Keistimewaan Manggarai Barat

BANYAK hal menarik tentang Manggarai Barat. Inilah kabupaten baru hasil pemekaran dari induknya Kabupaten Manggarai sekitar dua tahun yang lalu. Manggarai Barat tercatat sebagai kabupaten hasil pemekaran ketiga di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah Lembata dan Rote Ndao. Lembata adalah kabupaten pemekaran dari Flores Timur, sedangkan Rote Ndao dari induknya Kabupaten Kupang.
Dibanding Lembata dan Rote Ndao, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) memiliki kisah tersendiri dalam hal pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Saat memilih pasangan kepala daerah, Lembata dan Rote Ndao masih mengacu pada ketentuan UU No. 22 tahun 1999. Di sana terpilih pasangan bupati dan wakil bupati. Tetapi mereka dipilih oleh wakil rakyat (DPRD). Pasangan bupati dan wakil bupati Lembata serta Rote Ndao bukan hasil pilihan rakyat secara langsung.
Di sinilah letak keistimewaan Kabupaten Manggarai Barat. Sebagai kabupaten pemekaran paling bungsu di Propinsi NTT, sejarah menempatkan rakyat daerah ujung barat Pulau Flores itu memilih pemimpinnya secara langsung. Acuannya pun sudah berbeda yaitu UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (UU Pemda).
Kita semua sudah mengetahui hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) di Manggarai Barat tanggal 27 Juni 2005. Pasangan Drs. W Fidelis Pranda dan Drs. Agustinus Ch Dula terpilih sebagai bupati dan wakil bupati. Duet ini meraih mayoritas suara rakyat Manggarai Barat.
Rakyat memilih langsung. Demikianlah yang membedakan Manggarai Barat dengan daerah pemekaran lainnya. Mabar mencatat sejarah sebagai kabupaten di NTT yang memiliki bupati dan wakil bupati definitif pilihan rakyat sendiri. Jelas beda legitimasinya. Pemimpin pilihan rakyat pastilah lebih kuat dan kokoh. Lebih mengakar karena memang itulah kehendak suara mayoritas rakyat yang sejatinya pemilik kedaulatan tertinggi dalam demokrasi.
Kuatnya legitimasi ini merupakan modal utama bagi duet W Fidelis Pranda-Agustisnus Ch Dula menakhodai Mabar dalam kurun waktu lima tahun ke depan (2005-2010). Namun, legitimasi yang kuat-kokoh tersebut sekaligus menuntut jaminan dari Pranda-Dula untuk mempersembahkan karya terbaik bagi seluruh rakyat Manggarai Barat selama masa kepemimpinan mereka. Kepalda duet pemimpin ini rakyat Manggarai Barat menggantungkan harapannya. Dan, harapan tersebut harus diwujudnyatakan. Tidak bisa tidak. Jika rakyat merasa kecewa, maka legitimasi yang begitu besar itu akan sirna dalam sekejap.
Beruntunglah rakyat Mabar memilih pasangan Pranda-Dula. Wilfridus Fidelis Pranda bukan orang baru bagi rakyat Mabar. Selama lebih dari setahun, Fidelis Pranda telah menjadi motor penggerak roda pemerintahan dan pembangunan dalam kapasitasnya sebagai Penjabat Bupati Manggarai Barat.
Dengan kata lain, Fidelis Pranda tidak memulai dari nol. Dia sudah menjejakkan langkah di bumi Mabar. Sudah ada titik pijakan. Sekarang tinggal mengayunkan langkah-langkah selanjutnya dengan lebih baik. Paling tidak, dengan pengalamannya sebagai penjabat bupati, Fidelis Pranda memahami peta permasalahan yang dihadapi rakyat Manggarai Barat. Potensi dan titik kuat kabupaten itu. Dia pun sudah tahu kira-kira apa yang segera dikerjakan dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Sebagai pamong praja tulen, Pranda memiliki kapasitas sebagai kepala daerah. Demikian pula dengan Agustinus Dula. Pengalamannya mengabdi bertahun-tahun sebagai pamong praja akan menambah kekuatan duet pemimpin tersebut yang akan dilantik Gubernur NTT, Piet A Tallo, S.H, Senin (29/8) ini.
Sama seperti kabupaten induknya, Manggarai Barat memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Salah satu sumber daya alam yang belum digarap maksimal adalah obyek-obyek wisata. Sebut misalnya Taman Nasional Komodo (TNK) dan pulau-pulau eksotik di perairan Labuan Bajo dan sekitarnya.
Bukan rahasia lagi kalau kawasan TNK dan Labuan Bajo sekadar tempat persinggahan wisatawan manca negara dan lokal. Kita menyebut sekadar tempat persinggahan karena obyek wisata tersebut sesungguhnya belum memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat Manggarai Barat. Obyek wisata yang indah dan menarik itu justru memberikan keuntungan bagi propinsi tetangga yang lebih piawai dan profesional dalam mengelola industri pariwisata. Paket wisata Bali dan NTB selalu melibatkan TNK dan Labuan Bajo. Ke sanalah mereka mengarahkan wisatawan dan mereka meraih lembaran dolar. Adakah keuntungannya bagi Mabar?
Kita lebih kerap mendengar masalah demi masalah ketimbang kisah sukacita. Ketika terumbu karang rusak karena bom, pencurian ikan hias dan soal-soal lainnya mengemuka, pemerintah Mabar disebut kurang bertanggung jawab.

Sudah saatnya pemerintah Kabupaten Mabar menata diri lebih baik. Memanfaatkan karunia kekayaaan flora dan fauna di sana untuk meningkatkan taraf hidup rakyatnya sendiri. Salam Pos Kupang, 29 Agustus 2005. (dion db putra)
Reaksi:

1 komentar:

Adhy Falorez mengatakan...

PERMASALAHAN DI MANGGARAI BARAT ADALAH INFRASTRUKTUR YANG BELUM MEMADAI..AKSES UNTUK MENUJU DAERAH PARIWISATA MASIH SULIT,,,PEMERINTAH HARUS LEBIH PROAKTIF MENGATASI MASALH INI...TUUNG KO TOE KRAENG?

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes