Mengenang Even Midin

DUA belas Agustus 2011. Hari masih pagi. Kira-kira pukul 08.40 sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Pesan dari Ros, manajer PSDM SKH Pos Kupang. Om Dion, Even telah pergi le. Kami di rumah sakit umum Kupang sekarang... Menyusul SMS berikutnya dari beberapa teman antara lain Gerardus Manyella.

Sungguh kesedihan saya yang saat itu berada di rumah orangtua di Onekore, Ende bertambah. Saya masih dalam suasana duka. Tanggal 3 Agustus 2011 ibu saya, Theresia Masi Bata dipanggil Tuhan setelah terbaring sakit kurang lebih lima bulan. Saya tahu Even memang sakit dan sempat keluar masuk rumah sakit tetapi saya tidak menduga bahwa dia akan pergi selekas itu menghadap Sang Pencipta, empunya kehidupan.

Saya memberi tahu istri saya di Kupang tentang kabar duka ini. Bersama beberapa teman dia bergegas ke rumah sakit dan ikut mengantar jenazah Even sampai ke rumah duka di kawasan Sikumana. Saat itu saya ingin menulis tentang almarhum semasa hidup, namun saya tak sanggup. Perasaan saya tak karuan, mengharu biru hingga tak sanggup mengetikkan kata-kata di atas tuts laptop meski saya sudah berusaha.

Keesokan harinya saya coba mencari Pos Kupang, berharap ada teman yang menulis in memoriam tentang Eventius Midin, begitu nama lengkap kawan ini. Tapi tidak saya temukan tulisan mengantar Even, mantan Manajer Keuangan dan Manajer Umum Pos Kupang, kecuali sebaris iklan turut berduka cita dari keluarga besar Pos Kupang. Ya, mungkin teman-temanku di Kupang terlalu sibuk sehingga tak sempat menulis in memoriam atau memang dianggap tidak penting lagi. Bagi saya, ini tradisi yang hilang dari Pos Kupang. Sejak dulu selalu ada tulisan mengantar seorang rekan yang berpulang….

Sebelum Even, teman kami yang lebih dulu berpulang adalah Emanuel Kudu, tenaga pracetak (layout). Setiap tiap kali saya melewati Ekoleta, Detusoko-Ende, saya selalu ingat Eman Kudu. Dia dibaringkan di rumah keluarganya di sisi jalan utama Ende-Maumere. Pada saat duka semacam ini saya juga ingat teman-teman Pos Kupang yang telah menghadap Tuhan, termasuk salah seorang pendiri harian ini, Om Valens Goa Doy dan orang yang ikut mendidik jurnalis tangguh Pos Kupang, Julius R Siyaranamual.

Pertemuan saya terakhir dengan Even tanggal 1 Juli 2011. Hari itu hari yang sangat berarti bagi saya dan sejumlah teman termasuk Even. Hari itu, dalam rapat dengan seluruh manajer dan awak Redaksi Pos Kupang, Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho mengumumkan perombakan struktur, mekanisme kerja dan personel di lingkungan PT Timor Media Grafika (TMG) yang menaungi Pos Kupang.
 

Saya ditugaskan ke Maumere, Flores sebagai editor Harian FloresStar, Tony Kleden (sebelumnya Redpel) ditugaskan sebagai reporter di Sumba Barat Daya, Dami Ola (Redpel) menjadi news editor desk Hukum Pos Kupang. Benny Dasman menjadi Manajer Liputan dan Marsel Ali jadi Sekretaris Redaksi. Sejumlah redaktur menjadi reporter seperti Martin Lau, Gerardus Manyella, Ferry Ndoen dan Alfred Dama. “Perombakan ini demi perubahan. Setelah tiga bulan akan dievaluasi,” begitu kata Om Damyan saat itu.

Even sendiri sudah lebih dulu menerima SK dari Pemimpin Umum pada tanggal 30 Juni 2011 sore. Dia tidak lagi dipercayakan sebagai Manajer Umum, tugas barunya adalah mengurus Koperasi Karyawan PT Timor Media Grafika bersama Ety Turut (mantan Manajer PSDM dan Kepala Sekretariat Redaksi).

Dalam rapat tanggal 1 Juli 2011 itu, Even terlihat masih bugar dan sempat meneguhkan saya dan teman-teman lain untuk menjalani tugas baru dengan semangat untuk kemajuan Pos Kupang. Manajer pertama di lingkungan Pos Kupang yang menerima SK baru dari Pemimpin Umum adalah Fery Jahang (Manajer Iklan). Tugas baru Ferry Jahang adalah menangani sirkulasi Harian FloresStar di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Rapat tanggal 1 Juli 2011 tidak dihadiri Ferry karena dia sudah berangkat menuju tempat tugas yang baru.

Sampai saya meninggalkan Kupang menuju Maumere 7 Juli 2011, saya tidak pernah berjumpa lagi dengan Even karena dia jatuh sakit. Dua atau tiga hari setelah berada di Maumere saya dapat kabar dia masuk Rumah Sakit Mamami. Opname. Perutnya membengkak, wajah pucat. Dia sempat keluar dari Rumah Sakit dan melanjutkan pengobatan di rumah.

Even…. maafkan saya karena selama kamu sakit saya tidak sempat membezukmu. Semoga Even maklum, karena saat itu saya berada di Maumere. Saya tidak tahu apakah teman-teman Pos Kupang yang ada di Kupang saat itu sempat melihat dan menghiburmu? Saya ingat Even kerap mengingatkan agar perusahaan tidak hanya memandang karyawan-karyawati di saat suka dan sehat serta produktif bagi perusahaan. Mestinya pada saat sakit dan luka, perusahaan memberi perhatian sepadan. Toh sebagai manusia, kita tidak selamanya sehat dan kuat. Tidak selalu segar bugar sepanjang masa.

Kabar terakhir yang saya terima tentang kepergiaan Even pada 12 Agustus 2011 sungguh menyayat kalbu. Sontak saya ingat anak-anaknya yang masih kecil. Saya ingat wajah mereka yang masih butuh seorang ayah. Bagaimana masa depan anak-anak itu? Saya berharap isterinya tabah dan kuat. Percaya pada Tuhan. Percaya kepada penyelenggaraan ilahi.

Siapakah Even? Bagi saya dia salah seorang pendekar Pos Kupang yang bekerja spartan dan tidak banyak menuntut. Sepanjang kariernya belasan tahun di harian ini, hampir tidak ada masalah yang disumbangkannya bagi perusahaan. Dia memberi yang terbaik sesuai kemampuannya. Dia menjabat Manajer Keuangan dalam waktu yang lama. Kemudian dimutasi ke Manajer Umum sebelum akhirnya mungkin menurut penilaian pimpinan tenaganya cukup sekadar mengurus koperasi, meski itu bukan link langsung dengan struktur organisasi perusahaaan. Bahwa kuat kesan dia kaku dalam hal “uang” bisa dimaklumi. Di mana-mana “orang keuangan” selalu begitu bukan? Dan memang idealnya demikian. Dan dia, bukan tipe "manusia pro eselonering" seperti kebanyakan orang yang takut dan cemas bahkan stress ketika tidak lagi masuk dalam struktur. Dia menerima penugasan dari pimpinan dengan senyum.

Apa keutamaan Even Midin bagi Pos Kupang? Dia berpikir dan bekerja untuk banyak orang. Sampai akhir hayatnya Even masih tercatat sebagai Ketua Koperasi Karyawan Pos Kupang, jabatan yang diembannya dua kali. Koperasi itu sempat dipimpin Mariana Dohu, namun kembali lagi ke tangan Even dua tahun lalu. Dan, dia sukses mengelola koperasi ini. Hampir semua anggota termasuk saya merasakan manfaat koperasi tersebut.

Even juga punya jiwa bisnis. Dia mendorong isterinya membuka usaha kios yang cukup menopang pendapatan keluarga. Dia pun menjual pulsa elektronik. Saya tahu banyak teman-teman di kantor yang akhirnya mau mengikuti jejaknya, misalnya membuka usaha kios untuk menopang hidup keluarga atau jual pulsa sekadar untuk tambah-tambah belanja dapur, suatu langkah yang sangat mulia ketimbang memeras atau mencuri dengan menjual lembaga Pos Kupang, misalnya.

Selain koperasi karyawan Pos Kupang, Even Midin yang mengelola UB (Usaha Bersama) PEKA, yang anggotanya karyawan-karyawati Pos Kupang bersama suami, isteri dan anak. Sudah banyak anggota PEKA yang tertolong dari UB tersebut, misalnya dana untuk bangun rumah, beli tanah atau biaya pendidikan anak-anak. UB PEKA sedang diperjuangkan Even menjadi koperasi. Mudah-mudahan diteruskan oleh pengurus yang lain agar Even di alam sana tidak kecewa.

Even Midin adalah tipe pekerja keras dan jujur. Juga menjalin persahabatan tulus dengan siapa saja. Dia juga rendah hati. Dia bukan tipe manusia penjilat atau pengkhianat yang tega “menjual” teman-teman sendiri demi menggolkan tujuan pribadi. Karena keutamaan itu, saya bangga padanya. Beberapa kali saya memang memarahi dia untuk hal-hal yang saya anggap keliru. Dia bisa menerima dengan baik setelah sadar akan kekeliruannya.

Even….maafkan saya kalau catatan kecil ini keliru dan terutama atas kesalahan saya terhadapmu semasa hidup. Saya merindukan kebersamaan kita. Saya mendoakan keluargamu, anak dan isterimu.

Kau tahu Even, sekarang saya tidak bisa lagi kirim SMS ke nomor HP-mu yang isinya kau sudah tahu betul. “Aji, tolong tembak pulsa Simpati 20 ribu ke no saya. Bayar nanti e...”

Dari kota debu Maumere, saya mengirimimu seutas doa. Doakanlah kami, teman-temanmu yang masih berziarah di bumi fana ini.

Beristirahatlah dalam damai, sahabatku…

Dion DB Putra

Dari kota tsunami Maumere-Flores...

Uskup Kherubim: Sikapnya Halus Tapi Bor Dalam

Uskup Kherubim
MAUMERE, FS - Sikapnya halus tapi bor dalam. Begitulah Uskup Emeritus Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD menggambarkan sosok Uskup Gerulfus Kherubim Pareira, SVD yang merayakan pancawindu imamat dan perak uskup di Gereja Katedral Maumere, Senin (22/8/2011) pagi.

Misa akbar perayaan itu dihadiri tujuh uskup, ribuan umat Katolik dari berbagai wilayah Keuskupan Maumere serta undangan lainnya. “Sikapnya tenang. Omongannya halus tapi bor dalam. Bor terus,” kata Uskup Anton Pain Ratu yang disambut tawa ribuan umat yang hadir dalam misa akbar perayaan itu.

Uskup Pain Ratu juga menyebut Uskup Kherubim sebagai tokoh pemersatu. Uskup Kherubim patut mendapatkan julukan itu atas jasa-jasa beliau dalam karya kegembalaannya di Keuskupan Weetabula, Sumba selama 22 tahun.

“Selama 22 tahun Uskup Kherubim berhasil meruntuhkan tembok-tembok pemisah antara sesama murid Kristus lewat dialog yang tulus sesuai doa Yesus Kristus agar mereka semua menjadi satu. Itu realisasi motto sang yubilaris sendiri yaitu Ut Omnes Unum Sint, Supaya Semua Orang Bersatu. Umat di Sumba menangis saat Uskup Kherubim pindah ke Maumere karena mereka kehilangan tokoh pemersatu. Sedangkan umat di Maumere menari-nari kegirangan menyambut tokoh pemersatu pulang ke kampung halamannya,” kata Uskup Anton Pain Ratu.

Uskup Kherubim yang bulan September 2011 akan genap berusia 70 tahun, kata Uskup Anton Pain Ratu, tetaplah seorang tokoh pemersatu bagi umat Katolik di Keuskupan Maumere yang terdiri dari lima etnis. “Saya yakin itu. Hari ini kita menyaksikan kekuatan tekad sang yubilaris. Yubilaris sendiri pasti akan tetap menjadi tokoh pemersatu untuk umatnya,” ujarnya.Uskup Anton Pain Ratu juga mengagumi kepribadian Uskup Kherubim. Dengan ketenangannya, beliau bisa mendekati umat dari setiap kalangan, menjadi bapak yang mau mendengarkan umat dan menjadi sahabat bagi teman-temannya.

Tentang keutamaan Uskup Kherubim sebagai tokoh pemersatu diungkapkan Uskup Weetabula, Mgr. Edmund Woga, CSsR saat memberikan sambutan mewakili Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Uskup Edmund menekankan jasa Uskup Kherubim sebagai peletak dasar yang kokoh untuk Keuskupan Weetabula. Uskup Edmund mengungkapkan betapa Uskup Kherubim telah menanamkan landasan iman yang kokoh bagi umat di Sumba.

“Ibaratnya, beliau yang menanam dan saya yang memetik hasilnya,” demikian Uskup Edmund melukiskan karya Uskup Kherubim selama 22 tahun di Sumba. Dan, Uskup Edmund yakin yubilaris akan meletakkan dasar yang kokoh juga di Keuskupan Maumere sebagai keuskupan yang baru di Indonesia.

Mitra Pemerintah
Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Setda Propinsi NTT, Eddy Ismail, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu raya mengucapkan proficiat kepada Uskup Kherubim yang merayakan pancawindu imamat dan perak uskup.

Pemerintah, kata Lebu Raya, berterima kasih atas sumbangan gereja selama bertahun-tahun dalam mendukung program pemerintah mensejahterakan masyarakat NTT. “Gereja merupakan mitra utama pemerintah di daerah ini,” kata Lebu Raya.

Menurut gubernur, beberapa program pemerintah menjadikan NTT sebagai Propinsi Jagung, Propinsi Koperasi, Propinsi Cendana dan Propinsi Ternak bisa tercapai jika ada kerja sama dengan semua elemen masyarakat terutama pemimpin gereja.

Sementara Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Semara Duran Antonius, dalam kata sambutannya menekankan beberapa hal yakni supaya karya Gereja ke depan tidak hanya seputar altar atau dalam lingkungan sendiri tapi melihat persoalan masyarakat di sekitarnya.

Salah satu masalah aktual yang disoroti Semara yakni pentingnya menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dirjen Bimas Katolik mengajak para pemimpin Gereja senantiasa menumbuhkan semangat mempertahankan keutuhan NKRI dalam pelayanan mereka setiap hari. (kk)

FloresStar, Selasa 23 Agustus 2011 halaman 1

Pisang

“KAU punya orang itu bodoh sekali, ngero! Mereka jual pisang lalu beli molen. Kenapa tidak bikin molen untuk makan sendiri atau jualan macam saya, kan keuntungannya berlipat ganda.” Itu kata-kata seorang kawan asal Jawa Tengah. Sebagai putra Jawa yang sudah belasan tahun menetap di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), gaya bicaranya Ende banget. Langsung tembak ke sasaran. Tidak berputar-putar lagi.

Beta tersentak. Sungguh merasa kena tembak yang bikin kuping memerah. Setiap hari kawanku itu jual gorengan tahu, pisang goreng, pisang molen dan lainnya di pinggir jalan dekat pertokoan yang ramai dipadati pengunjung.


“Saya jual mulai jam empat sore sampai delapan malam. Kadang sebelum jam delapan malam, sudah habis. Kau bayangkan, kerja tidak sampai empat jam tapi hasilnya pasti. Bisnis makanan itu untungnya seratus persen.” Melihat beta tidak segera merespons kata-katanya, dia melanjutkan penjelasan. “Ndoe, kalau kau tidak percaya, coba kau tanya di orang-orang yang kerja macam saya ini ka,” katanya sambil terbahak.

Tentu saja beta percaya dengan kata-katanya. Toh dia hidup dari usaha itu dan sangat menikmati pekerjaannya. Di Kota Ende, penjual gorengan macam dia ada di banyak tempat. Dan, umumnya raut wajah mereka merupakan ata mai (baca: pendatang) dari luar pulau. Kondisi serupa agaknya sama persis di daerah lain Nusa Tenggara Timur. Belum banyak anak kampung Flobamora yang serius menekuni pekerjaan sebagai penjual gorengan, tahu, tempe, kripik pisang, singkong dan lainnya. Kalau penjual pisang atau ubikayu gelondongan, banyak.... sekali dan pasti orang kita. He-he-he...


Bagi masyarakat Pulau Flores, Adonara, Solor dan Lembata, pisang telah menjadi komoditi primadona dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir selain hasil perkebunan dan pertanian lainnya semisal kopi, vanili, kemiri, jambu mete, kakao, kelapa dan sebagainya. Sekarang ini kalau tuan dan puan masuk ke wilayah itu akan mudah berpapasan dengan dump truk yang mengangkut ribuan ton pisang. Pisang dari Pulau Flores dan sekitarnya biasanya keluar lewat dua pintu utama, yakni Pelabuhan L Say, Maumere di Kabupaten Sikka dan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.


Tujuan akhir perjalanan pisang Flores adalah Bali dan Surabaya, Jawa Timur. Apakah di sana namanya dikenal dengan pisang Flores? Oh jangan salah, kawan. Pisang asal Flores, tetapi kesohor sebagai pisang Bali. Sedih betul nasib pisang Flores... belum menjadi brand dagang. Maklumlah. Kehebatan petani Flores baru sebatas menjual pisang gelondongan. Apalagi masuk ke Pulau Dewata Bali yang namanya lebih populer ketimbang Indonesia.


Meskipun pisang menjadi komoditi yang menghasilkan duit, namum pola tanamnya masih bersifat tradisional. Tanaman tersebut ditanam secara sporadis di kebun milik petani. Belum ada usaha pisang secara besar-besaran di lokasi tertentu. Maka wajar jika sebanyak-banyaknya pisang dari Flores dan sekitarnya, belum bisa masuk pasaran ekspor. Produksi pisang Flores masih terbatas untuk kebutuhan lokal dan regional.


Tahun 2007 yang lalu di Ende pernah digalakkan tanaman pisang beranga yang terkenal enak itu.
Pemerintah setempat lewat Dinas Pertanian membudidayakan pisang beranga Kelimutu pada kawasan percontohan di dua desa seluas 10 ha yaitu Desa Wolokota, Kecamatan Ndona dan Desa Ndito, Kecamatan Detusoko. Peroncontohan itu diperluas lagi di 29 desa pesisir yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Ende. Kesembilan kecamatan untuk perluasan lahan budi daya dimaksud adalah Ndona, Ndori, Lio Timur, Kotabaru, Wewaria, Maurole, Maukaro, Nangapanda, dan Kecamatan Ende. Sudah menjadi pengetahuan banyak orang kalau pisang Beranga Kelimutu asal Ende merupakan varietas unggulan nasional. Pisang jenis ini sangat diminati masyarakat setempat, karena buahnya memiliki keunggulan spesifik antara lain rasa manis yang khas tidak asam, dan aromanya wangi ketika dimakan. Pokoknya ingat Ende, ingat pisang beranga!


Bagaimana kelanjutan dan hasil dari program pengembangan pisang beranga itu sekarang, belum diumumkan lagi pemerintah Kabupaten Ende. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan. Jangan sampai bahkan pemerintah sudah lupa dengan program yang sangat bagus tersebut. Mestinya setelah lima tahun, pisang beranga Kelimutu asal Ende sudah masuk pasar ekspor. Begitu idealnya.


Omong-omong soal pisang, orang Flores pasti bangga bukan main mendengar pujian dari Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Eka Pangestu. “Saya beli pisangnya. Pisangnya enak dan manis,” begitu kata Ibu Menteri saat berdialog dengan penjual pisang di Pasar Wairloka, Maumere, Kabupaten Sikka hari Sabtu, 2 Juli 2011. Di hadapan para pedagang dan Bupati Sikka, Drs.Sosimus Mitang, Menteri Pedagangan mencicipi sebuah pisang masak. Para penjual pisang kagum menikmati spontantitas Ibu Mari. Pejabat tinggi negara makan pisang di tengah pasar merupakan momen yang manis dan langka bagi mereka.


Maklumlah. Jarang nian orang kita kalau sudah jadi pejabat mau masuk ke pasar-pasar. Takut baju dan celana mereka kotor berlepotan lumpur atau sepatu yang disemir licin bisa lecet lusuh. Mereka baru mau masuk ke pasar-pasar lagi dan sontak ramah dengan orang-orang kecil pada detik-detik menjelang pemilu demi mempertahankan kursi kekuasaan. Pasar adalah tempat menebar pesona jika mereka ada maunya. Bukan cuma pejabat kelas teri di daerah. Bahkan calon presiden di negeri ini pun memanfaatkan pasar untuk tebar pesona dan mengail dukungan suara.

Pasar adalah tempat di mana orang berkumpul. Orang dari segala lapisan. Pasar adalah isi perut. Pasar merupakan sumber napas kehidupan meski banyak orang yang punya kewenangan kerap menomorduakan pasar. (dionbata@yahoo.com)

Yang tak terpublikasikan Pos Kupang. Senin, 4 Juli 2011. Akhir perjalanan BETA?

Mgr. Kherubim Pareira: Berniat Mundur Saat Diakon

Uskup Edmund Woga (kiri) salami Uskup Kherubim
TAHUN 2011 ini sangat istimewa bagi Uskup Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD. Ada tiga moment spesial baginya yaitu 50 hidup membiara, 40 tahun sebagai imam dan 25 tahun menjadi gembala umat dalam jabatan sebagai uskup.

Uskup Kherubim masuk novisiat Societas Verbi Divini (SVD) tahun 1961 sehingga tahun ini genap 50 tahun hidup membiara. Hari Senin tanggal 22 Agustus 2011, Uskup Kherubim merayakan panca windu imamatnya. Beliau ditahbiskan sebagai imam pada tanggal 22 Agustus 1971 di Lela, Kabupaten Sikka.

Pada tahun ini juga Uskup Kherubim merayakan pesta peraknya sebagai uskup. Kherubim diangkat Paus Yohanes Paulus II sebagai Uskup Wetebula, Sumba tanggal 25 April 1986. Pada tanggal 19 Januari 2008, Mgr. Kherubim diangkat Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Maumere.

Ziarah panjang itu bisa bertahan hanya karena penyelenggaraan Tuhan semata. “Ini semua karena penyelenggaraan Tuhan. Kalau mengandalkan diri sendiri, saya tidak bertahan. Tuhan yang menguatkanku,” demikian Mgr. Kherubim Pareira. Banyak yang tidak tahu kalau beliau pernah menghadapi cobaan berat untuk hidup selibat.

Setelah ditahbiskan menjadi diakon, Uskup Gerulfus Kherubim mengakui pernah mengajukan pengunduran diri. Namun, berkat dorongan pembinanya, beliau bisa bertahan dan benar-benar merasa matang ketika diangkat menjadi Uskup Weetebula tahun 1986.

Hidup selibat, kata Uskup Kherubim, tidaklah mudah. Terutama karena hidup yang dijalani itu diyakini banyak orang menyalahi kodrat manusia. “Selibat itu berat. Kalau kaul kemiskinan, kita terlahir dari keluarga yang biasa hidup sederhana. Kaul ketaatan, kita sudah diajarkan disiplin itu di seminari. Tapi kemurnian selibat, itulah yang paling berat,” ungkap Uskup Kherubim.
Lalu apa rahasianya? Uskup Kherubim menyebut tentang doa. Doa, kata Uskup Kherubim, merupakan sumber kekuatan untuk tetap bertahan dalam panggilan imamat.

“Dalam setiap persoalan, doa selalu mengembalikan kita pada jalan yang benar. Dalam doa, Tuhan selalu memberikan penerang untuk bisa memecahkan persoalan yang kita hadapi setiap hari,” katanya.
Spesialis Psikologi Pendidikan dan Pedagogik dari Universitas Kepausan Salesian Roma (1973- 1974) dan alumnus Universitas Kepausan Antonianum Roma (1974-1976) ini menambahkan, motto imamat: Tuhanlah Kekuatanku, Madahku dan Keselamatanku (Mzm. 118: 14) selalu menjadi lilin penerang jalannya. “Motto ini tetap jadi jiwa panggilan hidup saya,” ujarnya.

Ketika diangkat sebagai uskup di Sumba, Mgr. Kherubim memilih motto: Ut Omnes Unum Sint atau Supaya Semua Orang Bersatu (Yoh 17:21). Motto ini lahir dari kenyataan masyarakat Sumba yang beraneka ragam, baik dari segi budaya maupun agama. Uskup pertama di Pulau Sumba itu mengaku, kesulitan pada awal karya misi di Sumba yakni kuranngnya tenaga imam pribumi. Kekurangan imam ini membuat imam-imam bekerja ekstra. Satu orang imam bahkan harus melayani tiga paroki dalam bentangan wilayah yang sangat luas.

Kehadiran putera kelima pasangan Yulius Aloysius Pareira dan Ibu Elisabeth da Iku Pareira sungguh membawa perubahan bagi keberadaan seminari Sinar Buana Sumba. Uskup Kherubim mendorong lahirnya banyak calon imam pribumi. Selain itu, beliau mengirimkan calon-calon imam pribumi studi di Seminari Ritapiret, Maumere.

Usaha awal perjalanan misi di Sumba, kata Uskup Gerulfus Kherubim, yakni menguatkan kapasitas pelayan. Sebab pada waktu itu, jumlah imam projo hanya dua orang. Sedangkan paroki berjumlah 13 buah, dengan jumlah umat Katolik 42. 000 jiwa. Imam-imam redemtoris belum bisa mememehuni kebutuhan pelayanan bagi para umat
yang jumlahnya begitu banyak hingga ke Sumbawa Besar. Untuk memenuhi pelayanan di paroki, Uskup Kherubim mendapat dukungan imam-imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Jumlah umat di Keuskupan Weetabula selepas Uskup Kherubim pada tahun 2008 sebanyak 153.000 jiwa. Perkembangan itu sejalan dengan suburnya panggilan imamat di sana yang semakin hari semakin bertambah. Uskup Gerulfus juga telah mengundang banyak tarekat religius wanita dan laki-laki, yakni ADM, CSSR, CIJ, SVD, SDB, OCD, PRR, Alma dan berbagai tarekat yang lainnya untuk berkarya di Sumba. Kehadiran beberapa tarekat religius telah mendukung pelayanan imam-imam redemtoris yang sudah lebih awal berkarya di Sumba.

Sebagai seorang guru, Uskup Kherubim mengenang sejumlah orang penting hasil didikannya puluhan tahun lalu seperti Benny K Harman (anggota DPR RI), Joni Plate (pengusaha sukses di Jakarta),Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr, Uskup Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, Pr, Romo Sipri Hormat di Ritapiret, Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula. Didikan ketat di seminar Kisol, kata Uskup Kherubim, telah membentuk lulusannya sebagai manusia yang mandiri dan sukses dalam berbagai lapangan hidup.

Moment pancawindu imamatnya tahun ini, kata Mgr. Kherubim, merupakan kesempatan bersyukur karena bisa melalui beratnya pelayanan sebagai uskup dan imam. Beliau juga bersyukur dan berterima kasih terhadap orang-orang yang menyertai perjalanannya sebagai imam dan uskup selama puluhan tahun. (feliks janggu)


Data Diri
N am a : Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD
Tempat/ Tanggal Lahir : Lela, 26 September 1941
Pendidikan Terakhir : Licientiat Filsafat dengan Spesialisasi Pedagogik
Pekerjaan: Uskup Weetebula (1986-2008), Uskup Maumere (2008-sekarang)

Data Keluarga
Nama Ayah : Yulius Aloysius Pareira ( meninggal tahun 1963 )
Pekerjaan Terakhir : Penilik Sekolah Dasar Wilayah II Flotim
Nama Ibu : Elisabeth da Iku Parera ( meninggal tahun 1999)
Pekerjaan Terakhir : Ibu Rumah Tangga
Saudara Kandung : Ada 15 bersaudara dari Bapak dan Ibu yang sama. Tiga orang meninggal waktu masih bayi (2 perempuan dan 1 laki-laki), 12 orang hidup sampai dewasa/berkeluarga : 7
orang laki-laki ( 1 meninggla thn 2004) dan 5 orang perempuan (1 orang meninggal
tahun 2002). Uskup Kherubim anak ke 6 dari 15 bersaudara atau anak ke 5 dari 12 bersaudara.

Data Pendidikan
SD : Kelas 1 : ALS di Maumere, 1947-1948
Kelas 1-2 : ALS (Algemene Largere School) di Ende, 1948-1950
Kelas 3-5 : SR (SD) K Lela I : 1950-1953
Kelas 6 : SR Larantuka I : 1953-1954
SMP : SMP Seminari San Dominggo Hokeng, 1954-1957
SMA : SMA Seminari St. Yohanes Berchmans Mataloko, 1957-1961
Novisiat SVD Ledarero, Maumere : 1961-1963
Kaul I : di Ledarero tanggal 20 Agustus 1963
Studi Filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus Ledarero, 1963-1965.
TOP ( Tahun Orientasi Pastoral )di Seminari Pius XII Kisol, 1965-1967
Studi Theologi di Seminari Tinggi Ledarero, 1967-1971

KAUL KEKAL : Di Ledalero 8 Desember 1970
Ditahbiskan Imam 22 Agustus 1971 di Lela
Melanjutkan studi di Roma pada Universitas Kepausan Salesian 1973-1974,
Universitas Kepausan Antonianum, 1974-1976. Dalam bidang Psikologi pendidikan
dan Pedagogik

Pekerjaan/Tugas
Pengajar dan pendidik di SMP Seminari Menengah Pius XII Kisol, 1972-1973
Pengajar dan Pendidik si SMA Seminari Pius XII Kisol, 1977-1981
Dosen pada APK Ruteng ( Akademi Pendidik Katekis) 1981-1986

Jabatan
Pembantu Prefek SMP Seminari Pius XII Kisol, 1972-1973
Prefek SMA Seminari Pius XII Kisol, 1977-1978
Rektor dan Direktur Seminari Menengah Pius XII Kisol, 1978-1981
Wakil Provinsial SVD Ruteng, 1978-1982
Direktur APK Ruteng, 1981-1982
Provinsial SVD Ruteng, 1982-1986
Uskup Weetebula : diangkat menjadi Uskup oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1986, ditahbiskan 25 April 1986.
Uskup Maumere : Diangkat Oleh Paus Benediktus XVI, 19 Januari 2008

Jabatan di KWI ( Konferensi Wali Gereja Indonesia)
a. Anggota Dewan Moneter KWI, 1988-sekarang
b. Bendahara KWI/ Ketua Dewan Moneter KWI, 1994-2000
c. Bendahara KWI/ Ketua Dewan Moneter KWI 2006-

Motto Imamat : Tuhanlah kekuatanku, madahku dan keselamatanku (Mzm. 118:14).
Motto Uskup : Ut Omnes Unum Sint = Supaya Semua Orang Bersatu (Yoh . 17:21)

Harian FloresStar Minggu, 21 Agustus 2011 halaman 1

Fosil Gajah Ditemukan di Mata Menge Ngada

Fosil Gajah dari Cekungan Soa
BAJAWA, FS -- Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bersama Tim Geologi Bandung serta peneliti dari Australia menemukan beberapa fosil gajah di situs Mata Menge, Desa Menggeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Fosil yang ditemukan terdiri dari scapula (tulang belikat) fosil RIB (tulang rusuk) fosil gading, fosil pelvis (tulang pinggul), fosil vertebrae atau tulang belakang. Sebelum dibawa ke laboratorium di Jakarta, temuan ini dipresentasikan kepada pemerintah Kabupaten Ngada di Bajawa, Selasa (19/7/2011).

Seperti disaksikan FloresStar, dalam presentasi di Aula Setda Ngada itu, temuan fosil dipaparkan sejumlah arkeolog, yaitu Drs. Imanuel Wahyu Saptono, M.Hum, Drs. Jatmiko, M.Hum, Dr. Ery Setyabudi dan Prof. Mike Morwood dari Australia. Presentasi disaksikan Bupati Ngada, Marianus Sae, Wakil Bupati Paulus Soliwoa, Ketua DPRD Ngada Kristoloko, pimpinan SKPD dan anggota DPRD Ngada.


Dr. Ery Setyabudi menjelaskan, fosil-fosil yang ada di cekungan Soa adalah fosil jenis pigmy tegodon yang berasal dari buaya dan tikus besar yang hidup sejak 800.000 tahun yang lalu.

Bupati Ngada, Marianus Sae mengucapkan terima kasih kepada peneliti atas hasil kerja mereka yang berhasil menemukan fosil gajah di cekungan Soa. Temuan baru tersebut bisa menjadi kebanggaan masyarakat Ngada yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bupati Marianus berharap temuan tersebut bisa menjadi aset daerah sehingga tidak dibawa ke daerah lain.

“Saya minta hasil temuan itu disimpan di Kabupaten Ngada sebagai asset daerah sehingga generasi penerus Kabupaten Ngada tidak hanya mengenal nama saja tetapi bisa melihat secara langsung fosil-fosil tersebut,” pinta Marianus.

Menanggapi permintaan Bupati Ngada, tim arkeolog dan geologi menyetujui hal itu dengan syarat Kabupaten Ngada harus memiliki museum situs untuk menyimpan alat-alat purbakala. Menurut tim peneliti, fosil-fosil tersebut akan dibawa ke laboratorium di Jakarta untuk pembersihan dan perawatan khusus agar fosil tetap awet. Perawatan fosil membutuhkan tenaga khusus dan biaya tinggi.
“Setelah museum situs dibangun di Kabupaten Ngada maka fosil tersebut dikembalikan. Kami bawa fosil ini untuk perawatan dan pembersihan di laboratorium,” jelas salah seorang anggota tim peneliti. (hh)

Ngada Bangun Museum

BERKAITAN dengan penemuan fosil yang sangat berlimpah di wilayah Kabupaten Ngada, pemerintah setempat berencana membangun museum situs daerah. Menurut Bupati Ngada, Marianus Sae pemerintah segera membangun situs yang representatif. Namun, sambil menunggu bangunan situs baru, pemerintah akan menggunakan gedung yang ada untuk menyimpan alat-alat purbakala.

Keberadaan museum, kata bupati, akan menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Ngada. Wisatawan akan mengunjungi situs tersebut untuk melihat benda-benda bersejarah seperti fosil, alat-alat purbakala atau artefak yang telah berusia ribuan tahun. “Temuan ini menjadi salah satu kekuatan daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata,” kata Bupati Marianus Sae.

Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Kristoforus Loko menambahkan, DPRD memberikan dukungan politis untuk membangun museum itu. Berkaitan dengan rencana pemerintah membangun situs di Ngada, Loko mengharapkan agar Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) mengirim beberapa tenaga ahli untuk membantu pemerintah daerah dalam hal merawat peralatan purbakala. (hh)

Harian FloresStar Minggu, 24 Juli 2011 halaman 1

Tentang Flobamora

Pria-pria Nusa Bunga
berderap perkasa bagai kuda jantan...
Bergerak lincah bak kijang sabana..
Wajah mereka magnetis seperti Kelimutu
Kharismati​s mendayu ibarat Laut Sawu
Para perempuan Nusa Nipa bernapas dengan cinta semesta.
Menari seelok liukan angin tenggara..​ Tersenyum seindah rona cakrawala.​.

Tentang korupsi, mereka satu kata:
Tidak!
Karena pejabat tak berarti jadi kaya.
Karena pemimpin tak mesti kumpul harta.



"Tidak" bukan cuma sebutir kata, bukan.
"Tidak" pada korupsi mesti merasuk raga.
Menjadi pendar api di sukma,
Berkobar pantang padam,
Menjalar dari jiwa ke jiwa
Dalam pelukan cinta untuk bangsa..

Flobamora,
Derita panjangmu cukuplah sudah.
Aku ingin menatap wajahmu bersinar,
Tubuhmu berbalur aroma cendana
Tak lagi habis darahmu disantap malaria,
Bukan cuma jadi obyekan para investor raya,
Mereka yg gagah datang dan pergi tanpa cinta,
Membangun kerajaan sambil membiarkan​ dikau nista dan papa...

Wahai,
Para pria Timor yg berjiwa ksatria
Matamu setajam elang merobek angkasa,
Dadamu bidang, kokoh menerima hempasan badai dan topan,
Berdirilah​ tegak menahan tsunami korupsi,
Yang bikin negeri hancur jatidiri..
Para dara Nusa Cendana,
Tak cukup lagi gemulai menari Likurai,
Tapi tiuplah api keberanian​ di dada kami,
Berdoalah bagi para pejuang sejati,
Mereka yg tak peduli dengan kursi,
Karena kekuasaan tak pernah abadi...

Aku rindu merengkuh Tanah Sumba,
Mendengar rintihan kembang sabana,
Mereka yg belum tersentuh kemajuan zaman,
Atau ketakutan tanahnya dirajam deru pembanguna​n tanpa angkat martabat,
Aku ingin berteriak saat gelar Pasola,
"Hei dengarkan,​ aku keturunan leluhur agung,
Lemparkan tombakmu ke arah musuh, Mereka yg menjarah Bunda Pertiwi di bawah langit lembayung,
Bukan untuk membunuh,
Tapi agar tanah ini kian maju,
Nama leluhur kami tak ditelan waktu,
Dan anak-anak kami tetap bangga punya kuda Sandelwood​..."

Oooh, Rote Ndao, letakmu di bibir samudera,
Pratanda keluasan dan keluhuran jiwa,
Kecil tapi menawan di gerbang Nusantara,
Iya, engkau bukan sekadar pulau,
Tapi hidungnya Indonesia di depan Australia:​ mancung dan gagah, siapa berani lawan???

Dan, Tuhan..
Terima kasih utk Sabu Raijua..
Engkau pasti senyum lebar saat bikin ini kembang di tengah laut luas..
Para gadisnya memendar pesona,
Terlukis di wajah eksotis dan keindahan tenun ikat,
Pria-pria berotot keras dengan ketangguha​n jiwa-raga,

Mari kita bangun kembali Flobamora!
Baku pegang tangan,
Baku gamit hati,
Baku jaga nama,
Kita mesti satu dalam segala
Untuk kebaikan bersama,

Flobamora,
Satu untuk Indonesia!

Matraman, 26 Juli 2011
Valens Daki-Soo

Oepoi

IZINKAN beta bergumam tentang sekilas wajah bola. Sekilas wajah bola di kampung halaman tercinta, Flobamora dalam sepekan yang baru lewat. Beta mulai dari sudut Stadion Oepoi, Kupang, tak jauh dari GOR Flobamora yang hari-hari ini sedang bergelora lewat permainan bola hebat berlabel kejuaraan Gubernur Cup 2011. Pemain bercucuran keringat, penonton senang tak terkira.

Senang sekali melihat Kupang terus bergeliat dalam urusan sepakbola, baik sepakbola lapangan besar maupun lapangan kecil bernama futsal. Futsal patut dicatat khusus karena telah menorehkan perkembangan dashyat. Dari tiada menjadi ada. Futsal sudah menjadi idola baru di kota ini. Laga futsal ada di mana-mana, mulai dari lorong gang kampung hingga kampus-kampus. Dari laga antarkelurahan sampai level klub tingkat propinsi.

Terima kasih buat mereka yang selama ini bekerja dengan hati memajukan futsal Kota Kupang dan NTT. Kepercayaan badan futsal nasional terhadap NTT menjadi tuan rumah babak prakualifikasi PON 2012 wilayah Nusra bulan Juli mendatang merupakan bukti bahwa Flobamora pun bisa! Kita sudah meraih kepercayaan itu. Salut!


Di lapangan luas, Kupang pun mulai menuai hasilnya, antara lain merebut juara El Tari Memorial Cup tahun silam setelah sekian lama miskin gelar dan selalu berada di bawah dominasi tim-tim asal daratan Flores, bahkan Sumba. Kompetisi perserikatan lokal Kota Kupang pun sudah berjalan rutin. Stadion Oepoi tak henti-hentinya bergetar oleh teriakan histeris penonton, tawa dan juga tangis. Ya, sudah seharusnya begitu. Sebagai ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kupang mesti menjadi barometer sepakbola dan juga bidang hidup lainnya.

Sekarang Oepoi lagi-lagi berpesta. Ribuan penonton memadati stadion itu setiap petang menyaksikan laga sepakbola Gubernur NTT Cup 2011. Awal mendengar kemudian menikmati kejuaraan itu, hatiku riang tak terkira. Kompetisi rutin menunjukkan pengurus PSSI bekerja sungguh-sunguh. Konsisten. Cuma batin sontak terusik melihat wakil Kota Kupang bernama Kosgoro 57. Sungguh mati beta terkejut karena nama itu terasa asing. Boleh jadi beta yang kurang gaul. Kurang mengikuti perkembangan terkini klub bola di kota ini sehingga merasa asing sendiri? Maafkan beta jika salah.

Ke mana gerangan klub juara kompetisi PSKK? Mengapa bukan tim juara atau runner-up kompetisi perserikatan Kota Kupang yang menjadi wakil di kejuaraan Gubernur Cup 2011 atau kumpulan pemain terbaik hasil seleksi dari klub-klub asuhan PSKK?

Bukankah Kosgoro itu nama ormas? Kalau benar sebuah ormas bisa membentuk "klub dadakan" serta gonta-ganti nama dan dipercaya menjadi wakil Kota Kupang, terus bagaimana nasib klub perserikatan PSKK yang mengelola klub sejak lama dengan penuh pengorbanan?

Kalau benar ormas bisa diusung untuk nama klub, baiklah dalam kejuaraan Gubernur Cup berikutnya beta usul agar nama tim naik setingkat lebih tinggi. Pakai saja nama partai biar lebih ramai, lebih seru dan lebih dashyat bobot kompetisinya. Misalnya kesebelasan Golkar 100 Kota Kupang, PDIP 200 Timor Tengah Utara, Gerindra 300 Kabupaten Kupang, Demokrat 400 Manggarai Barat, Hanura 500 Sumba Timur, PKB 600 Flores Timur, PAN 700 Ngada dan seterusnya.

Bayangkan tuan dan puan kalau itu sungguh terjadi. Kompetisi niscaya lebih ramai dari biasanya dan para politisi bakal tumpah ruah ke stadion menonton tim kesayangan mereka masing-masing. Anggap saja kompetisi tersebut sebagai pemanasan menjelang pemilu kada di Kota Kupang, Pemilu Kada NTT tahun 2013 serta Pemilu Nasional 2014 mendatang.

Tapi ah.. sudahlah. Jangan dipikirkan terlalu serius, kawan! Beta percaya pengurus cabang PSSI Kota Kupang dan pengurus propinsi PSSI NTT tentu lebih paham soal aturan main dan punya pertimbangan sendiri yang masuk akal dan hati sehingga nama Kosgoro 57 masuk sebagai salah satu kontestan dalam kompetisi Gubernur Cup musim ini. Toh apalah arti sebuah nama? Yang penting bisa bermain bola. Yang utama agenda kompetisi berjalan. Anggap saja gumamanku sebagai angin lalu. Sekadar gumaman penggemar bola di bibir lapangan. Beta kutip komentar seorang penonton saat menonton laga Persena Nagekeo pekan lalu. "Aue.. ini pemain hampir semua dari Kota Kupang ko..." Apa iya? Walahualam.

Sebagai penggemar bola, impian beta simpel saja. Silakan saja Indonesia karut-marut mengurus bola. Biarkanlah PSSI di level nasional amburadul karena salah urus. Toh pasti ada orang lain yang akan mengurus benang kusut itu. Kita yang hidup di beranda kampung ini mestinya bisa memberi teladan yang baik. Biar di kampung, walau prestasi sepakbola kita sayup-sayup, tapi kita urus dia bae-bae. Punya nilai dan harga diri. Ikut aturan main. Menjunjung tinggi fair play.

Geliat persepakbolaan di Kota KASIH sedang bagus-bagusnya. Dia terus bertumbuh. Bertumbuh dan berbiak. Kasihan sekali kalau keburu remuk karena salah urus. Bila tidak segera diperbaiki dengan niat baik, maka bersiaplah menerima prahara ini. Nila setitik merusak susu sebelanga. Panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Bola mengajarkan sikap ksatria. Kalau saja salah langkah, mengapa tidak mengakuinya? (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 27 Juni 2011 halaman 1

Mengambang, Agenda Aksi Penanggulangan Bencana

Susana Diskusi di Redaksi Pos Kupang (foto Alwi)
KUPANG, PK --- Agenda aksi pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana alam di NTT belum maksimal dan masih mengambang. Meski demikian, sikap tanggap darurat dari pemerintah dan masyarakat sudah ada. Yang masih dibutuhkan adalah sosialisasi peraturan daerah (perda) tentang penanggulangan bencana alam secara terus-menerus oleh pemerintah dibantu LSM dan media massa.

Demikian intisari diskusi dan sharing pengalaman antara para awak redaksi Pos Kupang dengan para peserta study tour dari Oxfam beserta mitranya dari Timor Leste yang didukung Perkumpulan Relawan CIS Timor dan PMPB, di ruang rapat Redaksi SKH Pos Kupang Jalan Kenari 1, Naikoten 1, Kupang, Rabu (22/6/2011) siang.


"Agenda aksi pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana alam di NTT masih mengambang. Memang sudah ada aksi-aksi nyata lainnya namun belum maksimal dan bantuan terlambat sampai ke lokasi bencana dan target," tandas Dion DB Putra, Pemred SKH Pos Kupang, didampingi Redpel, Tony Kleden. 

Dion mencontohkan bencana paling sederhana, yaitu bencana kebakaran. Pemerintah dan institusi yang menangani bencana kebakaran terlihat setengah hati. 

"Sudah habis terbakar baru mobil pemadam tiba di lokasi. Ditanya alasannya, mereka bilang tidak ada BBM dan terpaksa mengutang eceran solar di pedagang kaki lima (PKL). Ini kan ironis," katanya.

Dalam bagian lain penjelasannya, Dion mengatakan dalam kurun waktu 10 hingga 20 tahun terakhir, ada tiga krisis yang dihadapi rakyat NTT, yaitu krisis pangan, krisis air dan krisis energi. "Bahkan dalam dua tahun terakhir, ada bencana lain lagi, yaitu gagal tanam. Ini yang sangat parah," kata Dion.

Bagaimana SKH Pos Kupang menyikapi soal ini, Dion mengatakan kebijakan redaksional mengharuskan wartawan untuk membuat tulisan yang isinya memberikan warning kepada pemerintah tentang bencana apa yang bakal terjadi. 

"Selain peringatan, juga kontrol dari media massa sangat penting. Misalnya mengawasi bantuan hingga ke lokasi dan korban bencana. Sebab ada gejala orang kaya baru setelah selesai bencana. Ini harus benar- benar diawasi," tandasnya.

Tentang krisis pangan, Dion mengatakan banyak faktor penyebabnya, di antaranya anomali cuaca dan perubahan iklim. Jika tidak ada tanggapan terhadap perubahan iklim yang drastis itu dan tidak diberitakan media massa, maka pemerintah dan LSM yang bergerak di sektor pengembangan pangan juga akan kewalahan mencari strategi kebijakan untuk mengatasi bencana kelaparan yang mengancam.

"Faktor lain lagi, sistem pengembangan pertanian yang uniform, tidak menghormati potensi dan kearifan lokal. Hal ini terjadi sejak pemerintahan orde baru. Ada anggapan yang keliru bahwa pangan berarti beras. Padahal di Timor, pangan identik dengan jagung dan ubi-ubian. Akibatnya petani NTT, khususnya di Timor ramai-ramai menanam padi. Petani di Timor kehilangan orientasi. Mereka bingung karena sistim uniform ini sangat kacau dan berdampak sangat luas," kata Dion.

Dia menambahkan, media massa dan LSM memiliki tanggung jawab moril untuk melakukan pencerahan soal ini.

Menjawab pertanyaan peserta apakah ada tim khusus yang disiapkan SKH Pos Kupang dalam program tanggap darurat bencana, Dion menjelaskan masyarakat NTT sedikit lebih melek media massa dan sangat kooperatif. "Tidak ada tim khusus. Tapi bila ada bencana alam, masyarakat lebih dulu memberitahu wartawan, baru polisi dan pemerintah. Ini kondisi yang bagus dan sangat membantu," katanya. Berdasarkan informasi pertama itu, wartawan terjun langsung ke lokasi bencana dan memberitakan secara lugas dan langsung.

Sementara itu, Direktur CIS Timor, Winston Rondo, melalui stafnya, Hans Oematan, menjelaskan tujuan study tour ke Pos Kupang adalah untuk berbagi pengalaman tentang penyebaran informasi yang terkait dengan kerja kesiapsiagaan, respon darurat dan upaya pengurangan resiko bencana di NTT. 

"Juga berbagi strategi Pos Kupang dalam penguatan kapasitas internal dan eksternal dalam memahami kerja kesiapsiagaan, respon darurat dan pengurangan resiko bencana dalam rangka meningkatkan kualitas informasi untuk advokasi," kata Oematan. (ade)

Pos Kupang, 23 Juni 2011 halaman 5

Siami

Usir, usir... dia dari kampung ini.
Usir orang yang tak punya hati nurani!

WANITA berkerudung biru di depan kerumunan massa itu hanya bisa menangis pilu. Suara permintaan maafnya yang diucapkan dengan bantuan pengeras suara nyaris tak terdengar di tengah gemuruh suara massa yang melontarkan hujatan dan caci maki. "Usir, usir...dia dari kampung ini. Usir orang yang tak punya hati nurani!"

Itulah selaksa peristiwa menyayat hati di Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya hari Kamis 9 Juni 2011. Siami tak menyangka niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Dia diusir warga Gadel Sari Barat gara-gara ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011. Berlaku jujur malah buntung!




Keluarga Siami dituding telah mencemarkan nama baik sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali, warga menggelar aksi unjuk rasa, mengutuk tindakan Siami. Puncaknya terjadi pada Kamis siang itu. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel 2 meminta keluarga penjahit itu enyah dari kampungnya. Permintaan maaf Siami tidak melembutkan hati massa yang keras mengaum sampai akhirnya polisi mengevakuasi Siami dan keluarganya. Siami masuk mobil polisi dengan pengamanan pagar betis. Ngeri!

Namun, massa tetap berusaha merangsek. Mereka sangat beranafsu mencabik-cabik tubuh ringkih Siami. Sejumlah orang bahkan sempat menarik-narik kerudung biru Siami hingga nyaris mencium bumi. Untunglah Siami berhasil diamankan ke Mapolsek Tandes dan selanjutnya mengungsi ke kampung asalnya di Dusun Lumpang, Desa Sedapun Klagen, Benjeng, Gresik, Jawa Timur.

"Kami akan merasa tenang jika di Gresik," kata Saki, kakak Siami. Menurut laporan Kompas yang beta kutip, Al, putra Siami yang dipaksa guru memberi contekan kepada teman-teman sekelasnya sudah lebih dahulu diungsikan ke Benjeng setelah rumah orangtuanya didemo warga Gadel.

Siami dituding tak punya nurani. Lalu di manakah nurani? Bukankah nurani itu ada di setiap hati? Hati tuan dan puan pun beta. Ada di setiap hati kita. Pastilah karena bisikan nuraninya, Siami mengungkap praktik contek massal di sekolah putranya. Tapi kejujuran di zaman ini memang mahal, kawan! 

Pelaksanaan Ujian Nasional yang kini wajib sampai level sekolah dasar makin menunjukkan langkanya kejujuran di ini negeri. Ujian Nasional (UN) telah dimengerti seolah-olah indikator tunggal kualitas pendidikan bangsa. Maka orang pun tidak malu berdamai dengan realitas bernama cara instan dan jalan pintas. Yang penting tujuan bukan proses. Yang utama lulus, tak hiraukan cara lulus dengan menyontek atau katrol nilai.

Setiap musim ujian nasional tiba, semua berburu lulus dengan persentase setinggi-tingginya. Menguber seratus persen. Menggapai kesempurnaan. Gagal dianggap barang haram hingga tersibak hati yang rapuh ini. Guru mata pelajaan takut pada kepala sekolah, kepala sekolah takut pada kepala dinas PPO, kepala dinas PPO takut bupati, bupati takut gubernur, gubernur takut menteri, menteri takut presiden, presiden takut kehilangan pesona. Mereka takut gagal UN sehingga segala cara ditempuh. Baik pun tidak baik. UN mempertaruhkan jabatan. Betapa banyak orang gundah menghadapi kemungkinan hilang jabatan, hilang posisi, hilang kemewahan dan kenikmatan duniawi. Menipu lalu dianggap halal. Inikah bangsa yang bermartabat? Pendidikan bangsa ini telah disederhanakan sekadar hasil UN. Mengabaikan perlunya pembentukan akhlak mulia, otak cerdas sekaligus hati yang berjiwa besar.

Di sudut hatinya yang paling bening, warga sekampung yang membenci Siami tentu tak setuju contekan massal. Tapi benak mereka mungkin bergumam serentak. "Betul itu salah tetapi sudah lumrah terjadi di banyak tempat. Mengapa melawan arus? Yang lalu biarkanlah berlalu, yang penting anak-anak lulus, tidak mengulangi ujian atau tahan kelas VI." Di zaman yang mementingkan angka-angka ini, suara mayoritas selalu menang meskipun salah. Siami dipandang sok jujur. Sok pahlawan. Dia pantas dijadikan kambing hitam. Kambing hitam yang mesti disembelih. Harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.

Hasil investigasi tim independen menemukan bukti bahwa Siami benar tentang fakta contekan massal. Al memang diintimidasi guru sehingga mau memberikan contekan. Namun, tim tidak menemukan cukup bukti sehingga UN di SDN Gadel 2 perlu diulang. Alasannya tim independen tidak menemukan hasil jawaban UN yang sistemik sama, dan nilai UN pun hasilnya berbeda. Al tidak seluruhnya memberikan jawaban yang benar. Dan, kawan-kawannya tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban Al sehingga hasil ujian tidak sama.

Hari Sabtu 18 Juni 2011, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur merilis hasil mencengangkan. Seluruh 60 murid kelas 6 SD Negeri Gadel 2 Surabaya lulus. Lulus 100 persen. Hebat! Kasihan Siami. Dia telah menjadi korban karena kejujurannya. Tapi Indonesia mesti berterima kasih kepada ibu ini. Dia mengingatkan tentang prahara kehidupan: Demi tujuan orang bisa menghalalkan segala cara. Siami membuka mata betapa kita sesungguhnya hidup di tengah masyarakat yang sakit!

Salah satu ciri masyarakat sakit, menurut kaum bijak bestari, adalah masyarakat yang tak berani lagi melawan arus. Diam melihat penyimpangan. Bisu mencicipi kesewenangan. Lima puluh sembilan orangtua/wali murid kelas 6 SDN Gadel Surabaya tahu anak-anak mereka menyontek. Tetapi mereka memilih diam karena mereka merasa mendapat keuntungan. Ketika si penjahit Siami bersuara, dia dinistakan. Siami menyulam kejujuran di tengah badai kemunafikan. Dia terlindas.

Dalam keseharian, tuan dan puan mungkin sadar sesuatu itu salah. Tetapi tuan pasti berpikir seribu kali. Kalau tuan lemah jangan coba-coba melawan. Lebih baik ikut arus daripada terpinggirkan. Mengoreksi bisa merusak karier. Lebih baik ABS. Lebih baik loyal buta. Membeo. Membebek saja.

Inilah zaman di mana semua seorang anak merasa berhak lulus atau naik kelas di akhir tahun ajaran. Tidak perlu belajar, tak perlu tikam kepala melahap teori dan mempratikkannya. Persoalan besar bangsa kita adalah erosi budi pekerti. Aih, negeri ini membutuhkan Siami. Terima kasih Siami. (diondbputra@yahoo.co.id)

Pos Kupang, Senin 20 Juni 2011 halaman 1

Tewas Terkepung dalam Bak Air

KUPANG, PK -- Dua orang tewas terkepung api dan asap tebal di dalam bak air kamar mandi, saat kebakaran menghanguskan gudang Meubel Avia di Kelurahan Penkase Oeleta, Alak, Kota Kupang, Senin (20/6/2011) dini hari.

Dalam kejadian itu, sebelas orang lagi mengalami luka bakar serius di tubuhnya. Para korban adalah karyawan meubel milik Samin.


Kedua karyawan itu tidak berhasil menyelamatkan diri saat kebakaran terjadi. Diduga keduanya terkepung kobaran api dan akhirnya memilih masuk kamar mandi dan menceburkan diri ke dalam bak air. Kuat dugaan, keduanya tewas karena sesak napas akibat kepungan asap tebal dan kepanasan.

Sedangkan 11 rekan mereka berhasil meloloskan diri meski sudah terluka serius akibat sambaran nyala api. Para korban dilarikan ke beberapa rumah sakit di Kota Kupang.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang, Senin (20/6/2011) pagi, menyebutkan, dua korban tewas itu adalah Muntasib (40) dan Khomsin (38), warga Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sementara sebelas karyawan terluka bakar yakni dua dirawat di Rumah Sakit Wirasakti, yaitu Irwansyah (35) dan Wisanggeni (31). Yang lainnya dirawat di RSU Prof. Dr. WZ Johannes, yaitu Arif (27), Ahmad Tari (26), Muh Rosyidi (25), Abdul Rohim (27), Basori (41), Sunarto (39), Abdul Rohim (38), Muh Isnung (31) dan Muh Kholili (28).

Kebakaran gudang meubel beraset Rp 20-an miliar itu bermula ketika api membakar salah satu ruangan di gudang tersebut, Senin (20/6/2011) sekitar pukul 02.00 dinihari. Sebab-sebab kebakaran belum diketahui pasti.
Hendy, menantu pemilik meubel, mengatakan api begitu cepat menjalar dan menghanguskan bangunan gudang berukuran 50 x 40 meter itu. Pasalnya di dalam gudang itu tersimpan spon, plastik, kayu dan kain. Apalagi rangka atap gudang dari kayu membuat api segera merambat ke atap seng. Tak satu pun barang dalam gudang itu yang berhasil diselamatkan. 

"Saya mengetahui setelah ada orang yang berteriak kebakaran. Tak berapa lama kemudian saya melihat karyawan yang bekerja keluar dari gudang itu," kata Hendy sambil mengatakan sekitar 20-an karyawan yang tinggal di gudang tersebut. 

Ia menduga sumber api berasal dari hubungan arus pendek listrik di salah satu ruangan di gudang tersebut. Apalagi beberapa hari terakhir tegangan listrik naik turun. Padahal, kapasitas listrik yang masuk ke gudangnya mencapai 10.000 watt.

Korban luka ringan, Abdul Rohim (38) dan Muh Isnung yang ditemui di RSU Kupang, mengaku tidak mengetahui pasti sumber api yang menghanguskan gudang meubel itu. Saat kaget dan bangun dari tidur, api sudah mengepung dari berbagai sisi. Tak pelak keduanya berlari mencari tempat teraman untuk menghindari amukan si jago merah.

Beruntung beberapa rekannya berhasil menjebol tembok samping gudang dengan palu yang ada. 
Pantauan Pos Kupang di lokasi kebakaran, sekitar empat lobang besar di tembok yang dijebol karyawan untuk melarikan diri. "Saya mau ke depan ada api. Ke belakang juga dihadang api. Saya langsung menuju kamar mandi. Di sana saya sudah ada teman-teman yang berendam di bak mandi menghindari amukan api," tutur Abdul.

Kepala Urusan Kedokteran Kepolisian RSB Bhayangkara, dr. Irman, yang ditemui terpisah mengatakan dua korban tewas lantaran terlalu banyak menghirup gas karbon yang berasal dari kepulan asap. Keduanya ditemukan di salah satu bak kamar mandi di gudang tersebut. 

"Luka bakar hanya kami temukan di bagian kepala, tangan dan telapak kaki saja," ujar Irman.
Irman mengatakan usai divisum, jenazah korban diterbangkan ke Jawa, Senin (20/6/2011) siang. Dua jenazah langsung dijemput keluarga di Bandara Juanda Surabaya untuk dibawa ke kediamannya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. 

Pantuan Pos Kupang di lokasi kebakaran, tampak gudang yang ludes terbakar itu sudah dipasangi garis polisi. Dua mobil di gudang itu, juga turut hangus terbakar. Di dalam gudang hanya ditemui tumpukan besi dan kaca-kaca. 

Selain aparat kepolisian, petugas PLN terlihat memutuskan jaringan kabel listrik yang masuk ke kompleks gudang. Sementara petugas pemadam kebakaran masih terus menyemprotkan air di beberapa titik yang masih mengeluarkan kepulan asap. (aly)



Jebol Tembok untuk Selamatkan Diri

SEBELAS karyawan berhasil menyelamatkan diri setelah berusaha menjebol tembok samping gudang saat kobaran api dan asap mengepung mereka. Kepanikan luar biasa melanda mereka saat gudang Meubel Avia di Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang, terbakar, Senin (20/6/2011) dinihari. 

Beberapa karyawan yang ditemui di Instalasi Gawat Darurat RSU Johannes-Kupang, melukiskan kepaikan luar biasa melanda mereka saat nyala api dan asap tebal mengepung mereka di kompleks gudang yang hanya memiliki satu pintu keluar itu.


Dalam kepanikan mereka berusaha menjebol tembok karena pintu keluar sudah dikepung kobaran api. Meubel itu tak ada pintu samping maupun belakang.
Untuk menyelamatkan diri, para karyawan berlari menuju tiga kamar mandi yang ada di gudang tersebut. Beberapa karyawan berebutan berendam dalam air di tiga bak kamar mandi untuk menghindar dari amukan api. Sementara yang lainnya mengambil palu menjebol tembok samping.

"Kami ada yang bersembunyi di bak kamar mandi dan ada yang menjebol tembok. Setelah tembok jebol, satu per satu kami keluar dari gudang dan ada beberapa karyawan menolong teman lainnya yang berada di bak kamar mandi," kata Abdul Rohim, salah satu korban luka bakar ringan.

Muh Isnung, korban lainnya, mengaku sempat pingsan setelah berusaha menolong rekan kerjanya di dalam gudang. Ia pingsan lantaran terlalu banyak menghirup asap. Sementara dua rekannya, Muntasib dan Khomsin tewas lantaran terjebak di bak kamar mandi saat kobaran api makin menjadi di gudang tersebut.

Samin, pemilik gudang meubel Avia yang ludes terbakar itu, tampak saat ditemui di rumahnya, kemarin. Pria asal Makassar itu sesekali memandang ke arah gudangnya yang kini hanya tinggal puingnya saja. Gudang itu terletak di samping rumahnya. 


"Silakan bapak langsung ke menantu saya yang menggunakan kaos biru bertuliskan Yogya itu," ujar Samin yang masih belum bersedia diwawancarai.
Tak jauh dari Samin berdiri, di sebarang Jalan Penkase Oeleta, Hendy sang menantu, juga terlihat sibuk menelepon. 

Gudang itu baru saja diisi barang-barang dagangan senilai belasan miliar rupiah yang baru dipasok dari pulau Jawa, minggu lalu. "Kalau gudang kosong, kerugian tidak akan sampai 20-an miliar rupiah. Dalam gudang itu ada sekitar 2.000-an spon dan 800-an spring bed yang baru kami datangkan dari Jawa," kata Hendy.
Kini, dia bersama mertuanya harus mulai dari awal untuk memulihkan bisnis mereka. (aly)

Kronologi:

Pukul 02.00: Api membakar salah satu ruang di gudang
Pukul 02.20 : Para karyawan berusaha menyelamatkan diri dengan menjebol tembok
Pukul 03.00 : Mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi 
Pukul 05.00 : Api bisa dijinakkan
Pukul 06.30 : Evakuasi korban tewas 

Pos Kupang, Selasa 21 Juni 2011 halaman 1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes