Kami tahu diri

PERS mudah tergoda atau terbuai. Tergoda untuk memonopoli informasi. Dan karena itu memonopoli kebenaran yang sesungguhnya tabu bagi siapapun. Pers gampang terbuai situasi dan kondisi. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang otoriter dan represif, pers harus piawai berkelit. Tanpa sadar malah larut dalam iklim anti-demokrasi. Tak berani beda pendapat apalagi melawan arus. Berani melawan berarti menerima resiko pemberangusan.
Maka hadirlah institusi pers yang memang bertahan hidup, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh bebas. Dia terbelenggu dalam dunianya sendiri yang dibayangi ketakutan dan tekanan. Sensor ketat adalah pilihan sikap. Mengeritik secara halus menjadi trend pemberitaan hari demi hari. Tak berani menyentuh langsung lembaga kekuasaan apalagi aktor-aktor utama dalam lingkaran kekuasaan itu.
Jelas amat mana yang boleh dan tidak boleh diwartakan. Ada saja yang sakral-sensitif meskipun berhubungan dengan urusan publik. Informasi cenderung top down. Bukan timbal balik. Suara pemerintah adalah menu harian. Apa kata penguasa itulah yang dianggap benar. Padahal fakta yang dilaporkan tidak lagi suci.
Syukurlah. Kita sudah masuk era baru bernama reformasi. Kran kebebasan terbuka lebar. Pers kian independen, tidak lagi menghadapi resiko pemberangusan. Tak ada lagi regulasi yang berbelit dan rumit. Persoalan terbesar justru terletak pada insan pers sendiri karena kebebasan yang lebih besar tidak serta merta mengubah wataknya yang mudah tergoda dan terbuai itu. Pers harus terlibat, tetapi perlu menjaga jarak dan tidak boleh hanyut.
Persoalan pers tetaplah sama. Apakah ia mewartakan yang serba baik dari sisi penguasa atau memihak kepentingan rakyat banyak, mereka yang terpinggirkan? Apakah atas nama kesejahteraan dan demi hidup langgeng -- ia rela berselingkuh dengan kekuasaan yang menindas, berlepotan praktek KKN serta tega menjual kemiskinan untuk keuntungan sekelompok orang?
Zaman berubah, kita tak sanggup menahannya. Kebebasan pers harus disertai tanggung jawab yang nyata wujudnya dalam pengabdian sehari-hari kepada masyarakat luas. Sekali pers mengabaikan aspirasi masyarakat, menomorduakan kebutuhan mereka akan informasi yang jujur dan benar, memetakan persoalan secara adil dan berimbang, maka siap-siaplah untuk ditinggalkan. Kematian pers era keterbukaan ini bukan karena kurang uang atau kurang keterampilan. Pers bisa mati karena dia tidak lagi dipercaya. Menjaga kepercayaan. Itulah tantangan terbesar insan pers, kapan dan di manapun dia berada.
Kami keluarga besar Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang yang hari ini, Kamis tanggal 1 Desember 2005 merayakan ulang tahun ke-13 menyadari pergulatan itu. Pergumulan hidup yang tidaklah enteng dan mudah, semudah membalik telapak tangan untuk menyelesaikannya.
Kami tahu diri. Kami selalu merasa belum memberikan pengabdian terbaik kepada rakyat Nusa Tenggara Timur -- medan pelayanan kami sejak 1 Desember 1992 -- melalui berita yang terbit dalam 4.362 edisi hingga 30 November 2005 kemarin. Puji Tuhan Yang Maha Besar, terima kasih pembaca, mitra kerja terkasih, karena kami tidak pernah tidak terbit selama 13 tahun ini. Kami hanya pernah terlambat terbit. Cukup sering karena beragam kendala teknis.
Kami segera memulai hari baru. Hari pertama tahun ke-14. Kami belum apa-apa. Baru 13 tahun mengabdikan diri untuk masyarakat daerah ini. Tentu saja penuh onak dan duri. Banyak kekurangan. Tapi kami tidak ingin berhenti. Kami terus berikhtiar memberi yang terbaik.
Bermacamragam perasaan kami, warga Pos Kupang pada hari ulang tahun ke-13 ini. Penuh syukur kepada Allah Maha Pengasih, penuh terima kasih kepada khalayak pembaca dan mitra kerja, kami tahu diri dan terbuka akan tuntutan perubahan di dalam lembaga maupun dalam masyarakat NTT. Kehendak dan komitmen untuk tiada henti belajar, berbenah diri serta menghargai tegur sapa. Mohon maaf atas khilaf dan salah. Kami butuh dukungan, butuh kritik. Terima kasih. Salam Pos Kupang, Kamis 1 Desember 2005. (dion db putra)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes