CJ Rantung Wafat, Sarundajang pun Menangis

CJ Rantung
MANADO, TRIBUN - Awan duka menyelimuti Bumi Nyiur Melambai. Tokoh besar yang tak kenal lelah membangun Provinsi Sulawesi Utara, Cornelis John Rantung telah berpulang, Rabu (3/4/2013) pagi di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Pria yang akrab disapa John Rantung itu menjadi Gubernur Sulawesi Utara selama 10 tahun yakni 3 Maret 1985 sampai 1 Maret 1995. Banyak hal dikerjakan Rantung selama memimpin utamanya membangun bangunan-bangunan monumental.

Tak pelak, mendengar Rantung wafat, sang yunior, Gubernur Sinyo Harry Sarundajang pun tak kuasa menahan tangis. Kabar duka itu diterima Sarundajang kala menyampaikan arahan rapat di Ruang Huyula, Pemprov Sulut di depan para bupati dan wali kota.

Sarundajang pun seketika menghentikan arahannya. Dia lantas menyeka air matanya.  "Beliau pemimpin yang baik. Saya dan warga Sulut sangat kehilangan. Beliau sesepuh kita yang sudah berbuat banyak untuk daerah ini," ujarnya di depan forum. Ia pun kemudian mengundang hadirin berdiri untuk mengadakan hening cipta sejenak.

Usai kegiatan, Sarundajang kembali mengungkapkan rasa kehilangannya di depan wartawan. Ia sedih sekali. "Saya sedih, merasa kehilangan. Saya dekat dengan beliau. Dia dipanggil Tuhan, memang kesehatannya menurun, tetapi pemikiran beliau relevan luar biasa. Seluruh masyarakat Sulut tahu andil beliau untuk daerah Sulut," ungkapnya.

"Kantor gubernur ini karyanya. Beliau pemimpin yang harus dicontoh, rendah hati, tegas dan banyak gagasan, itulah Pak Rantung. Saya sedih sekali, rakyat Sulut sangat merasa kehilangan," ungkapnya lagi.

Di usia yang lanjut, bahkan CJ Rantung, kata Sarundajang, masih aktif mengabdi untuk daerah. Selain sering memberi saran bagi dirinya, Rantung itu menjadi pembina pensiunan pamong praja. Sarundajang terakhir bertemu Rantung, Senin pekan lalu.

"Minggu lalu masih kasih saran. Minggu lalu, Senin, beliau berkunjung dengan ibu. Hampir setiap saat bertamu. Masih sempat juga menghadiri pelantikan Bupati Minahasa," ujarnya.

Uskup Manado, Mgr Joseph Suwatan MSC pun ikut sedih mendengar kabar, Rantung wafat. Uskup bertemu Rantung terakhir kali dalam sebuah acara di gubernuran. Ia pun ingin melihat Rantung untuk terakhir kalinya.

"Ia merupakan gubernur saat saya diangkat menjadi Uskup. Beliau saat itu hadir dalam upacara tahbisan. Ia juga beraudiensi dengan Uskup Emeritus Theodorus Morse MSC dan Duta Vatikan Canalini pada saat itu," ujarnya.

Bagi monseignur, CJ Rantung itu merupakan sosok yang baik dan jujur. Semangat keprajuritan ditunjukkannya sampai sekarang. "Ia bukan orang yang menjadi kaya karena menjadi gubernur dan ia orang yang sederhana," katanya.

Uskup mengaku Uskup Emeritus saat itu jarang ke gubernuran karena walaupun mengaku orang Indonesia tapi ia berasal dari Belanda. Oleh karena itu Suawatan merintis kunjungan ke gubernuran.

"Saya dan gubernur CJ Rantung yang merintis kunjungan ke gubernuran. Kehadiran uskup dengan jubahnya pada awalnya mula-mula terasa aneh di tengah banyak pendeta Protestan. Itu karena Uskup jarang hadir ke acara gubernuran. Tapi dengan CJ Rantung semua terlaksana," ujarnya.

Sementara itu, Imam Masjid Raya Ahmad Yani KH Ismail Tunai mengaku terakhir bertemu Rantung ketika menghadiri ulang tahun Gubernur Sarundajang, beberapa waktu lalu.

"Ia melambaikan tangan ke saya ketika menghadiri acara ulang tahun Gubernur Sinyo Harry Sarundajang. Ketika itu saya melihat kondisinya sehat walafiat. Dia datang bersama anaknya, Jeffry Rantung. Namun ketika itu, tidak sempat berbincang," ujarnya.

Tunai menambahkan, sosok Rantung merupakan orang yang bersahaja. Ketika menjadi gubernur dekat dengan rakyat, apalagi dengan petani. Oleh karena itu bisa dikatakan ia satu di antara gubernur Sulut yang berhasil dan dikenang sampai saat ini.

Sekretaris BPMS GMIM, Arthur Rumengan seakan tak percaya ketika mendengar Rantung wafat. "Saya sangat terkejut mendengar berita beliau sudah berpulang, sebab belum lama sempat berjumpa sat kegiatan dengan Bapak Gubernur di Manado. Saat itu saya hanya sempat berjabat tangan dengan beliau," kata Rumengan, kemarin.

Diungkapkan Rumengan, ketika menjabat gubernur, sosok sang jenderal sangat banyak memberi perhatian terhadap aktivitas gereja, termasuk GMIM sendiri boleh berkembang pesat dalam pelayanannya.

"Di masa-masa menjadi Gubernur, Sang Jenderal saya ingat sangat baik membangun daerah bersama-sama dengan gereja. Dalam banyak aktivitas gereja, beliau selalu berkesempatan hadir dan memberikan sokongan penuh dengan membawa kelompok paduan suara untuk mengisi acara. Suasana itu tentu memberikan kenangan indah bagi GMIM," jelasnya.

Menurut informasi, jenazah almarhum akan dimakamkan di Manado pada Minggu (7/4) di Taman Makam Pahlawan Kairagi Manado. "Info, Jumat (5/4) jenazah dibawa ke Manado dan disemayamkan di kantor gubernur (Kantor Gubernur Sulut) dan rencana Minggu (7/4) dimakamkan. Ini info dari anaknya Jeffry Rantung," ujar Wakil Ketua DPRD Sulut Arthur Kotambunan melalui pesan pendek kepada Tribun Manado. (ryo/dma/erv/war/rob)

Sumber: Tribun Manado 4 April 2013 hal 1

Usir Gas Beracun dari Sumur

ilustrasi
MAKSUD hati menolong rekan yang kesulitan bernapas dalam sumur karenamenghirup gas beracun, Iwandi Makal (35) dan Steven Kapantouw (37), warga Desa Ampreng, Kecamatan Langowan Barat Kabupaten Minahasa malah meninggal dunia di dalam sumur tersebut, Selasa (2/4/2013) lalu.

Kita sedih dan turut berduka cita atas kepergian Iwan dan Steven. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat penghiburan serta tabah menerima musibah ini. Tragedi menghirup gas beracun di dalam sumur bukan hal baru di Indonesia. Peristiwa yang menelan korban jiwa sudah berulang kali terjadi.

Mengapa di dalam sumur air ada gas beracun hingga dapat membunuh manusia? Menurut Prof Yohanes Surya PhD (www.yohanessurya.com),  kemungkinan yang dimaksud itu gas hidrogen sulfida yang tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. Massa jenisnya lebih besar dari massa jenis udara, sehingga gas ini sering berada di  tempat-tempat rendah seperti sumur. Gas ini juga terdapat pada gas-gas gunung berapi, ladang-ladang minyak, industri tambang dan industri kayu. Gas ini dihasilkan bakteri yang memecah senyawa organik tanpa oksigen misalnya dalam lumpur atau tanah becek atau di dalam pipa-pipa pembuangan kotoran.

Prof Yohanes mengatakan, gas hidrogen sulfida sangat berbahaya. Ketika terhisap oleh manusia lewat paru-paru gas akan terserap cepat oleh darah dan dibawa ke otak. Gas ini akan mencegah bekerjanya enzim cytochrome oxidase yang sangat penting untuk pernapasan sel otak. Akibatnya, orang yang menghirupnya bisa meninggal dunia. Guna mengetahui adanya gas hidrogen sulfida harus menggunakan detektor. Biasanya, perusahaan-perusahaan besar yang berhubungan dengan galian atau sumur mempunyai detektor gas.

Penjelasan Prof Yohanes tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat Sulawesi Utara (Sulut)  yang hidup di tengah kepungan gunung berapi alias berada di jalur cincin api Nusantara. Masuk akal bila sumur air di wilayah Minahasa terdapat gas beracun lantaran ada gunung api aktif di wilayah itu seperti Gunung Soputan dan Gunung Lokon.

Menyadari kondisi demikian mutlak bagi pemerintah daerah melalui instansi  terkait untuk mensosialisasikan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi masyarakat dalam proses pengurasan atau pembersihan sumur air. Masyarakat yang menggunakan sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari perlu diberitahu cara yang benar untuk mendeteksi gas beracun serta solusinya.  Dengan demikian musibah seperti yang menimpa Iwan dan Steven tidak terulang.

Para ahli memberikan beberapa tips sederhana.  Sebelum menguras atau membersihkan sumur semprotkan udara ke dalam sumur untuk mengusir gas.  Jika kesulitan mencari udara dari pompa, semprotkan air dalam jumlah mencukupi ke dalam lubang sumur dalam bentuk spray. Langkah ini guna menambahkan udara segar ke dalam lubang sumur sekaligus mengusir gas beracun keluar dari dalam lubang. Masih banyak langkah lain yang bisa ditempuh. Intinya prinsip K3 tidak boleh kita abaikan saat membersihkan sumur sebagai sumber air kehidupan.*


Sumber: Tribun Manado 4 April 2013 hal 10

Panggilan Pertama Ponsel 40 Tahun Lalu

Martin Cooper (AP)
PADA tanggal 3 April 1973 di kota Manhattan, Amerika Serikat, seorang insinyur Motorola bernama Martin Cooper melakukan panggilan pertama dengan telepon seluler. "Joel, ini Martin. Saya menelepon Anda dari telepon seluler. Telepon seluler portabel nyata dalam genggaman," kata Cooper kepada teman sekaligus pesaingnya, Joel Engel, yang bekerja sebagai kepala riset di Bell Lebs.

Demikianlah percakapan pertama yang dilakukan manusia melalui telepon seluler atau kini dikenal sebagai ponsel. Cooper menelepon dengan ponsel Motorola DynaTAC 8000x yang berukuran besar dan bobotnya mencapai 2,5 kg. Bobot yang jauh berbeda dengan ponsel modern saat ini.

Ponsel masa kini digunakan bukan sekadar untuk menelepon atau mengirim pesan singkat saja. Fungsinya makin cerdas, bisa untuk menjalankan beragam aplikasi yang mendukung produktivitas kerja manusia.

Martin Cooper, yang kerap disapa Marty, dikenal sebagai "bapak ponsel" karena memelopori kelahiran industri komunikasi nirkabel. Lahir di Ukraina pada 26 Desember 1928, kemudian ia hijrah ke Chicago, Illinois, AS.

Ia bergabung dengan Motorola pada 1954 sebagai insinyur yang mengembangkan peralatan telekomunikasi bergerak. Visinya dalam teknologi ponsel pertama kali disusun pada akhir tahun 1960, ketika telepon mobil diciptakan oleh perusahaan telekomunikasi AT&T.

Penemu yang penuh visi

Dalam wawancara dengan BBC, Cooper mengatakan ingin menciptakan sesuatu yang akan mewakili individu sehingga seseorang bisa menetapkan sebuah nomor. "Bukan (nomor yang ditujukan, red) ke suatu tempat, bukan ke meja, bukan untuk rumah, tapi untuk seseorang," tegas Cooper, seraya bertekad ingin menjadikan ponsel sebagai benda pribadi.

Ia dahulu berpikir bahwa produksi awal ponsel pada 1983 membutuhkan biaya 3.500 dollar AS. Hal ini mungkin jadi penghalang misinya yang ingin membuat ponsel diproduksi secara massal. Tetapi, ia percaya bahwa suatu hari ukuran ponsel akan berevolusi menjadi kecil dan biaya produksinya semakin murah.

"Kami membayangkan bahwa suatu hari ponsel akan sangat kecil sehingga Anda bisa menggantungnya di telinga, atau bahkan ponsel akan tertanam di bawah kulit Anda," katanya.

Berkat kerja kerasnya, Cooper memegang 11 paten teknologi dan dianggap sebagai salah satu penemu terkemuka di abad 20 serta diakui sebagai inovator dalam manajemen spektrum frekuensi radio.

"Ini menyenangkan saya yang pada akhirnya memiliki beberapa dampak kecil pada kehidupan masyarakat karena ponsel ini memang membuat kehidupan masyarakat lebih baik. Mereka mempromosikan produktivitas, mereka membuat orang lebih nyaman, mereka membuat manusia merasa aman dan semua hal lain," jelas Cooper.

Lelaki berusia 85 tahun ini sekarang masih duduk di dewan komite yang mengurus telekomunikasi Amerika Serikat.

Bersama Arlene Harris, istri sekaligus mitra kerjanya, Cooper mendirikan beberapa perusahaan teknologi dan telekomunikasi yang sukses, antara lain Dyna LLC, GreatCall, dan Arraycomm. (*)

Sumber: Kompas.Com

Messi, Maradona, dan Paus

Paus Fransiskus (AFP)
Oleh Sindhunata

Sejenak rakyat Argentina di Buenos Aires seperti tersihir dalam diam. Namun, begitu di televisi diumumkan dan diperlihatkan Paus yang baru, mereka pun meledak dalam jerit dan sorak tak terkatakan. ”Argentina, Argentina!” demikian mereka berteriak di mana- mana. Jalanan pikuk dengan klakson mobil. Bendera Argentina dikibar-kibarkan. Luapan sukacita ini persis seperti ledakan kegembiraan saat pertandingan final kesebelasan Argentina menekuk Jerman 3-2 dan menjadi juara Piala Dunia 1986 di Mexico City.

Messi, Maradona, Paus! Begitulah mereka berteriak-teriak ketika mereka tahu bahwa Paus yang baru adalah Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires. Bangsa mana yang tidak bangga bila mereka mempunyai legenda seperti Messi dan Maradona? Dua legenda itu sudah seperti rahmat berlimpah. Apalagi sekarang mereka mempunyai Paus Fransiskus. Lengkap sudah kegembiraan dan kebanggaan rakyat Argentina.

Tak hanya rakyat Argentina, tetapi seluruh dunia pun bergembira karena terpilih Paus yang menyebut dirinya ”datang dari ujung dunia ini”. ”Ia seperti kuda hitam yang jadi juara. ”Ia bukan favorit. Saya sama sekali tak dapat berkomentar, saya tegang,” kata seorang bernama Emanuel Sargari dari Santa Fe, Argentina, di tengah lautan manusia yang memadati halaman Gereja Santo Petrus, Roma. Saking tegangnya, ia sampai lupa menggoyang-goyangkan bendera Argentina.

Beberapa orang Italia kelihatan kecewa karena yang terpilih bukanlah Kardinal Angelo Scola dari Milan, jago yang sempat diunggulkan. ”Ya, tak apalah, sekurang-kurangnya ia mempunyai darah Italia,” kata seorang wanita Italia menghibur diri. Nada bicaranya seperti seorang fans bola yang jagonya kalah.

Dunia mengharap Paus Fransiskus akan membawa angin perubahan yang segar. Orang kiranya ingat akan catatan yang ditinggalkan Kardinal Italia terkenal, Carlo Martini. Sebelum kematiannya tahun lalu, Martini menyebut bahwa Gereja Katolik ini ketinggalan 200 tahun lamanya. Ritual Gereja megah dan meriah, tetapi berhadapan dengan zamannya, Gereja kehilangan nyali dan menjadi penakut.

Menurut Martini, Gereja lelah dan terseok-seok karena keberatan beban, seperti beban birokrasi yang melebihi proporsi dan beban liturgi yang melulu ritualistik belaka. Gereja harus bisa menemukan bara apinya lagi di tengah tumpukan abu yang menenggelamkannya.

Kardinal Bergoglio memilih nama Fransiskus untuk jabatan kepausannya. Fransiskus (1182-1226) adalah seorang kudus pembaru Gereja. Ia meninggalkan segala kekayaan dan kenikmatan dunia, lalu hidup sebagai orang miskin dan memberikan diri seluruhnya kepada kaum miskin. Semasa masih menjadi Uskup Agung di Buenos Aires, seperti Santo Fransiskus yang ingin diteladaninya, Kardinal Bergoglio adalah pembela hak asasi dan pengkritik yang bersuara keras terhadap keserakahan yang merusak ekologi. Hidupnya juga dekat dengan orang miskin. Ia tidak tinggal di istana uskup, tetapi di apartemen. Ke tempat kerja ia menggunakan kendaraan umum. Ia sungguh kardinal yang sederhana.

Belum lama ini, ia mengkritik warga Argentina yang seperti sudah kerasukan setan dari imperium uang, yang kiprahnya terlihat, misalnya, dalam perdagangan manusia, obat bius, dan korupsi. Itu semua akan membuahkan kekerasan, yang merusak keluarga. Dan, korbannya lebih-lebih adalah anak-anak dari keluarga miskin.

Paus Fransiskus kiranya akan terus memperjuangkan keprihatinannya tadi. Karena itu, semoga ia tak defensif mempertahankan hierarki kekuasaan yang selama ini mengurung pertahanan Gereja terhadap tantangan dari luar. Siapa tahu ia bisa menjadi ”Maradona Gereja”, yang berani mendobrak struktur Gereja yang terlalu defensif.

Dengan menyebut nama Maradona, kita kiranya boleh mengingat bagaimana situasi dunia bola pada waktu itu. Setelah era Pele dan Johan Cruyff, dunia bola lama sekali tenggelam dalam sistemnya yang defensif. Datanglah Piala Dunia 1986, dan Diego Maradona muncul menjadi dirigen yang mengobrak-abrik sistem itu. Ia bermain dengan eksplosif, lincah, dan gembira. Permainannya yang ofensif dan genius menunjukkan bahwa sistem defensif itu sudah usang dan keropos.

Waktu bermain di Napoli, Maradona juga menjadi dewa penyelamat. Napoli hanyalah kesebelasan yang pas-pasan kala itu. Namun, di tahun 1986/1987, Maradona dapat membawanya menjadi juara Liga Seri A untuk pertama kali. Malah Napoli juga meraih piala tingkat Eropa juga untuk pertama kalinya, ketika di tahun berikutnya meraih Piala UEFA.

Seperti Napoli telah mengambil Maradona dari Argentina, kini Vatikan juga mengambil Kardinal Bergoglio dari ”ujung dunia”. Diharapkan, ia juga bisa mendobrak kemacetan Gereja akibat sistem pertahanan yang hierarkis dan defensif. Ia akan dapat, karena kiranya ia yakin kekuatannya tidak berasal dari kekuasaan hierarki, tapi dari kegembiraan iman umatnya. Memerintah tanpa takut, punya nyali terhadap tantangan zaman, dan tidak terbebani beban birokrasi hierarkis yang berlebihan, inilah yang kiranya diharapkan dari Paus Fransiskus itu.

Argentina tidak hanya punya Maradona, tapi juga Lionel Messi. Messi memang belum pernah membawa Argentina jadi juara dunia. Namun, bersama Barcelona, Messi telah menunjukkan dominasinya di kancah Eropa dan Liga Champions. Dan sekarang diakui bahwa Liga Champions ini tak kalah arti dan mutunya dengan Piala Dunia atau Piala Eropa.

Lain dengan Maradona yang flamboyan, Messi adalah seorang pendiam dan pemalu. Tapi, kata Pep Guardiola, ”Ada bermacam-macam tipe pemimpin. Ketika situasi sedang sulit, Messi akan muncul. Dan ia mengerjakan dengan baik tugas kepemimpinan di saat sulit itu empat tahun lamanya. Kepemimpinannya adalah kepemimpinan yang diam. Dalam pergolakan, ia selalu maju ke depan.”

Dengan memilih Paus Fransiskus dari Argentina, Gereja Katolik kiranya kelihatan sedang membutuhkan kepemimpinan macam itu. Kepemimpinan yang tidak banyak bicara, yang berani bertindak, dan membuahkan gol di tengah segala kemacetan yang terjadi.

Karena itu, Messi, Maradona, dan Paus sesungguhnya bukanlah sekadar seruan kegembiraan dari para fans bola, melainkan juga sebuah seruan harapan: Semoga Paus dari Argentina ini dapat memimpin Gereja, seperti Messi dan Maradona memimpin bola.

Semoga Paus Fransiskus dapat kembali menyalakan kegembiraan beriman, menghapus ketakutan, mempunyai nyali untuk membuat terobosan, seperti Messi dan Maradona yang haus untuk membuat gol di dunia bola. (*)

Sumber: Kompas.Com

VIDEO KEHEBATAN MARADONA

Pilihan yang Tidak Diduga

Paus Fransiskus (tengah)
Oleh Simon Saragih

Kardinal Jorge Mario Bergoglio menjadi Paus Fransiskus? Tidak ada yang menduga. Namanya tidak masuk dalam ”papabili”, atau daftar kandidat unggulan untuk menjadi Paus baru pengganti Paus Emeritus Benediktus XVI.

Calon terdepan yang semula disebut-sebut adalah Uskup Agung Milan, Kardinal Angelo Scola. Dia dianggap bisa mengembalikan Italia ke dalam Takhta Suci Vatikan yang diduduki Paus non-Italia dalam 35 tahun terakhir ini.

Kalaupun ada keinginan agar kardinal non-Eropa yang terpilih, nama yang disebut antara lain Kardinal Odilo Scherer, Uskup Agung Sao Paulo (Brasil) atau Kardinal Sean O’Malley, Uskup Agung Boston, Amerika Serikat.

Dalam kultur gereja, sebenarnya tak ada yang perlu dikagetkan karena pemilihan Paus selalu dianggap buah dari lantunan ”Veni Creator Spiritus”. Sebelum diambil sumpah di Kapel Sistina, sebanyak 115 kardinal beriringan masuk kapel dengan menyanyikan lagu itu. Intinya memohon pendampingan Tuhan saat konklaf.

Namun, dari sisi manusiawinya, tetap ada rasa penasaran, bagaimana Bergoglio terpilih menjadi Paus?

Sebenarnya, mudah saja untuk menjelaskannya. Sejumlah pakar Vatikan mencatat, Bergoglio berada pada urutan kedua setelah Kardinal Joseph Ratzinger (Jerman) yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI pada konklaf 2005. Sejak itu, nama Bergoglio sudah ada dalam benak para kardinal.

Sikapnya yang antikorupsi, pendukung keadilan sosial, sikap kukuhnya soal doktrin konservatif, menarik perhatian warga. Ini menarik juga bagi para kardinal. Cara hidupnya yang sederhana, dan jauh dari sikap feodal juga menarik perhatian.

”Dia memberi sinyal kesederhanaan,” kata Kardinal Donald Wuerl, Uskup Agung Washington, AS. ”Dalam banyak hal, dia sangat bersahabat, tetapi kukuh. Dia amat menyenangkan dan hampir tanpa ada ketakutan, sekaligus sungguh bersikap seorang pastor dan peduli kepada orang lain. Itu cocok dengan tantangan sekarang ini,” kata Wuerl.

Kardinal Thomas Collins, Uskup Agung Toronto, Kanada, berpendapat sama. ”Dia peduli, menyenangkan. Kami mengapresiasi talenta yang dia miliki dan itu merupakan hadiah. Dia mencintai umatnya di Buenos Aires. Sejarah pelayanannya sudah terkenal,” kata Collins.

Saat makam malam bersama seusai konklaf di Rumah Santa Marta, Kardinal Timothy Dolan, Uskup Agung New York, mengenang Bergoglio bercanda. ”Semoga Tuhan memaafkan Anda semua,” ujar Bergoglio, kepada para kardinal yang telah memilihnya sebagai Paus.

Lima kali voting

Konlaf kali ini berlangsung lewat lima kali pemungutan suara. Voting pertama adalah pada Selasa 12 Maret. Empat kali pemungutan suara berlangsung pada Rabu (13/3), dua kali di pagi hari dan dua kali di petang hari.

Konklaf 2005 hanya melewati empat kali voting. Diskusi persiapan jelang konklaf saat itu juga hanya tiga hari. Kali ini, para kardinal menggelar kongregasi umum hingga delapan hari sebelum konklaf dimulai.

Dari sisi usia, tidak disangka jika Bergoglio, yang kehilangan satu paru-paru karena infeksi di masa muda, akan terpilih. Berbeda dengan para kardinal lain yang dijagokan, Bergoglio tidak pernah memegang jabatan apa pun di pemerintahan Vatikan, yang dikenal sebagai Kuria. Dia hanya tercatat menjadi anggota sejumlah kongregasi dan komite, seperti Kongregasi untuk para Imam, Dewan Kepausan untuk Keluarga, dan Komite Amerika Latin.

Namun, inilah misteri konklaf. Bergoglio sendiri memegang moto ”miserando atque eligendo”, yang berarti ”bersahaja tetapi terpilih” di Keuskupan Agung Buenos Aires. Sikapnya yang bersahaja berhasil membuatnya terpilih.

Sepak terjang Bergoglio memperbaiki reputasi gereja menjadi hal mengena. Uskup Agung Vienna, Austria, Kardinal Christoph Schoenborn, mengatakan, saat persiapan konklaf semua hal didiskusikan oleh para kardinal. Mulai dari keuangan bank Vatikan, manajemen yang kaku, komunikasi yang beku, dan oknum-oknum gereja yang terlibat skandal.

Ada keinginan tumbuh suasana baru dalam gereja dan Takhta Suci. Dalam konteks ini, Bergoglio menjadi perhitungan para kardinal.

Kardinal Timothy Dolan mengenang peristiwa konklaf. ”Saat perhitungan suara mencapai 77 suara untuk Bergoglio, para kardinal sudah bertepuk tangan. Saat semua suara selesai dihitung, kami bertepuk tangan lagi dengan gemuruh. Kami bertepuk tangan lagi dengan meriah ketika Bergoglio menyatakan ’mau menerima’”.

”Ada semacam kelegaan karena kami tahu memiliki gembala yang baik. Dia membumi, kukuh, sungguh tulus, dan bersahaja,” kata Dolan.

Pastor Kornelius Sipayung OFM Cap, ahli teologi lulusan Universitas Gregoriana, Roma, mengatakan, Paus baru ini akan membawa banyak perbaikan.

Pada hari Kamis, Kardinal Jean-Pierre Ricard, Uskup Agung Bordeaux, Perancis, mengenang betapa Bergoglio meninggalkan tradisi lama. Protokol di Takhta Suci Vatikan memperlakukan Paus seperti pemimpin tertinggi.

”Kami menyingkir memberinya jalan usai tampil di balkon Basilika dan diperkenalkan kepada khalayak. Namun, dia ingin berjalan bersama kami,” kata Ricard.

Para kolega merasa dekat dan senang. ”Bergoglio tidak suka memaksakan kehendak. Dia mendengar,” kata Sergio Rubin, penulis biografi Bergoglio.

Kelemahan yang dikaitkan dengannya adalah kediktatoran Argentina di era lalu. Teolog Italia, Massimo Faggioli, mengatakan, ”Jangan naif. Politik di Argentina bukan persoalan yang mudah.” Kediktatoran Argentina adalah warisan gelap negara. (AFP/AFP/REUTERS)

Sumber: Kompas.Com

Perangai dan Kalimat Paus Fransiskus

Paus Fransiskus bayar sendiri biaya menginap di hotel (AFP)
Dia ke resepsionis Hotel Casa Martha membayar sendiri biaya menginap, Kamis (14/3/2013), sehari setelah terpilih sebagai Paus. Dia memakai sepatu biasa dan jam biasa. Dia naik bus mini menuju makan malam bersama para kardinal yang memilihnya.

Paus Fransiskus dengan afeksi menyapa mereka. "Siapa yang bikin proses konklaf lama? Kiranya Tuhan memaafkan semua yang bikin kita capek. Malam ini saya ingin tidur tenang, dan firasat saya berkata kalian juga ingin tidur pulas sekarang kan?" seperti dikutip harian AS, The New York Times, edisi Jumat (15/3/2013).

Kardinal New York, Timothy Dolan, mengenang perbincangan itu untuk menggambarkan suasana seorang Paus yang menyenangkan.

Pada sebuah institusi kuno (lama), gaya khusus dan unik sering ditampilkan ke permukaan. Ada nuansa aristokratis dan elitis. Paus Emeritus Benediktus XVI (85), adalah seorang teolog yang memiliki rasa pada karpet merah, jubah kemegahan, dan homili bernuansa pemahaman tinggi pada teologi. Ini seperti menghidupkan selera kepausan dari abad-abad silam.

Paus Fransiskus sebaliknya, mengirimkan pesan kesahajaan. "Ini mengindikasikan di atas segalanya sebuah gaya gereja: kesederhanaan, kemiskinan dan kekukuhan," kata Pastor Antonio Spadaro, editor dari La Civilta, sebuah jurnal Jesuit yang dengan Kementerian Luar Negeri Vatikan.

Pada Kamis pagi setelah terpilih, Paus Fransiskus beranjak dari Vatikan dan secara pribadi berdoa pada Bunda Maria di Santa Maria Maggiore, sebuah basilika Romawi yang diperuntukkan pada Bunda Maria. Dia tentu juga berdoa di Kapel Santo Ignasius Loyola (1491-1556), pendiri Jesuit.

Pada hari itu, Kardinal Jean-Pierre Ricard (68), Uskup Agung Bordeaux, Perancis, mengenang tindakan Paus baru setelah menyapa masa dari balkon Basilika Santo Petrus. Dia beranjak bersama pada kardinal menuju tempat tinggal selama konklaf, Hotel Santa Martha.

"Ketika dia beranjak bersama kami ke Santa Martha, para staf menyuruh kami minggir, karena biasanya Paus menuruni lantai sendirian lewat lift. Akan tetapi dia bilang, 'Tidak, tidak, kita semua bisa turun bersama'. Jadi kami semua masuk ke dalam lift bersamanya."

"Ketika kami sudah tiba di lantai dasar, dia pun tidak mau terpisah. Mobil kepausan telah menantinya. 'Tidak, kita berangkat bersama-sama saja'. Lagi-lagi duduklah dia bersama kami di dalam sebuah bus. Mobil kepausan pun kosong. Saya kira inilah gaya Paus baru kita," kata Ricard.

Dalam homili saat misa di Kapel Sistine dengan para kardinal yang memilihnya pada hari Kamis, Fransiskus berbicara tentang keperluan pembangunan iman seperti cara Rasul Petrus membangun gereja di atas batu padas. "Jika kita tidak beranjak maju, berarti kita telah kaku," katanya, yang membuat para kardinal terperangah.

"Jika membangun rumah tidak di atas batu padas, hal yang terjadi serupa saja dengan anak-anak di pantai yang membentuk rumah-rumah di atas pasir. Semuanya ambruk," kata Fransiskus.

Kardinal Philippe Barbarin (62) dari Lyon, Perancis, mengenang Kardinal Bergoglio, kini menjabat Paus, saat ditanya mengapa tidak hadir bersama yang lain di Roma, saat Paus Benediktus XVI mengangkat sejumlah kardinal pada Desember 2012.

"Dia mengatakan Argentina sedang bergolak. Dia ingin tetap di sana, karena tidak tega meninggalkan negaranya. Bagi saya, ini adalah sebuah tindakan berarti. Dia ingin bersama umatnya," kata Kardinal dari Lyon ini.

Pada hari Sabtu (16/3/2013), dia berbicara dengan pada wartawan dari penjuru dunia. Dia menemui para wartawan dengan sambutan hangat. Ini kontras dengan citra Vatikan bernuansa "power" (kekuasaan). Dia senyum menyambut 3.000 wartawan dan hadirin lainnya di Vatikan. Dia menegaskan, agar gereja diperuntukkan bagi kaum pada.

Dia menjelaskan alasan mengapa memilih nama sebagai Paus Fransiskus. Ini karena dia terinspirasi oleh Fransiskus Asisi (1181-1226), seorang rohaniwan Italia abad pertengahan yang hidup miskin dan pendamba perdamaian. "Saya menginginkan gereja yang miskin menjadi milik orang miskin," katanya, dengan kalimat sarat makna sebagaimana diberitakan kantor berita Agence France Presse.

Gereja yang miskin, dalam hal ini kemungkinan merupakan penekannya tentang prioritas pendalam kehidupan spiritual. Namun dia tidak menjelaskan tuduhan terkait "Dirty War" di Argentina selama rezim kediktatoran Argentina (1976-1983).

Jorge Mario Bergoglio, kini Paus Fransiskus, pernah dituduh terlibat atau setidaknya berdiam diri, saat dua pastor Jesuit ditahan rezim. Namun dalam penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa Bergoglio mendekati rezim agar dua Jesuit itu dibebaskan, dan lima bulan kemudian mereka memang dibebaskan. Dua Jesuit ini terlibat kegiatan sebagai aktivis sosial saat itu.

Paus Fransiskus menjelaskan suasana emosional pada momen pemilihannya pada hari Rabu (13/3/2013) lalu. Ini sesuatu yang juga unik dari seorang Paus baru. Dia tidak beku dengan nuansa kerahasiaan, yang biasanya hanya tersimpan di dalam Vatikan sendiri. Dia menjelaskan ketika para kardinal memilihnya.

Saat itu dia duduk di dekat Kardinal Brazil Claudio Hummes (78). Kardinal Hummes menyemangatinya saat jelas bahwa Bergoglio terpilih sebagai Paus ke-266. Fransiskus mengatakan dia sempat "deg-degan", ketika suara sudah terpenuhi untuk pemilihannya sebagai Paus baru.

"Dia memeluk saya dan mencium saya, seraya mengatakan agar saya jangan melupakan kaum papa. Dan kalimat itu tertanam di sini," kata Paus Fransiskus menunjuk kepalanya.

"Saya langsung terpikir akan Fransiskus Asisi, seorang yang hidup dina, pencinta perdamaian, dan mencintai semua ciptaan (lingkungan hidup). Sekarang hubungan kita dengan lingkungan sedang tidak berjalan baik," katanya.

Dia juga mengingat Fransiskus Asisi akan perang, yang pernah dia tinggalkan dan memilih perdamaian.

Para kardinal sempat bertanya, apakah nama Fransiskus yang dia pakai merujuk pada Santo Fransiskus de Sales (1567-1622). Nama ini pernah menjabat sebagai uskup di Geneva, Swiss. Di masa hidupnya dia gencar mendorong kembalinya pemeluk Protestan ke Katolik, yang ditinggalkan karena krisis di kepausan. De Sales adalah orang yang ingin memperbaiki gereja dari dalam.

Dia juga ditanyai, apakah namanya merujuk pada salah satu pendiri Ordo Jesuit, asal Ordonya, Fransiskus Xaverius (1506-1552). Ada canda dari sejumlah kardinal yang menyarankan penggunaan nama sebagai Hadrian VI, meniru seorang Paus tokoh reformis gereja, sebagai kebutuhan akan perlunya pembersihan sedikit keadaan acak-acakan di birokrasi Vatikan.

Beberapa menyarankan dia menggunakan saja nama sebagai Paus Klemen XV, melanjutkan nama Paus Klemen XIV, yang pernah menekan Ordo Jesuit pada tahun 1773.

Dia mengklarifikasi bahwa nama yang dia usung adalah Fransiskus Asisi. Almarhum Paus Yohanes Paulus II sendiri pernah menyatakan, Santo Fransiskus Asisi sebagai ikon pencinta lingkungan hidup. Fransiskus Asisi adalah orang yang hidup miskin dan meninggalkan keluarganya yang kaya-raya demi ketuhanan.

Dalam perkembangan lain, Vatikan pada hari Sabtu kemarin menyatakan untuk sementara Paus Fransiskus telah mengganti semua Kuria Roma, komposisi hierarki di Tahta Suci Vatikan, yang mendapatkan banyak kritikan. "Bapak Suci menginginkan masa refleksi, doa, dan dialog sebelum nominasi dan konfirmasi definitif berlangsung kelak," demikian pernyataan Vatikan.

Marco Politi, seorang analis dan penulis biografi Paus Emeritus Benediktus XVI, mengatakan, adalah sesuatu yang jelas bahwa Paus Fransiskus, pemilik kekuasaan absolut, ingin memimpin dengan gaya merangkul dan bahu membahu bersama para petinggi gereja.

"Gereja akan dipimpin Paus bersama dengan para uskup. Ini yang akan kita lihat dalam bulan-bulan dan tahun-tahun ke depan," kata Politi, yang mengindikasikan kepausan sekarang akan membuka ruang konsultasi dan dialog.

Dalam bahasa Italia yang unik, dia meminta para pemimpin Katolik memancarkan kemuliaan dan melakukan pembaruan spiritual gereja hingga akhir hayat, atau berisiko menjadi tidak lebih dari sekadar sebuah karitas tanpa fondasi spiritual. Gereja telah ditandai dengan sejumlah skandal yang dilakukan oknum-oknum gereja. Makin banyak fenomena penurunan spiritual di internal dan juga di kalangan umatnya.

Kepada para wartawan, dia meminta agar gereja tidak dipandang sebagai entitas politik semata tetapi juga sebagai institusi spiritual. Para wartawan juga diminta melihat esensi institusi ini, dengan segala keagungannya dan mungkin juga kesalahan-kesalahannya. Dengan kata lain para wartawan secara implisit diminta memberitakan Tahta Suci Vatikan, dengan cara yang sedikit berbeda seperti saat memberitakan pemerintahan negara biasa. Pemilihan paus misalnya, jelas sangat berbeda dengan pemilihan pemerintahan di banyak negara.

"Gereja eksis untuk mengkomunikasikan hal ini, kebenaran, ketuhanan dan personanya yang agung. Kita diminta bukan mengomunikasikan diri kita tetapi mengomunikasikan trio mendasar ini," kata Paus Fransiskus.

Agaknya Paus Fransiskus meminta, agar ada rasa khusus yang harus menjadi pegangan saat menuliskan dan memberitakan Tahta Suci Vatikan, yang juga berdiri sebagai sebuah negara tetapi sama sekali tidak serupa dengan pemerintahan umumnya. Para wartawan memiliki apresiasi positif terhadap Paus baru ini. "Simpel, simpati, sangat menyentuh," demikian Iacopo Scaramuzzi, seorang koresponden kantor berita Italia TMNews yang bertugas di Vatikan, saat melukiskan suasana perasaannya.

Alessandro Forlani, wartawan radio Italia, RAI, juga memiliki kesan baik soal Paus Fransiskus. "Dia memiliki rasa dalam berkomunikasi. Ada semangat Santo Fransiskus Asisi dalam dirinya. Saya meminta agar saya, istri dan anak saya di rumah diberkati. Dia bahkan mengatakan, berkat juga diberikan kepada hewan peliharaan di rumah saya," ucap Forlani, mengingatkannya pada Santo Fransiskus Asisi, yang juga mencintai alam, tumbuh-tumbuhan dan hewan. (SIMON SARAGIH). Sumber: REUTERS/AP/AFP

Sumber: Kompas.Com

Amelia Menolak Cinta Jorge

Paus Fransiskus (AFP)
Terpilih menjadi pemimpin umat Katolik sedunia, kisah kehidupan Paus Fransiskus satu per satu mulai mencuat ke publik. Salah satunya soal kisah cintanya di masa bocah yang membawanya menjadi seorang pastor dan akhirnya terpilih menjadi Paus.

"Jika saya tidak menikahimu, saya akan menjadi pastor," demikian kata-kata Paus Fransiskus yang bernama asli Jorge Mario Bergoglio, dalam surat cintanya kepada pujaan hatinya sekitar 60 tahun lalu, seperti dilansir news.com.au, Jumat (15/3/2013).

Surat cinta tersebut ditujukan kepada seorang wanita bernama Amalia dan dikirimkan ketika Jorge Bergoglio berusia 10-12 tahun. Cintanya ditolak, Jorge Bergoglio tidak bisa menikahi Amalia. Dia pun memilih jadi seorang pastor, uskup agung, kardinal dan akhirnya Paus Fransiskus.

Saat ini ketika Jorge Mario Bergoglio menjadi perhatian dunia karena terpilih sebagai Paus ke-266, sosok Amalia pun muncul. Wanita yang sudah berambut putih ini menceritakan kisah masa lalunya dengan Jorge Bergoglio muda ketika keduanya sama-sama menghabiskan masa kecil di wilayah Flores, Argentina.

"Dalam suratnya, dia (Paus Fransiskus) menggambar sebuah rumah kecil dengan atap berwarna merah dan dinding berwarna putih, dan dia menuliskan, 'rumah ini akan aku beli ketika kita menikah'," kenang Amalia, sembari menuturkan bahwa saat kecil, mereka berdua kerap berjalan menelusuri trotoar di lingkungan tempat tinggal mereka.

Namun sayang surat cinta tersebut dianggap serius oleh orangtua Amalia yang sangat konservatif. Mereka tidak ingin putrinya terkena skandal karena menerima surat cinta dari seorang bocah laki-laki. "Saya tidak menyembunyikan apa-apa (kepada orangtua), itu hanyalah kelakuan anak kecil," kata Amalia kepada wartawan yang menemuinya di Buenos Aires.

Hingga akhirnya, orangtua Amalia merobek surat tersebut dan berusaha menjauhkan putrinya dari Jorge Bergoglio muda. Kisah cinta keduanya pun berakhir, bahkan sebelum sempat dimulai.  Hari Rabu 14 Maret 2013), Kardinal  Jorge Mario Bergoglio yang kini berusia 76 tahun terpilih sebagai paus baru, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri 28 Februari lalu. Paus Fransiskus tercatat sebagai Paus pertama dari Benua Amerika.

Selain soal kisah cinta monyet itu,  Jorge Mario Bergoglio kecil dikenal bandel bahkan mendapat julukan 'setan kecil' dari guru dan suster yang mendidiknya.
Jorge Bergoglio kecil bersekolah di SD De la Misericordia, Buenos Aires. Saat itu, dia kerap dihukum, mulai dari harus naik-turun tangga sekolah hingga dihukum membaca tabel perkalian dengan keras-keras.

"Dia seperti setan, setan kecil, sangat nakal, seperti anak laki-laki kebanyakan. Siapa yang menyangka kalau dia akan menjadi Paus!" tutur bekas teman satu sekolah Jorge Bergoglio, Martha Rabino yang kini menjadi biarawati, mengenang kelakuan Jorge Bergoglio kecil sambil tersenyum.

Keluarga Jorge Bergoglio yang tinggal di wilayah Flores, Argentina dikenal religius dan rutin beribadah.  "Keluarga mereka mengikuti misa setiap hari Minggu. Ibunya sangat religius dan taat beribadah. Dia (Jorge Bergoglio-red) banyak belajar dari ibunya," tutur Rabino. Masih menurut Rabino, semasa kecil Bergoglio memiliki sejumlah suster yang mendidiknya dengan baik dan menjadi orang penting dalam hidupnya. Salah satunya adalah Suster Rosa yang merupakan guru pertamanya.

Bergoglio rutin mengunjungi Suster Rosa bahkan setelah dia telah menjadi seorang Kardinal Argentina. Terakhir kali, dia mengunjungi Suster Rosa ketika dia meninggal pada usia 101 tahun, pada tahun 2012 lalu.

"Dia gemar bertanya kepada Suster Rosa mengenai seperti apa dirinya ketika masih kecil, dan sang suster yang meski sudah berumur lanjut namun masih mampu berbicara jelas, akan menjawab: 'Kamu seperti setan. Apakah kamu tidak bisa menjadi lebih baik?' Dan dia (Bergoglio) akan mengerang sambil tertawa," kenang Rabino. Selain Suster Rosa, lanjut Rabino, masih ada satu suster lagi yang memberikan pengaruh besar dalam hidupnya, yakni Suster Dolores, yang merupakan guru katekisasi, pengajaran agama Nasrani. Ketika Suster Dolores meninggal dunia dua tahun lalu, Bergoglio menangis semalaman.

"Dia (Suster Dolores) merupakan salah satu suster yang sangat dia sayangi. Dia adalah guru katekisasinya ketika Bergoglio berusia 8 tahun dan Bergoglio tidak pernah melupakannya," ucap Rabino.(dtc/afp)


Sumber: Tribun Manado 16 Maret 2013 hal 1

Paus Fransiskus, Harapan akan Pembaruan

Paus Fransiskus
Oleh Kornelius Sipayung, Lic.S.Th.

Kardinal Argentina Jorge Mario Borgoglio menjadi Paus baru dari Ordo Serikat Jesuit (SJ) dengan mengambil nama Fransiskus. Ini merujuk pada Fransiskus dari Assisi. Paus dengan spirit dan semangat Jesuit tetapi dalam hidupnya berjiwa Fransiskan.

Dia mengasosiasikan diri dengan Santo dari Asisi yang begitu dicintai warga Italia dan dikenal sebagai simbol perdamaian, kemiskinan, dan kesederhanaan. Santo Fransiskus (1181-1226) dilahirkan dari sebuah keluarga kaya raya tetapi meninggalkan kekayaan dan kelak mendirikan ordo biarawan bernama Fransiskan.

Santo yang hidup di abad pertengahan ini di masa hidupnya rutin mengunjungi pedesaan untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang dalam bahasa yang sangat sederhana. Dia kelak menjadi nama pelindung negara Italia, tokoh pemerhati kaum miskin, pendamba "Lady of Poverty" (hidup miskin), dan pelindung lingkungan hidup.

Kini Gereja dan dunia mendambakan seorang Paus yang dapat membawa pembaruan. Sungguh suatu karya Roh Kudus bahwa Paus Fransiskus terpilih di tengah kebutuhan pembaruan.

Dalam sejarah, ada masa di mana Gereja mengalami kemunduran dan karena itu pernah pula ada gerakan dan tuntutan pembaruan. Tidak ada pembaharuan tanpa sebab-sebab yang mendahuluinya.

Jika kita mendengar kata pembaruan atau reformasi, sering pikiran kita kembali mengingat masa reformasi protestantisme. Barangkali sedikitnya ada kaitan antara situasi Gereja zaman ini dengan situasi Gereja pada zaman sebelum munculnya gerakan reformasi protestan.

Ada empat alasan mengapa muncul reformasi protestantisme. Pertama, tumbuh kesadaran nasionalisme dari sejumlah bangsa di benua Eropa saat itu. Pemerintah lokal berkepentingan memungut pajak demi kepentingan dan tujuan kenegaraan. Kepausan dipandang sebagai kekuatan ekstra-nasional yang merintangi terbentuknya bangsa dan negara. Perpajakan digalakkan Kepausan yang berdomisili di Avignon. Ini dianggap sebagai beban yang diletakkan atas bahu negara-negara.

Kedua, ada faktor Ketidakpuasan dan kekacauan di bidang ekonomi. Pada kurun waktu reformasi masa silam itu, sistem ekonomi yang berlaku adalah kapitalisme. Teknologi baru di bidang perkapalan, pertambangan, percetakan telah mendorong pembangunan ekonomi. Namun tatanan perekonomian seperti itu menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat. Muncul banyak orang miskin yang terpinggir karena tidak sanggup bersaing dalam arus kapitalisme.

Faktor ketiga adalah kelemahan Kepausan. Suksesi dalam rangka kepausan mencapai ambang kejenuhan. Muncul pada masa ini tiga paus saat bersamaan. Misalnya ada paus tandingan. Pada masa ini para paus menaruh perhatian pada gerakan-gerakan seni yang sedang marak, sehingga tidak bersikap seimbang. Mereka sibuk mengurus barang-barang atau karya seni.

Hal yang lebih buruk lagi adalah kualitas dan moral para pemegang hirarki dalam pemerintahan Kuria Roma, seperti kehidupan mewah, nepotisme, materialisme seperti suka mengoleksi emas dan hal-hal lain berbau duniawi. Ada kelunturan ikatan moral dan melemahnya nilai-nilai keagamaan. Ada dekadensi moral yang menjadi salah satu tragedi. Pendangkalan religius terjadi di kalangan para klerus.

Keempat, keadaan Gereja Roma sangat memprihatinkan. Dosa Gereja terbesar adalah minat pada materi. Gereja menagih pajak untuk membiayai hidup para uskup. Pendidikan para imam memprihatinkan, dan penghayatan hukum selibat menjadi longgar. Praktik keagamaan terlalu menekankan penghormatan kepada orang kudus, reliqui, ziarah, dan indulgensi.

Krisis dalam Gereja Kristus pada abad XVI disebabkan oleh penyelewengan yang dilakukan oleh hierarki Gereja. Hal ini diakui oleh Paus Adrianus VI yang menyatakan bahwa krisis terutama disebabkan oleh korupsi dan kolusi yang merasuki Kuria Roma.

Protestantisme ingin menghidupkan kembali arti kekristenan yang sesungguhnya. Martin Luther menuntut suatu transformasi. Dia menolak sejumlah hal yang bagi Gereja katolik dipandang sangat hakiki seperti primat paus, yustifikasi yang dimengerti dalam artian tradisional, imamat orang beriman, kurban ekaristi.

Luther akhirnya meninggalkan Gereja dan membentuk Gereja baru. Dalam Gereja katolik sebelum Luther muncul, sebenarnya sudah ada gerakan spontan untuk mengadakan reformasi. Ada kehendak kuat yang bertujuan untuk revitalisasi keagamaan dan kelembagaan Gereja. Ini diarahkan pada pemerintahan Kuria Roma yang pernah berkutat dalam politik dengan norma-norma yang mulai diabaikan.

Reformasi dan pembaruan itu dapat dilihat dari munculnya persekutuan kaum awam yang melakukan amal kasih kepada kaum miskin. Salah satu persekutuan yang menonjol adalah persekutuan yang diprakarsai oleh Ettore Vernazza, bernama serikat Cinta Ilahi yang tersebar di Geneva, Swiss, pada Abad XV. Ada juga pembenahan hidup dari Tarekat Hidup Bakti.

Dalam kurun waktu ini kita juga akan melihat bertambahnya komunitas para biarawan dengan tujuan revitalisasi. Ini menonjol dari dua tarekat, yakni Jesuit (didirikan Ignasius Loyola) dan Fransiskan (Fransiskus Asisi).

Serikat Jesuit merupakan Ordo pertama yang tidak menggunakan pakaian khas dan tidak berdoa ibadat harian secara bersama-sama. Ini agar anggotanya dapat bergerak secara leluasa. Semboyannya adalah Ad maiorem Dei Gloriam yang artinya demi lebih besarnya Kemuliaan Allah.

Pada zaman Kontra Reformasi, para Jesuit membela iman dan umat katolik. Jesuit ikut memperbaharui semangat umat, mendidik kader awam di sekolah dan universitas yang bermutu serta mengawali zaman misi baru di seluruh dunia. Banyak Jesuit memajukan berbagai cabang ilmu pengetahuan, mengembangkan teologi, dan menjadi penasihat beberapa raja.

Konstitusi Serikat Jesuit dirancang dan disetujui di Roma oleh Paus Paulus III pada tahun 1540. Jesuit menempatkan diri mereka di bawah pengaturan Paus dan berjanji akan mematuhi Paus sepenuhnya.

Pengajaran, pengakuan dosa, kotbah, dan kerja amal adalah bidang-bidang yang dipegang ordo baru ini, termasuk misi-misi ke luar negeri seperti tahun 1541, di mana Fransiskus Xaverius dan dua temannya meninggalkan Lisbon untuk pergi dan menginjil di Timur Jauh.

Tahun 1546, karir politik Ordo Jesuit dimulai ketika Paus memilih Lainez dan Salmeron (dari Jesuit) untuk mewakilinya di Konsili Trente dengan posisi sebagai "ahli teologia Paus".

Semangat yang menyala-nyala semakin dibangkitkan seiring dengan berjalannya waktu. Selain misi-misi luar negeri, aktivitas para pastor Jesuit mulai diarahkan pada penyelamatan jiwa-jiwa, khususnya di antara orang-orang yang berkuasa.

Politik adalah bidang utama mereka. Semua usaha dari para "pengarah" ini difokuskan kepada satu tujuan, yaitu seluruh dunia agar tunduk kepada Paus. Untuk mewujudkan hal ini "para kepala" (orang-orang yang memegang kekuasaan penting) harus ditaklukkan terlebih dahulu secara iman.

Ada dua senjata penting guna merealisasikan ide tersebut. Para Jesuit harus menjadi imam penasihat bagi orang-orang penting dan penasihat pendidikan bagi anak-anak orang-orang penting tersebut. Demikianlah kiranya para Jesuit mencoba membarui Gereja dari dalam. Mereka mencoba memperbaiki pendidikan para imam, dan menjadi penasihat tokoh-tokoh masyarakat kelas atas dengan pandangan teologi.

Semangat Kemiskinan


Di samping Para Jesuit, ada Fransiskus Asisi. Fransiskus ini adalah orang kudus yang terkenal dengan kesetiaan untuk menjalani kaul dan kemiskinan.

Ia sebenarnya anak seorang kaya di kota Asisi. Ayahnya, Pietro Bernadone merupakan saudagar kaya. Masa muda Fransiskus dilaluinya dengan berfoya-foya.

Ibunya, Donna Pica, prihatin melihat sifat anaknya dan selalu berdoa agar Fransiskus dapat menjadi anak Allah yang setia. Suatu hari perang meletus. Fransiskus hendak ikut serta dalam perang. Fransiskus berniat berangkat perang ke kota Apulia untuk membuktikan kehebatannya.

Di tengah perjalanannya, Fransiskus bermimpi. Ia mendengar suara, "Fransiskus, hendak ke mana kamu?" Ia menjawab "Aku hendak ke Apulia, aku ingin menjadi ksatria."

Lalu suara lain terdengar lagi, "Fransiskus, coba jawab pertanyaanku. Siapa yang dapat berbuat jauh lebih banyak dan jauh lebih besar, Sang Tuan atau hamba?" Fransiskus tanpa ragu menjawab, "Tentu saja Sang Tuan."

"Akan tetapi ketahuilah, selama ini kau hanya mengabdi kepada 'hamba'. Bukankah yang empunya segala-galanya adalah Sang Tuan? Mengapa engkau tidak mengabdi kepada-Nya?"

Fransiskus tersentak. Hati kecilnya berbisik, itu adalah suara Tuhan. Fransiskus segera bersujud dan mengatakan, "Tuhanku! Aku tahu Engkaulah yang berbicara kepadaku. Ya Tuhan, apa kehendak-Mu terhadap diriku? Tunjukkanlah, aku akan melaksanakannya." Tuhan menjawab dalam mimpinya, "Pulanglah. Kelak kau akan Kuberitahu."

Tubuhnya bergetar mengingat mimpinya. Fransiskus pun bergegas pulang. Sejak saat itu tingkah laku Fransiskus amat berubah. Ia tidak pernah lagi hidup bermewah-mewah. Malah ia banyak sekali memberi bantuan bagi Gereja dan kaum miskin dari kekayaan orangtua.

Sang ayah amat berang melihat perilaku anaknya. Sampai akhirnya Fransiskus meninggalkan rumah ayahnya. Ia bertekad berkelana mewartakan kabar gembira. Sejak saat itu Fransiskus bersumpah menjadikan kemiskinan sebagai "mempelainya".

Harta yang dimilikinya hanya jubah kasar yang menempel di tubuhnya. Ia banyak melayani kaum papa, terutama orang-orang kusta. Karyanya kemudian diketahui banyak orang. Bahkan terdapat beberapa orang yang kemudian menjadi pengikutnya.

Fransiskus membangun diri serta rumahnya, yaitu ordonya di atas wadas yang kokoh, yaitu kerendahan hati dan kemiskinan Putra Allah yang amat besar. Maka ia menamai ordonya Ordo Saudara Hina Dina.

Pada Tahun 1205 (musim gugur) Fransiskus mendapat "perintah" di San Damiano. "Fransiskus, pergilah dan perbaikilah gerejaKu yang nyaris roboh ini," demikian suara yang dia dengar lagi pada tahun 1206 (Januari atau Februari) di sebuah gereja yang runtuh di San Damiano.

Ayahnya gelisah dan berang dengan perangai Fransiskus. Dalam sebuah peristiwa di depan Uskup setempat di Asisi, Bernardone menuntut supaya Fransiskus mengembalikan semua harta yang telah diberikannya.

Fransiskus menanggapi dengan menelanjangi diri mengembalikan semua pakaian yang melekat di badannya kepada bapanya. Uskup Assisi menutupi ransiskus dengan mantelnya.

Mulai saat itu Fransiskus dengan mengenakan pakaian pertapa sibuk merawat penderita lepra di Gubbio. Kemudian dia kembali ke Assisi dan membangun kembali Gereja San Damiano. Dia juga memperbaiki Gereja St Petrus dan Gereja Ratu Para Malaikat di Portiuncula.

Pada satu perayaan Liturgi Fransiskus mendengar Injil Mateus tentang kemiskinan yang dibacakan saat ritual di sebuah gereja. Ia mengambil petikan Injil soal kemiskinan itu sebagai pedoman hidup.

Dalam hidupnya Fransiskus lebih suka melakukan pendekatan sosial, ketimbang melakukan pertempuran doktrinal. Ini menjadi hal paling penting kelak yang dilakukan oleh gereja.

Sebagai pejuang kaum miskin dan yang paling rentan, dia membawa pesan cinta dan kasih sayang. Ini mengilhami dunia selama lebih dari 2.000 tahun, bahwa kita melihat wajah Tuhan.

Gereja kini yang bergejolak


Sebagai Paus ke-266, Paus Fransiskus mewarisi berbagai gejolak yang kini tengah mengguncang Gereja. Paus Fransiskus sendiri menyebut kata tremor (guncangan) sehari setelah ia terpilih. Ini tampaknya merujuk pada beberapa skandal. Ada sedikit retakan, ada masalah sinergi, serta menurunnya jumlah umat di beberapa bagian dunia.

Zaman yang semakin modern dan pengaruh sekularisme turut mempengaruhi gaya hidup para imam. Ada oknum gereja yang ikut arus zaman. Ada oknum gereja dan para klerus ingin mendapat kedudukan dan tempat terhormat dalam Gereja. Ini memunculkan persaingan, melahirkan sikap yang kurang rendah hati, dan kurang gigih dalam pelayanan.

Ada para imam yang lebih menaruh perhatian pada minat dari pada menjalankan kebutuhan pastoral. Ini semua jadi tantangan Gereja pada zaman ini.

Kini, muncul Paus dari keluarga Jesuit dengan semangat Fransiskan. Saya memahami bahwa Paus yang mengambil nama Fransiskus ini ingin membarui Gereja dari dua arah. Sebagai Jesuit beliau akan memperbaiki Gereja dari atas, memperbaiki kuria dengan segala kekurangannya, dan ini akan dia lakukan dengan pendekatan sosial akar rumput gaya Fransiskus.

Inilah Paus dari Ordo Jesuit dengan semangat Fransiskan.

=============
Kornelius Sipayung, Lic.S.Th, alumnus Universitas Gregoriana, Roma, Italia. Penulis adalah dosen teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Santo Yohanes Pematangsiantar, serta seorang pastor dari Ordo Saudara Dina Kapusin.


Sumber: Kompas.Com

Umat Katolik Argentina Luapkan Kegembiraan

Paus Fransiskus
UMAT Katolik Argentina yang memenuhi Katedral Buenos Aires, Rabu (13/3/2013) malam waktu setempat, meluapkan kegembiraannya setelah Kardinal Jorge Bergoglio terpilih menjadi paus baru dengan gelar Fransiskus.

Saat mengetahui kabar dari Vatikan soal terpilihnya Bergoglio, sekitar 200 orang yang hadir di Katedral Metropolitan langsung memberikan sambutan meriah.

Tak lama setelah kabar itu muncul, jumlah umat dan media di sekitar katedral tempat Fransiskus memimpin misa itu terus bertambah.

"Panjang umur Paus! Fransiskus! Fransiskus!" umat yang bergembira mengelu-elukan pemimpin baru mereka.

"Saya sangat bahagia. Saya juga sangat terkejut karena saya tak menyangka ini," kata seorang warga, Mariano Solis (33).

"Saat kami melihat asap putih di televisi, kami mengira Kardinal Brasil atau Italia yang terpilih," ujar Solis.

"Saya sebenarnya akan pergi ke bioskop dengan seorang teman. Namun, setelah kami mendengar kabar ini, kami langsung menuju katedral dan bergembira bersama," tambah Solis.

Solis kemudian bergabung dengan ratusan orang lainnya yang melakukan doa rosario untuk mendoakan Paus Fransiskus. Umat Katolik Argentina saling berpelukan sambil berbagi tangis bahagia.

"Saya sangat terkejut. Saya tak menyangka mereka memilih Bergoglio. Dia adalah paus pertama dari Amerika Latin, dan ini akan menjadi keuntungan besar bagi kawasan ini," kata Gaston Hall (37), seorang penerbit yang mengaku sedang belajar menjadi seorang Katolik.

Tak hanya umat Katolik Argentina yang terkejut, seluruh Gereja Katolik negeri itu juga terkejut dengan terpilihnya Bergoglio.

"Bergoglio berangkat ke Vatikan dengan damai untuk ikut dalam konklaf yang memilih paus baru. Dia bahkan sudah memiliki tiket pulang pekan depan," kata juru bicara Gereja Katolik Argentina, Federico Wals.

Gereja Katolik Argentina, lanjut Wals, yakin Bergoglio tak akan terpilih sehingga sudah mencantumkan namanya untuk memimpin misa pada perayaan Paskah nanti.

Sementara itu, Presiden Argentina Cristina Kirchner menyambut baik terpilihnya Bergoglio sebagai paus pertama dari Amerika Latin dan mendoakan agar Paus Fransiskus I sukses memimpin umat Katolik.

"Kami berharap beliau bisa bertugas dengan baik. Dengan tanggung jawab yang sangat besar ini, dia bisa memberikan keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan perdamaian di antara umat manusia," kata Kirchner.

Kirchner sendiri adalah penganut Katolik, tetapi dia tak memiliki hubungan yang baik dengan kepausan.

Kini, Paus Fransiskus I, putra seorang pekerja kereta api Argentina, menjadi anggota Jesuit pertama yang akan memimpin 1,2 miliar umat Katolik sedunia. *

Sumber: Kompas.Com

Paus Fransiskus Hanya Punya Satu Paru

Paus Fransiskus (AFP)
Paus Fransiskus boleh disebut sebagai paus pionir dalam berbagai hal. Ia adalah yang pertama kali memakai nama Fransiskus, ia paus pertama dari Amerika Latin, dan paus pertama yang hidup bertahun-tahun hanya dengan satu paru.

Seperti dikutip oleh Associated Press, paus ke-266 ini mengalami pengangkatan organ paru ketika ia masih remaja, diduga kuat karena infeksi. Pada masa itu mungkin pengobatan antibiotik belum seefektif sekarang, terutama dalam penanganan infeksi.

Untuk melindungi pasien dari infeksi yang lebih parah, dokter mungkin memutuskan mengangkat parunya agar infeksi tidak menyebar.

"Mungkin saat itu infeksinya sangat berat, atau mungkin sudah ada abses sehingga terjadi perdarahan," kata Dr John Belperio, pakar paru dari The David Geffen School of Medicine di UCLA, AS.

"Jika ada perdarahan berat di paru, hal utama yang harus dilakukan adalah melakukan reseksi atau pengambilan paru untuk menghentikan perdarahan," imbuhnya.

Menurut Dr Ronald Crystal, pakar paru dari New York Presbyterian, ada banyak bakteri yang bisa menyebabkan infeksi dan kerusakan serius pada jaringan paru. Beberapa strain bakteri seperti Staphylococci adalah yang paling merusak dan bisa memakan organ halus sehingga dokter tak punya pilihan lain selain mengangkat jaringan yang rusak agar kerusakan tidak menyebar.

Penyakit radang paru atau pneumonia, jamur, atau tuberkulosis juga bisa menyebabkan infeksi awal yang jika tidak dikendalikan bisa berakhir pada pengangkatan organ paru.

Kemungkinan lain dari dilakukannya operasi pengangkatan paru adalah cacat bawaan sejak lahir. Hal itu menyebabkan ketidaknormalan pada jaringan paru atau pertumbuhan pembuluh darah yang tidak normal di kantong udara dan akan menghambat pernapasan.

Untungnya, paru memiliki kelebihan kapasitas sehingga kehilangan satu paru tidak akan berdampak terlalu serius bagi kesehatan.

Hambatan yang bisa dihadapi Paus Fransiskus I adalah ia memiliki fungsi paru yang lebih rendah dibanding orang yang memiliki dua paru. Ini berarti ia lebih rentan mengalami komplikasi influenza atau radang paru.

Tetapi, menurut Belperio, Paus Fransiskus yang saat ini sudah berusia 76 tahun tersebut relatif sehat dan operasi pengangkatan paru tampaknya tidak berdampak besar pada kemampuannya melakukan aktivitas rutin.

Dalam penelitian terhadap hewan percobaan diketahui bahwa paru punya kemampuan meregenerasi dan penelitian awal pada anak-anak menunjukkan, mereka mampu menumbuhkan kembali jaringan paru yang hilang.

"Selama paus bisa melakukan tindakan pencegahan terhadap infeksi, antara lain disuntik vaksin melawan pneumonia dan influenza secara rutin, tak ada alasan ia gampang sakit," kata Crystal.

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes