Lupa


SEMBAB menghiasai wajah Nanda. Di tengah renai hujan, dia menatap nanar ke arah alat berat yang sedang menghancurkan dinding gedung yang roboh. Di dalam reruntuhan beton itu, kemungkinan besar Fitria (14), anaknya, terperangkap.

Nanda duduk tak jauh dari reruntuhan bangunan bimbingan belajar GAMA. Gedung di Jalan Proklamasi Padang itu merupakan salah satu dari ratusan bangunan yang runtuh ketika gempa 7,6 Skala Richter (SR) melanda Padang, Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009) lalu. Di dalam reruntuhan selain Fitria, juga terdapat puluhan murid yang terperangkap.

Tidak banyak yang bisa dilakukan orangtua seperti Nanda, selain duduk memandangi mesin pelubang beton dan puluhan petugas yang berusaha menyingkirkan puing reruntuhan demi menemukan korban. Ada harapan, meski terasa mustahil, melihat Fitria ditemukan dalam keadaan hidup. Sampai hari keempat pasca gempa, Nanda mulai pasrah. Dari 100 orang yang terperangkap di gedung GAMA, baru 50 korban tewas yang dievakuasi. Sisanya masih tertimbun reruntuhan. Nasib yang sama menimpa 200 orang di Hotel Ambacang, 30 orang di Pasar Raya dan 300 lainnya di Gunung Tigo, Padang Pariaman.


Total korban tewas akibat gempa Padang diperkirakan lebih dari 1.000 orang dan sejauh ini belum sampai 50 persen yang dievakuasi. Memilukan. Begitulah perasaan kita setiap kali bencana alam merenggut nyawa sesama. Dalam bulan September 2009 saja dua kali gempa besar melanda Indonesia. Tasikmalaya remuk pada 2 September. Dan, 30 September 2009, air mata tumpah di ranah Minang. Keesokan harinya, 1 Oktober 2009, gempa kembali mengguncang Jambi dan sekitarnya dengan kekuatan serupa.

Gempa Padang dan Jambi itu menggenapi kenyataan betapa kerak bumi Indonesia retak pecah tak karuan dalam waktu empat tahun terakhir. Sejak gempa disertai tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 26 Desember 2004, tercatat 12 kali gempa berkekuatan di atas 7 SR melanda RI. Setelah gempa NAD yang menelan korban lebih dari 130 ribu jiwa, korban kedua terbesar adalah gempa Yogyakarta 9 Agustus 2007 dengan korban 5.000 jiwa.

Sejak lama pakar gempa telah mengingatkan bahwa wilayah Indonesia berada di atas kulit bumi yang rapuh. Di sini ada empat lempeng bumi yang saling bertubrukan sehingga gempa merupakan peristiwa alam yang pasti terjadi secara periodik. Dengan pergerakan lempeng secara konstan 7 cm per tahun, maka tinggal menunggu giliran daerah mana lagi yang bakal jadi target gempa berikutnya. Soal kepastian waktu tak seorang pun tahu. Yang pasti gempa hadir tak terduga, cepat dan gesit meremukkan apa saja.

***

TEROR gempa ada di depan mata, tetapi beranda Flobamora agaknya diam-diam bahkan santai saja sejak gempa dan tsunami melanda Flores 12 Desember 1992. Kita sudah lupa. Lupa ditakdirkan hidup di tengah Cincin Api, kawasan yang dikelilingi gunung berapi dan lempeng tektonik aktif. Kita lupa hidup bersama gempa setiap detik. Lupa bahwa gempa bumi bisa datang kapan saja.

Hari Minggu kemarin gempa mengguncang Papua Barat dan Gorontalo. Jangan-jangan malam ini, besok atau lusa gempa bumi meluluhlantakkan beranda Flobamora! Tuan dan puan waspada? Beta tidak begitu yakin tentang itu.

Sudah terbukti di mana-mana, kebanyakan korban gempa tewas karena tertimpa bangunan atau tanah longsor. Tujuh belas tahun lalu ketika gempa bumi dan tsunami melanda Flores, kencang nian tekad pemerintah dan masyarakat NTT membangun rumah atau fasilitas umum dengan konstruksi tahan gempa. Model rumah dan bangunan tahan gempa disosialisasikan. Bahkan diujicoba ketahanannya terhadap gempa bumi berkekuatan dahsyat di atas 7 SR. Besar harapan pemerintah dan masyarakat NTT menjadikan model bangunan tahan gempa itu sebagai pedoman membuat kebijakan publik yang sadar gempa. Hari ini semua orang sudah lupa!

Waktu itu para pakar gempa bumi, baik dari dalam maupun luar negeri memberikan solusi serta rekomendasi antara lain, mendorong akademisi rutin melakukan riset gempa di NTT. Melalui riset bisa diperoleh gambaran utuh tentang kawasan rawan gempa. Melalui riset pemerintah dapat membuat pemetaan wilayah yang boleh dan tidak boleh jadi daerah hunian atau perkantoran. Dengan pemetaan jelas, program relokasi penduduk dapat dijalankan.

Pasca gempa bumi dan tsunami 12 Desember 1992, program mitigasi (suatu upaya meminimalkan dampak bencana) berkumandang nyaring di NTT. Penduduk mesti dilatih terus-menerus agar siaga terhadap bencana. Sadar dan siaga bencana mesti menjadi bagian dari gaya hidup orang NTT. Apa hasilnya? Lagi-lagi rekomendasi 1992 sekadar macan kertas. Seiring berlalunya waktu, beranda Flobamora kembali terserang penyakit lupa.

Coba periksa hari ini di mana ada rumah penduduk dengan konstruksi tahan gempa? Di mana bangunan sekolah, rumah ibadah atau perkantoran tahan gempa? Di kampung halaman kita berlaku formula ini: Rumah setengah tembok disambung dinding kayu atau bambu bukan rumah. Apalagi rumah berdinding bebak. Itu tanda orang papa. Rumah identik dengan beton. Rumah mesti terbuat dari adonan semen, kerikil, pasir, batu, air dan besi. Takarannya? Ah, terserah siapa yang punya rumah dan bangunan. Tahan gempa atau tidak cukup pakai rasa, bukan nalar.

Di sini banyak arsitek hebat. Konsultan konstruksi cerdas. Kita kaya pakar di Dinas Pekerjaan Umum. Pernahkah mereka berpikir tentang desain bangunan tahan gempa? Serius menjadikan konstruksi tahan gempa sebagai syarat mutlak dalam Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di daerah rawan gempa? Lupa. Lagi-lagi kita lupa sesuatu yang bisa membunuh kita secara massal kapan saja.

Tatkala bencana melanda, kita cenderung mengutuk alam. Mestinya ramai-ramai mengutuk pembuat kebijakan publik (pemerintah dan DPRD) yang tidak sadar itu. Yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman serta sukses bangsa lain seperti Jepang yang piawai merancang bangunan elastis. Berapapun kuatnya gempa, bangunan di Jepang siap mengikuti irama yang dimainkan gempa. Tanpa rontok dan kecil kemungkinan menimbun penghuninya.

Teringat nenek moyang dulu yang bangun rumah panggung di dusun dari bahan lokal. Rumah sederhana tapi tangguh melawan gempa. Padahal mereka tidak sekolah, tidak belajar arsitektur di universitas, tidak bergelar doktor dan profesor. Siapa lebih cerdas dibandingkan tuan dan puan sekarang? Tuan hidup di zaman GPS yang mampu melihat pergerakan kerak bumi dari menit ke menit. Nah, siapa lebih primitif? Maaf, lupaaa! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 5 Oktober 2009 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes