Standing Ovation Usai Tonton Soegija

Mgr Albertus Soegijapranata SJ bersama Bung Karno (istimewa)
MANADO, TRIBUN - Luar biasa. Bisokop 21 di Manado Town Square, Kamis (7/6/2012) penuh sesak. Di antara jejalan para penonton film itu terdapat Gubernur Sulawesi Utara Dr Sinyo Harry Sarundajang, Wakil Gubernur Djauhari Kansil, Sekdaprov, Rachmat Mokodongan, Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan dana para pejabat di daerah ini.

Kedatangan mereka untuk memenuhi undangan nonton bareng pemutaran perdana film Soegija dari GP Anshor Sulut yang dikomandoi Benny Ramdhani. Acara ini didukung PMII Komisariat STAIN dan Tribun Manado.

Benny dalam pembukaan nonton bareng di Studio 1 mengatakan, generasi baru GP Ansor perlu belajar dari sosok Soegija. "Romo Soegija layak mendapat tempat terhormat, karena selama ini sejarah seolah menenggelamkannya. Sejarah bukanlah milik kaum mayoritas, suku, agama atau ras tertentu, GP Ansor perlu belajar nilai-nilai tersebut," ujar anggota DPRD Sulut ini disambut tepuk tangan.

Pernyataan Soegija tentang 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia perlu ditiru dan diaplikasikan dengan menyatakan 100 persen Sulawesi Utara, 100 persen Indonesia.

Melalui film ini banyak pembelajaran yang menurutnya bisa diambil seperti pengorbanan akan nilai kemanusiaan dan multikulturalisme. "Vatikan pertama kali dan satu-satunya di negara Eropa yang saat itu mengakui kemerdekaan Indonesia atas perjuangan Romo Soegija," imbuhnya.

Ia juga mengkritisi kelompok tertentu yang seolah-seolah kebenaran dan Indonesia milik kelompok tersebut. " Mari kita lawan mereka dengan cara cinta kasih bukan dengan kekerasan seperti yang mereka lakukan, kita melawan hegemoni dan kekerasan dengan cinta kasih, satu merah putih satu Indoensia," katanya tegas.

Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan mengapresiasi inisiatif GP Ansor dalam penyelenggaraan noreng ini. Sosok Uskup Mgr Soegijapranata SJ menjadi pemuda yang memiliki cita-cita dan memilih menjadi gembala. Kiprah Soegija menurut Suwatan dikenal dengan kebhinekaan, nilai kemanusiaan serta pluralisme. "Saya ini  dengar sosok beliau sejak saya seminari semester dua atau frater, Romo Soegija dikenal dengan postur tubuh yang kecil namun lincah," ujarnya.

Uskup mengakui dari film ini banyak hal yang bisa diambil, maka ia pun memiliki antusiasme untuk noreng dan itu adalah kali pertama ia menonton di 21 Cineplex Mantos selama 50 tahun dalam karya imamat. Meski film diputar pukul 17.00 Wita, sejak pukul 15.00, Uskup Manado sudah bersiap dari Keuskupan dan berangkat ke Mantos.

Gubernur Sarundajang pun menyampaian apresiasi kepada GP Ansor dan media yang telah mendukung acara ini, Tribun Manado. "Film ini mengandung pelajaran berharga. Mengajarkan tentang perjuangan," kata Sarundajang.

Ia mengatakan, film ini juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ajaib. Menurutnya, berbagai macam budaya, suku, dan agama ada. "Meski berbeda kita tetap saling menghormati dan menjunjung pluralisme. Dan Sulut bisa menjadi contoh," tuturnya.

Menurut Sarundajang, dengan menonton film ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Sulut adalah hal yang benar. Kata Sarundajang, kerukunan yang terjadi di Sulut sudah merupakan jalan yang tepat.

"Dengan demikian semakin memperkuat keyakinan kita sebagai anak bangsa. Ini juga membuktikan bahwa kita mengakui empat pilar bangsa yakni Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,"  ucap Sarundajang.

Wakil Gubernur Dr Djouhari Kansil yang juga ikut nonton mengatakan, film ini mengajarkan nilai-nilai perjuangan. "Apalagi bagi anak muda saat ini. Yang belum nonton silakan, dan ambil pelajaran dari situ," tutur Kansil.

Sekdaprov Rachmat Mokodongan, ikut berkomentar soal film besutan Garin Nugroho ini. Ia mengatakan, film ini mengajarkan bahwa untuk menuju satu tujuan hal yang diperlukan sebagai modal adalah persatuan dan kesatuan. "Tidak melihat asal usul, suku, dan agama, semua berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan," tutur Mokodongan.

Film ini menyajikan suasana dengan minim musik iringan membawa penonton ke era 1940-an. Penonton menyimak dengan serius terutama saat beberapa kalimat yang diucapkan pemeran utama Nirwan Dewanto sebagai Soegija sarat dengan nilai-nilai.

Demikian saat pemeran Mariyem bersama jurnalis asal Belanda berboncengan  dengan latar belakang alam dan senja yang romantis, penonton spontan bersorak, seolah momen tersebut bagian dari diri. Atau saat pemeran remaja yang buta huruf dengan keunikan wajah dan ekspresinya bisa mengundang gelak tawa.

Butet Kertarajasa juga sukses mengurai urat tawa penonton, setiap dialog yang disampaikan membuat penonton terpingkal. Selain itu ada beberapa kisah pedih para tokoh, seperti kehilangan, berpisah dan momen-momen lain yang menyentil rasa haru penonton.

Sutradara film Soegija sukses memberikan suguhan penuh nilai dan ibarat masakan mampu memberikan menu lengkap, mengenyangkan sekaligus menyehatkan. Dan penonton pun puas. (aro/rob)


Bukan Film Asal Jadi


PENONTON film Soegija benar-benar membeludak. Menurut Andy Zalira, perwakilan dari Studio 21 Mantos mengatakan, studio penuh sesak dan diisi peserta nonton bareng lebih dari 290 orang.

Ia mengaku senang GP Anshor dan Benny Ramdhani memrakarsi nonton bareng ini. "Ini ada kaitan dengan nasionalisme. Ini soal kebersamaan," ujarnya, kemarin.

Ia menyebut banyak film nasional yang asal jadi. Tapi Soegija merupakan film yang berkualitas. "Saya harap banyak film yang masuk itu berisi tentang kepahlawanan dan pendidikan. Ini sangat baik untuk generasi muda,"ujarnya.

Uskup Manado Joseph Suwatan MSC mengaku kagum dengan film yang baru ditonton itu. Ada pesan kemanusiaan yang mendalam.

"Saya melihat seorang tentara yang menjadi berubah ketika ia melihat bayi dalam keranjang padahal ia mengira bapak bayi yang ditembak itu menyembunyikan senapan. Uskup Soegijapranoto juga membantu langsung masyarakat yang menderita saat itu," ujarnya.

Ia melihat perjuangan uskup ini sungguh luar biasa. Soegijapranoto memanfaatkan jabatan uskupnya sehingga duta Vatikan bisa memahami dan membuat Vatikan menjadi negara yang pertama mengakui kemerdekan Indonesia. Ini memengaruhi negara-negara lain. "Ia juga rela memindahkan keuskupan Semarang ke Yogyakarta karena pemerintahan Indonesia berpindah ke daerah itu."katanya.

Mengenai antusiasme warga yang menonton, monseignur berharap informasi dari film tentang kemanusiaan, kesatuan bisa di wartakan. "Apalagi dalam situasi akhir-akhir ini di mana orang mulai melihat perbedaan. Mudah-mudahan film ini bisa menggunggah," tandasnya.

Benny juga mengaku bersyukur ada sosok seperti Uskup Soegijapranoto. Menurut Benny, uskup mengajarkan banyak hal hal soal kebersamaan, kebangsaan dan nilai-nilai universal lain.

Benny berharap dengan antusiasme warga yang menonton akan tercipta satu rumusan bersama untuk memerjuangkan nilai yang dibawa oleh Uskup Soegijapranoto. "Mari kita kalahkan kemunafikan. Rumah kita hanya satu yaitu Indonesia. Dasar negara kita hanya satu yaitu Pancasila," tandasnya. (dma)

Sumber: Tribun Manado Jumat 8 Juni 2012 halaman 1



Film SOEGIJA

Sutradara : Garin Nugroho
Produser Eksekutif : Y I Iswarahadi SJ
Produser :
Djaduk Ferianto
Murti Hadi Wijayanto SJ
Tri Giovanni
Pemain :
Nirwan Dewanto
Annisa Hertami Kusumastuti
Butet Kertaradjasa
Olga Lidya
Wouter Braff
Wouter Zweers


Sinopsis


Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.

Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.


Biografi Soegija
Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ., atau lebih dikenal dengan Soegija. Lahir 25 November 1896 di Kampung Kepatihan Meten Surakarta. Putra kelima dari perkawinan Karjasoedarma dan Soepijah. Mereka adalah abdi dalem Kraton Surakarta.

Dari Surakarta, keluarga Karjasoedarmo pun pindah tempat tinggal ke Wirogunan, Yogyakarta. Soegija kecil sekolah di Sekolah Rakyat di Ngabean. Pindah lagi ke Sekolah Rakyat Pakualaman. Lalu pindah lagi ke HIS Wirogunan. Di HIS Wirogunan inilah, Soegija mengenal Rm F van Lith SJ., yang datang ke Yogyakarta untuk mencari murid yang mau melanjutkan sekolah di Muntilan.

Tahun 1909, Soegija masuk sekolah di Muntilan. Dan, pada 24 Desember 1909 Soegija dibaptis dengan nama permandian Albertus. Tahun 1910, Soegija melanjutkan sekolah di Kweekschool voor Javaanse Onderwijneers, sekolah ini baru saja dibuka waktu itu.

 Soegija lulus ujian penghabisan di Kweekschool dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut pada tahun 1915. Setelah menjadi guru, tahun 1916, Soegija menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang imam.

Tahun 1919, Soegija Berangkat ke Belanda untuk belajar di Gymnasium, Leiden yang diasuh para imam ordo Salib Suci. Setahun berikutnya, tahun 1920, masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariendaal, setelah ada ijin khusus dari pembesar Serikat Jesus, karena Soegija menjadi katolik setelah dewasa.

27 September 1922, Soegija mengucapkan Triprasetya dalam Serikat Yesus. Seusai belajar filsafat di Berchmans College, Ondenbosch, Fr. Soegija pulang ke Indonesia dan ditugaskan sebagai guru di Muntilan tahun 1923. Selama di Muntilan ini Fr. Soegija juga aktif di bidang pers sebagai redaktur majalah mingguan Katolik berbahasa Jawa, Swara Tama. Tahun 1928, Berangkatlah Soegija ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht. Setahun kemudian, tahun 1929, untuk pertama kalinya pergi ke Roma menghadap Paus Pius XI bersama-sama dengan empat orang Jesuit dari Asia lainnya. Pada tanggal 25 dan 26 Mei 1931, Soegija resmi menerima tahbisan subdiakonat dan diakonat di Maastricht.

SUMBER : www.soegijathemovie.com

Mengintip Rumah Sakit Apung USNS Mercy

USNS Mercy di Teluk Manado 31 Mei 2012 (foto rizky)
KAPAL United State Navy Ship (USNS) Mercy tiba di teluk Manado sekitar pukul 04.00 Wita hari Kamis 31 Mei 2012. Kapal rumah sakit terbesar di dunia datang lebih awal dari yang diperkirakan. Kapal yang mengangkut sekitar 1.000 kru ini melakukan perjalanan selama seminggu dari Guam. Kapal ini selama dua minggu akan melakukan misi kemanusiaan di Sulawesi Utara bertajuk Pacific Partnership 2012.

Pada hari pertama kedatangannya, wartawan media lokal mendapat kesempatan untuk melakukan tur singkat ke kapal rumah sakit terbesar ini. Tribun Manado satu dari 11 media lokal mendapat kesempatan ikut. Sebelum naik ke kapal rumah sakit, semua wartawan mendapatkan pengarahan dari staf US Navy tentang prosedur selama di atas kapal.

Untuk mencapai kapal yang buang sauh di Teluk Manado  ini bisa menggunakan  dua perahu milik USNS Mercy atau naik helikopter Sea Hawk yang memiliki kapasitas 10 orang penumpang termasuk kru. Biasanya perahu digunakan untuk mengangkut kru yang akan turun ke daratan. Kapal ini akan bekerja selama 12 jam dari 16 jam kerja. sedangkan helikopter untuk mengangkut suplai obat-obatan. Untuk menuju ke kapal ini, mereka hanya menggunakan dua perahu dari 30 yang dimiliki.

Jika menggunakan helikopter maka penumpang akan turun di helipad yang berada di bagian atas kapal  sedangkan jika menggunakan perahu penumpang akan naik lewat samping kanan kapal ini.Lantai 01 dan 02, yang terletak paling atas digunakan untuk menyimpan obat-obatan, laboratorium, dan sejenisnya.

Pasien yang tidak bisa berjalan, untuk dapat menuju ruang administrasi dibawa melewati lift yang bisa menampung sekitar 20 orang dewasa. Selain lift ada lorong yang bisa menghubungkan mulai dari bagian atas kapal hingga ke bagian bawah kapal. Jika melewati lorong ini semua personil terlihat bergerak cepat. Begitu sampai  di daerah M (main deck) pasien yang akan mengikuti operasi akan dicocokan administrasinya yang ada dalam daftar pasien yang sudah discreening terlebih dahulu di darat.

Dekat dengan bagian administrasi ini, ada yang namanya ruang gawat darurat yang memiliki kapasitas 50 tempat tidur. Di ruangan ini juga nantinya bisa dipilah ke bagian mana pasien akan dirawat. Di sini juga terletak 12 ruang operasi. Sayangnya saat kunjungan Tribun Manado, ruang operasi sementara dipersiapkan jelang pelaksanaan operasi yang akan dilakukan selama 12 hari mendatang.

Di bawahnya lagi tersusun lantai 2 hingga 5, yang digunakan sebagai bangsal para pasien. Mercy memiliki 250 tempat tidur, dan bisa ditambah hingga 1.000 jika diperlukan. Di dalam kapal itu ada 20 tempat tidur untuk perawatan pasca-operasi, dan 80 dipan untuk perawatan intensif. Di sana ada poliklinik gigi dengan enam bilik pemeriksaan. Meski tak bisa masuk ke dalam ruangannya langsung, dijelaskan oleh Perwira Humasnya Maria Lohmeyer dinding kamar dari baja dicat putih, krem, atau hijau muda. Tak ada sofa mentereng atau televisi di ruang pasien. . "Semua ruang berpenyejuk udara karena tak ada jendela," kata Maria.

 Maria yang menjadi pemandu tur, menambahkan, semua pasien tinggal di dalam barak berukuran sekitar 200 meter persegi. Di dalamnya terdapat 20 tempat tidur bertingkat dua dipan 1x2 meter dengan kasur lateks berseprai putih. Pada sisi masing-masing dipan ada lampu baca, tangki oksigen, dan sebuah rak kecil dari besi. Untuk kamar rawat anak-anak, kata Maria, dirancang sedemikian rupa hingga menyerupai tempat bermain. "Hal ini dimaksudkan agar anak-anak meski dalam masa penyembuhan bisa menikmati hiburan. Ruang perawatan anak memiliki kapasitas 80 tempat tidur," ujarnya.

Rumah sakit terapung ini juga memiliki pusat terapi fisik, mesin ct scan, ada juga mesin khusus yang dapat menganalisa darah melalui sinar X ray, klinik pengobatan mata, dua mesin yang mampu memproduksi oksigen, serta memiliki bank darah yang dapat menyimpan 5 ribu unit kantong darah beku, serta 500 plasma darah serta bisa mencocokan darah 20 unit per jam. Ada juga ruangan untuk masa pemulihan dan ruangan untuk para keluarga yang menjaga pasien yang akan menjalani operasi.

Maria kemudian mengajak rombongan wartawan untuk makan siang. Saat makan siang, semua kru antri untuk masuk dalam satu ruangan. Setiap orang mengambil nampan untuk meletakan peralatan makan seperti piring, mangkuk sup, garpu, sendok, dan pisau. Setelah mengambil peralatan makan, masih juga akan antri untuk mengambil menu. Siang itu menu yang disajikan adalah menu khas Spanyol dan Meksiko. Ada Burrito yang terbuat dari tortilla gandum yang diisi dengan berbagai macam daging seperti daging sapi, ayam atau babi. Daging-daging yang sudah dimasak ini biasanya hanya isi satu-satunya, dan kemudian digulung dengan tortilla tadi. Di Amerika Serikat, isi dari burrito lebih bervariasi, seperti nasi, kacang merah, kubis, tomat, saus salsa, guacamole, keju dan sour cream. "Setiap hari menunya berbeda tergantung jadwal yang sudah dipersiapkan oleh koki," tutur Maria.

Ruang makan adalah tempat favorit para marinir melepas lelah. Sebuah ruangan jembar, sekitar 200 meter persegi. Kursi-kursi makan biru disusun mengitari beberapa meja berbentuk persegi panjang. Agak ke sisi kiri terdapat meja besar tempat orang mengambil buah, aneka minuman panas dan dingin. Di depan, sebuah tv flat besar tergantung dan memutar film-film Hollywood. Sebuah kamar untuk mengambil makanan terletak di sisi restoran. Untuk ruang makan perwira, letaknya berbeda dengan ruang makan kru umum. Di ruang makan perwira, sudah tersedia menu yang sama. Kursinya diatur mengikuti meja bundar yang di atasnya sudah di letakkan beberapa jenis saus dan madu. "Selesai makan, semua perwira maupun kru harus membawa sendiri peralatan makannya ke bagian belakang. Di sana sudah ada orang yang siap untuk mencuci piringnya," jelas Maria kepada rombongan wartawan yang sudah selesai makan.

Untuk menghilangkan kebosanan, bisa juga dilakukan aktivitas lainnya seperti bermain pingpong, berbelanja di minimarket, mengirim surat melalui kantor pos.  Jika sedang iseng, para penghuni kapal bisa juga membeli camilan di mesin penjual minuman kaleng dan makanan kecil. Tentu saja mesin itu hanya menerima recehan dolar.

USNS Mercy dahulunya adalah kapal tengker minyak yang kemudian pada 19 Desember 1986 disumbangkan kepada US Navy. Kapal yang semuanya terdiri dari metal ini, kemudian diubah menjadi kapal rumah sakit. USNS Mercy merupakan satu dari dua kapal rumah sakit milik Amerika. Kapal ini memiliki panjang 272 meter, dengan kecepatan 17.5 mil laut. Namun menurut Perwira Humasnya, untuk perjalanan ke Indonesia mereka hanya menggunakan kecepatan 5 knot.

Palkanya dibedah, ditata ulang, dan diisi dengan peralatan medis modern. Di lambung kiri dan kanan diberi ruang yang diisi 35 ribu ton air laut, sebagai penyeimbang kapal. Dengan kelengkapan itu, kapal praktis tidak oleng meski dihantam ombak. Itulah sebabnya, operasi berpresisi tinggi, seperti bedah jantung, bisa dilakukan meski kapal sedang melaju. Untuk mengurangi guncangan, kabin bedah diletakkan di tengah perut kapal. Kapal ini memliki awak yang terdiri dari pelaut sipil (dengan waktu penugasan) sebanyak 65 orang, yang bukan penugasan sebanya 18 orang, kemudian personil angkatan laut, kedokteran, sebanyak 1.215 orang penugasan, dan 58 orang yang tidak penugasan. (rine f araro)

Sumber: Tribun Manado 1 Juni 2012 halaman 1

Keindahan Motif Kain Tenun Nusa Tenggara Timur

KECINTAAN Musa Widyatmodjo pada budaya Indonesia membuat desainer ini selalu fokus pada eksplorasi kain-kain khas Indonesia. Setelah mengeluarkan koleksi The (Ine) Kelimutu beberapa bulan lalu, dalam ajang Jakarta Fashion and Food Festival kali ini ia mengeluarkan koleksi terbarunya, The Flobamora Indone(she)aku.

"Koleksi ini banyak bercerita tentang berbagai keindahan dan kekayaan motif kain tenun dari Nusa Tenggara Timur," ungkap Musa menjelang show-nya di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (23/5/2012) lalu. Dalam koleksinya kali ini Musa banyak menggunakan kain-kain dari "Flobamora", yang tak lain singkatan dari pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur, yaitu Flores, Sumba, Timor, dan Alor.

Tak mudah mengolah kain tenun. Kesulitannya sangat terasa ketika proses pemotongan bahannya, karena jika salah potong maka pola garis di kain tenun ini akan menjadi tidak simetris atau tidak sejajar. "Setiap kain tenun punya motif dan warnanya sendiri-sendiri. Namun, Musa bisa mengombinasikan aneka motif dan warna tenun yang berbeda-beda ini dalam satu paduan busana yang serasi," puji Lusia Leburaya, Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) NTT.

Musa memadukan kain tenun dengan ketrampilan khas dari kawasan lain di Indonesia, seperti bordir bunga anggrek timbul dari Tasikmalaya, motif selendang sulam suji dari Koto Gadang, dan juga batu kaca (glass bead) dari Jombang.

"Namun, kain tenun yang digunakan untuk baju ini adalah kain tenun ikat, dan bukan kain tenun sotis. Ini dilakukan untuk menekan biaya produksi dan harga jualnya," ungkap desainer yang terkenal dengan karakter simplicity with handycraft detailing in.

Ia menggunakan beberapa jenis kain tenun dari NTT ini untuk menghasilkan 99 busana siap pakai yang bergaya simpel dan bisa dikenakan oleh semua perempuan dari beragam usia, warna kulit, dan bentuk tubuh. Ia banyak mengolah sarung, selendang, dan scarf menjadi busana dengan style dress, blus, rok, celana, lengkap dengan detailnya yang cantik.

Show The Flobamora Indone(she)aku terbagi dalam tiga bagian. Di bagian pertama, Stripe A Pose tampil sebagai koleksi Musa yang banyak menampilkan motif garis dengan kain tenun yang warnanya cenderung gelap namun kuat. Dengan motif garis, kain tenun yang dihadirkan dalam mini dress, bolero, dan kardigan, ini terlihat sangat tegas. Perpaduan kain tenun NTT dengan kain modern yang bergaris juga membuat kesan ringan dan nyaman saat mengenakan busananya.

Di sesi kedua, Musa menghadirkan tema Aesthetics, yang lebih kontemporer. Sedangkan di sesi ketiga, Musa menghadirkan koleksi yang bernuansa over the village. Desain yang digunakan menghadirkan kesan yang modern, berkat tambahan bordir bunga seperti pada pinggang, dada, atau bahu.

Melalui busana ini Musa ingin menunjukkan bahwa kain tradisional seperti tenun juga bisa bernuansa lebih modern. Blus bergaya formal, gaun dengan V-line yang agak lebar, serta sentuhan gaun backless, juga menambah pesona koleksi busana Musa yang didominasi warna-warna tenun ikat yang khas dan dalam. (*)

Sumber:  Kompas.Com

Dampak Alih Fungsi Lahan

ilustrasi
DUA hari terakhir  ada kabar duka dari tanah seberang. Di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur hujan deras pada Kamis (24/5) dinihari telah menyebabkan banjir dan tanah longsor.  Empat orang meninggal dunia tertimbun longsoran tanah dan belasan rumah penduduk rusak  berat.

Pada hari yang sama belasan petambang di Gunung Gede, Desa Suka Mulih, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tertimbun tanah longsor akibat penambangan liar. Saat ditemukan hari Jumat  (25/5) pagi, empat petambang tak bernyawa lagi. Jumlah petambang yang tewas diperkirakan bertambah lantaran ada belasan orang yang terkubur material tanah dan pasir yang mereka gali.

Dua peristiwa tersebut di atas  mengindikasikan satu hal betapa tanah tempat kita berpijak semakin labil. Ia mudah tergerus air, ambles dan dalam banyak kejadian di negeri ini  justru telah menjadi mesin pencabut nyawa manusia. Hujan hanya beberapa saat saja langsung menimbulkan banjir bandang. Tanah yang telah jenuh pun lazimnya longsor dengan daya rusak mematikan.

Begitulah yang terjadi bila alih fungsi lahan tidak memperhitungkan keseimbangan ekosistem lingkungan. Banjir yang selalu menjadi momok menakutkan warga perkotaan di Indonesia merupakah buah dari ketidaktepatan rencana tata ruang sebuah kota.

Nafsu membabat lahan untuk membangun kawasan perumahan atau properti bisnis  kerapkali mengabaikan hasil analisis dampak lingkungan. Hasil survei dari berbagai lembaga terpercaya menunjukkan tidak lebih dari 10 persen kota provinsi dan kabupaten  di Indonesia yang aman dari ancaman bencana banjir setiap tahun.

Bagaimana dengan Sulawesi Utara? Kisahnya hampir setali tiga uang. Bencana tanah longsor bukan peristiwa langka di bumi Nyiur Melambai. Banjir bandang pun bukan tak pernah menghajar Kawanua. Pembangunan fisik kota-kota di Sulawesi Utara patut diacungi jempol. Dalam kurun waktu sepuluh sampai limabelas tahun terakhir terjadi perkembangan yang signifikan. Kemacetan yang terjadi saban hari di Kota Manado, misalnya, merupakan  salah satu  bukti kuat tentang konsekwensi logis dari kemajuan tersebut.

Hari-hari ke depan, alih fungsi lahan di Sulawesi Utara, entah untuk pembangunan properti atau bisnis pertambangan  bakal terus bergulir. Tentu dibutuhkan keseriusan pemerintah daerah serta semua stake holder di sini untuk menekan sekecil mungkin dampak kerusakan lingkungan yang berpeluang mencabut nyawa manusia serta harta benda.

Bumi Nyiur Melambai yang dikaruniai alam yang indah, subur dan sanggup memakmurkan rakyatnya lewat kekayaan sumber daya alam selama berabad-abad jangan sampai tergerus oleh kepentingan sesaat penguasa dan pengusaha. Bumi ini sejatinya tempat hunian anak cucu kita yang lahir kelak. Kita yang hidup saat ini sekadar menggunakannya untuk sementara. Jadi merawat bumi merupakan kewajiban utama bukan? (*)

Tribun Manado 26 Mei 2012 halaman 10

Cerdas Mengelola Informasi Publik

PEKAN Informasi Nasional (PIN) tahun 2012 di Manado telah berlangsung sejak kemarin. Kehadiran Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia  H Tifatul Sembiring menambah bobot event ini sekaligus memberi pesan penting betapa strategisnya pengelolaan informasi bagi kemajuan bangsa dan negara. Lalu apa relevansinya dengan kebutuhan pemerintah dan masyarakat  Sulawesi Utara?

Dua poin bisa kita sebut di ruang terbatas ini. Pertama, momentum PIN 2012 mestinya tidak sekadar ritual tahunan yang lebih menonjolkan kesan 'gebyar pesta' melalui beragam acara seperti parade budaya Nusantara, pemecahan rekor MURI untuk pengakses internet terbanyak, pameran, pentas seni dan lainnya. PIN 2012 di Manado yang menelan dana tidak sedikit itu bisa disebut sukses manakala agenda aksi selanjutnya sungguh menyentuh kebutuhan konkret masyarakat.

Masyarakat Sulawesi Utara membutuhkan layanan informasi publik yang lebih transparan sehingga membantu mereka menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari.  Kita masih menangkap suara masyarakat yang berkeluh-kesah. Galau dan kecewa lantaran sejumlah institusi publik pelit amat membuka akses bagi masyarakat.

Sekadar misal. Sampai saat ini baru segelintir warga masyarakat Sulawesi Utara yang dapat mengakses informasi tentang anggaran publik dari APBD yang ada di setiap instansi pemerintahan, baik di level pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota.  Kuat sekali kesan instansi pemerintah menganggap informasi tersebut tidak perlu dibuka seluas-luasnya bagi seluruh elemen masyarakat. Padahal itu perintah Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang secara resmi mulai berlaku dua tahun silam. Undang-undang yang terdiri dari 64 pasal itu mewajibkan setiap Badan Publik untuk membuka akses bagi masyarakat mendapatkan informasi publik.

Dalam banyak kasus korupsi yang menggurita di negeri ini, pemicunya justru akibat ketertutupan informasi publik itu. Sulawesi Utara mestinya belajar dari pengalaman tersebut untuk mengelola informasi publik dengan lebih cerdas, lebih profesional dan lebih pro rakyat.  Jika langkah kecil ini bisa dikerjakan dengan sungguh- sungguh niscaya bumi Nyiur Melambai lebih cepat maju dibanding daerah lainnya.

Kedua, momentum PIN 2012 di Manado juga menggugah kesadaran masyarakat Sulawesi Utara  agar lebih selektif terhadap informasi. Kemajuan teknologi informasi dewasa ini membawa dua sisi. Positif dan negatif. Betapa banyak orang telah menjadi korban karena tidak cerdas mengelola jutaan informasi yang diperolehnya setiap hari. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan memikul efek buruk dari informasi tersebut. Maka keluarga sebagai lembaga terdepan dalam membentuk generasi berkualitas harus menjadi filter selain guru dan masyarakat pada umumnya. (*)

Tribun Manado 23 Mei 2012 halaman 10

Kekayaan Kain Tenun Nusa Tenggara Timur

Tenun Ikat NTT
INDONESIA memiliki banyak kekayaan budaya dalam bentuk kain tradisional. Setiap daerah di Indonesia memiliki berbagai jenis kain yang indah, seperti songket, batik, tenun, dan lain sebagainya. Salah satu provinsi yang dikenal memiliki kain tenun dengan motif yang begitu kaya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

NTT memiliki 20 kabupaten dan satu kota yang dihuni oleh 15 suku atau etnis tertentu, dengan adat dan kebudayaan masing-masing.

"Masing-masing suku ini memiliki kreasi kain tenun mereka sendiri sesuai dengan adat, budaya, dan kesenian mereka. Ini terlihat dari corak hias atau motif tenunannya," ungkap Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) NTT, Lusia Leburaya, menjelang show Musa by Musa Widyatmodjo "The Flobamora Indone(she)aku" di Hotel Harris, Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (23/5/2012) lalu.

Lusia mengungkapkan, setiap suku memiliki ragam hias tenunan, yang menampilkan berbagai tokoh mitos, binatang, tumbuhan, dan motif abstrak yang dijiwai dari penghayatan akan alam semesta. Lusia menambahkan, di Alor saja dapat ditemukan hampir sekitar 81 motif tenun.

Kain tenun yang dikembangkan oleh setiap suku di NTT ini merupakan seni kerajinan tangan yang diajarkan secara turun-temurun kepada anak-cucu. Kain tenun ini secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai busana sehari-hari, busana untuk tarian atau upacara adat, sebagai mas kawin, alat penghargaan dalam upacara kematian, alat pembayar denda adat, alat tukar (uang), perlambang strata sosial seseorang, alat penghargaan kepada tamu, sampai alat untuk menolak bencana.

Dalam masyarakat NTT, kain tenun dianggap sebagai harta kekayaan yang bernilai tinggi karena kain ini pembuatannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. "Selain dibedakan dari motifnya, kain tenun juga dibedakan menurut proses pembuatannya, yaitu tenun ikat, tenun buna, dan tenun sotis," jelas Lusia.

1. Tenun ikat
Disebut kain tenun ikat karena proses pembentukan motifnya dilakukan melalui pengikatan benang-benang. Sedikit berbeda dengan di daerah lain dalam menggunakan cara benang pakannya  (benang yang dimasukkan melintang pada benang lungsin ketika menenun kain), masyarakat NTT menenun dengan mengikat benang lusi (lungsi). Kain tenun ikat banyak ditemukan tersebar merata di semua kabupaten NTT, kecuali di kabupaten Manggarai dan sebagian kabupaten Ngada.

2. Tenun buna
Tenun buna ini merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat sekitar di Timor Tengah bagian utara, dan banyak terdapat di kabupaten Kupang, Timor Tengah bagian selatan, Belu, dan Timor Tengah bagian utara. Proses pembuatan tenun buna dilakukan dengan mewarnai benang terlebih dulu. Benang yang sudah diwarnai kemudian digunakan untuk membentuk motif yang berbeda-beda pada kain.

3. Tenun lotis atau sotis

Lotis merupakan perpaduan dari kain tenun dengan gaya sulam. Tampilannya mirip dengan tenun songket. Proses pembuatannya mirip dengan tenun buna dimana benang harus diberi warna lebih dulu. Perajin tenun lotis biasanya akan melakukan dua pekerjaan sekaligus, yaitu menenun dan menyulam beberapa motif, sehingga dalam satu kain akan terlihat motif seperti tiga dimensi karena jahitan yang agak menonjol keluar.

Gaya tenun ini banyak terdapat di Kupang, Timor Tengah bagian selatan, Timor Tengah utara, Belu, Alor, Flores Timur, Lembata, Sikka, Ngada, Manggarai, Sumba Timur, dan Sumba Barat. "Jenis kain inilah yang paling rumit proses pembuatannya, dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Tak heran kalau harganya lebih mahal," tutur desainer Musa Widyatmodjo. (*)


Sumber: Kompas.Com

Kuburan Batu Berdaya Magis di Ratenggaro

Kubur Batu di Pantai Ratenggaro, Sumba Barat Daya, NTT
PANTAI  Ratenggaro, Selasa petang pekan pertama Desember 2011. Pesonanya tidak hanya bersumber dari pantainya yang eksotis. Kawasan pantainya terasa berdaya magis tinggi karena di sekitarnya tetap bertahan sejumlah kuburan batu tua peninggalan zaman megalitikum, sekitar 4.500 tahun lalu.

Keindahan Ratenggaro memang tidak diragukan. Garis pantainya berpasir putih, menghadap laut lepas berair bening. Deburan ombaknya tak pernah lelah menderu. Gemanya terdengar hingga perkampungan Desa Bondo Kodi, – tetangga belakang Ratenggaro, - melalui lengkungan muara Sungai Waiha di sekitarnya.

Ratenggaro sendiri sebenarnya nama kampung adat yang kini merupakan bagian wilayah Desa Ratenggaro, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya atau SBD di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 35 km arah barat daya Tambolaka, kota Kabupaten SBD.

Kampung adat itu awalnya tumbuh di sekitar bibir pantai yang langsung menghadap Lautan Hindia. Rumpun perumahan yang semuanya bermenara, telah lenyap, entah sejak kapan. Yang tersisa kini sebagian kuburan batu.

Setidaknya ada tiga kuburan batu asli berusia sangat tua, yang masih utuh di sekitar bibir pantai itu. Sejumlah warga asal kampung setempat, seperti Daniel Winyo Bela (50), Hona Leko (42), atau Yosef Radokaka (37), secara mengalir mengisahkan kuburan batu format dolmen paling besar adalah ”rumah tinggal” leluhur mereka yang bernama Rato Pati Leko. Dua lainnya adalah kuburan dua putranya, Rangga Katoda dan Bhoka Roti.

Mereka bahkan tetap hafal kalau batu kubur leluhurnya itu diambil dari wilayah kampung adat tetangganya, Wainyapu, yang berlokasi di seberang muara atau teluk.

Di kisahkan lempengan batu itu sebelum dibentuk, berukuran raksasa. Proses penyeretannya di waktu silam melibatkan ratusan bahkan ribuan massa. Mereka tidak hanya leluhur Ratenggaro, tetapi juga leluhur warga dari sejumlah kampung tua lainnya di sekitarnya.

Setelah melalui ritual adat dengan hewan kurban tidak sedikit, batu kubur itu diseret beramai ramai hingga berhasil menyeberangi teluk yang juga merupakan muara Sungai Waiha di sisi timur Ratenggaro.

Mengutip penuturan para tetua, Hona Leko mengisahkan para leluhur penyeret batu kubur itu awalnya sempat ragu bisa melewati teluk karena kolam airnya cukup dalam, hingga setinggi leher orang dewasa.

”Namun saat penyeretan hendak menyeberangi teluk, mukjizat datang. Air lautnya tiba tiba surut hingga upaya penyeretan berhasil menyeberangi teluk tanpa halangan berarti,” tutur Hona Leko.

Ritual Marapu


Kampung adatnya sendiri– entah sejak kapan pula–sudah dipindahkan ke lokasi lain di sekitarnya. Tetap dengan nama sama, Ratenggaro, lokasi kampung penggantinya kini bertengger di puncak dinding tebing dalam lengkungan muara Sungai Waiha. Lokasinya menjauh sekitar 200 meter dari lokasi lama.

Pergeseran lokasi kampung itu semata-mata akibat keganasan abrasi. Gempuran ombak Lautan Hindia secara perlahan namun pasti terus menggerus kawasan pantai yang merupakan wilayah kampung adat Ratenggaro, hingga akhirnya harus dipindahkan ke lokasi sekarang.

”Kalau menurut cerita para tetua, dulu ketika kampung adat Ratenggaro masih di lokasi lama, daratannya dari titik kuburan hingga sekitar 1 kilometer (km) ke arah lautan. Sekarang lautnya sudah hampir menyentuh kuburan,” tutur Daniel Winyo Bela, yang sehari-hari sebagai guru SMA Negeri I Kodi. Ia petang itu juga berkunjung ke Pantai Ratenggaro bersama sejumlah warga lainnya.

Rupanya petaka terus menghantui kampung adat Ratenggaro. Jika kampung adat lama harus bergeser akibat gerusan abrasi, kampung adat yang sekarang malah tertimpa musibah kebakaran awal Juni 2011. Dilaporkan 13 unit rumah berarsitektur unik itu ludes di lalap api.

Atas inisiatif dan usaha budayawan Sumba, Pastor Robert Ramone CSsR, perkampungan adat Ratenggaro berhasil dibangun kembali Agustus 2011. Pembangunannya itu didahului ritual adat Marapu, kepercayaan tua Sumba.

Lisa Tirto Utomo, pendiri sekaligus pemilik perusahaan air mineral Aqua, ikut berpartisipasi dalam pembangunan kembali perkampungan adat tersebut. Kontribusinya berupa sumbangan dana senilai Rp 55 juta.

Pada saat hampir bersamaan, Robert Ramome-biarawan Katolik kelahiran Kodi Bangedo, 29 Agustus 1962-itu juga berusaha merampungkan museum yang sekaligus menjadi pusat budaya Sumba di Weetabula, SBD.

Bagi Robert, perjuangan membangun kembali rumah adat Ratenggaro dan museum tersebut adalah bagian dari upaya agar orang Sumba tidak sampai tercerabut dari akar budayanya.

Kata dia, perjuangan membangun kembali rumah adat Ratenggaro dan juga museum tersebut, sekaligus merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kebanggaan di kalangan orang Sumba atas peninggalan budayanya yang bersumber dari Marapu.

”Lebih dari 60 persen penduduk Sumba beraliran kepercayaan Marapu. Kepercayaan tua itu bahkan hingga kini masih bertahan dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan orang Sumba. Karena itu, jangan mengaku pernah ke Sumba kalau belum bersentuhan dengan Marapu,” tutur Robert Ramone.

Pembangunan kembali kampung adat Ratenggaro tidak berarti langsung mengenyahkan ancaman atas kawasan pantainya, terutama terkait keberadaan kuburan batu. Mungkin perlu ritual khusus secara Marapu agar kuburan batu itu terbebas dari gerusan abrasi Lautan Hindia.

Lokasi lama Kampung Ratenggaro hanya menyisakan kuburan batu. Belasan rumah pendukungnya yang berarsitektur inik, tak ada lagi.

Namun daya magis bekas kampung tua itu-sebagaimana diakui sejumlah tetua-terasa seperti tidak pernah beranjak. Setiap sore selalu ada saja warga sekitar yang berkunjung. Sebagian di antaranya-terutama para tetuanya-konon berkunjung hanya sekadar ingin ”berjumpa” dengan leluhur mereka di Ratenggaro.

Jika Anda berkunjung ke Ratenggaro atau kawasan lain Pulau Sumba, jangan lupa mengenakan sepatu tertutup. Kelengkapan itu guna menghindari kemungkinan serangan tetanus yang bersumber dari kotoran hewan terutama kuda, yang berserakan di mana mana. (Frans Sarong dan Hariadi Saptono)

Sumber: Kompas.Com

Pintu Gerbang Menuju Kelimutu

Pesawahan di Moni
SALAH satu keindahan yang ditawarkan Flores adalah Danau Kelimutu. Danau ini memiliki warna air yang dapat berubah setiap waktu. Wisatawan dari seluruh belahan dunia rela menyeberangi luasnya lautan hanya untuk menyaksikan fenomena alam ini. Sebelum memulai perjalanan menuju Kelimutu di pagi hari, baiknya Anda bermalam di Moni. Moni memiliki beberapa penginapan dengan fasilitas yang dapat memberikan kenyamanan untuk Anda bermalam.

Begitu Anda memulai pendakian dari Wolowaru, pemandangan dari seberang bukit menunjukkan denyut kehidupan dimana beberapa petani sibuk mengurus sawah mereka. Di persimpangan jalan, Anda bisa menjumpai tukang ojek di depan Hotel Flores Sare. Dari sana, desa kecil yang bernama Moni jaraknya sekitar 52 kilometer dari Ende siap menyambut Anda.

Kunjungan yang sering dari wisatawan menjadikan desa ini sebagai pusat akomodasi di daerah tersebut. Deretan akomodasi dan warung berjajar manis di salah satu bagian desa ini. Walaupun sebagian besar wisatawan yang akan ke Kelimutu biasanya langsung membawa pemandu dari Labuan Bajo, Ende, atau Maumere tetapi beberapa akomodasi di sini juga menyediakan paket perjalanan ke Kelimutu atau ke bagian lain di pulau ini.

Udaranya yang dingin, terasering, dan pepohonan kemiri (Aleurites moluccana) yang rimbun menjadikan pemandangan di Moni terlihat indah dan hijau. Moni juga merupakan tempat yang cocok sebagai perhentian sebelum menuju Maumere dan Labuan Bajo. Desa ini memang tidak memiliki restoran mewah kecuali di Ecolodge Kelimutu namun menawarkan keramahan, kerendahan hati, dan tempat peristirahatan yang nyaman.

Pendakian

Mendaki merupakan alasan utama bagi wisatawan yang datang Ke Moni atau Ende. Masyarakat lokal yakin bahwa Danau Kelimutu merupakan tempat beristirahatnya jiwa orang yang sudah meninggal. Area Kelimutu dikelilingi hutan dengan jenis tumbuhan yang jarang ditemukan ditempat lain di Flores.

Selain pohon pinus, terdapat juga tumbuhan paku, tumbuhan marga Casuarina, redwood dan bunga edelweiss. Hutan pinus tumbuh subur di ketinggian Gunung Kelimutu. Area lain dari gunung ini tandus dengan pasir dan tanah yang tidak stabil. Masyarakat setempat yakin bahwa Gunung Kelimutu merupakan gunung kramat dan merupakan sumber kesuburan bagi tanah di sekitarnya.

Walaupun Anda bisa mengabadikan pemandangan menakjubkan di tempat-tempat yang belum dikunjungi namun Anda tidak disarankan untuk melakukannya. Beberapa bagian dari taman nasional ini dilarang untuk dikunjungi karena ketidakstabilan panas bumi. Beberapa orang ada yang tersesat dan banyak reporter yang meninggal jika mencoba menuju tempat-tempat tersebut. Trekking yang paling aman adalah disekitar area antara Moni dan Gunung Kelimutu.

Anda bisa berhenti di Koanara dan Wiwipemo di Kabupaten Kelimutu. Terdapat beberapa rumah tradisional yang mungkin ingin Anda lihat dan pelajari. Rumah-rumah tradisional ini juga bisa ditemukan di Nggela, Tenda dan Wolojita yang ada di Kabupaten Wolojita dan di Wolopoto, Ngalupolo, Onelako, Puutuga, Roga, serta Sokoria di Kabupaten Ndona.

Ada beberapa ritual yang biasa dilakukan masyarakat setempat dan dapat memberi Anda pengalaman dan interaksi budaya secara langsung. Ritual tradisional Lio masih dipraktikkan di Lio, seperti Tu Tau yang merupakan ritual panen pada bulan Oktober, Januari atau Februari. Gaga Jala adalah ritual pembersihan jalan di bulan Maret. Wari Pare adalah ritual jemur padi sekitar bulan April atau Mei. Nai Keu adalah ritual memetik kelapa dan pinang sekitar bulan Februari (terutama untuk panen kelapa di bulan Maret, Juni, September, dan Desember). Wa'u Tosa adalah ritual penggilingan padi tradisional sekitar bulan September atau Oktober. Ada juga Nggera Kibi yaitu ritual untuk membersihkan lumbung padi sekitar bulan Oktober. (Angke/Him)

Sumber: Kompas.Com

Belaraghi: Menghidupkan Tradisi Menjamu Tamu


Dusun tradisional di Belaraghi, Flores, NTT
PASAR Bajawa masih belum ramai tetapi beberapa angkutan kota berwarna biru sudah menunggu penumpang di pagi hari. Di atasnya sudah naik seorang kernet mengatur tumpukan karung dan beberapa kardus berisi buah-buahan segar.

Pergi ke Belaraghi, sebuah dusun tradisional yang masih mempertahankan hampir seluruh aspek tradisi masyarakat Ngada, sebaiknya dilakukan pagi hari karena selain dusunnya yang menjadi tujuan utama juga semua keaslian dan perkembangan masyarakatyang dilalui di sepanjang jalan menuju Aimere begitu menarik.

Ngada terkenal karena jeratan daya tarik masyarakatnya yang memilih untuk mempertahankan gaya hidup yang tradisional. Sebenarnya kita tak pernah tahu kemampuan mereka untuk dapat memiliki berbagai hal seperti masyarakat kontemporer lainnya. Akan tetapi, secara jelas mereka nampak cukup bahagia dengan apa yang mereka punya.

Di titik puncak keaslian dan jauh dari popularitas yang disandang desa tradisional lainnya, Belaraghi seperti museum kehidupan masyarakat Ngada. Kehidupannya terpisah dari keramaian dengan bentang alam yang menjadi benteng alam sekaligus jembatan yang tak mudah dilalui.

Dalam satu aspek kepentingan, keterpencilan ini menjadi sebuah keuntungan karena dengannya keaslian dan otentisitas dusun ini akan lebih lama terjamin dan tidak akan berubah modern terlalu cepat. Di sisi lain, bentang alam yang tak mudah ini masih memerlukan pengembangan infrastruktur dan fasilitas yang bertanggung jawab.

Trekking adalah pembuka petualangan mengunjungi Belaraghi. Anda dapat memilih satu dari dua altenatif trek yang tersedia. Bila ingin menaklukkan keperkasaan alam Flores maka jalur 11 km bisa menjadi sebuah penghormatan sepanjang umur. Apabila waktu menjadi variabel yang agak mahal maka jalur 2 atau 3 km pun adalah perjuangan yang akan terbayar setimpal.

Bagi warga Belaraghi, berjumpa tamu yang mengunjungi dusun mereka bagaikan cinta pada pandangan pertama. Mereka akan menyambut dengan suka  cita dan menuangkan segala kerinduan pada tamu yang mereka nanti-nantikan dengan menyediakan suguhan-suguhan kehormatan.

Di rumah tamu, rebus ubi, pisang, dan talas disuguhkan dengan kopi atau arak. Sambal cabe rawit Flores tak lupa disertakan dalam piring sederhana.Tak lama, makan siang yang merupakan bagian dari tradisi ti'i ka ebunusi, yaitu ‘menyajikan masakan untuk leluhur', dipersembahkan dengan mengorbankan seekor babi hutan yang banyak dipelihara masyarakat Flores.

Arti pengunjung bagi warga Belaraghi ialah tamu bukan wisatawan. Maka dari itu, sikap penghormatan tak setengah hati dan dilakukan di rumah tamu, sao one, salah satu rumah paling sakral karena tamu dikenalkan kepada para leluhur.

Warga Belaraghi memiliki komitmen mempertahankan bentuk rumah tradisional mereka, bukan semata-mata untuk wisatawan tetapi memang tak ada keinginan merubah tradisi atap rumbia dan ijuk menjadi seng dan antena parabolanya serta listrik yang berseliweran di ubun-ubun rumah tradisional mereka yang sakral.

Enam belas rumah tradisional yang mereka pertahankan tersusun dalam dua jajar saling berhadapan. Uniknya, di Belaraghi, pelataran di depan rumah lebih tinggi dari fondasi rumah beratap daun rumbia. Lima rumah diantaranya berjuluk sao pu'u, atau rumah asal yang memiliki ornamen rumah kecil di ujung atapnya. Lima rumah lainnya ialah sao lobo atau rumah terakhir yang memiliki ornamen tubuh manusia di atapnya. Sisanya dijuluki sao kaka, dimana kata 'kaka' artinya berbagi. Sao kaka diperlakukan sebagai anak dari rumah asal dan rumah terakhir.

Di Belaraghi terdapat lima klan atau keluarga dengan masing-masing ngadhu dan bhaga. Ngadhu ialah payung seolah laki-laki dengan perannya melindungi dan memberikan keteduhan, menjadi simbol leluhur laki-laki. Saat dipahat dari batang pohon di hutan dan di bawa ke desa, para perempuan seluruhnya harus masuk rumah karena roh leluhur laki-laki tengah datang menuju batang ngadhu.

Bhaga ialah simbol leluhur perempuan dengan bentuk payung yang lebih kecil. Walau demikian, para warga laki-laki sajalah yang akan meletakkan payung bhaga di tempat sakral di tepi ngadhu. Seperti halnya seluruh masyarakat di Flores, formasi batuan yang ditumpuk seolah merajut kuat tradisi megalitik, adalah perlambang jalur komunikasi antara manusia dengan roh leluhur.

Selain ngadhu dan bhaga, altar meja besar yang disebut lenggi, biasa disimpan di setiap desa tradisional yang fungsinya menyelesaikan permasalahan antara klan dalam dusun.

Bermalamlah bila waktu Anda sedikit leluasa saat di Ngada. Warga Belaraghi akan sangat senang menerima Anda. Dari Bajawa, mulailah perjalanan dari desa Beiposo dekat Bajawa. Jalur yang ditempuh sepanjang 11 km dengan arah yang hanya dikuasai oleh pemandu lokal. Bila ingin melalui jalur pendek, tujulah desa tepi pantai selatan, Aimere, dan masuk ke arah utara melalui jalan yang dipenuhi desa berhias rumah tradisional. Paukate adalah desa terdekat Belaraghi dengan dipisahkan jarak sekitar 3 km namun melalui bukit yang menampakkan lautan selatan yang luas. (Angke/Him)

Sumber: Kompas.Com

Desa Doka, Rumah Tenunan Kain Pejuang Flores


Warga Desa Doka memainkan tarian penyambutan selamat datang.
DARI Maumere, kota di tepi utara Pulau Flores yang terpisah hanya 20 kilometer saja dari tepi selatannya, perjalanan di atas kendaraan roda empat menuju Desa Doka menyajikan pemandangan celah bukit menghijau sangat menawan. Perjalanan penuh kelokan harus ditempuh menyusuri jalan menaiki bukit yang menjadi ranah pepohonan seperti petai cina, kakao, kopra, kemiri, dan jambu mete.

Kondisi jalan antara utara dan selatan di Kabupaten Sikka yang dikenal sebagai Kabupaten Seribu Nyiur terhitung baik sekali. Akan tetapi,karena lebar jalan yang sempit dan berkelok maka laju kendaraan tidak bisa berkecepatan lebih dari 40 km per jam. Angkutan umum berwarna oranye bermuatan karung penuh sesak di atasnya sesekali melaju di atas jalanan sempit dari Maumere ke arah Desa Doka.

Desa Doka ialah sebuah desa di Kelurahan Bola, Kabupaten Sikka dikenal memiliki tenunan kain ikat yang indah. Lebih mengagumkan lagi bahan pembuatnya didominasi dari alam sekitar. Masyarakat Desa Doka sejak dahulu memiliki keahlian menenun kain tradisonal dengan beragam corak warna.

Desa Doka menjadi salah satu contoh pembinaan desa wisata di Flores. Awalnya atas bantuan penggagas pariwisata yaitu Kornelis Djawa, tahun 1997 Desa Doka mulai menggeliat. Kini sejak tahun 2010, Cletus Lopez, putra dari Kornelis Djawa, terus menampilkan atraksi desa dan kearifan lokal dari sebuah kampung di balik gunung ini. Tamu yang telah datang ke sini dari berbagai negara dan menyaksikan sendiri kecantikan kain tenunannya.

Dengan rumah berjajar menghadap sebuah jalan penghubung antardesa, Desa Doka tidak begitu terlihat seperti perkampungan tradisional lainnya. Beberapa sudah terbaur dengan modernitas kehidupan di Maumere namun masyarakatnya gigih untuk hidup dengan mempertahankan tradisi leluhur.

Saat tamu datang maka warga desa akan memainkan tarian penyambutan, tarian tradisi, pertunjukan proses pembuatan kain ikat, hingga hidangan makanan dan minuman tradisional. Keramahtamahan Desa Doka merupakan daya tarik yang tidak bisa dilewatkan saat Anda berada di Sikka.

Desa Doka belum lama terkuak dari jalur penjelajahan di Pulau Flores. Kemunculannya memberikan warna baru pada petualangan Anda sebelum meraup lebih banyak lagi kejanggalan alam yang memesona di Flores, yaitu Danau Kelimutu di Moni, Batu Biru atau Batu Hijau di pantai menuju Bajawa, pengangkatan dasar laut yang nampak di patahan bukit sepanjang jalur selatan lintas Flores, penempatan altar batu di desa tradisional Boawae, serta berbagai keunikan budaya yang masih hidup di Pulau Ular ini.

Atraksi budaya juga menunggu pengagumnya, mulai dari tarian penyambutan dan pesta tamu di Belaraghi hingga tarian caci di Compang To’e. Kunjungan akhir di bagian barat Flores dapat disempurnakan dengan bertamu ke rumah Komodo di Taman Nasional Komodo sebagai buah hati bagi Flores juga Indonesia, bahkan dunia.

Kegiatan

Tarian keceriaan Tuare tala’u dipersembahkan saat tamu berkunjung di Desa Doka. Tarian ini dulunya hanya digelar bagi prajurit yang pulang berperang dan membawa kemenangan. Prajurit tertangguh dipilih dan diusung di ujung sebatang bambu yang diberi bantalan untuk duduk dan menari di atas perutnya. Inilah sebuah tontonan pamer kekuatan dan keperkasaan. Dipastikan atraksi ini hanya ada di Flores.

Lima orang lebih bergegas memegang sebatang bambu dikelilingi wanita di bawahnya yang terus menari. Wanita-wanita tersebut mengayunkan tangannya sambil mengepit sapu tangan atau hiasan berupa rangkaian bunga-bungaan di jemarinya yang berwarna indigo. Musik tradisional dari tabuhan kendang dan batang bambu terus mengalun dimainkan setengah lusin pria muda dan tua.

Batang bambu ditegakkan setinggi kira-kira 5 meter dan seorang prajurit terpilih menaiki sebatang bambu tersebut. Seolah bilah kincir angin yang berputar-putar menari di ujungnya dengan sigap para penyangga bambu di bawahnya memastikan posisi bambu tak miring dan tetap aman bagi pahlawan desa.

Terlihat jelas semua penari menggunakan kain ikat, baik itu dengan sarung ikat dan ikat kepala, maupun wanita yang juga menggunakan sarung serta selendang kain ikat. Mayoritas warna yang digunakan adalah hitam. Kain ini menemani dan melindungi mereka saat damai maupun saat peperangan di masa lalu.

Kain ikat yang diproduksi masyarakat Desa Doka termasuk yang terbaik karena memiliki ciri khas desainnya. Warga desa dengan senang hati mempertunjukkan cara pembuatannya. Semua yang tertenun di antara lintangan benang menjadi perlambang penghormatan kepada alam dan Tuhan yang di sembah. Pewarnaan pun begitu apik dilakukan dengan menggunakan bahan dasar pewarna dari saripati tumbuhan alami. Tak hanya pewarnaan, pemintalan kapas hingga menjadi benang dan siap ditenun pun dilakukan secara mandiri di Desa Doka.

Pewarnaan menggunakan buah mengkudu (Morinda citrifolia), asam (Tamarindus indica), indogo (indigofera), dan loba (Symplocos). Semua bahan alami tersebut didapatkan di hutan-hutan perbukitan sekitar Desa Doka, Kabupaten Sikka, Pulau Flores.

Seusai tarian selesai maka masyarakat seluruhnya biasa bergabung untuk mengikuti tarian massal. Dipersembahkan juga tarian lain yang menunjukkan persatuan masyarakat desa yang saling bahu membahu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bercocok tanam. Nampak bahwa sejak lama mereka telah mengenal sistem bercocok tanam.

Suku-suku di Flores memiliki kepercayaan tradisional kepada Dewa Matahari-Bulan-Bumi. Kepercayaan tersebut bersifat astral dan kosmologis yang berasal dari pola hidup agraris.Mereka hidup dari kebaikan langit (hujan) dan bumi (tanaman). Lahan pertanian yang cenderung tandus membuat orang Flores sungguh-sungguh berharap pada berkah Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Akomodasi


Karena lokasi Desa Doka tidak terlalu jauh dari Kota Maumere maka pilihan untuk menginap disarankan di Maumere yang lebih lengkap dengan berbagai fasilitas dan akomodasi. Sering kali pelancong menjadikan Maumere sebagai awal dari penjelajahan di Pulau Flores. Para pelancong tidak terlalu sering menyisakan terlalu banyak waktu di titik awal perjalanan.

Kuliner


Seperti tradisi di berbagai kampung lainnya di Flores, tamu yang datang ke sebuah desa biasanya disuguhi sajian simbolis pertanda selamat datang berupa sirih dan tembakau ataupun pinang. Selain itu, persembahan berupa penyajian kue yang terbuat dari umbi-umbian (leku) juga lazim diberikan kepada tamu dipadu tuak atau arak dari pohon aren atau lontar yang disebut sopi.

Pinang yang masih berupa buah berukuran kecil diambil serabutnya di bawah kulit luar yang akan terus dikunyah sehingga lembut. Caranya, kupas bagian terluar buah pinang yang hijau dengan gigi seri atau gigi depan sedikit demi sedikit karena bila menggigitnya terlalu dalam maka pastilah sulit dikupas. Setelah agak dalam dan menemukan serabutnya lalu kumpulkan serabut itu di mulut dan kunyah hingga lembut.

Selagi mengunyah serabut pinang, makanlah pula batang sirih muda yang sudah diberi kapur barus berwarna putih. Anda hanya perlu sedikit sirih saja dengan sedikit kapur, karena sirih dapat membuat kepala Anda pening bila terlalu banyak dikonsumsi dan kapur pun terasa membakar bila berlebih.

Simpan sirih dan kapur di bagian gigi geraham. Mengunyah semua ramuan ini lama kelamaan akan memberikan rasa segar dan menghasilkan warna merah dari percampuran zat kimia alami yang berasal dari sirih dan kapur. Ludahkan air liur Anda yang berlebih dan berwarna merah bila sudah terasa kurang nyaman. Tentunya ini bukan gigitan termanis di dunia namun pengalamannya mungkin adalah hal termanis patut dirasakan.

Tuak atau sopi dibuat dari bahan alami yaitu pohon lontar atau aren. Berbeda dengan arak (juga disebut moke dalam bahasa lokal), tuak tidak begitu banyak mengandung alkohol walau keduanya dapat membuat mabuk bila dikonsumsi berlebih. Dalam penyambutan tamu, janganlah heran bila tuak ditawarkan ke hadapan Anda dalam cangkir yang terbuat dari tempurung kelapa atau tanah liat.

Berbelanja


Di salah satu sudut Desa Doka tempat dilangsungkannya tarian dan peragaan pembuatan kain ikat, terpajang rapi pada bambu yang memajangkan berupa warna warni hasil tenunan warga Desa Doka. Kain ikat dipajang sebagai dinding alami dimana ruang tenun terbuka disediakan untuk tamu yang ingin meneliti proses pembuatan kain ikat. Kain ikat dilabeli harga mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 2.000.000. Hal ini tentunya tergantung dari jenis dan ukuran kain ikat tersebut. Berusaha untuk menawar pastilah bukan hal yang dilarang, bahkan dianjurkan sebagai apresiasi dan tanda ketertarikan Anda pada kain tersebut.

Transportasi

Desa Doka dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat, bergantung berapa banyak orang dalam kelompok Anda. Menyusuri Jalan utama dari Maumere menuju Waiara maka perlu bertanya kepada penduduk sekitar arah jalan ke selatan menuju Desa Doka.

Bila berpetualang dengan bantuan seorang pemandu maka akan lebih mudah menemukannya. Bila berpetualang sendiri tak usah khawatir karena setiap orang di siniumumnya mengerti Bahasa Indonesia dengan baik. Angkot berwarna oranye akan menandai perjalanan menuju Desa Doka yang mengesankan.

Bahasa

Di Flores terdapat 5 bahasa daerah yang berbeda, termasuk di Sikka dengan bahasa daerahnya sendiri. Tidak masalah apabila Anda pergi dengan seorang pemandu yang paham bahasa di Sikka tetapi bila tidak maka gunakanlah Bahasa Indonesia yang baik dan benar agar selama perjalanan lancar tanpa masalah komunikasi.

Tidak seperti beberapa tahun lalu dimana jalan di sepanjang Pulau Flores masih terkenal rusak, sekarang lintas Flores membuat perjalanan di atas kendaraan terasa lebih nyaman tanpa harus terpental bila duduk di kursi bagian belakang. Kualitas jalan sudah sangat baik, walau tetap akan Anda rasakan kelokan dari Maumere hingga Labuan Bajo seperti tak pernah ada hentinya. (Angke/Him) 

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes