Selamat Jalan, Lawo!


Niko Frans

Oleh Dion DB Putra

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia alias GMNI yang kini mekar berbiak indah di persada Flobamora patut berterima kasih kepada duet ini. Duet Dua Frans.

Frans Lebu Raya dan Niko Frans. Pasangan Adonara-Nita. Frans Lebu Raya terlahir sebagai anak Adonara, Kabupaten Flores Timur. Niko Frans lahir di Nita, Kabupaten Sikka. Nita adalah tempat bermukim dua seminari tinggi terkemuka dunia, Ledalero dan Ritapiret.

Saya bersyukur menjadi akivis mahasiswa pada periode yang hampir sama dengan duet Dua Frans, meski mereka berdua lebih senior dari sisi usia.

Sebagai aktivis,  duet Dua Frans sangat aktif pada periode 1989-1996. Mereka merintis dan memimpin organisasi GMNI yang kemudian berjaya sampai hari ini.  

Pada periode yang sama (1989-1993) saya bergumul diri di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang St. Fransiskus Xaverius. 

Saya sempat mendapat kepercayaan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PMKRI Kupang periode 1992-1993. 

Ketua PMKRI Kupang periode ini adalah abang Aloysius Min. Terakhir sebelum purnabakti dari ASN, dia menjabat Sekretaris Dinas Dikbud Provinsi  NTT.

Sebagai sesama aktivis mahasiswa hubungan kami sangat dekat dengan duet Dua Frans. Makin lengket lantaran sekretariat kami hanya berjarak kurang dari 50 meter. 

Pada masa itu GMNI Kupang mengontrak rumah di Jalan Anggur yang mereka jadikan sekretariat. Lokasinya dekat sekali dengan margasiswa PMKRI di Jalan Soeharto No.20 Kupang. Jadi, hampir saban hari kami bersama, bercengkerama atau berdiskusi aneka soal. 

Urusan makan minum bersama dalam kondisi apa adanya ala mahasiswa pun sangat kerap. Cukup sering kami makan nasi kosong (istilah Kupang yang artinya nasi tanpa lauk) atau hanya mie instan.

Di rumah kontrakan itu, saya melihat dan ikut merasakan perjuangan berat duet Dua Frans merajut organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang yang baru tumbuh. 

Kala itu belum banyak orang di NTT yang mengenal GMNI termasuk di kalangan mahasiswa. Jauh berbeda dengan PMKRI yang kehadirannya sudah puluhan tahun di beranda Flobamora. 

Frans Lebu Raya dan Niko Frans bersama pengurus dan anggota GMNI kala itu sangat gigih memperkenalkan organisasi mahasiswa ekstrakampus yang terkenal dengan motto pejuang pemikir dan pemikir pejuang ini.

Frans Lebu Raya merupakan aktivis PMKRI Kupang sebelum merintis pendirian GMNI. Sepengetahuan saya, tahun 1989 Frans Lebu Raya bertemu pengurus GMNI di Jakarta di sela kegiatannya sebagai mahasiswa teladan utusan Universitas Nusa Cendana (Undana). 

Frans mendapatkan mandat dan persetujuan untuk merintis organisasi ini. Maka terbentuklah caretaker Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Cabang Kupang di penghujung tahun 1989 dengan ketua Frans Lebu  Raya dan sekretaris Yohanes Kosat . 

Setahun kemudian terbentuk pengurus definitif hasil konferensi cabang yang pertama di Kupang. Frans Lebu Raya menjadi ketua dan Niko Frans menjabat sekretaris DPC GMNI Cabang Kupang periode 1990-1993.

Duet ini menjalani periode perintisan. Sebagai organisasi baru, fokus kerja mereka adalah sosialisasi organisasi serta pendidikan kader mulai dari level dasar, madya dan selanjutnya. 

Mereka sungguh pejuang pemikir dan pemikir pejuang di masa sulit. GMNI tak elok melupakan ini.

Tahun 1993 Frans Lebu Raya melepas jabatannya sebagai ketua DPC demi kaderisasi. Dalam forum konferensi cabang  II, Nikolaus Fransiskus alias Niko Frans terpilih sebagai ketua cabang. Anak Nita ini berduet dengan putra Kedang Lembata, Viktus Murin sebagai sekretaris GMNI Kupang.

Saya dan Viktus Murin kala itu sama-sama sudah bekerja sebagai wartawan Harian Pos Kupang yang terbit sejak 1 Desember 1992. 

Itulah sebabnya kami hampir selalu bersama setiap hari. Pulang kerja malam dari kantor atau dari lapangan, tempat kami berkumpul, kalau bukan di sekretariat PMKRI, ya di tetangga sebelah, markas GMNI.

Pada masa kepemimpinan duet Niko Frans-Viktus Murin, GMNI Cabang Kupang semakin berkembang. Jumlah anggota meningkat pesat. GMNI Kupang mulai diperhitungkan di tingkat regional Nusra bahkan nasional. 

Sohib saya Viktus Murin terpilih sebagai pengurus pusat GMNI yaitu Sekjen Presidium GMNI periode 1999-2002. 

Duet Niko-Viktus membentuk kader GMNI yang tangguh.  Penerus mereka sebagai pengurus GMNI Kupang kalau tidak salah duet Yos Dasi Djawa dan Emanuel Kolfidus (1996-1999). 

Sejak itu GMNI makin berkembang di NTT dan melahirkan kader andalan, sebut misalnya Raymundus Fernandes, bupati Timor Tengah Utara 2010-2015, dan 2016-2021.

Sapaan Lawo

Kembali ke duet Duo Frans, saya punya sapaan kesayangan. Kalau Frans Lebu Raya, saya bisa menyapa kaka atau sesekali abang. Beda dengan Niko Frans. Sapaan kesayangan kami berdua adalah lawo. Dia panggil saya lawo, demikian pula sebaliknya.

Mengapa lawo? Lawo adalah Bahasa Lio (Flores) yang artinya kain tenun. Lawo biasa dikenakan kaum perempuan, gadis atau ibu-ibu. Pasangannya lawo lambu (lambu = semacam baju bodo).

Diksi "lawo" mengemuka ketika Niko Frans jatuh cinta. Saya dan Viktus Murin mengenal Niko Frans sebagai tipe pria serius, tidak lincah pacaran. Hari-hari sukanya omong soal politik. Bahas masalah bangsa dan negara.

Dia sangat senang membully saya dan Viktus kalau kami berdua mulai omong mengenai perempuan di kampus atau di organisasi  yang kami incar menjadi kekasih hati. 

"Kamu dua ini tiada hari tanpa omong perempuan. Omong tinggi sampai mulut berbusa-busa tidak ada hasilnya," begitu antara lain komentarnya. Pedis!

Nah, saat dia jatuh hati pada seorang gadis dari Lio, anggota GMNI Cabang Kupang juga kala itu,   giliran saya balas menyentil, "Aih ternyata lagi pendekatan dengan lawo. Baiklah calon eja (ipar), saya dukung seratus persen." 

Dia mengulum senyum sambil sedikit berbisik mengeluarkan kata tiga huruf buat saya. Niko Frans yang lazim bersuara lantang, sontak memerah wajahnya. Malu-malu dia. 

Sejak itulah diksi lawo menjadi sapaan kesayangan kami. Reu Viktus pun kadang menyapa abangnya Niko Frans dengan lawo. Singkat cerita Niko Frans akhirnya menikah dengan gadis Lio yang dikasihinya, saudariku Maria M Tensi.

Hemat saya, duet Dua Frans seolah ditakdirkan sebagai perintis. Tidak hanya di tubuh GMNI sebagai organisasi yang membentuk kader pemimpin bangsa.

Duet ini pula yang kira-kira satu dekade kemudian bersama tokoh NTT lainnya ikut merintis dan membesarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pimpinan Megawati Soekarnoputri di Nusa Tenggara Timur. 

Frans Lebu Raya adalah Ketua DPD PDIP Nusa Tenggara Timur setelah Anton Haba. Frans terpilih dalam konferensi daerah di Kota Ende.

Saya hadir sebagai wartawan Pos Kupang yang meliput kegiatan ini. Setelah terpilih dalam forum yang cukup menegangkan, Frans Lebu Raya baru dilantik sekitar pukul 02.30 dinihari Wita di Gedung Baranuri Ende. Hanya segelintir orang hadir saat itu termasuk Niko Frans.

 Sejarah lalu mencatat Frans Lebu Raya terpilih menjadi wakil gubernur NTT (2003-2008) dan Gubernur NTT periode 2008-2018. Niko Frans  menjabat anggota DPRD Kota Kupang dan pengurus inti partai banteng tersebut. Dia pernah dua kali dicalonkan sebagai wakil wali kota Kupang. Garis tangan belum membawanya ke kursi kepala daerah.

Duet Duo Frans merupakan tokoh nasionalis yang konsisten pada garis perjuangan pro rakyat. Berintegritas tinggi. Aktivis sejati sejak mahasiswa yang teguh berjuang bagi marhaen.   

Ketika bangun pagi, Senin 3 Juni 2024, datang kabar yang tak ingin saya dengar. Niko Frans, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Kupang berpulang pada 3 Juni 2024 kira-kira pukul 01.30 WIB di Rumah Sakit Islam, Jakarta.

Oh Tuhan. Mengapa begitu lekas? Terakhir dia colek saya lewat komentar di Facebook. Agak lama memang kami tak bersua muka karena saya tugas di luar NTT. 

Nusa Tenggara Timur kehilangan seorang tokoh lagi. Perasaan saya dan tuan puan yang mengenal  Duo Frans hari ini kiranya mirip tiga tahun silam ketika abang Frans Lebu Raya berpulang pada 19 Desember 2021 di Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. I.G.N.G Ngoerah, Denpasar Bali.

Selamat jalan, Lawo. Bahagia kekal di sisiNya. 

Tuhan meneguhkan Weta Tensi, anak Aldo dan seluruh rumpun keluarga yang ditinggalkan (*)

Sumber: Pos Kupang

Roke Goma


"Mulai polusi bunyi jelang komuni pertama. Malam ini roke goma." Demikian status kolegaku di akun Facebooknya pada Sabtu malam 1 Juni 2024.

Dia anak Ende Lio yang sedang pulang kampung. Saya menduga dia memenuhi undangan dari keluarga yang anaknya menerima komuni suci pertama pada hari Minggu 2 Juni 2024.

Dalam kalender liturgi Gereja Katolik Roma, 2 Juni 2024 merupakan hari raya Tubuh dan Darah Kristus.

Lazim dalam tradisi Katolik pada hari raya tersebut anak-anak usia SD menerima komuni pertama. Perdana mereka menerima tubuh dan darah Kristus atau sambut baru. Hal tersebut hampir pasti terjadi di semua keuskupan di dunia termasuk di Nusa Tenggara Timur.

Momen komuni pertama di NTT identik dengan pesta syukur. Pesta sambut baru.  Kesempatan keluarga dan handai taulan berkumpul dan bercukacita. Maka musik dan lagu menjadi semacam ornamen wajib di setiap rumah yang anaknya sambut baru.

Poin menariknya ada di sini. Orang NTT doyan membunyikan musik keras yang membuat orang lain "roke goma" sebagaimana ditulis teman beta di atas.

Roke goma adalah bahasa daerah Lio di Kabupaten Ende, Pulau Flores yang berarti sulit tidur atau tidak nyaman tidur.

Bagaimana mungkin tuan dan puan bisa tidur nyaman kalau tempatmu menginap dekat dengan rumah yang anaknya sambut baru.

Menjelang sambut baru mereka akan putar musik sampai larut malam. Suasana lebih heboh lagi lantaran hampir setiap rumah anak sambut baru seolah berlomba membunyikan musik keras.

Semakin kencang makin menyala abangku. Mereka akan putar lagu-lagu yang sedang tren lalu berjoget. Sebut misalnya lagu "ikan Nae di Pantai".

Pada hari H sambut baru, musik akan berbunyi sepanjang hari sejak sang yubilaris pulang dari gereja, dan terus berlanjut sampai malam bahkan semalaman. Umumnya tidak ada batasan waktu kapan musik harus berhenti.

Musik baru berhenti tergantung tuan rumah yang punya pesta. Memang ada beberapa daerah di NTT yang batasi Waktu sampai pukul 12 malam saja.

Namun masih banyak daerah yang bebas merdeka. Mereka pesta hingga fajar menyingsing. Orang Manado bilang sampai cungkil matahari.

Demikianlah satu di antara keunikan tradisi masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Jadi bagaimana kondisi di sekitar tempat tinggal tuan dan puan. Apakah Anda roke goma juga? (*)

Sumber: Pos Kupang

Jenderal Dirigen

Misa pentahbisan Mgr. Hironimus Pakaenoni, Pr menjadi Uskup Agung Kupang 9 Mei 2024 menjadi buah bibir dan viral, setidaknya di kalangan umat Katolik Indonesia dan Timor Leste.

Tapi yang benar-benar viral di jagat maya justru aksi seorang jenderal Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dialah Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Joao Xavier Barreto Nunes. Jenderal Nunes adalah Komandan Resor Militer atau Danrem 161 Wira Sakti Kupang. Brigjen Nunes menjabat Danrem 161/Wira Sakti sejak 9 Februari 2024.

Aksi jenderal kelahiran Timor Leste itu sangat berkesan. Secara spontan Brigjen Nunes menjadi dirigen paduan suara misa pentahbisan Uskup Hironimus di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang.

Berdiri di podium dirigen, Jenderal Nunes benar-benar memperlihatkan kepiawaiannya sebagai pemimpin orkes simfoni atau paduan suara.

Tongkat komandonya dia pakai untuk memandu anggota koor melantunkan lagu, antara lain berjudul Semua Bunga Ikut Beryanyi.

Anggota paduan suara tampak ceria dan semangat mengikuti arahan sang komandan tentara. Kapan harus menyuarakan nada tinggi, nada rendah dan seterusnya.

Penampilan Brigjen Joao Xavier Barreto Nunes sungguh mendapat apresiasi positif dari banyak orang. Dalam sekejap viral di media sosial baik TikTok, Instagram, Facebook serta platform medsos lainnya.

"Baru kali ini saya lihat seorang jenderal TNI jadi dirigen koor di gereja. Mantap Pak Danrem," tulis seorang warganet.

"Terharu melihat momen ini," komentar yang lainnya. Hampir semua memberikan komentar yang positif dan menyenangkan.

Tentu banyak kisah yang terekam dari momen pentahbisan Uskup Hironimus Pakaenoni sejak ibadah Vesper Agung di Gereja St. Yoseph Naikoten Kupang 8 Mei, misa pentahbisan 9 Mei 2024 dan misa pontifikal di Gereja Katedral Kupang, 10 Mei 2024.

Menurut pengamatan beta, memang luar biasa antusiasme umat Katolik mengikuti jalannya misa pentahbisan Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai Uskup Agung Kupang di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang pada Kamis pagi 9 Mei 2024.

Umat mulai berdatangan ke gereja itu dua jam sebelum misa dimulai pukul 09.00 Wita. Satu jam menjelang misa, hampir semua kursi di dalam dan luar gereja sudah terisi. Panitia bahkan menambah kursi cadangan.

Padahal yang boleh ikut misa secara langsung di sana hanya mereka yang mendapat surat undangan panitia. Tidak terbuka bagi semua umat.

Saya beruntung mendapatkan undangan sehingga bisa hadir di dalam gereja yang baru dibangun kembali tersebut. Saat saya dan tetanggaku Bapak Eligius Moni Gore tiba di Gereja Katedral pukul 07.35 Wita, kami mendapatkan bangku di posisi belakang.

Gereja Katedral Kristus Raja Kupang penuh sesak pada perayaan misa pentahbisan Uskup Hironimus yang bertepatan dengan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga.

Misa selama tiga setengah jam berlangsung khusyuk dan meriah. Umat mengikuti sejak awal hingga akhir.

Antuasiame umat tidak hanya tampak secara offline. Secara online jutaan pasang mata mengikuti siaran langsung via kanal YouTube Komsos Keuskupan Agung Kupang.

Komentar dan kesan mereka umumnya senada. Riang gembira dan bahagia menyambut Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai pemimpin baru Keuskupan Agung Kupang (KAK) menggantikan Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang.

Pentahbisan Uskup Hironimus Pakaenoni pun memiliki catatan spesial. Perayaan misa dihadiri Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, para uskup dari seluruh Indonesia dan dua uskup dari negara tetangga Timor Leste.

Kehadiran uskup dari seluruh penjuru tanah air merupakan bukti dukungan yang luar biasa untuk masa kegembalaan Uskup Hironimus. Demikian pula kehadiran para pejabat sipil dan militer mulai dari tingkat pusat hingga daerah dalam perayaan meriah tersebut.

Selamat buat umat Keuskupan Agung Kupang!

Terhitung sejak hari Kamis 9 Mei 2024, Mgr. Hironimus Pakaenoni, Pr mulai menggembalakan kurang lebih 300 ribu umat Katolik Keuskupan Metropolitan Kupang yang tersebar di enam kabupaten dan kota yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Sabu Raijua dan Alor.

Pada tempat pertama, patulah kita semua mengucapkan proficiat kepada Yang Mulia Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Selamat melayani umat Allah yang dipercayakan kepada Yang Mulia di enam kabupaten. Memang dibandingkan keuskupan lain, wilayah pelayanan Uskup Hironimus tergolong paling luas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hampir pasti di sana terbentang tantangan dan dinamika khas daerah kepulauan yang tidak ringan. Dalam spirit moto "Gembalakanlah domba-dombaku", kita yakin Uskup Hironimus akan melayani umatnya dengan sepenuh hati dan jiwa.

Tak lupa kita mengucapkan terima kasih berlimpah kepada Mgr. Petrus Turang yang menggembalakan umat KAK selama 27 tahun. Begitu banyak karya mulia yang beliau wariskan untuk umat yang sangat dikasihinya. Sulit nian menyebut karya terbaik beliau satu per satu di ruang terbatas ini.

Semoga Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang sehat dan bahagia selalu menjalani hari-hari di masa pensiunnya. Amin. (*)

Sumber: Pos Kupang

Ini Baru Budi


Paul Budi Kleden, SVD (kiri)

Oleh: Robert Bala

Penulis buku Homili yang Memikat, Prolog oleh P. Paul Budi Kleden, SVD (Penerbit Ledalero, Maret 2024)

Pengumuman P. Paul Budi Kleden SVD sebagai Uskup Keuskupan Agung Ende mengejutkan. Mengapa?

Karena sebagai pimpinan tertinggi SVD, Budi semestinya meneruskan ‘tradisi’ Provinsi Gerejawi Nusa Tenggara (mencakup keuskupan Larantuka, Ende, Weetebula, Ruteng, Denpasar, Kupang, dan Atambua) untuk hanya memilih imam projo.

Itulah tradisi sejak Uskup Longginus da Cunha (1996), Uskup Turang (1997), Uskup Benyamin Bria (2000), Uskup Frans Kopong Kung (2002), Uskup Visen Sensi (2007), Uskup Domi Saku (2007), Uskup Silvester San (2008), Uskup Sipri (2019) dan yang terakhir Uskup Pakaenoni (2024) semuanya imam projo.

Logikanya, Ende sebagai Keuskupan Agung harusnya meneruskan ‘tradisi’ memilih salah seorang imam projo, apalagi Uskup Longginus dan Sensi sebelumnya juga imam projo.

Umat Gereja Nusa Tenggara rasanya sudah terima kenyataan. Hal ini bukan karena gereja lokal lupa akan SVD sebagai wilayah ‘SVD’. Pada masanya, semua uskup di wilayah ini adalah SVD (bukan yang lain).

Tetapi SVD Nusa Tenggara kemudian menafsir dan menerapkan secara konsekuen konstitusi SVD no 102 yang berbunyi: ... Kita bekerja pertama-tama dan terutama di tempat-tempat Injil belum sama sekali atau belum cukup diwartakan, dan di tempat-tempat Gereja lokal belum sanggup hidup dengan kekuatan sendiri. Tugas-tugas yang lain harus diarahkan kepada tujuan-tujuan utama ini.”

Di sinilah awal ‘minggirnya’ SVD karena merasa gereja lokal sudah bisa hidup dengan kekuatan sendiri oleh telah hadirnya imam projo berkualitas. Jabatan uskup menjadi salah satu konsekuensi.

Lalu mengapa praktik yang sudah diterapkan 37 tahun (sejak penahbisan Mgr Hilarius Moa Nurak, SVD tahun 1987, kini harus kembali lagi? Apakah itu berarti SVD ‘mengambil alih’ jabatan uskup yang selama ini ‘dipinjamkan sementara ’ ke imam projo?

Pendapat seperti ini sah-sah saja. Terpilihnya P. Paul Budi Kleden SVD yang juga superior Jenderal tentu bukan sekadar ‘mengambil jatah yang selama ini sudah ditinggalkan SVD? Apakah hal ini bisa memunculkan ‘kecemburan’ terutama antar imam projo yang merasa jatahnya diambil?

Bisa dipastikan para imam Keuskupan Agung Ende, saat mendengar nama Pater Budi disebutkan, mereka malah bersujud mencium tanah Ende-Lio, Ngada, dan Nagekeo.

Sementara umat terutama dari generasi di atas 50 tahun kalau ada yang bingung pun, mereka pun tidak kehilangan akal karena dengam mudah mengingat figur: Wati, Iwan, dan terutama Budi.

Di sana nama Wati sang kakak dan Iwan sang adik rasanya hanya pelengkap untuk menggambarkan bahwa figur sentral adal di frase ini: Ini Budi, Ini Ibu, Bapak, Kakak, Adik Budi.

Tetapi ada yang jauh lebih penting. Budi adalah sebuah nama yang yang terpilih dari total 5.754 anggota SVD saat ini (Catalogus 2024) di seluruh dunia.

Kalau masih belum lengkap, jumlah itu tersebar di 80 negara dari lima benua. Dengan demikian kalau kini Budi jadi pimpinan tertinggi, maka ia sungguh merupakan ‘personaje’ (karakter) kata orang Spanyol.

Sebuah karakter yang tidak saja tiba-tiba ‘turun dari atas’ tapi bertumbuh dan berkembang dari bawah. Kalau pun ‘ditracing’ (dilacak), kemungkinan menemukan celah hidup pada perjalanan hidup pria kelahiran Waibalun 16 November 1965 itu sangat kecil.

Karena itu keterpilihan Budi menimbulkan kecil kemungkinan untuk ditolak. Malah yang akan terjadi adalah munculnya rasa cemburu dan iri hati, terutama Keuskupan Larantuka yang tentu sedang menyiapkan kadernya menggantikan Uskup Frans Kopong Kung.

Budi’s Effect

Daripada berkutat pada iri hati, pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang menjadi ‘budi’s effect’ atau efek yang bisa hadir dengan terpilihnya doktor Teologi Dogmatik dari Universitas Albert Ludwig Freiburg Jerman ini sebagai Uskup Agung?

Pertama, keterpilihan Superior Jenderal SVD ke-12 menjadi Uskup Agung merupakan sebuah hal baru dari Superior Jenderal SVD selama ini. Dari 12 Superior Jenderal SVD sejak Santo Arnoldus Janssen, baru P. Paul Budi Kleden, SVD yang terpilih langsung menjadi Uskup.

Memang ada anggota Dewan Jenderal seperti Leo Cornelio SVD yang terpilih jadi uskup tahun 1999 di Khandwa dan kemudian Uskup Agung Bhopal, India (2007).

Tetapi Budi Kleden menjadi superior Jenderal pertama terpilih sebagai uskup Agung, Ini sesuatu yang ‘fenomenal’. Di sini terbukti lagi bahwa Keuskupan Agung Ende sangat berbangga memiliki Budi sebagai uskupnya dan bisa berkata: Ini Baru Budi.

Kedua, keterpilihan SVD kembali menduduki jabatan Uskup merupakan tafsiran yang tepat terhadap kemandirian gereja lokal. Semua imam baik projo maupun dari kongregasi yang ada di sebuah keuskupan merupakan elemen konstitutif dari gereja lokal.

Karena itu umat yang ada di wilayah itu berhak untuk mendapatkan kandidat terbaik sebagai uskup, entah imam projo ataupun biarawan dari aneka kongregasi. Figur terbaik, siapapun dia, diharapkan dapat memaknai tantangan gereja yang semakin konmpleks.

Dengan ini juga tidak berarti praktik selama 40 tahun terakhir yang hanya memberi ruang bagi imam projo sebagai praktik tak lazim. Ia bisa disebut sebuah keberanian yang patut diapresiasi.

Namun itu tidak berarti setelah periode tertentu perlu dikoreksi dan secara fleksible membuka tafsiran lain hal mana terjadi dengan penunjukkan Pater Paul Budi Kleden sebagai Uskup Agung kini dan diharapkan akan menjadi peluang baru dalam mencari figur untuk menjadi Uskup Larantuka dan mungkin Labuan Bajo.

Ketiga, keterpilihan P. Budi Kleden, SVD memunculkan efek yang jauh lebih menarik untuk diterawang.

Terlalu berlebihan untuk menilai bahwa penunjukkan Budi sebagai Uskup Agung Ende memiliki target untuk kepemimpinan yang jauh lebih dari itu baik di level KWI, jadi Kardinal, dan mengapa tidak untuk menjadi pemimpin gereja universal kelak?

Ini bisa saja disebut harapan terlalu jauh dan berlebihan. Tetapi kefasihan Budi berbahasa Jerman, Inggris, Spanyol, dan Italia (sepeti bahasa sendiri) bukankah ini menunjukkan bahwa ke depannya Budi akan lebih mudah berkomunikasi di Gereja universal? Ah, ini hanya harapan.

Tapi kalau ingat kata-kata dari Aristoteles bahwa harapan merupakan mimpi yang terjaga (Hope is a waking dream), maka mari kita jaga mimpi ini. Kalau pun terjadi, maka itu hanya tambahan.

Yang pasti, kita menyertai P. Budi untuk memulai langkah ini dari Ende, tempat Sukarno juga memulainya di sini.

Kita pun berharap, jangan-jangan efek Sukarno yang bisa juga jadi efek Budi? Kita doakan saja agar langkah awal ini kemudian mendatangkan decak kagum: Ini (Baru) Budi. (*)

Sumber:  Pos Kupang

Budi Kleden, Ende, dan Kebun Vanila

 

Paul Budi Kleden, SVD


Oleh: Pater Charles Beraf, SVD

Pastor Paroki Detukeli, Ende

KABAR tentang Uskup baru Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD sampai ke telingaku saat saya sedang membetulkan tajar vanilla di kebun Paroki Roh Kudus Detukeli. 

Mengejutkan? Sedikit saja reaksi itu. Budi, dari kaca mata saya sejak dulu, layak menjadi uskup. 

Seorang yang rendah hati, cerdas, juga seorang yang bisa diajak untuk masuk ‘ke kebun’. 

Alasan lain, Budi memang dibesarkan dari rahim Keuskupan Agung Ende (KAE): mengenyam pendidikan di STF Ledalero dan kemudian menjadi dosen pada almamater itu (ketika STF Ledalero masih ada dalam wilayah KAE), pernah menjadi anggota dewan Provinsi SVD Ende sebelum  terpilih sebagai Superior Jenderal SVD.

Minggu lalu ketika beliau mengirimkan kepada saya dan pater Yohan Wadu (Zarathustra) dokumen tentang sepak terjang SVD dalam perfilman di Indonesia, saya memang dibayang-bayangi pikiran entahkah Budi yang nota bene imam kongregasi bisa menjadi uskup di Ende dihadapkan pada semacam pandangan di antara segelintir konfrater SVD untuk memprioritaskan “uskup dari imam diosesan”, ya gereja lokal KAE sudah sangat mampu untuk melahirkan seorang uskup. 

Tapi toh mendengar kabar sore ini, saya toh akhirnya sampai pada pandangan bahwa memang Budi sudah dibesarkan dari rahim gereja lokal KAE dan karena itu, ‘layak’.

Budi sekarang bukan hanya milik SVD, tapi lebih dari itu, dia adalah milik KAE. Pelampauan ini, hemat saya, amat missioner. Budi, mungkin di kalangan sebagian besar konfrater SVD, dipandang layak lagi untuk terpilih sebagai Superior Jenderal dalam Kapitel Jenderal SVD mendatang. Namun mau bagaimana? 

Roh menuntunnya ke Ende, kembali ke rahim, kembali di tengah umat KAE yang sebagian besar adalah para petani dan peternak yang sedang dihadapkan dengan aneka persoalan: kekacauan iklim, gagal panen/tanam, ASF dan lain lain.

Apakah Budi bisa diajak ‘ke kebun” para petani? Apakah Budi bisa membuang langkah ke kandang para peternak? Apakah Budi bisa berbau ala para domba di keuskupan ini?

Saya mengenal Budi cukup dekat. Dia ketika pertama kali menjadi dosen di STF Ledalero, mengasuh mata kuliah Teodice, perihal penderitaan dan angkatan kami mahasiswa pertamanya. 

Dia mengajar tanpa buku, tetapi amat sistematis – hal yang cukup kuat memberi gambaran bahwa Budi memang menjiwai ‘dunia penderitaan’ dengan kaca mata teologis-filosofis dan sastrawi yang tajam. 

Ketika saya mendirikan KMK (Kelompok Menulis di Koran Ledalero), saya meminta beliau untuk menjadi moderator bagi para penulis pemula (Ve Nahak, Bill Halan, Willy Gaut, dll)  yang masih tambal sulam dalam hal menulis dan  Budi mengiyakan. 

Hasilnya, “tahi kucing bisa terasa seperti coklat”. Ya, yang sederhana di mata kebanyakan orang, toh bagi Budi, bisa jadi sangat luar biasa.

Budi memang dikenal banyak orang lewat artikel-artikelnya, selain beberapa karya berupa buku. 

Di harian lokal Pos Kupang dulu, Budi, seingat saya, amat setia menulis, Banyak artikelnya (artikelnya pertama di harian itu “perihal hukuman mati’) –menggambarkan cukup jelas betapa Budi amat peduli dengan persoalan-persoalan sosial. Tapi tidak cuma artikel. 

Tidak cuma buku. Tidak cuma di ruang kelas. Budi juga seorang pegiat sosial. Seingat saya, ketika RUU SISDIKNAS menjadi hal kontroversial dan diskriminatif (saat itu saya menjabat sebagai Wakil Ketua Senat mahasiswa STF), Budi mendorong kami para mahasiswa untuk bergerak, menggelar demonstrasi memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum minoritas.

Budi dikenal. Ya. Tetapi beliau juga mudah sekali mengenal orang. Hemat saya, dia, di kalangan para formator dan dosen, paling banyak mengenal frater – mahasiswa. Sekali kenal, tetap terkenang (sulit lupa). 

Itu sebabnya dia selalu dikenang oleh para mahasiswa sebagai dosen yang rendah hati, yang kapan saja dan di mana saja bisa berbaur dengan siapa saja (tak peduli dari kalangan mana).

Dengan sejumput kualitas mengagumkan di atas,  apakah Budi nanti bisa diajak ‘ke kebun’ para petani atau ‘kandang’ para peternak di KAE?

Sejumput harapan sedang ada di benak para awak dan umat KAE agar Budi memang benar benar mengemban tugas kegembalaan yang berkonteks. 

Budi dibesarkan dari rahim KAE, dan tentu saja kita berdoa dan berharap agar gereja Keuskupan Agung Ende dengan visi “menjadi gereja yang injili, solider, missioner dan mandiri” sungguh nyata dalam derap kegembalaan sang Uskup Baru.

Selamat datang Uskup Baru, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD. Kami semua menantimu dengan doa dan harapan yang penuh.

Salam dari Kebun Vanila Gereja Kajuoto, Detukeli!

Sumber: arahkita.com


Paul Budi Kleden, Teologi Terlibat, dan Tantangan Imam Masa Kini

 

Paul Budi Kleden, SVD

Oleh Valens Daki-Soo

Penulis adalah entrepreneur dan politisi, mantan Frater SVD di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Flores.

Paus Fransiskus akhirnya menunjuk Superior General SVD (Societas Verbi Divini), Pater Dr. Paulus Budi Kleden, SVD menjadi Uskup Keuskupan Agung Ende (KAE). Pengangkatan Pater Budi secara resmi dibacakan oleh Administrator KAE, Rm. Yosef Daslan Moang Kabu di Gereja Katedral Ende pada 25 Mei 2024. 

Dengan demikian, berakhirlah penantian umat KAE akan sosok pemimpin spiritual yang baru sejak mangkatnya Mgr. Vincentius Sensi Potokota enam bulan lalu. Mgr. Sensi meninggal dunia di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta pada 19 November 2023.

Rasa syukur, apresiasi, dan ucapan selamat terhadap Pater Budi datang dari berbagai kalangan dan membanjiri media sosial. 

 Pengalaman Pribadi

 Kepada beberapa teman dekat yang juga mantan frater SVD, saya pernah bilang begini beberapa waktu setelah Mgr. Sensi wafat, "Jangan-jangan Pater Budi Kleden menjadi pengganti (sebagai Uskup Agung Ende)." Ternyata benar dan itu sebabnya saya tidak heran ketika diumumkan, karena Pater Dr. Paul Budi Kleden, SVD seorang figur imam yang episkopabilis, layak menjadi uskup.

 Sebelum beliau akhirnya diumumkan Vatikan sebagai Uskup Agung Ende yang baru, saya terakhir bertemu Pater Budi di kantor pribadi saya di PT Veritas Dharma Satya (PT VDS), Tebet, Jakarta. Beliau datang untuk 'sharing' dengan sejumlah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK), yang sekarang menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores.

 Pertemuan itu terjadi pada 2018, tak lama setelah Pater Budi (begitu beliau biasa disapa) dipilih menjadi Superior General SVD atau pimpinan tertinggi SVD sedunia yang berpusat di Roma. Mengapa di 'markas' PT VDS? Itu kebetulan menjadi tempat diskusi rutin kami, sejumlah alumni Ledalero Jabodetabek yang dimotori Redem Kono, mantan murid Pater Budi.

 Meski merupakan orang Indonesia pertama (dan orang Asia kedua) yang menjadi Superior General SVD, Pater Budi yang dikenal sangat cerdas sekaligus amat rendah hati itu mengomentari posisinya (pemimpin tertinggi SVD) sebagai "biasa saja, tak ada hal yang perlu dibanggakan". Dia berujar, "Saya tetap bekerja seperti biasanya, hanya beda tempat dan jumlah orang yang harus diurus. Tak ada hal yang luar biasa, karena SVD sudah punya konstitusi, sistem kerja dan spirit misioner yang perlu selalu diaktualisasi."

 Secara pribadi, sebenarnya saya mengenal Pater Budi jauh sebelum ini. Ketika mendengar namanya disebut sebagai uskup baru KAE, ingatan saya terlempar kembali ke Ledalero, bahasa Sikka artinya "bukit (tempat) sandar matahari". Di Ledalero berdiri teguh Seminari Tinggi St. Paulus milik SVD sejak 20 Mei 1937 dan STFK (kini IFTK).

 Pater Budi adalah senior kami, persisnya satu tahun di atas angkatan saya dan teman-teman. Beliau dan para konfrater-nya masuk Novisiat SVD Ledalero tahun 1985, saya dan kawan-kawan novis (frater baru) SVD menginjakkan kaki di seminari tinggi itu tahun 1986. Beliau senior tidak hanya dalam angkatan, tapi juga dalam usia (Pater Budi lahir tahun 1965, saya 1968). 

Namun, karakternya yang rendah hati, cerdas, ramah, pendengar yang baik, dengan daya ingat yang luar biasa membuat Frater Budi dekat dengan kami semua. Kelak, ketika menjadi dosen teologi di alma maternya ini, dia dikenal bisa menghafal/mengingat nama semua mahasiswanya yang berjumlah 800 orang, sebagaimana testimoni rekan dosennya yang juga kini Rektor IFTK Ledalero, Pater Dr. Otto Gusti Madung, SVD.

 Masih teringat, suatu ketika setelah makan malam di Novisiat Ledalero tahun 1988, saya menemui Frater Budi dan "sharing" tentang keraguan saya terkait panggilan menjadi imam. Hati saya tergerak untuk sharing kepada sang senior karena sikapnya yang menerima dan mendengarkan tanpa menghakimi. Sungguh pribadi yang berwibawa, humanis, rendah hati dan pendengar yang setia.

 Oleh karena kepribadiannya yang integral dan jiwa kepemimpinannya yang kuat dengan kecerdasan yang sangat memadai, Frater Budi dikirim ke Wien, Austria, untuk melanjutkan studi teologinya. Biasanya yang dikirim untuk studi lanjut ke luar negeri adalah frater yang sudah ditahbiskan menjadi imam. 

Namun, kali itu -- dan sejak itu -- Rektor Seminari Tinggi Ledalero yang juga Ketua STFK Ledalero Pater Dr. Hubert Muda, SVD (putra Mangulewa-Ngada yang mengambil doktornya di Universitas Kepausan Gregoriana Roma) mengirim Frater Budi (asal Waibalun, Larantuka) dan Frater Ferry Radju Tuga (asal Bajawa, Ferry kemudian mengundurkan diri dari SVD saat di Austria), lalu disusul frater-frater muda terpilih ke luar negeri untuk menjalani Overseas Training Program (OTP).

 Setelah menyelesaikan studinya di Sankt Gabriel Moedling bei Wien, Austria, Pater Budi sempat menjadi pastor paroki di Swiss. Kemudian dia belajar dan mengambil doktor bidang Teologi Sistematik di Universitas Freiburg, Jerman. Pater Budi sangat fasih dalam beberapa bahasa asing. Pater Fritz Meko Svd dalam tulisannya menyebut Pater Budi menguasai tujuh bahasa asing.

 Sebenarnya, saya agak menyesalkan Pater Budi menjadi uskup. Saya ingin beliau tetap menjadi dosen dan pembina di alma mater IFTK Ledalero. Sebagai dosen Pater Budi punya kapasitas akademis-intelektual yang mumpuni. Sejumlah buku telah ditulisnya dan dia menjadi teolog andal di Ledalero yang dikenal luas, termasuk dalam advokasi terhadap kaum marjinal atau orang kecil yang menjadi korban ketidakadilan.

Sebagai formator/pembina Pater Budi adalah pengkader yang ikut melahirkan para imam misionaris SVD maupun para kader "awam" (laicus) yang berkiprah di mana-mana.

 Namun, mungkin Pater Budi lebih dibutuhkan Keuskupan Agung Ende dengan segala kompleksitas masalah dan serbaneka tantangannya.

 Teologi Terlibat

 Menempuh pendidikan calon imam bertahun-tahun di Eropa tidak lantas membuat Pater Budi melupakan Indonesia tanah tumpah darahnya. Ketika kebanyakan orang berteologi dengan kecenderungan berkiblat pada pemikir Barat, Pater Budi membangun sebuah kesadaran mengenai usaha berteologi di Indonesia yang sadar konteks, yang antara lain tertuang dalam karyanya berjudul "Teologi Terlibat: Politik dan Budaya dalam Terang Teologi".

 Lewat buku ini, Pater Budi, yang mendalami dan menerjemahkan pemikiran Johann Baptist Metz, teolog dan imam Jesuit asal Jerman, mengulas masalah-masalah sosial-politik dan sosial-kultural untuk menegaskan bahwa Allah sungguh terlibat dalam sejarah umat manusia.

 Pater Budi dengan rendah hati mengakui, teologi terlibat bukan salah satu teologi baru, tapi lebih sebagai sebuah usaha sadar untuk menegaskan inti dari kegiatan berteologi.

 "Jika kegiatan teologis adalah refleksi atas iman yang merupakan tanggapan dari wahyu Allah, maka gerakan menyentuh tema-tema politik dan budaya merupakan gerakan sah dan wajar mengingat wahyu Allah menunjukkan dengan jelas keterlibatan-Nya dalam sejarah umat manusia," tulis Antonius Ignasius Nggino Tukan mengomentari buku Teologi Terlibat: Politik dan Budaya dalam Terang Teologi.

 Dalam jurnal berjudul "Berfilsafat dan Berteologi di Indonesia", Pater Budi menulis iman yang dihayati di Indonesia mesti menjadi iman yang mengakar di dalam realitas budaya dan masyarakat Indonesia. 

Iman kita perlu menjadi "iman Nusantara atau Indonesia". Iman sungguh menjadi iman yang dipahami, diungkapkan dan berinkulturasi di Indonesia apabila didorong dan didampingi refleksi teologis. 

Dengan itu, iman sungguh berakar dan menjadi iman Indonesia yang menjadi sumber inspirasi dan motivator dalam perjuangan menegakkan hak-hak hidup, keadilan dan perdamaian serta dalam dialog dibutuhkan refleksi teologis yang serius.

 "Pertanyaan mengenai tema berfilsafat dan berteologi di Indonesia memungkinkan kita untuk melihat entahkah filsafat dan teologi memiliki relevansi di sini. Sesuatu dikatakan memiliki relevansi apabila ia menjawabi kebutuhan atau pertanyaan yang hidup di dalam satu masyarakat pada waktu dan di tempat tertentu," ungkap Pater Budi.

 Hemat saya, sebenarnya setiap teologi itu kontekstual, dalam arti setiap teolog (atau setiap orang?) berteologi sesuai tantangan dan kebutuhan zaman, tuntutan sosial-ekonomi-budaya-politik di mana sang teolog berada.

 Setiap teologi tidak lahir dalam vakum atau direfleksikan dalam tabula rasa. Teologi apapun niscaya lahir dalam konteks. Itu sebabnya Teologi Terlibat saya kagumi sebagai tawaran buah pikir Pater Budi untuk merespon serbaneka wajah dan kompleksitas persoalan di Indonesia tercinta ini.

 Para imam bahkan setiap umat Katolik tidak bisa tidak terlibat dalam segala segi keindonesiaan kita, meski keterlibatan itu berbeda dalam wujud, sifat dan caranya.

 Dalam konteks keindonesiaan kita, hemat saya, Teologi Terlibat menganjurkan setiap kita tidak berdiam diri dalam proses pembangunan bangsa (nation building) yang bersendikan pembangunan karakter (character building), dua hal yang selalu dikumandangkan Bung Karno. 

Kita perlu aktif turut serta dalam upaya merekat-kuatkan tali kebangsaan dan kenegaraan kita, merawat keanekaan multidimensional (suku, ras, agama, budaya, ekonomi, dan sebagainya).

 Teologi Terlibat menyerukan kita untuk tidak berdiam diri dan hanya pasrah melihat ketidakadilan, penindasan, kekerasan, kemiskinan dan kebodohan. Bersama dengan komponen-komponen lain bangsa, kita semestinya bergerak di setiap palagan/medan tempur untuk membela kebenaran dan memerangi kebatilan (terma Islam:  amar ma'ruf nahi munkar). 

 Ringkasnya, Teologi Terlibat meminta kita menjadi agen cinta ilahi yang memancarkan sinar kasih Tuhan ke segenap lapisan masyarakat. Kabar baik dari Yesus Kristus hendaknya menyeruak di tengah berbagai komunitas, tidak saja dalam ajaran verbal-imperatif tapi terutama dalam tindakan riil di tengah masyarakat -- sekali lagi, khususnya di kalangan kaum yang menderita dan terpinggirkan.

 Tantangan Seorang Imam

 Meski cakupan tanggung jawab seorang uskup amat luas, namun dalam tulisan ini saya secara khusus menyoroti beban seorang uskup dalam membimbing para imamnya menghadapi tantangan dalam dunia dewasa ini. 

Skandal seksual yang dilakukan sejumlah imam di berbagai belahan dunia, terutama Eropa dan Amerika menjadi indikator bahwa selibat adalah tantangan serius bagi para imam.

 “Para imam adalah seorang yang selibat – dan mereka menginginkannya – hanya karena Yesus juga selibat. Persyaratan untuk selibat bukan hanya bersifat teologis, namun bersifat mistik: semoga hal ini dapat dipahami oleh mereka yang mampu,” tulis Kardinal Pietro Parolin akhir 2023 lalu.

 Gulshan Ekka dalam artikel berjudul "Priesthood in Modern Age" menulis, para pastor tidak hanya berjuang untuk tetap kudus dan bertumbuh di dalamnya, namun juga menghadapi banyak tantangan untuk mewujudkan pelayanan imamatnya baik secara internal maupun eksternal.

 Berikut ini empat tantangan yang dihadapi seorang pastor yakni tantangan rohani, tantangan sosial, tantangan seksual, dan tantangan psikologis.

 Tantangan Rohani

 Perkembangan teknologi, globalisasi dan konsumerisme menjadi tantangan buat para imam. Para imam cenderung terpengaruh oleh arus zaman. Seorang imam mungkin tergoda untuk menghabiskan banyak waktu di depan internet, televisi, dan menggunakan ponsel. 

Lalu, waktu yang tersisa untuk berdoa, bermeditasi atau olah batin lainnya sangat sedikit dan kalaupun ada, ia mungkin merasa bosan dan kering, karena hidupnya berorientasi pada jadwal seperti itu. 

Para pastor melibatkan diri dalam berbagai pelayanan seperti pembangunan sosial umat, pendidikan, menjalankan lembaga besar dan lain-lain, dan pada akhirnya mereka tidak mempunyai waktu untuk fokus pada kehidupan spiritualnya. 

Mereka sangat mementingkan tugas. Meskipun seorang imam mungkin sangat cerdas, terpelajar, efisien dan efektif, tanpa doa ia tidak akan mempunyai pancaran rohani.

 “Pastor yang tidak berdoa lambat laun kehilangan kredibilitasnya, karena umat mencari bimbingan dan dukungan dari mereka yang berdoa dan spiritual. Ketika doa ditinggalkan, seorang imam akan dikelilingi oleh godaan dari segala penjuru seperti lebah, ia akan mendambakan kekuasaan dan kedudukan. Dia akan mengumpulkan uang. Alkohol akan menjadi teman tetapnya dan akan terjadi krisis dalam kesuciannya. Ini adalah titik terendah dalam kehidupan imam. Aspek yang menyedihkan dari kehidupan imam saat ini adalah bahwa gaya hidup modern telah menghambat keindahan kehidupan doa. Hal ini membutuhkan kebangkitan dan kebangkitan. Inilah kebutuhan saat ini untuk mencapai keseimbangan antara kenyamanan dan kehidupan spiritual.”

 Tantangan Sosial

 Ada era di mana umat biasa datang berkonsultasi dengan pastor untuk segala urusan. Pastor adalah orang yang paling terpelajar di masyarakat. Seorang pastor dianggap sebagai mercusuar masyarakat. Kini masyarakat sudah lebih berpendidikan. 

Oleh karena itu peran pastor saat ini lebih menantang. Tantangan terhadap panggilan imam secara historis dianggap sebagai tantangan yang muncul dari konsep negatif tentang dunia. Tidak ada yang diharapkan baik atau suci dari dunia ini dan oleh karena itu tradisi budaya, adat istiadat, perilaku, nyanyian, tarian, pemikiran, tulisan dan semuanya terbukti sebagai tantangan yang harus diatasi oleh seorang pastor.

Tantangan Seksual

 Imam Katolik antara lain dikenal dan ditandai dengan kehidupan selibatnya. Karunia selibat adalah landasan bagi seorang imam. Kewajiban selibat sebagai persyaratan untuk menjadi imam merupakan sebuah tantangan. 

Pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah 'oknum' imam telah sangat mencoreng citra Gereja. Hal ini juga menyebabkan menurunnya kepercayaan umat terhadap imam. Perilaku seksual yang menyimpang seperti homoseksualitas, pedofilia, pencabulan menciptakan sikap negatif terhadap imamat baik di kalangan umat Kristen maupun non-Kristen. 

Pastor Tony Flannery, pensiunan berusia 76 tahun dari daerah Galway dan anggota pendiri ACP kepada Euronews pernah mengatakan, skandal pelecehan seksual yang terjadi di sekitar gereja adalah salah satu faktor utama yang mendorong orang menjauh dari agama.

Tantangan Psikologis 

 Karena para imam berurusan dengan pribadi manusia dalam pelayanannya, kedewasaan psikologis mereka sangatlah penting. Jika orang yang tertekan atau bermasalah menemui dan berkonsultasi dengan imam yang matang secara psikologis, kemungkinan besar dia akan menjalani kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya bila orang yang bermasalah itu "sharing" dengan pastor yang belum matang secara psikologis, masalahnya bisa menjadi lebih buruk.

 Kematangan psikis yang tangguh akan diiringi dengan kematangan rohani yang kokoh pula. Oleh karena itu kedewasaan psikis seorang imam sangat penting untuk menjadi pribadi yang dewasa secara rohani. Orang yang matang secara psikologis adalah orang yang relasional. Jika seorang imam pertama-tama ingin menjadi efektif dalam pelayanannya, ia harus menjadi orang yang relasional.

 Penutup

 Pater Budi bukan orang asing bagi umat KAE. Sebelum melanjutkan pendidikan calon imam di Austria, Pater Budi (sebagai frater kala itu) masih sempat menjalani masa novisiat dan satu tahun sebagai filosofen (mahasiswa filsafat) di STFK Ledalero. Setelah ditahbiskan menjadi imam di Austria dan mengabdi sebagai pastor paroki di Swiss, Pater Budi kembali berkarya sebagai dosen di STFK Ledalero.

 Sebelum diangkat menjadi Superior General SVD, Pater Budi pernah menjadi anggota dewan Provinsial SVD Ende. Tidak sedikit teman dan mantan anak muridnya yang kini menjadi imam di KAE. Memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dengan kepribadian yang rendah hati dan egaliter, Pater Budi diyakini mudah diterima dan bisa bekerja sama dengan semua pihak, terutama dengan sesama imam di KAE.

 Kendati demikian, tantangan akan selalu ada. Sebagai imam, Pater Budi dan para koleganya di KAE ditantang secara intelektual, fisik, emosional, dan spiritual di medan karya. Seorang imam harus selalu sadar akan panggilan pemuridannya, yang meliputi keberpihakan dan kepedulian terhadap fakir miskin dan yang membutuhkan serta pengabdian tanpa pamrih kepada kemanusiaan. 

Seorang imam memerlukan pertobatan dalam cara hidupnya untuk menghadapi tantangan dan untuk bersaksi tentang Kristus, yang hanya dicapai melalui integrasi tubuh, pikiran dan jiwa serta hubungan pribadi yang mendalam dengan Tuhan. 

Proficiat Mgr. Paulus Budi Kleden, selamat berkarya bersama umat KAE. Kami akan selalu mendukungmu lewat doa dan karya. *

Sumber: Akun Facebook Valens Daki Soo

Selamat Datang Mgr. Paul Budi Kleden, SVD

 


Paul Budi Kleden, SVD

Oleh Romo Nani Songkares

Terpilihnya Mgr. Paul Budi Kleden, SVD sebagai Uskup Agung Ende yang baru disambut sangat antusias. Banyak sekali whatsapp group di mana para imam bergabung, dan di sana mengalir rasa syukur penuh kegembiraan atas terpilihnya Bapak Uskup Agung kita.

Pagi ini di paroki-paroki, saya yakin ada doa syukur, karena hanya dalam setengah tahun masa sede vacante, doa-doa umat se-Keuskupan Agung Ende terkabulkan.  Dan bahwa yang terpilih adalah salah satu dari misionaris kita, mungkin ini sejalan dengan dan sekaligus menegaskan arah-dasar Gereja Keuskupan Agung Ende yang mandiri, solider, injili, dan misioner.

 Biasanya para misionaris, SVD khususnya di Keuskupan Agung Ende, mengarahkan perhatiannya ke luar wilayah keuskupan. Dengan terpilihnya Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, ada semacam gerak balik, mungkin untuk mengingatkan bahwa setiap medan pastoral adalah medan misioner.

Begitu mendengar nama Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, saya teringat sederetan nama para Uskup SVD yang melayani Gereja Keuskupan Agung Ende, dari awal berdirinya. 

Saat umat se-keuskupan berdoa bagi pemilihan Uskup yang baru, nama-nama para Uskup itu disebut satu persatu, dalam satu tarikan napas dengan para Uskup dari kalangan imam diosesan, lengkap dengan moto tahbisan episkopal yang memperkaya. 

Mgr. Petrus Noyen, SVD dengan moto “Mutiara dari Timur”; Mgr. Arnoldus Vestraelen, SVD dengan moto “Bagi Allah dan jiwa-jiwa; Mgr. Henricus Leven memilih moto “Salam, O, Salib, satu-satunya Harapan”; 

Disebutkan juga para uskup dari Jepang, yakni Mgr. Paulus Yamaguchi dan Mgr. Aloysius Ogihara, SJ, yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang memelihara umat di saat krisis. Lalu disebutkan Mgr. Antonius Thijssen, SVD yang mengusung moto “Di dalam SabdaMu”; Mgr. Gabriel Manek, SVD bermotokan “Bunda Maria, Pelindung segala Bangsa”;

 Mgr. Donatus Djagom, SVD mengambil moto “Mari Kita Wartakan Kristus yang Disalibkan”; Mgr. Abdon Longinus Da Cunha mempunyai moto “Mendengarkan dan Mewartakan”; dan moto Mgr. Vinsensius Sensi Potokota adalah “Beritakanlah Firman, Baik atau Tidak Baik Waktunya”.

Tampak sekali semangat misioner yang universal dan terbuka yang menembus sekat-sekat primordial: pribumi non pribumi, Eropa-Asia, penjajah-jajahan, imam diosesan-imam tarekat. Semangat misioner itu serasa mengalir dari waktu ke waktu dan menggembalakan umat Keuskupan Agung Ende. 

Saat ini, ketika Mgr. Paul Budi Kleden, misionaris SVD,  terpilih menjadi Uskup Agung Ende yang baru, rasanya semangat misioner itu sama sekali tidak hilang dalam lintasan sejarah, bahkan, atas bimbingan Roh, bernyala dengan cemerlang. 

Maka pantas kalau umat bergembira, dan kita semua  merayakan berita ini dengan rasa syukur yang besar, hari ini, persis pada Pesta Tritunggal Mahakudus. Selamat datang Bapak Uskup!

Kalau terpilihnya Mgr. Paul Budi Kleden, SVD dikaitkan dengan kaderisasi para imam, baik imam diosesan maupun imam tarekat, taruhan kaderisasi bukanlah pada terpilihnya seseorang menduduki jabatan tertentu dalam gereja, seakan-akan tidak ada ruang lagi bagi The Invisible Hand yang mengorkestrasi semua ini. Taruhan kaderisasi, bagi saya, letaknya pada kualitas pelayanan sehari-hari dengan semangat misioner yang tidak pudar dalam tugas apa pun yang dipercayakan gereja kepada kita.

Semua kita mengenal Bapak Uskup Agung kita yang baru ini, baik kompetensi intelektualnya, kerohanian, kepribadian, maupun keluasan hatinya. Bagi saya ini berkat yang luarbiasa bagi gereja lokal kita. 

Saya teringat tahun 2018 sesudah Mgr. Budi dipilih jadi Superior General SVD. Dia jalan-jalan ke Mataloko. Saat itu sudah sore. Saya sedang berada di English Room bersama sejumlah anak. Saya terkejut bukan main. Spontan saya peluk dia, dan saya katakan pada anak-anak, “He anak-anak, tahu tidak, ini Pater Superior General SVD yang baru, pemimpin tertinggi SVD sedunia!”

Anak-anak terkesima. Pater Budi, seperti biasa, sangat sederhana, sangat rendah hati. Tidak terasa ada tendensi megalomania pada dirinya, padahal semua orang tahu, dia raksasa. 

Sesudah dia tinggalkan English Room, saya terdiam. Orang besar ini begitu manusiawinya, begitu bersahajanya. Saya merasa seperti temannya, saudaranya, padahal saya tahu, dan anak-anak tahu, betapa saya sering konyol, dan tidak ada model.

Sekarang dia bapak Uskup saya, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD. Sebentar lagi saya akan cium tangannya, meletakkan tanganku di dalam genggaman tangannya. Rasanya ini rahmat.

Kadang saya bertanya, apakah spirit misioner itu masih mengalir deras dalam nadiku? 

Mgr. Noyen naik kuda, jalan kaki dari ujung timur Flores sampai ujung barat Labuan Bajo. Mereka pasti capai sekali. Namun itu bukan alasan bagi mereka untuk menimba kekuatan misioner lewat brevir, doa rosasio, baca Kitab Suci, dan terutama Ekaristi.

P. Paul Arndt, SVD, P. Herman Bader, SVD, Pater Glinka, SVD, untuk menyebut beberapa nama, pioner dalam menyelami hati terdalam dari umat. 

Mereka tidak besar karena pewartaan mereka tentang dirinya. Mereka besar karena melalui karya mereka kita lebih mengenal kedalaman diri kita sebagai orang Flores, local wisdom yang ternyata tak ternilai. 

Dan mereka sendiri, dengan kedalaman refleksi dan penguasaan pengetahuan menjadi artikulator dari kebernasan budaya kita. Mereka mengekspresikan teologi kebijaksanaan yang dihayati orang-orang kita.

Pater Hubert Hermens SVD, Pater Mommersteg, SVD, untuk menyebut beberapa, adalah pastor paroki, tapi bau tanah Flores yang mereka hirup membuat para petani, nenek moyang kita, orang-orang kita, berjalan dengan kepala tegak.

Semangat misioner itu tidak pernah hilang dalam lintasan sejarah. 

Namun, terkadang saya pikir, mungkin urat nadi yang mengalirkan darah misioner itu sudah mulai tersumbat oleh berbagai kolestrol, di era invasi teknologi dengan turbulensinya yang tinggi ini. 

Karena itu, mari kita bersatu hati mendoakan Bapak Uskup kita yang baru,  dan karya misioner di Keuskupan Agung Ende. (*)

Sumber: Seminari Todabelu

Makna dan Berkah Pastoral Terpilihnya Mgr Paul Budi Kleden SVD

 

Mgr. Paul Budi Kleden, SVD


Oleh Apolonius Anas, SPd

Direktur LBKP U-Genius Kefamenanu

Mgr Paul Budi Kleden,SVD baru saja dipilih Paus Fransiskus untuk memimpin Keuskupan Agung Ende. Kabar baik itu menyebar begitu cepat di jagat maya akhir pekan lalu. Secara serempak, ucapan syukur bertaburan di berbagai platform digital.

Berbagai pihak menganggap momentum ini sebagai berkat Allah yang luar biasa. Berkat itu bukan hanya diberikan kepada keluarga Besar Serikat Sabda Allah(SVD) di seluruh dunia dan umat Keuskupan Agung Ende tetapi juga umat Katolik seluruh NTT dan Indonesia.

Menurut saya, keterpilihan Mgr. Paul Budi Kleden menjadi Uskup Agung Ende saat ini sangat berbeda dan bernilai spiritualitas yang luar biasa. Karena pengikut St. Arnoldus Jansen ini adalah biarawan/rohaniwan berkharisma yang terkenal di seluruh dunia. 

Foto wajahnya yang terpampang di tiap rumah biara SVD maupun lembaga-lembaga pendidikan dan sosial yang bernaung di bawah Serikat Sabda Allah berada di seluruh dunia.

Pembaca tentu punya pandangan tersendiri tentang aura yang terpancar dari wajah beliau saat melihat fotonya di rumah biara SVD sekitar. Secara kasat mata tentu kita mengamini bahwa ia pantas dan layak dipilih menjadi Uskup Agung Ende.

Selain pandangan pintas di atas, tentu ada berbagai pertimbangan lain beliau dipilih menjadi uskup. Yang paling utama boleh jadi pertimbangan bobot keunikan spiritualitas Serikat Sabda Allah yang dijalankannya selama menjadi biarawan/rohaniwan puluhan tahun dan saat menjadi Superior General SVD di Roma periode 2018-2024. 

Ditambah lagi kepribadian beliau yang bersahaja, rendah hati, cerdas dan telah lama menjadi suri teladan ketaatan bagi segenap konfrater dalam mengarungi hidup di tanah misi dan menjalankan hidup membiara secara benar.

Pertimbangan terakhir tentu saja takhta suci tidak mau melupakan atau menghapus begitu saja jejak dan karya-karya besar Serikat Sabda Allah di tanah Flobamora. 

Karya karya SVD harus dihargai di tanah Flobamora karena fakta menunjukkan bahwa kontribusi besar Serikat Sabda Allah membimbing masyarakat Flobamora melalui karya misi telah membuahkan hasil.

Atas dasar itu maka mutiara terbaik Serikat Sabda Allah seperti Mgr Paul Budi Kleden sangat tepat, pantas dan layak dipilih menjadi uskup. Minimal satu keuskupan. 

Jika merujuk pada preferensi kualitas diri dan jam terbang memimpin sekitar 6.000-an anggota kongregasi Serikat Sabda Allah di seluruh dunia, hampir dipastikan Mgr Paul Budi Kleden ke depan bisa saja menjadi kardinal.

Di sisi lain efek pemilihan beliau secara rohani seperti mengangkat dan memperkuat nilai kekatolikan tanah Flores. Kali ini tampaknya pilihan Allah sama dengan pilihan hati manusia. Doa dan kerinduan akan pemimpin gereja yang tepat didengar Allah. 

Allah telah mendengarkan suara seruan umat akan kehadiran seorang gembala bersahaja yang bisa menjadi jembatan spiritual bagi kelangsungan ziarah jiwa manusia di bumi ini.

Makna Keterpilihan

Panggilan suci Mgr Paul Budi Kleden, SVD menjadi Uskup Agung Ende memperlihatkan bersatunya hubungan yang mendalam antara pilihan Allah dan manusia. Ada empat hal penting dan mendalam memaknai keterpilihan beliau sebagai Uskup Agung Ende.

Pertama, Gereja sejagat saat ini butuh pemimpin yang beriman dan bermoral akibat memanasnya tantangan zaman. 

Di tengah persaingan sengit pencarian pemimpin negara-negara dan daerah di Indonesia khususnya yang mengabaikan aspek iman dan moral, Gereja Katolik tetap konsisten memberi teladan ideal memilih pemimpin hanya bersandar pada kehendak Allah dan berbasis pada prinsip Teokrasi dan Kristokrasi tanpa menginjak-injak iman dan moral.

Legitimasi Teokrasi dan Kristokrasi tentu tidak bergeser dari pemahaman sentral dan hakiki bahwa suara umat tetaplah suara Tuhan. Mekanismenya jelas. 

Umat mempercayakan pelayan terbaik dalam hal ini tahta suci mencari pemimpin sekaligus pelayan menurut ukuran Allah dan ukuran manusia yang kemudian membawa manusia kepada keselamatan dan kemaslahatan rohani dan jasmani.

Tentu saja, Gereja Katolik saat ini "tegas" mencari pemimpin yang mampu memimpin dengan kekuatan iman dan moral. Paus Fransiskus membuktikannya dalam menentukan pemimpin yang bisa merepresentasi kehendak umat. 

Karena pemimpin Gereja dari dahulu telah menjadi teladan bagi umat dan masyarakat luas. Pancaran kepemimpinan dalam gereja harus bisa memberi inspirasi hidup yang berkesan serta mampu mengarahkan umat dan manusia lain mengarungi kehidupan rohani yang benar meneladani sikap kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II.

Ketika pemimpin gereja memiliki kekuatan iman yang kokoh dan ditopang oleh moral yang kuat, maka mereka mampu mengatasi tantangan apa pun seperti yang dialami gereja Katolik saat ini. 

Tentu pemimpin gereja seperti Mgr Paul Budi Kleden SVD bisa mengendalikan situasi gereja lokal dan regional yang terseok-seok akibat gertakan zaman yang menjelma dalam bentuk tantangan dari dalam dan dari luar gereja.

Kedua, pemimpin cerdas. Selain iman dan moral yang kuat, kepemimpinan yang cerdas sangat penting dalam memandu gereja. Visi misi gereja akan terlaksana dengan baik jika pemimpin punya bobot kecerdasan ideal. 

Dalam konteks gereja Katolik, pemimpin yang cerdas tentu saja memahami dinamika sosial, budaya, dan teologi yang berkembang. Sehingga mudah menyelesaikan permasalahan yang ada.

Maraknya persoalan internal yang menghempas kaum klerus belakangan lebih banyak didiamkan begitu saja tanpa menyentuh akar masalah. Hal ini yang kemudian membuat malu gereja dan berdampak secara luas kepada umat. 

Dengan demikian Gereja tentu membutuhkan pemimpin yang cerdas dan tegas mencegah tumbuhnya benalu yang mengganggu kesucian gereja.

Pemimpin yang cerdas dapat merencanakan strategi yang efektif untuk pertumbuhan gereja serta menghadapi berbagai persoalan yang muncul dengan arif dan bijaksana. Dampaknya iman umat akan teguh dan kuat karena ditopang para pemimpin gereja yang handal.

Ketiga, sikap integritas. Kecerdasan saja tidaklah cukup tanpa kekuatan yang berintegritas. Integritas adalah kunci dalam membangun kepercayaan umat dan menghasilkan pengaruh yang positif. 

Pemimpin gereja yang memiliki integritas akan menginspirasi umat dan para rohaniwan untuk mengikuti teladan hidup yang jujur, adil, dan bertanggung jawab. Pemimpin tentu diguguh dan ditiru karena sikap integritasnya.

Pemimpin gereja tidak boleh memiliki "kartu truf keburukan" dalam karya pelayanan karena hal itu menjadi prahara yang tidak terselesaikan dalam mengatasi permasalahan gereja. 

Karena sikap integritas dimiliki uskup, maka dalam membimbing kaum biarawan dan umat tentu tidak pilih kasih dan dilematis dalam menindak tegas hal-hal yang bertentangan dengan ajaran iman dan prinsip hidup bergereja.

Keempat, kekuatan fisik dan mental. Hal ini juga diperlukan dalam kepemimpinan gereja yang efektif. Pemimpin yang kuat dan sehat secara fisik mampu menanggung beban fisik dalam pelayanan gereja. 

Pemimpin harus sehat. Sementara kekuatan mental membantu pemimpin menghadapi tekanan dan tantangan yang kompleks yang berasal dari umat maupun dari para rohaniwan.

Ketika semua elemen ini bersatu dalam kepemimpinan gereja, hasilnya adalah sebuah komunitas gereja yang kuat, bersemangat, dan berdampak positif dalam masyarakat. 

Gereja yang dipimpin oleh pemimpin yang bermoral, beriman, kuat, cerdas, dan berintegritas tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pengembangan spiritual, pelayanan sosial, dan penyemangat bagi orang-orang di sekitarnya.

Saya yakin gambaran pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Ende akan menjadi teladan bagi keuskupan lainnya ketika dipimpin oleh Mgr Paul Budi Kleden, SVD sehingga Keuskupan Agung Ende menjadi sumber belajar bagi keuskupan lainnya dalam menangani berbagai permasalahan yang dihadapi gereja. 

Saya yakin reksa pastoral Keuskupan Agung Ende ke depan sangat berbeda dan tentu reksa pastoral itu dinantikan oleh umat di keuskupan lain. Profisiat Mgr Paul Budi Kleden, SVD. 

Sumber: Pos Kupang


Drama Uang Sekolah



Mirip drama dengan klimaks yang mudah ditebak. Lepas isu panas sekadar tes ombak. Kalau bergolak riuh bos turun tangan. Bila adem ayem ya jalan terus.

Begitulah penggalan cerita tentang kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) di perguruan tinggi negeri. 

Hampir sebulan uang sekolah menjadi buah bibir masyarakat dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote karena angka kenaikannya dipandang tidak wajar. Mencekik leher.

Betapa tidak. Di tengah gejolak ekonomi bangsa ini  yang tak kunjung membaik sejak dihajar pandemi Covid-19, perguruan tinggi negeri ramai-ramai meminta persetujuan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim untuk menaikkan UKT.

Angka kenaikan UKT yang diusulkan bervariasi. Tetapi secara umum mengalami peningkatan signifikan. Setiap perguruan tinggi negeri menyampaikan alasan mereka masing-masing. 

Riuh rendah suara protes di berbagai penjuru negeri. Ada pula yang turun beraksi lewat demo meskipun berskala sedang.

Cukup lama pemerintah diam seribu bahasa. Tak merespons gejolak UKT. Akhir cerita terjadi di hari Senin 27 Mei 2024. Setelah memenuhi panggilan Presiden RI Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Nadiem Makarim mengumumkan kenaikan UKT batal.

"Kami telah mengambil keputusan untuk membatalkan kenaikan UKT di tahun ini dan kami akan merevaluasi semua permintaan kenaikan UKT dari perguruan tinggi negeri," kata Nadiem.

Nadiem mengatakan keputusan membatalkan kenaikan UKT diambil setelah pihaknya mendengar aspirasi masyarakat, mahasiswa, dan keluarga. Menurut Nadiem, kenaikan UKT harus mempertimbangkan asas keadilan. 

"Sekali lagi terima kasih kepada seluruh unsur masyarakat, mahasiswa, para rektor dan lainnya yang memberikan kita berbagai macam masukan," ujarnya.

Kita mengapresiasi keputusan pemerintah meski disertai pertanyaan mengapa sangat lama baru memutuskan? Kuat kesan pemerintah melempar wacana tersebut untuk mengecek reaksi masyarakat. 

Kalau mereka diam-diam saja berarti jalan terus. Padahal pemerintah pun  tahu kondisi ekonomi saat ini. Tega nian.

Setelah Nadiem ketok palu, masyarakat dan para wakil rakyat di Senayan hendaknya tidak tinggal diam. Kawal terus agar tidak muncul drama berikutnya. 

Jangan-jangan hanya soal waktu. Kenaikan UKT akan terjadi juga. Mungkin dalam waktu dekat. Tak ada yang tahu pasti.

Tuan dan puan juga beta prinsipnya tidak menolak kenaikan uang kuliah di perguruan tinggi negeri. Silakan naik asal wajar dan mempertimbangkan asas  keadilan dan kondisi sosial ekomi masyarakat seperti dikatakan Mendikbudristek sendiri. 

Kecemasan terbesar kita adalah komersialisasi pendidikan itu nyata, bung! Bahkan makin menyala di banyak tempat di persada Nusantara.  (dion db putra)

Sumber: Pos Kupang

Horor Sydney



Oleh Dion DB Putra

Sydney yang romantis nan damai sontak berubah menjadi kota horor.  Horor ditebarkan penyerang bersenjata pisau yang menikam orang-orang tak bersalah di ruang publik. 

Hanya dalam tempo 48 jam terjadi serangan di dua tempat berbeda yaitu pusat perbelanjaan dan gereja. Kota terbesar di Australia yang terkenal nyaman dan aman kini menebarkan kengerian.

Gedung Opera, ikon Kota Sydney menyalakan lampu khusus tanda duka cita sekaligus menghormati para korban tewas dan terluka.

Semua gedung pemerintahan di negara bagian New South Wales  mengibarkan bendera setengah tiang, dan negara bagian serta teritori di seluruh Australia merayakan hari berkabung nasional. Australia sungguh terguncang.

Horor merebak di akhir pekan. Pada jam sibuk Sabtu petang 13 April 2024, Joel Cauchi berjalan santai menuju mal Westfield Bondi Junction di jantung Kota Sydney. 

Tak seorang pun mencurigai pria berusia 40 tahun itu akan melakukan serangan mematikan.

Joel masuk mal laksana pengunjung lainnya. Sabtu petang itu Mal Westfield Bondi Junction sedang sibuk. Maklum akhir pekan sehingga banyak orang belanja aneka kebutuhan atau pelesir bersama keluarga, kerabat dan kolega.

 Tiba-tiba Joel Cauchi mengeluarkan pisau lalu menyerang orang-orang di tengah keramaian mal. Enam orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka dalam serangan yang berlangsung sekitar 25 menit.

Korban tewas lima orang perempuan dan seorang laki-laki yang adalah penjaga keamanan mal. 

Sang penyerang kejam, pria Queensland bernama Joel Cauchi langsung ditembak mati oleh polisi wanita di lokasi kejadian. 

Mengincar perempuan

Mengutip berita Kompas.com, keenam korban meninggal sudah teridentifikasi. Mereka adalah seorang ibu bernama Ashlee Good (38), Faraz Tahir berusia 30 tahun, Dawn Singleton usia 25 tahun, Jade Young yang berumur 47 tahun, Pikria Darchia berusia 55 tahun, dan Yixuan Cheng. 

Ashlee Good jadi korban penikaman bersama bayinya yang berusia sembilan bulan, adalah korban pertama yang disebutkan namanya. Bayinya kini dalam kondisi kritis namun stabil setelah menjalani operasi di rumah sakit. 

Faraz Tahir, warga negara Pakistan yang bekerja sebagai penjaga keamanan di Westfield Bondi Junction, merupakan satu-satunya korban laki-laki. Faraz baru saja pindah dari Brisbane.

Yixuan Cheng adalah warga negara China yang sedang kuliah di Sydney. Pikria Darchia adalah seniman dan desainer yang belajar administrasi bisnis di Sydney TAFE dan meraih gelar dalam bidang seni pertunjukan di Tbilisi State Academy of Art di Georgia.

Dawn memiliki hubungan lama dengan Killcare Surf Life saving Club di NSW Central Coast dan bekerja untuk White Fox Boutique. 

Jade Young juga tergabung dalam tim penyelamat di Bronte Surf Life saving Club di pinggiran timur Sydney. 

Andrew Cauchi, meminta maaf atas tindakan putranya Joel Cauchi yang dia sebut sedang frustrasi.  

"Ia adalah jiwa yang tersesat dan frustrasi, dan saya menyesal dia telah melakukan ini terhadap anak-anak Anda dan bangsa ini,” kata Cauchi sambil menangis. 

Ibu pelaku mengatakan putranya telah dirawat dokter selama 18 tahun karena kondisi kesehatan mentalnya. 

"Tidak ada yang bisa saya katakan, tidak ada yang bisa saya katakan yang dapat menghilangkan rasa sakit yang disebabkan oleh anak saya," tutur Andrew Cauch. 

Polisi setempat belum menyimpulkan motif serangan Joel Cauchi apakah terkait terorisme atau bukan.

Komisaris Polisi New South Wales, Karen Webb mengatakan, sedang menyelidiki masa lalu pria berusia 40 tahun tersebut. Hal yang sudah jelas Joel mengincar perempuan. "Dari video-videonya jelas, bukan?" katanya kepada ABC. 

"Bagi saya sudah jelas, menarik bagi para detektif juga untuk mencari tahu bagaimana pelaku fokus pada perempuan dan menghindari laki-laki," tambah Karen Webb.

Menurut Karen, para detektif sedang berbicara dengan orang-orang yang mengenal Joel untuk mendapatkan gambaran lebih dalam. Kepolisian New South Wales dan Queensland sempat waswas dengan pelaku karena masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental. 

Serangan di gereja

Belum usai perhatian warga Sydney terhadap tindakan Joel, muncul serangan kedua pada Senin malam 15 April 2024. Penikaman kali ini terjadi di Gereja Christ The Good Shepherd di Wakeley pada pukul 19.15 waktu setempat. 

Pelaku yang juga menggunakan pisau melukai empat orang  termasuk Uskup Mar Mari Emannuel yang sedang memimpin ibadah di altar gereja. Pelaku sontak mendekati altar, mengangkat tangan kanan lalu menikam Uskup Emanuel.

Sebagaimana dilansir Independent, tiga orang jemaat juga terluka dalam serangan tersebut. Kepolisian New South Wales mengatakan, petugas telah menangkap seorang pria setelah mendapat laporan adanya penikaman terhadap sejumlah orang di gereja tersebut. 

"Orang-orang yang terluka tidak mengalami cedera yang mengancam jiwa dan sedang dirawat paramedis Ambulans New South Wales. Masyarakat diimbau untuk menghindari daerah tersebut," kata juru bicara polisi.

Horor Sydney benar-benar mengguncang publik Australia, negara benua yang selama ini terkenal apik sistem keamanannya.

Serangan dengan pisau di pusat perbelanjaan maupun gereja jarang terjadi di negara tetangga Indonesia tersebut.

Setelah dua insiden mengerikan ini, otoritas negeri Kanguru mengevaluasi sistem keamaman mereka dan menetapkan standar yang lebih ketat dan terukur guna mencegah kejadian serupa terulang.

Bagaimana kita? Sikap waspada dan antisipasi adalah keniscayaan. (*)

Sumber: Pos Kupang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes