Orang Jerman Pun Doyan Cakalang Fufu

Cakalang Fufu
BITUNG, TRIBUN - Ingat Bitung ingat Cakalang Fufu! Cita rasa ikan asap yang menjadi ikon kota industri Bitung itu sejak lama menarik minat masyarakat dunia sehingga produksi per hari tak pernah menurun.

Bitung saban hari  menghasilkan berton-ton cakalang fufu guna memenuhi permintaan baik dari dalam negeri maupun manca negara.  Dan, orang Jerman ternyata doyan cakalang fufu. Cita rasa yang khas karena diasapi bara sabut kepala merupakan keunggulan ikan cakang fufu buatan para pengusaha Bitung.

"Beberapa waktu lalu ada perwakilan dari pemerintah Jerman datang ke sini, katanya mereka suka dengan rasa khas ikan cakalang fufu produksi Girian," kata Ibu Kasih, pengusaha cakalang fufu di Kelurahan Girian Atas Bitung, Jumat (23/8/2013).

Menurut Kasih, selain membeli cakalang fufu dalam jumlah besar, perwakilan pemerintah Jerman itu meminta kesediaan pengusaha di Girian mengajarkan mereka beberapa teknik pembuatannya. Beberapa waktu kemudian, lanjut Kasih, sejumlah perwakilan dari kelompok pengusaha cakalang fufu di Girian Stas berangkat ke Jerman memenuhi undangan mereka.

"Ke sana teman-teman juga membawa cakalang segar dan sabut kelapa untuk mengajarkan mereka cara membuat cakalang fufu. Kami juga membawa cakalang fufu yang sudah jadi untuk mereka coba," kata Ibu Kasih. Selain Jerman, negara lain yang selalu mengimpor cakalang fufu adalah  Singapura."Singapura pernah memesan dalam jumlah besar tetapi kami di sini belum sanggup penuhi karena masih terbatas peralatan pendukung misalnya untuk packing," ujarnya.

Usaha cakalang fufu milik Kasih khusus jenis cakalang fufu jepit atau dalam istilah setempat cakalang fufu gepe. Sudah sepuluh tahun Kasih bergerak di bidang usaha ini.  Dalam sehari dia membutuhkan sebanyak 300 kilogram ikan cakalang segar dengan berat  rata-rata seekor 1,5 kilogram (kg) untuk dijadikan bahan baku pembuatan cakalang fufu jepit. "Dari 300 kg ikan segar  ini bisa menghasilkan 300 jepit cakalang fufu fepe," ujarnya.

Besarnya modal yang dibutuhkan Kasih membeli cakalang segar sehari berkisar Rp 4,5 juta hingga Rp 6 juta dengan perhitungan biaya 1 kg cakalang segar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. "Harga cakalang segar memang lagi mahal sekarang karena makin banyak perusahaan ikan di Bitung yang butuh. Saat ini cakalang saya beli Rp 18 ribu per kilogram," tuturnya.Sedangkan bahan bakar pengasapan masih menggunakan cara tradisional, yaitu sabut kelapa. "Pengasapan  untuk 300 jepit cakalang butuh sabut kelapa sebanyak satu mobil pick-up L 300, dibeli dengan harga Rp 150 ribu," ungkapnya.

Aroma Sabut Kelapa

Kasih menjelaskan,  proses pembuatan cakalang fufu jepit agak berbeda dengan cakalang fufu biasa atau utuh. Ukuran cakalang pun lebih besar. Cakalang segar dibelah dua lalu dibersihkan tulang-tulangnya. Setelah itu masing-masing bagian cakalang masih dibelah dua lagi kemudian dijepit dengan bambu. "Satu ekor cakalang segar menghasilkan dua jepit ikan cakalang fufu," ujar Kasih.

Setelah dijepit dengan bambu, cakalang segar diolesi larutan pewarna makanan berwarna merah agar ikan tidak berubah hitam saat diasap dan tetap segar."Kami pastikan tidak memakai pewarna tekstil atau bahan pengawet lain," tandasnya.
Setelah diolesi pewarna makanan dan didiamkan sebentar, cakalang siap diasap di atas bara sabut kelapa. Sekali pengasapan dapat menampung hingga 300 jepit ikan. "Lama pengasapan kira-kira selama dua jam," jelas Kasih.

Kasih mengakui harga cakalang fufu jepit lebih tinggi dibanding cakalang fufu utuh karena ukuran ikan yang lebih besar, kualitas pengasapan yang jauh lebih kering sehingga menjamin daya tahan penyimpanan hingga 3-4 hari. Rasa yang dihasilkan pun jauh lebih lezat. "Asap dari sabut kelapa itu yang menambah enak rasa ikan," ujar Kasih. Untuk penjualan, harga satu jepit cakalang fufu dipatok antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu tergantung ukuran. Fokus pemasaran Kasih di Bitung dan Manado. "Kami juga melayani untuk tamu-tamu dari luar yang ingin membeli oleh-oleh. Biasanya sekali beli hingga 30 jepit," ujarnya. Dalam satu hari Kasih mendapat keuntungan bersih rata-rata Rp 500 ribu bahkan lebih.

Usaha pengasapan ikan cakalang fufu terbilang cukup menjanjikan. Hal ini diakui pengusaha lainnya di Girian Atas, Sairah Harun. Sama seperti Kasih, dalam sehari Harun membutuhkan antara 300 hingga 600 kg ikan cakalang segar untuk diasap atau sekitar 900 sampai 1.800 ekor ikan cakalang ukuran sedang. Biaya modal yang dikeluarkan Harun dalam sehari berkisar antara Rp 2,2 juta hingga Rp 4,5 juta.
"Setelah dikurangi biaya operasional dan modal beli ikan mentah, keuntungan sehari bisa dapat  Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu," jelasnya.

Harun mengakui hampir setiap hari dia melayani pesanan ikan cakalang fufu. "Banyak juga tamu-tamu dari luar daerah yang beli ikan cakalang fufu di sini sebagai buah tangan," demikian Sairah Harun. (ika)

Habiskan 2,8 Ton Sabut Kelapa Sehari


DINAS Kelautan dan Perikanan Kota Bitung memastikan terdapat 70 lokasi usaha pengasapan ikan cakalang fufu di Bitung. "Sentra pembuatan ikan cakalang asap atau dikenal dengan nama cakalang fufu di Bitung itu hanya ada di Kelurahan Girian Atas dan Girian Bawah," kata Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Bitung  Hengky Wowor kepada Tribun Manado, Jumat (23/8/2013).

Menurut Wowor, Kelurahan Girian Bawah mengoleksi dua kelompok usaha cakalang fufu dimana satu kelompok terdiri dari 30 dan 40 pengusaha rumah pengasapan.  "Sedangkan di Kelurahan Girian Atas ada satu kelompok usaha dengan jumlah pengusaha rumah pengasapan 20 pengusaha, sehingga total lokasi usaha pembuatan cakalang fufu di Girian sebanyak 70 lokasi," tuturnya.

Wowor membanrkan bahwa untuk satu rumah usaha pengasapan  membutuhkan sekitar 300 hingga 600 kilogram ikan cakalang segar per hari.  Dengan demikian total keseluruhan untuk 70 lokasi itu membutuhkan antara 21 ribu hingga 42 ribu kilogram ikan segar atau setara 21 ton hingga 42 ton ikan cakalang segar per hari
Usaha pengasapan ikan cakalang memberi nilai tambah yang luar biasa pada sabut kelapa. Dalam sehari, lanjut Wowor,  setiap rumah pengasapan ikan cakalang fufu memerlukan minimal satu truk ukuran pick-up L 300 penuh sabut kelapa kering atau setara 30 sampai 40 kilogram sabut kelapa.

Maka bila  ditotal untuk 70 lokasi pembuatan cakalang fufu di Girian dalam sehari memerlukan 2.100 hingga 2.800 kilogram sabut kepala kering atau setara 2,1 ton hingga 2,8 ton sabut kelapa sebagai bahan bakar pengasapan cakalang.
Wowor menambahkan, usaha cakalang fufu di Bitung tetap dipertahankan dengan teknik pengasapan tradisional lantaran memberi rasa yang khas. "Teknik pengasapan secara tradisional dengan menggunakan sabut kelapa itu menghasilkan rasa ikan yang khas, dan teknik ini sudah turun temurun," demikian  Wowor. (ika)

Sumber: Tribun Manado 26 Agustus 2013 hal 1

Aku Ata Lise

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.


DENGAN bangga saya selalu mengucapkan kata-kata ini. Aku ata Lise (Saya orang Lise atau  berasal dari Suku Lise). Begitulah setiap kali jawabanku bilamana ditanya tentang asal-usul.

Saya tidak pernah malu mengatakannya atau pura-pura tak peduli dengan pertanyaan semacam itu mengingat kehidupan ini sesuatu yang terberi (given). Toh saya dan juga orang-orang Lise lainnya tak pernah meminta lahir sebagai ata Lise bukan?

Kau pasti bertanya-tanya, Lise itu di mana? Baiklah saya beri sedikit penjelasan. Lise  merupakan salah satu sub etnis  Lio-Ende yang secara  geografis menempati wilayah timur dan sebagian kawasan tengah Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia.

Wilayah Suku Lise berada di sisi  timur Kabupaten Ende membentang dari pantai selatan hingga pantai utara Flores dan berbatasan langsung dengan wilayah teritorial pemerintahan  Kabupaten Sikka.

Jika mengacu pada teritorial administrasi pemerintahan masa ini, maka etnis Lise bermukim di Kecamatan Lio Timur (Watuneso), sebagian Kecamatan Maubasa, Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Kotabaru di sisi tengah dan utara Flores. Dalam bahasa setempat, Lise mengenal istilah Lise Tana Telu yang artinya terdiri dari tiga wilayah besar yaitu Lise  Lowobora  atau Lise Detu,  Lise Nggonderia dan Lise Kuru Lande.

Secara demografis maupun geografis, etnis Lise Lio  termasuk penting, strategis dan punya kekuatan dalam struktur pemerintahan adat, pemerintahan kolonial hingga pemerintahan  Negara Kesatuan Republik Indonesia modern dewasa ini.

Untuk kepentingan politik pemerintahan Hindia Belanda, salah seorang putra Lise yaitu Pius Rasi Wangge pernah diangkat menjadi Raja Lio yang wilayah kekuasaan dan pemerintahannya  mencakup 90 persen luas Kabupaten Ende saat ini bahkan sebagian wilayah Sikka. Awalnya pengangkatan Raja Lio ini semata-mata demi kepentingan politik Belanda tetapi secara de facto maupun de jure tidak mengaburkan sama sekali struktur lembaga adat orang Lise yang berlangsung turun-temurun dari masa nenek moyang. Sampai saat ini struktur organisasi persekutuan adat Lise lestari dan tetap dihormati. *

Wajah Manado 50 Tahun Lagi

ilustrasi
KITA mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemko) Manado melalui Dinas Perhubungan (Dishub) untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini. Dishub dalam waktu dekat akan melakukan uji coba pengalihan jalur  Paal 2, Perkamil dan Kairagi menuju kawasan Pasar 45.

"Kemungkinan dalam minggu  ini dilaksanakan sambil menunggu persiapan rambu- rambu penunjuk serta baliho kecil yang akan dipasang di tengah jalan," tutur  Kepala Dishub Kota Manado  Frans Samuel Koagouw melalui kepala Seksi Pengendalian dan Operasional,  Donald Wilar, Selasa (20/8/2013).

Bukan sekali ini saja  terobosan yang dilakukan Pemko Manado untuk mengatasi kemacetan arus lalulintas. Setahun yang lalu   Pemko Manado bekerja sama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Sulut pun  menerapkan apa yang disebut Jalur Biru  untuk mikrolet di beberapa kawasan rawan macet seperti di Boulevard dan beberapa titik di pusat keramaian kota.  Mereka mencoba mengubah jalur kendaraan umum.

Namun demikian, tetap saja kemacetan terus terjadi di kota ini. Pada saat jam sibuk, misalnya pagi hari dan saat orang pulang kerja di sore hari, warga Kota Manado biasa terjebak kemacetan. Perjalanan yang mestinya bisa ditempuh dalam hitungan menit, terpaksa menghabiskan waktu hingga berjam-jam.

Sudah berulangkali warga Manado mengeluhkan kondisi ini. Sejak sekitar lima empat tahun yang lalu kemacetan arus lalu lintas sudah menjadi jerit keseharian warga Manado  Penyebabnya simpel saja.  Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor  tidak dibarengi dengan bertambahnya volume ruas jalan. Itu salah satu faktor utama selain aspek perilaku masyarakat dalam berkendara di jalan umum.
Data Direktorat Lalu Lintas Polda Sulut mencatat, setiap bulan pertambahan kendaraan bermotor semakin meningkat. Pada bulan Juli 2012, misalnya,  terdapat 710.598 kendaraan bermotor dengan laju pertambahan mencapai 4.000 unit per bulan. Tahun ini bisa dipastikan jumlah kendaraan di Manado lebih tinggi lagi.

Menurut pandangan kita, langkah Dishub Kota Manado mengubah jalur di kawasan Kairagi yang diterapkan dalam waktu dekat baik adanya. Namun, terobosan semacam itu hanya berdampak jangka pendek. Fakta kemacetan di Manado mestinya menggugah pengambil kebijakan di kota ini untuk merencanakan sistem transportasi untuk kebutuhan jangka panjang.

Bayangkan kira-kira akan seperti apa kondisi lalu lintas di Kota Manado 50 tahun mendatang. Garis imajiner itu patut diperhitungkan sejak sekarang agar Manado tidak mengulang kesalahan kota-kota lain di Indonesia. Mulai detik ini rancang dan  bangunlah secara bertahap  sistem transportasi Kota Manado yang bisa efektif dan nyaman hingga 50 bahkan 100 tahun ke depan.  Kalau tidak,  maka kita tidak perlu menunggu 25 atau 50 tahun untuk menikmati penderitaan akibat kemacetan. Sekarang saja warga Manado sudah menderita bukan? *

Sumber: Tribun Manado 22 Agustus 2013 hal 10


Nonton Bola Tanpa Judi

ilustrasi
SILAKAN Anda menonton bola, tetapi sebaiknya menonton tanpa mempraktikkan judi. Sebab judi bola lebih banyak membawa celaka.  Begitulah ajakan moral kita untuk siapa saja penggemar sepakbola terutama yang bermukim di wilayah Sulawesi Utara.

Mulai malam nanti kompetisi sepakbola paling gemerlap di benua Eropa yaitu Liga Premier Inggris dan La Liga Spanyol mulai bergulir. Sama seperti musim kompetisi sebelumnya, penggemar sepakbola di tanah air dimanjakan sejumlah stasiun televisi yang menayangkan pertandingan itu secara langsung setiap akhir pekan.

Ada bola pasti ada judi dengan perputaran uang tak sedikit. Demikian hasil investigasi yang telah kami sajikan kepada pembaca selama tiga hari terakhir.  Pengakuan bandar, mantan bandar serta penjudi di Manado dan beberapa daerah lainnya di Sulut  menunjukkan, banyak orang menjadikan pertandingan sepakbola sebagai arena berjudi.

Adi, misalnya, bertahun-tahun aktif menjadi pemain judi bola secara online. Dia mudah mendapatkan uang dalam jumlah menggiurkan, namun merasa hidupnya tidak tenang karena memakai uang 'panas'. Adi bahkan mengaku hampir gila karena ketagihan judi online hingga dia memilih berhenti total. "Memang saya punya banyak uang, tapi saya jarang tidur. Tiap hari lihat bola di internet. Bangun tidur ingat judi, mau makan ingat judi, di jalan ingat judi, setiap saat yang di pikiran cuma judi.  Pikiran terganggu, jadi tidak fokus. Kalau diteruskan saya benar-benar bisa gila. Akhinya saya memutuskan untuk berhenti," kata Adi.

Pengalaman yang sama diungkapkan Ronald, satu di antara mantan bandar judi bola di Manado. Sebagai bandar, dalam sehari Ronald bisa pegang uang hingga angka Rp 100 hingga  Rp 200 juta. Setelah bergelimang uang haram hampir delapan bulan, Ronald memilih berhenti karena hidupnya tidak tentram. 

"Saya sampai meminta istri dan anak saya untuk sementara pergi ke luar daerah selama saya masih jadi bandar. Saya tinggal sendiri di rumah," kenangnya.  Keasyikan bedagang nonton bola sambil berjudi hampir saja membawa maut bagi Ronald. Dia sakit keras terserang liver dan ginjal. "Saya akhirnya berhenti sebagai bandar karena kesehatan saya sangat terganggu lantaran begadang," tuturnya.

Pengalaman Adi dan Ronald mestinya memberi inspirasi bagi siapa pun untuk menjauhi praktik perjudian dalam bentuk dan cara apapun. Doyan judi sesungguhnya hanya menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam penderitaan. Sudah banyak pengalaman orang jatuh miskin karena berjudi, rumah tangga hancur berantakan  karena judi, gagal menyelesaikan kuliah karena berjudi, terlibat tindak pidana karena judi dan lainnya. Seiring datangnya musim kompetisi sepakbola 2013-2014, kita ajak penggila bola tidak menjadi gila karena Anda ketagihan berjudi ketimbang menikmati bola sebagai tontotan yang sehat.*

Sumber: Tribun Manado 17 Agustus 2013 hal 10

Benang Kusut Lapas di Indonesia

ilustrasi
KITA kembali disuguhi warta miris tentang kondisi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia.  Hari Minggu 18 Agustus 2013 atau hanya sehari setelah rakyat Indonesia merayakan HUT ke-68 Proklamasi Kemerdekaan RI, kerusuhan pecah di Lapas Labuhan Ruku Kabupaten Batu Bara, Provinsi  Sumatera Utara. Narapidana (napi) dan sipir beda pendapat lalu terjadilah rusuh yang diikuti dengan kebakaran Lapas.

Sekitar 35 sampai 30 orang napi kabur dan sebagian belum berhasil ditangkap petugas sampai hari ini. Dalam peristiwa itu ada sipir yang sempat disandera dan aparat kepolisian dipersulit memasuki Lapas. Selama beberapa jam Lapas Labuhan Ruku dalam kekuasaan para napi. Polisi butuh waktu sangat lama untuk bernegosiasi dengan para napi sebelum diizinkan masuk untuk mengamankan situasi.

Kerusuhan di Labuhan Ruku merupakan peristiwa yang kesekian tentang buruknya pengelolaan  Lapas. Pada pertengahan bulan Juli 2013 lalu, kericuhan napi yang berujung pada pembakaran gedung pun terjadi di Lapas Klas I Tanjung Gusta, Medan. Ratusan napi kabur dan masih ada yang buron hingga saat ini. Setelah peristiwa Tanjung Gusta,  masyarakat Indonesia digegerkan dengan penemuan pabrik narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta. Bahkan ruang kerja pejabat Lapas disewakan kepada napi untuk tempat bercinta.

Mengapa demikian buruk kondisi Lapas di Indonesia?  Kita kutip pernyataan
Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM)  yang baru saja dilantik sebagai Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar. Ia menilai memang tak mudah mengurus Lapas karena diisi oleh napi dengan latar belakang dan kebutuhan beragam.

"Lapas itu isinya beragam, ada orang yang sedang banyak masalah, ada yang frustasi, hidup tidak menentu, belum lagi ingat anak dan istri, belum lagi masalah kesehatan, kebersihan, komunikasi,"  kata Patrialis seperti dikutip Kompas.com, Senin (19/8/2013).

Patrialis ibaratkan masalah di Lapas seperti bom dengan pemicu yang mudah tercabut. Menurutnya, bom bisa meledak kapan saja begitu pemicu tersebut tercabut. Patrialis menilai, permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh persoalan pembinaan, remisi, hingga pelayanan di Lapas.

Mengurai benang kusut permasalahan ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Tetapi pemerintah mestinya tidak memandang remeh permasalahan  yang terus berulang ini.  Penghuni Lapas yang sudah melampaui kapasitas, pelayanan yang buruk dan pembinaan setengah hati harus segera diperbaiki. Jika tidak maka kerusuhan bisa saja menular ke Lapas yang lain di berbagai daerah di Indonesia. Kita berharap tidak demikian!

Sumber: Tribun Manado 20 Agustus 2013 hal 10

Cegah Korban Flu Burung

KABAR ini tentu saja menggegerkan masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Virus flu burung kini  positif  ditemukan pada unggas  yang mati mendadak di Kabupaten Minahasa. Selama tiga bulan terakhir, tercatat  sebanyak 596 ekor ayam dan bebek milik warga Desa Panasen Kecamatan Kakas Barat Kabupaten Minahasa mati beruntun. Berdasarkan pemeriksaan cepat dari Dinas Peternakan, unggas yang mati tersebut terkena virus flu burung (H5N1).

Kita kutip kembali pernyataan  Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut, Ir Johanis Panelewen sebagaimana diberitakan media massa. Panelewen menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan timnya,  virus flu burung telah menjangkiti  unggas di Panasen. Laporan kasus ini baru dia terima Senin (12/8/2013) malam dan dia langsung menurunkan tim ke Panasen untuk mengambil tindakan awal.

"Kami langsung bereaksi melakukan penanganan pada kasus flu burung ini agar tidak menyebar lebih luas. Tahap awal kami memberlakukan status karantina unggas di Panasen. Artinya,  tidak boleh ada ternak unggas yang keluar atau masuk,"  tegasnya.

Selain melakukan karantina unggas, tim dari Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan sebagai lembaga yang punya otoritas memeriksa virus flu burung  sudah berada di Panasen kemarin.Hasil pemeriksaan tim tersebut tentunya akan memberikan sejumlah rekomendasi terkait penanganan selanjutnya.

Pemerintah melalui instansi terkait serta segenap komponen masyarakat Sulut hendaknya tidak memandang remeh temuan flu burung di Panasen ini. Sebagaimana kita ketahui bersama virus tersebut telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit di berbagai belahan dunia dalam kurun waktu empat sampai lima tahun terakhir. Di Indonesia sudah banyak korban manusia akibat serangan flu burung.

Pengalaman pahit di masa lalu hendaknya mengajarkan kita untuk benar-benar serius menyikapi wabah virus mematikan ini. Segala daya dan upaya mesti dikerahkan untuk mencegah virus itu menyebar ke daerah lain di Sulut dan terutama mutasi virus ke tubuh  manusia yang hampir pasti akan menyebabkan kematian.
Kepada masyarakat pemilik unggas di Sulut  kita imbau agar rutin memeriksa kesehatan ternak piaraannya. Jika ditemukan indikasi flu burung, sebaiknya segera menghubungi aparat yang berkompeten agar diambil tindakan yang tepat.

Kita juga menangkap kesan kuat masih ada sejumlah warga pemilik unggas di Minahasa  yang enggan memusnahkan hewan piaraannya karena secara ekonomis jelas merugi. Untuk itu dibutuhkan sosialisasi pengetahuan agar masyarakat tercerahkan dan mendapat pemahaman yang memadai tentang bahaya virus flu burung tersebut. Dalam kasus ini semua pihak harus cepat bergerak. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa. Mari kita canangkan tekad membebaskan bumi Nyiur Melambai dari epidemi virus  flu burung.*

Sumber: Tribun Manado 15 Agustus 2013 hal 10

Mengukur Hasil Reses

ilustrasi
MENARIK perhatian kita dinamika yang terungkap dalam rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) hari Selasa 27 Agustus 2013.

Sebelum memulai reses untuk menyerap aspirasi masyarakat yang dijadwalkan mulai Rabu (28/8/2013), Ketua Fraksi PDIP Djenri Keintjem mengungkapkan unek-uneknya di hadapan Sekretaris Provinsi Sulut  Siswa Rachmat Mokodongan. Untuk reses DPRD Sulut akan menghabiskan dana Rp 1,3 miliar. Perinciannya 45 anggota DPRD masing-masing akan menerima Rp 30 juta.

Menurut Keintjem, dari pengalaman sebelumnya, aspirasi yang diserap Dewan banyak tak terealisasi. Imbasnya legislator yang disalahkan masyarakat antara lain dicap sebagai pembohong. "Kalau tahu begitu, lebih baik tak usah reses, kembalikan saja Rp 30 jutanya," kata Keintjem dalam rapat itu.

Hal serupa disampaikan Teddy Kuamaat, anggota DPRD dari Fraksi Barinda. Menurut Kumaat, ia malu ikut reses. Mau mengumpulkan aspirasi nyatanya tak bisa ia penuhi. Kali ini ia kembali berharap sikap Pemprov Sulut bisa berubah yaitu merealisasikan aspirasi yang disampaikan masyarakat. Sekretaris Pemprov Sulut  Rachmat Mokodongan memberi komentar begini saat dikonfirmasi. "Kan hak budgeting ada di Dewan, saya no comment soal itu," katanya.

Diskursus ini menarik. Tentu tidak dalam konteks menyalahkan dewan atau mengeritik pemerintah. Kedua unsur itu sama-sama mengemban amanat rakyat yaitu mengelola pemerintahan dan pembangunan demi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Goalnya di sana. Kalau reses sekadar rutinitas legislator dengan dalih menyerap aspirasi masyarakat tetapi hasilnya walahualam, mengapa patut dipertahankan? Kalau medium reses tidak lagi efektif perlu dicari cara yang lebih tepat sehingga suara masyarakat yang disampaikan melalui legislator nyambung dengan eksekusi kebijakan atau program dari eksekutif.

Menurut pandangan kita, reses anggota Dewan selama ini menjadi ritual tanpa hasil justru karena kurang jelas alat ukurnya. Dewan berkepentingan dengan reses lebih bermakna politis ketimbang hasil konkret. Dewan berusaha semampunya agar aspirasi masyarakat terwujud. Itu memang tugas legislator. Tetapi apakah aspirasi masyarakat tidak bertabrakan dengan program pemerintah yang juga dibatasi rambu-rambu prosedur, mekanisme dan regulasi?

Di sinilah benang kusutnya. Maka indah nian bila DPRD Provinsi Sulut bersama pemerintah daerah ini  mau  merumuskan kembali efektivitas reses sekaligus mematok indikator yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Kalau terwujud,  ini akan menjadi semacam kado anggota legislatif hasil Pemilu 2009 untuk membenahi mekanisme kerja Dewan hasil pemilu tahun depan. Demokrasi itu tidak berakhir di satu titik. Demokrasi mensyaratkan perubahan yang lebih baik dari waktu ke waktu. *

Sumber: Tribun Manado 29 Agustus 2013 hal 10

FB dan BBM Memicu Perceraian

ilustrasi
MANADO, TRIBUN -  Pemanfaatan jejaring sosial secara salah bisa merusak keharmonisan rumah tangga. Istri terpaksa gugat cerai karena melihat pesan   mesra sang suami dengan Wanita Idaman Lain (WIL) lewat BlackBerry Messenger (BBM). Demikian pula suami tidak tahan melihat istri bermesraan lewat Facebook (FB) dan Twitter dengan selingkuhannya.

Demikian sejumput pemicu percecokan antara pasangan suami istri (pasutri)  yang berujung perceraian di Sulawesi Utara (Sulut). Faktor pemicu lainnya adalah masalah ekonomi serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Data yang dihimpun Tribun Manado menunjukkan, tren kasus perceraian  di Sulut dalam lima tahun terakhir  meningkat pesat. Sidang perceraian di pengadilan negeri (PN) setempat berlangsung hampir saban hari mengingat kasus cerai mencapai 85 persen dari total kasus perdata dalam setahun.

Menikah pada Juli 2000, Lia, warga Banjer,  Manado hanya menjalani bahtera rumah tangga bersama Ipul selama 12 tahun. Pernikahan itu sebenarnya hanya harmonis sekitar tujuh tahun karena pada usia kedelapan, perselisihan dan pertengkaran sering menghiasi biduk rumah tangga mereka.

Alasan ketidakharmonisan itu bermula ketika Lia mendapati pesan singkat atau SMS serta pesan BBM bernada mesra dengan seorang perempuan lain pada ponsel suaminya. Ia pun menilai Ipul selingkuh. Lia juga menemukan foto perempuan yang ia curigai berhububungan khusus dengan Ipul kala bertugas di daerah lain. Foto tersebut ia temukan di ponsel Ipul. Yang juga membuat Lia tak betah adalah Ipul sering cemburu buta terhadapnya. Perbincangannya dengan teman laki-laki dicurigai sang suami ada hubungan spesial. Tak cukup sampai di situ, Lia juga mengaku pernah dipukul suaminya.

Tak mampu lagi hidup bersama, Lia menggugat cerai suaminya meski mereka sudah dianugerahi seorang anak berusia 11 tahun.Kisah perceraian di atas termuat dalam laman resmi putusan.mahkamahagung.go.id. Dalam beberapa kasus, kehadiran orang ketiga, entah wanita idaman lain atau pria idaman lain, menjadi penyebab perceraian. Hampir sama seperti kasus Lia, hal yang sama juga terjadi pada kasus Ana, warga Teling.

Perempuan 22 tahun tersebut menggugat cerai suaminya, Hendro (24), pada Desember 2012. Suaminya itu ia temukan sering berselingkuh. Ia pernah mendapati SMS serta telepon mesra dari satu di antara perempuan selingkuhan suami. Hati Ana terpukul kala mendapati foto mesra Hendro dengan perempuan lain. Tekadnya bercerai semakin bulat karena kebiasaan Hendro kerap memukulnya. Suami pun suka mabuk. Keputusan itu Lia ambil setelah empat tahun berumah tangga. Dari hasil pernikahannya itu mereka dianugerahi seorang putri berusia 3 tahun.

Keputusan cerai juga dilayangkan Sri (30), warga Sindulang, terhadap sang suami, Izal (29), warga Kelurahan Banjer. Ia tak tahan lagi karena setiap pertengkaran sang suami sering mengucapkan kata "cerai" kepadanya. Ia juga menilai sang suami egois dan ingin menang sendiri. Bahkan sang suami sering melontarkan kata-kata kotor terhadapnya di depan umum dan keluarga sendiri.

Keinginan Sri pisah berumah tangga dengan suami semakin kuat kala mendapati sejumlah SMS mesra yang dikirimkan sang suami kepada perempuan lain. Keinginannya itu ia wujudkan dengan mendaftarkan gugatan pada November 2012 atau setelah 10 tahun hidup bersama Izal dan dianugerahi dua putra.

Keputusan menggugat cerai pasangan tidak hanya datang dari kaum perempuan. Kaum lelaki pun mengambil sikap yang sama ketika mengetahui pasangannya selingkuh. Ini terjadi pada Leo (35), warga Titiwungen.  Ia menggugat cerai istrinya, Wati (33), yang telah ia nikahi pada 2006. Enam tahun berumah tangga dan sudah dianugerahi dua putri, Leo menilai perjalanan rumah tangganya dengan Wati harus terhenti. Hubungan tak harmonis itu karena sang istri ia anggap berselingkuh dengan pria lainnya. Informasi itu Leo peroleh dari saudaranya yang pernah melihat Wati bersama laki-laki lain.

85 Persen Perceraian
Dihubungi Senin (19/8/2013),  Panitera muda (Panmud) Perdata di Pengadilan Negeri (PN) Manado  Fonneke Tamara SH tidak menampik pengaruh jejaring sosial dalam kasus perceraian.  "Dalam beberapa sidang  terungkap hubungan gelap terjadi lewat jejaring sosial seperti Facebook dan Blackberry Messengger.

Teknologi yang ada menjadi media untuk mereka menjalin hubungan dengan PIL atau WIL," ungkapnya.

Tamara bercerita, dalam persidangan terungkap awal mula hubungan gelap tersebut bisa lewat SMS, BBM atau FB. "Si istri atau suami mulai bercerita kalau mendapati ada PIL atau WIL di BBM atau Facebook. Kalau di Facebook, awalnya mereka belum mengetahui. Setelah sudah bisa pakai Facebook baru ketahuan apa yang dilakukan si suami atau istri. Di BBM juga begitu, awalnya tidak tahu pakai Blackberry dan cuma coba-coba buka  handphone suami atau istri. Tiba-tiba tidak sengaja ada obrolan mesra dengan PIL atau WIL," jelasnya.

Dari cerita awal tersebut, kata Tamara, pasutri mulai saling berdebat dalam persidangan. "Berawal dari cerita BBM dan Facebook, tiba-tiba persidangan  mulai ricuh karena saling menuduh. Menuduh siapa duluan dan kemudian mereka menyatakan sudah tidak cocok lagi dan tak ada jalan lain selain cerai," ujarnya.
Tamara mengakui, tren kasus perceraian di Sulut terus meningkat dalam lima tahun terakhir (2008-2013). Dalam kurun waktu itu, kata dia, sebesar 85 persen kasus perceraian mendominasi perkara perdata di PN Manado. Dia menambahkan,  kelompok usia pernikahan 5-10 tahun mendominasi  perceraian. "Kebanyakan menimpa rumah tangga-rumah tangga muda," ujarnya. Selain kehadiran orang ketiga, faktor ekonomi juga ikut memicu perceraian di Sulut.

Hal senada dikatakan Bambang Suroso, Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Manado (PA Manado). Suroso mengakui ketidakharmonisan pasutri juga dipicu oleh  pemanfaatan FB dan BBM secara salah, KDRT serta faktor ekonomi.
Mengenai siapa yang menggugat duluan, Tamara menyebut sangat relatif. "Sering  istri duluan, tapi tidak jarang suami duluan. Untuk persentasenya saya rasa bisa fifty-fifty," ungkapnya. Dikatakannya, walau gugat cerai dikenakan biaya mahal, tetap saja masih banyak yang cerai. "Biaya sidang untuk perdata sesuai dengan jarak tinggal mereka. Untuk urus akte perceraian  di Capil saja harganya jutaan. Biaya untuk cerai itu tidak murah," tandasnya.  (max/fin/kel)

Kelompok Mapan

DI Kota Manado rata-rata terbanyak mengajukan cerai adalah kelompok  mapan yaitu pasangan suami istri (pasutri)  berusia di atas 35 tahun dan sudah punya satu atau  dua orang anak. Mereka juga umumnya sudah pisah ranjang 8-10 tahun atau hanya hidup bersama selama dua tahun.

Demikian kurang lebih  rangkuman data dari Kantor Dinas Catatan Sipil dan  Kependudukan (Discapil).  Bulan 2013  Juli lalu tercatat 22 pasangan mendaftarkan perceraian di Disdukcapil Manado. Menurut  Kadis  Hans Tinangon, jumlah tersebut menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya yang  bisa dikatakan, setiap hari ada satu pasangan yang mengajukan cerai.

Statistiknya bulan Januari 28 kasus , Februari 26, Maret 24, April 26, Mei 24 permohonan cerai. Jika dirata-ratakan sebulan ada 25 permohonan cerai, dalam setahun bisa ada 300 permohonan cerai.

Grace Komaling, Kepala Bidang Pendaftaran dan Pencatatan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan Kota Manado menambahkan, jumlah pasangan yang meminta akte perceraian untuk bulan Juli 2013  sebanyak 24 orang.

Menurut dia, mereka yang meminta akte perceraian umumnya sudah pisah ranjang delapan sampai sepuluh tahun. "Rata-rata untuk usia pasangan 18-35 tahun jumlahnya hanya sekitar 15 persen. Justru yang berada di atas 35 tahun yang mencapai 85 persen," ujarnya. Untuk usia perkawinan lima sampai sepuluh tahun, permintaan cerai mencapai 45 persen. Untuk usia perkawinan 14-25 tahun, permintaaan cerai 35 persen. Sedangkan usai pernikahan 10-15 tahun, 20 persen.

"Rata-rata jumlah anak mereka dua," katanya.  Sekitar 40 persen alasan bercerai karena sudah lama pisah ranjang. Tiga puluh persennya tidak cocok. Sedangkan yang dipicu perselingkuhan sekitar 30 persen.  Komaling mengakui dari latar belakang profesi, yang paling banyak bercerai ialah pasutri yang bekerja di sektor swasta. "Saya perkirakan PNS hanya sekitar 20 persen," ujarnya.

Tren peningkatan kasus perceraian di Sulut juga diperoleh Tribun dari Kantor Pengadilan Agama (PA). Pada tahun 2009, cerai talak terdapat 160 perkara dan cerai gugat 440 perkara. Tahun 2010 cerai talak 198 perkara, cerai gugat 555 perkara. Tahun 2011 cerai talak 271 kasus dan cerai gugat 772 perkara, tahun 2012 cerai talak 225 perkara, cerai gugat 740 perkara. Tahun ini sampai bulan Juni 2013, tercata kasus cerai talak 292 perkara dan cerai gugat 682 perkara.Di Sulut saat ini ada enam Pengadilan Agama (PA) yang ada di Kota Manado, Kotamobagu,  Tondano, Tahuna,   Bitung  dan Amurang. Data tersebut di atas disampaikan Hasbiah, Panitera Muda Hukum Pengadilan Tinggi Agama Manado."Data yang masuk ke kami rekapanya tiap bulan untuk seluruh PA di Sulut," ujarnya. (dma/kel)

Sumber: Tribun Manado 20 Agustus 2013 hal 1

Konselor Pernikahan: FB Memang Menggoda

Meningkatnya kasus perceraian di Sulawesi Utara dalam lima tahun terakhir khususnya pada  pasangan suami istri (pasutri) yang sudah mapan coba dianalisis musabab dan solusinya oleh dosen moral dan konselor pernikahan. Yonas Adjas Pr, dosen Moral Katolik dan ahli Hukum Nikah Kanonik Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STF-SP) berpendapat tren perceraian pada usia mapan (usia pasangan di atas 35 tahun) terjadi karena faktor kejenuhan. Mereka bisa saja bercerai tanpa alasan.

"Masa 2 x 5  tahun itu merupakan masa dimana pasangan masuk pada tingkat kejenuhan yang tinggi. Mereka kehilangan orientasi. Mereka (pasutri)  butuh penyegaran," kata kata lulusan Universitas Urbaniana Roma ini. Diakui, kejenuhan bisa terjadi karena penampilan yang berubah dan kecanduan pada kerja."Akibatnya pasangan mencari entertain di luar keluarga," ujarnya,  Minggu (18/8/2013).

Selain masalah kejenuhan, pasutri kadang tidak menyiapkan diri yang kuat untuk berrumah tangga. "Apalagi ini zaman instan. Semua menjadi serba cepat dan hanya menghasilkan kekosongan. Dulu di zaman agraris belum banyak pilihan. Semua orang bekerja keras mencapai sesuatu. Hasil yang ditunggu sangat lama. Itu sangat berbeda dengan jaman industri," tuturnya.

Hal lain yang menganggu perkawinan ialah orientasi zaman yang menonjolkan seksualitas. "Kini rok atau celana pendek dianggap biasa, padahal itu mempengaruhi teologi tubuh. Rumah tangga pun kadang dipandang sebatas itu," katanya. Akan tetapi seperti teori filsafat, sebuah keluarga memang harus memasuki tahap itu. Tahap  antitesis terhadap tesis. "Jika tahap ini berhasil dilewati, mereka akan saling mengenal. Ada pilihan hidup baru bagi mereka," jelasnya.

Adjas menyarankan pada titik jenuh usia pernikahan, pasutri lebih terlibat pada kegiatan sosial keagamaan supaya belajar sesuatu yang baru. Energi mereka pun dipacu pada sesuatu yang baru. "Perlu ada wadah sosial untuk mereka," katanya. Mereka pun harus pergi ke tempat yang bisa menyegarkan diri. "Pergi berlibur ke Bali misalnya, itu  hal yang baik," ujarnya

Adjas pernah mengalami bagaimana peristiwa perceraian menganggu psikologi anak apalagi jika sudah memasuki bangku SMP. Anak sangat takut. "Ada dua dunia yang dimasuki anak, pertama domestik dan yang kedua publik. Ketika ia masih SD, ia lebih banyak berada di wilayah domestik tapi ketika sudah masuk usia sekolah menengah pertama ia masuk ruang publik. Ia takut akan kesan publik terhadap itu," ujarnya. Adjas selalu menempatkan doa dalam setiap konseling keluarganya. "Doa membantu pasangan membuka diri," katanya.

Doktor Albertus Sujoko, dosen teologi moral dan konselor pernikahan juga menyebut zaman yang berubah ikuti memicu perceraian. "Kini orang bisa bertemu orang lain secara mudah.  Peluang membangun hubungan gelap jadi tinggi," katanya. Alat komunikasi pun mempermudah hal itu. 

"Dengan banyaknya pertemanan baru lewat Facebook  dan handphone membuat orang gampang tergoda," tuturnya. Kemapanan ekonomi merupakan faktor berikutnya yang membuat perceraian mudah terjadi. Uang membuat godaan menjadi lebih besar. Soal peluang besar orang yang sudah mempunyai anak untuk bercerai, Sujoko menyebut adanya perpindahan interes. Saat belum mempunyai anak, interes pasangan pada seks sama. Tapi ketika sudah punya anak, ibu akan terkonsetrasi pada anaknya. "Di sini butuh cinta kasih dan pengorbanan. Pria yang tidak tahan pasti mencari perempuan lain," katanya.

Solusinya, kata Sujoko, mempersiapkan perkawinan secara baik. "Harus saling mengenal, mencintai dan mengetahui,"  ujarnya.

Keluarga besar pun harus mendukung. Seringkali permasalahan  terjadi karena 
campur tangan keluarga besar. "Yang terakhir itu komitmen dan kesetiaan pada janji perkawinan," tuturnya. Dalam konseling, Sujoko juga menemukan banyak kisah unik. Ada yang membatalkan perkawinan karena dijodohkan. "Dulu ia sangat dijaga orang tua. Jadi ia menggunakan kesempatan untuk bebas tapi akhirnya ia menemukan bahwa perkawinan itu bukan kehendak bebas," katanya.

GMIM Prihatin
Meningkatnya tren perceraian di Sulut mengundang keprihatinan  dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Persoalan tersebut mestinya tak boleh terjadi, sebab lembaga pernikahan itu suci, anugerah Tuhan yang  tak boleh dipermaikan apalagi diingkari dengan cerai. "Pernikahan berlangsung sepanjang hidup," kata  Pendeta Hendry Runtuwene, Sekretaris Departemen Kemitraan dan Oikumene Sinode GMIM,   Minggu (18/8/2013).

Menurut dia, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia dengan alasan apapun. Hanya maut yang dapat memisahkan. "Pada dasarnya gereja menolak perceraian. Pengaruh relatifisme  nilai pernikahan  sesungguhnya tidak boleh menggoyahkan pernikahan sebagai lembaga kudus tersebut. Tugas gereja  terus mengingatkn masing-masing jemaatnya untuk tetap menjaga dan memelihara maksud tersebut," ungkapnya. Runtuwene mengatakan terjadinya  kasus  perceraian di daerah ini, termasuk melibatkan warga GMIM, bukan berarti gereja menerimanya.

 "Gereja tidak pernah mengakui dan membenarkan perceraian. Maslah perceraian harus dihadapi bersama oleh semua pihak, baik gereja itu sendiri, pemerintah dan masyarakat," katanya. (dma/war)

Sumber: Tribun Manado 21 Agustus 2013 hal 1

Dua Wanita Tangguh Sulut Taklukkan Elbrus

Ingka dan Jelita di puncak Gunung Elbrus, Rusia
PRESTASI demi prestasi dibukukan anak-anak Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima). Kali ini, mereka sukses menaklukkan Mount Elbrus di Rusia. Gunung setinggi 5.642 meter itu diraih puncaknya pada 29 Agustus lalu.

Hebatnya lagi, gunung itu ditaklukkan oleh dua wanita yakni, Ingka wangko dan Jelita Karamoy yang mengikuti program The 1st Indonesian Woman on 7 Summits of The World Expedition.

Setelah tiba di Manado, Sabtu (7/9), dua wanita hebat ini mampir ke markas Tribun Manado di Jalan AA Maramis Kairagi Manado. Raut wajah senang dan bangga dua gadis bertubuh mungil tapi enerjik ini jelas terpancar.

Ditemani Bob Sumoked, Koordinator Teknis Team Ekspedisi dan Janni Ayub Oktavianus Sekoh selaku Ketua MPA Aesthetica, Ingka dan Jelita menceritakan pengalaman mereka.

Gunung Elbrus di Rusia itu memiliki ketinggian hampir 5642 meter dari permukaan laut dan bersuhu minus 30 derajat. Untuk mendaki Gunung Elbrus diperlukan waktu selama delapan hari. "Itu mulai dari persiapan kami, kemudian aklimatisasi atau suatu upaya penyesuaian fisiologis sampai pendakian," ucap Jelita memulai pembicaraan.

Selama melakukan pendakian ini mereka ditemani seorang pemandu pendakian Lisa (46), warga negara Jerman, namun sudah lama menetap di Rusia. Selain dari Indonesia (Ingka dan Jelita) di tim tersebut juga terdapat pendaki dari negara Italia, Jerman dan Jepang, masing-masing satu orang.

Diutarakan Ingka, tidak ada kendala berarti selama mereka melakukan pendakian tersebut. Selain karena kegiatan pendakian ini sudah merupakan hobi mereka, Ingka dan Jelita juga sudah beberapa kali melakukan training di Gunung Klabat sebagai bagian program untuk menembus Gunung Elbrus.

"Tapi memang udaranya sangat dingin. Kalau di Klabat kami harus pakai dua jaket lapis, di Elbrus sampai empat jaket, walaupun begitu dinginnya masih bisa kami rasa," ucapnya Jelita yang diiyakan Ingka.



Sayangnya, Jelita mengaku di tengah  perjalanan di ketinggian 5.100 meter sahabat petualangannya, Ingka tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung karena mengalami kram. "Saya sedih sekali karena Ingka tidak dapat lanjut, padahal kita sudah di tengah perjalanan," ucap Jelita sambil menahan isak tangis.

Ingka pun mengaku badannya kram akibat suhu yang sangat dingin. "Suhu waktu itu sangat dingin, apalagi badan tidak mampu bergerak, pada pergumulan kami memutuskan saya tidak lanjut," ujar Ingka.

Akhirnya Jelita berhasil menaklukkan Gunung Elbrus bersama pendaki dari Jerman, Italia dan Jepang dengan arahan rekan pendaki.

Mantan Ketua Sinode GMIM Pdt Prof Dr WA Roeroe mengapresiasi semangat para wanita petualang ini. "Mereka telah mengharumkan nama bangsa, kita harus sokong dan berikan ucapan selamat atas penaklukkan yang belum tentu orang lain bisa," ucapnya sambil menutup acara ini dengan doa. (dru/ren)


Targetkan Kilimanjaro

INGKA wangko dan Jelita Karamoy berangkat dari Indonesia, 23 Agustus  pukul 00.10 WIB, dan tiba di Denovo pukul 13.20 waktu Moskow. Selama di Moskow, rombongan sempat menjadi tamu spesial di KBRI Rusia.

Duta Besar Indonesia untuk Rusia Djauhari Oratmangun memberikan fasilitas akomodasi dan transportasi selama tiga hari. "Ini semua berkat upaya Kepala Dinas Pariwisata Sulut Suprianda Ruru," kata Jelita.

Ketua Mahasiswa Indonesia di Moskow, Aries Geriantoro, memberikan dukungan penuh bagi tim ekspedisi Elbrus. Aries sempat mengantar tim ini  hingga Bandara Demo Denovo. Dari Moskow mereka terbang menuju Mineralhny Vody.

Program ekspedisi ini masih akan berlanjut sampai tahun 2015. "Berikutnya kami akan mendaki gunung di Amerika Selatan dan Gunung Kilimanjaro di Afrika Timur," ucap Ingka.

Bob Sumoked menuturkan mereka juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Gubernur Sulut, SH Sarundajang yang sudah memberikan bantuan moril. "Kami juga disambut baik waktu di Jakarta sebelum Ingka dan Jelita terbang ke Moskow," katanya.

Selama di Jakarta, Pemprov Sulut memberikan akomodasi yang terbaik dengan menginap di hotel berkelas. "Walaupun saya tidak ikut dengan mereka sampai di Rusia, tapi secara pribadi saya terus berdoa untuk Ingka dan jelita agar sukses di Elbrus," katanya. (dru)

Terima Kasih...

KESUKSESAN dua anggota Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Aesthetica, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) menaklukkan Mount Elbrus di Rusia tak terlepas dari dukungan banyak pihak.

Untuk itu, tim pendaki menyampaikan ucapan terima kasih kepada Soccer Cafe, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulut Suprianda J Ruru, Bahaga Manado, Pembantu Dekan III FBS Unima Dra Nurmin Samola, Pembantu Rektor III Unima Dr Itje Pangkey Msi, Seluruh Dosen dan Staff Mahasiswa Unima.

Kemudian terima kasih juga kepada Pemprov Sulut, Gubernur Sulut DR SH Sarundajang, Wali Kota Manado Vicky Lumentut, Pemkab Minsel, Ketua KONI Minsel Kristovorus Deky Palinggi SE, Pemkab Minut, Sekda Minut Johanes Rumambi, Ibu Lies Tamuntuan-Makisanti STh,Msi, Waraney Arung Jeram, Frangky Kowaas STh, Jopie Worek, Farly Allan Malonda, Pdt Musa Mawitje.

Sumber: Tribun Manado 8 September 2013 hal 8

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes