Tsunami Merenggut Kekasih Jumali...

Pulau Babi, Mei 2012 (foto Kompas)
LAUT sebening kaca. Pantai berpasir putih. Ikan warna-warni berseliweran di antara terumbu karang. Namun, bagi warga Pulau Babi, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, keindahan itu hanya masa lalu. Sudah 10 tahun ini mereka meninggalkan pulau permai yang mengapung di Laut Flores itu.

Jumali (42) hanya delapan bulan mengecap kebersamaan dengan Wasa’a, istrinya yang saat itu mengandung enam bulan. Gempa dan tsunami yang melanda Pulau Babi pada 12 Desember 1992 telah merenggut kebersamaan pengantin baru itu. ”Sejak hari itu saya tak pernah melihat istri saya,” kata Jumali, warga Pulau Babi.

Tsunami yang melanda sekitar pukul 14.00 WITA menewaskan 263 orang atau seperempat penduduk Pulau Babi yang berjumlah sekitar 1.000 orang. Pulau Babi merupakan pulau kecil yang berdiameter sekitar 2,5 kilometer dan berjarak 5 kilometer di utara Flores.

Adapun di seluruh Kabupaten Sikka, korban tewas diperkirakan 2.100 jiwa.

Petaka tsunami itu bermula dari gempa berkekuatan 7,8 skala Richter yang tiba-tiba mengguncang. ”Guncangannya kuat sekali,” kisah Jumali, yang saat kejadian tengah mencari nener, anakan bandeng, di tepi Pantai Tanjung Darat, Pulau Flores.

Begitu gempa mengguncang, air laut surut sekitar 100 meter dari bibir pantai. Sepuluh menit kemudian tsunami datang.

”Begitu gempa, saya bersama teman-teman lari ke gunung, kurang lebih 300 meter dari pantai,” katanya. Jumali pun melihat gelombang laut menghajar Pulau Babi. ”Saat itu juga langsung lemas karena saya pikir kampung kami pasti tenggelam,” kata Jumali.

Di Pulau Babi, tsunami dirasakan seperti kiamat. ”Begitu air laut naik, saya mencoba lari. Tetapi, tahu-tahu, saya sudah dihanyutkan air hingga tersangkut di puncak pohon kelapa,” kata Iradat (27), warga Pulau Babi.

Saat kejadian itu, Iradat masih duduk di kelas III sekolah dasar. Dia kehilangan tiga anggota keluarga, yakni Bute (bibi), Fitri (adik), dan Sunanti (kakak). ”Kejadiannya seperti mimpi, serba singkat dan tiba-tiba semuanya sudah habis,” ujarnya.

Nurdin Buton, warga lainnya, juga mengalami nasib serupa. Nurdin tersapu tsunami ketika hendak mengambil Base, kakaknya, dan Bongko, istrinya yang sedang hamil tiga bulan.

Nurdin sempat membawa Johora, mamanya yang lumpuh, menuju masjid. Namun, saat hendak mengambil kakak dan istrinya, tsunami sudah menerjang. Bahkan masjid yang dijadikan tempat pengungsian itu roboh disapu gelombang.

Nurdin pingsan saat tsunami menghanyutkannya. Dia baru sadar ketika air laut sudah surut dan dirinya tersangkut di bukit. Mayat bergelimpangan, sebagian terperosok ke dalam rekahan tanah. Di rekahan itulah mayat kemudian dikubur massal.

Dikosongkan

Pada hari-hari itu, warga Pulau Babi yang selamat harus berjuang sendiri. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sikka dan TNI baru tiba di pulau itu tiga hari kemudian. Saat itu pula semua warga selamat langsung diungsikan ke Desa Nebe dan Nangahale.

Saat ini, pengungsi dari Pulau Babi itu mendiami tanah milik Keuskupan Agung Ende seluas 10 hektar yang kemudian dihibahkan kepada pemerintah. Permukiman baru itu diresmikan istri Presiden RI saat itu, Tien Soeharto, tahun 1993.

”Pulau Babi sekarang tidak ditinggali, hanya ada beberapa gubuk untuk singgah warga yang ingin menengok kebun atau ternak,” kata Jais, Kepala Desa Nangahale. Warga yang dicekam trauma mendalam tak berani kembali menetap di Pulau Babi.

Namun, kehidupan di Nangahale ternyata tidak mudah. Kampung itu menjadi salah satu kantong kemiskinan di Sikka. Selain nelayan kecil, kebanyakan warga bekerja sebagai kuli di kota dan membuat garam dengan merebus air laut. Bahkan, hingga kini masih banyak yang belum dapat kepastian status tanah yang ditinggali di Nangahale.

Teddy Boen, Senior Advisor of World Seismic Safety Initiative, dan Rohit Jigyasu, arsitek dan konsultan konservasi, memublikasikan hasil penelitiannya tahun 2000 yang mengkritisi model relokasi Pulau Babi pascagempa dan tsunami.

Keduanya mempertanyakan sistem relokasi yang tidak disiapkan dengan baik. ”Relokasi tidak sekadar memindahkan orang dan keluarga, tapi seharusnya memindahkan komunitas,” papar Teddy dan Rohit.

Warga Pulau Babi itu dihadapkan pada pilihan sulit. Itu yang membuat sebagian warga nekat pulang-pergi dari Nangahale ke Pulau Babi tiap pekan. ”Aih..., kalau saya tidak ke Pulau Babi, apa yang bisa saya makan? Sulit cari kerja,” kata Darmi (45), warga yang membangun gubuk singgah di Pulau Babi.(Amir Sodikin/Samuel Oktora/Ilham Khoiri/Ahmad Arif)

Sumber: Kompas.Com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes