Wisata Payudara di Flores

WISATA di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur tentu belum banyak terdengar di telinga para turis. Padahal, keunikan budaya dan alam yang tersebar di enam wilayah kecamatan tersebut tak kalah dengan obyek wisata di belahan Nusantara yang lain.

Obyek wisata Watu Susu Rongga misalnya. Obyek wisata ini berada di Kecamatan Kota Komba, terdapat di Kelurahan Watunggene, Manggarai Timur. Di lokasi ini dapat ditemui sebuah batu raksasa yang bentuknya sangat mirip dengan (maaf) payudara. Lokasinya berada di lereng Gunung Komba.

Untuk mencapai batu unik ini, pengunjung harus berjalan kaki selama empat jam menyusuri lereng gunung, atau berkuda selama sekitar tiga jam. Kepala Bidang Pengembangan Sumber daya dan Produksi Wisata (Destinasi) di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur, Damasus Ndama, Jumat (27/7/2012) mengaku, ia bersama enam staf dan sejumlah wisatawan domestik mengunjungi lokasi "Batu Susu" tersebut.

"Kami diundang organisasi pengelolaan destinasi Paradise on Earth Kabupaten Manggarai Timur untuk mengunjungi objek itu dengan horse trekking (perjalanan wisata berkuda)," katanya. "Selama perjalanan kami melewati tempat ribuan kerbau yang berada di Wae Mausui," kata Ndama lagi.

Setelah itu, rombongan dan wisatawan serta wartawan menikmat padang Mausui yang sangat luas dengan pemandangan yang sangat indah. "Selama berkuda di padang Mausui, kami menikmati ribuan kuda yang sedang makan rumput. Sungguh selama perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan yang indah," kata Ndama.

Ndama lalu menuturkan, sejauh mata memandang terlihat kemegahan alam, yakni Gunung Komba, Lembah Mausui, Pantai Waewole dan padang. Selain itu masih ada kemegahan Gunung Inerie di Kabupaten Ngada.

Sebelum tiba di dua batu raksasa itu,  pengunjung dapat singgah di situs bersejarah yakni kuburan tua Jawa Tu (pahlawan perang Komba), dan 20 anak tangga. "Terakhir kami melihat situs Istri Jawa Tu dan kuburan adiknya Nai Pati (pahlawan perang Komba)," katanya.

Ketua Paradise on Earth Kabupaten Manggarai Timur, sekaligus senior guide, Fransisco Huik De Rosari menjelaskan, obyek batu susu rongga menjadi salah satu tempat yang bisa 'dijual' kepada para turis mancanegara dengan program horse trekking. "Saya sudah beberapa kali ke sana dengan program horse trekking dengan tamu asing, dan domestik. Wisatawan mengagumi obyek wisata budaya itu. Namun, perlu penataaan dan promosi secara bersama kepada publik serta akses masuk ditata dengan baik," tuturnya.

Kepala Suku Ngeli selaku pemilik situs kuburan Tua, Jawa Tu dan Nai Pati serta Watu Susu Rongga, Gaspar Jala menuturkan, cerita secara turun temurun bahwa dua batu raksasa berbentuk payudara itu, terjadi saat perang Komba. Konon, di antara Gunung Komba dan gunung kecil lainnya terdapat lubang besar. Lalu, leluhur berinisiatif untuk menutup lubang itu dengan dua batu raksasa tersebut.

Namun ada syarat yang menyertai penutupan itu, yakni, selama batu di angkat dari wilayah pesisir pantai, semua orang harus diam dan tak boleh bicara kotor. Tak diduga, seorang perempuan yang tak mengetahui hal itu berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kotor, setibany di lereng Gunung Komba . Seketika itu juga, kedua batu itu tidak bisa diangkat dan menancap ke tanah, hingga saat ini.

Staf Progam Officer Tourism Object dan Marketing Swisscontact Labuan Bajo, Annaas Firmanto mengaku senang dengan perjalanan menuju ke Watu Susu Rongga. Mulai dari Mbolata, acara adat di rumah Kepala Suku Ngeli, Gaspar Jala, pesisir Pantai Waewole yang indah, tempat ribuan kerbau yang menikmati airnya di bawah Lembah Mausui. Lalu, ada Lembah Mausui dan padang belantara Mausui dengan ribuan kuda dan sapi yang sedang makan rumput hijau.

"Saya menikmati wisata ke Watu Susu Rongga dengan alamnya yang indah. Di sana tempat yang sangat unik bagi wisatawan," kata Firmanto.

Firmanto lalu menyarankan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Paradise On Earth Kabupaten Manggarai Timur bersama dengan tua-tua adat dan Pemerintah Kelurahan Watunggene membuat papan informasi yang lengkap dengan cerita-cerita sejarah Watu Susu Rongga tersebut.

Sementara, menurut Ndama, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bersama dengan mitra kerja seperti organisasi pengelolaaan destinasi (Destination Management Organization-DMO) harus memiliki kemauan untuk mengembangkan dan mempromosikan obyek wisata yang begitu indah tersebut kepada wisatawan. (*)

Sumber: Kompas.Com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes