Thanksgiving Day ala Minahasa

Pedagang di Amurang jual bambu untuk masak nasi jahe
PULUHAN unit sepeda motor memenuhi pelataran bengkel Ahass King Motor Malalayang- Manado, Jumat 6 Juli 2012. Agak tak lazim memang. Biasanya cuma satu dua unit sepeda motor yang datang dan pergi setelah mendapat perawatan dari kru bengkel. Yang terlihat siang itu justru sebaliknya. Para pemilik sepeda motor harus antre sekian jam sampai mendapat giliran tunggangannya ditangani montir.

Bukan hanya Ahass yang padat. Bengkel sepeda motor lainnya pun sama dan sebangun. Demikian pula dengan bengkel mobil.  Warga Kota Manado serta daerah sekitarnya  sejak awal Juli ramai-ramai mendandani kendaraan mereka. Umumnya melakukan servis  ringan semisal ganti oli,  cuci karburator, saringan udara, setel rem dan mengganti lampu.

Warga Kota Manado ke bengkel untuk memastikan kendaraannya aman dan nyaman saat dipakai bersama mengikuti acara Pengucapan Syukur pada hari Minggu 8 Juli 2012 di beberapa daerah di Minahasa.

Pengucapan Syukur alias perayaan Thanksgiving Day di Minahasa luar biasa. Kecuali  Maluku dan Papua, hampir tiga perempat bagian negeri tercinta ini telah saya kunjungi.  Dan, Saya tidak menemukan upacara Pengucapan Syukur sedahsyat di  Minahasa. Pengucapan syukur massal yang berlangsung setiap tahun. Biasanya bulan Juli bertepatan dengan liburan sekolah. Orang Minahasa dari berbagai penjuru dunia biasanya datang bertemu dengan keluarga mereka.

Sekurangnya tiga kabupaten di Sulawesi Utara yang merayakan Pengucapan Syukur saban tahun yaitu Minahasa, Minahasa Tenggara dan Minahasa Tenggara. Yang paling ramai adalah Minahasa Selatan. Keluarga Minahasa akan menyiapkan menu spesial bagi siapa pun yang berkunjung. Entah ada hubungan kekeluargaaan, pertemanan  atau tidak sama sekali, silakan mampir dan pasti dijamu tuan rumah dengan ramah. Nasi jahe dan dodol merupakan menu khas Pengucapan Syukur. Juga aneka sayur dan daging mulai dari daging paniki (kelelawar), babi, anjing, ayam, ikan dan sebagainya.

Membludaknya manusia yang mengikuti perayaan Pengucapan Syukur di Minahasa menimbulkan kemacetan lalulintas yang luar biasa. Panjang antrean bisa sekian kilometer jauhnya.  Dan, Kota Manado biasanya sepi.

Budaya Minahasa
Pengucapan syukur telah menjadi budaya tou (etnis) Minahasa secara turun- memurun. Keturunan Toar-Lumimuut percaya hasil panen seperti cengkih dan padi yang bergantung kepada alam sebagai berkat dari Opo Wananatas atau Sang Raja Alam Semesta.

Tradisi mensyukuri panen di Minahasa dapat dipastikan sudah setua masyarakat yang mendiami daratan utara Pulau Sulawesi ini.

Budaya ini tercermin pada Tarian Maengket sebagai ekspresi syukur tou Minahasa atau upacara syukur panen lainnya. 

Inkulturasi tradisi ini setelah masuknya Agama Kristen di Minahasa kian menyempurnakan hajatan tahunan tersebut.

Pesta pengucapan tumbuh dalam budaya agraris. Manusia memperoleh sumber penghidupan langsung dari alam. Sehingga rasa syukurnya langsung diarahkan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara Alam Raya ini. 

Rasa syukur berhubungan erat dengan hasil yang diperoleh. Tak heran ketika harga cengkih mahal, pesta pun jadi amat mewah.

Pada perkembangannya, perayaan thanks giving di Minahasa, tak sekadar mengucap syukur kepada Tuhan setelah diberikan hasil panen pertanian, perikanan, perkebunan yang melimpah. Namun, hajatan tahunan ini menjadi ajang silahturahim antara saudara, kerabat, dan handai tolan.

Etnis Minahasa yang sudah hidup jauh di rantau senantiasa menjadikan momentum pengucapan syukur sebagai kesempatan untuk pulang ke kampung halaman. Suasana kekeluargaan yang tercipta tidak tergantikan oleh konsumsi hiburan lainnya.

Di Minahasa Selatan, tradisi ini bahkan dijadikan sebagai objek wisata. Pemda setempat mendukung penuh pelestarian pengucapan, bahkan diharapkan mampu menjadi event untuk memajukan pariwisata di masa mendatang. (*)

Lembayung Senja di Tahuna


Pulau Marampit (riz @TM)
 SUASANA haru menyembul di tengah rintik hujan yang membasahi Dermaga Samuel Languyu Satkamla VIII TNI-AL Bitung, Minggu 1 Juli 2012. Kala itu para istri, anak dan kekasih melepas kepergian  72 prajurit TNI yang tergabung dalam  Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Filipina 2012.


Meskipun  KRI Teluk Lampung yang mengangkut 72 prajurit  telah meninggalkan dermaga puluhan meter,  namun para istri, anak, dan kekasih  mereka tetap melambai-lambaikan tangan dari dermaga. Terlihat di antara mereka  ada yang meneteskan air mata. Lambaian tangan itu dibalas para prajurit yang berdiri di pagar besi dek kapal perang KRI Teluk Lampung. Sulit dipungkiri  mereka berat hati melepas  keluarga tercinta.

Praka Daud Halik asal Kompi Senapan A Tateli mengakui hal itu. Demi menjalankan tugas di tapal batas negara,  dia berpisah dengan putri bungsunya, Afikha Halik, yang baru berusia tiga  bulan.  "Rasa rindu pasti akan ada. Apalagi putri bungsu saya masih kecil sekali dan sedang lucu-lucunya. Tapi ini panggilan negara, saya harus siap ditugaskan kapan dan di mana saja," ujarnya kepada Tribun Manado yang ikut serta dalam KRI Teluk Lampung dalam pelayaran ke perbatasan Filipina.

Tahuna
Memang begitulah. Mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia  (NKRI) dengan menjaga pulau-pulau terdepan Indonesia menjadi tugas tahunan puluhan prajurit Yonif 712/Wiratama Manado. Demi tugas negara mereka berpisah  dari keluarga dan orang-orang terkasih. Di perbatasan Filipina mereka menghadapi pelintas batas ilegal, kasus penyelundupan dan lainnya  dengan nyawa taruhannya. Enam bulan sekali baru mereka bisa bersua lagi dengan keluarga.

Praka Daud  berharap agar si kecil tidak sakit. Sebab meskipun rekan-rekan di kompinya pasti siap membantu tapi jika terjadi apa-apa, pasti akan mempengaruhi kinerjanya selama bertugas di perbatasan RI-Filipina.

Berbeda dengan Danton Satgas Pamtas 2011, Lettu Inf Ahmad Rido yang justru merasa senang. Setelah bertugas selama lebih dari enam  bulan di perbatasan, akhirnya ia segera bertemu istri tercinta yang baru sebulan lalu melahirkan putra pertama mereka, Muhammad Yudha di Cianjur, Jawa Barat.

"Saat istri melahirkan pada Mei lalu, saya tidak mendapat izin lepas tugas dari komandan. Meski kecewa namun saya bersuka cita karena anak lahir dalam kondisi sehat. Lagipula komandan saya menjanjikan bahwa pergantian pasukan sudah tak akan lama lagi," tuturnya.

Perpisahan di Bitung 1 Juli 2012
Pelepasan pasukan Satgas Pamtas menuju pulau-pulau terdepan Indonesia di wilayah Sulawesi Utara ini dipimpin langsung Danyon 712/Wiratama, Mayor Inf Hartono di lapangan Mayon Teling, Minggu (1/7/2012) pagi. Prajurit TNI itu kemudian menuju Bitung dan berangkat ke perbatasan RI-Filipuna. Di sana  mereka disebar pada enam pos, yaitu Pos Tinakareng, Pos Kawaluso, Pos Matutuang, Pos Marore, Pos Marampit dan Pos Miangas. Keberangkatan mereka terasa istimewa karena ditemani Danrem 131/ Santiago, Kolonel Inf Johny L Tobing.

                        ***
SEJAK meninggalkan Bitung 1 Juli 2012, perjalanan ke tapal batas RI-Filipina memakan waktu selama enam hari. Perjalanan ini  sangat berkesan. Setelah 52 jam kapal limbung dihantam gelombang yang mengganas terutama di sekitar perairan Miangas, akhirnya kapal memasuki Teluk Tahuna yang tenang, Kamis (5/7/2012).

  Seharusnya Selasa malam (3/7/2012),  KRI Teluk Lampung 540 bersandar di Dermaga Miangas, Kabupaten Talaud untuk mengangkut 8 prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) yang sudah 7 bulan bertugas. Namun kondisinya tidak memungkinkan untuk berlabuh ataupun sekedar lego  di laut.

Memang sejak awal perjalanan dari Bitung, Minggu  (1/7/2012) hingga memasuki pos kedua di Pulau Kawaluso, Kabupaten Sangihe, Senin (2/7/2012) sore, lautan mulai bergolak tertiup angin barat. Tak seperti pada penurunan dan penarikan prajurit di Dermaga Tahuna, Senin (2/7/2012) pagi.

Di Pelabuhan Kawaluso, haluan KRI Teluk Lampung sempat menghantam dengan kuat sisi luar dermaga hingga terkikis sebagian betonnya. Beruntung tak ada kerusakan fatal pada bagian depan kapal. "Saat hendak memasuki dermaga, kapal sempat terhempas gelombang yang tiba-tiba muncul. Sehingga dengan seketika terdorong kearah Dermaga Kawaluso," kata Letkol Laut (P) M. Harahap.

Di pulau yang nihil signal komunikasi telepon ini, kedatangan KRI Teluk Lampung menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Tua-muda, pria-wanita, semua berkumpul di dermaga untuk  menyaksikan keangkuhan kapal berukuran 90,70 meter x 11,12 meter ini.

Usai bongkar muat sekitar pukul 19:00 WITA, kapal bersiap meninggalkan pulau. Namun,  kapal tidak bisa maju atau mundur karena adanya pendangkalan laut yang dipenuhi karang di sekelilingnya. Dengan panduan dari warga setempat yang berpengalaman mengatasi masalah seperti itu, akhirnya secara perlahan kapal berhasil meninggalkan Pulau Kalauso menuju pos ketiga di Pulau Matutuang.

Memakan waktu sekitar lima jam untuk melihat temaram lampu di daratan Pulau Matutuang, Selasa (3/7). Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dinihari. Bulan purnama yang bergelayut di langit seperti lampu sorot menyinari pecahan-pecahan ombak berwarna putih yang hancur menghantam karang di tepi pulau.

Tak lama berselang, samar terdengar raungan perahu motor yang semakin keras. Dari kejauhan terlihat dua perahu mendekat ke arah KRI. Sebuah perahu kecil bermotor berisi dua  nelayan yang oleh penduduk setempat lazim disebut Perahu Pakura, dengan enggan menarik perahu tak bermesin yang lebih besar berisi 5 prajurit Yonif 712/Wiratama beserta tumpukan ransel dan berkotak-kotak kardus.

Meski timbul tenggelam dalam gelombang, perahu berusaha mendekati KRI yang lego jauh dari bibir pantai dan berhasil mencapai posisi aman embarkasi. Namun laut yang tak bersahabat mengayun-ayun ketiga kapal yang sangat berdekatan itu sehingga hampir bersenggolan. Dua nelayan pada Perahu Pakura seketika saja menancap gasnya untuk menghindari benturan. Dan justru karena hentakan gas seketika itulah Perahu Pakura kehilangan dayanya sehingga terhempas menampar lautan.

Seperti ikan, dengan cakap dua nelayan itu berenang menggapai perahu di belakangnya. Lima tentara yang terkejut dengan sigap mengangkat nelayan yang basah kuyup itu ke atas perahu kedua. Suasana mencekam itu terjadi dalam sekejap. Semua orang terpana, bersyukur tak ada korban jiwa. Perahu Pakura berbahan triplex pun menggapung di lautan menjadi bangkai.

 "Suasana sangat mencekam, dari pulau saja kami melihat lampu-lampu KRI bergoyang-goyang. Kami berlima paksakan diri untuk mendekat dengan ditarik oleh pakura nelayan karena perahu kami hanya memiliki 3 dayung yang tak mungkin melawan gelombang," ujar Serda Raimond Lumiwu, anggota Satgas Pos Matutuang.

Pulau Kawio dan Kamboleng
Ternyata tak hanya itu. Tiba-tiba tali yang saling mengikat terputus dari KRI. Lampu sorot KRI segera diarahkan untuk menerangi kedua kapal kayu yang terombang-ambing di lautan.  Di atas dek, para kru langsung menurunkan perahu karet LCR untuk secepat mungkin menggiring perahu kayu yang mulai menghilang di kegelapan. Beruntung LCR dapat mengejar perahu kayu dan mengarahkannya ke buritan KRI Teluk Lampung. Kelima personel beserta barang bawaan berhasil dinaikkan ke kapal. Sementara dua nelayan kembali ke Pulau Matutuang.

Dari tujuh anggota Satgas Pamtas 2011 Pos 3 Matutuang, hanya lima yang berhasil diangkut KRI. Sedangkan dua  lainnya terpaksa ditinggalkan di pulau tanpa kabar terbaru dari KRI yang seketika meninggalkan perairan Matutuang karena tak ada signal komunikasi telepon di pulau tersebut.

Baru setelah berada di perairan Pulau Marore, Selasa (3/7/2012) sekitar pukul 07:00 Wita, komunikasi nyambung lagi. Seperti lima jam sebelumnya, ombak masih memecah tinggi di Dermaga Marore. KRI tak dapat berlabuh di Pos 4 Marore. Di kecamatan terdepan sisi utara Indonesia ini, fasilitas cukup lengkap. Ada  Pos Angkatan Laut (POSAL) yang membantu embarkasi dan debarkasi pasukan beserta logistik dengan menggunakan perahu LCR. Proses bongkar-muat membutuhkan waktu yang cukup lama karena personel TNI yang seharusnya menempatkan pos ketiga Matutuang turut diturunkan di Marore sebagai pos terdekatnya.

***

Kehidupan di Sangihe
USAI bongkar-muat logistik dan menurunkan personel di Pulau Marore, Selasa (3/7/2012),  KRI Teluk Lampung yang membawa  prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Filipina menuju Pos 5 di Pulau Miangas.  Makan siang berlangsung dalam kondisi tak nyaman.

Air dalam gelas bergoyang seiring permukaan air laut yang menari. Makanan yang baru masuk ke dalam lambung pun tak bertahan lama. Sejumlah prajurit yang mabuk laut langsung mengeluarkan kembali seluruh isi perutnya.

Selama 11 jam KRI Teluk Lampung melawan hantaman gelombang Samudera Pasifik. Awan hitam menjadi kawan setia. Kilatan petir datang dari segala penjuru. Hingga akhirnya sepasang mata lampu seolah terlihat mengawasi kedatangan kami. Semakin dekat, suatu bentukan pulau samar mulai terlihat. Itulah Miangas, titik paling utara NKRI!

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 Wita. Pulau Miangas tinggal sepenggalan. Terdengar suara gaduh di atas dek dari sepatu-sepatu lars yang hilir-mudik memindahkan barang, bersiap untuk lego. Senjata disusun, ransel-ransel hijau ditumpuk dan para prajurit pun berbaris rapi menatap pulau terdepan NKRI ini.

Tiba-tiba terdengar panggilan lewat pengeras suara anjungan bagi Komandan Kompi (Danki) Satgas dan seorang perwira senior Angkatan Darat.

"Kapten Fransiskus....dan....Letkol Untung ....segera  ke... anjungan....ditunggu komandan ....kapal....!!!!," sahut suara putus-putus tertiup angin. Secara perlahan arah kapal mulai berbelok ke kanan seperti menjauhi sasaran utama. Laju kapal yang semula bergerak lambat, kini semakin cepat.  Ternyata menurut sonar dari anjungan, perairan Miangas  sedang bergelora hebat. Rapat para komandan di anjungan memutuskan sesegera mungkin keluar dari zona tersebut.

Embarkasi
Kekecewaan para prajurit yang sudah mempersiapkan mental tak digubris Danbekang 01 Manado, Letkol CbaUntung Sutrisno yang jadi penentu keputusan. "Jarak memang tak kurang dari 3 mil laut. Tapi risikonya terlalu besar," ujarnya. Danki Satgas Pamtas 2011, Kapten Frans Dahua juga menegaskan  yang terpenting dari semuanya adalah keselamatan prajurit dan senjata.

Komandan Satgas Pamtas 2012, Lettu Edy Sakli turut menjelaskan bahwa pasukan Miangas akan diturunkan di Pelabuhan Tahuna menyesuaikan jalur dari kapal  perintis yang ada. Sedangkan pasukan lama, baru akan kembali ke Manado sekitar satu minggu mendatang.

Dengan kecepatan penuh, KRI buatan Jerman Timur tahun 1979 ini menghindari terjangan gelombang dan terpaan angin. Kapal langsung menuju Marampit. Perlu waktu 10 jam untuk tiba di Pulau Marampit keesokan harinya, Rabu (4/7/2012). Meski tak seganas Miangas, di pos terakhir ini kapal hanya dapat berputar-putar tanpa bisa menyentuh dermaga. 

Meski dimanjakan keindahan berbagai gugusan pulau di Kabupaten Talaud, bongkar muat hanya berlangsung tiga jam. KRI harus memburu kapal perintis di Tahuna dalam waktu tak kurang dari 22 jam. Rasa lelah dan jenuh pun mulai merasuki setiap tubuh manusia yang ada di atas kapal. Untungnya di perairan Talaud banyak tersebar pulau-pulau sehingga lautan terasa sangat tenang.

Pelabuhan Bitung
Pagi keesokan harinya, Kamis (5/7/2012), kesibukan para nelayan di Teluk Tahuna menyambut kedatangan KRI Teluk Lampung. Setelah sandar di dermaga, komandan kapal yang mengetahui kondisi para penumpangnya memberi waktu cukup untuk beristirahat di daratan. Para prajurit yang lepas tugas pun memanfaatkan kesempatan ini untuk singgah di kedai kopi atau mengunjungi toko- toko souvenir yang menjual berbagai barang dari Filipina. "Ini oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Ada cangkir-cangkir buatan Filipina, pajangan kaligrafi dan air terjun, pokoknya saya borong," ujar Praka Atmam sambil memikul sekotak kardus besar.

Ia beralasan karena selain unik dan murah, benda-benda ini akan mengingatkan dirinya saat-saat berkesan dalam penugasan di perbatasan. Setelah melakukan apel terakhir untuk memeriksa kelengkapan personil, kapal pun menarik jangkar. Lembayung senja menghantar kepulangan menuju Bitung.

Malam harinya, para prajurit bercengkrama di atas dek terbuka menikmati semilir angin. Eksotisme Gunung Api Karangetan dalam siluet rembulan menjadi pemandangan terakhir menutup perjalanan pergantian Satgas Pamtas prajurit Yonif 712/Wiratama. (thanks for mas Rizky Adriansyah)

Sumber: Harian Tribun Manado, 8-9 Juli 2012 halaman 1

Ruang Kedap Suara

ilustrasi
KEPALA Biro Perlengkapan Sekretariat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara  Rudij Roring menyampaikan kabar menarik awal pekan ini. Menurut Roring, pemprov  menggelontorkan dana kurang lebih Rp 7 miliar untuk pembangunan ruang rapat yang baru. Ruangan dirancang kedap suara dengan interior mewah serta sound system yang mumpuni.

Ruang rapat kedap suara tersebut akan dipakai untuk rapat tertutup pejabat pemprov dan para kepala daerah. "Di Manado sepengetahuan saya,  baru yang kedua ruang akustik seperti ini," ujarnya kepada Tribun  hari Selasa (10/7/2012).

Roring menyatakan  dana Rp 7 miliar itu tidak berlebihan karena ruang yang akan dibangun cukup representatif dengan kapasitas ideal  200-300 orang bahkan bisa menampung  400 orang. Roring mengakui, rancangan interior menyumbang pengeluaran cukup besar. Selain pembangunan ruangan rapat baru, Pemprov Sulut juga mengeluarkan dana untuk renovasi ruang wakil gubernur  Rp 150 juta.

Pembangunan ruang rapat kedap suara tersebut tentunya sudah melalui perencanaan yang matang sesuai kebutuhan pemerintah daerah Sulawesi Utara. Sebagai daerah di Indonesia yang amat kerap dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggara event nasional bahkan berskala internasional,  Sulut memang sudah sepantas memiliki sarana dan prasana yang memadai.

Dengan kapasitas 200-300 orang,  maka ruang rapat tersebut  memang cukup representatif menjadi tempat pertemuan dengan peserta banyak. Manfaatnya pun tidak sebatas buat rapat kepala daerah. Pasti bisa digunakan untuk kebutuhan lain di masa depan, sehingga kitamemberi apresiasi positif  terhadap rencana pembangunan properti  tersebut sembari mengingatkan beberapa hal sebagai catatan kaki.

Pertama, pengalaman mengajarkankan kepada kita,  bukanlah hal sulit membangun sebuah gedung baru di lingkungan pemerintahan baik pemerintah pusat maupuan daerah. Toh dana bukan perkara rumit  karena lazimnya sudah dialokasikan lewat APBD atau APBD dalam  tahun anggaran berjalan. Prosedur dan ketentuannnya pun jelas, sehingga pembangunan fisik selesai tepat waktu dan siap dimanfaatkan.

Selalu membuat galau justru perawatannya setelah itu.  Tidak sedikit properti milik negara yang keindahan serta kemewahannya hanya bertahan beberapa saat karena lemahnya manajemen perawatan oleh pemerintah. Dalam sejumlah kasus bahkan gedung yang dibangun dengan dana miliaran rupiah justru mubazir karena salah perencanaan. Kita harapkan hal semacam ini tidak terjadi di Sulut.

Kedua, ruang rapat kedap suara memiliki pesan simbolis bagi publik. Bolehlah kedap suara untuk interior dan seluruh pernak-pernik di dalamnya. Jangan sampai para peserta rapat yang notabene merupakan para pemimpin pemerintahan di Sulawesi Utara kedap suara, tutup telinga, tutup mata dan tutup hatinya terhadap jerit tangis rakyat di luar sana.

Cukup sering kita mudah bilang peduli terhadap rakyat. Faktanya pemimpin tak meluangkan waktu mendengar suara rakyatnya. Mereka menempatkan diri terlampau jauh seperti bintang di tingginya langit.*

Sumber: Tribun Manado 12 Juli 2012 hal 10

Idola Indonesia

DALAM sepekan terakhir dua pemain bintang yang ikut mengantar  tim nasional Spanyol mempertahankan gelar Piala Eropa 2012 berkunjung ke Indonesia yakni Cesc Fabregas dan Xabi Alonso. Kehadiran mereka sungguh membius para penggemar bola di Tanah Air, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Xabi Alonso yang datang bersama istrinya, hari Minggu 8 Juli 2012 hadir dalam acara  Indonesia Mengoper Bola 2012 di Silang Barat Daya Monas Jakarta. Acara tersebut melahirkan  rekor baru Guiness World of Records bertitel Most  Consecutive Football Passes dengan jumlah operan bola sebanyak 1.074 kali.

Ribuan fans dari berbagai daerah pun membanjiri Silang Monas untuk melihat aksi idola mereka mengoper bola. Tidak semua fans Alonso bisa bertemu dan foto langsung dengannya. Tapi mereka tidak kehilangan akal. Papan  foto pemain Real Madrid tersebut jadi pilihan. Banyak yang memanfaatkan papan fotoAlonso untuk berpose sebagai kenang-kenangan.

Satu di antara fans Alonso bernama Irin. Seperti dilaporkan Tribunnnews, gadis berusia 24 tahun asal Galur ini pose bersama papan Xabi Alonso. "Abis susah foto langsung sama Xabi, jadi foto di sini aja deh," kata Irin. Anggi yang datang dari Cibubur bahkan sudah menunggu sejak subuh untuk melihat Xabi Alonso. Tetapi karena susah untuk berfoto langsung, ia pun memilih papannya saja.

Lain lagi aksi anak-anak dan remaja penggemar gelandang elegan Spanyol tersebut. Agar lebih jelas melihat Xabi mengutak-atik kulit bundar di Silang Monas mereka  memanjat pohon. Pohon setinggi kurang lima meter  tidak menyiutkan nyali.Mereka setia bertengger di dahan pepohonan  hingga Alonso  selesai mengoper bola.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir sudah banyak kelompok  bisnis di Tanah Air mendatangkan bintang sepakbola dunia. Kehadiran para atlet ternama itu selain  promosi demi meningkatkan branding juga demi memuaskan kerinduan masyarakat melihat langsung pemain idolanya. Itulah sebabnya kedatangan para bintang olahraga dunia ke Indonesia selalu sukses.

Masyarakat Indonesia sangat menggandrungi sepakbola. Di negeri ini bahkan seorang bocah pun menghafal nama pemain klub Barcelona seperti Lionel Messi atau kiper nomor satu Spanyol dari klub Real Madrid, Iker Casillas. Banyak fans club terbentuk di berbagai kota dan komunitas mereka sangat setia pada klub kesayangan masing-masing.

Kegandrungan semacam  ini sesungguhnya merupakan aset sosial yang luar biasa guna membangun olahraga sepakbola berprestasi. Tapi ironi justru melanda bangsa besar ini. Di cabang sepakbola kita belum bisa melahirkan bintang idola sendiri seperti yang sukses diperlihatkan Korea Selatan, China, Jepang dan negara Asia Timur lainnya. Maklum saja sepakbola Indonesia kisruh melulu. Ribut sepanjang waktu memperebutkan kursi di PSSI. Ketika secara organisasional kita rapuh, maka bintang idola sepakbola dari negeri sendiri sulit terwujud sampai kapan pun. Dan, anak-anak kita akhirnya semata mengidolakan tokoh semisal Xabi Alonso, Fabregas, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. *

Sumber: Tribun Manado 9 Juli 2012 hal 1

Prahara Salah Urus

KITA prihatin! Kita sedih melihat kenyataan 50 atlet dari 10 cabang olahraga meninggalkan Hotel Yuta Manado, Kamis petang 5 Juli 2012. Mereka telah menghuni hotel tersebut hampir tiga bulan guna  menjalani pemusatan latihan daerah (pelatda) sebagai persiapan untuk  membela kehormatan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut)  di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau, September nanti.

Jujur mesti kita katakan, meski ini terasa pahit, bahwa peristiwa tersebut mencermikan betapa kita tidak memperlakukan putera-puteri terbaik Sulut di bidang olahraga dengan sepatutnya. Pengurus sepuluh cabang olahraga yang lolos terpaksa memerintahkan para atlet meninggalkan Yuta sebagai ekspresi ketidakpuasan atas berlarut-larutnya pencairan dana PON. 

Dampak ketiadaan dana sudah lama dirasakan atlet dan ofisial. Hampir tiga bulan di Pelatda, para atlet belum menerima uang saku. Sarana latihan mereka pun  seadanya, bahkan menggunakan peralatan bekas. Manajemen Hotel Yuta sempat mengunci pintu kamar hotel karena kecewa pembayaran hotel masih tertunggak.
Keputusan para atlet meninggalkan Hotel Yuta pada 5 Juli 2012 jelas menebarkan kegalauan. Persiapan kontingen Sulawesi Utara menuju PON XVIII Riau bisa berantakan kalau benang kusut itu tidak segera terurai. Secara psikologis para atlet dan pelatih sungguh terbebani oleh situasi ketidakpastian ini.

Masyarakat Sulut sudah tahu akar masalahnya. Persiapan atlet PON 2012  terbentur dana yang terbatas karena lemahnya perencanaan. Dalam APBD 2012 dana hanya dianggarkan Rp 10 miliar dari kebutuhan ideal Rp 20 miliar. Hingga bulan Juli 2012 atau dua bulan sebelum perhelatan  akbar olahraga nasional itu Pemerintah Provinsi dan DPRD Sulawesi Utara masih "ribut" siapa yang harus disalahkan atas kekurangan dana tersebut.

Meski dana kurang, KONI Sulut tetap mempersiapkan atlet. Pelatda terpusat digulirkan sejak April lalu. Para atlet dikumpulkan di Hotel Yuta sebagai rumah bersama guna memudahkan koordinasi serta konsentrasi latihan. Itupun  hanya untuk beberapa cabang olahraga.  Karena dana kurang, KONI pun terpaksa berutang sambil berharap pemerintah provinsi dan DPRD segera menata anggaran dalam APBD Perubahan 2012. Eh ternyata belum kelar juga. Mengapa lama nian?

Kadang sulit dipercaya prahara salah urus  ini kok terjadi di Sulawesi Utara, salah satu provinsi gudang atlet nasional. Sulut selama bertahun-tahun memberi kontribusi yang signifikan bagi kebanggaan Merah Putih. Prestasi atlet daerah ini menjadi indikator nasional seperti di cabang  brigde, terjun payung,  bulutangkis, tinju, bolavoli dan lainnya. Kadang sulit dipercaya perencanaan di bidang olahraga masih menjadi masalah besar di daerah sepopuler Sulut, tempat penyelenggaraan banyak event berskala nasional dan internasional. Daerah dimana para pejabat publiknya begitu rajin bepergiaan untuk studi banding, baik di dalam maupun ke luar negeri.

Pesan kita sederhana saja. Kalau mau melahirkan anak bangsa dengan karakter yang tangguh agar mampu bersaing di masa depan, uruslah olahraga dengan kesungguhan hati. Jangan cuma piawai menenun politik praktis dengan sasaran jangka pendek. Akhiri sudah prahara salah urus ini! *

Sumber: Tribun Manado 7 Juli 2012 hal 10

Bakung Cinta dari Kiev

Upacara Penutupan Euro 2012, Kiev 1 Juli (afp)
DI atas karpet berwarna biru yang dibentangkan di lapangan Olympic Staidum, Kiev, Ukraina, Minggu malam atau Senin (2/7/2012) dinihari Wita, ratusan penari yang didominasi anak-anak kecil membentuk sebuah koreografi seorang pria menendang bola.

Bentuk koreografi kemudian berubah lagi menjadi lambang cinta dengan variasi bunga bakung berwarna putih-kuning. Artis nyanyi kenamaan Jerman, Oceana mengiringi gerak indah tarian tersebut dengan lantunan Endless Summer.

Pemandangan indah itu langsung mendapat tepuk tangan meriah dari 65 ribu penonton yang memenuhi stadion terbesar di ibu kota Ukraina tersebut. Suasana makin haru biru tatkala pembaca acara mengucapkan terima kasih pada seluruh suporter yang telah mewarnai 'kehidupan' Polandia-Ukraina.

Semua seremoni indah tersebut menjadi awal dari akhir gelaran Euro 2012. Berakhir setelah Kapten Spanyol, Iker Casillas, mengangkat trofi penanda status tim terbaik di benua Biru untuk edisi 2012.

Oceana (afp)
Puluhan ribu fans Matador, baik di dalam stadion maupun di luar arena, berteriak. Gemuruh suara mereka bercampur dengan rasa sedih yang sempat bergelayut di rona wajah tifosi Italia. Namun semuanya seketika berbaur, menjadi sebuah pengalaman luar biasa. Mereka akhirnya bersatu dalam naungan dunia sepak bola.

"Viva Espana", begitu teriakan yang paling sering terdengar dari para suporter Spanyol tersebut. Spanyol memang superior. Terlepas dari euforia tersebut, fans Matador dan tifosi Italia mengucapkan terima kasih kepada Polandia dan Ukraina yang telah sukses menjadi tuan rumah Euro 2012.

"Polandia-Ukraina adalah tempat yang sangat nyaman, kami sangat senang berkunjung di dua negara ini. Sejak berada di Gdansk, Warsawa dan kini di Kiev, kami merasakan hangatnya cinta dari mereka. Kami takkan melupakan semua ini, " kata Manuel, seorang suporter Spanyol.

Secara khusus ucapan "Thanks Poland And Ukraine" juga diucapkan UEFA dengan membentangkan spanduk besar di Olympic Stadium Kiev. Spanduk tersebut sebagai bentuk apresiasi UEFA terhadap kerja keras dua negara Eropa Timur itu menggelar hajatan akbar sepak bola Eropa.(tribunnews)

Bintang Spanyol di Euro 2012

Pemain Spanyol di Euro 2012 ketika masih bocah (dok Marca)
MUDAH saja untuk menyebutkan nama para pemain tim nasional Spanyol saat melihat foto wajah mereka saat ini. Namun, bisakah Anda menyebutkan nama-nama mereka jika melihat foto yang satu ini?

Marca, media olah raga Spanyol, menayangkan foto-foto ke-23 penggawa "La Furia Roja" ketika mereka masih anak-anak dan remaja. Mereka adalah para pemain yang ikut berlaga di Polandia-Ukraina.

"Tak ada yang pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada hari ini mereka bisa mencatatkan namanya dalam sejarah olah raga. Ke-23 pemain telah tumbuh dengan luar biasa untuk membawa sukacita kepada semua para suporter yang mendukung mereka," tulis Marca,  Minggu (1/7/2012).

Media olah raga terbesar di Spanyol ini juga menyebutkan bahwa kebahagiaan yang dibawa Spanyol melalui kemenangan ini paling dirasakan oleh anak-anak. Ini bisa menjadi pemicu semangat generasi muda Negeri Matador untuk terus mengembangkan kemampuan sepak bola mereka dan meneruskan rekor para senior mereka ini.

Berikut adalah nama-nama pemain dalam foto tersebut dari kiri ke kanan. Wajah siapakah yang tak berubah hingga saat ini?

Atas: Casillas, Ramos, Alba, Cesc, Torres, Juanfran dan Cazorla.

Tengah:
Xavi, Iniesta, Arbeloa, Piqué, Mata, Silva, Albiol dan Reina.

Bawah: Llorente, Martínez, Busquets, Pedro, Valdés, Negredo, Alonso dan Navas.

Sumber: Kompas.Com

Kopi Balotelli dan Pisang Goroho Torres

Suasana Noreng Senin dinihari 2 Juli 2012 di Manado
Pagelaran Euro 2012 dimanfaatkan para pengelola cafe dan restoran di Kota Manado secara kreatif untuk menarik minat pengunjung. Salut.

LAYAR berukuran 2 x 3 meter persegi  terlihat menyolok begitu kaki menyentuh ambang pintu PX Corner Manado. Di dalam ruangan, suasana begitu meriah oleh bendera enam belas negara kontestan yang digantung di langit-langit. Di bawahnya, deretan kursi tersusun rapi bagai arena pertandingan.

Bendera Spanyol dan Italia yang terpasang tepat di depan pintu bagai isyarat pertemuan terakhir Euro 2012. "Saya pasang ini dua hari sebelum pentas Euro digelar dan ternyata tebakan saya benar," kata Eddy Mawikere, Directing PX Corner kepada Tribun Manado, Sabtu (30/6/2012).

Kemeriahan nonton bareng sejak babak penyisihan, diprediksi mencapai puncaknya akan bertambah dalam partai final Minggu malam atau Senin (1/7) dinihari. Itu tampak dari reservasi yang hingga kemarin mencapai 90 persen. "Minat penonton sangat tinggi," tuturnya.

Ada tiga puluh table yang tersedia. Jika setiap table berisi empat kursi, ia pun mengestimasi jumlah penonton. "Mungkin sekitar 120-an. Ini demi kenyamanan penonton," katanya. Jika penonton membludak, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi. Sebuah layar berukuran 3 x 4 meter dipasang di luar ruangan.

Untuk noreng final Euro 2012 sejumlah persiapan telah dilakukan. Acara akan dikemas semenarik mungkin. "Ada hiburan akustik, dj dan mc profesional yang memandu acara" katanya. Sejumlah hadiah menarik ditawarkan kepada pengunjung mulai dari TV, iPad, handphone serta berbagai menarik lainnya.
Suasana Noreng di Manado 2 Juli 2012

Persiapan matang juga dilakukan Soccer Cafe & Resto Manado. Untuk noreng malam ini cafe di Boulevard ini akan menyuguhkan tontonan ala bioskop. Mengadopsi konsep itu, aksi para pemain akan tampak dari layar berukuran 3 x 4 meter. "Lampu akan dimatikan saat pertandingan dimulai," kata Robby Ong, Owner Soccer Cafe & Resto.

Konser akustik akan membuka acara pada pukul 21.00 Wita. Selain itu, ada juga door prize menarik di sela-sela noreng. Yang unik adalah atraksi kembang api sebelum dan sesudah laga final Spanyol vs Italia. "Durasinya sekitar 20 menit hingga setengah jam" katanya. Sebelumnya ada sesi foto bersama pengunjung yang mengenakan kostum Spanyol dan Italia. Hasilnya dipampang menjadi banner cafe.

Keunikan lainnya ada pada menu makanan serta dandanan para waiter. "Nanti akan ada menu kopi hitam Balotelli dan pisang Goroho Torres, sedang muka para waiter akan dicoret sebelah Spanyol, sebelah Italia," jelasnya. Ada 30 table yang tersedia, berisi empat hingga enam orang. Meski begitu, jika pengunjung membludak pihaknya menyediakan bangku tambahan.

Fans Spanyol di Manado pawai usai laga final
"Jika tidak cukup juga, kami tengah berpikir untuk menyiapkan tempat di luar," kata Robby. Manajemen Soccer Cafe membebaskan setiap orang berekspresi dengan syarat tidak membuat keonaran. "Jika mau teriak atau bawa bendera, silakan saja," ungkapnya.

Waroeng Charity pun tak mau kalah. Sejumlah acara yang menarik telah disiapkan. Ada penampilan akustik serta undian menarik. "Ada undian TV berukuran 21 inch serta berbagai hadiah lainnya," kata Stefanus Suradji, Owner Waroeng Charity.

Ruang pun telah dipersiapkan untuk noreng. Suasana noreng akan makin hangat dengan suguhan kopi coklat susu khas Waroeng Charity. "Pokoknya datang saja ke sini, dijamin puas," tuturnya. Lanjutnya, pengunjung yang datang sebelumnya berasal dari berbagai komunitas seperti fans MU, Barca, Fotografer. "Bahkan ada yang menamakan Charity Community. Ini dibentuk sendiri oleh pengunjung yang sering nongkrong di sini," kata Suradji.

Kemeriahan pun akan tersaji di Griya Sintesa Hotel. Griya Manager Lily Virlanti melalui Stafnya Alan Sumampouw menyatakan pihaknya menyediakan dua screen berukuran 2 x 1,5 meter untuk noreng final Euro. "Khusus final, kami menyediakan dua screen," tuturnya.

Mengantisipasi banyaknya tamu, Lily menyiapkan 20 kursi tambahan selain 50 kursi yang sudah ada. Tiket noreng dijual seharga Rp  15 ribu termasuk harga minuman dan snack. "Dari harga itu, jika tambah 5.000 akan dapat handuk kecil," tutur Alan. Kenyamanan tamu sangat diperhatikan manajemen Griya.  Berbagai jenis hiburan telah disiapkan. "Ada pemutaran film sebelum pertandingan, selain itu pengunjung dapat bermain biliar," tuturnya. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 1 Juli 2012 hal 1

Kekalahan yang Layak

Catatan Sepakbola Dion DB Putra

BOLA
selalu akrab dengan tawa dan tangis. Orang bisa tertawa girang karena pemain idolanya mencetak gol tapi sesaat kemudian bisa menangis sejadi-jadinya setelah menyadari betapa kemenangan itu pupus dalam hitungan detik.

Begitulah yang melanda Jerman 2012. Padahal Der Panzer punya rekor tanding tak terkalahkan pasca menyerah 0-1 atas Spanyol di semifinal Piala Dunia 2010. Mereka menang sepuluh laga pada babak kualifikasi Piala Eropa 2012 dan berturut-turut memenangi 15 laga resmi yang merupakan rekor baru dunia.

Publik Jerman memuji pelatih  Joachim "Jogi" Loew. Pesona si Jogi makin memukau selama penyisihan Euro 2012. Jerman satu-satunya tim yang meraih poin sempurna di sesi grup juga menang telak 4-2 atas Yunani di perempatfinal. Tapi kegemilangan itu   pupus di tangan Italia, Kamis 28 Juni 2012.

"Ke mana sentuhan emasmu, Jogi?" tulis koran ternama Jerman, Bild edisi  29 Juni 2012 di halaman utama. Ratapan itu seolah mewakili tangis  Philip Lahm dkk di kamar ganti Die Panzer  seusai kandas dari Italia di semifinal Euro 2012. "Kamar ganti kami penuh air mata. Tak ada suara sedikit pun. Senyap," ucap Loew kepada Bild. "Kami sangat kecewa dengan kekalahan ini. Tim telah bermain baik sepanjang turnamen dan saya belum pernah melihat hal sekritis ini. Semuanya akan belajar dari kekalahan ini," tambah Loew.

Striker legendaris Jerman yang lama menjadi bintang di Serie A Italia, Oliver Bierhoff  pun mengungkapkan lara batinnya. "Kami sangat terpukul dengan kekalahan malam ini," kata Bierhoff yang mendampingi Jogi sebagai asisten pelatih. Bild juga menulis suara hati 82 juta rakyat Jerman. "Kami gagal meraih juara lagi. Terakhir kami meraih trofi tahun 1996 (juara Eropa). Itu enam belas tahun lalu ketika Berti Vogts menjadi pelatih tim nasional."

Kegalauan hati sesungguhnya sudah melanda kubu Jerman saat melihat hasil babak laga perempatfinal. Italia di luar prediksi banyak pengamat sanggup mengalahkan Inggris 4-2 lewat adu penalti setelah duel 120 menit berakhir imbang 0-0 dalam pertandingan, Minggu 24 Juni 2012. Kegalauan antara lain dicetuskan Kapten  Jerman, Philipp Lahm yang berharap Inggris mampu mengalahkan Italia pada laga perempatfinal. Dia mengaku lebih senang jika skuad The Three Lions yang jadi lawan Der Panzer di semifinal. "Saya lebih memilih Inggris  karena itu akan jadi laga semifinal klasik," tutur Lahm.

Lahm Jerman lebih memilih Inggris karena Jerman memang punya rekor head to head   yang lebih baik jika berjumpa Inggris ketimbang bertemu Italia. Jerman sudah 28 kali bertemu Inggris di berbagai ajang termasuk laga persahabatan. Hasilnya cukup berimbang. Inggris menang 12 kali sementara Jerman 11 kali. Namun, catatan terakhir lebih menguntungkan Jerman. Di Piala Dunia 2010 Jerman  menggilas Inggris 4-1 di babak 16 besar, meski ada kontroversi ketika gol Frank Lampard tidak disahkan wasit.

Sementara menghadapi Italia, rekor skuad Die Mannschaaft amatlah buruk. Dari 30 pertemuan mereka (sebelum semifinal Euro 2012) Jerman hanya menang 7 kali, kalah 14 kali, sisanya seri. Jerman tidak pernah menang atas Italia s elama 17 tahun terakhir. Jerman bertemu Italia 7 kali di turnamen resmi dan tidak pernah menang. Termasuk kekalahan 3-4 di perpanjangan waktu semifinal Piala Dunia 1970 Meksiko, kalah 1-3 di final Piala Dunia 1982, dan kalah 0-2 di semifinal Piala Dunia 2006. Dalam pertandingan persahabatan Februari 2012 di Dortmund, Der Panzer pun hanya bermain imbang 1-1, meski sempat unggul 1-0.

Nah, trauma sejarah  itu kuat menghantui timnas Jerman.  Lahm sendiri merasakan sakit hati yang luar biasa saat dikalahkan  Italia pada semifinal Piala Dunia 2006. Saat itu, Jerman yang berstatus sebagai tuan rumah harus memberikan tiket final kepada  Squadara Azzura karena kalah 2-0 di masa extra time  setelah bermain 0-0 di waktu normal. Italia akhirnya keluar sebagai juara dengan menyisihkan Perancis di final lewat adu penalti. Bagi Jerman, Italia merupakan momok di lapangan hijau! Entah sampai kapan?

                        ***
IKHWAL kehancuran Jerman di semifinal Euro 2012, pemain legendaris Jerman Frans Beckenbauer memberikan cacatan berikut.

Di Jerman, warga sempat berkhayal seputar keberhasilan tim nasional mereka menjuarai Piala Eropa. Kekecewaan akhirnya memuncak setelah kekalahan yang layak, 1-2, dari rival lama dan lebih kuat, Italia, yang tak pernah dilibas Jerman di turnamen utama.

Setelah mengakhiri kejuaraan pada 2008 sebagai runner-up dan mencapai semifinal Piala Dunia 2010, semua orang di Jerman menginginkan trofi ini. Mereka juga berusaha tidak terlalu cemas pada data statistik, setelah beberapa laga brilian tim Jerman yang membuat mereka terkesan, yang ditunjukkan dalam berbagai kesempatan.

Meski demikian, Anda hanya bisa mengalahkan Italia jika Anda mengkreasi tekanan dengan memainkan permainan cepat. Jerman gagal melakukan itu pada babak pertama melawan Italia.Memang ada beberapa konsep dan teori yang tak berjalan benar. Sama dengan saat Bayern Muenchen tampil di final Liga Champions melawan Chelsea.

Italia telah mengejutkan kami, tim Jerman, sekali lagi. Terutama jika mencermati persiapan mereka menuju Piala Eropa 2012 yang dibayang-bayangi investigasi kasus pengaturan pertandingan komplet dengan pemberlakuan sanksi dan penahanan.

Namun, pada laga pertamanya, Italia membuat Anda terkesiap dan memaksa orang-orang menoleh kepadanya. Mereka bermain seri 1-1 dengan Spanyol, pada laga yang dianggap sebagai yang terbaik di penyisihan grup. Semua orang pun respek kepada Italia. Mencapai final tak pernah terpikirkan terkait keberadaan mereka sebagai tim yang dirundung masalah sebelum kejuaraan dimulai.

Pelatih Italia Cesare Prandelli juga banyak dipuji terkait kepercayaannya kepada striker berusia 21 tahun yang susah ditangani, Mario Balotelli. Penyerang Manchester City itu membayar kepercayaan sang pelatih dengan dua gol hebat ke gawang Jerman pada semifinal, satu dengan sundulan, satunya lagi dengan sepakan kencang yang sulit diikuti mata.

Kini Spanyol dan Italia akan bertemu lagi, kali ini di final. Saya percaya bahwa, meski Italia tampak tangguh, Spanyol akan mempertahankan gelar juara. Italia harus menutup banyak sisi lapangan saat melawan mereka. Sungguh hebat bagaimana Andrea Pirlo berkembang menjadi pengatur permainan, dibantu sejumlah gelandang, seperti Riccardo Montolivo. Seperti saya katakan, saya memilih Spanyol sebagai tim favorit. Akan tetapi, jika Italia bermain seperti ketika mereka menahan Spanyol 1-1 di babak grup,  Azzurri berpeluang besar untuk menjadi juara Eropa kali ini.


Lalu siapa yang akan keluar sebagai juara Eropa 2012? Tak ada yang tahu sampai final di Kiev berakhir 1 Juli 2012 atau 2 Juli 2012 dinihari waktu Indonesia. Siapa pun yang kalah, agaknya tepat kata-kata Sang Kaisar, Franz Beckenbauer: Itu sebuah kekalahan yang layak! Yang menang pun memang layak meraihnya.  Itulah sepakbola. Ada tangis, ada tawa.Ada kalah dan menang.

Selalu ada yang pertama dalam buku sejarah bola. Boleh jadi Spanyol akan menulis namanya dengan tinta emas sebagai negara pertama yang mampu mempertahankan Piala Eropa yang mereka rebut empat tahun sebelumnya. Itu rekor baru yang hampir saja diraih Jerman tahun 1976.  Boleh jadi juga sejarah itu belum menjadi milik La Furia Roja karena Italia lagi-lagi yang memupus impian besar mereka.*

Kairagi, Minggu 1 Juli 2012, sembilan jam sebelum kick-off final Euro 2012 antara Spanyol vs Italia di Kiev, Ukraina.

Sepotong Cokelat buat Mario

Mario Balotelli (AP)
Catatan Sepakbola Dion DB Putra

PERHELATAN
Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina akan lama mengenang nama ini, Mario Balotelli.  Why always me? Mungkin saja  striker tim nasional (timnas)  Italia berusia 22 tahun itu akan mengulang komentar begini.  Mario,  mengapa lagi-lagi Mario Balotelli yang akan dikenang?

Italia yang terseok-seok sejak babak kualifikasi serta penyisihan grup lalu menang untung-untungan lewat adu penalti atas Inggris di perempatfinal, justru bermain sempurna. Menggilas  Jerman 2-1 di Stadion Nasional Warsawa-Polandia,  Kamis malam 28 Juni 2012.  Italia ke final Euro 2012 menantang juara bertahan Spanyol.

Bayangkan Italia 2012 tanpa Mario? Di tengah krisis pemain bintang serta penampilan tim yang ngos-ngosan, Mario Balotelli menyuguhkan permainan fantastik di laga hidup mati melawan tim favorit Jerman. Dua golnya meruntuhkan penampilan sempurna Jerman sejak penyisihan grup.

Gol pertama Balotelli melalui tandukan kepala memanfaatkan umpan terukur Antonio Cassano dan gol kedua lewat tendangan akurat kaki kanan yang bersarang mulus di sudut kiri gawang Die Mannschaft yang dikawal Manuel Neuer. Dua gol cepat pada babak pertama itu merupakan momentum emas Italia dan hasil terbaik dalam sejarah penampilan mereka di Piala Eropa. Ketika babak kedua Jerman menyerang habis-habisan untuk mengejar ketinggalan, hasilnya cuma sebiji gol penalti Mesut Ozil  pada masa injury time. Gol yang sangat terlambat untuk mengembalikan peluang Der Panzer. Itulah sebabnya Mario Balotelli yang lahir di Palermo,  12 Agustus 1990 bakal lama dikenang rakyat Italia.

Pemain klub  juara Liga Inggris, Manchester City  itu kerap bertingkah aneh  di luar lapangan. Mulai dari kasus bermain kembang api di dalam rumah, mengunjungi klub wanita bugil di Manchester, terlibat cinta segitiga hingga keusilannya membagi-bagikan uang sebagai sinterklas pada hari Natal.

Why always me merupakan ungkapan  Balotelli yang mempersoalkan mengapa selalu dia yang jadi sorotan. Mengapa selalu dia yang menjadi korban terutama terkait pelecehan rasial. Di tengah pesta bola di Polandia-Ukraina 2012 pelecehan rasial justru  datang dari media di negaranya sendiri.

Media olahraga terbitan Milan, Gazetta dello Sport menggambarkan striker berkulit legam ini  sebagai kingkong yang sedang memanjat Big Ben, menara jam raksasa yang jadi ikon Kota London.

Karikatur ini dicetak pada hari Minggu 24 Juni 2012 sesaat setelah  Italia memulangkan Inggris dalam laga perempatfinal melalui drama adu penalti di Kiev, Ukraina. Telegraph melukiskan gambar itu mau menunjukkan peran signifikan Balotelli mengantar Italia ke semifinal dan Balotelli yang menjadi eksekutor pertama Gli Azzuri sukses menjebol gawang Joe Hart, rekan setimnya di City.

Protes pun membanjiri kantor La Gazetta. Publik menolak penggambaran atas pemain keturunan Ghana ini karena berbau rasial. "Ini bukan pertama kalinya kami melihat gambar serupa dan kami berpikir media harusnya bertanggung jawab. Bagaimana bisa mereka bisa menggambarkan Mario seperti itu?" ungkap juru bicara organisasi pluralisme, Kick It Out.

Gazetta akhirnya minta maaf.  "Sejumlah pembaca kami menyampaikan protes soal kartun  karya Valerio Marini. Balotelli digambarkan sebagai Kingkong. Kami bisa mengatakan dengan jujur bahwa itu bukan salah satu karya terbaik dari kartunis berbakat kami," ujar La Gazzetta. "Namun, mereka yang menuduh bahwa Gazetta dan Marini rasis telah bertindak melampaui batas. Harian ini selalu berjuang melawan segala bentuk rasisme di setiap stadion dan mengecam cemoohan yang diarahkan kepada Balotelli sebagai tindakan tidak layak yang tidak dapat diterima," demikian pernyataan La Gazetta.

Bagaimana reaksi Mario terhadap beragam masalah yang menderanya? Mengingat usianya yang masih muda, dia ternyata cukup bijak. "Saya tidak pernah peduli dengan apa yang orang katakan tentang saya. Dalam suatu periode yang buruk, orang bisa berkata apa pun tentangmu dan bilang yang mereka suka. Namun saya hanya fokus pada sepakbola, rekan, manajer, pacar serta keluarga saya. Setiap orang boleh berkata apa pun tentang saya, namun semua yang dikatakan orang lain sama sekali tidak penting bagiku. Saya akan berusaha menjadi diriku sendiri,  apa adanya," kata pemain yang juga kesohor dengan julukan Super Mario tersebut.

                                                ***
MILIARAN pasang mata sejagat pasti mengingat momen ini. Setelah laga melawan Jerman di Kiev 28 Juni 2012 berakhir, para pemain Italia langsung berkumpul dan merayakan kesuksesan. Tidak demikian dengan Balotelli. Dia berjalan menuju tribun mendekati ibu angkatnya, Silvia Balotelli.  Ia mencium ibunya. "Saya menemui ibu, itu momen terbaik. Saya bilang kepadanya gol  (ke gawang Jerman) ini untuknya," kata Balotelli seperti  dikutip Football Italia.

"Saya menunggu sangat lama untuk momen ini, terutama karena ibu saya tidak lagi muda dan tidak bisa melakukan perjalanan jauh, jadi saya harus membuatnya bahagia saat dia datang ke sini. Ayah saya juga akan ada di Kiev untuk menyaksikan pertandingan final. Memiliki orang terdekat memompa semangat saya," lanjut mantan FC Inter Milan tersebut.

Ternyata hati Balotelli tak seangker wajah dan profil tubuhnya yang kekar-legam. Dia mudah trenyuh dan menangis. Ibu angkat Mario Balotelli, Silvia Balotelli, mengungkapkan bahwa Mario menangis setelah pertandingan lawan Jerman. Itu jarang terjadi. Terakhir kali Balotelli menangis karena Jose Mourinho. "Sangat sulit melihat Mario menangis. Terakhir kali dia menangis mungkin karena Jose Mourinho," kata Silvia kepada La Gazzetta dello Sport. Namun, dia tak menyebutkan apa yang dilakukan Mourinho hingga Balotelli menangis. "Ketika merasa kesulitan, diserang atau dikhianati, Mario bereaksi dengan mengasingkan diri. Itu yang terjadi sebelum pertandingan melawan Irlandia," jelas Silvia.

"Kami sempat berjuang mengontaknya dan dia tak menjawab pesan kami. Itulah sebabnya, saya menangis bahagia. Dua gol itu sangat luar biasa dan terjadi di pertandingan penting. Itu telah membebaskan dia, karena bakat dan kegeniusannya telah keluar. Dia  mampu membuktikan apa yang ingin ia lakukan," jelasnya.

Mario lahir dari ayah-ibu asli Ghana, Afrika. Dia diadopsi keluarga Balotelli saat berusia dua tahun. Dia amat dekat dengan orangtua angkatnya. Bahkan, dia sering menceritakan kemenangan kepada mereka, terutama kepada ayahnya, Franco Balotelli. Namun, Franco sudah amat tua dan tak bisa sering menyaksikan Balotelli bertanding.

"Sangat sulit baginya untuk memeluk saya seperti itu di depan banyak orang. Seperti halnya anak muda lainnya, dia (Balotelli) agak malu terlihat dengan ibunya. Tapi, di momen seperti itu, dia kelewat bahagia. Dia berbisik di telinga saya agar saya membawa ayahnya ke Kiev. Saya kemudian pulang ke Italia dan kami berdua akan berada di sana, Minggu 1 Juli 2012," janjinya. Italia melawan Spanyol di final Piala Eropa 2012 di Kiev, Minggu atau Senin 2 Juli 012 dinihari Wita.

Silvia agak menyesalkan tindakan Balotelli melepaskan baju, setelah mencetak gol kedua ke gawang Jerman. Namun, dia bisa memahami psikologinya. "Dia sangat kesal kepada siapa pun yang mengkritiknya karena tidak melakukan selebrasi kala mencetak gol. Maka, dia mencari cara lain dalam merayakan gol," jelas Silvia.
"Anak saya sering mengatakan bahwa ia bukan arogan, tapi dia merasa dia memiliki sesuatu yang spesial. Itu yang sering ia katakan," tambahnya.

Menurut La Gazzetta dello Sport, ayah angkat Balotelli, Franco, tak hanya akan menyaksikan anaknya bertanding lawan Spanyol. Ia juga akan membawa beberapa potong cokelat. Ini sudah menjadi kebiasannya memberi hadiah cokelat kepada Balotelli ketika  masih kecil. Silvia juga mengucapkan terima kasih kepada Pelatih Italia, Cesare Prandelli. Sebab, dia memberi kesempatan kepada anaknya bertanding di Piala Eropa guna membuktikan kemampuannya. "Prandelli orang baik dan dia telah mengajarkan banyak hal penting kepada anak saya," kata Silvia.

Kini tugas berat menanti Mario Balotelli dan kawan-kawan. Sanggupkah dia ikut mewujudkan mimpi Italia kembali meraih tropi Piala Eropa setelah menunggu selama 44 tahun? Penentuannya adalah melawan Spanyol 1 Juli 2012 di Kiev.

Kerinduan publik Italia sangat kental. Persis seperti dikatakan sang maestro di lapangan tengah, Andrea Pirlo. "Percuma lolos ke final tanpa menang atas Spanyol, sama seperti percuma pergi ke Roma tetapi tidak bertemu  Paus." Italia pasti pulang ke Roma setelah pesta Euro 2012, dan mereka mau pulang dengan membawa tropi Piala Eropa. Sebagai warga Kota Roma, Paus Benediktus XVI  pastilah tersenyum karenanya. (*)

Kairagi-Manado, Minggu dinihari 1 Juli 2012 (buat fans Squadra Azzura)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes