Main di Tepi Danau


Diskusi Terbatas Ekonomi Lokal NTT (1)


Rabu (18/6/2008), Pos Kupang menggelar diskusi terbatas bertajuk, "Membangun Ekonomi Lokal NTT." Diskusi yang dipandu Redpel, Dami Ola, ini menghadirkan Pengamat Ekonomi Undana, Dr. Fred Benu; Ketua Ikatan Sarjana Indonesia (ISEI) NTT, Christofel Liyanto, SE; Pelaku Ekonomi, Drs. Guido Fulbertus; Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang, Ny. Paulina Adoe; Direktur Kepatutan dan Manejemen Risiko Bank NTT, Helena Beatrix Parera; serta dua orang pengusaha UKM, Alauddin H Kamaluddin dan Frans K Tukan. Materi diskusi diturunkan secara berseri dalam empat edisi. Selamat membaca.


PERNYATAAN yang dikutip menjadi judul di atas muncul dalam forum diskusi. "Hanya ikan besar bermain di samudra. Ikan kecil bermain dan menari-nari di tepi danau. Hanya pengusaha besar yang bisa bermain di pasar nasional dan global. Pengusaha kecil hanya bisa bermain dan puas di pasar lokal."

Keadaan bisa terbalik. Pengusaha kecil bisa bermain di pasar nasional dan global. Tapi ada syaratnya. Jika didukung oleh konstruksi sosial, konstruksi budaya dan kebijakan pemerintah daerah yang terfokus. Pengusaha NTT? Sudah bisa bermain di samudera atau hanya mampu bermain dan menari-nari di tepi danau?

Guido Fulbertus, salah satu pelaku ekonomi di NTT, memulai diskusi dengan pertanyaan retoris. Kenapa kita harus bicara ekonomi? Sangat pentingkah ekonomi itu?

Guido mengatakan, mulai dari manusia bangun tidur sampai tidur lagi, selalu dihadapkan dengan biaya ekonomi. Karena itu, katanya, berbicara ekonomi sangatlah penting.

"Bangun pagi, kita sudah diperhadapkan dengan biaya ekonomi. Mulai dari sikat gigi, odol gigi, air dan semua aktivitas pasti ada hubungannya dengan biaya. Termasuk perjalanan ke kantor, pulang rumah, menonton televisi, hingga tidur di atas kasur pun ada biaya ekonominya. Sementara di satu pihak pendapatan kita tidak diperoleh setiap hari," kata Guido.

Data menunjukkan, pada sektor pertanian, dari 100 orang yang bekerja, ada 57,3 persen menganggur. Itu berarti kontribusi dari sektor pertanian, 43 orang bekerja untuk menghidupi 57 orang yang menganggur. Artinya, masih banyak orang di NTT tidak menghasilkan pendapatan setiap hari, meski setiap hari melakukan aktivitas ekonomi. Dengan kata lain, kata Guido, setengah dari satu piring nasi yang dihasilkan oleh 43 orang, harus dibagikan kepada 57 orang yang tidak bekerja. "Dari ilustrasi ini saja bisa dilihat bahwa etos kerja orang NTT masih rendah," ujarnya.

Rendahnya etos kerja masyarakat NTT berbanding lurus dengan membengkaknya angka pengangguran setiap tahun. Data dari Dinas Nakertrans NTT yang dikeluarkan akhir tahun 2007 menyebutkan, jumlah tenaga kerja di NTT 2.152.396 orang. Jumlah angkatan kerja 2.152.396 orang, penganggur terbuka 118.821 orang, pencari kerja (pencaker) yang terdaftar mencapai 76.916 orang. Sementara tenaga kerja yang terserap di sektor pemerintah 7.326 orang. Tenaga kerja yang terserap di sektor swasta 21.126 orang, dan 45.000 orang tenaga kerja bekerja pada 4.000 perusahaan yang tersebar di berbagai daerah di NTT.

Dari data ini jumlah penganggur sangat dominan. Masalah yang selalu dilitanikan dari tahun ke tahun. Pengangguran lebih disebabkan ketersediaan lapangan kerja yang terbatas. Ujung-ujungnya, angka kemiskinan juga membengkak. Data tahun 2007 menunjukkan, jumlah kepala keluarga (KK) miskin di NTT sebanyak 952.107 KK dan jumlah rumah tangga miskin (RTM) sebanyak 623.137 RTM.

Menurut Guido, ekonomi menjadi tumpuan bagi siapa saja karena terkait erat dengan empat hal mendasar hidup manusia, yakni biaya hidup, biaya kesehatan, biaya pendidikan (sekolah), dan biaya rumah.

Untuk membiayai empat bidang ini, katanya, kita harus punya landasan ekonomi kuat. Jika fondasi ekonomi kuat, kita dapat membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya sesuai potensi daerah dengan memberdayakan potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada. Di lain pihak, tentu kita berharap agar angka pengangguran berkurang dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari bisa teatasi. Tetapi, semua apa yang kita harapkan itu, kembali pada etos kerja kita.

"Jika etos kerja masyarakat kita rendah, maka masalah ekonomi, kesehatan, pendidikan, pengangguran dan kemiskinan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat NTT. Orang sukses harus punya etos kerja. Tetapi bukan hanya itu, karena dalam etos kerja ada masalah yang sangat mendasar, harus ada kredibilitas dan integritas. Hal ini sangat melekat dengan dunia usaha," ujarnya.

Berani berspekulasi
Dari aspek ekonomi riil, menurut Guido, Kota Kupang adalah kota jasa dan niaga, tidak ada lain. "Kalau kelautan saja, bagi saya itu bukan industri kelautan, hanya petani nelayan," tegasnya.

Menurutnya, kebijakan ekonomi di suatu daerah harus disesuaikan dengan potensi yang ada di daerah itu. Misalnya, di Kota Kupang, ada dua sektor yang harus mendapat perhatian pemerintah kota, yaitu sektor jasa dan niaga.

Dalam dunia bisnis, Guido menyebut dua hal penting yang harus dilakuan, yakni spekulasi dan sindikasi. Spekulasi di sini dalam hal positif. Pinjam uang adalah spekulasi. Apakah bank menjamin kalau seseorang pinjam uang lalu akan berhasil, belum tentu. Hal penting yang perlu dilakukan oleh masyarakat, terutama kalangan dunia usaha, harus berani berspekulasi, baik dalam hal memproduksi barang maupun menjual hasil-hasilnya.

Selain itu, lanjutnya, harus berani melakukan sindikasi dengan pengusaha di daerah lain, khususnya dalam memasarkan produk-produk yang dihasilkan dari potensi ekonomi yang ada di daerah ini. Jadi, sindikasi yang dimaksud di sini adalah membuat jaringan bisnis.

Pengusaha kecil, misalnya Alauddin H Kamaluddin, Direktur CV Bumi Cendana, yang memroduksi sepatu dan tas kulit, bisa menembus pasar nasional dengan membuka cabang di Pasar Tanah Abang-Jakarta.

"Pak Alauddin bisa terobos pasar nasional karena ada sindikasi dengan pengusaha di sana. Ini sindikasi yang positif untuk memasarkan produk-produk lokal dari NTT. Ini dua hal penting yang sebenarnya menjadi pegangan agar orang NTT itu berani dalam dunia usaha. Tetapi, dari pengamatan selama ini sebagai pelaku ekonomi, banyak orang NTT bisa omong, tapi takut berspekulasi dan takut melakukan sindikasi dengan dunia luar. Itu persoalan kita di NTT," kata Guido.

Terkait pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), Alauddin Kamaluddin, salah seorang pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Kota Kupang-- memroduksi sepatu dan tas kulit, serta spring bad--, punya kiat tersendiri.

Untuk menjalankan bisnis, Alauddin merekrut dan melatih sejumlah angkatan kerja yang masih menganggur agar mereka memiliki keterampilan. "Di tempat usaha saya di Kampung Meleset, Namosain-Kupang, saya melatih sejumlah tenaga kerja agar memiliki keterampilan seperti yang saya miliki. Untuk hal ini, saya bekerja sama dengan Sub Dinas Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Nusa Tenggara Timur (NTT)," ceritanya.

Kasubdin PLS Dinas Dikbud NTT, Ir. Marthen Dira Tome, diakuinya, memfasilitasi pelatihan keterampilan dimaksud agar para tenaga kerja pengangguran memiliki keterampilan yang dapat menjadi sumber hidup bagi dirinya dan keluarga.

"Tapi, melatih para tenaga penganggur itu sangat susah. Etos kerjanya lemah sekali. Saat sedang dilatih, misalnya, mereka terima SMS (pesan singkat) lalu pergi dan tidak kembali lagi. Yang saya alami, lebih baik melatih para tenaga penganggur yang adalah anak-anak desa daripada anak-anak kota. Tapi intinya, etos kerja anak-anak di NTT lemah sekali. Padahal etos kerja dan motivasi diri sangat penting untuk membuat sesuatu menjadi lebih bermakna," ujarnya.

Untuk menciptakan SDM yang berkualitas dengan etos kerja yang memadai, pada tahun 2008 ini Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) NTT menerapkan program three in one, yakni pelatihan, sertifikasi dan penempatan. Sesuai rencana, dalam program ini sekitar 5.000 angkatan kerja lokal akan digembleng mengikuti pelatihan sesuai kebutuhan pasar kerja. Pelatihan yang diberikan, antara lain pertukangan, kelistrikan, las, ukir kayu, penangkapan ikan, tukang batu, tukang kayu, menjahit, pelatihan mengolah makanan dan minuman, serta otomotif.

Tiga domain
Pengamat ekonomi dari Undana, Dr. Fred Benu berpendapat, ada tiga domain yang menentukan keberhasilan (usaha) masyarakat NTT, baik individu maupun tingkat yang lebih makro regional NTT. Domain pertama, kata Fred, adalah diri pelaku bisnis itu sendiri yang terkait dengan eros kerja. Etos kerja ini sangat terkait dengan perilaku pengusaha itu sendiri.

Domain kedua, konstruksi sosial, budaya dan struktur kelembagaan yang ada mendeterminasi suatu pelaku usaha tertentu untuk bisa eksis dan berkembang. Domain ketiga, sebut Fred, pada tataran pemerintah yang disebut dengan good governance.
"Bagi saya, berhasil atau tidak, entitas usaha tidak semata-mata ditentukan orang itu sendiri, pelaku bisnis itu sendiri, melainkan juga dideterminasi oleh konstruksi sosial, konstruksi budaya dan konstruksi struktur pemerintahan. Pada tataran domain pribadi, kita asumsikan konstruksi sosial, konstruksi budaya dan konstruksi struktur pemerintahan tidak berpengaruh, tergantung pada individu itu sendiri. Karena itu, diperlukan terobosan tertentu untuk menghilangkan stereotipe yang menghambat orang untuk berkembang. Cerita bapak dan ibu dalam diskusi ini menunjukkan bahwa eksisnya suatu entitas usaha bisnis perlu ada terobosan-terobosan, dan perlu mengambil risiko. Dan, itu adalah hasil dari upaya individu, bukan dalam sistem yang dibangun secara konstruktif mendorong kita semua untuk maju, bukan," kata Fred.

Menurut dia, pelaku bisnis bisa eksis karena berani mengambil risiko. Contohnya, Pak Uddin (Alauddin Kamaluddin, Red) berani mengambil risiko menerobos stereotipe, baik stereotipe dari konstruksi sosial budaya, personal dan etos kerja maupun pemerintahan yang dia terobos sampai ke pasar Jakarta.

"Kita baru bisa menjadi pemain besar kalau berani mengambil risiko. Hanya ikan besar saja yang main di tengah samudera, kita lebih banyak ikan kecil yang hanya bisa main di tepi danau," ujar Fred.

Fred benar. Selama kita main di tepi danau dan terus dihambat oleh konstruksi sosial budaya, tidak di-back up dengan kebijakan dan struktur pemerintahan yang cukup baik, maka kita tidak akan menjadi pemain besar. Tidak bisa menjadin ikan besar yang mainnya di tengah samudera.

"Kita lihat Pak Udin, sudah main di tengah samudera, tapi bisa eksis atau tidak. Kalau dia (Pak Udin, Red) bermain sendiri dan bukan merupakan hasil kreasi dari suatu sistem, jangan sampai suatu saat dia turun kembali ke tepi danau. Kita bicara ini bukan barang baru," tegasnya.

Fred mengakui, forum diskusi Pos Kupang ini tidak menghasilkan barang baru bagi kita semua, khususnya bagi pemerintah. "Kita sadar itu. Sadar ada semacam gap antar kesadaran berpikir dengan realitas perilaku pengambil kebijakan. Pemerintah bukan tidak pahami ini, apa yang harus dilakukan," tegas Fred. Artinya, selama 50 tahun orang NTT belum puas untuk bermain dan menari di tepi danau. Sampai kapan? (Hermin Pello, Frans Krowin, Hyeron Modo/bersambung)

Pos Kupang edisi 4 Juli 2008, halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes