Redemptoris Ubah Wajah Sumba

MESKI baru dua uskup menjadi gembala umat Katolik di Pulau Sumba dan Sumbawa-NTB, sejarah tumbuh dan kembangnya gereja Katolik di Nusa Sandlewood itu sudah lama dirintis.

Kisahnya panjang. Adalah Pater Herman Leemker, SJ yang merupakan misionaris yang pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Sumba pada tahun 1885. Saat itu dia berusia 32 tahun. Pastor dari ordo Jesuit ini bisa menginjak tanah Sumba atas jasa Tuan Samuel Ros.

Samuel Ros ketika itu adalah kontrolir Belanda di Waingapu pada tahun 1866 sampai 1873. Setelah itu dia diangkat menjadi Residen di Ternate. Lalu menjabat sebagai Residen Kupang pada tahun 1883, menggantikan Sikman. Tahun 1884 dia pindah ke Batavia, penggantinya di Kupang adalah W. Greve.

Di Batavia inilah, Samuel Ros bertemu dengan Mgr. Claessens, dan membicarakan rencana kunjungan seorang pastor ke Pulau Sumba. Setelah pembicaraan tersebut, Mgr. Claessens mengirim surat ke Pater Kraayvanger, SJ untuk melakukan kunjungan tersebut. Namun kondisi kesehatan Pater Kraayvanger tidak dalam keadaan yang bagus. Karena itu tugas itu dialihkan ke Pater Herman Leemker yang ketika itu bertugas di Atapupu, Belu.

Tanggal 31 Juli 1885, tepatnya pada Hari Raya Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Jesus (SJ), Pater Herman berangkat ke Kupang dengan menumpang kapal asap Sumbawa. Tiba di Kupang, dia menghadap Residen Greve untuk menyampaikan rencana perjalanannya. "Sebaiknya pater pulang saja ke Atapupu. Tetapi kalau pater tetap bertekad ke Sumba, jangan masuk ke pedalaman karena di sana belum cukup aman," nasehat Greve saat itu.

Namun Pater Herman tetap bertekad ke Pulau Sumba. Dia berlayar menggunakan kapal Sumbawa. Sebelum ke Sumba, dia singgah di Rote. Tanggal 4 Agustus tahun 1885, dia berangkat dari Rote dan mendarat di Waingapu beberapa hari kemudian. Sejak saat ini benih iman bertumbuh dan berkecambah di Sumba. Menyusul kemudian datang Pater B. Schweitz, SJ dan Br. W. Busch pada tanggal 21 April 1889. Bersama lima teman Jesuit lain mereka berkarya di Sumba Barat selama 9 tahun dan mempermandikan 1054 orang.

Pada tahun 1898 para pastor SJ meninggalkan Sumba atas keputusan pimpinan SJ di Yogyakarta karena tenaga mereka dibutuhkan di Jawa yang dianggap sebagai daerah misi yang lebih subur. Selama 23 tahun berikutnya, 1898-1921, umat Katolik di Sumba tidak mendapat pelayanan pastoral sama sekali.

Mengisi kekosongan itu, pada tahun 1921 para misionaris SVD dari Flores diizinkan mengadakan kunjungan pastoral di Sumba tiga kali dalam satu tahun. Pastor SVD yang sangat berpengaruh dan berjasa saat itu adalah Pater Hendrikus Limbrock, SVD. Pastor dari Jerman inilah yang memindahkan pusat kegiatan Gereja Katolik dari Pakamandara ke Weetebula, tepatnya di daerah perbukitan (Gereja Katedral Weetebula sekarang). Selain Pater Hendrikus, ada seorang bruder yang bernama Arnoldus yang juga sangat berjasa.

Menurut tokoh masyarakat Weetabula, Laurens Nani Boeloe (80), bruder SVD tersebut saat itu bekerja sebagai tukang kebun merangkap sebagai peternak dan arsitek. Bruder itulah orang pertama yang memperkenalkan kepada masyarakat Sumba tentang batu putih dari gunung sebagai bahan utama untuk mendirikan bangunan.

Dalam perkembangannya, pastor-pastor SVD banyak yang datang. Antara lain Pater Yohanes Wolters, SVD, Pater Pit de Zwrap, SVD, Pater Alwisius de Rechter, SVD, Pater Vikerman, SVD, Pater M. Krol, SVD, dan Pater Muisenberg, SVD. Menurut Laurens, yang kepada Pos Kupang, Rabu (15/7/2009), para pastor ini semuanya berkebangsaan Belanda.

Setelah mereka menata kehidupan gereja dan pendidikan di Sumba, pada tahun 1960an, ditahbiskan imam pertama orang Sumba, yakni Dominikus Rua Dapa, Pr. Tetapi putra asal Loura, Sumba Barat Daya ini tidak bertugas di Weetebula. Dia bertugas Melolo, Waingapu lalu pindah ke Sumbawa dan menghembuskan nafas terakhir di sana. Sedangkan pastor pribumi pertama yang berkarya di Weetebula adalah Yakobus Modo, SVD sekitar tahun 1980-an.

Tokoh masyarakat lainnya, Stefanus Malo Ngogo, menuturkan, saat pertama kali para misionaris datang ke Sumba, masyarakat di daerah itu masih berpegang teguh pada ajaran marapu. Ini menjadi salah satu hambatan bagi misionaris Katolik. Namun sejalan dengan perkembangan waktu, banyak penganut marapu akhirnya menerima permandian dan masuk Katolik.

Diserahkan ke Redemptoris
Sejak tahun 1929 hingga 1957 karya misi SVD di Sumba mengalami perkembangan yang menggembirakan. Terdapat tujuh pastor dan satu bruder melayani umat dan masyarakat Sumba saat itu. Tahun 1957 jumlah umat Katolik di daerah itu, mencapai 9.500 orang.

Perkembangan dan keberhasilan SVD yang luar biasa di Pulau Flores dan Timor, serta kekurangan tenaga dan biaya untuk melayani daerah misi Sumba dan Sumbawa mendorong para misionaris dan pimpinan SVD mengajukan permohonan kepada Vikaris Apostolik Ende pada tahun 1947 agar mencari satu kongregasi lain yang dapat melayani gereja dan masyarakat Sumba serta Sumbawa secara memadai dengan tenaga yang lebih banyak.

Permohonan ini disampaikan kepada Superior Jenderal Congregatio Sanctissimi Redemptoris-CSsR/Kongregasi Sang Penebus Mahakudus, atau yang lazim disebut Redemptoris
di Roma yang meneruskannya kepada pimpinan CSsR di Koeln, Jerman. Pimpinan Redemptoris di Koln yang pada waktu itu masih mempunyai banyak anggota menerima tawaran ini. Maka pada tanggal 23 Juni 1955 Kongregasi Kepausan untuk Evangelisasi (Propaganda Fide) di Roma mengeluarkan dekrit berupa mandatum dan mempercayakan secara resmi gereja Sumba dan Sumbawa kepada Propinsi Redemptoris Koln, Jerman.


Sejak itulah, para pastor dari Redemptoris berkarya di Sumba dan Sumbawa sampai hari ini. Kelompok misionaris CSsR pertama yang diutus oleh Propinsi Koln terdiri dari empat pastor dan satu bruder, yaitu: P. Josef Luckas, P. Georg Kiwus, P. Mario Stutzer, P. Gunter Kellermann, dan Br. Clemens (26). Mereka tiba di Waingapu dengan Kapal KPM Waikelo, pada tanggal 16 Januari 1957.

Kelompok kedua tiba pada tanggal 16 Mei 1957, yang terdiri dari P. Gerhard Legeland, P. Heribert Kuper, P. Ludwig Hebert, Br. Albert Eickenbusch, dan Br. Martin Welzel. Pada tahun-tahun berikut muncul kelompok-kelompok misionaris CSsR yang lebih banyak. Penyerahan tugas misi oleh pater-pater dan bruder SVD kepada misionaris Redemptoris, dilaksanakan secara bertahap selama satu tahun mengingat misionaris Redemptoris masih baru berkarya di daerah tersebut. Serikat SVD juga menyerahkan secara cuma-cuma seluruh tanah, dan hasil pembangunan serta hak milik mereka, seperti gedung-gedung beserta inventarisnya, bengkel, ternak (sapi sebanyak 300 ekor) dan banyak lagi.

Sejak awal mula Redemptoris berkarya di Sumba, mereka bertekad mempersiapkan pendirian gereja lokal yang mandiri dan dilayani oleh imam pribumi, serta dipimpin oleh uskup pribumi.

Mgr. Dr. Edmun Woga, CSsR, yang ditahbiskan menjadi Uskup Weetabula hari ini, adalah imam Redemptoris pertama di Indonesia yang menjadi uskup. Dalam karyanya, Redemptoris memberikan perhatian utama pada pengembangan umat lewat pastoral parokial. Enam paroki yang sudah terbentuk di Pulau Sumba pada tahun 1957 terus dimekarkan. Jumlah gereja/kapela meningkat dalam 30 tahun pertama, dari 4 menjadi 86 gedung. Dari tahun ke tahun umat Katolik di Sumba bertambah rata-rata 3 ribu orang. Menurut statistik terakhir (2006) terdapat 23 paroki, dan 288 stasi yang ada di Pulau Sumba. Sedangkan jumlah umat Katolik sebanyak 125 ribu orang.

Perhatian besar Redemptoris juga diberikan kepada pendidikan formal, melalui sekolah-sekolah. Tahun 1957 di Sumba sekolah-sekolah belum banyak yang dibangun. Hal ini yang mendorong Redemptoris membangun sekolah swasta Katolik. Dalam kurun waktu antara tahun 1957 sampai 1986 jumlah SD meningkat dari 27 buah menjadi 80, sedangkan SMP dari satu unit menjadi sembilan. Jumlah guru pun meningkat, dari 79 orang menjadi 495 orang. Tahun 1957 didirikan Sekolah Guru Agama (SGA) St. Alfonsus di Weetebula, yang kemudian dialihkan menjadi SMA. Tahun 1960 SMA Anda Luri didirikan di Waingapu.

Panjang lintasan sejarah gereja Katolik di Sumba. Dalam rentang waktu setengah abad, para misionaris Redemptoris telah turut memberi warna dan mengubah wajah Sumba hingga seperti hari ini. (Servatinus Mammilianus)

Pos Kupang edisi Kamis, 16 Juli 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes