Sariah Bermimpi Dapat Listrik

TUTUYAN, TRIBUN -  Di tengah layanan PT PLN (Persero) yang belum memadai seperti masih kerap terjadi pemadaman bergilir serta gangguan lainnya, jutaan warga Sulawesi Utara (Sulut) kiranya masih boleh bersyukur.

Betapa tidak, di bumi Nyiur Melambai yang subur dan indah   ini tercatat 130.584 kepala keluarga (KK) yang sama sekali belum menikmati layanan listrik dari PLN atau non PLN. Mereka masih andalkan lampu botol. Dari jumlah ratusan ribu warga Sulut yang belum menikmati listrik itu sebagian kecil bahkan ada di Manado, ibu kota Provinsi Sulut yang jadi barometer keberhasilan pembangunan daerah ini.

Bertahun-tahun hidup dengan lampu botol berbahan bakar minyak tanah dirasakan keluarga Sariah Abram (52), warga   Warga Tombolikat Selatan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur  (Boltim). "Saya selalu sediakan lampu botol empat buah pada malam hari. Diletakkan di dua  kamar, lainnya di dapur dan ruang tamu," kata Sariah kepada Tribun Manado di desa itu, Senin (30/9/2013).

 Setiap malam aktivitas Sariah hanya ditemani oleh remang-remang cahaya lampu botol. "Kalau sudah malam hanya duduk di rumah menunggu ngantuk lalu tidur," kata Sariah.  Kini dia tinggal sendiri di rumah itu. Suaminya sudah meninggal dunia delapan tahun lalu.

Sariah mengaku di lubuk hatinya ingin  juga  menikmati hiburan seperti menonton televisi dan setrika baju.  "Baju saya tidak pernah disetrika. Malam jam delapan 8 sudah harus tidur, harus hemat minyak tanah. Saya bermimpi ada aliran listrik di rumah saya, tapi tidak mungkin, saya tidak mampu membayar," jelasnya.

Warga Jikobelanga, Seprianus Metuak agak lebih baik nasibnya. Dia mengatakan daerah tempat tinggalnya berada di daerah terpencil sehingga tidak terjangkau aliran listrik PLN. "Kami gunakan mesin genset di rumah masing-masing. Hanya digunakan saat malam hari saja," kata Metuak.

Belum semua warga Boltim menikmati listrik secara penuh.  Ranti Mokodompit (33),  menuturkan untuk menerangi rumah yang ditinggal bersama suami dan 3 anaknya, dia menyambung listrik dari rumah tetangga. "Di rumah saya hanya 20 watt. Pembayaran dihitung watt. Jadi saya bayar Rp 20 ribu per bulan," ujar Ranti ditemuai di rumahnya, Senin (30/9). Ranti menuturkan biaya tersebut tidak termasuk pemakaian untuk televisi atau setrika pakaian. "Kalau ketahuan setrika dimarahi. Jadi pakaian kami tidak pernah disetrika. Kalau mau nonton TV di rumah saudara, ke tetangga malu. Masak pakai kayu bakar," jelas Ranti.

Ranti mengaku pekerjaan suaminya sebagai buruh serabutan tak mampu memasang sendiri meteran listrik.  "Tidak mampu, menjadi pelanggan terlalu mahal," tuturnya.
Dikonfirmasi terpisah, Bupati Boltim Sehan Landjar mengatakan di Boltim tersisa satu desa yang belum teraliri listrik yakni Desa Jiko Belanga Kecamatan Nuangan. Namun pemerintah sudah membantu listrik tenaga surya kepada 60 KK dengan kapasitas 50 watt. "Namun saya lihat tenaga surya tidak efektif,"  tuturnya.

 Sehan berharap tahun depan, PLN sudah memenuhi kebutuhan listrik warga Jiko Belanga.

Di Kabupaten Minahasa Selatan, masyarakat yang belum menikmati listrik antara lain  di Motoling Barat tepatnya di dusun jauh Pelita desa Tondey dengan populasi 50-an KK. "Sudah sekitar 38 tahun kami tinggal di dusun jauh ini, selama itu pula tidak ada listrik hingga sekarang," jelas Hertje Paat, warga setempat. Pada malam hari lampu botol berbahan bakar minyak tanah jadi andalan mereka. "Ya kalau ada minyak tanah, pasang lampu botol, tapi kalau tidak, ya terpaksa gelap," kata Paat..

Diakuinya, ada warga Pelita  yang menggunakan genset untuk menerangi rumah mereka, apalagi jika ada acara-acara khusus seperti pernikahan dan lainnya. Ia berharap secepatnya listrik bisa masuk di daerah mereka tersebut."Kami maunya begitu, soalnya sudah lelah membeli minyak tanah yang harganya mencapai Rp 15 ribu satu liter," jelasnya.

Jarak dari dusun Pelita dengan desa induk Tondey memang lumayan jauh sekitar 6 kilometer."Kalau sambung paling dekat katanya dari Toyopon," jelas Paat. Untuk komunikasi telepon seluluer dengan orang-orang di luar dusun sebenarnya tak ada halangan, sebab signal seluler sangat bagus di kampung itu."Cuma untuk cas hape (handphone),  kami minta tolong ke tetangga yang punya genset," ujarnya.

Sementara untuk hiburan  dengan menonton televisi, kata Paat,  sangat jarang. "Kalau mau setrika pakaian, ya kami harus ke Motoling, juga untuk nonton  TV," tambahnya. (adl/amg)

Sumber: Tribun Manado 2 Oktober 2013 hal 1


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes