Kisah Hidup Perempuan Tangguh

Suami dan anak-anak sempat melarang dia  menggeluti pekerjaan itu. Namun tekad Mima mengalahkan argumentasi orang-orang yang dicintainya.

LANGIT pada Kamis (11/7/2013) siang sedang berawan. Matahari sembunyi di balik awan. Saat  melintasi pangkalan ojek Patung Kuda Paal Dua Manado, mata terhenti pada pemandangan yang tidak biasa. Di antara para tukang ojek yang sedang duduk, ada sosok yang berbeda dan tidak biasa.

Sosok itu adalah Mima Ulak (45), wanita yang bekerja di dunia para lelaki  sebagai  tukang ojek. Belum banyak wanita yang mau menggeluti pekerjaan itu. Hanya mereka yang punya harapan dan keyakinan seperti  Mima. Pada waktu senggangnya, Mima pun bertutur mengenai kisah hidupnya kepada Tribun Manado.

November 2009 menjadi bulan yang mengubah hidup Mima. Saat itulah Mima memutuskan menjadi tukang ojek. Mima membeli sepeda motor yang kemudia mendapat pelat nomor polisi DB 9083 M. Awalnya kendaraan itu untuk operasional diia dan keluarganya. "Saya pikir-pikir kalau motor hanya didiamkan, rugi. Bagaimana caranya bisa menghasilkan rupiah dari motor itu," kenangnya.

Tukang ojek jadi pilihannya. Suami dan anak-anaknya sempat melarang dia  menggeluti profesi yang menantang bahaya tersebut. Namun tekad Mima mengalahkan argumentasi orang-orang yang dicintainya. "Saya sudah biasa kerja berat, jadi kalau cuma tukang ojek saya yakin pasti bisa," katanya.

Kerasnya hidup sudah dirasakan Mima sejak usia 10 tahun. Mima tinggal dengan orang lain untuk bekerja, jauh dari keluarganya. Bisa dikatakan sebagai pembantu karena pekerjaan yang dilakukannya persis seperti pembantu rumah tangga. Bersih- bersih rumah, cuci piring dan pakaian dan lain-lain. Sambil kerja, Mima disekolahkan. "Saya sudah terlatih sejak umur sepuluh tahun," katanya. Sebelumnya Mima pernah bekerja di pabrik sebagai buruh. Kemudian ia berhenti dan merintis usaha warung dan kantin di rumah. "Saya biasa bekerja, setelah buka usaha lebih banyak diam. Rasanya gerah kalau terus seperti itu," kata warga Kelurahan Paal 2 Manado ini.

Saat pertama mengojek Mima memilih-milih penumpang. Hanya penumpang perempuan yang dilayananinya dengan pertimbangan keamanan. "Tapi kalau saya seperti itu terus, nanti saya tidak dapat uang," ungkapnya. Kemudian ia memberanikan diri  melayani penumpang lelaki. Walau demikian, ia tetap berhati-hati.  "Lebih cenderung melayani langganan, kalau orang baru dan jaraknya terlalu jauh saya oper ke teman-teman lain," ujarnya.

Mima mengaku, awalnya banyak penumpang yang kaget saat mengetahui dia yang akan mengantar mereka. "Di pangkalan kan ikut  jalur," kata Mima. Dulunya ada calon penumpang yang  sempat menolak untuk diantar. "Mungkin mereka takut atau malu," ujarnya sambil tertawa.  Mima kerap dilempari pertanyaan mengapa jadi tukang ojek. "Saya balik bertanya  pada mereka, mana lebih baik bekerja seperti ini atau seperti perempuan yang malam-malam berdiri di pinggir jalan untuk menjajakan diri. Mereka diam dan membenarkan pernyataan saya," kata Mima yang kini sudah memiliki banyak pelanggan tetap.

Mima mengojek setiap hari mulai dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam. Namun, sesibuk-sibuknya ia mengojek, tetap ada waktu ia luangkan untuk beribadah. "Ibadah di gereja juga ibadah-ibadah lain," ungkapnya. Hujan tidak menghalangi untuk bekerja, jas hujan dipakainya untuk menerjang hujan. Walaupun ia mengaku pendapatan saat hujan tidak sebanyak saat cuaca  sedang cerah.

Duka sebagai tukang ojek dialaminya. Ban pecah, habis bensin atau motor bermasalah sering dialaminya. Kecelakaan pun pernah, namun tidak berakibat fatal. "Puji Tuhan saya tidak apa-apa, hanya jatuh saja untuk menghindari kendaraan berlawanan arah yang melaju kencang," tuturnya. Mima mengaku, pendapatan per hari rata-rata Rp 300 ribu.  Bisa sebanyak itu karena ia banyak pelanggan. Malah ia mengalahkan pendapatan tukang ojek lain di Pangkalan Patung Kuda Paal Dua.

Mima adalah ibu dari empat orang anak. Dua anak tertua yanglaki-laki sudah bekerja dan berada di luar kota.  Sisanya dua perempuan masih di kelas 10 dan 12 SMA. Suaminya  bekerja sebagai guru Sekolah Dasar.  "Kalau mau di pikir-pikir sebenarnya pendapatan suami saya sebagai guru mencukupi. Hanya saya tidak mau diam di rumah. Lagian pendapatan suami saya kan bulanan, saya harian jadi kami bisa saling menopang kebutuhan keluarga kami," katanya.

Suaminya ke sekolah, ia mengojek, kedua anak perempuannya yang mengerjakan pekerjaan rumah. Mima berkata ia sudah membekali kedua anaknya untuk mandiri. "Bahan-bahan sudah tersedia, mereka tinggal masak saja. Kadang saya dan suami saya ditelepon lalu ditanya mau dimasakkan apa," ucapnya bangga.

"Saya sadar betul akan bahayanya pekerjaan ini. Kehati-hatian dan doa yang membuat saya terus kuat sampai hari ini. Saya pasti akan kembali seperti semula, menjadi ibu rumah tangga seperti dulu melayani anak-anak dan suami. Saya tidak mungkin akan terus-terusan bekerja seperti ini, karena  semakin hari saya semakin menua. Tunggu saja, saya menabung dari sekarang agar nanti setelah saya tidak bekerja sebagai tukang ojek lagi, uangnya bisa berguna untuk keluarga juga bagi kelanjutan pendidikan anak- anak saya," kata Mima menutup pembicaraaan dengan Tribun Manado lalu melayani seorang penumpang. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 12 Juli 2013 hal 1

Kalau Stres Carilah Tuhan

Uskup Manado Mgr Jpseph Suwatan MSC
MANADO, TRIBUN -  Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan MSC mentahbiskan tujuh iman baru di Gereja Katedral Manado, Sabtu (6/7/2013). Upacara tahbisan yang diikuti ribuan umat Katolik tersebut berlangsung hikmat dan meriah.

Ketujuh imam baru tersebut terdiri dari tiga imam diosesan (Projo) dan empat imam biarawan dari Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC) yaitu Pastor  Lucky Singal, Pr, Pastor Andreas Rumayar, Pr,  Pastor  Juvensius Obosan, Pr, Pastor  Kanisius Kuntag, MSC, Pastor  Gonsvel Simon Manumpil, MSC, Pastor  Fransiskus Melky, MSC dan Pastor  Anton Kaseger, MSC.

Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan dalam kotbahnya  mengingatkan imam baru tentang tugas perutusan. Perutusan itu seperti membebaskan yang tertawan, memberi penglihatan kepada orang-orang buta dan membebaskan orang yang tertindas. Sebagai imam baru, mereka diingatkan untuk mencari cara bagaimana mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus sebagai imam besar.

"Mereka harus ambil bagian dalam tritugas Yesus yaitu imam, nabi dan raja. Mereka harus mampu menguduskan, mewartakan dan memimpin. Dalam hal itu imam baru harus bertindak rendah hati," demikian Uskup Suwatan.

Menurut uskup, sering terungkap banyak yang terpanggil tapi sedikit yang terpilih. Memang dari seminari kecil (SMA), jumlah mereka yang mau menjadi calon imam jumlahnya sangat banyak. Tetapi yang ditahbiskan tidak banyak. "Akhirnya seperti tujuh saudara ini, hanya sedikit yang dipilih padahal kebun anggur Tuhan sangat besar. Karena itu Tuhan meminta kita untuk berdoa,"katanya.

Dalam keterpanggilan itu, kata uskup kita juga harus menyadari keterpilihan  bukan hanya terjadi oleh  kehendak orang yang terpilih. Tapi Tuhanlah yang memilih. Dalam arti itulah dikatakan orang-orang pilihan Tuhan. "Mereka yang terpilih harus didampingi agar dapat melaksanakan tugas. Harus ingat  umat menghargai karena kalian telah melaksanakan tugas sebagai imam, nabi dan raja. Jadi kalian harus mawas diri. Jangan anggap diri sebagai orang luar biasa dan sombong,"tuturnya.

Uskup meminta agar pilihan ini dipakai untuk pelayanan. Ia meminta agar mereka seperti Yesus yang datang untuk melayani bukan untuk dilayani. "Seperti yang dilakukan bapa suci Fransiskus. Ia melihat keterpilihan dengan kerendahan hati. Bapak suci memberikan yang terbaik dalam pelayanannya,"katanya.


Uskup pun meminta agar imam baru tetap setia. Imam baru diharapkan untuk menerima persembahan dan mempersembahkan persembahan itu kepada Tuhan. Mereka harus mempersembahkan diri seperti persembahan Yesus di kayu salib.
"Ini terungkap dari simbol penyerahan patena, sibori dan perlengkapan misa lain di bagian paling akhir. Kadang kurang diperhatikan. Tapi di situ imam diminta untuk meneladani apa yang ia lakukan,"katanya.

Mencari Tuhan

Pastor Melky mengaku sangat bergembira mendapat tahbisan. Ia telah begitu lama mengalami proses diakonal. "Itu menambah pengalaman baru sebagai seorang misionaris. Justru itu menguatkan saya," kata imam yang berasal dari keuskupan Maumere dan anak dari Agustinus Min dan Ana Rismini.

 Pastor Anton, pastor pertama dari Paroki Airmadidi mengangapnya sebagai berkat Allah. Ia merasa Allah mencintainya. Banyak halangan yang dialami tapi dipilih oleh kasih Allah. "Karena itu moto tahbisan saya Gratia Dei Sum Quod Sum. Karena kasih karunia Allah, saya ada sebagaimana saya sekarang,"katanya.

Kebanggaan juga dirasakan Pastor Andre. Tapi baginya ia baru awal. Ia harus memberi kesaksian dalam kehidupan imamatnya. Pendapat senada diberikan Pastor Lucky. Ia akan menjalankan tugas sesuai anugerah tahbisan. "Kami datang untuk mengabdi  pada Tuhan dan sesama,"ujarnya.

Pastor Kiki yang berasal dari Bitung  menyebut tahbisan itu rahmat yang mengagumkan. Ia mohon selalu didoakan agar tetap setia pada panggilan imamatnya. Lambertus Kuntag, ayah pastor Kiki mengatakan tugas  imam tidak mudah. "Jangan lupa berdoa. Kalau stres cari dan datanglah kepada Tuhan. Tetaplah setia," ujarnya. (dma)

Manado, Sidney dan Jepang

RATUSAN imam dan ribuan umat memenuhi gereja Hati Tersuci Maria Katedral Manado saat acara tahbisan, Sabtu (6/7/2013). Para pastor hadir sebagai rekan tujuh imam baru yang baru saja ditahbiskan. Jumlah umat yang begitu banyak pun menambah meriah suasana.

Kekhusukan dan kemeriahan tampak sejak awal perayaan. Lagu Gregorian yang  mendominasi lagu ordinarium dan proprium membuat suasana tahbisan itu khusyuk. Liturgi tahbisan mengalir lancar mulai dari pengajuan calon sampai penyerahan tanda-tanda jabatan. Calon imam maupun orangtua mereka tampak bahagia. Yang bertugas mewakili umat ialah Ketua Kaum Bapa Katolik Keuskupan Manado yang juga Rektor Universitas Negeri Manado (Unima)  Prof Philoteus Tuerah bersama istrinya

Setelah penyerahan tanda-tanda jabatan, empat imam baru dari Tarekat Misionaris Hati Kudus dan tiga imam diosesan diperkenalkan kepada publik. Suasana sempat tegang ketika tempat berkarya diumumkan Pater Provnsial MSC Rolly Untu, MSC dan Uskup Manado Joseph Suwatan MSC. Pastor Rolly mengumumkan pastor Anthon Kaseger MSC ditempatkan kembali di Sidney,  melayani  komunitas Katolik Indonesia di sana.

Pastor Kanisius "Kiki" Kuntag ditempatkan kembali di Regio Jepang, tempat ia bertugas. Pastor Simon Manumpil MSC juga ditempatkan kembali di lembaga pembinaan calon imam Pra Novisiat MSC Pineleng. Sedangkan Pastor Fransiskus Melky MSC yang berasal dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur  ditempatkan di Sulawesi, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

"Penempatannya tergantung Pastor John Luntungan MSC,"katanya.
Uskup juga membacakan penempatan tugas imam dari Keuskupan Manado. Pastor Juventius Obosan, Pr ditempatkan di Paroki Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Sebelum ditahbiskan dia bertugas di sana.

 Pastor Lucky Singal Pr ditempatkan di Paroki Ignatius Manado.  Sedangkan Pastor Andre Rumajar, Pr yang bertugas sebelum tahbisan di paroki Nulion,  sekarang ditugaskan sebagai pembimbing rohani di Universitas Katolik De La Salle Manado.  (dma)


Sumber: Tribun Manado 7 Juli 2013 hal 1

Bisnis Amusemen Menjamur di Manado

ilustrasi
MANADO, TRIBUN - Meskipun didera kontroversi adanya indikasi perjudian, namun  bisnis amusemen kian marak di Kota Manado. Bahkan sejak awal tahun 2013 terus bermunculan tempat-tempat baru permainan mengumpulkan poin dengan mesin tersebut.

Menurut penelusuran Tribun Manado, setidaknya ada sembilan lokasi tempat bermain amusemen di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini. Lokasi pertama di bangunan depan Hotel Makmur (sudah tutup), dekat Polsek Wenang, bangunan depan lorong pencak Sam Ratulangi, dua ruko di Marina Plaza, salah satu ruko di Blue Banter, Lantai III Biliard Kaisar dan terakhir di salah satu ruko Megamas, tak jauh dari lapangan futsal.

Lalu mengapa bisnis yang diduga berindikasi perjudian ini begitu menjamur? Sumber Tribun Manado berinisial IN mengungkapkan, bisnis amusemen begitu mengiurkan. Bila sedang ramai pengunjung, omset sehari bisa mencapai Rp 100 sampai 200 juta. Investasinya pun terbilang murah. Untuk satu lokasi amusemen cukup membutuhkan modal Rp 200 juta. "Dalam sebulan, dua bulan sudah bisa kembali modal itu," sebut IN.

Lebih lanjut dijelaskannya, biaya operasionalnya cukup menyewa ruko, membayar listrik, karyawan dan pengurusan izin di sejumlah instansi di Pemerintah Kota (Pemko)  Manado. "Ruko dan listrik berapa sih? Karyawan sehari bayar Rp 80 ribu sampai 100 ribu, lalu bayar izin di instansi-intansi, selesai," kata IN.

Tentu saja, kata dia, komponen utama mesin amusemen. Bagi mereka yang sudah punya jaringan, mesin bisa diperoleh dari Jakarta. Bisa disewa, bisa pula langsung dibeli tunai.  "Sewa Rp 3,5 juta per mesin, kalau beli Rp 6,5 juta," jelasnya.  IN mengatakan urus izin di Pemko menggunakan jasa calo. Dengan dana  Rp 15 juta, izin game zone bisa dikeluarkan Pemko Manado.  "Jadi izinnya game zone, semacam time zone," ujarnya.

Menurut IN, kebanyakan investor amusemen adalah orang lokal Sulut. Namun diakuinya  setahun belakangan ini sudah muncul investor dari luar seperti Batam dan Makassar.  Para pemain pemain amusemen rata-rata orang dewasa dari berbagai kalangan. Ia sendiri mengaku sangat mengandrungi permainan amusemen. Kalau lagi asyik-asyiknya bermain, dalam hitungan jam bisa habis puluhan juta rupiah. "Pernah saya main lagi sial kalah Rp 10 sampai 20 juta. Itu main sehari. Pernah juga menang, sampai Rp 10 juta," kata IN.

Sebenarnya, kata dia,  bila dilihat tampilan permainan seakan tak menarik, namun entah kenapa  saat bermain dia merasakan ada kenikmatan "Menariknya berharap dapat poin tinggi dan menang," katanya. IN tak membantah ada unsur judi, karena hadiah untuk pemenang bukan barang-barang seperti yang dijanjikan justru poin yang dimenangkan ditukar uang tunai. "Menang tukar uang," sebut dia.

Tidak Ilegal
Tribun Manado pun menelusuri salah satu lokasi permainan amusemen, letaknya di lantai dua salah satu bangunan ruko di Blue Banter. Beda dengan bisnis lain memasang papan tempat usaha untuk menarik pengunjung, di lokasi ini justru tak ada. Memasuki lantai satu ruko terlihat kosong, hanya ada warung kelontong menyiapkan makanan kecil dan rokok. Tepat di depan pintu masuk tiga orang pria paruh baya duduk bermain kartu. Mereka terlihat seperti penjaga pintu masuk.
Lokasi bermainnya di lantai dua. Memasuki ruangan suasana remang-remang, jalan masuk cahaya dari jendela ditempeli poster-poster tokoh game produk konsol playstation.Setidaknya ada puluhan mesin amusemen mengitari hampir seluruh ruangan. Namun ada tiga mesin berbeda di bagian tengah ruangan.

Hampir seluruh mesin amusemen menawarkan permainan poker. Namun ada sebuah mesin menawarkan permaina balap ikan, semacam pacuan kuda tapi karakternya terdiri dari kepiting, kura-kura, ikan lele, ikan mas koi, belut, dan lele. Khusus mesin itu bisa dimainkan 8 orang sekaligus.

Satu mesin khusus lain dimainkan juga oleh 8 orang. Setiap pemain diharuskan menembak ikan untuk mengumpulkan poin.Satu mesin khusus terakhir semacam mesin permainan poker namun dipandu dengan tulisan mandarin. Khusus mesin-mesin tersebut didampingi oleh karyawati muda yang bertugas  memandu pemain pemula.

Ditemui Tribun Manado, Tommy, pengawas amusemen mengungkapkan, bisnis yang dijalaninya tersebut murni game zone, ia memberi nama Big Time zone. Pria berkumis ini menolak bila dikatakan game zone yang dikelolanya ada unsur judi.
"Ini hanya permainan biasa tidak ada unsur perjudian, makanya kami taruh di situ (stiker di dinding) di larang berjudi. Yang menang bisa bawa pulang hadiah," ujar Tommy sembari menujuk kumpulan hadiah yang disiapkan.

Hadiah tersebut diletakkan di satu meja, terdiri dari bermacam-macam barang elektronik, lengkap dicantumkan jumlah poin yang harus ditukar untuk membawa pulang hadiah tersebut. Tommy membantah, kalau poin yang dimenang pemain ditukar uang tunai.

"Di sini diutamakan hadiah, kepada pemenang. Istilahnya belum ada sistem begitu (tukar uang). Tujuan mesin ini cuma permainan siapa menang bawa pulang hadiah," kata dia. Bisnis ini pun kata Tommy bukan ilegal, ia mengantoingi izin usaha dari berbagai instansi Pemko Manado. Ada izin dari Kesbangpol, Dinas Pariwisata, Surat Izin Usaha Perdangan (SIUP), Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, bahkan ada surat keterangan fiskal. Untuk meyakinkan usahanya legal, seluruh izin tersebut ditempel di dinding.

Untuk jam operasional, kata Tommy,  dimulai pukul 10.00 sampai 22.30 Wita. Meski bertajuk game zome, namun hanya orang dewasa yang diizinkan masuk, "Anak-anak tak dizinkan ke dalam, dari bawah saja sudah dicegat. Apalagi yang masih berseragam sekolah, ini aturan yang ditetapkan perusahaan," ujarnya. (ryo)


Kapolda: Akan Ditindak


KEPALA Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut, Brigjen Pol Robby Kaligis menegaskan walaupun mengantongi izin dari pemerintah, kepolisian  akan menindak bila ada unsur perjudian dalam permainan amusemen. Jajaran Polda Sulut kini gencar melakukan razia tempat permainan yang terindikasi judi.

"Operasi ini akan dilakukan terus-menerus," kata Kapolda kepada Tribun Manado, Kamis (4/7). "Judi itu untung-untungan. Kita punya etika baik sehingga jangan diberi kesempatan. Ada perintah Mabes Polri bahwa segala bentuk perjudian harus kita ditindak," tegasnya.

Mengenai izin amusemen, kata Kaligis,  kepolian akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. "Itu yang saya bilang, dikoordinasikan dengan pihak Pemda dengan tentunya membawa bukti. Jika dalam ditemukan unsur judinya, itu akan diterapkan pasal 303 KUHP," katanya.

Direktur Reskrim Umum Polda Sulut, Kombes Pol Jeffry Lasut saat ditemui terpisah mengungkapkan pihaknya telah melakukan operasi di Bitung. Dua amusemen di daerah tersebut diamankan polisi karena tidak memiliki izin.
Di Manado, kata Lasut, sebenarnya akan dilakukan razia. Namun, rencana  operasi tersebut bocor sehingga beberapa tempat permainan ketangkasan langsung tutup. "Belum operasi saja saya dengar sudah tutup," tuturnya.

Menyikapi rencana kepolisian memerangi penyalahgunaan amusemen sebagai bisnis perjudian,  Pemko Manado melalui Sekretaris Kota (sekot) Ir Haefrey Sendoh mengatakan, masalah itu sudah didiskusikan dengan Kapolres Manado.
"Kami sudah diskusikan dengan Kapolres. Pada prinsipnya kami  mengeluarkan izin sesuai dengan peruntukan. Bila ditemukan tidak sesuai dengan peruntukan maka sanksi akan dijalankan mulai dari teguran sampai ke pencabutan izin," kata Sendoh di Hotel Peninsula Manado, Kamis (4/7/2013).

Diakuinya,  pejabat Pemko Manado seperti asisten II dan kabag perekonomian telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lapangan untuk mencari tahu penyagunaan amusemen. "Pada saat kami sidak,  tidak ditemukan penyalahgunaan. Kami  harus menyamar dalam tanda petik untuk mencari tahu lagi," tuturnya.

Dia mengimbau pemegang izin amusemen agar menggunakan izin sesuai aturan. "Kepada masyarakat gunakanlah untuk ketangkasan bukan judi. Kerja sama dan dukungan sangat diperlukan supaya apa yang dikuatirkan oleh berbagai pihak dapat diminimalisir," tandasnya. (kev/crz)

Sumber: Tribun Manado 5 Juli 2013 hal 1

Alce Berikan Dana BLSM untuk Penderita Stroke

Menurut Ani, mereka sempat kaget kala mengetahui kalau orangtua mereka menerima bantuan tersebut.

HIRUK-pikuk penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk rakyat miskin menyembulkan fakta menarik di Manado, Sulawesi Utara.

Dua dua warga Lingkungan I Kelurahan Kombos Timur Kecamatan Singkil  memberikan BLSM yang mereka terima kepada orang yang lebih membutuhkan tetapi tidak terdaftar sebagai penerima BLSM.

Wanita lanjut usia Alce Rorong (76) masuk daftar penerima BLSM yang dilaksanakan di SDN 88 Kombos. Dia sesungguhnya berat hati saat mengambil uang BLSM senilai Rp 300 ribu. Apalagi delapan anaknya yang sudah bekerja mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari.  Alce pun rutin menerima uang pensiunan dari almarhun suaminya Rp 1,3 juta per bulan.

"Saya bilang kepada mama (Alce Rorong) kalau mama tidak pantas menerima BLSM ini. Lebih baik berikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan," kata Ani Madea, anak Alce Rorong saat ditemui di kediamannya, Selasa (2/7/2013).

Setelah menerima BLSM, Ani dan ibunya langsung berkoordinasi dengan kepala lingkungan I Cornelia Samuri untuk menanyakan apakah bantuan tersebut bisa diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

 "Dengan ikhlas kami berikan kepada Alfred Takakobi (66) dan Istri Conerlia Yanis (60) serta saudara mereka Yohana Yanis (74). Mereka merupakan tetangga kami dan kondisi mereka sangat memrihatinkan. Ibu Cornelia sudah puluhan tahun menderita penyakit stroke. Sedangkan Yohana menumpang di rumah sanak saudaranya," tutur Ani didampingi ibunya Alce Rorong.

Menurut Ani, mereka sempat kaget kala mengetahui kalau orangtua mereka menerima bantuan tersebut. Maklum saat sensus tahun 2010 ibunya sendirian menerima petugas sensus di rumah. "Kami sempat malu saat mengambil bantuan tersebut karena kami mampu dan belum layak menerima BLSM," katanya.
Alce Rorong alias Oma Alce yang merayakan hari ulang tahunnya ke-76, Selasa (2/7) mengaku ikhlas memberikan bantuan BLSM kepada mereka yang lebih berhak menerima. "Saya beri karena memang mereka sangat susah. Istrinya menderita stroke dan suaminya tidak punya pekerjaan tetap," kata Oma Alce.

Vernne Teddy Adroit Pamikiran, warga kelurahan Kombos Timur pun memberi bantuan BLSM kepada orang lain karena dia menilai ada orang yang lebih layak menerima daripada dirinya.

"Saat tiba di rumah saya bilang kepada istri masih ada yang lebih layak menerima. Saya koordinasi dengan kepala lingkungan dan langsung serahkan kepada warga yang kurang mampu yakni Perjuangan Paraeng," kata Teddy di kediamannya.

Pria yang berstatus PNS di lingkungan Pemprov Sulut ini sejak awal tidak berharap menerima BLSM. "Memang siapa yang tidak ingin uang? Waktu disensus saya belum diterima sebagai PNS. Kalau  sekarang kita terima malu-maluin saja," tandasnya.

Alfred Takakobi (66) dan istrinya Conelia Yanis (60) yang menerima uang BLSM dari Alce Rorong mengaku sangat senang.  "Senang sekali bisa menerima uang ini," kata Alfred saat mendampingi istrinya yang menderita stroke.

 Dikatakannya, kebutuhan mereka setiap haribergantung dari penghasilan anaknya yang bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Siloam Manado. "Kalau tidak ada dia mungkin kami berdua sudah mati," kata Alfred sambil menatap sang istri yang hanya diam membisu.

Alfred memiliki niat untuk bekerja, namun waktunya tersita untuk merawat sang istri yang sudah hampir 10 tahun menderita stroke. "Apa mau dikata, bagaimana mau bekerja sementara saya harus merawat dan mengurus istri saya. Mulai dari menidurkan,  membangunkan hingga memberi dia  makan," tuturnya. Dia mengakui tidak memiliki pekerjaan tetap. "Uang yang kami terima (dari Oma Alce)  ini akan digunakan untuk beli pempers dan obat karena istri saya berkerinduan besar untuk sembuh," tandasnya. (christian wayongkere)

Sumber:  Tribun Manado 3 Juli 2013 hal 1

Pemimpin Marga Soeharto 20 Kupang

RIBUAN bahkan puluhan ribu orang pernah mengecapi pembinaan di PMKRI Cabang Kupang St Fransiskus Xaverius sejak organisasi ini berdiri pada tahun 1963.

Anak-anak binaan PMKRI suka mengklaim diri sebagai anak marga, marga Kupang yang sekretariatnya di Jalan Jenderal Soeharto No.20 Kupang masih kokoh berdiri sampai hari ini.

Marga tua itu merupakan saksi sejarah perjalanan PMKRI Cabang Kupang membina putra-putri Nusa Tenggara Timur (NTT)  sejak masa pergolakan tahun 1960-an hingga saat ini.

Berikut ini secuil  catatan saya tentang Ketua Presidium dan Sekretaris Jenderal PMKRI Cabang Kupang selama periode tahun 1963 hingga 1995. Catatan ini saya kumpulkan ketika dipercayakan menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) PMKRI Cabang Kupang periode 1992-1993.

Jujur memang, banyak notulensi, catatan-catatan historis marga Kupang yang tidak tersusun secara baik sehingga ada data yang tidak ditemukan. Maklumlah mahasiswa dan mahasiswi, gejolak remajanya harus dimaklumi. Ada yang disiplin, ada pula yang wira-wiri sonde jelas.

Ketua Presidium dan Sekjen PMKRI Kupang 1963-1995

Tahun 1993-1964:  Ketua:  Nano Fernandez
                              Sekjen:  D Sanggudoa

Tahun 1964-1965:  Ketua: Domi Ule Ander
                               Sekjen: data tidak ditemukan?

Tahun 1965        :   Ketua :Kanis Pari atau Bung Kanis (sekitar 4 bulan ganyang PKI)
                              Sekjen: data tidak ditemukan?

Tahun 1966-1967:  Ketua: Eman Gadi Djou
                              Sekjen: Domi Ule Ander dan Blasius Manek

Tahun 1967-1968:  Ketua: Piet Nuwa Wea
                              Sekjen: John Letto

Tahun 1968-1970:  Ketua: John Kaunang
                              Sekjen: Silvester Tjung

Tahun 1970-1971:  Ketua: Rofinus Gagalama
                               Sekjen: data tidak ditemukan

Tahun 1971-1972:  Ketua: Wem Kaunang
                               Sekjen: Mansu Mandaru

Tahun 1974-1975:  Ketua: Mansu Mandaru
                              Sekjen: Anton Teti

Tahun 1975-1977:  Ketua: Eman Goring
                               Sekjen: H Boleng

Tahun 1977-1978:  Ketua: Eman Babu Eha
                               Sekjen: Frans Kape

  
Tahun 1978-1979:  Ketua: Frans Kape
                               Sekjen: Blasius Lema


Tahun 1979-1980:  Ketua: Wem Kabosu
                              Sekjen: Yos da Silva


Tahun 1980-1981 :  Ketua: Johny Pari
                               Sekjen: Yuli Lamuri

Tahun 1981-1982:   Ketua: Teng Karwayu
                               Sekjen: Yonas Mita

Tahun 1982-1983:   Ketua: Simon Hayon
                               Sekjen: Kamelus Deno

Tahun 1983-1985:   Ketua: Chris Boro Tokan
                                Sekjen: Flori Mekeng

Tahun 1985-1986:   Ketua:  Flori Mekeng
                               Sekjen: A Balaweling

Tahun 1986         :   Ketua: Lambert Ibi Riti (hanya dua bulan)

Tahun 1986-1988:  Ketua: Servas Lako Nage
                               Sekjen: Theo Maran

Tahun 1988-1989:  Ketua: Fredy Kabobu
                               Sekjen: Egidius Nurak

Tahun 1989-1990:  Ketua: Anton Doni
                              Sekjen: Tiago Hornai


Tahun 1990-1991:  Ketua: Tiago Hornai
                              Sekjen: Marten Darmonsi Dogon

Tahun 1991-1992:  Ketua: Sipri Sabon Nama
                              Sekjen: Janes E Wawa

Tahun 1992-1993:  Ketua: Aloysius Min
                              Sekjen: Dion DB Putra

Tahun 1993-1994:  Ketua: Janes E Wawa
                               Sekjen: Yos Lega Laot

Tahun 1994-1995:   Ketua: Yos Lega Laot
                               Sekjen: Gabriel Ola


Orang Jerman Pun Doyan Cakalang Fufu

Cakalang Fufu
BITUNG, TRIBUN - Ingat Bitung ingat Cakalang Fufu! Cita rasa ikan asap yang menjadi ikon kota industri Bitung itu sejak lama menarik minat masyarakat dunia sehingga produksi per hari tak pernah menurun.

Bitung saban hari  menghasilkan berton-ton cakalang fufu guna memenuhi permintaan baik dari dalam negeri maupun manca negara.  Dan, orang Jerman ternyata doyan cakalang fufu. Cita rasa yang khas karena diasapi bara sabut kepala merupakan keunggulan ikan cakang fufu buatan para pengusaha Bitung.

"Beberapa waktu lalu ada perwakilan dari pemerintah Jerman datang ke sini, katanya mereka suka dengan rasa khas ikan cakalang fufu produksi Girian," kata Ibu Kasih, pengusaha cakalang fufu di Kelurahan Girian Atas Bitung, Jumat (23/8/2013).

Menurut Kasih, selain membeli cakalang fufu dalam jumlah besar, perwakilan pemerintah Jerman itu meminta kesediaan pengusaha di Girian mengajarkan mereka beberapa teknik pembuatannya. Beberapa waktu kemudian, lanjut Kasih, sejumlah perwakilan dari kelompok pengusaha cakalang fufu di Girian Stas berangkat ke Jerman memenuhi undangan mereka.

"Ke sana teman-teman juga membawa cakalang segar dan sabut kelapa untuk mengajarkan mereka cara membuat cakalang fufu. Kami juga membawa cakalang fufu yang sudah jadi untuk mereka coba," kata Ibu Kasih. Selain Jerman, negara lain yang selalu mengimpor cakalang fufu adalah  Singapura."Singapura pernah memesan dalam jumlah besar tetapi kami di sini belum sanggup penuhi karena masih terbatas peralatan pendukung misalnya untuk packing," ujarnya.

Usaha cakalang fufu milik Kasih khusus jenis cakalang fufu jepit atau dalam istilah setempat cakalang fufu gepe. Sudah sepuluh tahun Kasih bergerak di bidang usaha ini.  Dalam sehari dia membutuhkan sebanyak 300 kilogram ikan cakalang segar dengan berat  rata-rata seekor 1,5 kilogram (kg) untuk dijadikan bahan baku pembuatan cakalang fufu jepit. "Dari 300 kg ikan segar  ini bisa menghasilkan 300 jepit cakalang fufu fepe," ujarnya.

Besarnya modal yang dibutuhkan Kasih membeli cakalang segar sehari berkisar Rp 4,5 juta hingga Rp 6 juta dengan perhitungan biaya 1 kg cakalang segar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. "Harga cakalang segar memang lagi mahal sekarang karena makin banyak perusahaan ikan di Bitung yang butuh. Saat ini cakalang saya beli Rp 18 ribu per kilogram," tuturnya.Sedangkan bahan bakar pengasapan masih menggunakan cara tradisional, yaitu sabut kelapa. "Pengasapan  untuk 300 jepit cakalang butuh sabut kelapa sebanyak satu mobil pick-up L 300, dibeli dengan harga Rp 150 ribu," ungkapnya.

Aroma Sabut Kelapa

Kasih menjelaskan,  proses pembuatan cakalang fufu jepit agak berbeda dengan cakalang fufu biasa atau utuh. Ukuran cakalang pun lebih besar. Cakalang segar dibelah dua lalu dibersihkan tulang-tulangnya. Setelah itu masing-masing bagian cakalang masih dibelah dua lagi kemudian dijepit dengan bambu. "Satu ekor cakalang segar menghasilkan dua jepit ikan cakalang fufu," ujar Kasih.

Setelah dijepit dengan bambu, cakalang segar diolesi larutan pewarna makanan berwarna merah agar ikan tidak berubah hitam saat diasap dan tetap segar."Kami pastikan tidak memakai pewarna tekstil atau bahan pengawet lain," tandasnya.
Setelah diolesi pewarna makanan dan didiamkan sebentar, cakalang siap diasap di atas bara sabut kelapa. Sekali pengasapan dapat menampung hingga 300 jepit ikan. "Lama pengasapan kira-kira selama dua jam," jelas Kasih.

Kasih mengakui harga cakalang fufu jepit lebih tinggi dibanding cakalang fufu utuh karena ukuran ikan yang lebih besar, kualitas pengasapan yang jauh lebih kering sehingga menjamin daya tahan penyimpanan hingga 3-4 hari. Rasa yang dihasilkan pun jauh lebih lezat. "Asap dari sabut kelapa itu yang menambah enak rasa ikan," ujar Kasih. Untuk penjualan, harga satu jepit cakalang fufu dipatok antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu tergantung ukuran. Fokus pemasaran Kasih di Bitung dan Manado. "Kami juga melayani untuk tamu-tamu dari luar yang ingin membeli oleh-oleh. Biasanya sekali beli hingga 30 jepit," ujarnya. Dalam satu hari Kasih mendapat keuntungan bersih rata-rata Rp 500 ribu bahkan lebih.

Usaha pengasapan ikan cakalang fufu terbilang cukup menjanjikan. Hal ini diakui pengusaha lainnya di Girian Atas, Sairah Harun. Sama seperti Kasih, dalam sehari Harun membutuhkan antara 300 hingga 600 kg ikan cakalang segar untuk diasap atau sekitar 900 sampai 1.800 ekor ikan cakalang ukuran sedang. Biaya modal yang dikeluarkan Harun dalam sehari berkisar antara Rp 2,2 juta hingga Rp 4,5 juta.
"Setelah dikurangi biaya operasional dan modal beli ikan mentah, keuntungan sehari bisa dapat  Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu," jelasnya.

Harun mengakui hampir setiap hari dia melayani pesanan ikan cakalang fufu. "Banyak juga tamu-tamu dari luar daerah yang beli ikan cakalang fufu di sini sebagai buah tangan," demikian Sairah Harun. (ika)

Habiskan 2,8 Ton Sabut Kelapa Sehari


DINAS Kelautan dan Perikanan Kota Bitung memastikan terdapat 70 lokasi usaha pengasapan ikan cakalang fufu di Bitung. "Sentra pembuatan ikan cakalang asap atau dikenal dengan nama cakalang fufu di Bitung itu hanya ada di Kelurahan Girian Atas dan Girian Bawah," kata Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Bitung  Hengky Wowor kepada Tribun Manado, Jumat (23/8/2013).

Menurut Wowor, Kelurahan Girian Bawah mengoleksi dua kelompok usaha cakalang fufu dimana satu kelompok terdiri dari 30 dan 40 pengusaha rumah pengasapan.  "Sedangkan di Kelurahan Girian Atas ada satu kelompok usaha dengan jumlah pengusaha rumah pengasapan 20 pengusaha, sehingga total lokasi usaha pembuatan cakalang fufu di Girian sebanyak 70 lokasi," tuturnya.

Wowor membanrkan bahwa untuk satu rumah usaha pengasapan  membutuhkan sekitar 300 hingga 600 kilogram ikan cakalang segar per hari.  Dengan demikian total keseluruhan untuk 70 lokasi itu membutuhkan antara 21 ribu hingga 42 ribu kilogram ikan segar atau setara 21 ton hingga 42 ton ikan cakalang segar per hari
Usaha pengasapan ikan cakalang memberi nilai tambah yang luar biasa pada sabut kelapa. Dalam sehari, lanjut Wowor,  setiap rumah pengasapan ikan cakalang fufu memerlukan minimal satu truk ukuran pick-up L 300 penuh sabut kelapa kering atau setara 30 sampai 40 kilogram sabut kelapa.

Maka bila  ditotal untuk 70 lokasi pembuatan cakalang fufu di Girian dalam sehari memerlukan 2.100 hingga 2.800 kilogram sabut kepala kering atau setara 2,1 ton hingga 2,8 ton sabut kelapa sebagai bahan bakar pengasapan cakalang.
Wowor menambahkan, usaha cakalang fufu di Bitung tetap dipertahankan dengan teknik pengasapan tradisional lantaran memberi rasa yang khas. "Teknik pengasapan secara tradisional dengan menggunakan sabut kelapa itu menghasilkan rasa ikan yang khas, dan teknik ini sudah turun temurun," demikian  Wowor. (ika)

Sumber: Tribun Manado 26 Agustus 2013 hal 1

Aku Ata Lise

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.


DENGAN bangga saya selalu mengucapkan kata-kata ini. Aku ata Lise (Saya orang Lise atau  berasal dari Suku Lise). Begitulah setiap kali jawabanku bilamana ditanya tentang asal-usul.

Saya tidak pernah malu mengatakannya atau pura-pura tak peduli dengan pertanyaan semacam itu mengingat kehidupan ini sesuatu yang terberi (given). Toh saya dan juga orang-orang Lise lainnya tak pernah meminta lahir sebagai ata Lise bukan?

Kau pasti bertanya-tanya, Lise itu di mana? Baiklah saya beri sedikit penjelasan. Lise  merupakan salah satu sub etnis  Lio-Ende yang secara  geografis menempati wilayah timur dan sebagian kawasan tengah Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Wilayah Suku Lise berada di sisi  timur Kabupaten Ende membentang dari pantai selatan hingga pantai utara Flores dan berbatasan langsung dengan wilayah teritorial pemerintahan  Kabupaten Sikka.

Jika mengacu pada teritorial administrasi pemerintahan masa ini, maka etnis Lise bermukim di Kecamatan Lio Timur (Watuneso), sebagian Kecamatan Maubasa, Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Kotabaru di sisi tengah dan utara Flores. Dalam bahasa setempat, Lise mengenal istilah Lise Tana Telu yang artinya terdiri dari tiga wilayah besar yaitu Lise  Lowobora  atau Lise Detu,  Lise Nggonderia dan Lise Kuru Lande.

Secara demografis maupun geografis, etnis Lise Lio  termasuk penting, strategis dan punya kekuatan dalam struktur pemerintahan adat, pemerintahan kolonial hingga pemerintahan  Negara Kesatuan Republik Indonesia modern dewasa ini.

Untuk kepentingan politik pemerintahan Hindia Belanda, salah seorang putra Lise yaitu Pius Rasi Wangge pernah diangkat menjadi Raja Lio yang wilayah kekuasaan dan pemerintahannya  mencakup 90 persen luas Kabupaten Ende saat ini bahkan sebagian wilayah Sikka. Awalnya pengangkatan Raja Lio ini semata-mata demi kepentingan politik Belanda tetapi secara de facto maupun de jure tidak mengaburkan sama sekali struktur lembaga adat orang Lise yang berlangsung turun-temurun dari masa nenek moyang. Sampai saat ini struktur organisasi persekutuan adat Lise lestari dan tetap dihormati. *

Wajah Manado 50 Tahun Lagi

ilustrasi
KITA mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemko) Manado melalui Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini. Dishub dalam waktu dekat akan melakukan uji coba pengalihan jalur  Paal 2, Perkamil dan Kairagi menuju kawasan Pasar 45.

"Kemungkinan dalam minggu  ini dilaksanakan sambil menunggu persiapan rambu- rambu penunjuk serta baliho kecil yang akan dipasang di tengah jalan," tutur  Kepala Dishub Kota Manado  Frans Samuel Koagouw melalui kepala Seksi Pengendalian dan Operasional,  Donald Wilar, Selasa (20/8/2013).

Bukan sekali ini saja  terobosan yang dilakukan Pemko Manado untuk mengatasi kemacetan arus lalulintas. Setahun yang lalu   Pemko Manado bekerja sama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Sulut pun  menerapkan apa yang disebut Jalur Biru  untuk mikrolet di beberapa kawasan rawan macet seperti di Boulevard dan beberapa titik di pusat keramaian kota.  Mereka mencoba mengubah jalur kendaraan umum.

Namun demikian, tetap saja kemacetan terus terjadi di kota ini. Pada saat jam sibuk, misalnya pagi hari dan saat orang pulang kerja di sore hari, warga Kota Manado biasa terjebak kemacetan. Perjalanan yang mestinya bisa ditempuh dalam hitungan menit, terpaksa menghabiskan waktu hingga berjam-jam.

Sudah berulangkali warga Manado mengeluhkan kondisi ini. Sejak sekitar lima empat tahun yang lalu kemacetan arus lalu lintas sudah menjadi jerit keseharian warga Manado  Penyebabnya simpel saja.  Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor  tidak dibarengi dengan bertambahnya volume ruas jalan. Itu salah satu faktor utama selain aspek perilaku masyarakat dalam berkendara di jalan umum.
Data Direktorat Lalu Lintas Polda Sulut mencatat, setiap bulan pertambahan kendaraan bermotor semakin meningkat. Pada bulan Juli 2012, misalnya,  terdapat 710.598 kendaraan bermotor dengan laju pertambahan mencapai 4.000 unit per bulan. Tahun ini bisa dipastikan jumlah kendaraan di Manado lebih tinggi lagi.

Menurut pandangan kita, langkah Dishub Kota Manado mengubah jalur di kawasan Kairagi yang diterapkan dalam waktu dekat baik adanya. Namun, terobosan semacam itu hanya berdampak jangka pendek. Fakta kemacetan di Manado mestinya menggugah pengambil kebijakan di kota ini untuk merencanakan sistem transportasi untuk kebutuhan jangka panjang.

Bayangkan kira-kira akan seperti apa kondisi lalu lintas di Kota Manado 50 tahun mendatang. Garis imajiner itu patut diperhitungkan sejak sekarang agar Manado tidak mengulang kesalahan kota-kota lain di Indonesia. Mulai detik ini rancang dan  bangunlah secara bertahap  sistem transportasi Kota Manado yang bisa efektif dan nyaman hingga 50 bahkan 100 tahun ke depan.  Kalau tidak,  maka kita tidak perlu menunggu 25 atau 50 tahun untuk menikmati penderitaan akibat kemacetan. Sekarang saja warga Manado sudah menderita bukan? *

Sumber: Tribun Manado 22 Agustus 2013 hal 10


Nonton Bola Tanpa Judi

ilustrasi
SILAKAN Anda menonton bola, tetapi sebaiknya menonton tanpa mempraktikkan judi. Sebab judi bola lebih banyak membawa celaka.  Begitulah ajakan moral kita untuk siapa saja penggemar sepakbola terutama yang bermukim di wilayah Sulawesi Utara.

Mulai malam nanti kompetisi sepakbola paling gemerlap di benua Eropa yaitu Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol mulai bergulir. Sama seperti musim kompetisi sebelumnya, penggemar sepakbola di tanah air dimanjakan sejumlah stasiun televisi yang menayangkan pertandingan itu secara langsung setiap akhir pekan.

Ada bola pasti ada judi dengan perputaran uang tak sedikit. Demikian hasil investigasi yang telah kami sajikan kepada pembaca selama tiga hari terakhir.  Pengakuan bandar, mantan bandar serta penjudi di Manado dan beberapa daerah lainnya di Sulut  menunjukkan, banyak orang menjadikan pertandingan sepakbola sebagai arena berjudi.

Adi, misalnya, bertahun-tahun aktif menjadi pemain judi bola secara online. Dia mudah mendapatkan uang dalam jumlah menggiurkan, namun merasa hidupnya tidak tenang karena memakai uang 'panas'. Adi bahkan mengaku hampir gila karena ketagihan judi online hingga dia memilih berhenti total. "Memang saya punya banyak uang, tapi saya jarang tidur. Tiap hari lihat bola di internet. Bangun tidur ingat judi, mau makan ingat judi, di jalan ingat judi, setiap saat yang di pikiran cuma judi.  Pikiran terganggu, jadi tidak fokus. Kalau diteruskan saya benar-benar bisa gila. Akhinya saya memutuskan untuk berhenti," kata Adi.

Pengalaman yang sama diungkapkan Ronald, satu di antara mantan bandar judi bola di Manado. Sebagai bandar, dalam sehari Ronald bisa pegang uang hingga angka Rp 100 hingga  Rp 200 juta. Setelah bergelimang uang haram hampir delapan bulan, Ronald memilih berhenti karena hidupnya tidak tentram. 

"Saya sampai meminta istri dan anak saya untuk sementara pergi ke luar daerah selama saya masih jadi bandar. Saya tinggal sendiri di rumah," kenangnya.  Keasyikan bedagang nonton bola sambil berjudi hampir saja membawa maut bagi Ronald. Dia sakit keras terserang liver dan ginjal. "Saya akhirnya berhenti sebagai bandar karena kesehatan saya sangat terganggu lantaran begadang," tuturnya.

Pengalaman Adi dan Ronald mestinya memberi inspirasi bagi siapa pun untuk menjauhi praktik perjudian dalam bentuk dan cara apapun. Doyan judi sesungguhnya hanya menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam penderitaan. Sudah banyak pengalaman orang jatuh miskin karena berjudi, rumah tangga hancur berantakan  karena judi, gagal menyelesaikan kuliah karena berjudi, terlibat tindak pidana karena judi dan lainnya. Seiring datangnya musim kompetisi sepakbola 2013-2014, kita ajak penggila bola tidak menjadi gila karena Anda ketagihan berjudi ketimbang menikmati bola sebagai tontotan yang sehat.*

Sumber: Tribun Manado 17 Agustus 2013 hal 10

Benang Kusut Lapas di Indonesia

ilustrasi
KITA kembali disuguhi warta miris tentang kondisi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia.  Hari Minggu 18 Agustus 2013 atau hanya sehari setelah rakyat Indonesia merayakan HUT ke-68 Proklamasi Kemerdekaan RI, kerusuhan pecah di Lapas Labuhan Ruku Kabupaten Batu Bara, Provinsi  Sumatera Utara. Narapidana (napi) dan sipir beda pendapat lalu terjadilah rusuh yang diikuti dengan kebakaran Lapas.

Sekitar 35 sampai 30 orang napi kabur dan sebagian belum berhasil ditangkap petugas sampai hari ini. Dalam peristiwa itu ada sipir yang sempat disandera dan aparat kepolisian dipersulit memasuki Lapas. Selama beberapa jam Lapas Labuhan Ruku dalam kekuasaan para napi. Polisi butuh waktu sangat lama untuk bernegosiasi dengan para napi sebelum diizinkan masuk untuk mengamankan situasi.

Kerusuhan di Labuhan Ruku merupakan peristiwa yang kesekian tentang buruknya pengelolaan  Lapas. Pada pertengahan bulan Juli 2013 lalu, kericuhan napi yang berujung pada pembakaran gedung pun terjadi di Lapas Klas I Tanjung Gusta, Medan. Ratusan napi kabur dan masih ada yang buron hingga saat ini. Setelah peristiwa Tanjung Gusta,  masyarakat Indonesia digegerkan dengan penemuan pabrik narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta. Bahkan ruang kerja pejabat Lapas disewakan kepada napi untuk tempat bercinta.

Mengapa demikian buruk kondisi Lapas di Indonesia?  Kita kutip pernyataan
Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM)  yang baru saja dilantik sebagai Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar. Ia menilai memang tak mudah mengurus Lapas karena diisi oleh napi dengan latar belakang dan kebutuhan beragam.

"Lapas itu isinya beragam, ada orang yang sedang banyak masalah, ada yang frustasi, hidup tidak menentu, belum lagi ingat anak dan istri, belum lagi masalah kesehatan, kebersihan, komunikasi,"  kata Patrialis seperti dikutip Kompas.com, Senin (19/8/2013).

Patrialis ibaratkan masalah di Lapas seperti bom dengan pemicu yang mudah tercabut. Menurutnya, bom bisa meledak kapan saja begitu pemicu tersebut tercabut. Patrialis menilai, permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh persoalan pembinaan, remisi, hingga pelayanan di Lapas.

Mengurai benang kusut permasalahan ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Tetapi pemerintah mestinya tidak memandang remeh permasalahan  yang terus berulang ini.  Penghuni Lapas yang sudah melampaui kapasitas, pelayanan yang buruk dan pembinaan setengah hati harus segera diperbaiki. Jika tidak maka kerusuhan bisa saja menular ke Lapas yang lain di berbagai daerah di Indonesia. Kita berharap tidak demikian!

Sumber: Tribun Manado 20 Agustus 2013 hal 10

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes