Angin sejuk dari Bandung

TATAPLAH Jawa dengan matamu, di sanalah kau lihat Indonesia sebenar-benarnya. Tengoklah Jakarta, begitulah potret nyata Nusantara. Pulau Jawa dan Kota Jakarta adalah segala-galanya di negeri ini. Di sanalah pusatnya. Sumbu utamanya bertengger di puncak Monas. Dari kemegahan hingga jerit tangis kemiskinan. Dari prestasi maha tinggi hingga kisah nista tentang anak bangsa.
Jakarta selalu terkenang, Pulau Jawa mengisi relung hati kita karena memang ke sanalah seluruh derap langkah bernama pembangunan menjadi titik ukur dan titik pijak untuk menilai-menimbang Indonesia. Jawa pulau impian anak Merah Putih. Jakartalah dermaga idaman putra-putri Ibu Pertiwi. Selalu dan selalu ke sana mereka pergi berbondong-bondong--dari seluruh pelosok.
Begitulah cara bangsa ini membangun dirinya sejak awal kemerdekaan. Pembangunan sentralistik yang masih menjadi karakter utama meski otonomi daerah sudah dimaklumatkan sejak lima tahun silam. Kita suka terpusat. Serba Jawa-Jakarta sentris, termasuk dalam bidang olahraga prestasi.
Maka Bambang Wijanarko, pelatih taekwondo Propinsi Jawa Tengah (Jateng) berkata bijak mengenai prestasi atlet NTT dan Papua pada kejuaraan nasional (kejurnas) taekwondo LG Cup V/2005 di Cibubur-Jakarta Timur medio Maret 2005. "Angin sejuk mulai berembus dari Timur," katanya mengenai sukses NTT menempati ranking lima nasional kejurnas itu setelah Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Papua. Dalam kejurnas tanggal 14-16 Maret 2005, NTT meraih satu medali emas dan tiga perunggu.
Menurut Bambang, munculnya peraih medali emas kejurnas dari daerah luar Jawa sangat positif karena mencerminkan pemerataan prestasi. Atlet terbaik tidak semata-mata tumpuk di Pulau Jawa. "Saya kagum dengan kemajuan Papua dan NTT. Mereka mulai menampakkan prestasi di PON XVI tahun lalu dan ini hasil yang wajar buat mereka," kata Dasantyo Prihadi, pelatih taekwondo Jawa Barat, ketika itu.
Bambang dan Prihadi pasti kembali memuji dan bangga ketika mengetahui atlet taekwondo NTT menempati ranking dua (runner-up) pada kejurnas mahasiswa yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung (ITB) 6-7 Mei 2005. Hasil spektakuler dicatat tujuh taekwondoin NTT yang membawa pulang tiga medali emas, dua perak dan dua medali perunggu. NTT berada di urutan kedua setelah Sekolah Tinggi Widyatama Bandung. Meski berlabel kejurnas mahasiswa-- para taekwondoin yang mengikuti even ini merupakan atlet-atlet terbaik di daerahnya masing-masing. Dan, Jawa Barat merupakan salah satu gudang atlet taekwondo nasional selain DKI, Jateng dan Jawa Timur.
Kirim tujuh atlet dan ketujuhnya meraih medali. Tidak banyak daerah bisa mengukir prestasi seperti ini. Sudah sepantasnya kita bangga terhadap Martin Lola Blegur, Isack Petrusz, Tasya Rissi, Petrus Potimau, Alfred Blegur, Dudy Baranuri dan Okto Katu. Mereka aset penting daerah ini yang patut dijaga dan dihargai secara pantas. Mereka sungguh membawa angin sejuk dari Bandung yang tak sekadar menyegarkan, tetapi membuka mata Indonesia.
Mereka sudah menjadi pusat perhatian kawan dan lawan. Di sinilah pekerjaan rumah Pengurus Daerah (Pengda) Taekwondo Indonesia (TI) NTT. Di situlah letak masalah kita di tengah kegembiraan menyambut prestasi emas tersebut. Merebut lebih enteng daripada mempertahankannya. Demikian bahasa suci olahragawan. Dalam rentang jarak yang amat dekat, LG Cup bulan Maret dan kejurnas mahasiswa bulan Mei 2005, taekwondoin NTT menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Kerja keras pelatih dan Pengda TI NTT selama ini telah membuahkan hasil nyata. Momentum ini perlu dirawat dengan bijaksana agar prestasi Lola Blegur dkk tidak cepat pudar. Kiranya pengurus KONI NTT periode 2005-2009 yang akan dilantik 28 Mei mendatang mencatat ini dalam buku hariannya.
Kita menganggap hasil kejurnas itu baru merupakan langkah awal. Belum waktunya kita berpuas diri. Ujian bagi taekwondoin NTT yang usianya rata-rata di bawah 25 tahun itu masih panjang dan berliku. Untuk kepentingan daerah, alangkah indahnya jika mereka menyumbang emas dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun depan di Kalimantan Timur. Lebih menggembirakan hati kita jika Lola, Tasya, Isack, Petrus, Alfred dan lainnya memakai baju Merah Putih. Membela kehormatan bangsa di fora internasional seperti yang dengan gemilang diperlihatkan Hermensen Ballo (tinju), Tersiana Riwu Rohi atau Oliva Sadi (atletik).
Kita menyadari prestasi di bidang olahraga -- juga lapangan hidup lainnya-- butuh pengorbanan. Prestasi olahraga menuntut disiplin latihan tiada henti. Lola, Tasya, Isack dkk tentunya harus rela membuang sebagian keceriaan masa remaja mereka untuk mengasah diri dalam sistem latihan yang keras dan terukur dari para pelatih. Pengurus TI pun demikian. Pikiran, tenaga, waktu bahkan dana harus diberikan secara total dan ikhlas.Meski tak terkatakan, prestasi taekwondoin NTT di Cibubur dan Bandung 2005 setidaknya telah menunjukkan komitmen itu. Komitmen dan kerja mulia ini tidak boleh berhenti. Seperti angin, dia hendaknya terus berembus sampai kapan pun. Salam Pos Kupang, Jumat, 13 Mei 2005. (dion db putra)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes