Urung Pigang

DUSUN Urung Pigang masuk dalam wilayah Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat-Kabupaten Sikka. Urung Pigang bagi warga Sikka tentunya sudah tidak asing lagi.

Namun Urung Pigang yang berada di Bukit Wailiti dan menghadap ke pantai utara (Pantura) Flores itu adalah salah satu dusun yang terkenal tandus dan gersang. Siangnya gersang dan malam penuh kesunyian serta
jauh dari kebisingan.

Urung Pigang merupakan daerah perkampungan dimana warga hidup dalam suasana kekeluargaan. Namun kini, kehidupan kota yang modern mulai merambah wilayah ini seiring masuknya wilayah ini ke dalam wilayah Kecamatan Alok (Kota Maumere).



Meski mereka sudah hidup dalam suasana kota, namun kebiasaan dan adat istiadat di Urung Pigang masih sangat tradisional. Kehidupan masyarakat masih dalam suasana di perkampungan. 

Di Urung Pigang adalah aneka dan warna kehidupan yang khas. Kaum wanita masih setia dalam kehidupan menenun seperti biasa dilakukan wanita Kabupaten Sikka pada umumnya. Sementara para laki-laki berprofesi sebagai pembuat batu bata. 

Inilah gambaran keseharian masyarakat di wilayah ini. Seiring kemajuan jaman banyak kaum wanita 
di wilayah ini juga mulai enggan menenun karena dan memilih membantu suami di kebun dan kerja kasar seperti menjadi buruh bangunan. 

Helena Dowena (50), seorang ibu rumah tangga di Dusun Urung Pigang, kepada Pos Kupang di Kampung Urung Pigang berkisah, di kampung ini kaum wanita menenun kain untuk membantu suami dan mengisi waktu kosong. Selebihnya, jika ada kerja kasar mereka lebih senang membantu suami.

Dan, bagi Helena menenun tidak menjadi rutinitas. Menenun baginya hanya untuk mengisi waktu kosong. "Setiap bulan saya hasilkan satu lembar kain. Saya lebih banyak kerja kasar membantu suami membuat batu merah. Batu merah di kampung ini adalah sumber penghasilan tetap warga," kata Helena sambil menenun di rumahnya. 

Sementara itu, warga lainnya di kampung ini sibuk dengan aktivitas membuat batu merah di samping dan belakang rumah.

Warga Urung Pigang ramai-ramai membuat batu merah. Batu merah sudah menjadi bagian dari kehidupan warga Urung Pigang. 

Urung Pigang yang dulunya perkampungan tradisional kini telah beralih menata kehidupan menuju kehidupan modern. Selain menenun, membuat batu merah, di Urung Pigang warga juga berprofesi sebagai buruh, ada tukang ojek dan pekerjaaan lainnya yang bisa didapatkan di Kota Maumere. 

Kehidupan masyarakat tradisional di Urung Pigang yang berada di daerah pinggiran Kota Maumere adalah bukti peralihan kehidupan warga yang kini mau menjadi masyarakat perkotaan. (Aris Ninu)

Pos Kupang 18 September 2010 halaman 5
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes