilkan media baru. Kemajuan teknologi melahirkan media baru, yakni media digital yang mengatasi ruang dan waktu (Jakob Oetama: 2000).

Media cetak awalnya merasa terancam sehingga pernyataan Philip Meyer tahun 2005 bahwa media cetak akan mati tahun 2042 menjadi cambuk agar media cetak tidak bersikukuh dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Rupert Murdoch, yang kemudian diamini Noam Chomsky, menukasnya. ”Tidak akan terjadi asal..... Hentikan arogansi media cetak, berikan perhatian pada kebutuhan masyarakat khususnya anak muda.”

Peringatan Meyer, Murdoch, dan Chomsky ibarat adrenalin. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah komplementer dalam upaya semakin memaksimalkan misi utama media, mencerahkan kehidupan masyarakat.

Yang perlu diubah adalah cara bekerja taken for granted. Business as usual perlu dibesut menjadi semangat kerja menang perang dan menjadi yang pertama.

Jurnalisme masa depan adalah jurnalisme multiple media. Dalam berbagai pertemuan di luar, di mana bertemu tokoh-tokoh besar industri media dunia, terkesan awalnya ada suasana panik. Tetapi, dalam pertemuan-pertemuan tahun berikutnya ada terobosan tidak saja dalam cara memberikan kontribusi bisnis, tetapi juga kontribusi ideal.

Cara bermedia harus berubah. Periodisitas yang menjadi milik dan ciri khas media cetak perlu diterobos lewat kedalaman dan kekhasan peliputan. News bukan laporan kejadian, tetapi breaking news in the making, yang sekarang dimakan media elektronik, apalagi media digital, dalam media cetak harus dikonstruksi dengan kedalaman, kelengkapan, mendudukkan soal dan pengayaan nuansa.

Dengan demikian, pengakuan suci (pistis formull) media elektronik dan digital komplementer dengan media cetak diterjemahkan dalam praksis bermedia sekarang dan ke depan.

Terjalin hubungan simbiosis mutualistis di antara mereka. Dikenalkan kemudian MMM Strategy atau Strategi 3 M. Strategi yang dikembangkan merupakan upaya sinergik media cetak, media elektronik, dan digital. Materinya, pertama, multimedia berupaya mempresentasikan informasi lewat teks, gambar, grafik, video, animasi, dan audio berkembang menjadi bentuk kedua, multichannel, yakni memaksimalkan kelebihan teknologi informasi untuk menjangkau khalayak lebih lus dengan berbagai sambungan/kanal yang bisa mendistribusikan informasi secara fisik dan nonfisik. Dan, strategi ketiga, multiplatform, berupa berbagai sarana atau alat untuk mengonsumsi informasi, seperti kertas, TV, komputer, dan ponsel.

Bagaimana dengan Kompas? Yang sudah dilakukan dan akan terus dikembangkan adalah implementasi Strategi 3 M sehingga bisa mengubah ancaman yang datang dari teknikal dan sosiokultural menjadi peluang, berikutnya bagaimana implikasi organisasi dan teknologi dimanfaatkan semakin maksimal untuk tujuan utama, yakni sarana demokratisasi di segala bidang, utamanya kebutuhan-kebutuhan dasar yang asasi—tentu dengan kemampuan dan kesempatan yang ada, tidak dilepaskan dari visi dan misi sejak awal kelahiran hari pertama, 28 Juni 1965.

Tidak kalah penting adalah kesiapan melakukan perubahan dan kesiapan masuk dalam strategi survival, terutama tidak dalam arti kecemasan stagnasi oplah dan stagnasi bisnis, tetapi terhadap benturan-benturan tidak komplementer yang bisa terjadi karena nafsu bisnis menomorduakan idealisme.

Payung sekaligus batu penjuru atas semua upaya, jungkir balik dan jatuh bangun itu adalah visi misi humanisme transendental, humanisme yang imani—yang dalam perwujudannya harus selalu disegarkan berhadapan dengan perubahan dunia yang serba cepat, membingungkan, membuat terkaget-kaget.

Cita-cita Indonesia Mini yang dicetuskan sejak awal terus diperkaya, disesuaikan dengan perubahan-perubahan, diharapkan semakin intensif berkat hadirnya teknologi informasi dengan Strategi 3 M. Selain bersyukur dan berterima kasih, ulang tahun juga menjadi pertanggungjawaban publik. Dirgahayu Kompas!

Sumber DI SINI

MUHAMMAD JUSUF KALLA

Oleh Suhartono/Kompas

Setelah resmi menjadi calon presiden, Muhammad Jusuf Kalla mengaku sering ditanya banyak orang di sejumlah tempat.

Pak JK, Anda ini sudah kaya, tetapi Anda masih ingin menjadi presiden. Apa ingin lebih kaya lagi? Lalu, apa yang dicari?” Itulah cerita yang diungkapkan Kalla saat berkampanye dialogis di Pekanbaru, Riau, pertengahan Juni.

Lebih Jauh Mengenal
Capres-Cawapres RI 2009


Baca juga:

Kalla kemudian menjawab sendiri, ”Tidak. Saya sudah cukup mampu untuk tidak mengambil apa pun kekayaan dari negeri ini. Bersama Pak Wiranto (calon wakil presiden dari Partai Hanura ), saya tidak mencari keuntungan apa-apa. Saya hanya mau bekerja, mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat. Bukan kemuliaan dan kehormatan saya. Saya tidak mau meninggalkan bangsa yang kurang kehormatannya karena kurang mandiri di bidang ekonomi.”

Kalla memang masuk dalam kelompok yang secara ekonomi mampu dan kaya dengan harta benda. Menurut catatan Komisi Pemberantasan Korupsi, kekayaan Kalla yang dilaporkan pada 31 Mei 2007 tercatat sebesar Rp 253,912 miliar dan 14.928 dollar AS.

Namun, kekayaan yang dimilikinya itu menurut dia bukan yang diperoleh sejak menjadi wakil presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 20 Oktober 2004. Bahkan, juga bukan sejak ia menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dan menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan serta Kepala Bulog pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Laki-laki kelahiran Watampone, Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942, itu tercatat tumbuh menjadi saudagar atau pengusaha yang cukup disegani pada periode 1970-1997. Awalnya, ia meneruskan usaha dagang keluarganya, yaitu NV Haji Kalla Trading Company, selepas kuliah pada tahun 1967.

Semula, NV Haji Kalla hanya menjual komoditas kebutuhan sehari-hari dan material bangunan. Namun, di bawah pimpinannya, NV Haji Kalla menjadi pemasok kendaraan roda empat di Indonesia bagian timur.

Ia juga ”menyulap” perusahaan keluarganya yang terus merugi dengan menciptakan laba dengan berbagai usaha baru.

Sejumlah diversifikasi usaha ditempuhnya dengan berbagai cara dan kiat usaha. Dalam catatan Kompas, dari berdagang mobil merek Toyota beralih ke dunia jasa kontraktor pembangunan jalan, bandara, dan pelabuhan.

Melalui PT Bumi Karsa, Kalla kemudian membangun Bandara Hasanuddin, Ujung Pandang, yang lama. Selanjutnya, ia juga ikut membangun sejumlah bandara lainnya di Indonesia timur. Perusahaannya juga membuat koridor Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Di bawah kepemimpinannya, NV Kalla yang berubah menjadi Grup Kalla terus melebarkan sayap. Dari PT Bukaka Agro, yang bergerak di bidang produksi pakan ternak dan udang, sampai PT Bukaka Meat, perusahaan pengelola industri daging dan ikan. Dari situ, ia mengepakkan sayap ke Jawa, mendirikan PT Bukaka Teknik Utama di Cileungsi, yang memproduksi ”belalai” penumpang untuk Bandara Soekarno-Hatta.

Dengan PT Cahaya Bone, yang dikembangkannya, Kalla juga mengelola angkutan darat dan transportasi laut. Sementara itu, PT Bukaka Lintastama, anak perusahaan lainnya, secara khusus difokuskan untuk mengoperasikan kapal-kapal feri. Waktu itu, bendera perusahaan pelayarannya, PT Kalla Lines, melayani angkutan penumpang serta angkutan hewan dan barang.

Bisnis keluarga

Kiprah bisnis ayah lima anak itu juga terus berkembang. Hingga akhirnya ia memiliki juga saham di PT Bone, Soppeng, dan Waji (Bosowa Group) yang bergerak di bidang pabrik semen, konstruksi, dan otomotif. Perusahaan ini akhirnya dipegang adik iparnya, Aksa Mahmud, yang tercatat sebagai Wakil Ketua MPR.

Adapun soal bisnis keluarganya, masih di acara kampanye dialogis di Pekanbaru itu, Kalla berkomentar, ”Ada lagi yang mempertanyakan saya, yang punya latar belakang seorang pengusaha. Saya tegaskan, saya ini sudah menjadi pengusaha puluhan tahun. Sama seperti saudara-saudara saya. Akan tetapi, saya ini, sejak menjadi menteri, bukan lagi seorang pengusaha.” Kini, usaha Kalla diteruskan oleh adik-adik, anak-anak, dan keponakannya.

Sebagai pengusaha besar, Ketua Umum Partai Golkar dan juga Wapres RI, apa yang dicapai Kalla telah melebihi almarhum ayahandanya, Haji Kalla, yang hanya seorang pengusaha dan bendahara ”seumur hidup” Nadhlatul Ulama Cabang Makassar.

Pada usianya yang lewat 67 tahun, niat Kalla meraih puncak tertinggi kursi kekuasaan Presiden RI menjadi pertanyaan. Seperti pertanyaan yang muncul saat dialog dengan 1.000 pengusaha di sebuah hotel di Jakarta, ”Bapak, kan, sudah tua. Usianya sudah 67 tahun. Sudah menjadi pengusaha terkenal. Untuk apa menjadi presiden? Sekarang, kan, Bapak bisa hidup santai, bangun siang seperti saya?” tanya seorang pengusaha.

Kalla lalu menjawab, ”Usia itu bukan jaminan untuk tidak bisa melakukan apa-apa. Usia itu ukurannya hanya dengan kemampuan. Masih bisa tidak melakukan pekerjaan. Kalau saya, sehari saja bisa melakukan 12 kegiatan di tempat berbeda. Sekarang ini baru sembilan kegiatan,” papar Kalla terkekeh. Waktu itu, jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, sementara ia masih ada acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta.

Rebut kesempatan

Sejak ia menjadi wapres, Kalla memang sering dijuluki the real president. Kalla dikenal bukan hanya memiliki gagasan sejumlah program pembangunan, tetapi juga memutuskan, menjalankan, dan ikut mengawasinya. Sebut saja seperti program bantuan langsung tunai; program konversi minyak tanah menjadi elpiji; percepatan pembangunan infrastruktur listrik 10.000 megawatt; pembangunan jalan tol, bandar udara internasional, dan pelabuhan; serta peningkatan produksi pertanian.

Semuanya itu dilakukan karena Kalla mengaku tak mau kehilangan kesempatan melakukan percepatan pembangunan. ”Kalau kesempatan pembangunan itu tidak diambil, kesempatan itu hilang diambil negara lain,” ujar Kalla dalam beberapa kali kampanye dialogis sebagai calon presiden di sejumlah tempat.

Ia mengaku gemas apabila hal yang penting bagi rakyat lambat diputuskan. ”Jangan takut dengan risiko apa pun kalau mengambil keputusan demi rakyat. Percayalah, tidak akan salah. Kalaupun salah, ya kita perbaiki asal jangan berbuat korupsi dan menyalahi aturan,” kata Kalla dalam beberapa kali kesempatan.

Bahkan, lanjut Kalla, jika ada peraturan yang dianggap bisa menghambat sebuah kebijakan pemerintah untuk kepentingan rakyat, bisa saja ketentuan tersebut diubah.

Ia juga pernah berpidato dalam acara di Istana Wapres, ”Saya tidak bisa menerima penjelasan jika ada direktur jenderal, yang rapat dengan saya, hanya bisa mengatakan, ’Kebijakan yang Bapak sampaikan itu tidak bisa dilakukan karena bertentangan dengan aturan’. Itu bukan jawaban. Saya suka jika ia menjawab, ’Kebijakan itu bisa dijalankan, tetapi harus ada langkah pemerintah untuk melakukan terobosan, seperti mengubah ketentuan’. Itu namanya pemerintah.”

Bersamaan dengan karier bisnisnya, Kalla juga terjun di bidang politik praktis. Karier politiknya dimulai saat ia menjadi Sekretaris Bersama Golkar di Makassar sampai akhirnya menjadi anggota utusan daerah di MPR. Modalnya adalah pengalaman sejak mahasiswa, yaitu menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, dan Ketua HMI Cabang Makassar.

Ia tercatat pernah mengikuti konvensi Partai Golkar untuk menjadi calon presiden, tetapi kemudian mundur. Setelah Susilo Bambang Yudhoyono mundur dari jabatannya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan serta menjadi calon presiden, Kalla ditawari menjadi calon wapres Yudhoyono untuk maju dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wapres 2004. ”Waktu itu Kalla setuju asalkan ia tidak sekadar menjadi ’ban serep’,” ungkap teman masa kecil Kalla, Moh Abduh.

Akankah kali ini ia mampu mengulang sejarah menang menjadi Presiden RI 2009-2014 bersama Wiranto? Jika ia berhasil, lengkaplah sudah predikat yang akan disandangnya: pengusaha sukses, politikus, sesepuh orang Bugis, Makassar, dan juga seorang pemimpin bangsa. Jika tidak?*

Sumber: Kompas
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes