Cegah Korban Flu Burung

KABAR ini tentu saja menggegerkan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Virus flu burung kini  positif  ditemukan pada unggas  yang mati mendadak di Kabupaten Minahasa. Selama tiga bulan terakhir, tercatat  sebanyak 596 ekor ayam dan bebek milik warga Desa Panasen Kecamatan Kakas Barat Kabupaten Minahasa mati beruntun. Berdasarkan pemeriksaan cepat dari Dinas Peternakan, unggas yang mati tersebut terkena virus flu burung (H5N1).

Kita kutip kembali pernyataan  Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut, Ir Johanis Panelewen sebagaimana diberitakan media massa. Panelewen menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan timnya,  virus flu burung telah menjangkiti  unggas di Panasen. Laporan kasus ini baru dia terima Senin (12/8/2013) malam dan dia langsung menurunkan tim ke Panasen untuk mengambil tindakan awal.

"Kami langsung bereaksi melakukan penanganan pada kasus flu burung ini agar tidak menyebar lebih luas. Tahap awal kami memberlakukan status karantina unggas di Panasen. Artinya,  tidak boleh ada ternak unggas yang keluar atau masuk,"  tegasnya.

Selain melakukan karantina unggas, tim dari Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan sebagai lembaga yang punya otoritas memeriksa virus flu burung  sudah berada di Panasen kemarin.Hasil pemeriksaan tim tersebut tentunya akan memberikan sejumlah rekomendasi terkait penanganan selanjutnya.

Pemerintah melalui instansi terkait serta segenap komponen masyarakat Sulut hendaknya tidak memandang remeh temuan flu burung di Panasen ini. Sebagaimana kita ketahui bersama virus tersebut telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit di berbagai belahan dunia dalam kurun waktu empat sampai lima tahun terakhir. Di Indonesia sudah banyak korban manusia akibat serangan flu burung.

Pengalaman pahit di masa lalu hendaknya mengajarkan kita untuk benar-benar serius menyikapi wabah virus mematikan ini. Segala daya dan upaya mesti dikerahkan untuk mencegah virus itu menyebar ke daerah lain di Sulut dan terutama mutasi virus ke tubuh  manusia yang hampir pasti akan menyebabkan kematian.
Kepada masyarakat pemilik unggas di Sulut  kita imbau agar rutin memeriksa kesehatan ternak piaraannya. Jika ditemukan indikasi flu burung, sebaiknya segera menghubungi aparat yang berkompeten agar diambil tindakan yang tepat.

Kita juga menangkap kesan kuat masih ada sejumlah warga pemilik unggas di Minahasa  yang enggan memusnahkan hewan piaraannya karena secara ekonomis jelas merugi. Untuk itu dibutuhkan sosialisasi pengetahuan agar masyarakat tercerahkan dan mendapat pemahaman yang memadai tentang bahaya virus flu burung tersebut. Dalam kasus ini semua pihak harus cepat bergerak. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa. Mari kita canangkan tekad membebaskan bumi Nyiur Melambai dari epidemi virus  flu burung.*

Sumber: Tribun Manado 15 Agustus 2013 hal 10

Mengukur Hasil Reses

ilustrasi
MENARIK perhatian kita dinamika yang terungkap dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) hari Selasa 27 Agustus 2013.

Sebelum memulai reses untuk menyerap aspirasi masyarakat yang dijadwalkan mulai Rabu (28/8/2013), Ketua Fraksi PDIP Djenri Keintjem mengungkapkan unek-uneknya di hadapan Sekretaris Provinsi Sulut  Siswa Rachmat Mokodongan. Untuk reses DPRD Sulut akan menghabiskan dana Rp 1,3 miliar. Perinciannya 45 anggota DPRD masing-masing akan menerima Rp 30 juta.

Menurut Keintjem, dari pengalaman sebelumnya, aspirasi yang diserap Dewan banyak tak terealisasi. Imbasnya legislator yang disalahkan masyarakat antara lain dicap sebagai pembohong. "Kalau tahu begitu, lebih baik tak usah reses, kembalikan saja Rp 30 jutanya," kata Keintjem dalam rapat itu.

Hal serupa disampaikan Teddy Kuamaat, anggota DPRD dari Fraksi Barinda. Menurut Kumaat, ia malu ikut reses. Mau mengumpulkan aspirasi nyatanya tak bisa ia penuhi. Kali ini ia kembali berharap sikap Pemprov Sulut bisa berubah yaitu merealisasikan aspirasi yang disampaikan masyarakat. Sekretaris Pemprov Sulut  Rachmat Mokodongan memberi komentar begini saat dikonfirmasi. "Kan hak budgeting ada di Dewan, saya no comment soal itu," katanya.

Diskursus ini menarik. Tentu tidak dalam konteks menyalahkan dewan atau mengeritik pemerintah. Kedua unsur itu sama-sama mengemban amanat rakyat yaitu mengelola pemerintahan dan pembangunan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Goalnya di sana. Kalau reses sekadar rutinitas legislator dengan dalih menyerap aspirasi masyarakat tetapi hasilnya walahualam, mengapa patut dipertahankan? Kalau medium reses tidak lagi efektif perlu dicari cara yang lebih tepat sehingga suara masyarakat yang disampaikan melalui legislator nyambung dengan eksekusi kebijakan atau program dari eksekutif.

Menurut pandangan kita, reses anggota Dewan selama ini menjadi ritual tanpa hasil justru karena kurang jelas alat ukurnya. Dewan berkepentingan dengan reses lebih bermakna politis ketimbang hasil konkret. Dewan berusaha semampunya agar aspirasi masyarakat terwujud. Itu memang tugas legislator. Tetapi apakah aspirasi masyarakat tidak bertabrakan dengan program pemerintah yang juga dibatasi rambu-rambu prosedur, mekanisme dan regulasi?

Di sinilah benang kusutnya. Maka indah nian bila DPRD Provinsi Sulut bersama pemerintah daerah ini  mau  merumuskan kembali efektivitas reses sekaligus mematok indikator yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Kalau terwujud,  ini akan menjadi semacam kado anggota legislatif hasil Pemilu 2009 untuk membenahi mekanisme kerja Dewan hasil pemilu tahun depan. Demokrasi itu tidak berakhir di satu titik. Demokrasi mensyaratkan perubahan yang lebih baik dari waktu ke waktu. *

Sumber: Tribun Manado 29 Agustus 2013 hal 10

FB dan BBM Memicu Perceraian

ilustrasi
MANADO, TRIBUN -  Pemanfaatan jejaring sosial secara salah bisa merusak keharmonisan rumah tangga. Istri terpaksa gugat cerai karena melihat pesan   mesra sang suami dengan Wanita Idaman Lain (WIL) lewat BlackBerry Messenger (BBM). Demikian pula suami tidak tahan melihat istri bermesraan lewat Facebook (FB) dan Twitter dengan selingkuhannya.

Demikian sejumput pemicu percecokan antara pasangan suami istri (pasutri)  yang berujung perceraian di Sulawesi Utara (Sulut). Faktor pemicu lainnya adalah masalah ekonomi serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Data yang dihimpun Tribun Manado menunjukkan, tren kasus perceraian  di Sulut dalam lima tahun terakhir  meningkat pesat. Sidang perceraian di pengadilan negeri (PN) setempat berlangsung hampir saban hari mengingat kasus cerai mencapai 85 persen dari total kasus perdata dalam setahun.

Menikah pada Juli 2000, Lia, warga Banjer,  Manado hanya menjalani bahtera rumah tangga bersama Ipul selama 12 tahun. Pernikahan itu sebenarnya hanya harmonis sekitar tujuh tahun karena pada usia kedelapan, perselisihan dan pertengkaran sering menghiasi biduk rumah tangga mereka.

Alasan ketidakharmonisan itu bermula ketika Lia mendapati pesan singkat atau SMS serta pesan BBM bernada mesra dengan seorang perempuan lain pada ponsel suaminya. Ia pun menilai Ipul selingkuh. Lia juga menemukan foto perempuan yang ia curigai berhububungan khusus dengan Ipul kala bertugas di daerah lain. Foto tersebut ia temukan di ponsel Ipul. Yang juga membuat Lia tak betah adalah Ipul sering cemburu buta terhadapnya. Perbincangannya dengan teman laki-laki dicurigai sang suami ada hubungan spesial. Tak cukup sampai di situ, Lia juga mengaku pernah dipukul suaminya.

Tak mampu lagi hidup bersama, Lia menggugat cerai suaminya meski mereka sudah dianugerahi seorang anak berusia 11 tahun.Kisah perceraian di atas termuat dalam laman resmi putusan.mahkamahagung.go.id. Dalam beberapa kasus, kehadiran orang ketiga, entah wanita idaman lain atau pria idaman lain, menjadi penyebab perceraian. Hampir sama seperti kasus Lia, hal yang sama juga terjadi pada kasus Ana, warga Teling.

Perempuan 22 tahun tersebut menggugat cerai suaminya, Hendro (24), pada Desember 2012. Suaminya itu ia temukan sering berselingkuh. Ia pernah mendapati SMS serta telepon mesra dari satu di antara perempuan selingkuhan suami. Hati Ana terpukul kala mendapati foto mesra Hendro dengan perempuan lain. Tekadnya bercerai semakin bulat karena kebiasaan Hendro kerap memukulnya. Suami pun suka mabuk. Keputusan itu Lia ambil setelah empat tahun berumah tangga. Dari hasil pernikahannya itu mereka dianugerahi seorang putri berusia 3 tahun.

Keputusan cerai juga dilayangkan Sri (30), warga Sindulang, terhadap sang suami, Izal (29), warga Kelurahan Banjer. Ia tak tahan lagi karena setiap pertengkaran sang suami sering mengucapkan kata "cerai" kepadanya. Ia juga menilai sang suami egois dan ingin menang sendiri. Bahkan sang suami sering melontarkan kata-kata kotor terhadapnya di depan umum dan keluarga sendiri.

Keinginan Sri pisah berumah tangga dengan suami semakin kuat kala mendapati sejumlah SMS mesra yang dikirimkan sang suami kepada perempuan lain. Keinginannya itu ia wujudkan dengan mendaftarkan gugatan pada November 2012 atau setelah 10 tahun hidup bersama Izal dan dianugerahi dua putra.

Keputusan menggugat cerai pasangan tidak hanya datang dari kaum perempuan. Kaum lelaki pun mengambil sikap yang sama ketika mengetahui pasangannya selingkuh. Ini terjadi pada Leo (35), warga Titiwungen.  Ia menggugat cerai istrinya, Wati (33), yang telah ia nikahi pada 2006. Enam tahun berumah tangga dan sudah dianugerahi dua putri, Leo menilai perjalanan rumah tangganya dengan Wati harus terhenti. Hubungan tak harmonis itu karena sang istri ia anggap berselingkuh dengan pria lainnya. Informasi itu Leo peroleh dari saudaranya yang pernah melihat Wati bersama laki-laki lain.

85 Persen Perceraian
Dihubungi Senin (19/8/2013),  Panitera muda (Panmud) Perdata di Pengadilan Negeri (PN) Manado  Fonneke Tamara SH tidak menampik pengaruh jejaring sosial dalam kasus perceraian.  "Dalam beberapa sidang  terungkap hubungan gelap terjadi lewat jejaring sosial seperti Facebook dan Blackberry Messengger.

Teknologi yang ada menjadi media untuk mereka menjalin hubungan dengan PIL atau WIL," ungkapnya.

Tamara bercerita, dalam persidangan terungkap awal mula hubungan gelap tersebut bisa lewat SMS, BBM atau FB. "Si istri atau suami mulai bercerita kalau mendapati ada PIL atau WIL di BBM atau Facebook. Kalau di Facebook, awalnya mereka belum mengetahui. Setelah sudah bisa pakai Facebook baru ketahuan apa yang dilakukan si suami atau istri. Di BBM juga begitu, awalnya tidak tahu pakai Blackberry dan cuma coba-coba buka  handphone suami atau istri. Tiba-tiba tidak sengaja ada obrolan mesra dengan PIL atau WIL," jelasnya.

Dari cerita awal tersebut, kata Tamara, pasutri mulai saling berdebat dalam persidangan. "Berawal dari cerita BBM dan Facebook, tiba-tiba persidangan  mulai ricuh karena saling menuduh. Menuduh siapa duluan dan kemudian mereka menyatakan sudah tidak cocok lagi dan tak ada jalan lain selain cerai," ujarnya.
Tamara mengakui, tren kasus perceraian di Sulut terus meningkat dalam lima tahun terakhir (2008-2013). Dalam kurun waktu itu, kata dia, sebesar 85 persen kasus perceraian mendominasi perkara perdata di PN Manado. Dia menambahkan,  kelompok usia pernikahan 5-10 tahun mendominasi  perceraian. "Kebanyakan menimpa rumah tangga-rumah tangga muda," ujarnya. Selain kehadiran orang ketiga, faktor ekonomi juga ikut memicu perceraian di Sulut.

Hal senada dikatakan Bambang Suroso, Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Manado (PA Manado). Suroso mengakui ketidakharmonisan pasutri juga dipicu oleh  pemanfaatan FB dan BBM secara salah, KDRT serta faktor ekonomi.
Mengenai siapa yang menggugat duluan, Tamara menyebut sangat relatif. "Sering  istri duluan, tapi tidak jarang suami duluan. Untuk persentasenya saya rasa bisa fifty-fifty," ungkapnya. Dikatakannya, walau gugat cerai dikenakan biaya mahal, tetap saja masih banyak yang cerai. "Biaya sidang untuk perdata sesuai dengan jarak tinggal mereka. Untuk urus akte perceraian  di Capil saja harganya jutaan. Biaya untuk cerai itu tidak murah," tandasnya.  (max/fin/kel)

Kelompok Mapan

DI Kota Manado rata-rata terbanyak mengajukan cerai adalah kelompok  mapan yaitu pasangan suami istri (pasutri)  berusia di atas 35 tahun dan sudah punya satu atau  dua orang anak. Mereka juga umumnya sudah pisah ranjang 8-10 tahun atau hanya hidup bersama selama dua tahun.

Demikian kurang lebih  rangkuman data dari Kantor Dinas Catatan Sipil dan  Kependudukan (Discapil).  Bulan 2013  Juli lalu tercatat 22 pasangan mendaftarkan perceraian di Disdukcapil Manado. Menurut  Kadis  Hans Tinangon, jumlah tersebut menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya yang  bisa dikatakan, setiap hari ada satu pasangan yang mengajukan cerai.

Statistiknya bulan Januari 28 kasus , Februari 26, Maret 24, April 26, Mei 24 permohonan cerai. Jika dirata-ratakan sebulan ada 25 permohonan cerai, dalam setahun bisa ada 300 permohonan cerai.

Grace Komaling, Kepala Bidang Pendaftaran dan Pencatatan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Kota Manado menambahkan, jumlah pasangan yang meminta akte perceraian untuk bulan Juli 2013  sebanyak 24 orang.

Menurut dia, mereka yang meminta akte perceraian umumnya sudah pisah ranjang delapan sampai sepuluh tahun. "Rata-rata untuk usia pasangan 18-35 tahun jumlahnya hanya sekitar 15 persen. Justru yang berada di atas 35 tahun yang mencapai 85 persen," ujarnya. Untuk usia perkawinan lima sampai sepuluh tahun, permintaan cerai mencapai 45 persen. Untuk usia perkawinan 14-25 tahun, permintaaan cerai 35 persen. Sedangkan usai pernikahan 10-15 tahun, 20 persen.

"Rata-rata jumlah anak mereka dua," katanya.  Sekitar 40 persen alasan bercerai karena sudah lama pisah ranjang. Tiga puluh persennya tidak cocok. Sedangkan yang dipicu perselingkuhan sekitar 30 persen.  Komaling mengakui dari latar belakang profesi, yang paling banyak bercerai ialah pasutri yang bekerja di sektor swasta. "Saya perkirakan PNS hanya sekitar 20 persen," ujarnya.

Tren peningkatan kasus perceraian di Sulut juga diperoleh Tribun dari Kantor Pengadilan Agama (PA). Pada tahun 2009, cerai talak terdapat 160 perkara dan cerai gugat 440 perkara. Tahun 2010 cerai talak 198 perkara, cerai gugat 555 perkara. Tahun 2011 cerai talak 271 kasus dan cerai gugat 772 perkara, tahun 2012 cerai talak 225 perkara, cerai gugat 740 perkara. Tahun ini sampai bulan Juni 2013, tercata kasus cerai talak 292 perkara dan cerai gugat 682 perkara.Di Sulut saat ini ada enam Pengadilan Agama (PA) yang ada di Kota Manado, Kotamobagu,  Tondano, Tahuna,   Bitung  dan Amurang. Data tersebut di atas disampaikan Hasbiah, Panitera Muda Hukum Pengadilan Tinggi Agama Manado."Data yang masuk ke kami rekapanya tiap bulan untuk seluruh PA di Sulut," ujarnya. (dma/kel)

Sumber: Tribun Manado 20 Agustus 2013 hal 1

Konselor Pernikahan: FB Memang Menggoda

Meningkatnya kasus perceraian di Sulawesi Utara dalam lima tahun terakhir khususnya pada  pasangan suami istri (pasutri) yang sudah mapan coba dianalisis musabab dan solusinya oleh dosen moral dan konselor pernikahan. Yonas Adjas Pr, dosen Moral Katolik dan ahli Hukum Nikah Kanonik Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STF-SP) berpendapat tren perceraian pada usia mapan (usia pasangan di atas 35 tahun) terjadi karena faktor kejenuhan. Mereka bisa saja bercerai tanpa alasan.

"Masa 2 x 5  tahun itu merupakan masa dimana pasangan masuk pada tingkat kejenuhan yang tinggi. Mereka kehilangan orientasi. Mereka (pasutri)  butuh penyegaran," kata kata lulusan Universitas Urbaniana Roma ini. Diakui, kejenuhan bisa terjadi karena penampilan yang berubah dan kecanduan pada kerja."Akibatnya pasangan mencari entertain di luar keluarga," ujarnya,  Minggu (18/8/2013).

Selain masalah kejenuhan, pasutri kadang tidak menyiapkan diri yang kuat untuk berrumah tangga. "Apalagi ini zaman instan. Semua menjadi serba cepat dan hanya menghasilkan kekosongan. Dulu di zaman agraris belum banyak pilihan. Semua orang bekerja keras mencapai sesuatu. Hasil yang ditunggu sangat lama. Itu sangat berbeda dengan jaman industri," tuturnya.

Hal lain yang menganggu perkawinan ialah orientasi zaman yang menonjolkan seksualitas. "Kini rok atau celana pendek dianggap biasa, padahal itu mempengaruhi teologi tubuh. Rumah tangga pun kadang dipandang sebatas itu," katanya. Akan tetapi seperti teori filsafat, sebuah keluarga memang harus memasuki tahap itu. Tahap  antitesis terhadap tesis. "Jika tahap ini berhasil dilewati, mereka akan saling mengenal. Ada pilihan hidup baru bagi mereka," jelasnya.

Adjas menyarankan pada titik jenuh usia pernikahan, pasutri lebih terlibat pada kegiatan sosial keagamaan supaya belajar sesuatu yang baru. Energi mereka pun dipacu pada sesuatu yang baru. "Perlu ada wadah sosial untuk mereka," katanya. Mereka pun harus pergi ke tempat yang bisa menyegarkan diri. "Pergi berlibur ke Bali misalnya, itu  hal yang baik," ujarnya

Adjas pernah mengalami bagaimana peristiwa perceraian menganggu psikologi anak apalagi jika sudah memasuki bangku SMP. Anak sangat takut. "Ada dua dunia yang dimasuki anak, pertama domestik dan yang kedua publik. Ketika ia masih SD, ia lebih banyak berada di wilayah domestik tapi ketika sudah masuk usia sekolah menengah pertama ia masuk ruang publik. Ia takut akan kesan publik terhadap itu," ujarnya. Adjas selalu menempatkan doa dalam setiap konseling keluarganya. "Doa membantu pasangan membuka diri," katanya.

Doktor Albertus Sujoko, dosen teologi moral dan konselor pernikahan juga menyebut zaman yang berubah ikuti memicu perceraian. "Kini orang bisa bertemu orang lain secara mudah.  Peluang membangun hubungan gelap jadi tinggi," katanya. Alat komunikasi pun mempermudah hal itu. 

"Dengan banyaknya pertemanan baru lewat Facebook  dan handphone membuat orang gampang tergoda," tuturnya. Kemapanan ekonomi merupakan faktor berikutnya yang membuat perceraian mudah terjadi. Uang membuat godaan menjadi lebih besar. Soal peluang besar orang yang sudah mempunyai anak untuk bercerai, Sujoko menyebut adanya perpindahan interes. Saat belum mempunyai anak, interes pasangan pada seks sama. Tapi ketika sudah punya anak, ibu akan terkonsetrasi pada anaknya. "Di sini butuh cinta kasih dan pengorbanan. Pria yang tidak tahan pasti mencari perempuan lain," katanya.

Solusinya, kata Sujoko, mempersiapkan perkawinan secara baik. "Harus saling mengenal, mencintai dan mengetahui,"  ujarnya.

Keluarga besar pun harus mendukung. Seringkali permasalahan  terjadi karena 
campur tangan keluarga besar. "Yang terakhir itu komitmen dan kesetiaan pada janji perkawinan," tuturnya. Dalam konseling, Sujoko juga menemukan banyak kisah unik. Ada yang membatalkan perkawinan karena dijodohkan. "Dulu ia sangat dijaga orang tua. Jadi ia menggunakan kesempatan untuk bebas tapi akhirnya ia menemukan bahwa perkawinan itu bukan kehendak bebas," katanya.

GMIM Prihatin
Meningkatnya tren perceraian di Sulut mengundang keprihatinan  dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Persoalan tersebut mestinya tak boleh terjadi, sebab lembaga pernikahan itu suci, anugerah Tuhan yang  tak boleh dipermaikan apalagi diingkari dengan cerai. "Pernikahan berlangsung sepanjang hidup," kata  Pendeta Hendry Runtuwene, Sekretaris Departemen Kemitraan dan Oikumene Sinode GMIM,   Minggu (18/8/2013).

Menurut dia, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia dengan alasan apapun. Hanya maut yang dapat memisahkan. "Pada dasarnya gereja menolak perceraian. Pengaruh relatifisme  nilai pernikahan  sesungguhnya tidak boleh menggoyahkan pernikahan sebagai lembaga kudus tersebut. Tugas gereja  terus mengingatkn masing-masing jemaatnya untuk tetap menjaga dan memelihara maksud tersebut," ungkapnya. Runtuwene mengatakan terjadinya  kasus  perceraian di daerah ini, termasuk melibatkan warga GMIM, bukan berarti gereja menerimanya.

 "Gereja tidak pernah mengakui dan membenarkan perceraian. Maslah perceraian harus dihadapi bersama oleh semua pihak, baik gereja itu sendiri, pemerintah dan masyarakat," katanya. (dma/war)

Sumber: Tribun Manado 21 Agustus 2013 hal 1

Dua Wanita Tangguh Sulut Taklukkan Elbrus

Ingka dan Jelita di puncak Gunung Elbrus, Rusia
PRESTASI demi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima). Kali ini, mereka sukses menaklukkan Mount Elbrus di Rusia. Gunung setinggi 5.642 meter itu diraih puncaknya pada 29 Agustus lalu.

Hebatnya lagi, gunung itu ditaklukkan oleh dua wanita yakni, Ingka wangko dan Jelita Karamoy yang mengikuti program The 1st Indonesian Woman on 7 Summits of The World Expedition.

Setelah tiba di Manado, Sabtu (7/9), dua wanita hebat ini mampir ke markas Tribun Manado di Jalan AA Maramis Kairagi Manado. Raut wajah senang dan bangga dua gadis bertubuh mungil tapi enerjik ini jelas terpancar.

Ditemani Bob Sumoked, Koordinator Teknis Team Ekspedisi dan Janni Ayub Oktavianus Sekoh selaku Ketua MPA Aesthetica, Ingka dan Jelita menceritakan pengalaman mereka.

Gunung Elbrus di Rusia itu memiliki ketinggian hampir 5642 meter dari permukaan laut dan bersuhu minus 30 derajat. Untuk mendaki Gunung Elbrus diperlukan waktu selama delapan hari. "Itu mulai dari persiapan kami, kemudian aklimatisasi atau suatu upaya penyesuaian fisiologis sampai pendakian," ucap Jelita memulai pembicaraan.

Selama melakukan pendakian ini mereka ditemani seorang pemandu pendakian Lisa (46), warga negara Jerman, namun sudah lama menetap di Rusia. Selain dari Indonesia (Ingka dan Jelita) di tim tersebut juga terdapat pendaki dari negara Italia, Jerman dan Jepang, masing-masing satu orang.

Diutarakan Ingka, tidak ada kendala berarti selama mereka melakukan pendakian tersebut. Selain karena kegiatan pendakian ini sudah merupakan hobi mereka, Ingka dan Jelita juga sudah beberapa kali melakukan training di Gunung Klabat sebagai bagian program untuk menembus Gunung Elbrus.

"Tapi memang udaranya sangat dingin. Kalau di Klabat kami harus pakai dua jaket lapis, di Elbrus sampai empat jaket, walaupun begitu dinginnya masih bisa kami rasa," ucapnya Jelita yang diiyakan Ingka.



Sayangnya, Jelita mengaku di tengah  perjalanan di ketinggian 5.100 meter sahabat petualangannya, Ingka tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung karena mengalami kram. "Saya sedih sekali karena Ingka tidak dapat lanjut, padahal kita sudah di tengah perjalanan," ucap Jelita sambil menahan isak tangis.

Ingka pun mengaku badannya kram akibat suhu yang sangat dingin. "Suhu waktu itu sangat dingin, apalagi badan tidak mampu bergerak, pada pergumulan kami memutuskan saya tidak lanjut," ujar Ingka.

Akhirnya Jelita berhasil menaklukkan Gunung Elbrus bersama pendaki dari Jerman, Italia dan Jepang dengan arahan rekan pendaki.

Mantan Ketua Sinode GMIM Pdt Prof Dr WA Roeroe mengapresiasi semangat para wanita petualang ini. "Mereka telah mengharumkan nama bangsa, kita harus sokong dan berikan ucapan selamat atas penaklukkan yang belum tentu orang lain bisa," ucapnya sambil menutup acara ini dengan doa. (dru/ren)


Targetkan Kilimanjaro

INGKA wangko dan Jelita Karamoy berangkat dari Indonesia, 23 Agustus  pukul 00.10 WIB, dan tiba di Denovo pukul 13.20 waktu Moskow. Selama di Moskow, rombongan sempat menjadi tamu spesial di KBRI Rusia.

Duta Besar Indonesia untuk Rusia Djauhari Oratmangun memberikan fasilitas akomodasi dan transportasi selama tiga hari. "Ini semua berkat upaya Kepala Dinas Pariwisata Sulut Suprianda Ruru," kata Jelita.

Ketua Mahasiswa Indonesia di Moskow, Aries Geriantoro, memberikan dukungan penuh bagi tim ekspedisi Elbrus. Aries sempat mengantar tim ini  hingga Bandara Demo Denovo. Dari Moskow mereka terbang menuju Mineralhny Vody.

Program ekspedisi ini masih akan berlanjut sampai tahun 2015. "Berikutnya kami akan mendaki gunung di Amerika Selatan dan Gunung Kilimanjaro di Afrika Timur," ucap Ingka.

Bob Sumoked menuturkan mereka juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Gubernur Sulut, SH Sarundajang yang sudah memberikan bantuan moril. "Kami juga disambut baik waktu di Jakarta sebelum Ingka dan Jelita terbang ke Moskow," katanya.

Selama di Jakarta, Pemprov Sulut memberikan akomodasi yang terbaik dengan menginap di hotel berkelas. "Walaupun saya tidak ikut dengan mereka sampai di Rusia, tapi secara pribadi saya terus berdoa untuk Ingka dan jelita agar sukses di Elbrus," katanya. (dru)

Terima Kasih...

KESUKSESAN dua anggota Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) menaklukkan Mount Elbrus di Rusia tak terlepas dari dukungan banyak pihak.

Untuk itu, tim pendaki menyampaikan ucapan terima kasih kepada Soccer Cafe, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulut Suprianda J Ruru, Bahaga Manado, Pembantu Dekan III FBS Unima Dra Nurmin Samola, Pembantu Rektor III Unima Dr Itje Pangkey Msi, Seluruh Dosen dan Staff Mahasiswa Unima.

Kemudian terima kasih juga kepada Pemprov Sulut, Gubernur Sulut DR SH Sarundajang, Wali Kota Manado Vicky Lumentut, Pemkab Minsel, Ketua KONI Minsel Kristovorus Deky Palinggi SE, Pemkab Minut, Sekda Minut Johanes Rumambi, Ibu Lies Tamuntuan-Makisanti STh,Msi, Waraney Arung Jeram, Frangky Kowaas STh, Jopie Worek, Farly Allan Malonda, Pdt Musa Mawitje.

Sumber: Tribun Manado 8 September 2013 hal 8

Oma Mogot 10 Tahun Tinggal di Bawah Pohon

Oma Wilhelmina Mogot (kiri)
INI  bukan fiksi. Seorang perempuan berusia 82 tahun tinggal di bawah pohon hanya beratapkan terpal selama 10 tahun terakhir. Dia memilih cara itu demi menjaga anaknya berusia 40 tahun yang menderita gangguan jiwa. Wanita itu bernama Wilhemina Mogot.

Hanya beratapkan terpal berukuran sekitar tiga kali empat meter yang mulai bocor, perempuan tua ini melewati hari-hari bersama anaknya, Benna Rintjap yang menderita gangguan jiwa. Tidak ada dinding yang menghalau angin dingin saat malam hari dan  hujan.

Kondisi hidup seperti ini harus dijalani Oma Wilhemina karena rasa sayangnya pada sang anak dan himpitan ekonomi. Sejak Benna menderita gangguan jiwa, dia sering kumat dan dikhawatirkan melukai atau mengganggu orang lain. Keinginan untuk melakukan perawatan di rumah sakit jiwa harus dipendam dalam-dalam karena tidak ada uang untuk biaya perobatan. Dengan berat hati, Oma Wilhemina mengambil keputusan pahit untuk menjauhkan anaknya dari warga.

Lokasi yang dipilih adalah sebuah pohon besar setinggi sekitar 15 meter yang berada di pinggiran Desa Kaima, Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa. Jarak pohon ini sekitar 20 meter dari jalan utama desa tersebut. Pada tempat bernaung, Oma Wilhemina dan anaknya tidur beralaskan papan.

"Saya terpaksa menempuh kehidupan seperti ini untuk anak saya. Saya tidak mau dia menggangu apalagi sampai melukai warga. Saya sayang pada anak saya dan saya akan menjaga dia walau dalam kondisi apapun," ujar Oma Wilhemina saat diwawancarai Tribun Manado, Sabtu (10/8/2013).

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehar-hari, Oma Wilhemina hanya berharap pada uluran tangan warga, dekat tempat tinggalnya. Sering dia harus ke pasar untuk menjual hasil kebun yang diberikan warga padanya. Dalam keterbatasan tersebut Oma Wilhemina dan anaknya telah terbiasa menahan lapar. Sering dia hanya makan ubi yang diambil dari kebun tetangga. "Paling sulit kalau musim hujan karena kami sering basah saat malam. Sering merasa sedih melihat kehidupan ini namun tidak bisa berbuat apa-apa," ujarnya.

Di balik kondisi kehidupan yang sangat tidak layak, ternyata Oma Wilhemina tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Dia tidak pernah terdaftar sebagai penerima beras miskin dan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Dapat dikatakan dalam kondisinya saat ini Oma Wilhemina tidak terdaftar sebagai warga miskin bahkan keberadaannya tidak diketahui pemerintah setempat.
Hukumtua Desa Kaima, Marten Tombeng saat dikonfirmasi kondisi Oma Wilhemina dan anaknya ini bahkan mengatakan mereka baru mengetahui kondisi Oma Wilhemina bulan lalu sejak dilakukan pendataan warga lanjut usia.

Menurutnya selama ini tidak pernah ada laporan soal keberadaan keluarga tersebut.
"Baru sebulan terakhir kami mengetahui keberadaan Oma Wilhemina dan anaknya yang tinggal di bawah pohon. Sejak saat itu kami mulai mengumpulkan bantuan seadanya untuk mereka," ujarnya.


Bantuan Mengalir

Bantuan dari berbagai pihak mulai mengalir untuk Wilhemina Mogot (82) yang selama 10 tahun terakhir tinggal di bawah pohon bersama anaknya yang mengalami gangguan jiwa. Bantuan itu berupa pakaian, bahan makanan, uang, bahkan janji untuk dari pengusaha membelikan tanah.

Pantauan Tribun Manado, Senin (12/8/2013), posko pengumpulan bantuan untuk Oma Wilhemina dan anaknya banyak didatangi warga. Mereka tergerak hatinya untuk membantu dan malihat langsung kondisi Oma Wilhemina dan anaknya yang diberitakan telah 10 tahun tinggal di bawah pohon hanya beratapkan terpal.

Sekitar 50 anak sekolah minggu dari jemaat GMIM Abraham, Tataaran Patar, Kecamatan Tondano Selatan tampak berkumpul dekat pohon kemiri tempat Oma Wilhemina berlindung. Mereka antusias melihat sosok Oma Wilhemina dan kondisi tempat tinggalnya.

Ketua rombongan, Olvie Masinambow mengatakan setelah membaca berita di media massa, mereka tergerak untuk membantu. Menurutnya sangat tragis mengetahui ada orang yang telah 10 tahun tinggal di bawah pohon. "Kami selalu mengajarkan anak-anak untuk peduli dan mengasihi sesama. Kami ingin melihat langsung kondisi kehidupan Oma Wilhemina dan memberikan bantuan. Anak-anak mengumpulkan pakaian dan bahan makanan. Ada anak yang mengambil pakaian oma mereka untuk diberikan pada Oma Wilhemina," ujarnya.Olvie mengatakan pada hari  Minggu (18/8)  mereka berencana mengajak Oma Wilhemina untuk beribadah bersama di gereja.

Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) yang menjadi penggagas gerakan bantuan untuk Oma Wilhemina mengatakan, sejak terekspos di media massa, banyak orang yang mulai memberikan bantuan. Menurutnya selain pengumpulan uang dan bantuan lain dari warga yang berkunjung, mereka juga mengumpulkan dana melalui transfer rekening bank.

"Kami telah membuka rekening tabungan atas nama Oma Wilhemina dan telah banyak orang yang telah mengirimkan bantuan. Kami bersyukur respon masyarakat untuk membantu Oma Wilhemina sangat besar," ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam akun jejaring sosial yang memberitakan kondisi Oma Wilhemina dan anaknya banyak mendapat perhatian warga dalam daerah bahkan sampai luar negeri. Menurutnya ada warga Kawanua yang berada di luar negeri menyatakan keprihatinan dan menyatakan kesiapan  membantu.

"Tadi ada seorang pengusaha yang menghubungi kami dan menyatakan akan membantu. Pengusaha ini meminta kami mencari tanah seharga Rp 5 juta sampai Rp 10 juta untuk tempat mendirikan rumah untuk Oma Wilhemina dan anaknya. Pengusaha ini berjanji membayar tanah tersebut," ujarnya.

Oma Wilhemina terlihat menikmati saat-saat melihat banyak orang yang berkunjung padanya. Walau pendengarannya mulai lemah namun dirinya tetap coba berinteraksi dengan orang-orang yang datang.

"Saya bersyukur karena sekarang banyak orang yang datang memberikan bantuan. Bantuan ini sangat berarti bagi saya dan anak saya," ujarnya. Pemerintah Kecamatan Remboken Kabupaten Minahasa dibantu warga sedang menyelesaikan pembangunan tempat tinggal sementara untuk Oma Wilhemina dan anaknya. Bangunan beratap seng dan berdinding triplek hampir selesai dibangun. (lucky kawengian)

Sumber: Tribun Manado 12-13 Agustus 2013 hal 1

MBH yang Kusam, Kumuh dan Angker

MANADO, TRIBUN - Aset Pemerintah Provinsi (Pemprov)  Sulawesi Utara (Sulut) yakni  Manado Beach Hotel (MBH) di Desa Mokupa Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa yang lama terbengkalai akan dikembangkan lagi.

Setelah lama bernegosiasi, kini sudah ada titik terang untuk pengembangan aset bernilai ratusan miliar itu. Negosiasi sejak lama dilakukan Biro Ekonomi Sekretariat Daerah Provinsi Sulut. Menurut mantan Kepala Biro Ekonomi Adry Menengkey,  sudah ada investor yang berminat mengelola MBH. "Nantinya  dibangun fasilitas baru di sana," ucapnya kepada Tribun Manado, Minggu (4/8/2013).


Menurut Manengkey,  dalam negosiasi tersebut  Pemprov Sulut tak akan melepas hak sebagai pemilik aset. Investor akan diberi hak kelola. Dalam negosiasi itu, jelas dia, pemprov mendapat 20 persen dari keuntungan yang disetor ke kas daerah per tahun. Manengkey menyebut perusahaan Semesta Maju Jaya sebagai pihak yang sudah berminat mengelola MBH.

"Tetap akan dibangun tapi pemerintah tidak kehilangan aset, jadi kerja sama akan diberikan hak kelola kepada investor. Aset MBH tetap milik pemerintah,  milik masyarakat Sulut. Setiap tahun ada keuntungan dari sana menjadi sumber PAD pemerintah provinsi. Pengelola tidak dirugikan," ujarnya.

Bentuk kerja sama seperti ini,  kata Menengkey,  sudah terbukti keberhasilannya. Dia memberi contoh pengelolaan aset Pemprov Sulut di Jakarta yakni Aero Hotel. Aset tetap menjadi milik Pemprov, keuntungan yang dihasilkan pengelola Aero Hotel disetorkan tiap tahun ke kas daerah.

"Konsepnya sama seperti pengelolaan Aero Hotel di Jakarta," katanya. Walau demikian, lanjut dia, penanganan aset daerah harus tetap mengacu pada aturan agar tidak memakan korban yang berurusan dengan masalah hukum.

Wakil Ketua DPRD Provinsi  Sulut, Arthur Kotambunan mengatakan beberapa waktu lalu MBH sempat ditawar pengusaha nasional  Tommy Winata sebesar Rp 55 miliar. "Saat itu hampir disetujui, namun pihak Tommy Winata mengajukan syarat kalau nantinya masih terjadi masalah, Pemprov Sulut harus bertanggung jawab," kata Kotambunan, Minggu (4/8/2013).


Syarat tersebut, kata dia,  dinilai berat sehingga MBH tak jadi dikelola pihak swasta. "Siapa yang berani nanggung sekiranya ada masalah,"imbuhnya. Setelah tawaran dari Winata itu,  menurut Kotambunan belum ada lagi pembicaraan serius soal MBH. Apalagi setelah ditaksir oleh BPK RI harga MBH lebih tinggi. "Terakhir BPK RI menaksir nilai MBH sekitar Rp 150 miliar. Sejak itu belum ada pengusaha yang melirik," jelasnya. Pria yang sebentar lagi mengaku akan pensiun dari dunia politik ini berharap MBH bisa dikelola pengusaha. "Tapi kali ini harus dengan cara yang benar, jangan sampai ada MBH-gate seri dua. "Saya ingin segera saja MBH ada di tangan pengusaha dan dikelola dengan profesional," kata Kotambunan.

Anggota DPRD Sulut dari Fraksi Golkar Sherpa Manembu pun mengakui sudah lama dewan tidak membahas aset MBH semenjak aset itu bermasalah secara hukum yang membelit sejumlah elit pejabat di Sulut. "Setahu saya terakhir pembicaraannya beberapa tahun lalu, setelah itu tidak ada lagi," katanya, Minggu (4/8).

Manembu menilai, ada persoalan status tanah yang belum jelas. Saat ini, kata dia,  bangunan MBH yang terbengkalai itu sudah tidak lagi bernilai. Tinggal tanahnya saja yang menjadi aset utama daerah. Manembu setuju pengelolaannya diserahkan kepada pihak swasta. Tugas pemerintah adalah menyelesaikan masalah yang masih membelit MBH.  "Jangan pemerintah yang mengelola, harus swasta," katanya.

Kilas Kasus 
Kasus hukum yang membelit  Manado Beach Hotel berawal dari kepimilikan saham Pemprov Sulut sebesar 19 persen di PT Pengembangan Pariwisata Sulawesi Utara (PT PPSU). Pemprov Sulut menalangi utang PT PPSU ke BBPN Rp 25 miliar, yang dialokasikan dalam APBD 2002-2004, dengan kompensasi kepemilikan saham Pemprov Sulut berubah dari 19 persen menjadi 80 persen di PT PPSU.  Ternyata, proses pelelangan di BPPN, dana yang digunakan hanya Rp 18 miliar melalui mediasi PT Tribrata Mitra Jakarta.

Dalam proses pembayarannya, pemprov mencairkan dana sebesar Rp 18 miliar yang disalurkan melalui BNI Sekuritas. Setelah negosiasi, disetujui hanya Rp 6,8 miliar yang dibayarkan ke BPPN. Sisa dana sekitar Rp 11,3  miliar  dibagi-bagikan ke sejumlah pihak, yakni pejabat Pemprov Sulut Rp 1 miliar, anggota DPRD Sulut Rp 1 miliar, dan untuk pimpinan PT Tri Brata Mitra sebesar Rp 8 miliar.

Pejabat yang terlibat dalam kasus ini antara lain mantan wakil gubernur Fredy Sualang, mantan asisten II Setdaprov Sulut J Saruan, mantan sekprov Sulut Alm Johanis Kaloh, Abdi Buchari, mantan Ketua DPRD Syachrial Damapolii, Mieke Nangka, Jos Patty, Elizabeth Winokan, Direksi PT Tribrata Mitra Jakarta yaitu Jhony Ishak dan Ronny J serta pejabat BPPN Thomas Maria. (ryo/rob/aro)

Kusam, Kumuh dan Angker


MANADO Beach Hotel (MBH) yang diresmikan Presiden Soeharto pada tanggal 11 September 1991 merupakan hotel bintang pertama di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).  Namun, dua puluh dua tahun kemudian kondisinya bisa dilukiskan dengan tiga kata berikut ini kusam, kumuh dan angker.

Kusam dan kumuh langsung terlihat saat Tribun Manado melakukan pantauan di lokasi itu, Jumat (2/8/2013) sekitar pukul 11.26 Wita.  Halaman depan hotel penuh rerumputan yang tak terawat. Lapisan aspal pada jalan masuk ke dalam hotel sudah terkelupas. Jalan itu dimanfaatkan warga  Desa Mokupa Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa untuk menjemur cengkih.

Ketika Tribun Manado berada di sana beberapa orang warga Mokupa sedang duduk santai di lobby hotel MBH. Warga Desa Mokupa, Salihi Andrikus mengatakan, hampir tiap tahun mereka gunakan lokasi hotel tersebut untuk jemur cengkih. "Kami sudah minta izin sama penjaga hotel ini untuk jemur cengkih. Hanya cengkih saja, kalau hasil kebun lainnya seperti kopra tidak," kata Salihi.

Tribun  menyusuri semua bagian hotel, mulai dari lobby hingga ke kamar hotel. Di lobby masih ada lampu hias yang terpasang dan terdapat prasasti hotel yang diresmikan Presiden Soeharto 11 September 1911. Kondisi lobby hotel kusam dan kumuh. Tak jauh dari lobby, ada bangunan lima lantai. Lantai satu sampai empat terdiri dari kamar hotel, sedangkan lantai paling atas merupakan ruang pertemuan.
Seluruh bagian atap hotel mengalami kerusakan sehingga air hujan langsung membasahi lantai. Dinding hotel berlumut. Saat memasuki ruangan dalam langsung disambut sarang laba-laba dan debu yang menempel di dinding dan lantai keramik.
Lorong di dalam hotel gelap dan tercium aroma tak sedap. Di setiap kamar hotel  sudah tidak ada perabotan satu pun. Yang terlihat hanya cermin besar ukuran 1 x 2 meter yang menempel pada dinding kamar.

Pada salah satu ruangan besar seperti convention center, banyak debu yang menebal. Beberapa kursi lipat yang telah rusak dibiarkan begitu saja di dalam ruang tersebut. Plafon  di ruang Pub & Fitness sudah terjatuh hingga ke lantai. Aroma kelembaban, pengap  dan hawa agak dingin sangat terasa di bagian lantai bawah hotel tak jauh dari ruang Pub & Fitness. Beberapa kaca yang terdapat dalam ruangan tersebut pecah berserakan di lantai. Ada beberapa ruangan yang tidak bisa dimasuki karena untuk ke ruangan tersebut harus menggunakan kunci dan ruangan yang lain gelap gulita hingga menghadirkan kesan angker.

Keangkeran MBH diakui Sali Andrikus (55) dan Melky, warga setempat.  "Waktu jaya-jayanya dulu hotel ini dipenuhi para tamu. Tapi semua itu tinggal kenangan," kata Sali sedih. Kini Sali sering mendengarkan suara aneh dari dalam hotel yang membuat bulu kuduk berdiri. Melky pun mengakui hal serupa. "Saya sudah beberapa kali mendengar suara perempuan manangis, bunyi orang sementara mandi dan suara-suara aneh yang membuat saya takut", kata Melky. (def/kel)

Sumber: Tribun Manado 5 Agustus 2013 hal 1

Blusukan Presiden Timor Leste Lebih Gila!

Presiden Taur Matan Ruak
Fenomena pemimpin yang 'turun' menyambangi rakyat lewat cara mendatangi langsung lokasi-lokasi yang dinilai punya masalah sepertinya kembali dipopulerkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.

Jokowi kemudian mengistilahkan hal tersebut sebagai 'blusukan'. Cara 'blusukan' Jokowi kemudian dikenal cukup 'ekstrem'. Tak sekadar mendatangi kawasan yang belum tertata apik, Jokowi 'berani' datang ke tempat-tempat yang sangat tidak nayaman bagi seorang petinggi pemerintahan. Kawasan kumuh di mana rumah penduduk saling berhimpitan, berjalanan becek, dan berbau tak sedap misalnya tak jarang jadi lokasi Jokowi blusukan.

Blusukan pun rupanya dilakukan di negeri yang tadinya jadi bagian dari Republik Indonesia, Timor Leste. Di sana, bahkan presidennya, melakukan cara blusukan yang lumayan 'gila' untuk ukuran seorang pejabat tinggi negara.

Kalau Gubernur DKI Jakarta, Indonesia Jokowi blusukan di kawasan kumuh untuk menemui warganya. Di Timor Leste, Presiden Taur Matan Ruak, harus berjalan kaki berhari-hari demi bertemu rakyatnya di pedalaman.

Maklum banyak pemukiman warga di pedalaman Timor Leste tidak bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Karena itu, si presiden harus berjalan kaki berhari-hari untuk mengunjungi warganya pada 17 Agustus sampai 19 Agustus 2013 silam.

Timor Leste yang memiliki penduduk sekitar 1,1 juta orang ini, kini sedang membangun berbagai fasilitas umum seperti jalan, pelabuhan bandara, dan tempat wisata. Cara yang lumayan ekstrim bukan? Namun tunggu dulu, cara Presiden Taur Matan blusukan mungkin lebih ekstrim ketimbang cara blusukan Jokowi, namun latar belakangnya selaku mantan panglima gerilyawan di Timor Leste ini, membuat cara blusukan keluar masuk bukit yang terjal untuk menyapa warganya menjadi sesuatu yang 'biasa'.

Foto perjalanan Presiden Taur Matan Ruak itu diabadikan oleh fotografer kepresidenan Timor Leste.  Simak foto-foto blusukan ekstrem sang presiden di sini.

Sumber: Tribunnnews

Mengembangkan Indonesia Kecil

Oleh Jakob Oetama
Pendiri Kompas Gramedia


KETIKA Majalah Intisari terbit pertama kali, 17 Agustus 1963, tidak terbayangkan itulah awal hadirnya kelompok usaha Kompas Gramedia. Lima puluh tahun kemudian, masuk akal jika Kompas Gramedia telah bersosok, atau mengutip ungkapan Prof de Volder sebagai "lembaga yang organik sekaligus yang organis."

Serupa lembaga surat kabar, Kompas Gramedia (KG) dengan bisnis inti industri informasi, atau pabrik tulisan atau kata-kata-Gramedia: grafika media-terdiri atas berbagai bagian yang beragam. Bagian-bagian itu bekerja sama dan berinteraksi melaksanakan fungsi masing-masing. Fungsi-fungsi yang beragam itu secara organis bekerja sama dan bersinergi menjalankan peran dan panggilan yang terikat oleh tujuan dan falsafah bersama.

Dalam statusnya yang organik sekaligus organis itulah hidup, berkembang, dan berfungsi Kompas Gramedia, dinamis dan dan senantiasa berubah sejalan perkembangan masyarakat (medium is the  extension of man). Sejalan itu, bidang yang menjadi perhatian dan sarana pun beragam.

KG yang awalnya berusaha di bidang knowledge industry --Intisari 1963, Harian Kompas 1965, Toko Buku Gramedia 1970, Percetakan Gramedia 1971, Radio Sonora 1972, Majalah Bobo 1973, koran-koran  daerah dengan brand Tribun baru setelah tahun 1987-- dengan segala variasi bidang usahanya diikat dalam satu falsafah bersama. Yakni opsi dasar (optio fundamentalis) yang digagas, dibayangkan, sekaligus menjadi tali simpul kebersamaan.

 Small Indonesia in the making. Ungkapan itu menggambarkan cita-cita bahkan mimpi para perintis dan pendiri Kompas Gramedia 50 tahun lalu. Para perintis dan pendirinya berangkat tidak dengan modal uang tetapi ide dan cita-cita. Selain sebelumnya bertemu dalam berbagai kegiatan, kami --Saudara PK Ojong dan saya-- juga bertemu dalam kesamaan cita-cita, persepsi, dan impian untuk ikut ambil bagian  mengembangkan Indonesia.

Inklinasi dan pandangan politik kami sama: Indonesia Kecil. Indonesia bukanlah kotak-kotak yang terbagi-bagi dalam sektor-sektor dan bagian-bagian yang terpisah secara rigid, tetapi Indonesia yang satu berwarna-warni, beragam dalam segala hal.
Bagian-bagian memiliki kekhasan yang tidak luluh karena kebersamaan, tetapi menjadi mosaik indah dan produktif yang disebut Indonesia. Saling menunjang secara sinergik, organik sekaligus organis. 

Gagasan dan cita-cita ini tidak orisinal, sebab para bapak bangsa Indonesia sudah menggagas dan menjabarkannya ketika ingin membangun sebuah negara Indonesia. Cita-cita besar dan semangat keberagaman dalam kebinekaan kami dan kemudian kita kembangkan dalam lingkup yang kecil: Kompas Gramedia. Indonesia Kecil atau Indonesia Mini menjadi ideologi yang terus dikembangkan, juga setelah KG merambah keluar dari pakem knowledge industry.

Tekadnya KG ingin terus menjadi sarana, jembatan, dan titik temu berbagai kebedaan negara-bangsa Indonesia. Tidak hanya dalam cita-cita tetapi juga dalam membangunnya sebagai lembaga yang organik sekaligus yang organis.

Salah satu pembawa obor

Ungkapan small Indonesia in the making jauh dari rasa jumawa dan arogan. Serba tahu diri dan penuh pengertian, Kompas Gramedia dengan roh yang mendasari berbagai kegiatan bisnisnya, hanya salah satu pembawa obor. Banyak perusahaan lain, yang dari sisi finansial jauh lebih besar dan jauh lebih pantas menyandang gelar pembawa obor. 

Akan tetapi, sejak awal para pendirinya merintis, mendirikan dan mengembangkan usaha ini tidak hanya usaha bisnis. Ketika mendirikan Intisari, mungkin belum sedetail seperti ketika mendirikan Kompas, kami mengambil posisi  dan menjabarkan independensi  kami: usaha ini sebagai bagian dari ikut serta membangun sebuah Indonesia.

Dasarnya kesamaan kemanusiaan Indonesia, heterogenitas Indonesia yang beragam dan di atas keberagaman itulah Indonesia yang satu. Bhinneka Tunggal Ika. Ikut serta berusaha terus-menerus Indonesia menjadi lebih baik.

Sebagai salah satu bentuk usaha bisnis, saya teringat kata-kata Matsuhita tentang kelompok usahanya. Laba bukanlah cermin kerakusan perusahaan. Laba, tanda kepercayaan masyarakat. Laba, pertanda efisiensi.  Setiap perusahaan memiliki kebudayaan korporat yang berbeda satu sama lain. Kebudayaan korporat memberikan corak yang khas. Kebudayaan korporat hanya bisa ditumbuhkan  kalau ada nilai-nilai sebagai roh yang dihayati bersama oleh seluruh pimpinan dan karyawan.


Nilai-nilai itu disampaikan sebagai tradisi lisan dan tertulis, dalam keteladanan dan sosok-sosok manusia yang terlibat di dalamnya. Kami meninggalkan falsafah, etika, dan budaya kerja-secara tertulis pernah disampaikan Saudara PK Ojong dalam Falsafah Perusahaan Kita, secara tradisi dalam jatuh bangun mengembangkan Kompas Gramedia bersama para pimpinan dan karyawan selama 50 tahun ini.
Bersamaan pula dikembangkan kebiasaan yang mendukung etika dan etos dalam bekerja. Jujur, bekerja tuntas, tegas, tetapi juga punya hati; turunan semangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam bentuk terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari --relatif memang-- karyawan dan keluarganya yang kini mencapai lebih dari 19.000 orang.

Kami bahu-membahu, memperkaya dan mengembangkan etos dan etika itu, menstranfernya sebagai budaya korporat. Budaya itu terus diperkaya, dipraktikkan, dan dirumuskan menjadi kerangka dan pedoman kerja.  Muaranya plus-minus ikut serta mengambil bagian dalam membangun Indonesia yang lebih baik.  Jiwa dasarnya Indonesia kecil, kemanusiaan yang beriman, demi kemaslahatan manusia dan kemanusiaan.

Jiwa dasar itu menjadi tali pengikat, sumber referensi yang senantiasa dalam penerjemahannya disesuaikan dan diperkaya oleh kondisi dan perkembangan zaman. Perusahaan ini berkembang selain karena kerja keras, kompetensi dan sinergi, juga berkat penyelenggaraan Allah (providentia dei) lewat tangan-tangan kita manusia dengan kelebihan dan kekurangan kita.

Selayaknya rasa terima kasih dan bersyukur disampaikan. Jauh dari sikap jumawa dan arogan, KG menjadi sarana dan jalan bagi kebahagiaan banyak orang. Bekerja senantiasa merupakan praktik dan refleksi ibadah, ora et labora, berdoa dan bekerja.  Lima puluh tahun Kompas Gramedia tumbuh dan berkembang berkat kerja sama kita yang berpilin tangan secara sinergik, memperoleh kepercayaan masyarakat, didasari atas cita-cita tidak sekadar usaha bisnis tetapi juga mengembangkan ide-ide Keindonesiaan.

Keberhasilan ini berkat bantuan banyak pihak, para pemangku kepentingan.  Kesempatan ini sekaligus untuk mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak, karena saling menyertai dan saling mendukung perjalanan KG sebagai bagian dari mengembangkan Indonesia Kecil. Tantangan ke depan semakin berat, tetapi niscaya beban itu menjadi ringan manakala kita dukung bersama. Hari ini niscaya endapan hari kemarin sekaligus proyeksi esok hari! *

Sumber: Tribun Manado edisi Senin 19 Agustus 2013 hal 1

Mantan Pastor Ini Divonis Seumur Hidup

Herman Jumat Masan, mantan pastor di Maumere, divonis penjara seumur hidup oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Maumere.

Herman divonis penjara karena terbukti membunuh seorang perempuan bernama Mery Grace dan dua bayi hasil "hubungan gelap" mereka, sepuluh tahun silam di TOR Lela, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka.

Vonis tersebut dijatuhkan majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Negeri Maumere, Senin (19/8/2013) pagi.

"Herman adalah seorang pastor, yang seharusnya memberikan contoh yang baik pada umatnya. Herman juga seorang berpendidikan teologi dan seorang pembina calon imam. Perbuatannya sungguh meresahkan masyarakat," kata Ketua Majelis Hakim Beslin Sihombing, ketika membacakan vonisnya.

Sebelumnya diberitakan, Herman kali pertama berkenalan dengan Mery Grace pada tahun 1995. Ketika itu, Herman sedang menjalani praktik pastoral, sementara Mery adalah mahasiswa di STFK Ledalero. 

Selanjutnya pada tahun 1997, Herman bertugas di Lela, dan Mery Grace bekerja di RSU Lela. Pada tahun 1998 Herman dan Mery menjalani hubungan pacaran.

Hasil dari hubungan itu, Mery Grace hamil tiga bulan pada tahun 1998. Kehamilan itu, disembunyikan oleh Mery agar tidak diketahui orang lain.

Pada Juni 1999 pukul 19.00 Wita bertempat di kamar Herman, lahir anak pertama hasil pacaran dengan Herman. Bayi laki-laki itu ditutup mulutnya karena takut ketahuan orang hingga bayi laki-laki tersebut meninggal dunia.

Selanjutnya, bayi itu dikuburkan di depan kamar Herman dan ditanami bunga di atasnya sebagai tanda. Pada tahun 2001, Herman dan korban kembali menjalin hubungan, dan melahirkan anak kedua pada Maret 2002. Anak itu dibiarkan mati, lalu dikuburkan di depan kamar Herman dan ditandai bunga.

Seusai melahirkan anak kedua, korban mengalami pendarahan dan tidak dibawa ke dokter selama sembilan hari. Akhirnya, korban meninggal dunia dan dikuburkan di depan kamarnya Herman, dan lagi-lagi ditandai dengan bunga.

Sumber: Tribun Manado
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes