In Memoriam Dokter Hendrik Fernandez

Fernandez bersama Paus Yohanes Paulus II (1989)
KUPANG, PK--Gubernur NTT periode 1988-1993, dr. Hendrik Fernandez, tutup usia. Pria kelahiran Weetabula, Sumba Barat Daya (SDB), 7 November 1932 ini meninggal dunia di Rumah Sakit Kartini Kupang, Sabtu (6/9/2014) siang.  Mantan Gubernur NTT itu meninggal dalam usia mendekati 82 tahun atau tepatnya 81 tahun 10 bulan.
Jenazah mantan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kesehatan NTT itu, dibawa dari Rumah Sakit (RS) Kartini Kupang ke rumah duka di Jalan WR Mongonsidi II No. 3 Kota Kupang, sekitar pukul 14.20 Wita.

Saat jenazah Hendrik tiba di rumah disambut isak tangis keluarga dan kerabat. Beberapa dokter dan pejabat pemerintah ikut mengantar jenazah almarhum dari RS Kartini ke rumah duka.

Istri almarhum, Ibu Mia Fernandez, memandangi wajah suaminya yang terbaring kaku di tempat tidur. Sejak tiba di rumah duka, ibu Mia Fernandez  mendampingi jenazah suaminya. Ibu Mia menerima ucapan turut berduka dari keluarga dan warga yang datang melayat.

Fransiska Sin Fernandez, putri almarhum dr. Hendrik Fernandez, ditemui di rumah duka, mengatakan, ayahnya meninggal dunia karena terserang penyakit stroke.
Almarhum meninggalkan seorang istri, tiga orang anak dan tujuh orang cucu. Ketiga anak almarhum, yakni Fransiska Sin Fernandez, S.H, Dokter Andreas Fernandez, Sp.PD, dan Ir. Mikhael Fernandez.

"Bapak dirawat di RS Kartini sejak hari Kamis (4/9/2014). Bapak mengalami stroke sejak empat tahun lalu. Penyakitnya sudah lama. Selama ini bapak dirawat di rumah saja oleh anak sendiri, dr. Andreas Fernandez, Sp.PD, dibantu dua orang perawat," tutur Sin Fernandez.

Ia mengatakan, karena ayahnya sudah menderita stroke cukup lama, maka keluarga, terutama ibu (Ibu Mia Fernandez) dan anak-anak serta cucu  terlihat tegar menghadapi kenyataan atas meninggalnya bapak.

"Padahal, mestinya tanggal 7 Oktober 2014, bapak dan mama akan merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan mereka. Bapak dan mama menikah pada 7 Oktober 1964," ujar Sin.

Sin menuturkan, bapak adalah orang sederhana dan suka kedamaian. Kepada anak- anak dan cucu-cucu, bapak selalu berpesan agar hidup damai dengan orang lain. Juga jangan suka marah dengan orang dan jangan sombong.  "Hiduplah selalu dalam kedamaian dan berbuat baik dengan orang lain," tutur Sin mengutip pesan bapaknya ketika masih bersama mereka selama ini.

"Salah satu anak saya, sangat mengidolakan kakeknya (dr. Hendrik Fernandez). Terutama ajaran untuk selalu hidup damai dan sederhana. Bapak juga selalu  ingatkan kami untuk berjuang supaya hidup menjadi lebih maju," ujarnya.

Bagi Sin, ada banyak kebersamaan dirinya dengan sang ayah yang begitu berkesan selama hidup. Dari sekian banyak kesan itu, tutur Sin, gaya hidup almarhum ayahnya yang sederhana dan selalu berpesan agar hidup damai dengan orang lain merupakan kesan yang sangat berarti. "Bapak tidak memberikan pesan terakhir sebelum meninggal, karena bapak sudah tidak bisa bicara akibat stroke. Tidak ada komplikasi penyakit lain. Bapak hanya mengalami stroke saja," kata Sin.

Selama ini, lanjut Sin, ibu selalu berdoa untuk kesembuhan bapak. "Apa mau dikata, Tuhan yang menentukan nasib hidup seorang manusia. Sebagai manusia, keluarga berharap almarhum dr. Hendrik Fernandez, diterima di sisi kanan Allah di surga," ujarnya.

Menyinggung rencana pemakaman, Sin mengatakan, sesuai informasi yang sempat ia terima dari Pak Esthon Foenay, mantan Wagub NTT ketika menjenguk ayahnya di RS Kartini Kupang, jenazah bapak  akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Darma Loka Kupang.

"Tadi, Pak Esthon Foenay bilang kemungkinan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Darma Loka. Cuma pihak keluarga belum mengambil keputusan mau makam di mana dan kapan bapak dimakamkan. Keluarga runding dulu," kata Sin. (mar/roy)


Kehilangan Seorang 'Pelari Estafet'

HARI ini (kemarin) pukul 10 lewat 15 menit, Saudara Charles Agoha, mantan ADC ketika saya Gubernur NTT, menelepon saya: "Bapak, ada berita duka: dr. Fernandez baru 5 menit lalu, meninggal di RS Kartini, Jl. El Tari."  Kematian dr. Fernandez sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga dan handai taulan.  Maklumlah kondisi kesehatannya sudah pada tahap terminal hampir 1,5 tahun yang lalu.  Penderitaannya sudah lebih lama dari kondisi sekarat itu.  Hanya mereka yang pernah terkena stroke mampu mengerti wujud penderitaan itu.  Menurut saya kematian bukan saja menjadi pintu ke kehidupan yang kekal, tetapi sekaligus merupakan suatu pembebasan dari penderitaan yang berat itu.

Perkenalan saya dengan dr. Fernandez sudah hampir 70 tahun lamanya, sebagai murid di Schakelschool Ndao, Ende, sehabis Perang Dunia Kedua, dan 17 tahun kemudian sebagai Dokabu dan Kepala RS di Flores dan Kupang.  Yang agak lama adalah sebagai politisi Golkar.  Beliau adalah Ketua Partai Katolik Flores Timur ketika saya ajak menjadi caleg Golkar pada Pemilu 1971, beliau selanjutnya menjadi politikus Golkar dari tahun 1971 sampai menutup matanya hari ini.  Saya kira!

Ketika saya berhenti dari jabatan gubernur tahun 1988, beliau menggantikan saya menduduki kursi gubernur di Jalan El Tari itu.  Sebagai politikus dengan pengalaman pribadi yang berbeda-beda, logis sekali bahwa pandangan-pandangan beliau tidak selalu sama dengan pandangan saya.  Dan, pencabangan pandangan itu membuat komunikasi pribadi kami terputus, malahan praktis hilang sama sekali.  Generasi muda sekarang perlu mengerti bahwa perbedaan pandangan dalam berpolitik adalah normal sekali, kendati dalam satu partai.  Memang di zaman Orde Baru dahulu, perbedaan itu sepertinya tabu!  Maklum Orde Baru itu cenderung monolitik dalam pandangan politiknya.  Saya berbahagia bahwa di senjanya usia, dr. Fernandez dan saya, saya mengumpulkan keberanian moril untuk melupakan dan menghapuskan ingatan-ingatan lama itu, sehingga dengan ikhlas tenggelam bersama terbenamnya matahari di ufuk barat dengan damai.

Banyak atau sedikit kontribusi dr. Fernandez kepada rakyat Flobamora tercinta tergantung dari apresiasi masing-masing warga Nusa Tenggara Timur.  Tetapi satu hal yang pasti bahwa dr. Fernandez telah menyumbang tenaga dan pikiran bagi Nusa dan Bangsa, sebagai dokter dan pamong praja paling kurang selama setengah masa hidupnya dengan setia.  Hakim sejarah saja akan mengadili beliau, apakah dia pamong praja yang berani, apakah dia pamong praja dengan "judgement" yang baik, apakah dia seorang pejabat yang berintegritas dan apakah dia seorang gubernur dengan kadar dedikasi yang tinggi.  Dan paling akhir Tuhan Allah akan mengadili dia sebagai seorang Kristiani yang konsekwen.  Saya dan juga pembaca tidak berhak untuk kedua-duanya!
Nusa Tenggara Timur kehilangan lagi salah seorang "pelari estafet" kepemimpinan Flobamora, menyusul para almarhum Lalamentik, El Tari, Piet Tallo, ke alam baka.  Semoga Tuhan Allah yang Maha Kasih memberi tempat yang layak kepada dr. Hendrik Fernandez. Requiescat in Pace dr. Fernandez. (*/eni)


IA Medah: Melahirkan Banyak Kader

KETUA DPD 1 Partai Golkar NTT dan mantan Ketua DPRD NTT, Ibrahim Agustinus Medah punya kesan tersendiri terhadap almarhum mantan Gubernur NTT, dr. Hendrik Fernandez (alm).

Menurut Medah, almarhum dr. Hendrik Fernandez,  sudah berjasa besar untuk NTT. "Kita harus menghargai karya beliau yang sudah begitu besarnya untuk NTT, baik
sebagai Ketua Golkar maupun sebagai gubernur," ujarnya.

Dari sosok beliau sebagai Ketua Golkar, demikian Medah, almarhum Hendrik Fernandez telah melahirkan banyak kader Golkar yang mengabdi bagi negara dan bagi daerah ini, baik di bidang eksekutif dan legislatif maupun di bidang lain.
Bahkan setelah Pak Fernandez berhenti dari Ketua Golkar, beliau tetap mengabdi dan berkarya di bidang politik melalui Partai Golkar. Karena itulah, lanjut Medah, sampai saat beliau meninggal, tetap sebagai Ketua Dewan Penasehat/Pembina Partai Golkar NTT.

Sebagai gubernur, kata Medah, almarhum Hendrik Fernandez, sudah banyak memberikan andil dalam pembangunan di NTT ini. "Karenanya saya selaku Ketua Partai Golkar NTT, memberi penghargaan yang setinggi-tinggi dan sebesar-besarnya atas pengabdian beliau, baik sebagai ketua Partai Golkar maupun sebagai gubernur semasa hidup beliau," ujar Medah.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013, Esthon Foenay mengatkan, Pak Hendrik Fernandes (alm) seorang pekerja keras dan rendah  hati.

"Pola hidupnya sederhana. Kita semua masyarakat NTT kehilangan seorang figur  pemimpin  yang luar biasa. Cintanya pada  masyarakat NTT sangat besar. Saya mantan kepala  Biro  Binsos Setda NTT di era pemerintahan  Pak Hendrik Fernandez," ujar Esthon. (roy)

Sumber: Pos Kupang 7 September 2014 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes