44 Tahun Kompas

Oleh St Sularto

Empat puluh empat tahun bukanlah usia panjang untuk eksistensi sebuah surat kabar. Dibandingkan usia negara Indonesia yang sudah lebih dari 65 tahun, selama 44 tahun Kompas menjadi saksi sejarah pemerintahan Soekarno, Soeharto, Baharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sesuai dengan penggugatan- penggugatannya, Kompas ikut serta membentuk sosok kehidupan negara-bangsa Indonesia, sebaliknya Kompas dibentuk oleh perkembangan masyarakatnya. Kompas menjadi bagian utuh dari bangsa-negara Indonesia. Berlakulah adagium medium is the message (McLuhan), media itu bagian dari masyarakat.

Era reformasi sejak 1998 mengakibatkan antara lain loncatan besar dalam praksis demokrasi di Indonesia. Setelah 32 tahun berada dalam kekuasaan pemerintahan represif, suasana yang berkembang kini adalah serba antitesis, serba berkebalikan dari sebelumnya. Serba boleh, serba tidak perlu dipertanggungjawabkan. Kebablasan.

Pemilu presiden secara langsung yang antara lain didahului debat merupakan pengalaman baru.

Dua contoh di atas menunjukkan bangsa ini masih perlu belajar menjadi sebuah negara yang demokratis dan bebas korupsi. Demokrasi seperti digagas pemikir-pemikir besar adalah memberi dan menerima, tidak serba memutlakkan, bukan juga terbatas pada demokrasi politik, tetapi juga di bidang pemenuhan hak-hak dasar.

Kesaksian Kompas seolah-olah membenarkan adagium-adagium klasik selama ini. Kekuasaan cenderung korup. Jabatan selain membawa kenikmatan juga tanggung jawab. Demokrasi bukan kata benda, tetapi kata kerja. Keberpihakan pada kepentingan rakyat banyak perlu terus diperjuangkan. Kecenderungan komunalisme menuju kebersamaan merupakan perjuangan tidak kenal lelah.

Keberhasilan tugas Kompas sebagai lembaga yang mencoba ikut mencerahkan kehidupan masyarakat terjadi berkat sumbangan berbagai pihak. Oleh karena itu, selayaknya ulang tahun juga dimanfaatkan sebagai kesempatan berterima kasih. Mengucap syukur dan berterima kasih, selain berdimensi sosial, juga transenden atas penyelenggaraan-Nya.

Kita apresiasi upaya yang sudah dilakukan KPK dengan segala plus-minusnya. Eksistensi lembaga ini relatif ada hasil, setidak-tidaknya mengerem nafsu memanfaatkan keadaan karut-marut sebagai saatnya bancakan uang.

Kompas harus senantiasa berubah. Perubahan yang melekat erat dengan jati diri media dialami juga oleh industri-industri media cetak lain. Ketika puluhan, bahkan ratusan, tahun perusahaan pers menikmati bentuk single media, media cetak sebagai satu-satunya, hegemoni itu digoyang dan diancam dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi yang memaksa single media berubah jadi multimedia, merambah segala kegiatan yang berkaitan dengan usaha media, mulai dari bentuk media cetak kertas hingga proses sebelum dan sesudahnya. Pernyataan McLuhan barangkali bisa dikembangkan menjadi technology is the message karena teknologi komunikasi yang menghasilkan media baru. Kemajuan teknologi melahirkan media baru, yakni media digital yang mengatasi ruang dan waktu (Jakob Oetama: 2000).

Media cetak awalnya merasa terancam sehingga pernyataan Philip Meyer tahun 2005 bahwa media cetak akan mati tahun 2042 menjadi cambuk agar media cetak tidak bersikukuh dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Rupert Murdoch, yang kemudian diamini Noam Chomsky, menukasnya. ”Tidak akan terjadi asal..... Hentikan arogansi media cetak, berikan perhatian pada kebutuhan masyarakat khususnya anak muda.”

Peringatan Meyer, Murdoch, dan Chomsky ibarat adrenalin. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah komplementer dalam upaya semakin memaksimalkan misi utama media, mencerahkan kehidupan masyarakat.

Yang perlu diubah adalah cara bekerja taken for granted. Business as usual perlu dibesut menjadi semangat kerja menang perang dan menjadi yang pertama.

Jurnalisme masa depan adalah jurnalisme multiple media. Dalam berbagai pertemuan di luar, di mana bertemu tokoh-tokoh besar industri media dunia, terkesan awalnya ada suasana panik. Tetapi, dalam pertemuan-pertemuan tahun berikutnya ada terobosan tidak saja dalam cara memberikan kontribusi bisnis, tetapi juga kontribusi ideal.

Cara bermedia harus berubah. Periodisitas yang menjadi milik dan ciri khas media cetak perlu diterobos lewat kedalaman dan kekhasan peliputan. News bukan laporan kejadian, tetapi breaking news in the making, yang sekarang dimakan media elektronik, apalagi media digital, dalam media cetak harus dikonstruksi dengan kedalaman, kelengkapan, mendudukkan soal dan pengayaan nuansa.

Dengan demikian, pengakuan suci (pistis formull) media elektronik dan digital komplementer dengan media cetak diterjemahkan dalam praksis bermedia sekarang dan ke depan.

Terjalin hubungan simbiosis mutualistis di antara mereka. Dikenalkan kemudian MMM Strategy atau Strategi 3 M. Strategi yang dikembangkan merupakan upaya sinergik media cetak, media elektronik, dan digital. Materinya, pertama, multimedia berupaya mempresentasikan informasi lewat teks, gambar, grafik, video, animasi, dan audio berkembang menjadi bentuk kedua, multichannel, yakni memaksimalkan kelebihan teknologi informasi untuk menjangkau khalayak lebih lus dengan berbagai sambungan/kanal yang bisa mendistribusikan informasi secara fisik dan nonfisik. Dan, strategi ketiga, multiplatform, berupa berbagai sarana atau alat untuk mengonsumsi informasi, seperti kertas, TV, komputer, dan ponsel.

Bagaimana dengan Kompas? Yang sudah dilakukan dan akan terus dikembangkan adalah implementasi Strategi 3 M sehingga bisa mengubah ancaman yang datang dari teknikal dan sosiokultural menjadi peluang, berikutnya bagaimana implikasi organisasi dan teknologi dimanfaatkan semakin maksimal untuk tujuan utama, yakni sarana demokratisasi di segala bidang, utamanya kebutuhan-kebutuhan dasar yang asasi—tentu dengan kemampuan dan kesempatan yang ada, tidak dilepaskan dari visi dan misi sejak awal kelahiran hari pertama, 28 Juni 1965.

Tidak kalah penting adalah kesiapan melakukan perubahan dan kesiapan masuk dalam strategi survival, terutama tidak dalam arti kecemasan stagnasi oplah dan stagnasi bisnis, tetapi terhadap benturan-benturan tidak komplementer yang bisa terjadi karena nafsu bisnis menomorduakan idealisme.

Payung sekaligus batu penjuru atas semua upaya, jungkir balik dan jatuh bangun itu adalah visi misi humanisme transendental, humanisme yang imani—yang dalam perwujudannya harus selalu disegarkan berhadapan dengan perubahan dunia yang serba cepat, membingungkan, membuat terkaget-kaget.

Cita-cita Indonesia Mini yang dicetuskan sejak awal terus diperkaya, disesuaikan dengan perubahan-perubahan, diharapkan semakin intensif berkat hadirnya teknologi informasi dengan Strategi 3 M. Selain bersyukur dan berterima kasih, ulang tahun juga menjadi pertanggungjawaban publik. Dirgahayu Kompas!

Sumber DI SINI
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes