Makam Riedel Banyak Dikunjungi Warga

Makam Johann Friedrich Riedel di Tondano (finne 2013)
PEKABARAN Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa tak lepas dari dua sosok yang diutus Tuhan untuk daerah ini, yakni Johann Friedrich Riedel dan Johann Göttlieb Schwarz.Pada 12 Juni 1831 kedua warga Jerman itu di tanah Toar Lumimuut, dan hari itu dipakai sebagai peringatan Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen di Minahasa yang saat ini sudah menginjak tahun ke-182.  Riedel tiba dan menetap di Tondano pada tanggal 14 Oktober 1831.

Seperti dikutip dari karya AF Parengkuan GMIM dan Penginjilan, saat kedatangan Riedel, pengenalan orang Tondano akan kekristenan masih kurang. Banyak orang hidup tidak tertib. Karena itu pula usaha pertama Riedel dalam kegiatan penginjilan adalah memberi perhatian pada sekolah yang sudah ada. Baginya, keteraturan, kebersihan dan kesopanan dapat diajarkan melalui pendidikan agama.

Dengan topangan istrinya, Riedel mengadakan pendekatan terhadap orang kampung. Ia menerima mereka di rumahnya, mengadakan percakapan mengenai kehidupan sehari-hari dan ia juga melakukan kunjungan ke rumah-rumah. Setelah keakraban terjalin barulah Riedel mengalihkan perhatian orang-orang Tondano kepada pengajaran Kristen.

Orang Tondano ternyata menerima. Selain jumlah mereka yang mengikuti kebaktian semakin banyak, perkembangan di bidang pendidikan semakin tampak oleh banyaknya anak-anak yang rajin ke sekolah. Riedel memanfaatkan antusias jemaat itu dengan menyelenggarakan kelompok belajar Alkitab. Melalui pendidikan kepada anak-anak maka keteraturan dalam kehidupan masyarakat semakin lama semakin baik. Pengajaran yang disuguhkannya kepada jemaat telah mendorong banyak orang memberi diri dibaptis. Perlu dicatat pembaptisan dilakukan setelah para calon baptisan mengikuti pelajaran khusus setiap sore.

Karya Riedel tak sia-sia, terbukti hingga sekarang warga Tondano dan sekitarnya hidup dengan Injil dan pendidikan Kristen yang dibawanya. Riedel yang lahir di Jerman 8 Juni 1798 wafat di Tondano pada 12 Oktober 1860. Tubuhnya menyatu dengan tanah yang dilayaninya. Riedel dimakamkan di Tempat Pekuburan Umum di Kelurahan Ranowangko Lingkungan IV Kecamatan Tondano Timur.

Hari Rabu (30/10/2013), Tribun Manado menyambangi makam Riedel. Makam Riedel berada di tengah-tengah TPU, dari pinggir jalan memasuki jalan setapak yang sudah dicor beton selebar setengah meter. Setapak itu berujung pada sebuah makam putih, tampak megah,  jauh berbeda dengan kuburan di sekitarnya. Makam itu beratap beton dengan tiang beton penyangganya, ada lima pusara di situ. Riedel dimakamkan bersama empat anggota keluarganya, AS Rooker Geb Riedel, H Rooker, H W Nooij dan Ds Joh Kawengian. Tulisan di kelima pusara  klasik, dengan ejaan tempo dulu. Pusaranya tak seperti sekarang  diukir di keramik, tulisan pada kelima pusara itu diukir di beton yang menyatu  dengan keseluruhan badan makam. Dari badan makam, bangunan hingga lantai berkeramik putik, kecuali pusara yang terlihat berwarna beton asli.

Tribun Manado bertemu dua orang pria, yang sehari-hari berkebun di lahan TPU. Mereka adalah Johny Toar dan Maxi Mandolang. Keduanya kebetulan merupakan pelayan di GMIM Sion Ranowangko. Johny sebagai Penatuan Kaum Bapa dan Maxi sebagai mantan kostor gereja. Menurut Johny, makam Riedel sering dikunjungi warga baik warga Indonesia maupun turis asing.  Saat HUT GMIM bersinode tahun ini, pengunjung tak henti-hentinya datang. "Makam ini ramai, orang bergantian datang untuk ziarah," kata Johny.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Minahasa sedang merenovasi makam  Riedel. "Pemkab mencat, memasang keramik di setapak dan akan pasang gapura di depan. Baru pada Bupati JWS ini direnovasi, beberapa waktu lalu ibu bupati bersama timnya juga datang membersihkan makam," kata Johny.

Johny beserta jemaatnya dan jemaat se-wilayah Tondano Satu tergerak untuk memperbaiki akses menuju makan Riedel. Dengan swadaya dan dana seadanya mereka membangun jalan setapak tersebut. "Jemaat Sion kumpul swadaya semen dan minta dana sedikit dari wilayah Tondano I, lalu kami bangun setapak ini. Kalau tidak dicegah, akses ke makam ini sudah ditutup dengan kuburan warga. Masyarakat sudah gali lubang akan buat makam," ujarnya.

Johny mengatakan, banyak masyarakat tidak mengetahui keberadaan makam Riedel. Umumnya hanya tahun makam Swarch di Langowan karena berlokasi di tengah kota. Berbeda dengan makam Riedel di dalam kampung. Jemaat GMIM se - wilayah Tondano I pun memasang tanda di depan berupa baliho.

Sebagai warga GMIM yang merasakan betul karya Riedel di waktu sebelumnya, Johny sangat mengharapkan agar makam Riedel benar-benar diperhatikan, terlebih dari Sinode GMIM. "Sinode seharusnya memperhatikan makam ini, adakan pembangunan dan pemeliharaan. Ini bisa jadi aset wisata gereja. Bukan apa-apa, ini hanya sebagai bentuk penghargaan terhadap Riedel yang dipakai Tuhan untuk memberitakan injil di Tondano. Kalau dia tidak datang, tidak tahu kita sudah jadi apa sekarang ini," ujar Johny. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 31 Oktober 2013 hal 1

Lumut Menempel di Tubuh Tendean

Patung Batalyon Worang Manado (2013)
MANADO, TRIBUN - Setiap kali bangsa Indonesia merayakan Hari Pahlawan, tidak seorang pun yang meragukan kontribusi nyata putra-putri terbaik Sulawesi Utara dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara RI. Indonesia akan tetap mengenang para pahlawan bangsa dari bumi Nyiur Melambai. Sebut misalnya Dr Sam Ratulangi, Walanda Maramis, Pierre Tendean dan Wolter Mongisidi.

Nama mereka kan tetap abadi. Dan, keabadian itu dikenang pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara dengan membangun monumen berupa patung yang hingga kini tegak berdiri di Kota Manado.

Di kota berbukit dengan pemandangan pantainya yang aduhai ini, ada lima tokoh penting yang diabadikan lewat patung.  Kelima tokoh berada  di tujuh tempat berbeda, antara lain patung  Walanda Maramis di Jalan Sudirman, patung Robert  Wolter Mongisidi GOR Sario Manado  dan Jalan Bethesda (museum TNI) dan Patung Wolter Mongisidi  di Boulevard.

Bagaimana kondisi monumen bersejarah tersebut? Di sinilah letak soalnya. Pantauan Tribun Manado dua hari terakhir menemukan fakta tak elok. Kuat kesan mencuat monumen bersejarah di Manado kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah dan masyarakat. Di kawasan Boulevard yang menjadi jantung Kota Manado  terdapat dua sosok patung pahlawan yaitu pahlawan nasional Robert Wolter Mongisidi dan pahlawan Revolusi Pierre Tendean.

Sampah berserakan di sekitar monumen yang diresmikan tanggal 26 September 1986 itu. Ada botol bekas minuman, kotak gardus kue, pembungkus makanan ringan, batang bambu bahkan hiasan-hiasan arsitektur batu sudah ada yang pecah. Cat patung  memudar, lumut menempel di dinding dan badan patung Mongidisi dan Tendean. Penampakan dua tokoh besar itu kusam dan layu.

Lantai jalan yang mengitari lokasi monumen retak-retak. Di celah retakannya, hiduplah rumput yang mulai meninggi. Lokasi monumen ini banyak didatangi oleh pengunjung yang sekadar melihat-lihat bahkan mengambil gambar di sini dengan latar sang tokoh.

Kondisi nyaris sama terlihat di monumen pahlawan nasional Dr Sam  Ratulangi. Cat di sosok pahlawan nasional kelahiran Tounkuramber Tondano 5 November 1890 itu  sudah memudar. Ada sampah di sekitar patung dan sejumlah lampu hias di area  itu pecah dan beberapa tak menyala lagi. Tulisan di monumen itu menjelaskan sosok Dr Sam Ratulangi, tokoh utama Minahasa abad ke-20,  orang pertama Indonesia yang meraih doctor dalam ilmu pasti dan alam (doktor matematika).

Aktivitas politiknya semakin hebat menjelang dan sesudah kemerdekaan RI. Duduk sebagai anggota PPKI pada 18 Agustus 1945 Gubernur pertama  Sulawesi yang berkedudukan di Makassar. Ia meninggal di Jakarta karena sakit dengan status sebagai seorang tahanan musuh (Belanda).

Semboyannya terus hidup dan menginspirasi hingga hari ini, Sitou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk menghidupkan orang lain).  Patung Walanda Maramis  pun setali tiga uang. Kuat kesan sudah lama Walanda Maramis tidak dijamah. Maramis yang sedang menggandeng anak di Komo Luar, cat abu-abu  sudah terkelupas di banyak titik, terutama di sisi belakang patung. Pada landasan tempat berdiri patung itu tertulis huruf "D" dan "W" dengan cat semprot warna hitam, selain itu tertera banyak nama dengan selotip yang dibentuk sedemikian rupa sehingga berbentuk nama-nama. Patung tersebut dibangun pada 1970 dan diresmikan Gubernur KDN Sulut  Mayjen H V Worang.

Sekitar patung itu dikelilingi pagar besi. "Kalau bisa diperbaharui supaya terlihat bagus, apalagi ini kota Adipura," kata  Rumiati (43), penjual makanan di sekitar patung tersebut.

Patung Lengkong Wuaya  di pertigaan Kombos pun sama nasibnya. Cat berwarna abu-abu pada bagian mulut sampai ke pipi kiri dan beberapa bagian tubuh lainnya sudah terkelupas. Bahkan tombak yang digenggamnya sudah patah.   "Berdasarkan informasi turun-temurun, ia (Lengkong) tonaas batas Kairagi sampai ke Tonsea," ujar opa Utu (71), sapaan Handri Petrus Nangon yang lahir dan besar di Kairagi.

"Sebenarnya Lengkong itu marganya. Wuaya artinya buaya. Ia dulu pembunuh buaya yang sering memakan manusia, sehingga ia menjadi Tonaas Lengkong Wuaya," kata opa Utu. Patung itu didirikan tahun  1967 dan diresmikan tahun 1970.
Dengan warna cat abu-abu berkombinasi hitam,  patung Batalyon Worang berdiri tegak di Pasar 45. Patung itu diresmikan pada 10 Mei 1976 oleh Gubernor KDN Sulut H V Woran. 

"Menurut saya, beberapa patung itu warnanya masih bagus, tapi ada sedikit kekurangan, senjata yang dipegang dan ikat pinggangnya sudah seharusnya dicat lagi," tutur Natalia (14), pelajar  SMK Pelayaran Purna Bahari Manado. Berdekatan dengan patung Batalyon Worang, di tengah Taman Kesatuan Bangsa terdapat patung Dotulong Lasut yang dibangun awal 1970. Warna cat patung dari jauh terlihat bagus. Tapi saat didekati warna catnya sudah kotor bergaris oleh rembesan air. Keramik di tempat berdiri patung berdiri pecah-pecah.

"Monumen itu  tidak terurus, pemerintah harusnya merawat patung pahlawan kita," ujar  Recky, satu di antara warga Manado yang ditemui, Kamis (30/10/2013). Recky prihatin banyak sampah di lokasi patung Pierre Tendean dan Robert Wolter Monginsidi. Hal senada dikatakan  Manihing. Dia menyarankan patung-patung itu rutin  dicat dan kalau boleh ada tenaga pembersih setiap hari. Menurut Manihing, banyak wisawatan doyan  foto dengan latar belakang patung pahlawan itu. "Jadi memalukan kita kalau banyak sampah di sekitarnya," kata dia

Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Mandao Boy Monding mengatakan biaya perawatan patung-patung tersebut ada di Dinas Pekerjaan Umum. Sementara Depala Dinas Kebersihan Kota Manado, Julises Oehlers mengatakan dinasnya tidak ada anggaran untuk itu. "Kami bekerja sama dengan Dinas Pariwisata," ujarnya, Kamis (31/10). (fer/alp/dma)

Patung di Manado

1. Patung Lengkong Wuaya (jembatan Kairagi)
2. Patung Walanda Maramis (Komo Luar)
3. Patung Toar Lumimuut (Tikala)
4. Patung Kuda (Ranomuut)
5. Patung Sam Ratulangi
6. Patung Batalyon Worang (pusat kota)
7. Patung Wolter Mongisidi (Jalan Pierre Tendean)
* Menurut  Peraturan Wli Kota Nomor 40 tahun 2013

Lima Tokoh yang Dipatungkan

ADA
lima tokoh penting yang diabadikan lewat patung di Kota Manado. Patung kelima tokoh tersebut berada  di tujuh tempat berbeda. Menurut data  Dinas Pariwisata Kota Manado, ketujuh patung itu ialah patung pendaratan Batalyon Worang pusat kota,  patung Walanda Maramis di Jalan Jenderal Sudirman, patung Robert  Wolter Mongisidi GOR Sario Manado  dan Jalan Bethesda (museum TNI),  Patung Wolter Mongisidi dan Pierre Tendean di Boulevard (Bahu)  dan patung Sam Ratulangi di Wanea.

Patung Sam Ratulangi merupakan penghargaan bagi gubernur pertama Sulawesi, Dr  Sam Ratulangi (1890-1949). Ia merupakan penduduk  Sulawesi Utara yang terpelajar dan seorang pahlawan nasional karena dedikasinya melawan penjajah Belanda melalui bidang pendidikan. Patung yang berdekatan ialah Pierre Tendean Pierre dan Wolter Mongisidi. Tendean adalah Letnan TNI yang diculik dan ditembak mati pada tahun 1965. Dia dibunuh bersama dengan enam jenderal lainnya. Pemerintah memberinya pangkat kapten anumerta atas jasanya. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional di Jakarta.

Wolter Mongisidi adalah pahlawan nasional Indonesia  dari Sulawesi Utara. Pada tahun 1940 ia berjuang melawan penjajah Belanda, ditangkap dan dibunuh pada tahun 1949. Jenazahnya dikubur di Makassar, Sulawesi Selatan. Monumen tujuh tentara atau Batalyon Worang  diresmikan pada 10 Mei 1954 dan berlokasi di dekat Pasar 45 Manado, dimana patung Dotu Lolong Lasut berdiri

Nama batalyon ini diambil dari salah satu perwira tinggi Minahasa (HV Worang) pada awal kemerdekaan Indonesia  tahun 1945. Batalyon Worang mendarat di Sulawesi Utara dengan perintah untuk melawan pemberontakan penduduk lokal yang mendukung Belanda. Ada pula patung "pahlawan" Minahasa yaitu Dotu Lolong Lasut. Ia diyakini sebagai penemu Manado, yang hidup pada awal abad ke-16. Dialah sosok religius dan dihormati, yang membangun Tumani Negeri Wenang (sekarang dikenal sebagai Manado). Dia juga memimpin penduduk Manado melawan penjajah Portugis. Hingga hari ini patung Lolong Lasut masih berdiri tegak di Taman Kesatuan Bangsa (TKB) yang didirikan tahun 1987.

Tugu kepahlawanan berikut yang bersifat kepahlawanan tapi bukan dalam bentuk tokoh ialah tugu Peringatan Perang Dunia Kedua. Ada dua versi  cerita di balik tugu peringatan setinggi 10 meter ini. Versi pertama mengatakan tugu Peringatan Perang Dunia Kedua yang dibangun tahun 1940 ini dibangun untuk menandakan jatuhnya pasukan Jepang di Sulawesi Utara. Versi kedua mengatakan  tugu ini dibangun pada saat penjajahan VOC (Hindia Belanda)  abad ke-19. "Yang lain belum bisa kami belum dapat datanya," kata Boy Lasut, staf di Dinas Pariwisata Kota Manado, Kamis (31/10). Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Mandao Boy Monding mengatakan biaya perawatan patung-patung tersebut ada di Dinas Pekerjaan (dma)

Sumber: Tribun Manado 2 November 2013 hal 1

Corneles Kowaas tak Berhenti Menulis

Meskipun usianya tidak lagi muda namun semangat melanjutkan perjuangan tetap membara. Begitulah yang tergambar dalam diri pensiunann prajurit TNI Angkatan Laut Letkol Laut Corneles Kowaas (81).

Mengawali karier di dunia militer  tahun 1966  Kowaas kini tetap aktif mengisi hari-harinya dengan kegiatan positif, satu di antaranya lewat organisasi  Legiun Veteran Republik Indonesia ( LVRI) Kabupaten Minahasa Selatan yang dipimpinnya.

"Saya sekarang selain memimpin LVRI juga melanjutkan kegiatan saya untuk menulis sebagai kegemaran saya. Baru-baru ini saya mengikuti APEC di Bali," katanya kepada Tribun Manado di Amurang,  Senin (4/11/2013).

Menurut Kowaas, kondisi veteran umumnya memang tidak semangat lagi seperti dulu antara lain karena kurangnya perhatian dari negara. Namun, menurut dia, hal itu jangan menjadi kendala untuk terus beraktivitas. "Memang kita masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah, tapi kita jangan bergantung di situ. Kita harus lebih berusaha menjalani kehidupan ini dengan semangat," ujarnya.

"Seharusnya kita jangan mudah terpengaruh (dengan keadaan sekarang). Mari  kita kembali ke semangat pahlawan, seperti yang dulu pernah lakukan," tambahnya. Secara pribadi Kowaas kini menikmati investasi yang dia tanamkan kepada anak-anaknya berupa pendidikan yang memadai. "Ada empat anak saya, dan saya bangga bisa menyekolahkan mereka sampai selesai perguruan tinggi. Sekolah  merupakan investasi pendidikan," tandasnya.

Anaknya yang pertama, Anne Kowaas saat ini bekerja di Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Indonesia di Amerika Serikat (AS). Anak kedua Jemmy Kowaas telah meninggal dunia, Selly Kowaas saat ini berada di Amurang, dan Samuel Kowaas yang saat bekerja di Kedubes RI di Beijing dan Mongolia.

Ia punya cerita mengenai perjuangan untuk menyekolahkan anaknya yang terakhir tersebut. "Saat mau masukkan dia ke AKABRI, modal hanya Rp 2.000 untuk foto kopi dan tes ternyata ia lolos masuk menjadi prajurit angkatan laut," jelasnya.
Saat lulos tes, ia berpesan kepada anaknya itu agar tidak membuat malu keluarga.

"Saya bilang, saat dia lolos, maju terus, jangan bikin malu keluarga," kenang suami Margaretha Pangkey ini. Ia berharap, pengalaman hidupnya untuk menyekolahkan anak, bisa menular ke veteran lain bahkan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut).

"Kepada veteran saya harapkan  agar semangat kita harus seperti saat kita masih bertugas. Untuk masyarakat, kami yang veteran bisa, mengapa Anda tidak bisa," ujarnya retoris. Satu lagi dititipkannya untuk veteran agar menjadi contoh. "Jangan banyak mengeluh karena kita bisa hancur," demikian Kowaas.

Dihubungi secara terpisah, Senin (4/11/2013), pengamat sosial Jefry Paat menilai perhatian pemerintah terhadap veteran memang kurang. Bahkan bisa dibilang sebagian besar veteran khususnya di Sulut kini hidup di bawah garis kemiskinan.
Menurut    dosen Jurusan Sosiologi FISIP Unsrat Manado ini, satu  hal yang patut menjadi perhatian adalah penyaluran dana kehormatan bagi veteran. Sudah bertahun-tahun hanya Rp 250 ribu per bulan dan tunjangan Rp 1.250.000 per bulan.

"Angka ini sungguh tidak  manusiawi  bagi veteran yang sudah usia lanjut. Nominal tersebut ada dalam UU nomor 7 tahun 1967 tentang legiun veteran RI dan perubahannya UU Nomor 15 tahun 2012 menyebutkan adanya kenaikan tunjangan bagi veteran menjadi Rp 1.500.000 per bulan. Apakah itu layak? Hanya pemerintah yang bisa mengkaji dan tentu terpenting segera merealisasikannya,"kata Paat.

Solusi lain, kata dia, merealisasikan janji untuk memberi perumahan yang layak bagi veteran. Kemudian pemberian beasiswa bagi keluarga veteran. "Terpenting untuk diperhatikan juga adalah tidak memberatkan veteran atau keluarga veteran dalam birokrasi ketika mengurusi semua bantuan dari pemerintah atau pihak manapun. Sebab veteran memiliki surat khusus," katanya..

Dikatakanya, bantuan langsung tentu bisa dilakukan pemerintah kota kabupaten atau provinsi. Seperti memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis secara rutin bagi veteran dan pemerintah bisa mengarahkan pihak swasta untuk ikut memperhatikan veteran lewat event-event atau program CSR mereka.

"Bantuan atau penghargaan apapun bagi veteran  tidaklah akan menjadi beban pemerintah. Bahkan akan menjadi positif bagi mentalitas masyarakat karena pemerintah mampu membuktikan kepedulian mereka terharap orang-orang yang berjuang bagi bangsa ini," demikian Paat. (amg/dit)

Sumber: Tribun Manado 5 November 2013 hal 1

Pusat Koperasi Veteran Sulut Bangun 2.000 Rumah

Periksa mata Veteran di Manado 04-11-2013
Pusat Koperasi Veteran Republik Indonesia (Puskoveri) Sulawesi Utara  bekerja sama dengan Kementerian Perumahan Rakyat membangun 2  ribu rumah untuk veteran.

"Sementara 500 rumah akan dibangun di Tetey, Minut. Ini tahap pertama," ujar  Letkol (Purn) Rudy Wullur  (82) selaku Ketua Puskoveri dengan semangat kepada Tribun Manado, Senin (4/11/2013).

"Rencana selanjutnya dilaksanakan di Tongkaina. Di sana ada tanah veteran kurang lebih 200 hektare. Sedangkan yang disertifikatkan sesuai kemampuan 60 hektar, itu sudah cukup bisa dibangun kurang lebih 1.500 rumah," kata Wullur yang sudah  menjabat ketua koperasi selama dua periode.

Ia menambahkan rumah tersebut dapat diambil oleh keturunan veteran. Misalnya anak dan cucunya. "Selain itu, walau kecil-kecil, koperasi kami juga mempunyai usaha seperti pertanian, satgas, perikanan, dan sebagainya," tuturnya. Menurutnya, jika ada veteran yang sukses di tempat lain, itu urusan pribadi mereka. "Itu di luar jangkauan kami," ujarnya.

Puskoveri berada di lantai dua dari gedung Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sulut di Teling, Manado. Semua data jumlah veteran di tiap-tiap cabang kabupaten di Sulut dimasukan ke LVRI Sulut. "Jumlah veteran di Sulut kurang lebih 7 ribu orang,di antaranya ada 4 ribu lebih sudah menerima tunjangan," ujar Johny Tumengkol selaku sekretaris LVRI Sulut.

Selain tunjangan veteran juga mendapat dana kehormatan. "Tunjangan veteran perbulan Rp 1,2 juta, sedangkan dana kehormatan Rp 250 ribu," tuturnya. Diakuinya, jumlah itu tidak sebanding dengan pengorbanan mereka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dijelaskannya, veteran terbagi dalam empat golongan, di antaranya pertama golongan utama Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) 1945 sampai 1949.  "Rata-rata mereka sudah meninggal," ujar Tumengkol.

Kedua, golongan veteran pembela, terbagi tiga kategori lagi yakni  veteran Trikora, mereka yang berjuang melawan bangsa asing di Irian Barat pada 1961 sampai 1963. Kategori kedua veteran pembela Dwikora, mereka yang melawan Inggris di Kalimantan Utara pada 1964 sampai 1966. Kategori terakhir veteran pembela Seroja,

"Saya di kategori ini, ketika itu melawan Portugis di Timor Timur pada Mei 1975 sampai Juli 1976, yang berhak menjadi pahlawan itu mereka yang melawan bangsa asing bukan bangsa sendiri," tandasnya. Ketiga golongan veteran perdamaian. "Itu bagi setiap warga negara yang bertugas secara internasional di bawah mandat PBB," tuturnya. Keempat golongan anumerta. "Mereka yang gugur saat pembelaan di golongan kedua," tuturnya. (alp)

Sumber: Tribun Manado 5 November 2013 hal 1

Mengunjungi Rumah Sam Ratulangi di Tondano

Rumah Dr Sam Ratulangi di Tondano (2013)
SIAPA yang tak mengenal Gerungan Saul Samuel Jacob (GSSJ) Ratulangi atau lebih dikenal dengan Sam Ratulangi?  Dia merupakan satu di antara tokoh paling berpengaruh tidak hanya di Sulut, melainkan di Indonesia. Putra Minahasa ini dikokohkan sebagai sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya terhadap negara.

Sebagai penghargaan untuk jasanya, nama Sam Ratulangi banyak diabadikan sebagai nama jalan, lapangan, bandara dan universitas.  Ia dikenal dengan filosofinya Sitou Timou Tumou Tou yang artinya manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia lainnya.

Di Kelurahan Tounkuramber Kecamatan Tondano Barat Kabupaten Minahasa, masih tegak  berdiri sebuah rumah khas Minahasa. Posisinya di samping Kantor Bupati Minahasa dan lapangan yang dinamai Lapangan Sam Ratulangi.

Hari  Senin (4/11/2013), Tribun Manado mengunjungi rumah bersejarah itu. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan  hidup Sam Ratulangi sebelum ia pergi ke luar daerah. Rumah itu berdiri di halaman luas yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan, bunga dan tumbuhan liar lainnya. Bahkan pandangan mata ke rumah terhalangi tumbuhan-tumbuhan tersebut. Seperti halnya rumah di tengah hutan, itulah anggapan yang tepat untuk rumah Sam Ratulangi. Cat rumah masih terlihat baru, belum lama dicat. Cat pada pagar yang mengelilingi rumah tampak pudar dan mengelupas, bahkan pintu depan rumah sudah  berkarat.

Rumah itu khas Minahasa, yakni rumah panggung. Terlihat sangat klasik. Meski sudah ratusan tahun berdiri, rumah  masih berdiri kokoh. Dari kejauhan, kaca tanpa gorden  pada rumah itu tampak buram dan terlihat tak ada hiasan di dalam rumah. Rumah kosong tak ada penghuni. Hanya ada anjing penjaga yang menggonggong tiap kali melihat orang asing. Rumah itu dijaga Keluarga Sam Ratulangi. Mereka tinggal di belakang rumah tua tersebut.

Pemandangan yang sangat kontras di tengah kota. Sementara Kantor Bupati Minahasa dan berdiri megah, berbeda dengan rumah itu. Hampir semua warga Tondano tahu betul itu rumah siapa, saat bertanya di mana rumah Sam Ratulangi mereka langsung mengarahkan ke situ.

Banyak peninggalan Sam Ratulangi di rumah itu. Tempat tidur, lemari, kursi, meja yang terbuat dari kayu hitam masih terawat dengan baik. Barang-barang itu terletak di ruang tamu dan kamar tengah.

Norman Supit, cucu Sam Ratulangi mengatakan rumah itu sudah tak ditinggali lagi. "Itu dijadikan seperti tempat barang antik, tapi terus dilakukan perawatan. Paling-paling kalau ke situ hanya sesekali. Kami sekeluarga memang tinggal dan selalu berkumpul di rumah belakangnya yang memang dijadikan hunian. Sekarang di situ (rumah Sam Ratulangi)  kami memelihara banyak anjing. Setahu saya rumah itu dibangun tahun tahun 1800-an dan direnovasi  tahun 1930-an," ujarnya. Berbeda dengan rumah Sam Ratulangi, keluarganya tinggal di rumah bergaya modern.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa Debby Bukara SE M.Si mengatakan jika keluarga berkenan maka rumah Sam Ratulangi akan dikelola pemerintah sebagai tempat wisata. Keputusan itu bisa diambil bupati.  "Karena itu merupakan rumah dan tanah keluarga. Dari pemerintah hanya sekadar memberi bantuan. Hal itu berbeda dengan Rumah Adat Loji Tondano misalnya yang memang milik pemerintah," ujarnya, Senin (4/11/2013).

Menurut Debby, rumah itu memang baik untuk dijadikan tempat wisata, apalagi merupakan peninggalan tokoh termasyur, pahlawan bangsa. Tapi kembali lagi ke pihak keluarga karena itu merupakan milik pribadi. "Kita semua pasti ingin rumah itu bagus dan memang  aset berharga," ujarnya. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 5 November 2013 hal 1

Kebakaran di Manado Terjadi Saban Bulan

ilustrasi
SEPANJANG tahun 2013 ini (hingga posisi 2 November) sudah terjadi 23 bencana kebakaran di Kota Manado dengan kerugian material bernilai belasan miliar rupiah. Jika dirata-ratakan maka terjadi sedikitnya dua kasus kebakaran dalam sebulan.

Menurut catatan Tribun Manado, kasus kebakaran terbanyak tahun ini terjadi bulan Mei 2013 dengan total 7 kejadian. Berikut ini data peristiwa kebakaran di menurut dokumentasi Tribun.

1. (2/1):  Kebakaran di Gereja Penyebaran Injil Jemaat Filadelfia Malalayang.
2. (12/1): Rumah keluarga Reinaldo Lauma di Kelurahan Ranomout Kecamatan Tikala.

3. (3/2): Tujuh rumah di kompleks eks Dinas Perkebunan, Kelurahan Tanjung Batu Lingkungan 4, Kecamatan Wanea

4. (12/2): Tenant kecantikan di Manado Town Square
5. (20/2): Rumah keluarga Lughu-Patimbano, Perumahan Banua Asri II, Kelurahan
Buha Lingkungan IV, Mapanget.

6. (14/4): Kebakaran di rumah Mody Kumendong, Perumahan Kehutanan, Kelurahan Bumi Nyiur Lingkungan III, Wanea.

7. (2/5): Kebakaran papan reklame eletronik di depan itCenter.

8. (3/5): Sembilan rumah warga di Kelurahan Bumi Beringin, Wenang.

9. (6/5): Rumah Dickson Mangadil, di Kompleks Perumahan Banua Buha, Mapanget.

10. (11/5): Asrama Putra Mimika Papua, Batu Kota, Malalayang.

11. (12/5): Rumah keluarga Rakinaung-Watania, di Lingkungan I Kelurahan Karombasan Selatan, Wanea.

12. (22/5): Delapan rumah warga di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang.
13. (24/5): Dua rumah warga dan SMK Perintis di Kelurahan Sario Kota Baru, Sario.


14. (7/7): Delapan rumah di Kelurahan Maasing, Tuminting

15. (14/7): Enam blok di Asrama Sapta Marga TNI, Keluarahan Sario Tumpaan.

16. (18/8): Rumah keluarga Tamoselang-Supit, Kelurahan Tuminting.

17. (20/8): Dua bangunan kosong di Puskesmas Pembantu Kecamatan Mapanget.

18. (5/9): Kebakaran hebat di Keluarahan Istiqlal, Wenang. Sebanyak 90 jiwa kehilangan tempat tinggal.

19. (25/9): Kebakaran barang bekas milik Pacific TV di Winangun.

20. (26/9): Sebagian bangunan di Restoran Kampoeng Minahasa.

21. (27/9): Rumah keluarga Saiful Badri, Kelurahan Singkil dan  rumah Keluarga         Kawengian-Silap, Malayang.

22. (1/11): Empat  rumah di Asrama Kiban, Paniki Bawah, Mapanget.

23. (2/11): Tujuh ruko di kompleks Pasar Bersehati Manado

Sumber: Tribun Manado 3 November 2013 hal 1

Gubernur Worang Wariskan Patung di Manado

Patung pendaratan Batalyon Worang di Pasar 45 Manado (2013)
Patung para pahlawan nasional dan tokoh penting di Kota Manado umumnya dibuat sekitar 30 tahun yang lalu pada masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut)   HV Worang. Setidaknya ada dua pematung Sulut yang mengasilkan karya tersebut yaitu Alex Wetik dan Mingkid.

Hal tersebut dikemukakan budayawan Sulut Profesor ABG Rattu ketika ditemui Tribun Manado di sela-sela seminar bertajuk Awal Manusia di Sulawesi Utara di Hotel Arya Duta Manado, Kamis (31/10/2013) lalu. "Pembuatan patung itu lebih banyak dilakukan saat masa jabatan Gubernur Worang. Gubernur Worang merupakan pelestari budaya," kata Rattu.

Rattu kemudian menarik sejarah patung itu jauh ke belakang,  menembus masa lalu. Menurutnya, orang Minahasa memiliki keterampilan mematung. Sekitar tahun 1400 Masehi, orang Minahasa membuat patung untuk orang-orang terhormat. "Biasanya kepala adat," ujarnya. Rattu menyebut contoh patung Lengkong Muaya yang memasang kuda-kuda. "Itu artinya orang berani. Itu menunjukkan karakter asli masyarakat Minahasa yang berani berperang atau melawan tapi untuk tujuan mulia. Saya menariknya ke belakang untuk menunjukkan kenapa patung-patung dahulu maupun sekarang harus dilestarikan," katanya.

Begitu pula  dengan patung Tololiu Supit dan patung Batalyon Worang di Pasar 45 Manado. "Di situ ditunjukkan bagaimana Worang setelah merebut Maluku masuk ke Sulawesi Utara. Kalau di Bolmong ada juga patung Bogani Putra," ujarnya

Patung Toar Lumimut pun berusaha menunjukkan keberadaan nenek moyang masyarakat Minahasa. Patung Sarapung Korengkeng juga memiliki makna besar.

"Sarapung Korengkeng merupakan panglima perang yang melawan Spanyol pada abad ke-18. Sedangkan Sam Ratulangi merupakan pahlawan melawan Belanda, peraih doktor matematika dan fisika Sulut saat itu. Patungnya ada di Minahasa dan Manado," katanya. Patung Kuda juga memiliki sejarahnya sendiri. Patung yang berada di Stadion Kalabat dan Paal Dua merupakan monumen peringatan akan kehebatan olahraga berkuda Sulut. "Kuda dan joki Sulut sering mendapatkan juara. Bahkan dahulu kuda pemenang dari Jawa, jokinya dari Sulawesi Utara," ujarnya.

Pada umumnya,  lanjut Rattu, patung di Kota Manado dibuat oleh Alex Wetik dan Mingkid. Tugu pendaratan Worang merupakan hasil karya mereka berdua. "Nama depan Mingkid saya lupa. Tapi mereka mengerjakan itu karena ada bantuan dana dari Gubernur Worang," tuturnya. Patung Toar Lumimuut dikerjakan Alex Wetik. Sedangkan yang lain dikerjakan bersama. "Kecuali mungkin patung Sam Ratulangi di Unsrat yang dibuat sekitar  tujuh tahun lalu. Pematungnya Johanes Saul, seorang dosen dan Enoch Saul, seorang guru SMP. Mereka itu bersaudara," katanya.

Rattu  mengharapkan ada lembaga khusus yang menangani patung-patung bersejarah itu. Perhatian pemerintah juga diharapkan sama seperti pada masa Gubernur Worang.

Dihubungi secara terpisah,  pakar Tata Kota  Novianti MURP  mengatakan  semangat membuat patung guna mengenang jasa para pahlawan.

"Penempatan patung di perkotaan sebagai penanda kota, sebagai semangat untuk ingat jasa pahlawan," tambahnya. Walau demikian, kata dia, keberadaan patung  tidak asal taruh karena patung merupakan elemen kota. "Harus terintegrasi dengan elemen kota  seperti  dengan taman, jenis pohon, papan nama patung dan lingkungan sekitar. Apakah di kawasan perdagangan, perumahan atau di depan gedung museum," jelasnya.

Bagian integral dari patung di Kota Manado  saat, menurut dia perlu dievaluasi karena Manado sudah mengalami perkembangan pesat. "Patung berada di lingkungan yang sudah berkembang,  tidak sesuai (lagi) dengan posisi   patung itu berada," kata dia. (dma/crz/alp)

Sumber: Tribun Manado 3 November 2013 hal 1

Ada Jejak Portugis di Minahasa Selatan

Benteng Portugis di Amurang 2013
Gajah  mati meninggalkan gading, manusia  meninggalkan nama.  Di Minahasa Selatan (Minsel) pernah hidup manusia dari seberang lautan, dari bangsa yang berbeda  yaitu Portugis. Jejak kehidupan mereka di masa lalu masih berbekas hingga sekarang yaitu berupa benda dan bangunan bersejarah.

Di Minahasa Selatan, ada peninggalan sejarah Portugis  yang  masih berdiri kokoh meski sudah termakan usia berabad-abad. Benteng Portugis itu berada di kompleks Pasar Amurang, Kelurahan Uwuran. Benteng tersebut menghadap ke Teluk Amurang, dibangun tahun 1512 oleh bangsa Portugis yang datang ke wilayah yang dulunya masih dikenal dengan Minahasa.

Bangunan ini berbentuk stengah lingkaran, sementara di bagian belakang ada satu anak tangga menuju lantai atas. Sekarang bagian tengah benteng sudah terisi penuh dengan tanah. Tampak bangunaan tersebut disanggah dengan kaki-kaki beton.  Masih ada bekas pintu yang sudah ditutupi dengan semen.

Warga Amurang meyakini bangunan tersebut sangat luas. Yang tersisa saat ini hanya bagian kepala dari benteng Portugis. "Menurut ceritanya, bangunan benteng ini cukup luas, dan sungai di Bitung tersebut merupakan tempat kapal masuk," kata warga setempat Kris Rampi,  Sabtu (2/11/2013)..

Rampi mengaku pernah  melihat ruangan bawah tanah dari benteng tersebut. "Di dekat rumah saya itu, ada bekas lubang seperti menuju ruangan bawah tanah," jelasnya. Menurut dia, di benteng tersebut, sebenarnya ada empat meriam, yang hingga sekarang tidak diketahui keberadaanya. "Katanya ada meriam di situ, namun sudah diangkat dan dipindahkan di beberapa tempat," ujarnya.Ada lagi, menurut informasi yang dia peroleh, di benteng tersebut ada ruangan untuk tahanan an ruang penyiksaan."Yang saya tahu seperti itu," kata Rampi.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Minsel,  Agustina Tampeno mengatakan bangunan tersebut  baru dipugar tahun 2012, yaitu  menambah pagar sekelilingnya. "Mungkin sebelumnya sudah pernah dipugar, tapi yang terakhir itu tahun 2012," kata Agustina. Namun, dia merasa heran karena papan nama benteng diganti, bukan nama benteng Portugis, tapi benteng Amurang. "Kami juga heran kenapa bisa begitu," jelasnya.

Agustina mengakui, pihaknya ingin sekali mengetahui rahasia di dalam benteng yang sudah tertimbun tanah. "Masih misterius isinya, dan untuk menggali harus dari arkeolog, tidak bisa kami yang lakukan," ujarnya. (alpen martinus)

Sumber: Tribun Manado 3 November 2013 hal 1

Lopo, Balai Kearifan Suku Timor

Lopo (istimewa)
Sekelompok orang memakai sarung adat duduk berhadapan di bangku kayu di rumah panggung, lopo. Mereka membahas tata cara menyimpan makanan pada lumbung.

Pangan yang disimpan dalam lumbung itu merupakan stok terakhir pada puncak musim kemarau bagi warga Dusun Nuut, Desa Nusa, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Musyawarah adat di lopo menjadi proses awal dari semua kegiatan di desa itu. Lopo juga bermakna lumbung karena dalam tata hidup orang Timor, setiap jenis pangan disimpan di lopo.

Lopo dibedakan dari ume kbubu, yang berarti rumah bulat tanpa jendela berbentuk kerucut sebagai tempat tinggal dengan atap sampai di tanah. Untuk memasuki ume kbubu, orang harus menunduk. Hal ini bermakna hormat dan sopan kepada pemilik rumah.

Ketua Adat Dusun Nuut Napoleon Faot memimpin musyawarah adat itu. Ia mulai berbicara, diawali dengan sapaan adat ”Uis Neno” yang berarti Tuhan yang Maha Kuasa.

Tuhan diajak hadir merestui pertemuan itu agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berlangsung dalam suasana aman. Pembicaraan berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan, kerukunan, keterbukaan, dan kejujuran.

Apa pun yang diputuskan dalam musyawarah adat harus ditaati warga. Jika ada warga yang melanggar, ia harus menanggung risiko, yang diyakini bisa berupa sakit, gagal panen, atau kutukan adat lainnya.

Istri Faot, Ny Belina Faot, menyodorkan sirih pinang kepada peserta musyawarah. Sirih pinang diedarkan berkeliling. Setiap peserta mengambil bagian mengunyah sirih pinang sebagai tanda kehadiran dengan hati terbuka dan pikiran yang cerdas.

”Tahun ini hasil panen jagung, padi, kacang, dan umbi-umbian kurang memuaskan. Bahkan, ada keluarga yang gagal panen. Jadi, kami putuskan beberapa jenis pangan disimpan, dan juga jumlahnya, bagi tiap keluarga,” kata Faot.

Setelah mengunyah sirih pinang, musyawarah dilanjutkan dengan meneguk minuman khas daerah itu. Setiap peserta musyawarah, termasuk kaum perempuan, mengambil bagian dari ritual ini. Puncak kekeringan

Moses Baun, warga yang ikut musyawarah dan juga anggota Badan Musyawarah Adat Dusun Nuut, menyatakan, ”Hanya makanan tahan lama yang disimpan di lopo. Stok makanan itu diprioritaskan untuk jangka waktu yang relatif lama, yaitu 5-6 bulan ke depan.”

Makanan itu diprioritaskan untuk masa puncak kemarau. Tidak boleh diambil sebelum waktu itu tiba. Sebab, tanaman dan sumber air selalu mengalami kekeringan pada puncak kemarau. Kehidupan terancam.

Baun meminta, melalui peserta musyawarah, agar 145 keluarga di dusun itu menyimpan jagung saja. Setiap keluarga wajib menyimpan 500 bulir jagung. Namun, dimungkinkan pula jika ada keluarga yang menyimpan jenis makanan lain, seperti kelapa kering dan umbi-umbian.

Usulan Baun disetujui 15 peserta yang hadir. Mereka adalah anggota badan musyawarah adat di dusun itu.

Faot pun meyakinkan peserta musyawarah bahwa segala jenis makanan yang masuk ke lopo akan bertahan sampai batas waktu yang diharapkan. Leluhur akan menambahkan jika jumlahnya terbatas dan membuat makanan itu awet, bertahan sampai musim paceklik tiba.

Mince Naitboho, anggota musyawarah adat yang mewakili perempuan di dusun itu, mendukung Moses Baun. Makanan yang disimpan di dalam lumbung tidak boleh diambil. Pintu masuk keluar lumbung tetap dikunci dan orang yang ditunjuk mengambil makanan itu harus mendapat restu dari semua warga dusun.

Mince meminta istri ketua adat, Belina Faot, sebagai penjaga pintu lopo. Permintaan itu disetujui peserta musyawarah. ”Kami minta Mama Belina menjaga pintu karena letak lopo persis di depan rumah ketua adat. Pengawasan terhadap makanan ini lebih terjamin dan makanan ini bisa dimanfaatkan sesuai tujuan,” ujar Mince.

Peserta bertepuk tangan. Pembicaraan semakin seru. Dialog berlangsung dalam bahasa adat ”dawan”, santai, dan akrab. Angkat jagung

Hari itu juga, seusai musyawarah adat, warga beramai-ramai memikul jagung dari rumahnya, dikumpulkan di rumah ketua adat dan diantar masuk ke dalam lopo. Jagung dan makanan lain yang disimpan di lopo haruslah diambil dari hasil terbaik.

Setiap keluarga melaporkan jumlah jagung atau makanan lain yang dibawa ke lopo kepada ketua adat. Anggota badan musyawarah adat menghitung dan mencatat dalam buku dusun.

Jumlah makanan yang diambil setiap keluarga saat puncak musim kemarau disesuaikan dengan jumlah yang disimpan. Jika ada kerusakan, itu pun menjadi milik keluarga yang menyimpan. Jika sebagian jagung tersebut hilang, hal itu menjadi tanggung jawab siapa pun penjaga pintu lopo.

Pangan yang disimpan di lopo tak hanya dikonsumsi, tetapi juga sebagai bibit pada musim tanam berikut. Selain jagung, bibit sorgum pun disimpan di lopo. Sorgum adalah pangan lokal yang sedang dikembangkan di Timor Tengah Selatan setelah lama ditinggalkan.

Praktik menyimpan makanan di lumbung pangan itu berkembang tahun 1970-an. Waktu itu, setiap keluarga memiliki lumbung. Tak hanya untuk menyimpan pangan, lopo juga membangun dialog, kejujuran, dan kebersamaan di antara warga dusun.

Ketua Yayasan Animasi Timor Martinus Krivo, yang mendampingi warga Dusun Nuut, mengatakan, sejak pengadaan kembali lumbung pangan, tidak ada lagi kasus kelaparan di kawasan itu. Warga selalu siaga menghadapi paceklik dengan pangan lokal. (Kornelis Kewa Ama)

Sumber: Kompas.Com

Laut Sawu Tahan Terhadap Pemanasan Global

Ikan Paus Biru
Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur merupakan koridor migrasi paus-paus langka dunia. Kawasan perairan seluas 3,5 juta hektar itu juga menjadi tempat singgah dan berkembang biak mamalia lain selain paus, antara lain lumba-lumba serta aneka burung laut.

Demikian hasil riset yang dirilis tim peneliti pimpinan Benjamin Kahn dari The Nature Conservancy (TNC) yang dipaparkan dalam rapat koordinasi pengelolaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu, Jumat (1/11/2013), di Kupang, NTT.

Hadir antara lain Agus Darmawan, Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan (KKJI) dari Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Wakil Gubernur NTT Benny A Litelnoni, dan Asisten Operasi Komando Pangkalan Utama TNI AL VII Kupang Kolonel Sunarno Adi.

Menurut Benjamin, Laut Sawu kaya akan nutrisi yang dicari mamalia laut, seperti paus dan lumba-lumba. Di Sawu sering terjadi upwelling, yakni peristiwa naiknya massa air laut bersuhu dingin dari dasar perairan yang kaya nutrisi ke perairan di atasnya.

 ”Hal itu menyebabkan perairan Sawu memiliki produktivitas tinggi sehingga ikan banyak berkumpul di daerah ini. Upwelling juga membuat variasi suhu yang tinggi di perairan ini sehingga menjadikan Sawu tahan terhadap dampak dari pemanasan global,” ujar Benjamin yang berasal dari Kanada.

Ia dan tim melakukan riset pada 20 September-14 Oktober 2013 di titik-titik acak di Laut Sawu yang meliputi 10 kabupaten di NTT. Penelitiannya menggunakan metode pengamatan dan penelitian sinyal sonar yang terdengar dari dalam laut.

Tim Benjamin mendapati 10 paus langka yang sinyal sonarnya tertangkap oleh radar serta wujudnya menampakkan diri selama pengamatan acak di lapangan. Salah satunya yang mengejutkan ialah terdeteksinya paus biru (blue whale) yang secara internasional sudah terancam punah (endangered). Sembilan mamalia lain yang terdeteksi ialah paus sperma (sperm whale), paus bongkok (humpback whale), paus pembunuh palsu (false killer whale), paus kepala semangka (melon-headed whale), lumba-lumba abu-abu (risso’s dolphin), lumba-lumba fraser (fraser’s dolphin), lumba-lumba paruh panjang (spinner dolphin), lumba-lumba totol (pan-tropical spotted dolphin), dan lumba-lumba hidung botol (bottlenose dolphin).

Wakil Gubernur NTT Benny A Litelnoni meminta pemerintah pusat segera mempercepat pengesahan Laut Sawu sebagai Taman Nasional Perairan (TNP) di Indonesia. Laut itu sudah dicadangkan sebagai TNP oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada Mei 2009 di Manado, Sulawesi Utara. Namun, hingga kini pengesahan status TNP itu belum dilakukan.

Untuk keperluan riset TNP, sejak tahun 2012 telah dibentuk Dewan Konservasi Perairan yang bertugas menyosialisasikan aturan konservasi dan menjembatani harapan masyarakat pesisir Laut Sawu dengan kebijakan konservasi pemerintah.

Menurut Agus, syarat pengesahan Laut Sawu sebagai TNP sudah lengkap. ”Secepatnya akan disampaikan ke menteri. Saya harap bisa diumumkan saat perayaan Hari Nusantara, pertengahan Desember,” katanya. (rek)

Sumber: Tribun Manado
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes