Gaya Jokowi di Kairagi
Dalam rangkaian blusukannnya ke Sulawesi Utara, Calon Presiden (Capres) PDI Perjuangan, Ir Joko Widodo alias Jokowi menyempatkan diri mampir ke Kantor Harian Tribun Manado di Jalan AA Maramis, Kairagi, Manado, Sabtu (10/5/2014) sekitar pukul 13.15
Dua Mahasiswi Unima Taklukkan Puncak Elbrus
Prestasidemi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima)
Berwisata Penuh Sensasi ke Pulau Komodo
TAK dapat dimungkiri, Pulau Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, adalah salah satu pulau terunik di dunia
Memelihara Kesetiakawanan Sosial
dion bata
SALAH satu ciri masyarakat Indonesia adalah mudah tergugah hatinya manakala melihat sesama menderita. Hal itu sangat jelas kita saksikan bilamana terjadi musibah dengan korban jiwa sangat besar misalnya bencana gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir bandang dan lainnya.
Sebagai daerah langganan bencana alam, masyarakat dan pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah berulangkali merasakan semangat kesetikawanan sosial itu. Ketika gempa bumi disertai tsunami melanda Pulau Flores 12 Desember 1992 yang menelan korban jiwa lebih dari 2.000 orang, bantuan kemanusiaan datang dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara.
Masyarakat Indonesia memperlihatkan solidaritas mereka dengan cara menyumbangkan sesuatu yang mereka miliki. Hal yang sama terjadi di Aceh tahun 2004 saat tsunami menyapu wilayah Serambi Indonesia tersebut.
Menyimak jumlah korban jiwa ratusan ribu orang dan harta benda yang hilang, banyak pihak melukiskan tsunami Aceh 26 Desember 2004 sebagai bencana alam terdasyhat di bumi dalam 500 tahun terakhir. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama masyarakat Aceh pulih kembali untuk melanjutkan kehidupan.
Solidaritas memang salah satu aset sosial bangsa ini. Aset yang sangat berharga dan kita syukuri karena masih bertahan dalam keseharian masyarakat dengan format yang unik dan beragam. Warga masyarakat dengan caranya masing-masing suka menolong atau membantu sesama yang membutuhkan.
Sejarah Indonesia telah membuktikan betapa kesetiakawanan sosial itu mampu menjadikan bangsa ini tetap tangguh dalam situasi yang sangat buruk sekalipun.
Kiranya dalam spirit itulah anggota Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) melakukan aksi sosial saat berkunjung ke Kupang selama dua hari, tanggal 17-18 Mei 2010.
Salah satu aksi sosial SIKIB yang anggotanya adalah istri para menteri adalah menggelar pengobatan gratis. Sebanyak 213 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Selain melayani pasien katarak, pengobatan gratis SIKIB juga melayani delapan penderita hernia, sepuluh penderita tumor lipoma dan sepuluh pasien penderita bibir sumbing berhasil dioperasi. Bahkan SIKIB juga melayani sunat untuk 27 orang anak.
Kita patut memberi apresiasi terhadap kepedulian SIKIB. Para istri pejabat tinggi negara tersebut mau datang ke Kupang membagi kasih kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang membutuhkan bantuan.
Poin lain yang kita petik dari dari kehadiran SIKIB adalah keteladanan. Para istri pemimpin negeri ini memberi teladan kebaikan. Teladan untuk senantiasa memelihara ikatan solidaritas sosial. Sudah seharusnya demikian. Para pemimpin, para tokoh masyarakat kita perlu memberikan teladan kepada masyarakat. Dengan cara itu niscaya kesetiakawanan sosial akan tumbuh subur di tengah masyarakat.
Kita tentu saja perlu mengingatkan para pemimpin negeri tentang tugas lain yang tak kalah penting yakni pemberdayaan masyarakat. Aksi sosial seperti pengobatan gratis memang membantu masyarakat tetapi tidak mungkin berlangsung terus- menerus karena bisa meninabobokan masyarakat.
Pendekatan sinterklas dalam jangka panjang justru memperlemah daya juang masyarakat. Mereka akan senantiasa menunggu uluran tangan orang lain manakala ditimpa kesulitan. Kemandirian sirna. Itu yang tidak kita kehendaki. Tugas dan tanggung jawab pemerintah yang utama adalah membentuk masyarakat mandiri melalui terobosan program pemberdayaan. Sayangnya program semacam itu belum kita lihat sedang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. *
Pos Kupang 19 Mei 2010 halaman 4
Saksi Nuwa Wea Tolak
dion bata
RAPAT Pleno KPUD Ngada dengan agenda penetapan hasil pemungutan suara Pemilu Kada, Kamis (10/6/2010), diwarnai aksi penolakan penandatanganan berita acara penetapan hasil Pemilu Kada. Saksi dari paket calon Piet Jos Nuwa Wea-Benediktus Djawa, yakni Petrus Nggebu Lai menolak menandatangani berita acara penetapan pasangan calon pemenang tersebut.
Lai beralasan, ada temuan pelanggaran saat pemungutan suara di 13 TPS yang belum diselesaikan. Ke-13 TPS itu, katanya, tersebar di sembilan desa dan empat kelurahan. Pelanggaran yang terjadi itu adalah pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana. Dia mencontohkan pelanggaran yang terjadi di TPS I Boua, Desa Ubedolumolo. Di TPS ini tidak ada surat suara cadangan. "Jadi tidak ada surat cadangan. Ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran administrasi," katanya.
Pelanggaran lain, kata dia, terjadi di Warusoba Desa Beiwali. Di sana surat suara yang tidak terpakai hilang dan lima diantaranya tidak ditemukan. Sementara di Rutogeli, Desa Beja juga terjadi hal yang sama sehingga berita acara tidak ditandatangani oleh petugas KPPS.
Menurut Lai, Paket Piet-Beni akan mengajukan gugatan keberatan ke Mahkama Konstitusi, yang menurut dia akan berguna untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.
Di TPS III Anggrek, Kelurahan Lebijaga, Kecamatan Bajawa, kata Lai, juga terjadi pelanggaran
administratif dimana jumlah surat suara sah melebihi surat suara yang terpakai. Selain itu, di TPS VII Podium Kartini, Kelurahan Tanalodu, ketua KPPS mencoblos salah satu paket atas nama beberapa pemilih yang tidak hadir.
Karena itu Lai menegaskan tidak menerima hasil pleno KPUD tersebut. Hasil pleno penetapan masih bermasalah.
Dalam rapat pleno KPUD tersebut, ditetapkan pasangan calon Nomor Urut 5, yakni Paket Mulus (Marianus Sae dan Paulus Soliwoa) sebagai pemenang. Pasangan ini mendulang 32.125 suara (43,83 persen) dari total suara sah 73.297 suara.
Pantauan Pos Kupang, Kamis (10/6/2010) sejak pukul 10.00-14.00 Wita, warga Kota Bajawa terlihat memadati kompleks KPUD untuk menyaksikan pleno penetapan hasil Pemilu Kada tersebut.
Rapat pleno dihadiri saksi dari enam paket calon peserta Pemilu Kada. Sementara saksi dari dua paket calon lainnya yakni Yohanes Viani Kota-Damianus Bilo (Venus) dan Martinus Djawa-Hendra Yusf (Majus) tidak menghadiri rapat pleno tersebut. Rapat pleno berlangsung lancar tanpa diwarnai aksi demo seperti di daerah lainnya. (ee)
Pos Kupang 11 Juni 2010 halaman 1
Credo Patut Jadi Contoh
dion bata

RUTENG, POS KUPANG.Com -- Dalam hal keharmonisan paket bupati-wakil bupati, Christian Rotok dan Kamelus Deno (Credo) patut menjadi contoh. Lima tahun memimpin Kabupaten Manggarai, nyaris tak ada gesekan yang mengganggu hubungan keduanya. Credo maju kembali dalam Pemilu Kada sebagai paket incumbent dan menang.
Catatan Pos Kupang, Paket Credo merupakan paket pertama di Propinsi NTT yang "mesra" selama lima tahun memimpin, maju lagi dalam Pemilu Kada dan unggul secara meyakinkan. Kebanyakan pasangan bupati- wabup di NTT, hanya "mesra" di tahun pertama memimpin dan selanjutnya "jalan sendiri-sendiri", bahkan bermusuhan sampai akhir masa tugas.
Tidak ada pasangan bupati-wabup yang sama-sama maju kembali dalam satu paket sebagai calon incumbent setelah mengakhiri masa tugas. Di Manggarai Barat (Bupati Fidelis Pranda dan Wabup Gusti Ch Dula) dan Flores Timur (Bupati Simon Hayon dan Wabup Yosep Lagadoni Herin), misalnya, pasangan tersebut maju sendiri-sendiri dalam Pemilu Kada sebagao Cabup. Di Mabar, Gusti Dula unggul sementara di Flotim belum diketahui hasilnya karena Pemilu Kada tertunda.
Di Manggarai, Credo bisa dikatakan tak tertandingi. Bertarung dengan delapan paket calon, yang mana sebagiannya adalah PNS/pejabat aktif Pemkab Manggarai, Credo mendulang 34,54 persen suara. Urutan kedua terpaut jauh, yakni 15.31 persen yang diraih pasangan Viktor Slamet-Hironimus Marut.
Perolehan suara ini berdasarkan pleno rekapitulasi perolehan suara yang dilakukan KPUD Manggarai, Kamis (10/6/2010).
Rapat pleno dipimpin Ketua KPUD Manggarai, Frans Aci didampingi anggotanya, Florentius Deby Syukur, Kony Syukur, Niko Nirang dan Hendrik Dao. Turut hadir Kajari Ruteng, Timbul Tamba, S.H.MH, Sekda Manggarai, Paul Bero, S.H.M.Kes, Ketua Panwas Pemilu Kada, Pino Jewaru bersama anggotanya.
Sesuai rekapitulasi perolehan suara tersebut, pasangan Credo unggul di sejumlah kecamatan seperti di Wae Ri'i, Cibal, Reok, Rahong Utara, Ruteng dan Satar Mese. Bahkan di Kecamatan Langke Rembong, kecamatan asal sebagian besar calon yang maju dalam Pemilu Kada, Paket Credo juga unggul.
Dengan hasil tersebut, Pemilu Kada di Manggarai hanya berlangsung satu putaran saja dengan paket yang memperoleh suara terbanyak adalah Credo. Meski demikian KPUD masih akan melakukan pleno lagi untuk menetapkan paket calon terpilih.
Rapat pleno KPUD Manggarai diwarnai aksi demo warga yang menolak pleno penghitungan suara oleh KPUD tersebut. Mereka menuntut KPUD menunda pleno tersebut sampai semua persoalan Pemilu Kada diselesaikan sesuai aturan yang berlaku. Meski ada demo, KPUD tetap melangsungkan rapat pleno sampai selesai.
Massa yang menggelar aksi demo adalah pendukung tujuh paket calon yang diungguli Credo. Massa tidak hanya menggelar aksi demo di KPUD, tetapi juga menggelar aksi serupa di kantor Panwas Pemilu Kada.
Di kantor Panwas, massa menuntut Panwas bersikap netral dan segera merekomendasikan proses hukum semua pelanggaran selama Pemilu Kada berlangsung. (lyn)
HASIL PEMILU KADA:
------------------------------
Kabupaten Manggarai:
-----------------------------------------
Nama Paket Perolehan suara Persentase
--------------------------------------------------------------------------------------
Ferdy Lehot- Herman Man (Firman) ! 7.815 ! 5,53%
Herybertus Nabit-Yustina Ndung (Naun) ! 10.834 ! 7,67%
Christian Rotok-Deno Kamelus (Credo) ! 48.833 ! 34,54%
Viktor Slamet-Hieronimus Marut (Victory) ! 21.642 ! 15.31%
Frans Salesman-Ignasius Repelita Lega (Fress) 13.642 ! 9,63%
Frans BP Leok-Pius Rengka, S.H.M.Sc (Rapi) 5.891 ! 4,17%
Frediques Plate Yoseph-Timo Terang (Frids-Timo) 14.454 ! 10.22%
Andreas Garu-Yoseph Darung Maru (Garuda) 9.054 ! 6,4%
Sukardan Aloysius-Valentinus Gampur (Syukur) 9.228 ! 6,53%
---------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah pemilih: 165.472 orang * 680 TPS * Suara sah 141.366 * Suara tidak sah 2.344.
* Sumber: Pleno KPUD Manggarai, Kamis (10/6/2010).
Kabupaten Ngada:
----------------------------------------------------
Nama Paket Perolehan suara Persentase
--------------------------------------------------------------------------------------
Piet Nuwa Wea-Benediktus Djawa (Piet-Beni) 8.537 11,65 %
Petrus Tena-Siprianus Radho Tolly (Tenar) 6.092 8,31 %
Benediktus Ngete-Lauresius Nau (Bernas) 12.313 16,80 %
Johanes Djawa-Bruno Paskalis Siloang (Idola) 1.899 2,59 %
Marianus Sae-Paulus Soliwoa (Mulus) 32.125 43,83 %
Florianus Aser-Wilibrodus Paga (Friendly) 8.959 12,22 %
Sewo Yohanes-Damianus Bilo (Venus) 1.793 2,45 %
Martinus Djawa-Hendra Yusuf (Majus) 1.579 2,15 %
------------------------------------------------------------------------------------------
* Sumber: Pleno KPUD Ngada, Kamis (10/6/2010).
Kabupaten Manggarai Barat:
----------------------------------------------------
Nama Paket Perolehan suara Persentase
--------------------------------------------------------------------------------------
Wempi Hapan-Monaldus Najib 3.225 2,87 %
W Fidelis Pranda-Vincensius Pata 29.401 26,18 %
Matheus Hamsi-Theodorus Hagur 12.968 11.55 %
Yoseph Ardis-Bernadus Barat Daya 11.177 9,95 %
Saverinus Dagun-Fransiskus Sukmaniara 2.435 2,17 %
Paulus Baut-Malada Petrus 3.243 2,89 %
Antonius Bagul Dagur- Abdul Asis 14.863 13,23 %
Agustinus Ch. Dula-Maximus Gasa 34.972 31,15 %
-----------------------------------------------------------------------------------
* Sumber: Pleno KPUD Mabar, Kamis (10/6/2010).
Pos Kupang 11 Juni 2010 halaman 1
Suster Ludgardis: Melihat Karya Allah
dion bata

RAMAH dan murah senyum. Itulah kesan pertama ketika bertemu dengan Suster Ludgardis, CIJ. Menjalankan tugas ganda sebagai dokter dan penanggung jawab Rumah Sakit Lepra St.Damian - Lewoleba, Kabupaten Lembata, bukan tugas ringan bagi dokter Ludgardis.
Tugas kesehariannya mengelola administrasi rumah sakit dan memberikan pelayanan kepada pasien. Baik pasien yang dirawat di rumah sakit lepra tersebut maupun pasien rawat jalan yang setiap hari selalu mengunjungi rumah sakit itu. Untuk menjalankan dua tugas itu, Suster Ludgardis harus pandai-pandai membagi waktu. Jika tidak demikian, suster murah senyum ini bisa kewalahan.
Suster kelahiran Manggarai, 20 Mei 1974, itu punya cara tersendiri menjalankan dua tugasnya itu. Pagi pukul 07.30 Wita hingga pukul 08.30 Wita, ia memeriksa dan memberi pengobatan kepada pasien. Jika tidak ada pasien rawat jalan yang diperiksa, Suster Ludgardis kembali ke kantor mengurus berkas administrasi rumah sakit.
Jika ada pasien baru dan harus diperiksa, Suster Ludgardis akan mengutamakan pasien. Setelah itu baru mengurus administrasi rumah sakit, setelah Poli Umum ditutup pukul 14.00 Wita. Itulah tugas keseharian dokter Ludgardis, CIJ.
"Syukurlah walau harus menjadi satu-satunya dokter di sini, urusan administrasi tidak serumit di rumah sakit umum. Saya masih bisa urus dengan baik. Pasien yang ke sini hanya pasien penyakit kulit. Frekuensinya tidak selalu padat. Itulah misi kongregasi kami, yakni memperhatikan orang kecil. Kami semua di sini berusaha untuk melakukannya dengan senang hati," kata anak ketiga dari enam bersaudara buah kasih
Gregorius Gelo dan Maria Embes.
Suster Ludgardis menerima FloresStar di ruang tata usaha rumah sakit itu, Rabu (26/5/2010). Dokter tamatan Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta pada Desember 2006, itu menuturkan, menjadi satu-satunya dokter sekaligus kepala rumah sakit ada suka-duka tersendiri.
Apalagi mengurus dan merawat pasien lepra, kata Suster Ludgardis, membutuhkan kesabaran. Sebab, mereka umumnya ditolak masyarakat ketika kembali setelah mereka sembuh. Dan, ketika mereka ditolak di lingkungan asalanya, maka pilihannya mereka kembali ke Rumah Sakit Lepra St. Damian. "Jadi, kondisi psikologis mereka tidak stabil. Mengurus pasien yang demikian, saya dan semua karyawan di sini dituntut lebih sabar. Hanya dengan cara itu semua kegiatan pelayanan dapat berjalan baik," kata lulusan SMP Benteng Jawa, Manggarai Timur tahun 1990.
Suster Ludgardis mengaku sulit menghadapi pasien yang memiliki kondisi psikologis yang kurang stabil. "Mereka cenderung berbuat ulah. Sebagai orang normal, kita sabar saja melayani mereka. Saya melihat kehadiran dan karya Allah dalam diri mereka. Karena yang pasti Tuhan akan selalu menyediakan segalanya pada waktunya," katanya.
Walau peralatan dan obat-obatan serba terbatas, dr. Ludgardis berusaha melayani semua pasien dengan senyum. Ia pun tak lupa bersyukur kepada Tuhan. Doa selalu dia panjatkan agar Tuhan senantiasa memberi kekuatan kepadanya dalam menjalanakn tugas kemanusiaan.
"Peralatan medis dan obat-obatan kami di sini terbatas. Tetapi, mungkin karena saya selalu berdoa untuk kesembuhan setiap pasien yag saya rawat, sehingga mereka sembuh. Padahal ada yang sudah berobat ke rumah sakit-rumah sakit besar di Jawa. Malah mereka sembuh di sini (RS Lepra St. Damian). Itulah anugerah Tuhan. Tuhan melihat keterbatasan kami dan penyakit yang diderita setiap pasien yang datang ke sini," ujarnya.
Dalam menjalankan tugasnya, ada hal melelahkan Suster Ludgardis, yaitu mendengarkan keluhan pasien yang datang dalam kondisi ganguan psikis. "Mereka memaksa saya untuk mengikuti mereka. Kalau pasien yang hanya sakit fisik, itu saya percaya dengan pemberian pelayanan yang baik ditambah doa, akan mendapatkan kesembuhan. Tetapi yang paling melelahkan berhadapan dengan pasien yang memiliki gangguan psikis. Walau hanya dua orang yang saya layani ehari, terasa sangat melelahkan. Mungkin karena saya terlalu masuk ke dalam persoalan mereka," kata Ludgardis. (jumal hauteas)
FloresStar 2 Juni 2010 halaman 1
Tenun Ikat di Tangan Dorce Lussi
dion bata

Oleh Frans Sarong
Menyebut Nusa Tenggara Timur, bagi sebagian orang, yang terbayang adalah kemiskinan dan kekeringan. Padahal, di Kota Kupang, misalnya, ada sentra tenun Ina Ndao yang bisa dibanggakan. Koleksi kain tenun di sini berasal dari sejumlah kabupaten di NTT. Omzetnya Rp 50 juta-Rp 60 juta per bulan.
Keberadaan Ina Ndao tak bisa dipisahkan dari perjuangan Dorce Lussi. Perempuan kelahiran Pulau Ndao, Rote Ndao, ini seperti perempuan setempat pada umumnya, punya keahlian menenun kain. Bedanya, dia tak sekadar menenun untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi sekaligus berusaha mengembangkannya dengan melibatkan banyak perempuan lain.
Penghasilan dari penjualan tenun ikat buatan keluarganya itu sebagian ditabung. Dari uang itulah dia membeli tanah seluas 400 meter persegi, yang kemudian bertambah menjadi 1.000 meter persegi. Di atas tanah itulah ia membangun Ina Ndao, ruang pamer sekaligus toko dan bengkel tempat sekitar 20 perempuan perajin menenun. Di tempat ini pula Dorce dan keluarga tinggal.
Di luar Ina Ndao, Dorce masih didukung 1.780 mitra perajin binaannya, yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota se-NTT, seperti di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Ende, Flores Timur, sampai Kabupaten Lembata.
Dorce memang membuka kesempatan kepada siapa pun— umumnya perempuan remaja dan ibu muda usia—untuk belajar menenun ikat di Ina Ndao. Setelah mereka mahir, sebagian ada yang memilih tetap bekerja di Ina Ndao, sebagian lagi kembali ke kampung halaman masing-masing.
”Mereka yang kembali ke kampung halaman itu kemudian menjadi mitra binaan kami,” kata Dorce, yang berkali-kali mengikuti pameran di sejumlah kota dengan dukungan Dinas Perindustrian NTT.
Hubungan mitra binaan dan Ina Ndao tidak mengikat. Artinya, mitra binaan bebas menjual hasil tenun ikatnya kepada siapa saja, tak harus kepada Ina Ndao. Kemampuan produksi setiap mitra binaan juga berbeda karena pada satu mitra binaan itu jumlah penenunnya pun bervariasi, umumnya 4 sampai 6 orang.
Dorce tak khawatir bakal tersaingi dengan munculnya sentra penenun ikat di beberapa desa di NTT. Keinginannya untuk memasyarakatkan tenun ikat justru semakin cepat terwujud dengan keberadaan sentra perajin di banyak desa.
”Setiap daerah di NTT itu mempunyai motif tenun yang khas. Semakin banyak desa yang punya sentra penenun, berarti makin banyak pula pilihan motif tradisional tenun kami,” katanya.
Tenun NTT dengan berbagai motif geometris, hewan, bunga, ataupun tanaman itu, dulu—selain sebagai pakaian sehari-hari— juga digunakan untuk berbagai acara adat, seperti pernikahan, kelahiran, ataupun kematian. Namun, belakangan ini tenun ikat umumnya dicari turis dan pendatang untuk suvenir.
Anak yatim
Dorce adalah anak tunggal pasangan Mathias Loleh dan Nelci Loleh Ndun, petani miskin di Pulau Ndao, Kabupaten Rote Ndao. Keluarga ini hidup dari nira lontar hasil sadapan Mathias dan tenun ikat karya Nelci. Tahun 1960, Mathias meninggal. Sejak itu, ibu dan anak perempuannya itu mengandalkan hidup hanya dari hasil menjual tenun ikat karya Nelci.
”Ketika kami masih di Ndao, Mama biasa pergi ke Baa dan sejumlah pasar di Rote (pulau tetangga) untuk menjual kain tenun, sambil menukar kain tenun dengan beras,” kata Dorce.
Berpendidikan sekolah menengah pertama (SMP) dan kepandaian menenun dari sang bunda, tahun 1984 Dorce menikah secara adat dengan Yus Lussi di Ndao. Mereka lalu merantau ke Kupang, Pulau Timor, disertai Nelci dan Aplonia Sina, ibunda Yus Lussi.
”Tak ada barang berharga yang kami bawa, selain dua unit peralatan menenun milik kedua mama itu,” kata Dorce.
Keluarga ini lalu mendiami pondok sederhana yang dikontrak Rp 12.500 per bulan. Mereka bekerja serabutan, mulai dari mengorek anakan pohon sampai berjualan kue.
Yus kemudian diterima bekerja sebagai penjaga kantor Dinas Pertanian NTT dengan gaji Rp 15.000 per bulan. Selain itu, dia juga bekerja sampingan menjual benih sayuran. Uang hasil kerja sampingan itu, antara lain, digunakan untuk membeli bahan baku tenun, seperti benang dan zat pewarna.
”Kami harus membeli bahan baku tenun karena kedua mama itu sehari-hari menenun. Kasihan kalau mereka tidak menenun,” ujar Dorce yang menjadikan hal itu sebagai titik perubahan kehidupan keluarganya.
Alhasil, tenun ikat mereka selalu mendapatkan pembeli. Bahkan, dari hasil tenun ikat itu mereka bisa membeli bahan baku lebih banyak lagi. Sedikit demi sedikit produksi tenun ikat mereka semakin meningkat.
Terbatas
Tahun 1991, secara resmi Dorce memulai usaha tenun ikat Ina Ndao. Empat tahun pertama pemasaran tenun ikat Dorce dibantu oleh Perwakilan NTT di Jakarta. Bahkan, ketika Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1997/1998, dia justru ketiban rezeki.
Waktu itu, cerita Dorce, Bank Dagang Negara tidak hanya memberikan pinjaman modal usaha kepadanya sebesar Rp 10 juta, tetapi instansi itu juga membukakan pintu pemasaran yang lebih luas. ”Ibu-ibu dan para wanita yang tergabung dalam ikatan bank tersebut memesan 125 lembar tenun ikat Ina Ndao. Harganya ketika itu sekitar Rp 125.000 per lembar kain,” kata Dorce mengenang.
Selain itu, Dorce juga mendapat bantuan teknis dari Dinas Perindustrian NTT. Didampingi petugas dari Dinas Perindustrian NTT pula, dia membawa tenun ikat NTT ke sejumlah kota guna mengikuti pameran sekaligus memperluas pasar. Tak hanya di Indonesia, dia juga membawa tenun ikat sampai ke Singapura, Malaysia, India, dan Jepang.
Sambil memperluas pasar, produksi tetap menjadi perhatian utama Dorce. Tumbuh besar di antara para perajin tenun ikat dan melihat pasar yang sangat menjanjikan, ia ingin kualitas tenun ikat bisa ditingkatkan. Dengan demikian, kain ini tak sekadar dibeli orang untuk suvenir.
”Kain tenun ikat itu tak terbatas untuk sarung dan selendang saja. Tenun ikat juga bagus dijadikan pakaian lelaki ataupun perempuan. Tenun ikat yang diolah menjadi jas juga disukai konsumen,” kata Dorce tentang tenun ikat yang belakangan menjadi pakaian wajib bagi pegawai Provinsi NTT pada hari-hari tertentu.
Selain lewat pameran, tenun ikat Ina Ndao secara langsung hanya bisa dijumpai di Kupang. Bila Anda menemukannya di Bali atau Jakarta, itu berarti ada pedagang perantara yang membeli langsung ke Kupang.
”Kemampuan produksi kami masih terbatas. Pasar tenun ikat di Kupang saja belum bisa dipenuhi,” Dorce menambahkan. *
Sumber: Kompas 1 Juni 2010 halaman 16
Gurita Korupsi di Daerah Miskin
dion bata

Oleh C Wahyu Haryo PS
Kondisi sebagian besar alam di Provinsi Nusa Tenggara Timur boleh jadi tandus dan gersang. Kekeringan dan rawan pangan seolah menjadi bencana rutin yang dihadapi warga NTT hampir setiap tahun.
Kemiskinan, kasus gizi buruk, angka putus sekolah, serta angka penganggur yang tinggi pada akhirnya menjadi mata rantai lanjutan dari persoalan itu.
Kini, lebih dari satu dekade pelaksanaan otonomi daerah, beban rakyat NTT semakin berat karena pada saat yang sama harus menghadapi bencana baru yang muncul akibat buruknya tata kelola pemerintahan daerah. Bencana yang sudah ada di depan mata dan dipastikan makin memiskinkan rakyat NTT itu adalah korupsi.
Berdasarkan pantauan Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) NTT sepanjang 2009 terhadap 16 dari 21 kabupaten/kota di NTT, ada 125 kasus dugaan korupsi dengan total indikasi kerugian negara Rp 256,3 miliar. Padahal, dana sejumlah itu jika digunakan untuk melakukan intervensi pemulihan gizi buruk anak balita yang dalam 90 hari membutuhkan Rp 1,5 juta per anak balita, bisa menjangkau sekitar 170.000 anak balita.
Jumlah anak balita penderita gizi buruk di NTT mencapai 60.616 dari total 504.900 anak balita di sana. Ironis sekali ketika bantuan untuk mengatasi gizi buruk ataupun rawan pangan yang digelontorkan pemerintah pusat dan lembaga donor lain belum juga bisa membuahkan hasil positif, sementara di sisi lain ada indikasi korupsi keuangan negara yang nilainya lebih dari dua kali lipat dari anggaran yang dibutuhkan untuk penanganan seluruh kasus gizi buruk di sana.
Gambaran lain, dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir ada 587 surat pengaduan masyarakat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melaporkan indikasi tindak pidana korupsi di NTT. Lebih dari seperempat kasus yang dilaporkan itu berada di pusat pemerintahan NTT, yakni di Kota Kupang. Data KPK itu sejalan dengan hasil survei Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2008 yang diselenggarakan Tranparency International Indonesia (TII) yang menyebutkan Kupang sebagai kota terkorup di antara 50 kota di Indonesia yang disurvei.
Dari hasil telaah KPK, ada 13,46 persen pengaduan yang benar-benar terindikasi tindak pidana korupsi dan diteruskan kepada penegak hukum. Masih ada pengaduan yang dikembalikan ke pelapor untuk dimintakan keterangan tambahan.
Indonesia Budget Center (IBC), awal Mei lalu, mengutip hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyebutkan, pada semester II tahun anggaran 2009, terdapat 1.804 temuan pemeriksaan di NTT dengan 3.305 rekomendasi atas penyimpangan anggaran daerah senilai Rp 5,29 triliun. Dari jumlah itu, ada 1.300 rekomendasi yang nilai anggarannya mencapai Rp 2,06 triliun yang belum ditindaklanjuti.
Selain itu juga ditemukan 392 kasus kerugian negara senilai Rp 76,45 miliar pada penggunaan anggaran di NTT. Dari jumlah itu ada 280 kasus yang belum ditindaklanjuti dengan pengembalian atas kerugian negara dengan nilai kerugian Rp 58,08 miliar. Padahal, jika mengacu pada pagu pemberian beasiswa bagi siswa SMA/SMK miskin di NTT tahun 2008 sebesar Rp 1,5 juta per orang dalam setahun, kerugian negara sejumlah itu bisa digunakan untuk membiayai pendidikan bagi hampir 13.000 siswa miskin hingga mereka tamat SMA/SMK.
Bencana korupsi yang melanda NTT bisa dikatakan sudah cukup kronis. Pelakunya merasuk dan tersebar di berbagai lapisan, mulai dari oknum pejabat pemda, pimpinan proyek, entitas swasta, anggota DPRD, pengurus partai politik, camat, kepala desa, bahkan hingga kepala sekolah dan guru (lihat Tabel). Aneh dan ironis saat korupsi justru terjadi di daerah yang memiliki jumlah penduduk miskin mencapai 1,01 juta jiwa atau sekitar 23,3 persen dari jumlah penduduk (2009).
Di level kepala daerah, misalnya, mantan Bupati Ende Paulinus Domi dan mantan Sekretaris Daerah Ende Iskandar Mberu ditahan karena terindikasi korupsi dana APBD Ende 2005 dan 2008 senilai Rp 3,5 miliar. Di luar itu, ada sejumlah mantan bupati yang sempat tersangkut dugaan korupsi, yakni mantan Bupati Kupang Ibrahim Agustinus Medah, mantan Bupati Rote Ndao Christian Nehmia Dillak, dan mantan Bupati Timor Tengah Selatan Daniel Banunaek. Kasus Ibrahim dikabarkan telah dihentikan penyidikannya oleh Kepolisian Daerah NTT, kasus Christian belum diketahui kelanjutannya, sedangkan Daniel justru divonis tiga tahun penjara atas pidana perambahan hutan.
Mantan Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Larantuka Pastor Frans Amanue mengungkapkan, filosofi otonomi daerah baik karena ingin mendekatkan pelayanan publik. Namun, ekses yang muncul justru virus korupsi yang menyebar di kabupaten hingga desa. Alokasi dana sulit diawasi.
Korupsi menjalar ke seluruh lapisan penyelenggara pemerintahan karena tidak ada tindakan hukum yang tegas kepada pelaku. Penegakan hukum perkara korupsi baru sebatas pada tingkatan staf dan belum menyentuh ke pejabat di pemda.
"Kuncinya tindakan hukum yang tegas bagi pelaku, terutama bagi pejabat yang korup. Jika tidak ada contoh tegas bagi pejabat yang korupsi, pejabat lain tidak akan takut untuk korupsi," katanya di Larantuka, pertengahan Mei ini.
Keprihatinan serupa disampaikan Koordinator Advokasi PIAR NTT Pace Subaki. Dari sekian banyak indikasi penyimpangan yang diungkapkan BPK, misalnya, belum banyak yang ditindaklanjuti. Sementara dari kasus dugaan korupsi yang mengemuka, belum banyak yang sampai ke pengadilan.
Daya rusak tindak pidana korupsi semakin terasa hebat karena sebagian mengakar hingga di lingkungan sekolah dan guru. Parahnya lagi, belum ada tindakan hukum yang menimbulkan efek jera bagi pelakunya ataupun bagi aparatur yang lain.
"Guru tidak siap mengelola dana BOS (bantuan operasional sekolah) karena kurikulum di FKIP (fakultas keguruan dan ilmu pendidikan) tidak mengajarkan itu. Masyarakat juga belum banyak kritis mengawasi pengelolaan dana BOS," kata anggota staf Divisi Antikorupsi PIAR NTT, Paul Sinlailoe. Menurut dia, otonomi daerah dalam pengelolaan dana dekonsentrasi pendidikan masih setengah hati.
Berdasarkan pantauan PIAR NTT, 44 persen kasus dugaan korupsi berada di bidang pemerintahan. Dari perspektif sektoral, 46,4 persen kasus korupsi ada di sektor pengadaan barang dan jasa dari pemerintah, disusul sektor APBD (34,4 persen). Tidak mengherankan jika muncul idiom baru dari NTT, yakni "Nusa Tetap Terkorup".
Memang tak semua pegawai di NTT terjangkiti virus korupsi. Di antara kubangan lingkungan birokrasi yang korup, ternyata masih ada pegawai yang tidak mau memanfaatkan kesempatan untuk korupsi meski secara ekonomi ia masih kekurangan. Salah satunya Charles Daris (42), pegawai Dinas Koperasi Kota Kupang yang ditemui di tepian pantai di Jalan Timor Raya, Kupang, Sabtu (8/5).
Saat itu ia tengah berbincang dengan dua nelayan rekannya, Bonatus (62) dan Kornelis Pulanga (42). Charles adalah pegawai negeri yang memiliki pekerjaan sambilan sebagai nelayan. "Pagi hari sampai siang, beta kerja kantor. Sore pukul 15.00 hingga 06.00 pagi, beta cari ikan di laut," katanya.
Sebagai pegawai golongan IID dengan gaji Rp 1,9 juta per bulan, tentu tidak akan mencukupi kebutuhan bapak empat anak itu. "Lebih baik beta kerja sambilan jadi nelayan daripada beta harus korupsi," katanya.
Sejak diangkat menjadi pegawai tahun 1997, ia terus memegang jabatan bendahara. Baru beberapa tahun terakhir ia melepas jabatan itu karena ingin lebih tenang. "Kawan-kawan bilang, beta ini bendahara bodoh. Dari dulu sampai sekarang tidak juga kaya, rumah itu-itu saja. Di sini, kalau jadi bendahara yang jujur itu justru dibilang bodoh," katanya lantas tertawa, diikuti dua rekan lainnya.
Andai semua birokrat memiliki komitmen yang sama untuk tidak melakukan korupsi seperti Charles, bisa jadi persoalan kemiskinan dan rawan pangan di NTT tidak telanjur selaten saat ini. (KORNELIS KEWA AMA)
Baca juga
Bangun Kembali NTT yang Tandus
dion bata
Oleh C WAHYU HARYO PSUsaha mengangkat harkat masyarakat Nusa Tenggara Timur dari belenggu kemiskinan tidak cukup dengan mengandalkan peran pemerintah daerah dengan segala keterbatasannya. Persoalan itu hanya bisa diatasi melalui pemberdayaan masyarakat. Jangan terus mengandalkan bantuan. Rakyat juga harus diajak menghadapi kenyataan, diajak memberdayakan diri, bangkit, dan lebih percaya diri untuk melepaskan diri dari belenggu kemiskinan,” kata Frans Amanue, mantan Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Larantuka.
Alam NTT yang cenderung panas memang memberikan tantangan tersendiri. Hampir setiap tahun daerah itu dilanda bencana kekeringan, gagal panen, hingga kekurangan pangan. Sepintas memang tak ada yang bisa dilakukan untuk menaklukkan kondisi alam yang demikian gersang dan tandus itu. Nada pasrah dan menerima bencana yang makin dianggap lumrah itu tersirat dari ungkapan masyarakat NTT tentang singkatan daerahnya, ”Nanti Tuhan Tolong”.
Di tengah kepasrahan yang jamak itu, gerakan pemberdayaan perempuan melalui pengembangan usaha tenun tradisional yang dirintis Yovita Meta (54) seperti menggugah kesadaran sebagian masyarakat NTT untuk bangkit. Mata dunia, semoga juga termasuk mata birokrat dan masyarakat NTT, menjadi terbuka saat kiprah Yovita yang dimulai sejak 1989 itu menuai penghargaan Prince Claus Award dari Kerajaan Belanda pada awal 2004.
”Orang melihat NTT alamnya susah, tanah tandus, panasnya sangat terik, dan selalu saja mengeluh. Saya ingin orang melihat bagaimana panas ini menjadi potensi. Dengan mengembangkan usaha tenun, panas merupakan berkah,” katanya saat ditemui di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, pertengahan Mei lalu.
Keprihatinan akan kemiskinan yang dihadapi warga Desa Matabei di Boboki, Kabupaten Timor Tengah Utara, justru mendorong Yovita untuk memberdayakan perempuan di sana melalui usaha tenun kain tradisional. Inisiatif ini muncul karena ia melihat hampir semua kaum perempuan dewasa di sana memiliki keterampilan menenun. Berawal dari pendampingan kepada delapan perempuan, usaha tenun masyarakat di sana pun terus berkembang.
Setelah sekian lama, usaha masyarakat itu berkembang menjadi 34 kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 8-20 perajin. Usaha tenun itu makin berkembang dan telah menghidupi lebih dari 1.700 keluarga atau 4.000 jiwa di tiga kecamatan. Hasil yang bisa dinikmati masyarakat dari usaha tenun itu di antaranya terpenuhinya kebutuhan untuk menyekolahkan anak dan bahkan ada yang bisa digunakan untuk membangun rumah.
Selain mendatangkan manfaat terkait pelestarian budaya, usaha tenun itu secara tidak langsung juga mendorong penghijauan kembali alam yang sebagian tandus. Pasalnya, kelompok penenun juga melakukan penghijauan kembali dengan tanaman yang diperlukan sebagai bahan baku usaha tenun, seperti kapas, mengkudu, dan lamtoro. Kapas untuk bahan baku benang, sedangkan mengkudu dan lamtoro untuk bahan baku pewarna alami. Sedikitnya kelompok penenun dampingannya telah melakukan reboisasi di lahan kritis seluas 50 hektar.
”Potensi daerah ini sebenarnya banyak yang bisa dikembangkan, misalnya periuk tanah serta kerajinan dari daun lontar dan kayu jati. Masyarakat tinggal diajak untuk menggali dan mengembangkan potensi itu serta membantu memasarkannya,” kata Yovita.
Selain Yovita, ada pula kelompok tani di Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, yang berhasil memberdayakan diri dan keluar dari belenggu kemiskinan melalui usaha ternak sapi australia. Memang, sapi yang mereka budidayakan itu awalnya bantuan dari pemerintah. Namun, tanpa inisiatif mengelola secara kolektif, bantuan sapi itu dipastikan tidak akan berkembang, layaknya bantuan serupa yang gagal di daerah lain.
”Sama sekali tak ada pelatihan tentang pemeliharaan sapi. Petugas datang hanya mengirim sapi, ya sudah begitu saja,” kata Ketua Kelompok Ternak Sapi Desa Dikesare Amir Raya (55).
Bantuan 10 ekor sapi betina dan seekor sapi jantan yang diterima akhir 2002 itu dikelola lima warga. Kelompok tani itu bersepakat memelihara sapi dalam satu kawanan karena mereka berpikir tidak mungkin memelihara dan mengembangbiakkan secara terpisah mengingat sapi yang jantan hanya satu. Berbeda dengan kelompok tani lain yang langsung membagi bantuan itu untuk dipelihara masing-masing dan akhirnya tak berkembang dan gagal.
”Setiap anggota diberi tanggung jawab menjaga dan menggembalakan sapi setiap hari secara bergantian,” kata Amir.
Dengan inisiatif pembudidayaan seperti itu, sapi-sapi yang tingginya melebihi orang dewasa itu telah beranak-pinak dan menghasilkan 25 keturunan, 15 ekor di antaranya telah dijual. Saat ini sapi yang dipelihara itu ada 17 ekor.
Soal hasil dari pembudidayaan sapi itu tidak perlu diragukan. Salah seorang anggota kelompok tani, Rahman Boli (62), bisa menguliahkan satu anaknya untuk menempuh pendidikan diploma III di Universitas Cendana (Undana), Kupang, serta satu anaknya yang lain bisa menempuh strata 1 di Undana.
Peran masyarakat sipil
Inisiatif pemberdayaan juga dilakukan sejumlah lembaga nonpemerintah. Lembaga kemanusiaan World Vision Indonesia (WVI), misalnya, lebih dari satu dekade mendampingi kelompok masyarakat di sembilan kabupaten di NTT. Mereka terlibat aktif dan membangkitkan partisipasi warga untuk mengatasi masalah kesehatan, pendidikan, agrikultur, pemenuhan kebutuhan air bersih, infrastruktur, dan pertanahan. Mereka juga memberikan pelatihan kepemimpinan, jender, dan pengolahan pendapatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Gereja juga mengambil peran yang cukup besar dalam pemberdayaan masyarakat NTT. Di Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Barat, Pusat Pembinaan Pastoral dan Sosial (Puspas) Keuskupan Weetebula lebih dari 20 tahun memberikan perhatian kepada putri Sumba yang putus sekolah. Lebih dari 600 putri Sumba, tanpa membeda-bedakan agamanya, dilatih keterampilan tata boga dan busana.
Hasilnya, banyak di antara mereka yang kemudian berwirausaha. Sebagian lagi bekerja di Pulau Bali dan Jawa dengan keterampilan yang lebih memadai.
”Kami prihatin banyak putri Sumba bekerja merantau ke luar pulau tanpa keterampilan memadai. Yang terjadi, tidak jarang mereka kemudian mendapat perlakuan kasar,” kata Wakil Direktur Puspas Romanus Dansus Pr. Sayangnya, program pemberdayaan putri Sumba yang putus sekolah ini terhenti tahun 2008 karena keterbatasan dana yang dimiliki Puspas.
Pelibatan masyarakat dan lembaga nonpemerintah dalam mengatasi persoalan kemiskinan di NTT, seperti dikemukakan Direktur Eksekutif Yayasan Timor Membangun Marthen Duan dan Manajer Program Walhi NTT Herry Naif, menjadi penting di tengah keterbatasan yang dimiliki pemerintah daerah. Pemerintah daerah perlu mendukung inisiatif-inisiatif pemberdayaan yang selama ini dilakukan kelompok masyarakat sipil.
”Kebijakan peningkatan ekonomi daerah melalui program kehutanan, misalnya, jangan sampai justru mengabaikan kedaulatan komunitas adat. Sumber daya alam yang ada perlu dikelola secara bersama untuk kesejahteraan masyarakat, bukannya justru memarjinalkan mereka dari tanah ulayatnya,” kata Marthen.
Di sisi lain, menurut Herry, diperlukan kebijakan pembangunan dari pemerintah setempat yang lebih konsisten memerhatikan kelestarian ekologi NTT. Program kesejahteraan melalui pengembangan pertanian dan peternakan, misalnya, sulit disandingkan dengan kebijakan mengeksploitasi barang tambang.
”Tidak bisa menggalakkan jagung di satu sisi, tetapi di sisi lain pemerintah juga membuka investasi tambang di daratan yang sama, sementara wilayah NTT yang sangat kecil ini rentan bencana. Kalau mau meningkatkan kesejahteraan, intensifkan pertanian dan perbaiki ekologi dengan pelibatan aktif masyarakat,” katanya.
Masyarakat NTT memang perlu diberdayakan. Sejalan dengan itu, Manajer Hubungan Eksternal Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah Robert Endi Jaweng mengatakan, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kapasitasnya. Pemerintah daerah harus bisa memanfaatkan momentum otonomi untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi rakyatnya.
Otonomi daerah di NTT memang sepatutnya tidak menjadikan birokrat setempat malah layaknya raja yang berkuasa dengan perilaku korup di tengah derita rakyatnya yang miskin. (Kornelis Ama Kewa)
Kompas Senin, 31 Mei 2010
Baca juga:
Di Balik Mosaik Pertumbuhan NTT
dion bata
Oleh BAMBANG SETIAWANPerkembangan di Nusa Tenggara Timur adalah cermin sebuah mosaik kehidupan masyarakat yang tumbuh di antara tingkat korupsi yang masif, lapangan kerja yang sempit, kemiskinan yang melekat, dan politik pendidikan yang labil.
Tak dapat dimungkiri, otonomi daerah yang diberlakukan secara nasional mulai 2001 dalam beberapa hal mengubah wajah NTT lebih baik dibandingkan sebelumnya. Pembangunan jalan dan sarana transportasi serta ketersediaan fasilitas umum dan kesehatan semakin berkembang. Masyarakat, sebagaimana terekam dalam survei Kompas, juga mengakui perkembangan sarana fisik dan pelayanan kesehatan.
Secara kuantitatif, indeks pembangunan manusia (IPM) di NTT meningkat 9,7 persen dibandingkan sebelum otonomi, yang dalam kurun waktu 1996-1999 cenderung turun. Angka harapan hidup, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran per kapita, sebagai tolok ukur IPM, mengalami pertumbuhan yang bergerak ke arah positif. Pertumbuhan di wilayah Kabupaten Kupang, Alor, Sikka, Sumba Barat, Timor Tengah Selatan (TTS), dan Timor Tengah Utara (TTU) bahkan melebihi pertumbuhan rata-rata NTT.
Meski demikian, cukupkah perkembangan yang dialami hampir satu dekade ini mengejar kemajuan? Tampaknya, meski NTT lari terengah-engah, belum juga cukup mengejar kemajuan. Walau meningkat, beberapa tolok ukur menunjukkan perkembangan yang ada masih jauh di belakang bilangan nasional. IPM NTT tahun 2008 berada di level 66,2 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang 71,2 persen. Bahkan, dibandingkan provinsi lain, peringkatnya berada di kelompok papan paling bawah, urutan ke-31 dari 33 provinsi, tidak beda dengan Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. Tahun 2004-2008, peringkat NTT juga tak berubah, tetap di urutan ke-31.
Walaupun selama satu dekade terakhir terjadi pemekaran dari 13 daerah menjadi 21 kabupaten/kota, kemiskinan tetap menjadi ciri yang melekat. Tercatat, warga yang berada di garis kemiskinan tahun 2009 di NTT mencapai satu juta jiwa atau 23,31 persen dari total penduduk. Jumlah penganggur pada 2009 mencapai tak kurang dari 89.000 orang dari jumlah angkatan kerja sebanyak 2,25 juta orang atau meningkat 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di tengah situasi ini, pendidikan mengalami kemerosotan yang tajam, terbukti dengan kelulusan sekolah menengah atas yang hanya 47,92 persen, terendah di antara seluruh provinsi di Indonesia.
Dengan semua fakta itu, tampak pertumbuhan yang ada lebih bersifat artifisial semata, sulit dikatakan adanya intervensi dari pemerintah daerah yang bersifat substansial. Jika melihat gejala yang ada, sifat alamiah pertumbuhan cenderung terhambat sebab sistem pengelolaan pemerintahan yang buruk.
Pertumbuhan mungkin bisa dipercepat apabila pemerintah daerah bisa mengerem korupsi dan proyek mercu suar yang tak masuk akal di mata masyarakat. Bukankah sebuah kemewahan yang disikapi dengan cibiran masyarakat, ketika dalam radius sekitar 5 kilometer, bupati di Lembata memiliki tiga kantor dan pengadilan agamanya memiliki dua kantor? Di balik semua kemewahan itu, Lembata ibarat kota mati pada malam hari, tidak ada penerangan jalan yang diusahakan pemerintah daerah.
Kecenderungan kesewenangan dalam penggunaan anggaran oleh pemerintah daerah membuat masyarakat langsung tunjuk hidung kepada mereka saat ditanyakan lembaga mana yang cenderung menangguk uang korupsi terbanyak. Sejak otonomi daerah, masyarakat dapat mencium gejala korupsi yang semakin parah (lihat Grafik).
Kentalnya nuansa korupsi di berbagai wilayah juga dibarengi dengan lemahnya kesigapan birokrasi daerah menangkap peluang usaha yang memungkinkan terserapnya tenaga kerja. Hasil survei Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) tahun 2008 menunjukkan, dari 33 provinsi, NTT di kelompok papan bawah untuk sebagian indikator penilaian, seperti iklim investasi, institusi pendukung penanaman modal daerah, dan promosi investasi.
Dalam hal ketersediaan dan kualitas tenaga kerja, NTT berada di urutan terbawah. Selain menjadi daerah dengan tingkat pendidikan tenaga kerja yang terendah, NTT juga menjadi daerah dengan tingkat produktivitas terendah, hanya menyumbang Rp 0,22 juta per bulan per tenaga kerja terhadap PDB sektor industri. Bandingkan dengan rata-rata nasional yang Rp 7,2 juta per bulan dan Provinsi Riau yang Rp 39,3 juta per bulan!
Ketersediaan lapangan pekerjaan memang dirasakan sebagai problem besar yang krusial untuk diselesaikan, sebagaimana tecermin dalam survei Kompas. Padahal, di balik tanah tandus di sebagian wilayah NTT tersimpan kandungan aneka tambang yang potensinya menggiurkan. Potensi tambang mangan di Pulau Timor, misalnya, sekarang baru sebatas euforia penemuan dan penjualan langsung kepada pembeli dari luar daerah atau luar negeri. Sejauh ini baru satu investor yang berkomitmen untuk membangun pabrik mangan di NTT.
Alih-alih menghasilkan tetesan ke masyarakat bawah, kewenangan daerah dalam pengelolaan ekonomi setempat sejauh ini masih berputar pada kepentingan birokrat dan pengusaha semata. Kegeraman DPRD TTU terhadap pengelolaan tambang mangan, misalnya, bisa jadi adalah gambaran betapa kolaborasi penguasa lokal dan pengusaha menjadi ciri khas otonomi.
”Pemda tidak patuh pada surat edaran menteri energi dan sumber daya mineral. Sebetulnya sejak Januari 2009 tidak boleh lagi dikeluarkan surat izin kuasa pertambangan, tetapi pada kenyataannya masih muncul izin pertambangan. Caranya, tanggalnya dibikin mundur. Misalnya, ada perusahaan baru berdiri pada 2009, tetapi mengantongi izin sejak 2008. Ada perusahaan yang hanya punya akta pendirian dari notaris serta tak punya nomor pokok wajib pajak (NPWP) dan izin usaha pertambangan (IUP), tetapi sudah diberi izin kuasa pertambangan,” ungkap Ketua Panitia Khusus Pertambangan Mangan DPRD TTU Hendrikus Frengky Saunoah. Ia juga membeberkan indikasi Primer Koperasi Polisi (Primkopol) mendapatkan surat izin kuasa pertambangan mangan.
Pertambangan di NTT adalah contoh sisi pertumbuhan yang dibiarkan gelap oleh birokrasi. Sulit didapat data yang pasti dari instansi terkait tentang jumlah bahan galian yang telah dijual. Padahal, di wilayah Timor setiap hari terdapat kapal di Wini atau Atapupu yang bersandar siap mengangkut hasil tambang mangan. Alasan ”ini baru tahap eksplorasi, belum eksploitasi” tampaknya sulit diterima akal sehat. Terlebih jika melihat gencarnya iklan di internet oleh pengusaha-pengusaha mangan yang hendak menjual bahan tambang ini kepada siapa saja. (Litbang Kompas)
Kompas, 1 Juni 2010
Rossi
dion bata

ANDAIKATA Sensus Penduduk 2010 ikut mencacah jumlah pendekar mabuk, beta bisa pastikan jumlahnya telah bertambah dibandingkan keadaan sepuluh tahun lalu. Betapa tidak. Saban hari semakin kerap saja pendekar mabuk mati di jalanan atau mati di rumah sakit setelah beberapa saat merasa mual, muntah, mata kabur dan pingsan.
Pekan lalu enam orang muda di Bali tewas mengenaskan setelah pesta minuman keras (miras) oplosan. Enam korban itu berasal dari berbagai tempat di Bali seperti Badung, Tabanan dan Denpasar. Mengutip laporan Kompas (26/5/2010), keenam korban itu adalah I Nyoman Sapta (27), I Nyoman Budhiarta (25), Anton (25), Risky Gandarika (18), Made Sudarsana (30) dan Aan Sudarta (45). Para korban rata-rata berusia produktif.
Pada waktu bersamaan miras oplosan merenggut empat nyawa di Kayuagung, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Korbannya adalah Harsin, Denin, Aziz dan Yanto. Sama seperti di Bali keempat pemuda Sumatera itu meregang nyawa secara berturutan dalam beberapa hari setelah menenggak miras oplosan. Gejala klinis mengarah pada keracunan metanol.
Bagaimana di beranda Flobamora? Jangan tanya lagi bung. Inilah markas besar pendekar mabuk. Yang agak berbeda cuma soal cara mati. Di sini agak jarang mati ramai-ramai karena menenggak miras oplosan. Satu dua kasus sih mungkin ada. Di sini tak perlu miras oplosan karena miras lokal dengan kadar alkohol di atas 45 persen mudah diperoleh di mana-mana dan banyak pula yang piawai meracik.
Mulai dari kelas ringan sampai kelas jengi jila alias bakar menyala (BM).
Modus pendekar mabuk di Nusa Tenggara Timur (NTT) unik sekali. Mereka duduk minum dulu sekian botol baru berlari kencang dengan sepeda motor di jalanan umum. Setelah minum moke, sopi atau arak mereka merasa diri segesit juara dunia Motto GP, Valentino Rossi. Malah lebih hebat daripada Rossi karena pendekar mabuk NTT lazimnya tidak suka pakai helm. Sebagian malah buka baju setengah biar dada kerempengnya dilihat orang saat melaju dengan sepeda motor.
Contohnya di Maumere, Kabupaten Sikka. Selama bulan Mei 2010, lima orang mati akibat kecelakaan lalulintas. Penyebabnya sama gara-gara mabuk moke. Bila ditambah data korban sejak Januari 2010, maka jumlah yang mati di jalanan Sikka 15 orang. Menurut polisi, 90 persen penyebabnya mabuk moke. Gila mo'at! Ini mestinya pantas disebut tragedi moke. Tapi karena mati satu demi satu tuan dan puan biasanya anggap remeh bukan?
Nikmat moke atau sopi memang luar biasa. Setelah minum biasanya bibir tak lagi kelu. Bibir mudah bercuap. Itulah sebabnya di ujung timur Flores, moke disebut air kata-kata. Air yang mengalirkan kata-kata. Di Ende Lio dan Nagekeo disebut wora. Wora artinya busa. Mulut bicara sampai berbusa-busa kalau sudah menenggak moke sekian gelas.
Sesungguhnya ada tiga kelompok pendekar mabuk. Pertama, pendekar mabuk yang minum sampai teler untuk melepas kepenatan hidup. Kelompok ini umumnya orang-orang kecil. Mereka datang dari kampung ke kota menjual hasil bumi. Uang mereka pakai untuk beli moke atau sopi. Minum sampai teler lalu mendengkur. Sekejap masalah hidup terlupakan.
Kalau modal cekak biasanya urunan. Para pendekar bakutambah duit untuk beli sopi. Lalu mereka duduk minum. Tempatnya bisa di mana saja. Di los pasar, terminal, deker, pondok di tengah ladang atau di bawah rindang pepohonan. Habis minum dampaknya beragam. Syukur kalau tidur mendengkur sampai mabuk sirna. Cukup sering terjadi salah paham berujung bakupukul atau bakutikam. Lainnya pulang ke rumah tapi tiba sebagai jenazah karena terlanjur meregang nyawa di jalanan akibat sepeda motor masuk selokan atau tabrak pagar.
Kelompok kedua, namanya drunken master alias pendekar mabuk tanggung. Minum untuk memancing rasa percaya diri. Sambil berjalan sempoyongan mereka mangkal di deker lalu memalak orang yang lewat. Minta uang!
Kelompok ini tak cukup punya keberanian untuk menekan orang dalam keadaan sadar. Jadi, mabuk dulu agar mampu meneror. Mereka cari uang lewat jalan mabuk. Siapa yang lebih terhormat? Kelompok pertama atau kedua? Entahlah. Silakan tuan dan puan jawab sendiri.
Masih ada satu kelompok lagi. Orang-orang ini bukan si miskin papa, melainkan manusia dari kalangan yang secara intelektual, sosial dan ekonomi lebih tinggi sehingga jenis minuman keras yang mereka konsumsinya pun berkelas tinggi. Miras belabel. Cukup sering produksi luar negeri. Miras kelas atas tentu harus dibeli dengan uang besar. Sekali duduk minum menghabiskan jutaan rupiah.
Sepanjang duduk minum itu bisa berkembang aneka percakapan, mulai dari soal hobi, politik, bisnis sampai urusan selingkuhan dan lain-lain. Pokoknya topik diskusi bisa bergerak dari satu tema ke tema lain. Tak habis-habisnya.
Cukup sering saat duduk minum mereka ditemani yang cantik-cantik, genit dan harum. Busananya minim. Pakai rok mini dan isi belahan dada nyaris tumpah. Jadi, tangan kanan memegang gelas, tangan lain ya urusan lain.
Para pendekar mabuk dari kelompok ini jelas tidak sedang melupakan kesulitan hidup atau perlu keberanian untuk cari duit. Mereka adalah kalangan yang sudah kehabisan cara menghabiskan uang. Tentang bagaimana cara mereka mendapatkan uang, aih itu soal lain, kawan. Kadang hidup terasa aneh bukan? (dionbata@gmail.com)
Pos Kupang edisi Senin, 31 Mei 2010 halaman 1
Kredit Mobil, Argumen Karo Keuangan Lemah
dion bata
KUPANG, PK -- Argumen Kepala Biro (Karo) Keuangan Setda NTT, Obaldus Toda mengenai kebijakan peminjaman dana APBD dari pos pembiayaan berupa kredit kendaraan yang berlangsung sejak tahun 2003 untuk PNS golongan I, II, III dan kepada anggota DPRD, sangat lemah.
Hal ini disampaikan Dr. Yohanes G Tuba Helan, S.H, M.H saat ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Sabtu (22/5/2010). Menurut Helan, argumen yang disampaikan Karo Keuangan sangat lemah, karena didasarkan pada sesuatu kebiasaan yang sudah lama dijalankan.
"Kalau hal itu tidak didukung dan disetujui rakyat banyak, maka kebiasaan itu harus dirubah atau direvisi," tegas Helan.
Helan membeberkan kelemahan itu. Pertama, penggunaan dana publik kepada perorangan khususnya kepada PNS dan anggota DPRD sangat bertentangan dengan prinsip penggunaan keuangan negara. Kedua, pemerintah daerah harus lebih kreatif menggali sumber pendapatan daerah, bukan berharap dari pengadaan kendaraan, sehingga dapat memperoleh PAD dari pajak kendaraan tersebut.
"Pemerintah daerah yang meningkatkan pendapatan daerah dengan mendatangkan kendaraan bagi PNS dan anggota dewan dengan jumlah terbatas, penambahan pendapatannya sangat tidak signifikan," jelas Helan.
Di lain pihak, kata Helan, dengan menambah jumlah kendaraan bermotor, sangat bertolak belakang dengan upaya mengurangi pemanasan global. Karena dengan menambah kendaraan mengakibatkan polusi dan memicu terjadinya pemanasan global.
Mengenai kebijakan ini sudah diasistensi dan disetujui kementerian dalam negeri, Helan menjelaskan, pernyataan itu sangat bertentangan dengan prinsip demokrasi. Nilai-nilai demokrasi sangat jelas mengatakan, persetujuan itu harus datang dari rakyat. Kebijakan ini bukan merupakan aspirasi rakyat sehingga harus dipertimbangkan. "Kalau disetujui pemerintah tingkat atas dan tidak disetujui rakyat, maka kehendak rakyatlah yang diikuti," tegas Helan.
Secara demokrasi, rakyat menghendaki penggunaan anggaran itu untuk kepentingan publik, seperti perbaikan sarana kesehatan, pendidikan, jalan, air bersih, dan sebagainya. Tetapi hanya karena disetujui menteri dalam negeri dan pemerintah menjalani, maka pemerintah telah mengesampingkan aspirasi atau kehendak rakyat. Pemerintah harus memahami vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Apabilah tidak didengarkan maka pemerintah sangat tidak demokratis.
Soal mengurangi kendaraan plat merah dan menghemat bahan bakar, menurut Helan, pemerintah daerah tidak memiliki kewajiban menyediakan kendaraan bermotor yang berplat merah, atau memberikan kredit seperti kepada anggota dewan. Kalau ada anggaran mendatangkan kendaraan tersebut, harus dipertimbangkan untuk lebih mengutamakan kepentingan rakyat, karena rakyat lebih membutuhkan. "Rakyat lebih butuh sandang, pangan dan papan, bukan kendaraan bermotor," kata Helan.
Menurut Kepala Ombudsman Wilayah NTT dan NTB, alasan mengenai kebijakan ini tidak merugikan rakyat, sangat tidak tepat. Apabila ditinjau dari segi ekonomi, mungkin dapat dibenarkan karena uang itu dikembalikan. Tetapi dari segi sosial, mengalokasikan dana publik untuk membeli kendaraan pribadi, berarti mengesampingkan kebutuhan rakyat. Hal ini sangat merugikan rakyat.
Alo Yakob, warga Perumahan Lopo Indah Permai, Kolhua yang menghubungi Pos Kupang, Sabtu (22/5/2010), mengatakan, argumentasi Karo Keuangan Setda NTT, Obaldus Toda hanya berkelit. Yakob mempertanyakan, kredit untuk PNS tidak disalurkan secara merata ke semua SKPD dengan mata anggaran yang jelas. PNS, kata Yakob, mengabdi untuk masyarakat puluhan tahun tapi tidak diberi kemudahan kredit dengan bunga kecil. Sementara DPRD NTT yang hanya lima tahun diberikan fasilitas kredit dengan bunga ringan. (hh/gem)
Pos Kupang 23 Mei 2010 halaman 14

