Bukan karena Lebih Pintar

ilustrasi
DOKTER Rita mengatakan, legal artis, standar, ilmu atau seni merawat dan menangani pasien memang penting dan wajib dilakukan dokter saat memeriksa pasien. Namun mengobrol atau diskusi dengan pasien  tak kalah penting.

Dengan mengobrol atau berkomunikasi maka dokter bisa mengetahui penyakit apa yang kemungkinan diderita pasien. Dengan demikian penanganan, tindakan dan pemberian obat kepada pasien juga tepat sehingga pasien bisa cepat sembuh.

Bahkan seringkali setelah ngobrol dan menyampaikan keluhannya, pasien itu merasa sudah 'sembuh'.  "Menurut saya ya, mengobrol dengan pasien itu penting dan harus dilakukan dokter. Obat hanya perantara. Biasanya saya banyak menanyakan untuk mencari tahu penyebab sakitnya pasien itu, apakah karena elergi atau infeksi," kata dr. Rita, Kamis (28/1/2016) malam.

Karena itu, demikian dokter Rita, saat memeriksa pasien, dia lebih banyak mencari tahu apa penyebab dari penyakit pasiennya. Apakah penyebabnya karena elergi atau karena infeksi. Kalau penyebabnya karena infeksi, maka infeksinya harus disembuhkan. Kalau penyebabnya karena alergi maka harus dicari tahu alerginya karena apa sehingga bisa dihindari pasien.

"Kalau alergi terhadap sesuatu maka hal itu harus dihindari pasien sehingga pasien tidak mengalami sakit yang sama terus menerus. Nah untuk bisa tahu itu, tidak bisa tidak, dokter harus mengobrol dengan pasiennya. Biasanya saat amnanesa, 50 persen penyebab dan sakitnya pasien sudah bisa diketahui dokter " kata dr. Rita.

Hal sama dikatakan dokter Hendrik, bahwa dengan bicara, dokter bisa mengetahui penyebab sakit itu sehingga bisa memberikan tindakan yang tepat. Bahkan dokter Hendrik mengatakan, sebagai dokter anak, dirinya harus lebih dekat secara psikologis dengan anak-anak itu.

"Kalau saya langsung periksa, kadang anak-anak langsung nangis makanya saya biasanya bermain, cerita dulu dengan mereka, baru periksa," kata dr. Hendrik, Selasa  (26/1/2016) siang.

Dokter Yudit Marietha Kota bisa melayani 30 lebih pasien per hari. Bahkan pernah sampai 60-an pasien dan pelayanan itu dilakukan dari pukul 17.00 Wita hingga pukul 24.00 Wita. Agar bisa terus berkonsentrasi memeriksa dan menangani pasien, Direktris Rumah Sakit (RS) Kartini Kupang ini punya tips.

"Kalau mulai capek, saya istirahat 5-10 menit, ke kamar mandi, mencuci muka, minum air, istirahat sejenak baru periksa lagi. Saya tidak tega, mereka sudah datang jauh-jauh dari Tarus, Bolok, lalu tidak diperiksa. Dulu pernah sampai 60-an pasien karena pasien Askes juga, sehingga praktik dari jam 5 sore sampai jam 12 malam. Sekarang sudah berkurang 30-an pasien, karena tidak terima pasien askes atau BPJS lagi. Umur saya juga tidak bisa memeriksa lebih dari 40 pasien," aku dr. Yudith.

Banyaknya pasien yang mengunjungi tempat praktik dokter Yudith ini lantaran 'promo' dari mulut ke mulut yang mengatakan bahwa dokter Yudit itu dokter bertangan dingin. Meski over pasien, dokter Yudith mengaku, selalu menjalani legal artis, tahapan pemeriksaan sesuai standar.

"Saya tidak bisa cepat-cepat periksa pasien, karena saya harus tahu benar dia sakit apa. Ada yang bisa diperiksa cepat tapi ada yang harus diskusi panjang dulu. Meski hanya kakinya yang luka, saya tetap harus melakukan legal artis untuk mengetahui penyakit lain yang mungkin ada. Naik tempat tidur dan periksa," kata dr. Yudith.

Dokter Yudith juga mengaku stress jika mendapat pasien yang sudah berkeliling periksa ke sejumlah dokter spesialis, baru kemudian 'pasrah' dan menuju ke tempat praktiknya. "Saya stress, kan saya dokter umum. Kalau sudah begitu saya bilang ke pasien, kalau kamu sembuh, itu bukan karena saya lebih pintar. Tapi karena kehendak Tuhan dan saya minta dia berdoa," kata dr. Yudith. Menurut dr. Yudith, biasanya pasien membludak pada bulan Januari, Februari dan Maret karena peralihan musim dan penyakitnya seperti DBD dan diare. (vel)

NEWS ANALYSIS
dr. Husein Pancratius
Mantan Dirut RSU Kupang

Satu Pasien 30 Menit


SEORANG dokter punya prosedur standar untuk memeriksa pasien. Prosedur itu sudah dokter dapatkan saat menempuh pendidikan, khususnya pada pelajaran phisikal diagnotis. Prosedur itu meliputi enam langkah yaitu amnanesa, palpasi, perkusi, auskultasi, diagnosa banding, diagnosa pendukung.

Keenam langkah standar itu harusnya dilakukan seorang dokter saat memeriksa pasien agar dapat mendiagnosa penyakit secara tepat dan melakukan tindakan pemberian obat dan tindak lanjutan. Normalnya tahapan pemeriksaan semacam itu dilakukan selama 30 menit per pasien untuk bisa mendapatkan hasil terbaik. Namun jika dokternya sudah pengalaman, mungkin langkah itu bisa dilakukan kurang dari 30 menit.

Namun setiap langkah itu harus dilalui, kecepatan dan kemahiran bisa disesuaikan kemampuan dokter. Saking pintar dan terampilnya sang dokter maka langkah itu bisa dilakukan dengan cepat. Karena ada dokter yang hanya mendengarkan detak jantung saja misalnya, dokter sudah bisa tahu pasiennya sakit apa, katubnya bocor atau bagaimana. Itu karena kemahiran dokter.

Tapi tetap tidak bisa melewatkan satu dari enam tahap itu meski dokternya sudah mahir. Jika ada satu tahapan yang dilewati itu tidak bisa dibenarkan. Nah dengan seperti itu maka bisa dihitung waktu yang dibutuhkan dokter untuk memeriksa sekian pasien secara teliti. Idealnya, dokter memeriksa sekitar 10-20-an pasien, jika dikalikan 30 menit maka dibutuhkan waktu 5-10 jam. Atau kalau dokternya mahir, mungkin 1 pasien hanya diperiksa 15 menit, maka jika ada 20 pasien maka dibutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Kalau buka prakteknya jam 18.00 Wita maka pemeriksaan 20 pasien dilakukan selama 3,5 jam hingga pukul 21.30 Wita.

Kalau pasiennya lebih dari 20 orang maka dihitung saja berapa lama dokter itu buka praktek atau kalau pasiennya lebih dari 20 orang lalu hanya buka praktek 3 jam, maka satu pasien hanya dilayani berapa menit. Apakah tahapan pemeriksaan dilewati atau tidak. Kalau satu pasien hanya diperiksa 3 atau  5 menit, pertanyaannya, apakah seluruh tahapan pemeriksaan itu sudah dilalui. Dalam 3 -5 menit, kapan pasien mengeluh, kapan tanya jawab, kapan buka baju, diperiksa, kapan diagnosa, kasih obat apa, apakah bisa.

Bagi saya jika prosedur pemeriksaan dimaksud tidak dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya maka  hal itu sudah bisa dikatakan malpraktek. Kenapa malpraktek karena bekerja tidak sesuai standar.  Ada dokter yang beranggapan tanpa pemeriksaan teliti, jika sudah bisa diperkirakan sakitnya, maka berikan saja obat sehingga tidak perlu harus mencari tahu sakitnya itu dimana. Misalnya, panas karena infeksi, kasih saja obat antibiotik.

Anggapan itu keliru. Kalau ujian dengan profesor, maka profesor akan meminta seorang dokter untuk mampu mencari dan menunjukkan dimana letak sakitnya barulah memberikan obat. Kalau tidak bisa menunjukkan tempat sakitnya, maka dokter itu tidak akan lulus ujian. Namun dalam pemeriksaan sebelum ada pemeriksaan lanjutan lab atau rontgen, dokter juga sudah bisa memberikan obat kepada pasiennya. Contoh, pasiennya deman, lalu dokter mendiagnosa awal pasiennya terkena typus atau malaria sehingga memberikan obat typus dan malaria.

Kemudian diikuti pemeriksaan lab dan hasilnya ternyata pasien menderita malaria. Maka dalam kunjungan berikutnya, dokter itu harus jujur mengatakan kepada pasiennya, jangan marah ya, obat yang satu kemarin itu distop saja, yang satu yang dilanjutkan karena hasil testnya malaria. Jika terjadi demikian, tidak mengapa, asalkan cepat. Karena jika menunggu hasil lab 2-3 hari, tanpa ada tindakan dokter, mungkin bisa saja pasiennya keburu mati sebelum ditangani. Diperlukan diagnosa banding atau diagnosa penunjang seperti laboratorium atau radiologi. Bahkan perlu konsultasi dengan dokter yang lebih ahli misalnya maka arahkan pasien ke dokter ahli, jangan memonopoli pasien itu. Nanti kalau memonopoli lalu ada kejadian di kemudian hari terhadap penyakitnya bisa membahayakan pasien dan dokter itu sendiri.

Second opinion  harus dilakukan jika pasien menginginkannya. Karena itu, kuncinya ikuti standar pemeriksaan dan rajin berkomunikasi dengan pasien. (vel)

Sumber: Pos Kupang 2 Februari 2016 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes