Woda Rasi, Tokoh Kebanggaan Ata Lise

Dion Dosi Bata Putra
KAMI anak cucunya di Suku Lise (Lio - Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur)  sangat akrab dengan nama tokoh ini. Di masa kecil, ketika bangun pagi sambil memanggang diri di perapian guna mengusir dingin, orang-orang tua selalu menceritakan tentang sosok Woda Rasi. Juga dalam berbagai acara kalau sedang kumpul banyak orang. Woda Rasi menjadi buah bibir dan bahan cerita tutur turun temurun.

Menurut ayahku Thomas Bata tokoh ini patut dicatat khusus dalam sejarah orang Lise, siapa pun Anda. Dialah yang memiliki dan menguasai lahan tanah persekutuan sangat luas di wilayah Lise.

Warga Kecamatan Lio Timur dan Kota Baru  dan sebagian Wolowaru adalah anak cucu Woda Rasi atau kerap juga disebut Woda Kumi Merah. Disebut demikian karena Putra Bungsu Rasi Leu tersebut  kumisnya berwarna kemerah-merahan seperti rambut jagung.

Walaupun anak bungsu dari enam bersaudara putra Rasi Leu, Woda dikenal sebagai petualang yang berani. Dia juga memiliki kemampuan berperang dengan suku atau kampung yang lain. Kemampuan berperang ini pula yang membuat Woda Rasi memiliki lahan pertanian sangat luas yang dikenal dengan julukan: Eko Take Tola Ndale - Ulu Soe Endo Mbawe. 

Artinya, ekor atau ujung tanah Woda Rasi adalah Tana Tola (Lia Tola) dan Mau Ndale di pantai selatan Flores dan kepala tanahnya di Tana Endo dan Mbawe di pesisir utara Pulau Flores.   Agar kau tidak bingung, Tola Ndale itu letaknya di wilayah Kecamatan Lio Timur, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini. Sedangkan Endo Mbawe lokasinya di Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende.

Tanah Woda Rasi itulah yang dia wariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya Ata Lise sampai sekarang. 

Woda Rasi memiliki tiga orang putra yakni Wangge, Mbete dan Senda. Generasi ketujuh sejak kedatangan dari Malaka ini bermukim di Kampung Nua Tu yang menjadi kampung besar pertama seluruh orang Lise.

Kampung Nua Tu kini masih ada dan masuk dalam teritori Desa Lisedetu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Menurut penuturan ayahku serta sejumlah mosalaki di persekutuan Lise Tana Telu, sejak zaman  Lio Laka sampai dengan generasi kedelapan yaitu Woda Mbete dan lima saudaranya, keturunan Woda Rasi bermukim di Kampung  Nua Tu tersebut.

Pada generasi kesembilan sejak kedatangan dari Malaka, seiring dengan pertambahan populasi penduduk, anak Woda Mbete masing-masing Tani, Mbete, Dosi, Senda, Kewa dan Kemba, lokasi pemukiman makin menyebar ke utara, timur dan selatan. Hal ini dapat dimengerti karena pada masa itu mereka berkebun dan berburu lalu mulai membangun pondok tinggal di kebun atau daerah sekitar kebunnya.

Itulah cikal bakal adanya perkampungan baru. Tani Woda dan keturunannya memilih tinggal di Rate Nggoji (masuk wilayah Desa Tani Woda, Kecamatan Kotabaru sekarang), Mbete Woda di Wololele A, Dosi Woda di Mulawatu (desa Fatamari, Kecamatan Lio Timur), Senda Woda atau Senda Lo'o memilih kampung Ranggatalo, Kewa tinggal di Wolomage, Desa Fatamari, Lio Timur.

Sejak generasi kesembilan ini pemukiman menetap dan bertahan  turun-temurun sampai sekarang. Jika hitungan satu generasi berperiode 60 tahun misalnya, maka generasi kesembilan orang Malaka (orang Lise) sekitar tahun 900 atau 1.000 atau abad ke-10. Karena itu perkampungan di wilayah Lise umumnya berusia tua. Demikian pula dengan warisan dan peninggalan nenek moyang yang lestari sampai sekarang.

Peninggalan nenek moyang yang masih ada sampai sekarang, beberapa bisa disebut di sini. Bhaku Rate (rumah kecil tempat menyimpan peti tulang-belulang nenek moyang), Hanga (halaman rumah atau lapangan, tempat digelar pesta adat syukur atau menang perang). One ria tenda bewa (rumah besar tempat tinggal mosalaki/ria bewa).

Sue wea (emas 24 karat) dalam beragam bentuk dan motif dan gading gajah. Gading dalam kepercayaan orang Lise bisa beranak pinak. Karena itu, para gadis dilarang keras tidur di rumah adat yang menyimpan gading. Kalau larangan itu dilanggar, si gadis akan dikawini oleh gading tersebut. Pembuktian keyakinan ini agak irasional tetapi masih diyakini hingga kini. Masih banyak kisah yang  akan kurekam dan kucatat untuk dibagikan kepada siapa saja terutama saudara-saudariku sesama keturunan Woda Rasi. Salam Lise! *

Di sini kutulis tentang asal-usulku. Juga kucatat penggalan-penggalan kisah leluhur. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.

Dion Dosi Bata Putra
Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman.

Ayub Titu Eki-Korinus Masneno Menang Satu Putaran

 Calon Bupati Terpilih Kabupaten  Kupang 2014 - 2019
Pasangan Ayub Titu Eki-Korinus Masneno (YURI) menang telak dalam Pilkada Kabupaten Kupang 2013.  Paket ini berhasil 'mengkanvaskan' enam paket lain sebagai pesaingnya dalam perolehan suara.

Hasil rekapitulasi oleh KPUD Kabupaten Kupang memastikan paket YURI  mengumpulkan 63.229 suara atau 44,10 persen dari total pemilih dalam DPT sebanyak 193.337 orang. Dengan demikian Pilkada Kabupaten Kupang dipastikan berlangsung cuma satu putaran.

Rapat pleno rekapitulasi dibuka oleh Ketua KPUD Kabupaten Kupang, Hans Louk, didampingi empat anggotanya, Imanuel Ballo, Migel E Nitbani, Octovianus DJ La'a dan Johanes Tunbonat. Rapat pleno digelar di gedung pertemuan Gereja Elim Oesao, Kamis (12/9/2013) siang.

Rapat pleno rekapitulasi ini tidak dihadiri para saksi dari tiga paket lainnya yaitu Manora (Steven Derven Manafe-Maher S.H. Ora), Abdi (Alexander Foenay-Beny R Ndoenboey) dan Ataupah-Kase (Melitus Ataupah-Soemin Kase).

Tidak ada pemberitahuan resmi kepada pihak KPU kenapa para saksi dari tiga paket itu tidak hadir.  Sedangkan saksi dari empat paket lainnya tetap hadir dan membubuhkan tandatangannya dalam berita acara pleno rekapitulasi perolehan suara.

Dalam proses rekapitulasi Kamis siang, saksi dari Paket Sahabatku sempat mengajukan protes keras soal mekanisme rekapitulasi perolehan suara sementara di tingkat PPK.

Saksi mengungkapkan saat rekapitulasi di tingkat PPK mereka tidak mendapat surat undangan dari PPK. Namun dijelaskan bahwa surat undangan telah disediakan namun alamat sekretariat tim sukses tidak jelas dan siapa yang bertanggungjawab menerima surat undangan itu pun tidak jelas.

"Saksi dari tiga paket yang tidak hadir dan tidak membubuhkan tandatangan dalam berita acara tidak mempengaruhi hasil pleno hari ini. Hasil pleno rekapitulasi hari ini sah adanya," tandas Jubir KPUD Kabupaten Kupang, Imanuel Ballo, saat dihubungi Kamis malam.

Dari rapat pleno rekapitulasi penghitungan hasil perolehan suara pasangan cabup-cawabup Kupang, Kamis siang, Ballo menegaskan paket Yuri dipastikan menang mutlak satu putaran dalam pilkada Kabupaten Kupang. "Dan tanggal 14 September 2013 KPUD Kabupaten Kupang akan menetapkan pasangan cabup-cawabup terpilih," tandas Ballo.

Pantauan wartawan, rapat pleno rekapitulasi perolehan suara umumnya berjalan lancar, aman dan tertib. Aparat Polres Kupang dibantu Satkinmas dan Pol PP mengawal secara ketat rapat pleno tersebut. (ade)

Hasil Pleno Rekapitulasi oleh KPUD Kabupaten Kupang


* Paket Manora 6.691 suara (4,67%

* Paket Victory 19.438 suara (13,56%)

* Paket Yuri  63.229 suara (44,10%)

* Paket Selamat 23.193 suara (16,18%)

* Paket Abdi 6.662 suara (4,65%)

* Paket Sahabatku 20.366 suara (14,21%)

* Paket Ataupah-Kase 3.789 suara (2,64%)


- Total suara sah  143.368 suara (98,51%)

- Jumlah suara tidak sah 2.172 suara (1,49%)

- Jumlah suara sah dan tidak sah 145.540 suara (100%)

- Jumlah pemilih dalam DPT 193.337

- Jumlah pemilih dalam DPT yang menggunakan hak pilih 143.879 orang

- Jumlah pemilih dalam DPT yang tidak menggunakan hak pilih 49.461 orang      (25,58%) (ade)

Sumber: Pos Kupang.Com

Jari ke Atas Artinya Tuhan

Layaknya orang normal, para tunarungu bercanda satu sama lain. Suasana tampak meriah meski yang digunakan adalah bahasa isyarat.

TARIAN dari tujuh anak tunarungu membuka perayaan ibadah perayaan Natal DPD Gerkatin (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Sulut  yang berlangsung di Kantor Sekretariat DPD Gerkatin Sulut, Jl Lumimuut No 28 Manado, Minggu (2/12/2012) siang.

Sambil memegang rebana, para penari mengawali tarian berdurasi lima menit itu dengan melakukan serangkaian gerak di tempat.  Bergoyang sambil membunyikan rebana, para penari ini lalu bergerak dari tempatnya semula. Rupa-rupa gerak diperlihatkan mulai dari duduk, melompat dan berputar-putar. Rebana dipukul keras-keras, lalu tarian berhenti. 

Tak ada musik, hanya suara serta isyarat tangan dari Pdt Nova Umboh Gerung yang menuntun tarian itu sejak awal hingga berakhir.

Usai tarian singkat itu, ibadah pun dimulai. Tak ada satupun dari puluhan tunarungu ini yang pegang buku liturgi.  Liturgi serta tata cara ibadah itu dipantulkan oleh proyektor ke dinding putih yang ada di depan.

Seorang MC dengan menggunakan bahasa isyarat menuntun para tunarungu untuk melalui setiap bagian dari ibadah itu.  Tampak jari MC wanita itu menunjuk ke atas jika yang dimaksud adalah Tuhan. Jika jarinya menunjuk ke bawah, yang dimaksud adalah manusia. Tiba waktu berdoa, wanita itu menyatukan jemarinya kiri dan kanan. Dan jemaat pun berdoa. Waktu menyanyi lagu Gita Sorga Bergema, jemari wanita itu bergerak tanpa henti.  Pada lirik "lahir raja mulia" di bait kedua, wanita itu harus membuat tiga gerakan berturut-turut dengan cepat.

Usai doa dan nyanyi, jemaat mendengar pesan Natal yang dibawakan oleh Pdt Nova Umboh Gerung. Pada dinding itu, liturgi dan tata cara hilang, berganti slide tentang seorang anak cacat yang tengah berjuang untuk hidup. Tampak di situ, anak yang tidak lagi punya tangan ini mengerjakan segala sesuatu mulai dari bermain hingga menggosok gigi dengan kakinya.

Dari adegan ke adegan, jemaat mengikuti perjuangan anak itu dan terharu. Dalam khotbahnya, Pdt Nova Umboh Gerung yang juga kepala panti Tunarungu Damai Tomohon berbicara sambil memainkan bahasa isyarat dengan tangannya. "Yesus lahir untuk semua manusia, semua manusia berharga di matanya. Untuk itulah ia mati di kayu salib," katanya sambil menggerak-gerakkan tangan.

Ia mengajak tunarungu untuk eksis di tengah masyarakat dengan cara hidup mandiri serta membantu orang lain "Marilah kita saling menguatkan dan menolong satu dengan yang lain," tuturnya. Selesai ibadah, ramah tamah digelar. Layaknya orang biasa, para tunarungu bercanda satu sama lain. Suasana tampak meriah, meski yang digunakan adalah bahasa isyarat.

Samson Mamudi, Ketua DPD Gerkatin Sulut yang diwawancarai Tribun Manado dengan cara menulis pertanyaan pada kertas menyatakan, kekurangan yang dialami bukanlah penghalang bagi seorang tunarungu untuk berkarya.  "Saya adalah karyawan Balai Latihan Pendidikan teknik pada GMIM, juga petugas pembinaan warga gereja GMIM," ujarnya..

Untuk bisa berkarya, seorang tunarungu harus percaya pada kemampuan dirinya. "Tuhan sudah memberi karunia kepada semua orang," kata Samson yang juga Sekretaris DPP PPCI (Persatuan Penyandang Cacat Indonesia ) Sulut. Dari semua yang telah diberikan Tuhan, ia paling bersyukur dengan dua anaknya yang lahir normal, kendati istrinya Jois Lolowang, juga tunarungu. "Semoga Natal ini kami sekeluarga dapat dijaga oleh Tuhan Yesus," katanya. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado 3 Desember 2012 hal 1

Siapa Leluhur Orang Lise?

Peta Kabupaten Ende, Flores, NTT
NENEK  moyang atau leluhur kami orang Lise diyakini bukan warga asli Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka datang jauh dari luar pulau Flores lalu tinggal menetap dalam komunitas sendiri. Dalam perjalanan waktu terjadi kawin-mawin dengan warga lokal.  Leluhur orang Lise diyakini adalah etnis Melayu (Malaka).

Generasi pertama  orang Lise diperkirakan tiba di Flores Tengah (wilayah Kabupaten  Ende) sekitar abad ke-7 dan ke-8 bersamaan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Cerita lisan turun-temurun dari leluhur kami  menyebutkan, nenek moyang orang  Lise datang Malaka. Mereka datang menggunakan perahu tradisional dan membuang sauh di Pantai Wewaria, dekat Ropa, ibukota kecamatan  Wewaria, Kabupaten Ende saat ini.

Ada beberapa versi tentang jumlah rombongan pertama dari Malaka tersebut. Perbedaan ini agaknya bisa dimaklumi karena dokumentasi sejarah ini dalam budaya tutur, sehingga kemungkinan besar terjadi bias atau deviasi bahkan missing link.

Versi lain menyebutkan rombongan dari Malaka juga mendarat di selatan Pulau Timor, tepatnya di daerah Malaka Kabupaten Belu. Mereka satu asal-usul dengan rombongan yang mendarat di Wewaria, Flores. Sepintas, nama-nama orang Malaka (Belu) dan orang Lise ada kemiripan. Misanya Laka, Mali, Bere, Mau dan lainnya.

Versi kisah yang cukup dominan antara lain menyebutkan, rombongan dari Malaka itu setibanya di Wewaria berpencar mencari kawasan permukiman masing-masing. Ada yang bergerak ke arah barat menuju wilayah Manggarai dipimpin Rai Laka, ke Ngada namanya Enga Laka, ke wilayah Kabupaten  Sikka dan Flores Timur namanya Igo Laka.

Sedangkan dua bersaudara yang lain yaitu Lio Laka dan Woda Laka memilih Lio (Ende) sebagai hunian mereka membangun keluarga. Yang sampai saat ini diketahui sebagai orang Lio adalah cucu dari Lio Laka  tersebut.

Dan, inilah silsilah orang Lise tersebut. Lio mempernakkan Le, Le memperanakkan Lela, Lela memperanakkan Leu, Leu memperanakkan Rasi, Waku dan Lengo (Wolojita dan Jopu). Rasi memperanakkan Pati, Mboti, Mali, Ngeo, Bao dan Woda. Woda memperanakkan Wangge, Mbete dan Senda. Mbete memperanakkan Ndopo, Laka, Tani Loo, Wangge, Woda dan Tani Dua. Woda memperanakkan Dosi, Mbete, Tani, Senda, Kewa dan Kemba. Tani memperanakkan Ngaba,  Wangge, Mbete dan Senda.

Khusus untuk mosalaki Puu Lise Tana Telu, Wangge memperanakkan Woda, Woda memperanakkan Tibo, Leu, Dosi, Mbete dan Lando. Tibo memperanakkan  Kilo, Gebo, Siso, Bego dan Dawa. Baba memperanakkan Dedo, Saka, Wero dan Paka. Dedo memperanakkan Bheto dan Baba (generasi ke-15).

Saya dan saudara-saudari saya berasal dari keturunan Ngaba Tani. Nah, silsilah ringkasnya  sebagai berikut. Ngaba memperanakkan Dosi, Dosi memperanakkan Dede dan Wara, Dede memperanakkan Dari, Dosi, Woda dan Bata.  Woda memperanakkan  Manggo, Lidi dan Woda. Bata, ayah saya  memperanakkan Dede, Muwa, Dosi dan Budi, Hando dan Badhe.

Sampai dengan Dede Dosi sudah mencapai generasi kelimabelas sejak generasi pertama Lio Laka. Semua yang diingat ini hanyalah garis keturunan laki-laki. Maklum dalam tradisi Lise garis keturunan menganut sistem patrilienal (laki-laki) hampir sama dengan daerah lainnya di Pulau Flores, kecuali Mangulewa di Kabupaten Ngada.

Begitu dulu kisah ringkas tentang leluhur orang Lise yang darahnya mengalir dalam tubuh saya. Nanti saya sambung lagi pada kesempatan mendatang. *

Aku ata  Lise
 

Di sini kucatat penggalan-penggalan kisah nenek moyang. Aku bagian dari darah daging mereka yang ada dan mengalir adanya hingga anak cucu Lise mendatang.
 

Dion Dosi Bata Putra 
 Embu Woda, Ana Mbete, Wewa Tani Woda, Mamo Ngaba Tani, Benge Dede Dosi, Putra Bata. 

Gelombang yang tiada henti bergelora dalam arus zaman....




Mereka Anak-anak Spesial

ilustrasi
Christin merasa terpanggil untuk  terus menjadi guru bagi anak-anak autis. Sebab mereka  dititipkan Tuhan untuk orang-orang yang spesial
MENGAJAR
anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus agar dapat menangani mereka dengan baik. Namun, semua itu takkan  berarti tanpa ketulusan, kesabaran dan sikap mengasihi. Christin Potabuga (24) memiliki keutamaan itu dalam memberikan pengabdiannya sebagai guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Permata Hati Manado.

Kepada Tribun Manado, Selasa (9/7/2013), Christin mengatakan tak pernah terbesit di pikirannya untuk menjadi guru bagi anak-anak autis. Apalagi latar belakang pendidikannya tidak relevan dengan dunia yang dia geluti sekarang. Namun, hati yang terpanggil untuk melayani, memudarkan anggapan terhadap diri sendiri bahwa ia tidak akan bisa. Buktinya tujuh tahun sudah ia mengasuh anak-anak berkebutuhan khusus.

Christin berkarya pertama kali di SLB Permata Hati Manado  sebagai pegawai administrasi. Lambat laun dia perhatiannya tertuju pada kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.  "Ternyata ada anak-anak seperti ini di dunia. Saat menonton  di televisi dan melihat langsung di sekolah  sangat berbeda jauh," ungkapnya.

Dia terus termotivasi untuk terlibat secara langsung mengasuh anak-anak itu. Christin
berhasil beradaptasi dengan anak-anak tersebut meskipun dia sempat kewalahan. "Saya sering kewalahan," katanya. Lambat laun ia mulai terbiasa dan menikmati profesi sebagai pengajar. "Ternyata saya bisa," tandasnya. Dengan keyakinan tersebut, ia memutuskan untuk mengambil Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Manado. "Saya baru saja diwisuda," kata Christin.

Christin menganggap perilaku anak-anak autis yang sulit diatur  menjadi motivasinya untuk terus melatih diri. "Itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Dan saya sadar betul untuk berhasil harus  bisa mengalahkan semua tantangan," katanya. Ia pernah memiliki seorang murid yang sangat sulit diatur, namanya Allan. Ia beserta teman- teman guru yang lain berusaha keras untuk menangani anak itu. Allan studi di sekolah itu selama empat tahun  dari usia 3 - 7 tahun. "Saya tidak pernah melupakan Allan. Sekarang ia sudah sembuh dan sudah bersekolah di sekolah reguler," ujarnya.

Manusia diciptakan dengan keterbatasan. Layaknya Christin yang tak jarang kewalahan menangani murid-murinya. Berusaha sekuat mungkin tanpa ada hasil memancing emosi Christin. "Saat saya emosi, saya keluar kelas untuk menenangkan diri. Setelah reda baru saya masuk lagi," katanya.

Christin mengakui sebagai guru ia dituntut membuat anak-anak patuh bukan takut. Jadi emosi yang meledak-ledak tidak diperkenankan bagi mereka. "Itu sebenarnya untuk semua guru, khususnya Sekolah Dasar," ungkapnya. Menurut Christin, anak-anak autis memiliki dunianya sendiri. "Nah di situlah peran kami untuk memperkenalkan mereka bahwa ada dunia yang sesungguhnya," ucap Christin.

Bagi gadis yang memiliki motto My Job is My Life, gaji sebagai guru  memang tidak seberapa. Namun, Christin menekuni profesi tersebut tidak semata-mata untuk mencari uang. "Saat saya berhasil menangani mereka, itu merupakan suatu kebanggaan yang tidak bisa dinilai dengan apapun," ucapnya.

Menurutnya, di luar sana memang banyak pilihan pekerjaan baginya. Namun hatinya terpanggil untuk  terus menjadi guru bagi anak-anak autis. Christin tak tahu entah sampai kapan ia akan menekuni profesi tersebut, tapi satu hal yang pasti hatinya tepanggil untuk terus melayani anak-anak berkebutuhan khusus.

"Saya akan terus mengenalkan dunia ini kepada mereka. Ini panggilan untuk melayani. Tuhan tidak kebetulan mengirimkan saya ke sekolah ini.  Bagi saya, mereka adalah anak-anak spesial yang dititipkan Tuhan untuk orang-orang yang spesial juga," katanya.  (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 13 Juli 2013 hal 1

Kisah Hidup Perempuan Tangguh

Suami dan anak-anak sempat melarang dia  menggeluti pekerjaan itu. Namun tekad Mima mengalahkan argumentasi orang-orang yang dicintainya.

LANGIT pada Kamis (11/7/2013) siang sedang berawan. Matahari sembunyi di balik awan. Saat  melintasi pangkalan ojek Patung Kuda Paal Dua Manado, mata terhenti pada pemandangan yang tidak biasa. Di antara para tukang ojek yang sedang duduk, ada sosok yang berbeda dan tidak biasa.

Sosok itu adalah Mima Ulak (45), wanita yang bekerja di dunia para lelaki  sebagai  tukang ojek. Belum banyak wanita yang mau menggeluti pekerjaan itu. Hanya mereka yang punya harapan dan keyakinan seperti  Mima. Pada waktu senggangnya, Mima pun bertutur mengenai kisah hidupnya kepada Tribun Manado.

November 2009 menjadi bulan yang mengubah hidup Mima. Saat itulah Mima memutuskan menjadi tukang ojek. Mima membeli sepeda motor yang kemudia mendapat pelat nomor polisi DB 9083 M. Awalnya kendaraan itu untuk operasional diia dan keluarganya. "Saya pikir-pikir kalau motor hanya didiamkan, rugi. Bagaimana caranya bisa menghasilkan rupiah dari motor itu," kenangnya.

Tukang ojek jadi pilihannya. Suami dan anak-anaknya sempat melarang dia  menggeluti profesi yang menantang bahaya tersebut. Namun tekad Mima mengalahkan argumentasi orang-orang yang dicintainya. "Saya sudah biasa kerja berat, jadi kalau cuma tukang ojek saya yakin pasti bisa," katanya.

Kerasnya hidup sudah dirasakan Mima sejak usia 10 tahun. Mima tinggal dengan orang lain untuk bekerja, jauh dari keluarganya. Bisa dikatakan sebagai pembantu karena pekerjaan yang dilakukannya persis seperti pembantu rumah tangga. Bersih- bersih rumah, cuci piring dan pakaian dan lain-lain. Sambil kerja, Mima disekolahkan. "Saya sudah terlatih sejak umur sepuluh tahun," katanya. Sebelumnya Mima pernah bekerja di pabrik sebagai buruh. Kemudian ia berhenti dan merintis usaha warung dan kantin di rumah. "Saya biasa bekerja, setelah buka usaha lebih banyak diam. Rasanya gerah kalau terus seperti itu," kata warga Kelurahan Paal 2 Manado ini.

Saat pertama mengojek Mima memilih-milih penumpang. Hanya penumpang perempuan yang dilayananinya dengan pertimbangan keamanan. "Tapi kalau saya seperti itu terus, nanti saya tidak dapat uang," ungkapnya. Kemudian ia memberanikan diri  melayani penumpang lelaki. Walau demikian, ia tetap berhati-hati.  "Lebih cenderung melayani langganan, kalau orang baru dan jaraknya terlalu jauh saya oper ke teman-teman lain," ujarnya.

Mima mengaku, awalnya banyak penumpang yang kaget saat mengetahui dia yang akan mengantar mereka. "Di pangkalan kan ikut  jalur," kata Mima. Dulunya ada calon penumpang yang  sempat menolak untuk diantar. "Mungkin mereka takut atau malu," ujarnya sambil tertawa.  Mima kerap dilempari pertanyaan mengapa jadi tukang ojek. "Saya balik bertanya  pada mereka, mana lebih baik bekerja seperti ini atau seperti perempuan yang malam-malam berdiri di pinggir jalan untuk menjajakan diri. Mereka diam dan membenarkan pernyataan saya," kata Mima yang kini sudah memiliki banyak pelanggan tetap.

Mima mengojek setiap hari mulai dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam. Namun, sesibuk-sibuknya ia mengojek, tetap ada waktu ia luangkan untuk beribadah. "Ibadah di gereja juga ibadah-ibadah lain," ungkapnya. Hujan tidak menghalangi untuk bekerja, jas hujan dipakainya untuk menerjang hujan. Walaupun ia mengaku pendapatan saat hujan tidak sebanyak saat cuaca  sedang cerah.

Duka sebagai tukang ojek dialaminya. Ban pecah, habis bensin atau motor bermasalah sering dialaminya. Kecelakaan pun pernah, namun tidak berakibat fatal. "Puji Tuhan saya tidak apa-apa, hanya jatuh saja untuk menghindari kendaraan berlawanan arah yang melaju kencang," tuturnya. Mima mengaku, pendapatan per hari rata-rata Rp 300 ribu.  Bisa sebanyak itu karena ia banyak pelanggan. Malah ia mengalahkan pendapatan tukang ojek lain di Pangkalan Patung Kuda Paal Dua.

Mima adalah ibu dari empat orang anak. Dua anak tertua yanglaki-laki sudah bekerja dan berada di luar kota.  Sisanya dua perempuan masih di kelas 10 dan 12 SMA. Suaminya  bekerja sebagai guru Sekolah Dasar.  "Kalau mau di pikir-pikir sebenarnya pendapatan suami saya sebagai guru mencukupi. Hanya saya tidak mau diam di rumah. Lagian pendapatan suami saya kan bulanan, saya harian jadi kami bisa saling menopang kebutuhan keluarga kami," katanya.

Suaminya ke sekolah, ia mengojek, kedua anak perempuannya yang mengerjakan pekerjaan rumah. Mima berkata ia sudah membekali kedua anaknya untuk mandiri. "Bahan-bahan sudah tersedia, mereka tinggal masak saja. Kadang saya dan suami saya ditelepon lalu ditanya mau dimasakkan apa," ucapnya bangga.

"Saya sadar betul akan bahayanya pekerjaan ini. Kehati-hatian dan doa yang membuat saya terus kuat sampai hari ini. Saya pasti akan kembali seperti semula, menjadi ibu rumah tangga seperti dulu melayani anak-anak dan suami. Saya tidak mungkin akan terus-terusan bekerja seperti ini, karena  semakin hari saya semakin menua. Tunggu saja, saya menabung dari sekarang agar nanti setelah saya tidak bekerja sebagai tukang ojek lagi, uangnya bisa berguna untuk keluarga juga bagi kelanjutan pendidikan anak- anak saya," kata Mima menutup pembicaraaan dengan Tribun Manado lalu melayani seorang penumpang. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 12 Juli 2013 hal 1

Kalau Stres Carilah Tuhan

Uskup Manado Mgr Jpseph Suwatan MSC
MANADO, TRIBUN -  Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan MSC mentahbiskan tujuh iman baru di Gereja Katedral Manado, Sabtu (6/7/2013). Upacara tahbisan yang diikuti ribuan umat Katolik tersebut berlangsung hikmat dan meriah.

Ketujuh imam baru tersebut terdiri dari tiga imam diosesan (Projo) dan empat imam biarawan dari Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC) yaitu Pastor  Lucky Singal, Pr, Pastor Andreas Rumayar, Pr,  Pastor  Juvensius Obosan, Pr, Pastor  Kanisius Kuntag, MSC, Pastor  Gonsvel Simon Manumpil, MSC, Pastor  Fransiskus Melky, MSC dan Pastor  Anton Kaseger, MSC.

Uskup Manado Mgr Joseph Suwatan dalam kotbahnya  mengingatkan imam baru tentang tugas perutusan. Perutusan itu seperti membebaskan yang tertawan, memberi penglihatan kepada orang-orang buta dan membebaskan orang yang tertindas. Sebagai imam baru, mereka diingatkan untuk mencari cara bagaimana mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus sebagai imam besar.

"Mereka harus ambil bagian dalam tritugas Yesus yaitu imam, nabi dan raja. Mereka harus mampu menguduskan, mewartakan dan memimpin. Dalam hal itu imam baru harus bertindak rendah hati," demikian Uskup Suwatan.

Menurut uskup, sering terungkap banyak yang terpanggil tapi sedikit yang terpilih. Memang dari seminari kecil (SMA), jumlah mereka yang mau menjadi calon imam jumlahnya sangat banyak. Tetapi yang ditahbiskan tidak banyak. "Akhirnya seperti tujuh saudara ini, hanya sedikit yang dipilih padahal kebun anggur Tuhan sangat besar. Karena itu Tuhan meminta kita untuk berdoa,"katanya.

Dalam keterpanggilan itu, kata uskup kita juga harus menyadari keterpilihan  bukan hanya terjadi oleh  kehendak orang yang terpilih. Tapi Tuhanlah yang memilih. Dalam arti itulah dikatakan orang-orang pilihan Tuhan. "Mereka yang terpilih harus didampingi agar dapat melaksanakan tugas. Harus ingat  umat menghargai karena kalian telah melaksanakan tugas sebagai imam, nabi dan raja. Jadi kalian harus mawas diri. Jangan anggap diri sebagai orang luar biasa dan sombong,"tuturnya.

Uskup meminta agar pilihan ini dipakai untuk pelayanan. Ia meminta agar mereka seperti Yesus yang datang untuk melayani bukan untuk dilayani. "Seperti yang dilakukan bapa suci Fransiskus. Ia melihat keterpilihan dengan kerendahan hati. Bapak suci memberikan yang terbaik dalam pelayanannya,"katanya.


Uskup pun meminta agar imam baru tetap setia. Imam baru diharapkan untuk menerima persembahan dan mempersembahkan persembahan itu kepada Tuhan. Mereka harus mempersembahkan diri seperti persembahan Yesus di kayu salib.
"Ini terungkap dari simbol penyerahan patena, sibori dan perlengkapan misa lain di bagian paling akhir. Kadang kurang diperhatikan. Tapi di situ imam diminta untuk meneladani apa yang ia lakukan,"katanya.

Mencari Tuhan

Pastor Melky mengaku sangat bergembira mendapat tahbisan. Ia telah begitu lama mengalami proses diakonal. "Itu menambah pengalaman baru sebagai seorang misionaris. Justru itu menguatkan saya," kata imam yang berasal dari keuskupan Maumere dan anak dari Agustinus Min dan Ana Rismini.

 Pastor Anton, pastor pertama dari Paroki Airmadidi mengangapnya sebagai berkat Allah. Ia merasa Allah mencintainya. Banyak halangan yang dialami tapi dipilih oleh kasih Allah. "Karena itu moto tahbisan saya Gratia Dei Sum Quod Sum. Karena kasih karunia Allah, saya ada sebagaimana saya sekarang,"katanya.

Kebanggaan juga dirasakan Pastor Andre. Tapi baginya ia baru awal. Ia harus memberi kesaksian dalam kehidupan imamatnya. Pendapat senada diberikan Pastor Lucky. Ia akan menjalankan tugas sesuai anugerah tahbisan. "Kami datang untuk mengabdi  pada Tuhan dan sesama,"ujarnya.

Pastor Kiki yang berasal dari Bitung  menyebut tahbisan itu rahmat yang mengagumkan. Ia mohon selalu didoakan agar tetap setia pada panggilan imamatnya. Lambertus Kuntag, ayah pastor Kiki mengatakan tugas  imam tidak mudah. "Jangan lupa berdoa. Kalau stres cari dan datanglah kepada Tuhan. Tetaplah setia," ujarnya. (dma)

Manado, Sidney dan Jepang

RATUSAN imam dan ribuan umat memenuhi gereja Hati Tersuci Maria Katedral Manado saat acara tahbisan, Sabtu (6/7/2013). Para pastor hadir sebagai rekan tujuh imam baru yang baru saja ditahbiskan. Jumlah umat yang begitu banyak pun menambah meriah suasana.

Kekhusukan dan kemeriahan tampak sejak awal perayaan. Lagu Gregorian yang  mendominasi lagu ordinarium dan proprium membuat suasana tahbisan itu khusyuk. Liturgi tahbisan mengalir lancar mulai dari pengajuan calon sampai penyerahan tanda-tanda jabatan. Calon imam maupun orangtua mereka tampak bahagia. Yang bertugas mewakili umat ialah Ketua Kaum Bapa Katolik Keuskupan Manado yang juga Rektor Universitas Negeri Manado (Unima)  Prof Philoteus Tuerah bersama istrinya

Setelah penyerahan tanda-tanda jabatan, empat imam baru dari Tarekat Misionaris Hati Kudus dan tiga imam diosesan diperkenalkan kepada publik. Suasana sempat tegang ketika tempat berkarya diumumkan Pater Provnsial MSC Rolly Untu, MSC dan Uskup Manado Joseph Suwatan MSC. Pastor Rolly mengumumkan pastor Anthon Kaseger MSC ditempatkan kembali di Sidney,  melayani  komunitas Katolik Indonesia di sana.

Pastor Kanisius "Kiki" Kuntag ditempatkan kembali di Regio Jepang, tempat ia bertugas. Pastor Simon Manumpil MSC juga ditempatkan kembali di lembaga pembinaan calon imam Pra Novisiat MSC Pineleng. Sedangkan Pastor Fransiskus Melky MSC yang berasal dari Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur  ditempatkan di Sulawesi, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

"Penempatannya tergantung Pastor John Luntungan MSC,"katanya.
Uskup juga membacakan penempatan tugas imam dari Keuskupan Manado. Pastor Juventius Obosan, Pr ditempatkan di Paroki Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Sebelum ditahbiskan dia bertugas di sana.

 Pastor Lucky Singal Pr ditempatkan di Paroki Ignatius Manado.  Sedangkan Pastor Andre Rumajar, Pr yang bertugas sebelum tahbisan di paroki Nulion,  sekarang ditugaskan sebagai pembimbing rohani di Universitas Katolik De La Salle Manado.  (dma)


Sumber: Tribun Manado 7 Juli 2013 hal 1

Bisnis Amusemen Menjamur di Manado

ilustrasi
MANADO, TRIBUN - Meskipun didera kontroversi adanya indikasi perjudian, namun  bisnis amusemen kian marak di Kota Manado. Bahkan sejak awal tahun 2013 terus bermunculan tempat-tempat baru permainan mengumpulkan poin dengan mesin tersebut.

Menurut penelusuran Tribun Manado, setidaknya ada sembilan lokasi tempat bermain amusemen di ibu kota Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini. Lokasi pertama di bangunan depan Hotel Makmur (sudah tutup), dekat Polsek Wenang, bangunan depan lorong pencak Sam Ratulangi, dua ruko di Marina Plaza, salah satu ruko di Blue Banter, Lantai III Biliard Kaisar dan terakhir di salah satu ruko Megamas, tak jauh dari lapangan futsal.

Lalu mengapa bisnis yang diduga berindikasi perjudian ini begitu menjamur? Sumber Tribun Manado berinisial IN mengungkapkan, bisnis amusemen begitu mengiurkan. Bila sedang ramai pengunjung, omset sehari bisa mencapai Rp 100 sampai 200 juta. Investasinya pun terbilang murah. Untuk satu lokasi amusemen cukup membutuhkan modal Rp 200 juta. "Dalam sebulan, dua bulan sudah bisa kembali modal itu," sebut IN.

Lebih lanjut dijelaskannya, biaya operasionalnya cukup menyewa ruko, membayar listrik, karyawan dan pengurusan izin di sejumlah instansi di Pemerintah Kota (Pemko)  Manado. "Ruko dan listrik berapa sih? Karyawan sehari bayar Rp 80 ribu sampai 100 ribu, lalu bayar izin di instansi-intansi, selesai," kata IN.

Tentu saja, kata dia, komponen utama mesin amusemen. Bagi mereka yang sudah punya jaringan, mesin bisa diperoleh dari Jakarta. Bisa disewa, bisa pula langsung dibeli tunai.  "Sewa Rp 3,5 juta per mesin, kalau beli Rp 6,5 juta," jelasnya.  IN mengatakan urus izin di Pemko menggunakan jasa calo. Dengan dana  Rp 15 juta, izin game zone bisa dikeluarkan Pemko Manado.  "Jadi izinnya game zone, semacam time zone," ujarnya.

Menurut IN, kebanyakan investor amusemen adalah orang lokal Sulut. Namun diakuinya  setahun belakangan ini sudah muncul investor dari luar seperti Batam dan Makassar.  Para pemain pemain amusemen rata-rata orang dewasa dari berbagai kalangan. Ia sendiri mengaku sangat mengandrungi permainan amusemen. Kalau lagi asyik-asyiknya bermain, dalam hitungan jam bisa habis puluhan juta rupiah. "Pernah saya main lagi sial kalah Rp 10 sampai 20 juta. Itu main sehari. Pernah juga menang, sampai Rp 10 juta," kata IN.

Sebenarnya, kata dia,  bila dilihat tampilan permainan seakan tak menarik, namun entah kenapa  saat bermain dia merasakan ada kenikmatan "Menariknya berharap dapat poin tinggi dan menang," katanya. IN tak membantah ada unsur judi, karena hadiah untuk pemenang bukan barang-barang seperti yang dijanjikan justru poin yang dimenangkan ditukar uang tunai. "Menang tukar uang," sebut dia.

Tidak Ilegal
Tribun Manado pun menelusuri salah satu lokasi permainan amusemen, letaknya di lantai dua salah satu bangunan ruko di Blue Banter. Beda dengan bisnis lain memasang papan tempat usaha untuk menarik pengunjung, di lokasi ini justru tak ada. Memasuki lantai satu ruko terlihat kosong, hanya ada warung kelontong menyiapkan makanan kecil dan rokok. Tepat di depan pintu masuk tiga orang pria paruh baya duduk bermain kartu. Mereka terlihat seperti penjaga pintu masuk.
Lokasi bermainnya di lantai dua. Memasuki ruangan suasana remang-remang, jalan masuk cahaya dari jendela ditempeli poster-poster tokoh game produk konsol playstation.Setidaknya ada puluhan mesin amusemen mengitari hampir seluruh ruangan. Namun ada tiga mesin berbeda di bagian tengah ruangan.

Hampir seluruh mesin amusemen menawarkan permainan poker. Namun ada sebuah mesin menawarkan permaina balap ikan, semacam pacuan kuda tapi karakternya terdiri dari kepiting, kura-kura, ikan lele, ikan mas koi, belut, dan lele. Khusus mesin itu bisa dimainkan 8 orang sekaligus.

Satu mesin khusus lain dimainkan juga oleh 8 orang. Setiap pemain diharuskan menembak ikan untuk mengumpulkan poin.Satu mesin khusus terakhir semacam mesin permainan poker namun dipandu dengan tulisan mandarin. Khusus mesin-mesin tersebut didampingi oleh karyawati muda yang bertugas  memandu pemain pemula.

Ditemui Tribun Manado, Tommy, pengawas amusemen mengungkapkan, bisnis yang dijalaninya tersebut murni game zone, ia memberi nama Big Time zone. Pria berkumis ini menolak bila dikatakan game zone yang dikelolanya ada unsur judi.
"Ini hanya permainan biasa tidak ada unsur perjudian, makanya kami taruh di situ (stiker di dinding) di larang berjudi. Yang menang bisa bawa pulang hadiah," ujar Tommy sembari menujuk kumpulan hadiah yang disiapkan.

Hadiah tersebut diletakkan di satu meja, terdiri dari bermacam-macam barang elektronik, lengkap dicantumkan jumlah poin yang harus ditukar untuk membawa pulang hadiah tersebut. Tommy membantah, kalau poin yang dimenang pemain ditukar uang tunai.

"Di sini diutamakan hadiah, kepada pemenang. Istilahnya belum ada sistem begitu (tukar uang). Tujuan mesin ini cuma permainan siapa menang bawa pulang hadiah," kata dia. Bisnis ini pun kata Tommy bukan ilegal, ia mengantoingi izin usaha dari berbagai instansi Pemko Manado. Ada izin dari Kesbangpol, Dinas Pariwisata, Surat Izin Usaha Perdangan (SIUP), Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, bahkan ada surat keterangan fiskal. Untuk meyakinkan usahanya legal, seluruh izin tersebut ditempel di dinding.

Untuk jam operasional, kata Tommy,  dimulai pukul 10.00 sampai 22.30 Wita. Meski bertajuk game zome, namun hanya orang dewasa yang diizinkan masuk, "Anak-anak tak dizinkan ke dalam, dari bawah saja sudah dicegat. Apalagi yang masih berseragam sekolah, ini aturan yang ditetapkan perusahaan," ujarnya. (ryo)


Kapolda: Akan Ditindak


KEPALA Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulut, Brigjen Pol Robby Kaligis menegaskan walaupun mengantongi izin dari pemerintah, kepolisian  akan menindak bila ada unsur perjudian dalam permainan amusemen. Jajaran Polda Sulut kini gencar melakukan razia tempat permainan yang terindikasi judi.

"Operasi ini akan dilakukan terus-menerus," kata Kapolda kepada Tribun Manado, Kamis (4/7). "Judi itu untung-untungan. Kita punya etika baik sehingga jangan diberi kesempatan. Ada perintah Mabes Polri bahwa segala bentuk perjudian harus kita ditindak," tegasnya.

Mengenai izin amusemen, kata Kaligis,  kepolian akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah. "Itu yang saya bilang, dikoordinasikan dengan pihak Pemda dengan tentunya membawa bukti. Jika dalam ditemukan unsur judinya, itu akan diterapkan pasal 303 KUHP," katanya.

Direktur Reskrim Umum Polda Sulut, Kombes Pol Jeffry Lasut saat ditemui terpisah mengungkapkan pihaknya telah melakukan operasi di Bitung. Dua amusemen di daerah tersebut diamankan polisi karena tidak memiliki izin.
Di Manado, kata Lasut, sebenarnya akan dilakukan razia. Namun, rencana  operasi tersebut bocor sehingga beberapa tempat permainan ketangkasan langsung tutup. "Belum operasi saja saya dengar sudah tutup," tuturnya.

Menyikapi rencana kepolisian memerangi penyalahgunaan amusemen sebagai bisnis perjudian,  Pemko Manado melalui Sekretaris Kota (sekot) Ir Haefrey Sendoh mengatakan, masalah itu sudah didiskusikan dengan Kapolres Manado.
"Kami sudah diskusikan dengan Kapolres. Pada prinsipnya kami  mengeluarkan izin sesuai dengan peruntukan. Bila ditemukan tidak sesuai dengan peruntukan maka sanksi akan dijalankan mulai dari teguran sampai ke pencabutan izin," kata Sendoh di Hotel Peninsula Manado, Kamis (4/7/2013).

Diakuinya,  pejabat Pemko Manado seperti asisten II dan kabag perekonomian telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lapangan untuk mencari tahu penyagunaan amusemen. "Pada saat kami sidak,  tidak ditemukan penyalahgunaan. Kami  harus menyamar dalam tanda petik untuk mencari tahu lagi," tuturnya.

Dia mengimbau pemegang izin amusemen agar menggunakan izin sesuai aturan. "Kepada masyarakat gunakanlah untuk ketangkasan bukan judi. Kerja sama dan dukungan sangat diperlukan supaya apa yang dikuatirkan oleh berbagai pihak dapat diminimalisir," tandasnya. (kev/crz)

Sumber: Tribun Manado 5 Juli 2013 hal 1

Alce Berikan Dana BLSM untuk Penderita Stroke

Menurut Ani, mereka sempat kaget kala mengetahui kalau orangtua mereka menerima bantuan tersebut.

HIRUK-pikuk penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) untuk rakyat miskin menyembulkan fakta menarik di Manado, Sulawesi Utara.

Dua dua warga Lingkungan I Kelurahan Kombos Timur Kecamatan Singkil  memberikan BLSM yang mereka terima kepada orang yang lebih membutuhkan tetapi tidak terdaftar sebagai penerima BLSM.

Wanita lanjut usia Alce Rorong (76) masuk daftar penerima BLSM yang dilaksanakan di SDN 88 Kombos. Dia sesungguhnya berat hati saat mengambil uang BLSM senilai Rp 300 ribu. Apalagi delapan anaknya yang sudah bekerja mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari.  Alce pun rutin menerima uang pensiunan dari almarhun suaminya Rp 1,3 juta per bulan.

"Saya bilang kepada mama (Alce Rorong) kalau mama tidak pantas menerima BLSM ini. Lebih baik berikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan," kata Ani Madea, anak Alce Rorong saat ditemui di kediamannya, Selasa (2/7/2013).

Setelah menerima BLSM, Ani dan ibunya langsung berkoordinasi dengan kepala lingkungan I Cornelia Samuri untuk menanyakan apakah bantuan tersebut bisa diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

 "Dengan ikhlas kami berikan kepada Alfred Takakobi (66) dan Istri Conerlia Yanis (60) serta saudara mereka Yohana Yanis (74). Mereka merupakan tetangga kami dan kondisi mereka sangat memrihatinkan. Ibu Cornelia sudah puluhan tahun menderita penyakit stroke. Sedangkan Yohana menumpang di rumah sanak saudaranya," tutur Ani didampingi ibunya Alce Rorong.

Menurut Ani, mereka sempat kaget kala mengetahui kalau orangtua mereka menerima bantuan tersebut. Maklum saat sensus tahun 2010 ibunya sendirian menerima petugas sensus di rumah. "Kami sempat malu saat mengambil bantuan tersebut karena kami mampu dan belum layak menerima BLSM," katanya.
Alce Rorong alias Oma Alce yang merayakan hari ulang tahunnya ke-76, Selasa (2/7) mengaku ikhlas memberikan bantuan BLSM kepada mereka yang lebih berhak menerima. "Saya beri karena memang mereka sangat susah. Istrinya menderita stroke dan suaminya tidak punya pekerjaan tetap," kata Oma Alce.

Vernne Teddy Adroit Pamikiran, warga kelurahan Kombos Timur pun memberi bantuan BLSM kepada orang lain karena dia menilai ada orang yang lebih layak menerima daripada dirinya.

"Saat tiba di rumah saya bilang kepada istri masih ada yang lebih layak menerima. Saya koordinasi dengan kepala lingkungan dan langsung serahkan kepada warga yang kurang mampu yakni Perjuangan Paraeng," kata Teddy di kediamannya.

Pria yang berstatus PNS di lingkungan Pemprov Sulut ini sejak awal tidak berharap menerima BLSM. "Memang siapa yang tidak ingin uang? Waktu disensus saya belum diterima sebagai PNS. Kalau  sekarang kita terima malu-maluin saja," tandasnya.

Alfred Takakobi (66) dan istrinya Conelia Yanis (60) yang menerima uang BLSM dari Alce Rorong mengaku sangat senang.  "Senang sekali bisa menerima uang ini," kata Alfred saat mendampingi istrinya yang menderita stroke.

 Dikatakannya, kebutuhan mereka setiap haribergantung dari penghasilan anaknya yang bekerja sebagai cleaning service di Rumah Sakit Siloam Manado. "Kalau tidak ada dia mungkin kami berdua sudah mati," kata Alfred sambil menatap sang istri yang hanya diam membisu.

Alfred memiliki niat untuk bekerja, namun waktunya tersita untuk merawat sang istri yang sudah hampir 10 tahun menderita stroke. "Apa mau dikata, bagaimana mau bekerja sementara saya harus merawat dan mengurus istri saya. Mulai dari menidurkan,  membangunkan hingga memberi dia  makan," tuturnya. Dia mengakui tidak memiliki pekerjaan tetap. "Uang yang kami terima (dari Oma Alce)  ini akan digunakan untuk beli pempers dan obat karena istri saya berkerinduan besar untuk sembuh," tandasnya. (christian wayongkere)

Sumber:  Tribun Manado 3 Juli 2013 hal 1

Pemimpin Marga Soeharto 20 Kupang

RIBUAN bahkan puluhan ribu orang pernah mengecapi pembinaan di PMKRI Cabang Kupang St Fransiskus Xaverius sejak organisasi ini berdiri pada tahun 1963.

Anak-anak binaan PMKRI suka mengklaim diri sebagai anak marga, marga Kupang yang sekretariatnya di Jalan Jenderal Soeharto No.20 Kupang masih kokoh berdiri sampai hari ini.

Marga tua itu merupakan saksi sejarah perjalanan PMKRI Cabang Kupang membina putra-putri Nusa Tenggara Timur (NTT)  sejak masa pergolakan tahun 1960-an hingga saat ini.

Berikut ini secuil  catatan saya tentang Ketua Presidium dan Sekretaris Jenderal PMKRI Cabang Kupang selama periode tahun 1963 hingga 1995. Catatan ini saya kumpulkan ketika dipercayakan menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) PMKRI Cabang Kupang periode 1992-1993.

Jujur memang, banyak notulensi, catatan-catatan historis marga Kupang yang tidak tersusun secara baik sehingga ada data yang tidak ditemukan. Maklumlah mahasiswa dan mahasiswi, gejolak remajanya harus dimaklumi. Ada yang disiplin, ada pula yang wira-wiri sonde jelas.

Ketua Presidium dan Sekjen PMKRI Kupang 1963-1995

Tahun 1993-1964:  Ketua:  Nano Fernandez
                              Sekjen:  D Sanggudoa

Tahun 1964-1965:  Ketua: Domi Ule Ander
                               Sekjen: data tidak ditemukan?

Tahun 1965        :   Ketua :Kanis Pari atau Bung Kanis (sekitar 4 bulan ganyang PKI)
                              Sekjen: data tidak ditemukan?

Tahun 1966-1967:  Ketua: Eman Gadi Djou
                              Sekjen: Domi Ule Ander dan Blasius Manek

Tahun 1967-1968:  Ketua: Piet Nuwa Wea
                              Sekjen: John Letto

Tahun 1968-1970:  Ketua: John Kaunang
                              Sekjen: Silvester Tjung

Tahun 1970-1971:  Ketua: Rofinus Gagalama
                               Sekjen: data tidak ditemukan

Tahun 1971-1972:  Ketua: Wem Kaunang
                               Sekjen: Mansu Mandaru

Tahun 1974-1975:  Ketua: Mansu Mandaru
                              Sekjen: Anton Teti

Tahun 1975-1977:  Ketua: Eman Goring
                               Sekjen: H Boleng

Tahun 1977-1978:  Ketua: Eman Babu Eha
                               Sekjen: Frans Kape

  
Tahun 1978-1979:  Ketua: Frans Kape
                               Sekjen: Blasius Lema


Tahun 1979-1980:  Ketua: Wem Kabosu
                              Sekjen: Yos da Silva


Tahun 1980-1981 :  Ketua: Johny Pari
                               Sekjen: Yuli Lamuri

Tahun 1981-1982:   Ketua: Teng Karwayu
                               Sekjen: Yonas Mita

Tahun 1982-1983:   Ketua: Simon Hayon
                               Sekjen: Kamelus Deno

Tahun 1983-1985:   Ketua: Chris Boro Tokan
                                Sekjen: Flori Mekeng

Tahun 1985-1986:   Ketua:  Flori Mekeng
                               Sekjen: A Balaweling

Tahun 1986         :   Ketua: Lambert Ibi Riti (hanya dua bulan)

Tahun 1986-1988:  Ketua: Servas Lako Nage
                               Sekjen: Theo Maran

Tahun 1988-1989:  Ketua: Fredy Kabobu
                               Sekjen: Egidius Nurak

Tahun 1989-1990:  Ketua: Anton Doni
                              Sekjen: Tiago Hornai


Tahun 1990-1991:  Ketua: Tiago Hornai
                              Sekjen: Marten Darmonsi Dogon

Tahun 1991-1992:  Ketua: Sipri Sabon Nama
                              Sekjen: Janes E Wawa

Tahun 1992-1993:  Ketua: Aloysius Min
                              Sekjen: Dion DB Putra

Tahun 1993-1994:  Ketua: Janes E Wawa
                               Sekjen: Yos Lega Laot

Tahun 1994-1995:   Ketua: Yos Lega Laot
                               Sekjen: Gabriel Ola


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes