
Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Bola
dion bata

HARI itu saat malam Minggu menjelang, beta terpaksa keluar dari tribun Stadion Oepoi Kupang menuju pelataran parkir untuk mencari udara segar. Setelah menyaksikan duel menarik selama satu setengah jam serta upacara penyerahan piala dan hadiah, beta sungguh tak tahan lagi berdesak-desakan dengan 35 ribu penonton yang berpesta pora. Mereka merayakan kemenangan klub Botung Anak Kupang alias Bonak menjuarai kompetisi Liga Kota KASIH (LKK) yang ketiga.
Di partai puncak hari itu, klub Bonak asuhan pelatih Petrus Abanat mengalahkan juara dua musim kompetisi sebelumnya AS Roma 1-0. Malang nian nasib AS Roma (singkatan dari Anak-anak Seputar toko Roda Mas) karena tim kebanggaan warga Kuanino itu cukup memerlukan hasil seri untuk pertahankan gelar. Tetapi tim asuhan Zeth Adoe lengah di menit akhir sehingga gelar juara di depan mata tak tergapai untuk ketiga kalinya. Bola memang bundar dan kini giliran Bonak berjaya.
Kembang api warna-warni menghiasi langit Kupang bersama terang bulan purnama kala itu ketika Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe menyerahkan piala bergilir LKK kepada kapten Bonak di tribun VIP. Ketua Umum Pengurus Cabang PSSI Kota Kupang, Drs. Daniek Hurek tersenyum ceria bersama jajaran pengurus teras seperti Pieter Fomeni, Melkisedek Madi, Felix Dando, Anton Kia dan lainnya.
Di tribun maupun di tengah lapangan Stadion Oepoi histeria penonton terekspresi dalam beragam wujud. Pengurus klub Bonak, pemain dan suporter
setia yang tergabung dalam Bonak Fans Club larut dalam pesta. Mereka bakupeluk, bakucium pipi kiri kanan, bersalam-salaman. Pesta Bonak masih berlanjut dengan pawai keliling Kota Kupang yang membuat jalanan macet total di sejumlah titik.
Kupang malam itu merayakan kemenangan sepakbola. Pesta untuk sukses Liga Kota Karang yang makin mendapat tempat di hati 400 ribu penduduk kota KASIH.Sebagai juara kompetisi LKK, Bonak dapatkan hadiah uang sebesar Rp 150 juta. AS Roma (runner-up) Rp 75 juta, juara ketiga Kristal FC mendapat 50 juta dan Britama Kupang yang menempati ranking keempat mendapat hadiah Rp 25 juta.
Top Scorer atau pencetak gol tersubur diraih pemain Platina FC, Atus Karpitang dengan 26 gol. Atus berhak atas hadiah Rp 15 juta. Sedangkan pemain terbaik jatuh ke tangan striker AS Roma, Decky Kadja. Decky juga mendapat hadiah Rp 15 juta. Tim fair play direbut klub Sandelwood asuhan Paul Ngongo Bili.
Liga Kota KASIH merupakan perwujudan tekad pengurus PSSI pimpinan Daniel Hurek yang juga wakil walikota Kupang. Setelah bertahun-tahun mati suri, kompetisi antarklub perserikatan di ibu kota Propinsi NTT tersebut kembali diputar dengan manajemen lebih rapi dan konsisten. Sebanyak 24 klub di Kupang dibagi ke dalam dua divisi sesuai peringkat, yakni Divisi Utama dan Divisi I masing-masing beranggotakan 12 klub. Kompetisi sesuai format standar liga dunia itu menerapkan sistim promosi dan degradasi.
PSSI Kota Kupang menetapkan tiga tim promosi dan tiga tim degdarasi setiap musim kompetisi LKK yang bergulir selama delapan bulan. Jadwal pertandingan berlangsung setiap hari Sabtu dan Minggu di Stadion Oepoi. Mengingat Oepoi telah dilengkapi lampu sorot di empat sudut stadion, maka selalu ada pertandingan sore dan malam hari. Para pemain dimanjakan dengan rumput stadion yang lembut bagaikan permadani serta ruang ganti ber-AC.
Penonton pun menikmati pertandingan dari duduk tribun dengan kursi yang bagus.
Bergulirnya LKK diatur sedemikian rupa oleh PSSI sehingga tidak mematikan kompetisi yang sudah berjalan lama seperti Faperta Cup, Fosmab Cup, Imapem Cup, Ipelmen Cup, Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup, Angkasa Pura Cup dan lainnya.
Event-event tersebut justru menjadi penopang mutu LKK.
Pelatih klub di sini semuanya bersetifikat nasional. Dan, terjadi peremajaan wasit besar-besaran. Usia wasit sesuai ketentuan FIFA. Sejumlah wasit dari Kupang, misalnya Abdul Muis, Kid Bokilia, Athen Bana, Lukman Hakim dan Chris Umbu Yogar bahkan telah dipercayakan PSSI memimpin pertandingan Liga Indonesia.
Setelah tiga tahun bergulir LKK mulai menebarkan pesona. Membius warga Kupang. Kompetisi itu menjadi hiburan akhir pekan. Penonton selalu berduyun- duyun ke stadion. Mereka menghargai event sepakbola dengan membeli tiket masuk, menonton dengan tertib, mengekspresikan rasa dengan santun. Tak ada adufisik karena spirit LKK adalah kompetisi kasih. Laga bola tanpa kekerasan.
Suasana stadion warna-warni. Suporter yang masuk anggota Fans Club menyanyi sepanjang laga, menabuh gong gendang, meniup terompet dan suling. Melambai- lambaikan atribut klub bermotif lokal NTT. Tiap pertandingan adalah pesta bola.
Tiket masuk setiap pekan ratusan juta rupiah. Tiket itu dibagi adil kepada para pihak sesuai ketentuan yang disepakati bersama. Sudah pasti ada jatah tetap bagi klub yang bertanding. Makin banyak penonton, pundi-pundi klub semakin tebal.
Dan, LKK sungguh menggairahkan ekonomi rakyat sebagaimana harapan duet pimpinan Kota Kupang, Daniel Adoe-Daniel Hurek. Tidak hanya pendapatan Ina, Ama pedagang kaki lima (PKL) meningkat pesat. Di kota ini tumbuh beragam usaha bisnis berkaitan dengan cabang olahraga apa saja. Partisipasi kalangan swasta melalui sponsorship terus meningkat. LKK menjadi ikon kebanggaan Kupang.
Setiap akhir musim, tim juara ujitanding melawan juara Divisi Utama Liga Indonesia di Kupang. Mutu LKK yang semakin baik menarik minat klub anggota Divisi Utama Liga Indonesia merekrut pemain berbakat asal Kupang. Kupang jadi lumbung pemain-pemain hebat di klub papan atas Indonesia. LKK juga jadi model kompetisi yang ditiru perserikatan lain di seluruh NTT. Luar biasa bukan?
Tetapi maaf beribu maaf. Kisah panjang lebar di atas hanyalah mimpi beta, salah seorang warga Kupang yang mencintai sepakbola. Mumpung sedang musim jual mimpi menjelang pilpres, maka izinkan beta menjual mimpi bola kepada tuan dan puan. Bukankah mimpi bisa menjadi kenyataan? (dionbata@yahoo.com)
Pos Kupang edisi Senin, 15 Juni 2009 halaman 1
Pria Stres Bantai Satu Keluarga
dion bata
KEFAMENANU, PK -- Petrus Mendoza (32), seorang pria yang diduga stres membantai satu keluarga yang tinggal di depan rumahnya hingga dua orang tewas di tempat dan tiga orang lainnya sekarat, Kamis (11/6/2009) malam. Mendoza juga tewas malam itu juga akibat dihakimi massa yang marah.
Pembunuhan sadis ini terjadi di Desa Bakitolas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamis (11/6/2009) malam.
Dua orang yang tewas, yaitu Ny. Apolonia Nono (26) dan Ny. Magdalena Ato (52). Tiga lainnya yang sekarat dan dilarikan ke RSUD Kefamenanu untuk dirawat, yakni Ariyanto Tane (4), Ribal Tane (2), keduanya anak kandung Ny. Apolonia Nono, ditambah Ariyanti Nono (18), anak gadis dari Ny. Magdalena Ato yang adalah sepupu kandung Ny. Apolonia Nono. Seorang bayi laki-laki usia satu bulan, anak bungsu Ny. Apolonia, selamat kendati mata kirinya tampak memar dan membengkak.
Korban tewas dan sekarat akibat dihajar pakai besi gali (linggis, Red) dan dibacok dengan parang. Pelaku dan korban memiliki hubungan keluarga dekat karena istri pelaku, Ny. Dominggas Nono adalah sepupu kandung para korban dan tinggal bersebelahan rumah.
"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Ini baru pertama terjadi di kampung ini. Pelaku dan korban masih keluarga dekat," kata Kepala Desa Bakitolas, Lukas Eli, salah satu saksi mata peristiwa sadis itu, ketika ditemui di rumah duka, sekitar 45 kilometer arah utara Kefamenanu, Sabtu (13/6/2009) siang.
Atas izin keluarga korban, Eli menuturkan kronologi peristiwa itu kepada para wartawan. Hari Kamis (11/6/2009), istri pelaku, Ny. Dominggas Nono bersama mertua laki-lakinya, Sixtus Mendoza pergi ke Noemuti untuk menghadiri ritus adat keluarga besar Mendoza. Di rumah, tinggal pelaku dan seorang anaknya. Pagi itu, pelaku mengasah parangnya. Ipar dan para korban tidak manaruh curigai sedikit pun.
Malam sekitar pukul 21.00 Wita, pelaku mendatangi rumah Ny. Apolonia Nono, salah satu saudara iparnya. Letak rumah pelaku dengan rumah korban sekitar 15 meter, dipisahkan jalan raya. Saat itu suami Ny. Apolonia Nono, yaitu Gregorius Tane, tidak berada di rumah karena sedang menghadiri kenduri di rumah tetangganya, sekitar 500 meter dari rumahnya. Di rumah itu hanya ada Ny. Apolonia Nono dan tiga orang anak laki-lakinya, Ariyanto Tane (4), Ribal Tane (2) dan bayi laki-laki berusia satu bulan, yang belum sempat diberi nama. Turut menemani, Ny. Agnes Benu, ibu kandung Ny. Apolonia Nono. Hadir juga, Ariyanti Nono (18), sepupu kandung Ny. Aplonia Nono.
Ketika sampai di rumah korban Ny. Apolonia Nono, muncul Ny. Agnes dari rumah induk dan mempersilahkan pelaku masuk. Bahkan pelaku ditawarin makan malam bersama, namun dia menolak dengan alasan sudah kenyang. Lalu pelaku masuk ke ume bubu (rumah bulat berbentuk sarang lebah, yang dijadikan dapur, Red). Di dapur, ada Ny. Apolonia bersama tiga orang anaknya yang sedang tidur di sebuah balai-balai bambu.
Sedangkan Ny . Apolonia dan sepupunya, Nona Ariyanti, sedang berdiang di dekat tungku api karena merasa kedinginan. Pelaku pun duduk bergabung untuk berdiang dekat tungku api. Ruangan dapur tampak remang karena cuma diterangi cahaya lampu teplok dan cahaya api dari tungku.
Melihat pelaku membawa parang dan bertingkah mencurigakan, Ny. Agnes bergegas ke rumah Magdalena Nono, sekitar 10 meter dari rumah pelaku, untuk memberitahukan hal itu. Ny. Magdalena Nono pun bergegas ke rumah Apolonia lalu masuk ke dapur. Sedangkan Ny. Agnes masuk ke dalam rumah induk, mengambil sirih dan pinang untuk disuguhkan kepada pelaku.
Ketika Ny. Agnes balik ke dapur, ia sangat terkejut karena pintu dapur ditutup oleh pelaku dari dalam dan lampu teplok sudah padam. Sempat terdengar suara protes dari para korban dalam dapur, namun tidak dihiraukan pelaku. Bahkan protes para korban dijawab dengan ayunan parang dan hantaman linggis ke tubuh dan kepala para korban. Suasana dalam dapur pun berubah jadi gaduh dan menjadi tempat pembantaian berdarah. Rintihan dan teriakan minta tolong selama beberapa menit akhirnya lenyap, karena korban telah jatuh bersimbah darah lalu tewas dan yang lainnya sekarat.
Ny. Agnes berlari ke rumah Kades Bakitolas, Lukas Eli, meminta pertolongan. Eli dibantu beberapa pria bergegas ke TKP dan membujuk pelaku agar keluar dari dapur. Tapi pelaku tidak menghiraukan permintaan itu. Eli pun bergegas ke pos polisi yang berjarak sekitar enam kilometer untuk melapordan meminta bantuan polisi.
Ketika Eli pergi, beberapa pria membongkar paksa atap dapur yang terbuat dari alang-alang. Suami Ny. Apolonia, Gregorius Tane, yang sudah tiba di rumahnya mendobrak pintu dapur yang terkunci rapat. Pelaku dibekuk dan dihakimi massa hingga tewas di tempat.
Disaksikan Pos Kupang, jenazah Ny. Apolonia dan Ny. Magdalena telah dibaringkan dalam peti jenazah. Namun peti jenazah tidak dimasukkan dalam rumah tetapi diletakkan di halaman depan rumah, di bawah tenda terpal. Itu mengikuti tradisi orang Timor, yakni anggota keluarga yang meninggal dunia tak wajar tidak boleh dibawa masuk dalam rumah. Para pelayat dan anggota keluarga menangisi kedua korban.
Di sebelah timur, sekitar lima meter dari tenda duka, beberapa pria sedang menggali liang lahat dalam jarak berdekatan. Seorang ibu berdiri di bawah tenda dan menyusui seorang bayi laki-laki dengan botol susu. Bayi laki-laki itu adalah anak bungsu Ny. Apolonia yang selamat dari amukan pelaku. Mata kirinya terlihat bengkak dan membiru.
Gregorius Tane, yang ditemui terpisah di RSUD Kefamenanu, kemarin siang, belum bisa menjelaskan peristiwa sadis itu. Dia tampak trauma dan murung. Ia menggendong anak laki-laki kedua, Ribal Tane (2 tahun), yang sudah siuman dari pingsannya. Di tempat tidur satunya, anak laki-laki pertama, Ariyanto Tane (4 tahun), belum sadarkan diri. Kepalanya berbalut perban dan wajahnya membengkak. Di tempat tidur lainnya, Nona Ariyanti Nono (18), juga terbaring belum sadarkan diri. Kepalanya dibalut perban tebal dan wajahnya membengkak. (ade)
Pos Kupang edisi Minggu, 14 Juni 2009 halaman 1
"Revolusi" Turunkan Angka KIA di NTT
dion bata

KUPANG, PK--Dinas Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan program Revolusi KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Program ini dioperasionalkan melalui cara-cara yang luar biasa dengan misi agar indikator angka kematian di NTT tahun 2009-2013 sama dengan angka kematian secara nasional atau satu digit di bawahnya.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr. Stef Bria Seran, ketika memaparkan materi pada forum diskusi terbatas bertajuk Revolusi KIA: Selamatkan Ibu dan Anak, di Kantor Redaksi Harian Umum Pos Kupang, Sabtu (13/6/2009).
Diskusi yang dimoderatori Benny Dasman dihadiri Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho, Pemimpin Redaksi, Dion DB Putra, para redaktur pelaksana, redaktur, dan para manajer. Sementara dari Dinkes NTT hadir sejumlah dokter dan pejabat di dinas itu.
Stef Bria menjelaskan, berdasarkan dana Susenas 2004 di NTT, dari 100 ribu kelahiran hidup, terdapat 554 ibu yang meninggal dunia. Data ini melebihi data rata-rata secara nasional 307/100 ribu kelahiran hidup.
"Dengan berbagai upaya, angka kematian ibu ini sudah diturunkan, namun karena jumlahnya masih di atas rata-rata nasional. Angka itu memang tidak berbicara, namun kalau dibaca 554 orang ibu yang meninggal, pasti menyentuh perasaan kita semua. Karenanya program Revolusi KIA ini diluncurkan," ujarnya.
Salah satu bentuk Revolusi KIA, kata Stef Bria, semua ibu harus melahirkan anaknya pada fasilitas kesehatan yang memadai agar mendapat pertolongan memadai oleh tenaga terlatih. Hal ini penting karena penyebab kematian ibu yang terbesar adalah akibat pendarahan karena melahirkan di rumah. "Jadi, strateginya bertindak cepat dengan cara yang luar biasa," tegasnya.
Stef Bria menyebutkan, dalam Revolusi KIA ada enam elemen. Pertama, orang yang menolong harus memadai. Kedua, peralatan kesehatan harus sesuai standar. Ketiga, obat dan bahan yang dibutuhkan. Keempat, bangunan yang sesuai dengan standar dan fungsi. Kelima, sistem pelayanan yang bagus. Keenam, anggaran yang memadai pula.
Untuk mendukung Revolusi KIA, demikian Stef Bria, minimal di setiap desa di NTT harus memiliki pustu dengan ruang perawatan yang memadai dan tempat tinggal petugas kesehatan (bidan, dokter) agar mereka tidak selalu meninggalkan tugas. Selain itu, lanjutnya, pada tahun 2010, semua puskesmas di NTT harus ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas rawat inap.
Jika NTT mau menurunkan tingkat kematian ibu dan anak, kata Stef Bria, harus ada mimpi dan untuk mewujudkan mimpi itu perlu langkah-langkah operasional yang terukur. Dia menyebut langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain pengorganisasian dengan perencanaan yang baik, pun pelaksanaan dilakukan dengan baik pula.
Selain itu, kata Stef Bria, pemantauan dan evaluasi harus dilakukan secara kontinyu. "Jika tidak berhasil harus dibilang tidak berhasil, sehingga bisa dicari di mana kelemahannya. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi harus dilakukan dengan baik," ujarnya.
Dikatakannya, evaluasi harus dilakukan secara obyektif, berkala dan transparan serta dilaksanakan secara berjenjang, terjadwal dan berkesinambungan mulai dari propinsi, kabupaten hingga puskesmas dan pustu atau pos kesehatan desa (poskesdes).
Perihal anak NTT dan status gizi, Stef Bria mengatakan, status gizi balita di NTT jumlahnya 504.900 orang, dengan rincian yang normal 496.350 orang, dan gizi bermasalah sebanyak 55.550 orang. Dari gizi yang bermasalah itu, yang gizi kurang 48.436 orang, gizi kurang tanpa kelainan klinis 7.065 orang dan gizi buruk dengan kelainan klinis 49 orang dan yang meninggal tujuh orang.
Masalah kesehatan, kata Stef Bria, bukan hanya tanggung jawab dinas kesehatan saja, tetapi ada banyak komponen terkait karena itu butuh dukungan dari berbagai pihak, misalnya dari DPRD ada perda dan juga fungsi penganggaran, dari gubernur dan lintas sektor lainnya.
"Kalau di daerah tidak ada jembatan atau jalan raya berlubang-lubang, ibu hamil lewat bisa meninggal dunia. Jadi, jangan salahkan orang kesehatan, kenapa orang itu meninggal. Jajaran kesehatan ibarat penjaga gawang. Yang mencetak gol di depan bukan kami," ujarnya.
Stef Bria mengharapkan dukungan dari masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan dukungan dari media massa. Dalam rangka Revolusi KIA ini, fasilitas kesehatan seperti pustu juga akan dibuat tempat tinggal bagi bidannya, seperti pustu bangunannya harus 80 meter persegi di mana untuk tempat tinggal bidan seluas 50 meter persegi dan sisanya untuk pelayanan. Setiap puskesmas juga akan dibuat sebagai puskesmas rawat inap dengan minimum tempat tidur sebanyak 10 unit.
Sementara Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho, mengatakan, peranan media sangat penting dalam menyosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. (ira/yel)
Fasilitas Kesehatan di NTT
----------------------------
* Puskemas : 326 unit
* Pustu : 890 unit
* Pusling : 336 unit
* Rumah sakit : 16 unit
* RS propinsi : 1 unit
* RS angkatan : 4 unit
* RS swasta : 12 unit
----------------------------
Total rumah sakit : 33 unit.
Rumah sakit khusus, yakni RS Kusta di Lewoleba (Lembata) dan Naob (TTU).
Pos Kupang edisi Minggu, 14 Juni 2009 halaman 1
Wai Penerun, Muko Take, Tapo Di Take
dion bata

HALIMAH, perempuan setengah umur itu tiba-tiba keluar dari gubuknya yang terletak di tepi pantai Menanga, ibu kota Kecamatan Solor Timur. Rumah itu berukuran 6 x 5 meter, atapnya terbuat dari daun enau, dan dindingnya dari bambu.
Rumah yang tampak sudah tua itu berlantai tanah. Kedua anak Halimah sedang bermain di dalam rumah tersebut. Kedua anak itu tampak sangat dekil karena belum mandi. Lantai tanah rumah itu juga sangat kering, tandus.
Ketika saya bertandang ke rumah itu, Kamis (11/6/2009), Halimah pun mengeluh. Menurut dia, sejak dulu kala mereka kesulitan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalaupun ada air, itu air sumur yang umumnya asin. Ada satu dua sumur yang airnya berasa sepat, digunakan untuk minum. Sedangkan air yang rasanya asin digunakan untuk mencuci dan mandi.
"Sejak dulu kala kami seperti ini, selalu kesulitan air. Air masalah utama bagi kami. Tapi, kepada siapa kami mengadu. Orang selalu bilang, kalau pilih tinggal di kampung risikonya
seperti ini. Karena itu, kami menerima ini sebagai kodrat kami," keluh Halimah sedih.
Apa yang disampaikan Halimah bukan hanya dirasakan oleh Halimah yang sehari-hari bekerja sebagai penambak garam tradisional di wilayah itu. Masalah air adalah masalah
masyarakat Pulau Solor umumnya. Bahkan orang mengidentikkan gadis-gadis di Pulau Solor dengan gigi kuning. Bukan karena mereka malas sikat gigi atau ditambal dengan emas, melainkan karena minum air asin itu.
Tidak ada sumur bor bantuan pemerintah di wilayah itu, apalagi air leding seperti masyarakat lain di Kabupaten Flores Timur (Flotim). Padahal, kalau pemerintah mempunyai perhatian, masyarakat bisa dibantu dengan membangun sumur bor. Air dari sumur bor itu kiranya bisa dialirkan untuk masyarakat agar bisa menanam sayur-sayuran dan makanan lain di wilayah itu.
Sulitnya mendapatkan air inilah yang membuat warga di Menanga dan masyarakat Solor umumnya sangat kekurangan sayur-sayuran. Bahkan orang mengidentikkan tanah Solor dengan wai penerun (air asin), muko take (tidak ada pisang), tapo di take (kelapa juga tidak ada). Kondisi ini pulalah yang membuat orang enggan ke Pulau Solor.
Julukan ini pun diakui Halimah. Menurut dia, untuk mendapatkan sayur-sayuran, warga harus mendatangkannya dari Waiwerang atau Larantuka dan sekitarnya.
"Kalau kita beli di Menanga, sayurnya mahal karena sayur itu berasal dari luar daerah. Kadang kami tidak bisa beli karena terlalu mahal," kata Halimah. (Syarifah Sifah)
Pos Kupang edisi Sabtu, 13 Juni 2009 halaman 5
11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
dion bata
KUPANG, PK -- Sebanyak 11.344 atau 29,8 persen siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak lulus Ujian Nasional (UN) Tahun 2009. Meski demikian, target yang dipatok Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi NTT sebesar 70 persen angka kelulusan tercapai.
Persentase kelulusan SMA mencapai 70,2 persen atau naik 7,5 persen dengan jumlah peserta 38.069 orang. Sementara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencapai 83,25 persen atau sekitar 6.736 orang dari 8.092 peserta. Sebanyak 1.356 atau 16,75 persen peserta SMK tidak lulus atau 16,75 persen. Angka ini turun 0,4 persen dari tingkat kelulusan peserta UN tahun sebelumnya yang mencapai 83,6 persen.
Kepala Dinas PPO Propinsi NTT, Ir. Thobias Uly, M.Si, melalui Plh Dinas PPO Propinsi NTT, Drs. Klemens Meba, yang menghubungi Pos Kupang per telepon, Jumat (12/6/2009) malam, mengatakan, untuk program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) lulus 79,8 persen atau naik 10,67 persen, IPS lulus 63,5 persen atau naik 9,33 persen, dan Bahasa lulus 79,4 persen atau turun 4,36 persen.
Hingga semalam panitia UN masih berada di Jakarta. Meski demikian, katanya, pengumuman UN untuk propinsi NTT akan tetap dilaksanakan Sabtu, 13 Juni 2009. Untuk kabupaten/kota se-NTT, katanya, pengumuman diserahkan kepada Dinas PPO masing-masing. Ijazah pun tetap ditulis tanggal 13 Juni 2009.
Sebelumnya, Thobias Uly menjelaskan, jajaran dinas pendidikan menargetkan angka kelulusan hingga 70 persen hasil UN tingkat SMA, SMK dan SMP . Target tersebut cukup realistis sesuai dengan persiapan para guru dan siswa untuk menghadapi UN 2009. (nia)
Pos Kupang 13 Juni 2009 halaman 5
Kosmas Lay Divonis 18 Bulan Penjara
dion bata
KUPANG, PK -- Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kupang, memvonis 18 bulan penjara bagi Kosmas Wilson Lay, Kamis (11/6/2009). Dalam kapasitasnya sebagai Direktur PT Kharisma Konstruksi, Kosmas Lay dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek peningkatan Jalan Bokong- Lelogama Paket III Tahun Anggaran 2007.
Dalam sidang yang berlangsung dari pukul 13.40 Wita hingga 16.50 Wita ini, majelis hakim juga menghukum Kosmas Lay membayar denda Rp 50 juta subsider dua bulan kurungan dan mengembalikan kerugian keuangan negara Rp 296.122.512,12 subsider tiga bulan penjara.
Di akhir persidangan, Kosmas Lay menyatakan mempertimbangkan putusan majelis hakim ini. "Saya pikir-pikir," kata Kosmas Lay menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, H. Imam Suudi, S.H, M.H. Tanggapan yang sama juga disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Shierly Manutede, S.H.
Selain Imam Su'udi, majelis hakim perkara ini adalah Dwi Djanuwanto, S.H dan Yuswardi, S.H. Terdakwa didampingi penasehat hukumnya, Melkianus Ndaomanu, S.H.
Dalam putusannya majelis hakim menyatakan, terdakwa terbukti memenuhi unsur- unsur dalam pasal 3 pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP (pasal kedua dakwaan JPU).
Terdakwa Kosmas Lay, demikian majelis hakim, terbukti secara sah dan meyakinkan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau koorporasi; menyalahgunakan kewenangan, jabatan atau sarana yang ada padanya sehingga merugikan keuangan negara.
Majelis hakim juga menyatakan, terdakwa terbukti secara bersama-sama dengan Kadis Kimpraswil (sekarang PU, Red) NTT saat itu, Fredrik Allo, Kasubdin Prasarana Jalan, M Ali Arifin, dan Kepala Seksi Pembangunan Jalan Subdin Prasarana Jalan, Yeskiel Sabetu melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana disebutkan dalam pasal 5 KUHP.
Dalam pertimbangan hukumnya, majelis hakim berkesimpulan, dalam proyek tersebut, telah terjadi serah terima tahap pertama (PHO) walaupun pekerjaan mayor dalam keadaan rusak dan ada item pekerjaan minor yang belum selesai dikerjakan. Majelis hakim juga menegaskan, walaupun ada jaminan kerusakan dari kontraktor (terdakwa) senilai Rp 413 juta sehingga terjadi PHO, hal tersebut tidak menghilangkan perbuatan melawan hukum.
Mengutip keterangan sejumlah saksi dalam persidangan, majelis hakim berpendapat, agregat yang digunakan dalam proyek peningkatan jalan Bokong- Lelogama Paket III bukanlah tipe A sebagaimana disebutkan dalam kontrak. Walaupun ada saksi yang menerangkan bahwa agregat yang dipakai sudah lolos tes laboratorium Dinas Kimpraswil NTT, majelis hakim berpendapat bahwa tidak ada jaminan agregat tersebut yang dipakai.
"Seharusnya dilakukan lagi tes agregat setelah pekerjaan selesai untuk menguji apakah agregat yang dipakai sesuai atau tidak dengan yang diatur dalam kontrak," demikian antara lain alasan majelis hakim sebagaimana dibacakan Yuswardi.
Sebelum membacakan amar putusan, majelis hakim juga menyatakan mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan, yakni perbuatan terdakwa tidak mendukung upaya pembangunan. Sementara hal yang meringankan, terdakwa tidak pernah dihukum, berlaku sopan dan jujur serta mempunyai tanggungan keluarga.
Untuk diketahui, dalam tuntutannya, JPU meminta majelis hakim menghukum terdakwa 2,6 tahun penjara, membayar denda Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp 296.122.512,12 subsider enam bulan kurungan.
Dalam pledoinya, penasehat hukum terdakwa meminta majelis hakim membebaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum. Penasehat hukum terdakwa beralasan, Kosmas Lay tidak terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana didakwakan JPU. (dar)
Pos Kupang 12 Juni 2009 halaman 9
Penyidik Kajati NTT Akan Panggil 30 Camat
dion bata
KUPANG, PK -- Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT akan memanggil 30 camat di Kabupaten Kupang untuk didengarkan keterangannya sehubungan proyek pengadaan benih di Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kupang.
Keterangan para camat ini dibutuhkan untuk melengkapi berkas perkara Kadis Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kupang, Ir. Max David Moedak, M.Si, yang sudah ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Rabu (10/6/2009).
Kasi Humas Kejati NTT, Muib, S.H, didampingi penyidik kasus ini, Gasper Kase, S.H, menjelaskan hal ini kepada Pos Kupang di Kejati NTT, Kamis (11/6/2009). Ditanya langkah lanjutan penyidik setelah menetapkan David Moedak menjadi tersangka, Muib mengatakan, dalam waktu dekat penyidik akan membuat surat panggilan kepada 30 camat untuk dimintai keterangan.
"Berdasarkan hasil penyidikan, benih itu untuk 30 kecamatan di Kabupaten Kupang. Karena itu untuk melengkapi berkas perkara tersangka, penyidik akan keluarkan undangan kepada 30 camat agar memberikan keterangan," jelas Muib.
Menurut Muib, penyidik membutuhkan keterangan para camat ini karena dari hasil penyidikan sementara diketahui bahwa tidak semua kecamatan menerima benih sesuai dengan yang disebutkan dalam kontrak kerja antara Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kupang dengan CV Bumi Belantara Jaya Malang selaku pelaksana kegiatan.
Perihal penyimpangan yang dilakukan, menurut Muib, selain kualitas benih yang kurang, juga karena bertentangan dengan Permendagri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.
"Konkretnya, tidak ada RDK (Rencana Definitif Kegiatan) sebagaimana disyaratkan dalam Permendagri 13 tersebut," tambah Gasper Kase.
Sebelumnya diberitakan, Max David Moedak ditetapkan sebagai tersangka karena diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan benih Tahun Anggaran 2008 di dinasnya. Selain, Max David Moedak, penyidik juga menetapkan kontraktor proyek tersebut, Eko Budi Arianto, S.E sebagai tersangka.
"Pak Kajati baru saja tanda tangan surat penetapan tersangka setelah kasus ini selesai diekspos tadi. Dari hasil penyelidikan selama kurang lebih dua bulan, penyidik menduga kuat kedua tersangka merugikan keuangan negara dalam proyek pengadaan benih berupa jati, mahoni dan mente," jelas Muib di Kejati NTT, Rabu (10/6/2009). (dar)
Pos Kupang 12 Juni 2009 halaman 9
SBY-Boediono Target Menang di NTT
dion bata
KUPANG, PK--Tim kampanye dan pemenangan pasangan Calon Presiden (Capres) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Boediono (SBY-Boediono) menargetkan menang 55 persen di NTT. Pangsa pasar mereka adalah masyarakat kelas menengah ke bawah, terutama mereka yang telah menikmati dana bantuan langsung tunai (BLT).
Hal ini dikatakan Ketua Tim Kampanye SBY-Boediono untuk wilayah NTT, Drs. Jefri Riwu Kore,MM, saat deklarasi paket itu di Hotel Kristal, Kupang, Rabu (10/6/2009). Untuk meraih kemenangan, kata Jefri, membutuhkan kerja keras, terutama menyatukan tim koalisi sehingga target itu bisa mencapai 100 persen. Jefri mengatakan, pemilih di NTT sudah pintar melihat dan memilih figur.
SBY, lanjut Jefri, adalah figur nasionalis yang selalu berjuang mensejahterakan rakyat, dengan BLT, dan dana bantuan sosial lainnya. SBY tidak tegah melihat rakyatnya miskin sehingga mengeluarkan kebijakan memberikan BLT kepada masyarakat tidak mampu, dengan harapan jika ekonomi keluarga penerima sudah meningkat maka penerimanya dicoret dari daftar penerima BLT itu.
Jefri menegaskan, ada orang yang menjadikan BLT sebagai isu utama bahwa produk hukumnya merupakan buah dari pemerintah terdahulunya, sama sekali tidak benar. "Kami yakin, isu itu tidak akan mempengaruhi pilihan rakyat. Masyarakat tidak bodoh. Semua tahu bahwa BLT itu lahir pada pemerintahan Presiden SBY," kata Jefri.
Membacakan sambutan tertulis Korwil Bali Nusra, Jero Wacik, Jefri menegaskan, BLT bukan menggunakan dana asing. BLT itu menggunakan dana APBN sehingga perlu dipertanggungjawabkan secara baik. Tanggung jawab yang dimaksud, penyalurannya harus mengena sasaran. Rakyat yang menerima dana itu harus benar-benar miskin.
Menurut Jero Wacik dalam sambutan tertulisnya, dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar 30 persen, pemerintah berhasil melakukan penghematan sebesar Rp 32,8 triliun. Pemerintah kemudian menggunakan dana tersebut sebesar Rp 4,4 triliun untuk beras miskin dan ketahanan pangan, Rp 14,1 triliun untuk pendanaan BLT terhadap 19,1 juta kepala keluarga sasaran miskin dan nyaris miskin, Rp 11,7 triliun untuk penurunan defisit, dan Rp 2,6 triliun untuk cadangan risiko fiskal.
Jefri juga membantah pemberian BLT tidak didasari kepentingan politis tertentu. Menurutnya, rakyat sangat miskin sekali tidak bisa dikasih kail, tetapi ikan terlebih dahulu. Setelah membaik, barulah mereka diberikan bantuan secara bertahap, mulai dari kail hingga perahu. "Lagi pula, mengapa orang yang ingin membantu rakyat miskin saja kok dipertanyakan. Apa salah jika membantu rakyat miskin dengan motif?" tanya Jefri.
Deklarasi itu berlangsung meriah, dihadiri oleh tim koalisi antara lain, Yucun Lepa (PKB), Thomas Ola Langoday (PPRN), Metusalak Sio (PKDI), Yohanes Dekresano (PPDI). Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe menghadiri acara deklarasi dan pengukuhan tim kampanye SBY-Boediono.
Ditanya soal jadwal kampanye rapat umum, di mana paket SBY-Boediono mendapat jadwal pertama hari ini, 10 Juni 2009, Jefri mengatakan, jadwal itu akan dimanfaatkan dengan pertemuan tim sinkronisasi membahas hal teknis untuk SBY berkampanye di Kupang. (gem/aa)
Pos Kupang edisi Kamis, 11 Juni 2009 halaman 1
Tanah Longsor di Tolnaku Terus Melebar
dion bata

KUPANG, PK--Rekahan tanah longsor di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang terus melebar setiap hari. Sejak Jumat (5/6/2009) hingga Rabu (10/6/2009), rekahan tanah longsor bertambah lebar antara tiga meter sampai lima meter.
Pantauan Pos Kupang di lokasi tanah longsor, Rabu (10/6/2009), warga di desa itu mengaku hampir setiap hari memantau perkembangan tanah longsor. Mereka memasang patok dari kayu dan bambu untuk menandai titik longsor terakhir.
Patok lain dipasang berjarak dua meter sampai tiga meter, kemudian pada hari berikutnya mereka kembali memantau dan ternyata rekahan tanah longsor bertambah lebar. Kondisi ini ditandai tanah longsor sudah mencapai patok yang dipasang dua meter sampai tiga meter dari titik tanah longsor terakhir atau sebelumnya.
Warga menduga tanah longsor yang terus melebar itu berlangsung secara sporadis dan tidak stabil dalam artian dalam satu sampai dua hari longsorannya bervariasi antara 0,5 meter hingga satu meter.
Rekahan tanah longsor yang terus melebar ini berada di sekitar pemukiman warga sebelumnya dengan kedalaman dua meter sampai lima meter. Salah satu rumah milik Gabriel Kase, kini terancam bila rekahan tanah longsor terus melebar ke arah timur. Tanah longsor yang melewati rumah ini hanya berupa belahan tanah, tapi tidak merobohkan rumah itu. Meski begitu, warga takut dan pindah ke lokasi pemukiman baru karena longsoran saat ini mulai bergerak mendekati rumah mereka.
Rekahan tanah longsor yang mulai melebar ini secara perlahan, namun pasti dengan gejala awal pecah-pecah tidak beraturan kemudian runtuh. Sebanyak 32 kepala keluarga (KK) korban bencana alam ini sudah dipindahkan ke Fatukoto sekitar satu atau dua kilometer dari lokasi tanah longsor.
Beberapa warga korban bencana tanah longsor yang ditemui di pemukiman Fatukoto, mengaku adanya pelebaran rekahan tanah longsor sekitar tiga meter sampai lima meter. Mereka saat ini konsentrasi membuat rumah darurat di lokasi pemukiman baru. "Hampir setiap hari tanah yang jatuh atau runtuh itu selalu bertambah. Dan, penambahan itu kita selalu pantau dengan tanda patok saja sehingga kami tahu ada penambahan," kata Imel Pantola, salah satu korban bencana.
Dia mengatakan, yang selalu memasang patok dan mengamati perkembangan tanah longsor adalah Fredik Mau. Dan, setiap saat memang ada penambahan tanah yang runtuh meski tidak ada hujan.
Pantola mengaku warga setempat belum tahu apakah tanah longsor karena gejala alam ataukah ada gempa bumi sehingga terjadi pergeseran tanah. "Sebelumnya kami masih ragu dan tidak percaya, tanah longsor selalu terjadi pukul 06.00 pagi dan sore, serta pukul 12.00 atau pukul 00.00 Wita. Namun, dengan kami tanda pakai patok ternyata benar, karena itu pada jam-jam tersebut kami selalu waspada," ujarnya.
Riky Mau, warga lainnya mengatakan, pelebaran tanah longsor tidak tentu harinya. Bisa berselang satu atau dua hari, dan ada juga setiap hari dengan waktu yang tetap, yakni pukul 06.00 pagi dan jam enam sore (pukul 18.00 Wita), serta pukul 12.00 siang dan jam 12 malam (pukul 24.00 Wita). Menyikpai kondisi ini, lanjutnya, mereka selalu waspada dan membantu membangun rumah darurat.
Sebelumnya diberitakan, rekahan yang terjadi di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang mencapai sekitar 12 kilometer. Akibatnya sebanyak 117 jiwa dari 32 KK dipindahkan ke pemukiman di Fatukoto. (yel)
Belum Terima Fiber
KORBAN tanah longsor di Desa Tolnaku, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang sampai saat ini masih mengalami kesulitan air bersih atau air minum. Para korban belum menerima bantuan bak penampung air bersih seperti fiber dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang.
Para korban tanah longsor yang ditemui di pemukiman Fatukoto, Rabu (10/6/2009), mengaku mereka belum mendapat bantuan sarana air minum berupa penampung atau fiber. Bantuan fiber ini sudah disampaikan oleh Bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki, namun hingga kini bantuan itu belum ada di lokasi pemukiman.
Ny. Marsa Pantola, salah satu korban mengatakan, bantuan yang ada berupa beberapa jenis sembako dan tenda. Bantuan itu, lanjutnya, diberikan pada awal mereka mengungsi atau pindah dari wilayah tanah longsor ke Fatukoto. Bantuan tahap berikut berupa sarana air minum sampai sekarang belum diterima. "Kami memang bisa ambil air sendiri hanya jaraknya cukup jauh, karena itu kami minta kalau pemerintah bisa bantu, kenapa tidak," kata Pantola.
Dia mengatakan, semenjak mereka ada di pemukiman baru, kesulitan yang dialami dan cukup dirasakan adalah air minum, apalagi air adalah salah satu kebutuhan yang sangat penting. Karena itu, mereka sangat mengharapkan dalam waktu dekat pemerintah dapat membantu bak penampung air minum.
Saat ini, lanjut Pantola, air yang mereka gunakan adalah air dari Oelmela yang berjarak satu kilometer. "Jalan ke sumber air juga agak susah karena jalan menurun dan saat pulang mendaki. Ini buat kami agak susah," ujarnya.(yel)
Pos Kupang edisi Kamis, 11 Juni 2009 halaman 1
Budaya Baca Masyarakat NTT Sangat Rendah
dion bata
KUPANG, PK -- Budaya membaca orang Indonesia dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada khsususnya masih sangat rendah. Hal ini dipengaruhi oleh warisan nenek moyang yang tidak meninggalkan budaya baca tulis, tetapi budaya lisan seperti budaya omong, menonton dan mendengar.
Hal ini disampaikan salah seorang pustakawan asal Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Frans Wayan, S.Fil, yang membawakan materi tentang 'Pembudayaan Kegemaran Membaca' dalam diskusi panel Pemasyarakatan Perpustakaan dam Minat Baca serta Pemilihan Pustakawan Berprestasi Tingkat Propinsi NTT di lantai I Badan Perpustakaan Daerah Propinsi NTT, Senin (8/6/2009).
Hadir pada kesempatan itu, Kepala Badan Perpustakaan Daerah Propinsi NTT, Drs. Nahor Talan, Sekretaris Badan Perpustakaan Daerah Propinsi NTT, Drs. Kirenius Tallo, kepala keluarga (KK) dan staf kelurahan dari lima kelurahan di Kota Kupang, yakni Oebobo, Nefonaek, Kelapa Lima, Alak, Maulafa dan Liliba, serta undangan lainnya.
Diskusi ini mengangkat tema, 'Melalui Masyarakat Perpustakaan dan Minat Baca Kita Tingkatkan Kegemaran Membaca Untuk Memperluas Wawasan Demi Terciptanya Masyarakat Cerdas'.
Menurut Frans, minat baca orang Indonesia sangat rendah. Masyarakat belum menjadi society book, reader dan writer. Masyarakat, katanya, masih menjadi pendengar dan penonton yang baik.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), katanya, masyarakat Indonesia yang menonton televisi sebanyak 85,9 persen, mendengarkan radio sebanyak 40,3 persen, sedangkan yang membaca koran 23,5 persen.
Sementara menurut Education for All Global Monitoring Report 2005, Indonesia berada di urutan kedelapan negara-negara populasi buta huruf terbesar di dunia. Populasi warga Indonesia yang buta huruf mencapai 18,4 juta orang. Sedangkan buta aksara di Indonesia tahun 2007 sebesar 18,1 juta orang. Empat juta di antaranya adalah usia produktif dan lebih dari 70 persen perempuan.
Menurut Wayan, ada beberapa hal yang membuat budaya membaca masyarakat rendah, antara lain tidak terbiasa membaca pada usia dini, tidak ada perpustakaan, persepsi yang keliru tentang koleksi, jenis layanan dan sistem layanan perpustakaan, faktor lingkungan dan ekonomi.
Menurutnya, dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, sangat penting perpustakaan melakukan berbagai terobosan untuk memotivasi minat baca masyarakat.
Dijelaskannya, budaya baca harus dimulai dari dalam keluarga. Orangtua harus menjadi contoh bagi anak-anak. Memotivasi minat baca anak dimulai dengan membacakan cerita anak, mengalokasikan waktu membaca untuk anak, memberikan hadiah buku bagi anak, membawa buku ke mana dan kapan saja, menggunakan perpustakaan dan menjadi anggota perpustakaan, mengunjungi toko buku dan pameran buku serta menciptakan sebuah perpustakaan keluarga. (nia)
Melayani dengan Baik
KEPALA Badan Perpustakaan Daerah NTT, Drs. Nahor Talan, mengatakan, seorang pustakawan harus mampu menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan memberi nilai tambah dalam melayani pengunjung perpustakaan. Dengan demikian para pengunjung termotivasi, gemar membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua.
Menurut Talan, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan buku, tahun 2009 telah dilakukan pengadaan buku dengan dana dari APBN dan APBD. Menurutnya, sampai bulan April 2009, jumlah pengunjung yang mendatangi perpustakaan mencapai 55.934 orang. Rinciannya, pengunjung umum sebanyak 2.858 orang, swasta 1.074 orang, TNI/Polri 335 orang, PNS 1.367 orang, mahasiswa 41.465 orang, SMA 4.116 orang, SMP 2.879 orang dan SD 1.840 orang. Sementara jumlah koleksi yang dibaca di tempat, katanya, sebanyak 222.684 judul, jumlah peminjam mencapai 16.939 orang.
Dikatakannya, saat ini pihaknya mengaktifkan mobil perpustakaan keliling untuk memperkenalkan dan mendata masyarakat. Masyarakat yang sudah didata akan dilayani oleh perpustakaan keliling sesuai dengan kebutuhan.
Selain itu, pihaknya juga akan memberlakukan pelayanan pada hari libur untuk pembaca yang karena sibuk tidak bisa datang membaca pada hari libur.
Ketua panitia penyelenggara, Dra. Sarah A Alberthus, mengatakan, pemasyarakatan Perpustakaan dan Minat Baca serta Pemilihan Pustakawan bertujuan meningkatkan minat baca dan kebiasaan membaca masyarakat serta menciptakan citra pustakawan sebagai profesi yang dapat dibanggakan.
Selain itu, katanya, mendekatkan perpustakaan kepada pemustaka, khususnya masyarakat kelurahan, pusat pengembangan anak, mempromosikan kegiatan perpustakaan. (nia)
Pos Kupang edisi Selasa, 9 Juni 2009 halaman 5

