Menunggu Jagung Bose Instan

GUBERNUR NTT, Drs. Frans Lebu Raya menyampaikan terima kasih kepada Harian Pos Kupang atas inisiatifnya menggelar diskusi tentang pangan lokal. Terutama karena diskusi ini dibarengi dengan peluncuran buku "50 Tahun Ziarah Pangan NTT" dan dibuat menjelang peringatan satu tahun dirinya bersama Ir. Esthon L Foenay dilantik menjadi gubernur dan Wakil Gubernur NTT.

Dia menganggap kegiatan ini sebagai dukungan yang sangat berarti terhadap programnya. Bagaimana tidak, sejak dilantik dia terus mengampanyekan pengembangan pangan lokal, terutama jagung. Sejak itu pula dia menetapkan hari Kamis sebagai hari wajib konsumsi pangan lokal. Ini merupakan salah satu upaya agar konsumsi warga NTT diwarnai pangan lokal dan tidak lagi menganggap makanan lokal lebih rendah daripada makanan yang datang dari luar. Hal itu seyogyanya dimulai dari konsumsi rumah tangga.

Tapi tampaknya tidak mudah untuk mengubah persepsi dan sikap masyarakat NTT untuk memberi tempat kepada pangan lokal. Begitu banyak rumah tangga yang belum membiasakan makanan lokal sebagai konsumsi sehari-hari.

Hal yang sama juga terjadi di hotel-hotel dan restoran-restoran. Makanan lokal belum menjadi menu jualan mereka. Makanan lokal baru disediakan kalau dipesan terlebih dahulu. "Ini masih tantangan bagi kita," kata Lebu Raya.

Hal ini juga dikeluhkan Pemimpin Redaksi Harian Pos Kupang, Dion DB Putra, ketika memberi sambutan pengantar diskusi ini. Menurut Dion, semula diskusi ini hendak dilaksanakan di hotel, tetapi ketika diminta untuk menyediakan makanan lokal, sejumlah hotel yang dihubungi menyatakan tidak sanggup. Setelah dicari-cari tempat yang bisa memenuhi permintaan, akhirnya panitia mendapatkan di tempat Susteran RVM (Religious of the Virgin Mary).

Benar. Menu makan siang di akhir diskusi kemarin diwarnai dengan makanan lokal. Para peserta tidak hanya disuguhi nasi, tetapi juga tersedia jagung bose, makanan khas orang Timor dan sup dari jagung muda. Dari antara peserta, ada yang hanya mengambil nasi, tetapi ada juga yang mengambil nasi dicampur dengan jagung bose. Jagung itu terasa lembut dan enak di lidah.

Tapi gubernur kembali bercerita tentang konsumsi menu lokal. Pada hari Senin pagi, usai sidang di DPRD NTT, para peserta sidang disuguhi pisang rebus yang sangat besar. Dia memuji para pelayan yang menyediakan pisang itu. Tapi, dia pun langsung memberikan masukan. Menurut dia, kalau pisang itu dihidangkan setelah dipotong-potong lebih kecil pasti lebih membangkitkan selera. Makanan sangat erat dengan selera.

Gubernur menegaskan bahwa soal potensi pangan lokal NTT sangat kaya. Namun, kita masih lemah dalam hal pengemasan dan pengolahan, sehingga makanan lokal kita cenderung kalah dengan makanan dari luar.

Gubernur memuji jagung bose sebagai menu yang sangat enak dan bergizi tinggi. Tetapi, proses pengolahannya terlalu lama sampai berjam-jam, dibanding beras yang hanya dalam waktu yang sangat singkat bisa masak dan menjadi nasi yang layak dimakan.

Dia menantang perguruan tinggi untuk mengolah jagung bose yang "instant", cepat saji, tapi tetap aman dikonsumsi. Gubernur menyambut baik kerja sama Undana dan Menristek untuk memproduksi jagung bose instan. (ati/dar/ira)

Pos Kupang edisi Rabu, 15 Juli 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes