"Sakramen Penghibur" Bernama Bola

Bola itu Telanjang karya Dion DB Putra
Oleh Tony Kleden

TUTUP mata sejenak. Bayangkan apa yang bakal terjadi jika tidak ada permainan yang dikelola dengan mengikuti regulasi yang menyata dalam berbagai cabang olahraga. Aksi-aksi kekerasan akan menjadi pemandangan rutin setiap hari, setiap saat. Perkelahian, tawuran, saling bunuh menjadi bagian dari riwayat sejarah manusia.

Aksi kekerasan itu muncul dipicu oleh naluri melawan atau rivalitas yang menyatu dengan daging manusia. Rivalitas itu, boleh dibilang, sudah menjadi hakikat yang asali pada setiap manusia, siapa pun dia.

Perang antarkampung di Alor, di Sumba Barat, di Manggarai atau di Adonara, tawuran antarsekolah di Maumere, baku ro'i antara dua cewek di Kota Kupang memperebutkan seorang cowok, jika diamati sebetulnya merupakan ekspresi dari rivalitas itu.




Nafsu mengalahkan itu diperagakan tanpa kendali, tanpa aturan dan karena itu menakutkan untuk ditonton. Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya) mendapat pembenarannya dalam konteks seperti ini.


Judul : Bola Itu Telanjang
Penulis : Dion DB Putra 
Editor : Ferry Jahang, Eugenius Moa dan Sipri Seko
Penerbit : Lamalera, 2010
Tebal : 875 Halaman


Sepak bola dalam sejarahnya juga bermula dari ekspresi kekerasan seperti itu. Olahraga paling populer, paling gampang dan paling diminati ini pada mulanya merupakan ekspresi kemenangan dan kegembiraan dengan mengobok-obok lawan di lapangan luas. Kemenangan itu dirayakan dengan antusiasme dan heroisme yang luar biasa. Bagian tubuh lawan yang paling sering menjadi obyek permainan adalah kepala yang disepak ke sana ditendang kemari sambil bersorak riang. Semua keriangan, tempik sorak, hura-hura, pada galibnya mau menunjukkan keperkasaan dan kejantanan atas lawan atau musuh. Sampai dengan beberapa dekade lalu, ekspresi kemenangan atas musuh dengan mengarak kepala lawan sambil sesekali 'mempermainkannya' masih dipraktekkan di beberapa tempat di daerah ini.

Seiring kemajuan peradaban, beragam ekspresi kekerasan tanpa kendali itu dimodifikasi dan diatur sedemikian rupa sehingga berubah menjadi permainan yang terpola dengan seperangkat aturan yang legal. Arenanya dibatasi dalam ukuran tertentu. Aktornya dipilih dengan jumlah terbatas. Ada orang yang mengatur permainan itu sehingga tidak lepas kendali dan berubah menjadi tawuran liar. Mereka yang tertarik boleh menonton dari tempat yang disiapkan tanpa harus mengganggu permainan itu sendiri.

Demikianlah, sepak bola kemudian mengalami transformasi menjadi sebuah ajang permainan penuh pesona dan enak ditonton. Sepak bola dengan segala aturannya yang sekarang kita saksikan saban pekan dalam berbagai liga di dunia bermula di Inggris tahun 1815. Barangkali karena itu Inggris kemudian disebut-sebut sebagai negeri asal sepak bola. Dari tanah Inggris, sepak bola merambah dunia, terutama dibawa oleh bangsa penjelajah dan penakluk dunia seperti Spanyol, Portugis, Perancis, Inggris, Belanda. 

Tentu saja, selain untuk memburu rempah-rempah sambil menyiarkan agama, bangsa-bangsa penakluk itu juga membawa serta piranti budaya ke tanah-tanah jajahan. Di wilayah jajahan bangsa-bangsa penakluk ini, hampir semua perangkat budaya 'dikopi-paste' begitu saja tanpa banyak melewati proses seleksi. Proses akulturasi tidak bisa dihindari. Sepak bola merupakan salah satu budaya permainan impor yang diperkenalkan bangsa-bangsa penakluk itu kepada warga di tanah jajahan. Jika dalam fungsi penyiaran agama, moto yang diusung bangsa penakluk berbunyi cuius regio, eius religio, maka dalam fungsi akulturasi motonya bisa berbunyi cuius regio, eius cultura. Siapa punya wilayah, dia punya budaya. 

Dalam kaitan dengan sepak bola, di mana bangsa penakluk ada, di situ sepak bola berkembang menjadi permainan rakyat. Jangan heran, negara-negara Amerika Latin -- yang ditaklukkan Spanyol dan Portugis -- umumnya adalah negara-negara dengan tradisi sepak bola yang sangat kuat. Saking kuatnya, sepak bola bahkan menjadi 'sakramen penghibur' buat begitu banyak orang. Jangan kaget Stadion Maracana di Rio de Janeiro, Brazil yang punya kapasitas 96.000 tempat duduk disesaki sekitar 210.000 penonton ketika Brazil menghadapi Uruguay pada Piala Dunia tahun 1950. Pemain-pemain hebat dipuja dan dipuji bak santo. Posternya digantung di dinding kamar dan rumah seperti gambar kudus. 

Di belahan dunia lain pun sama juga. Miliaran pasang mata di seluruh sudut bumi tetap melek di hadapan 'tabernakel' bernama televisi saban Sabtu dan Minggu malam. Roh sepak bola demikian kuat menyihir. Dimensinya tidak lagi sebatas lapangan tanah berukuran 100-110 meter panjang x 64-75 meter lebar, tetapi jauh menembus stadion-stadion kenamaan semisal Old Trafford (markas Manchester United), Santiago Bernabeu (Real Madrid), Delle Alpi, Turin (Juventus), San Siro (AC Milan), Nou Camp (Barcelona), dan lain-lain.

Roh sepak bola juga sudah menembus hingga ke meja judi di kampung-kampung di Manggarai, Rote, Alor; ke meja makan dalam rupa gelas dan cangkir berbentuk bola, ke pabrik-pabrik konveksi, ke dapur-dapur minuman kaleng, ke gaya potongan rambut. Bahkan juga mampu masuk ke aquarium di tanah Jerman. 

Singkat kata, roh sepak bola tidak lagi sebatas teknik mengolah si kulit bundar di lapangan, tetapi juga telah memaksa para pengusaha memutar otak menangkap peluang melipatgandakan modalnya. Masuk akal, tuan rumah Piala Dunia selalu jadi rebutan. Dua negara pun bisa jadi tuan rumah patungan. 

Mengapa sepak bola menjadi begitu meluas dimensinya? Untuk apa? Di samping sebagai 'sakramen penghibur', bola kaki juga telah menjadi mesin uang. Berapa liter bir diproduksi di Jerman dan Austria ketika dua negara satu bahasa ini jadi tuan rumah Piala Dunia 2006? Berapa banyak euro masuk dari tarif hotel, restoran, transportasi dan pernak-pernik lain yang diproduksi di dua negara ini? 

Mengapa pemilik Arsenal mesti membangun stadion baru yang lebih luas dan berdaya tampung lebih banyak di Emirates? Karena uang! Asal tahu saja, Stadion Old Trafford, markas Manchester United, itu mampu mendatangkan uang sekitar Rp 20 miliar untuk satu kali laga. Urusan membeli satu pemain sudah bisa diperkirakan dari berapa kali laga di Old Trafford. Itu baru dari karcis, belum termasuk pernak-pernik yang juga mendulang uang.

Buku Bola Itu Telanjang secara tidak langsung sebetulnya juga menunjukkan dimensi-dimensi dari sepak bola. Si penulis buku yang telah diluncurkan, Kamis (9/9/2010) ini, Dion DB Putra, bukan jagoan lapangan. Dia bukan pesepak bola yang piawai menggocek si kulit bundar. Tetapi di sepak bola, Dion menunjukkan dirinya dalam perannya sebagai mata yang mengamati, sebagai otak yang menganalisis dan sebagai jari yang menari-nari di atas tuts komputer.

Selain (alm) Valens Doy yang punya reputasi di tingkat nasional, di jagat NTT saat ini agaknya Dion belum ada tandingan untuk urusan menulis sepak bola. Untuk urusan mengolah bola di lapangan, NTT punya segudang nama. Dari Sinyo Aliandoe hingga Matias Bisinglasi. Dari Cor Montero hingga Anton Kia. Tetapi dalam hal melihat sisi jauh dari sepak bola, rasanya NTT hanya baru punya Dion.

Kumpulan catatan sepak bola dalam buku ini tidak semata memperlihatkan minat yang besar dan analisis yang tajam melihat sepak bola, tetapi sekaligus menunjukkan betapa penulisnya juga tampil sebagai 'lalat liar' yang mampu mengusik ketenangan pencinta sepak bola melihat sisi jauh dari bola itu. Beragam tema dan sudut pandang tulisan, lebih jauh dari itu, juga memperlihatkan begitu kaya dan luasnya dimensi bola dan betapa piawainya si penulis menghadirkan dimensi itu ke ruang publik. 

Membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, pembaca akan kembali ke konteks tempus saat tulisan ini dibuat, membuka kembali memori dan merasakan ulang debar-debar dan aroma pertandingan dari setiap tulisan. Karena itu siapa pun yang membaca tulisan-tulisan dalam buku ini akan mendapat begitu beragam sisi lain, beragam dimensi, sudut pandang di balik tirai si kulit bundar yang bernama bola itu. Rugi besar jika tidak membacanya. 

Bola Juga Menelanjangi
BUKU ini mengambil judul Bola Itu Telanjang. Sebuah idiom yang sangat tepat menggambarkan sisi demi sisi, dimensi demi dimensi dari bola itu. Karena telanjang, bola bisa dibidik dari banyak sisi. Karena telanjang, maknanya bisa ditafsir dari berbagai segi dan perspektif.

Tetapi rasanya hanya ada satu makna yang paling 'ultim' di balik bola. Apakah gerangan itu? Tak pelak lagi jawabannya cuma ini: universalitas. Pergilah ke lapangan bola kaki, ke stadion tempat dua klub sepak bola berlaga. Perhatikan wajah-wajah manusia di situ. Tukang parkir sibuk mengatur kendaraan. Penjual makanan kecil gesit menawarkan jajanan. Penjual rokok berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki lain. Gadis-gadis berwajah menawan menyorong tiket di pintu masuk.

Di tribun, para bapak sabar melayani kuriositas anaknya yang barusan belajar berjalan. Sambil mengunyah makanan kecil, para ibu asyik 'membelanjakan mata' ke sana kemari mengamati orang yang lalu lalang lalu menebar gosip di antara mereka. Kaum remaja berjalan berbarengan dengan teman-temannya mencari kawan lain lagi untuk ikut bergabung.

Dari mana semua mereka itu? Jangan tanya dari mana. Ini salah pertanyaan. Pertanyaan yang benar, mengapa mereka bisa menyatu di situ? Mereka menyatu di situ karena dan hanya karena bola. Bola mempersatukan mereka. Bola mengumpulkan begitu banyak manusia. Dan, rasanya tidak ada even sehebat dan sekolosal pertandingan bola kaki karena mampu mendatangkan jumlah manusia sedemikian banyak.

Di stadion atau di lapangan bola kaki tidak dikenal suku, umur, golongan, laki, perempuan, tua, muda. Tidak ada tuan, tidak ada hamba. Tidak ada atasan, tidak ada bawahan. Tidak ada pejabat, tidak ada staf. Bola menembus dan mengatasi semua kategori itu dan mendudukkan semua elemen masyarakat pada tempat yang sama : manusia. Bahasa manusia di lapangan juga sama: bahasa cinta. Bahasa cinta itu terekspresi secara sama di stadion. Berjingkrak-jingkrak jika ada gol yang tercipta. Tempik sorak diiringi tepuk tangan membahana jika ada pemain yang mampu memperdayai dan mengecoh lawan. Menggerutu dan sama-sama mengejek pemain yang salah over bola atau menendang bola tidak tepat sasaran. 

Tanpa halangan -- lebih sering juga tanpa sadar -- orang bisa mengekspresikan reaksi spontannya di lapangan dengan cara apa saja. Berteriak sekuat-kuatnya, bertepuk tangan sepuas-puasnya. Menggoyang pinggul sejadi-jadinya. Tertawa selepas-lepasnya. Segala kepenatan dan kelelahan sirna di lapangan bola kaki. Di lapangan bola kaki, manusia tidak cuma menemukan dirinya sebagai homo ludens (manusia yang suka bermain), tetapi sekaligus juga sebagai homo ridens (manusia yang suka tertawa).

Di balik semua itu tergambar dan terbaca dengan jelas perilaku, sifat, pola pikir, pola tindak, dan watak siapa saja di lapangan. Gambaran seperti itu jarang kita temukan di arena lain.
Di lapangan bola kaki, universalitas menjadi sangat nyata. Setelah sikut menyikut merebut bola, dua pemain menyorong tangan dan saling meminta maaf. Seusai pertandingan, kostum akan berpindah ke pemain lawan dan sebaliknya kostum lawan diambil dan jadi koleksi. Keakraban pemain dan penonton juga kasat mata. Tanda tangan pemain adalah pengejawantahan paling kuat dari keakraban itu. Siapa saja boleh meminta tanda tangan pemain idolanya. Jarak antarsesama manusia nyaris tidak ada. 

Kondisinya persis terbalik dengan keadaan di kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta. Bawahan yang ingin mendapat tanda tangan atasan, mesti melapor dan menunggu sang bos meluangkan waktu. Sebaliknya sang bos bisa sesuka hatinya memasang dada dan menarik garis batas tegas dengan bawahannya. Jarak kemanusiaan pun terentang lebar dan dibatasi tembok pemisah yang kokoh.

Tetapi di lapangan bola kaki semua jadi telanjang. Ketelanjangan itu terbaca dengan amat baik di dalam buku Bola Itu Telanjang. Dari perilaku pejabat hingga tukang ojek. Dari ugal-ugalan anak jalanan hingga kegenitan gadis yang masih bau kencur. Dari bocah-bocah yang kuat ingin tahunya hingga kakek-nenek yang haus hiburan. 

Ketenjangan bola berhasil diangkat dan ditunjuk dengan amat baik oleh Dion DB Putra, si penulis buku, dengan memperlihatkan aneka sisi dari bola kaki. Di lapangan bola kaki, misalnya, kita belajar bahwa sukses besar adalah hasil sebuah kerja sama tim. Banyak pemain berpredikat bintang, tetapi di pertandingan bola kaki tidak ada pemain tunggal. Tidak ada pemain bintang yang bercahaya sendiri tanpa kilatan cahaya dari pemain lain. Karena itu, di lapangan bola kaki betapa nisbinya predikat pemain bintang.

Juventus (Italia) yang membunuh Ajax (Belanda) di rumahnya sendiri pada laga semifinal Liga Champions 1997, Kamis 10 April 1997, misalnya, tampil tanpa bintang andalannya, Alesandro Del Piero. Juventus menggilas Ajax karena sukses mengatur irama pertandingan dengan menerapkan disiplin ketat dan penetrasi tepat waktu ke jantung pertahanan Ajax. 

Duel wakil Italia dan Belanda ini juga memperlihatkan sisi lain lagi dari sepak bola. Yakni bahwa bola kaki sangat kuat membangkitkan nasionalisme setiap bangsa membela bangsanya. Perdana Menteri Belanda (ketika itu), Wim Kok, hadir di Stadion Arena untuk menyuntik semangat kesebelasan Ajax dalam pertandingan itu (halaman 105 - 108).

Bola juga menelanjangi sifat lain lagi dari manusia, yakni suka merasa besar dan sering lupa diri. Euro 2004 menelanjangi David Beckham dari Inggris dan Luis Figo dari Portugal ketika kedua negara ini tampil di perempat final. Gagal mengeksekusi penalti, Beckham membela diri dan dengan seenaknya berkata, "Ada sesuatu yang salah di bawah sepatu kami. Ketika saya meletakkan kaki saya, bola terangkat.... Tetapi saya masih bangga sebagai kapten tim ini."

Sedangkan Luis Figo ngambek ketika ditarik keluar lapangan pada menit ke-75 dan digantikan Helder Postiga. Pelatih Portugal, Luis Felipe Scolari, menarik Figo karena bermain jelek. Sejumlah peluang emas gagal dimanfaatkannya untuk menjebol gawang Inggris yang dijaga David James. Delapan menit kemudian Postiga membuktikan bahwa dia pantas menggantikan Figo. Tandukannya merobek gawang Inggris. Buntutnya, di ruang ganti Figo tak menyalami Postiga.
Sikap Beckham dan Figo adalah representasi sikap kebanyakan orang besar atau penting, yakni sulit mengaku salah dan merasa diri lebih penting. Tipe orang seperti ini cenderung pongah dalam mengambil keputusan dan menentukan sikap. Ketika duel Inggris versus Portugal itu harus diselesaikan melalui adu penalti, pelatih Inggris, Sven Goran Eriksson, mengumpulkan semua pemainnya. Dia tanya satu persatu tentang kesiapan mereka. Dengan pongah dan gegabah, Beckham angkat bicara. 

"Aku akan mengambil tendangan pertama," kata Beckham. Tak dinyana, tendangannya melambung jauh dari mistar gawang menuju istrinya, Victoria, yang duduk di kursi VIP dengan pakaian tembus pandang. Apa lacur! Justru kepongahan dan keputusan gegabah ini meruntuhkan moral Inggris (halaman 611-616).

Bola itu telanjang, menurut si penulisnya, karena bola menyentuh sesuatu yang sangat mahal : spontanitas, kejujuran, tanpa basa-basi. Orang berhenti atau menunda aktivitas lain dan bergegas ke lapangan bola kaki karena spontanitas. Tidak ada yang memaksa. Mengolah bola di lapangan juga mensyaratkan kejujuran (halaman 495-498).

Di lapangan bola kaki tidak ada tempat untuk tipu menipu. Semua berjalan sesuai aturannya. Kalau dalam demokrasi rule of the game lebih banyak cuma pro forma, maka di lapangan bola kaki rule of the game itu diterapkan relatif jauh lebih baik dan konsisten. Kalau dalam demokrasi, kalah atau menang dalam pemilu begitu dilebih-lebihkan seolah-olah menjadi tujuan utama demokrasi, maka di lapangan bola kaki, kalah-menang cuma akibat dari sebuah pertandingan, bukan tujuan utama pertandingan itu sendiri.

Bola tidak cuma telanjang. Lebih jauh dari itu, bola juga menelanjangi. Dia menelanjangi sisi lain dari manusia. Dia menelanjangi para 'aktor' di lapangan, para penonton di stadion sampai kepada para pemirsa di rumah-rumah warga yang ribuan kilometer dari arena pertandingan. Bola menelanjangi watak, tabiat, pola pikir, pola tindak orang besar dan penting yang duduk manis di tribun kehormatan hingga tukang parkir di lapangan parkir.

Jika bola tidak menelanjangi, maka arena pertandingan tak bakal seru dan ramai oleh gelak tawa, tempik sorak dan pekikan para penonton. Jika bola tak menelanjangi, maka tribun cuma akan dipenuhi oleh mereka yang dimobilisasi, bukan mereka yang datang secara spontan. 

Yang telanjang, memang selalu menggoda hasrat. Ingin mengetahui dan merasakan seperti apa bola itu telanjang? Buka halaman demi halaman, simak isinya, maka Anda akan rasakan sensasi yang luar biasa dari buku Bola Itu Telanjang. *

Sumber: Pos Kupang 13 dan 14 September 2010, halaman 1

Anda berminat mengoleksi
Hubungi dionbata@gmail.com


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes