NTT Gundah dengan Tiga Hal

Oleh Hermina Pello, Yosep Sudarso dan Agus Sape

PROPINSI Nusa Tenggara Timur (NTT) gundah dengan tiga hal: rawan pangan, krisis air bersih dan krisis energi. Wajah NTT, sebagaimana tercermin dalam pemberitaan media massa lokal, dihiasi oleh rawan pangan, dilabur dengan bedak sulitnya mendapatkan air bersih dan listrik. Hidup enggan mati tak mau.

Kegundahan NTT ini diungkapkan Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Dion DB Putra dalam sambutannya pada pembukaan diskusi terbatas dengan tema, "Pangan Lokal" dan "Peluncuran Buku 50 Tahun Ziarah Pangan NTT, Sehati Sesuara Mewujudkan Kedaulatan Pangan Lokal" di Aula Susteran RVM Kota Baru, Kupang, Selasa (14/7/2009).

Dari Diskusi Pangan Lokal (1)

Dion menegaskan, Pos Kupang dan media cetak lainnya di NTT sudah dan selalu gundah dengan tiga hal tersebut. Sekadar menegaskan, Dion menyebut jumlah artikel yang ditulis anak- anak NTT khusus tentang pangan yang dipublikasi Pos Kupang. Setidaknya terdapat 600 artikel. "Kami sendiri terkejut," demikian Dion.

Lebih banyak lagi ketika Rektor Undana, Prof. Frans Umbu Datta, menelusuri Google. "Ironisnya, berita tentang kelaparan, kematian karena busung lapar terus mengisi halaman-halaman berbagai media cetak dan elektronik ketika saya buka Google lalu ketik: "pangan lokal di NTT: dan search.... Maka ditampilkanlah 18.900 pointers/berita tentang pangan local dan permasalahannya serta berbagai pembahasan sekitar isu ketahanan pangan di NTT. Ini berarti pembicara di sekitar hal ini sudah cukup banyak bahkan sangat banyak," tulis Umbu Datta dalam makalahnya berjudul, "Pangan local : Kemarin, Hari Ini dan Esok (kajian akademis)".

Di tengah gencarnya pemberitaan tentang isu ketahanan pangan lokal di NTT, Dion Putra mengutarakan optimismenya akan suatu masa depan yang lebih baik. Optimisme yang dilandaskan pada komitmen duet pemimpin baru NTT, Frans Lebu Raya- Esthon L Foenay.

Sebelum terpilih maupun dalam tenggang waktu setahun menakhodai NTT, duet yang akrab dipanggil Fren ini langsung mengampanyekan "Kembali ke pangan lokal".

Saat membawakan makalahnya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menjelaskan alasan perhatiannya terhadap pangan lokal. "Mengapa pangan lokal menjadi perhatian penuh pemerintah? Pangan itu merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia. Siapa pun membutuhkan pangan, setiap hari membutuhkan pangan, setiap saat mesti tersedia tapi juga terjangkau dan aman," jelas Lebu Raya.

Menurut Lebu Raya, kebutuhan memperoleh pangan adalah hak asasi manusia. Hak ini tidak saja disebutkan dalam UUD 1945, tetapi jauh sebelumnya sudah ditegaskan oleh Deklarasi Roma.
Konsumsi pangan, jelas Lebu Raya, juga tidak sekadar untuk memenuhi "kebutuhan perut". Berbagai pemikiran membuat orang akhirnya memahami bahwa pangan merupakan komponen dasar dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan. Pangan yang tersedia cukup, aman, berkualitas dan bergizi akan mewujudkan SDM yang berkelanjutan.

"Kebutuhan gizi dari pangan yang bergizi terutama untuk anak- anak dari 0 tahun hingga lima tahun harusnya menjadi perhatian penuh sehingga kecerdasannya bisa terjamin. Tapi kalau pada periode usia emas (golden age), kita tidak memberikan pangan yang cukup dan bergizi, maka akan sulit diharapkan anak bisa berkembang secara baik, cerdas dan berkelanjutan," ujar Lebu Raya.

Kalau ini yang disepakati, Lebu Raya yakin, pembangunan ketahanan pangan menjadi fondasi bagi pembangunan di sektor lainnya. Bila pangan tersedia, terjangkau dan aman dikonsumsi, urusan di sektor lain akan berjalan dengan baik.

Oleh karena pemenuhan pangan dan sektor lainnya tentang isu pangan erat kaitannya dengan politik. Ketika suatu daerah atau satu komunitas punya ketersediaan pangan yang cukup, bisa terjangkau dan aman untuk dikonsumsi, maka kondisinya akan aman. Tetapi bila tidak cukup tersedia atau sulit terjangkau dan tidak aman untuk dikonsumsi, maka akan menimbulkan gejolak sosial.

Kasus temuan "benda-benda asing" dalam biskuit bantuan World Food Programme (WFP) diangkat gubernur sebagai contoh tidak amannya masalah pangan. "Kalau kemarin kita dapat informasi tentang biskuit yang dibagi oleh WFP dengan niat yang tulus, ikhlas karena perikemanusiaan, tetapi ternyata di beberapa tempat ditemukan ketidakamanan dalam mengonsumsi pangan. Di sana ada pecahan botol, kaca, dan benda asing yang membuat biskuit itu tidak aman untuk dikonsumsi," ujar Lebu Raya.

Pangan, tentu saja, tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang pertanian dalam pengertian luas. Pertanian menghasilkan pangan. Beberapa permasalahan pembangunan pertanian di NTT teridentifikasi.

Pertama, berkaitan dengan konversi lahan. Dengan tekanan penduduk dan kemajuan Iptek ditambah lemahnya koordinasi dalam penerapan kebijakan, lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian atau persawahan dikonversi menjadi lahan untuk kebutuhan lainnya.

Misalnya, daerah pertanian menjadi lokasi pemukiman atau pertokoan. Di Kota Kupang, Mall Flobamora misalnya, berdiri di atas lahan yang sebelumnya lahan sawah. Di lain tempat, semakin sulit ditemukan padang penggembalaan.

Masalah kedua, soal distribusi. Menurut Lebu Raya, secara umum atau makro terjadi surplus. Namun, secara mikro apalagi hitungan sampai ke rumah tangga, ada kecenderungan terjadi defisit. Akses rumah tangga untuk memperoleh pangan masih rendah. (bersambung)

Pos Kupang edisi Selasa, 21 Juli 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes