Jangan Takut

Paus Yohanes Paulus II
(Merenda Usia Perak Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Maumere)

Oleh Philip Ola Daen, CD

Rohaniwan

POS Kupang dalam beberapa edisi terakhir ini memuat seputar Paus Yohanes Paulus II dan visit kegembalaannya ke Maumere, Flores, NTT, Indonesia dan bermalam semalam di Ritapiret. Ritapiret menjadi Vatikan semalam. Kunjungan Paus Yohanes Paulus II ini berlangsung dari tanggal 11-12 Oktober 1989.

Kunjungannya ini semakin bernas muatan isinya karena ia sudah digelar kudus dengan nama Santo Yohanes Paulus II pada tanggal 27 April 2014. Dengan demikain peristiwa kunjungannya ini telah mencapai usia perak. Karena itu, peristiwa perak ini menjadi momentum  untuk berhenti sejenak dan menoleh sekejap ke belakang untuk merefleksikan hati, pikiran dan  jiwanya.

Momentum refleksi ini menjadi teramat penting karena ia adalah  satu sosok dari sekian banyak sosok yang paling penting dan berpengaruh dalam dunia dewasa ini, dan satu paus dari sekian banyak paus yang paling elokuent dan inspiratif  sepanjang zaman dengan salah satu seruannya "Be Not Afraid". Karena itu, untuk merendah usia perak kunjungannya ke Maumere menjadi lebih indah dan bermakna baiklah diangkat dan direfleksikan lagi seruannya  be not afraid - jangan takut.

Be not afraid - jangan takut adalah satu seruan yang diwartakan di Basilika Santu Petrus pada tanggal 22 Oktober 1978 saat ia mengawali kepausannya. Seruan ini membahana ke seantero jagat. Seruan ini sungguh mengembalikan harapan ketika harapan itu nyaris pupus dan membangkitkan keberanian ketika keberanian itu mulai berubah menjadi ketakutan.

Realitas dunia yang dihadapi adalah semata kekalahan demi keekalahan dalam perjuangan hidup. Di sini orang merasa bahwa Allah seakan tidak lagi berpihak pada mereka;  kebohongan dunia seakan selalu menang dan penderitaan seakan selalu mengincara hidup tanpa pernah berakhir. Namun bagi Yohanes Paulus II, realitas keputusasaan dan ketakutan tidak boleh menang.

Seruan be not afraid - jangan takut yang diwartakannya adalah satu kesaksian yang lahir dari pengalaman iman personal yang tangguh. Karena itu, seruannya ini tidak pernah pupus oleh waktu dan tawar oleh kebiasaan. Malahan seruannya ini semakin urgen dan relevan dalam realitas dunia dewasa ini ketika penderitaan dan kebohongan semakin merambah seluruh lini kehidupan yang mencemarkan dignitas humana dan merusak bonum commune.  Karena itu, untuk memaknai seruan be not afraid - jangan takut ini secara praktis dan aplikatif, baiklah dipresentasikan secara bebas secuil syering pengalaman imannya yang mendasari ketidaktakutannya.

Syering kekayaan imannya ini hendakya menjadi bahan untuk menstimulasi inspirasi kita dalam menghadapi realitas dunia dewasa ini ketika ada perasaan menggelinding seakan Allah tidak berpihak pada kita,  ketika ada perasaan mengemuka seakan kebohongan selalu menang, dan ketika ada perasaan mengusik seakan penderitaan tidak pernah berakhir.

Be not afraid. Jangan takut bahwa Allah gagal menyiapkan apa yang kita butuhkan. Ia akan selalau menyediakannya untuk kita. Ingat! Aku kehilangan seluruh anggota keluargaku sebelum aku berusia 21 tahun. Saudariku satu-satunya meninggal sebelum aku lahir. Ibuku meninggal ketika aku berusia 8 tahun.

Kakakku satu-satunya, seorang dokter yang sangat aku cintai dan kagumi juga meninggal tiga tahun kemudian; dan kurang dari satu dekade sesudah itu, ayahku yang menjadi inspirasi spiritualku yang luar biasa juga meninggal secara tragis. Jadi pada saat usiaku menanjak 20 tahun aku sudah kehilangan semua orang yang aku kasihi. Tetapi Tuhan selalu ada di sana bagiku, dan Ia selalu juga ada di sana bagimu.

Be not afraid of lies. Jangan takut akan kebohongan. Kebohongan yang dunia ceritakan padamu setiap hari adalah tentang pribadi manusia, tentang hidup dan maknanya. Ketika aku hidup di bawah aturan Nazi dan Komunis di Polandia aku memerangi kebohongan ini setiap hari. Aku tahu kebenaran itu berakar dalam imanku dan aku wartakannya secara terbuka dan lugas sejauh aku dapat. Nazisme dan Komunisme adalah sistem politik dan ekonomi yang dibangun di atas kebohongan yang luar biasa, sehingga mereka dibodohi dari sejak permulaan.

Banyak orang terkejut ketika komunisme Soviet runtuh di Eropa Timur pada tahun 1990-an tetapi aku tidak terkejut. Apa yang dibangun di atas kebohongan, pada akhirnya mati. Karena itu, jangan takut akan kebohongan.

Be not afraid of sufferings. Jangan takut akan penderitaan. Dalam hidup aku menderita dalam aneka cara. Aku hanya mengatakan padamu beberapa dari antaranya: kehilangan semua anggota keluargaku sebelum aku berusia 21 tahun; hidup bertahun-tahun di bawah tekanan Nazi dan Komunis dan aku terpakasa belajar untuk menjadi imam secara sembunyi-sembunyi. Ada juga penderitaan yang lain seperti, saat aku ditembak di pelataran Basilika Santo Petrus pada tahun 1981 dan hampir mati, dan juga perjuanganku yang panjang dan sulit dengan penyakit Parkinson. Tetapi melalui semua penderitaan ini dan semua pencobaan yang lain dalam hidupku, aku memandang Allah dan menemukan kekuatanku di dalamNya.

RahmatNya selalu cukup buatku, dan itu juga akan selalu cukup buatmu. Untuk itu, be not afraid-jangan takut.

Paus Yohanes Paulus II sudah tidak ada lagi. Namun seruan imannya, be not afraid - jangan takut terus menggemah dan menjadi inspirasi yang berdayagugah dan berdayagugat. Karena itu, be not afraid - jangan takut hendaknya menjadi inspirasi kita dalam memperjuangkan martabat manusia sebagai imago dei, dialog, perdamaian, kedailan dan politik karena kita tahu bahwa mengubah dunia tidak semudah membalikan telapak tangan.

Ada banyak tantangan dan kesulitan; ada banyak kegentaran dan ketakutan. Tetapi ia telah membuktikan kebenaran seruannya itu sampai akhir hidupnya. Dan sekarang ia sudah digelar kudus yang pestanya dirayakan pada tanggal 22 Oktober setiap tahun. Sebagai orang kudus Santo Yohanes Paulus II juga pasti terus menyertai perjuangan kita dengan doanya yang tak kenal putus dan  terus meneguhkan kita dengan seruannya  tanpa henti  Be Not Afraid - Jangan Takut. *

Sumber: Pos Kupang 15 Oktober 2014 hal 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes