Lusia Adinda Tawarkan Tiga Strategi

Peserta evaluasi program dukungan AIPMNH di Sanur
* Evaluasi  Program Dukungan AIPMNH di NTT (3)
 
MENGAPA angka kematian bayi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) fluktuatif bahkan cenderung meningkat beberapa tahun terakhir? Pertanyaan tersebut terjawab saat Asnawi Abdullah, PhD selaku konsultan researcher Australia Indonesia Partnership for  Maternal and Neonatal Health (AIPMNH) memaparkan hasil penelitiannya dalam rapat evaluasi di Sanur, Bali,  27 Mei 2015.

Asnawi yang meneliti hubungan faktor resiko Kesehatan Ibu  dan Kematian Bayi Baru Lahir  di 14 kabupaten dan kota telah mengindentifikasi beberapa faktor resiko kematian neonatal di NTT yang perlu mendapatkan perhatian semua pemangku kepentingan.

Dari hasil penelitian itu, Asnawi memberikan sejumlah kesimpulan serta rekomendasi. Dikatakannya, penguatan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu selama kehamilan dan perhatian khusus kepada bayi selama 28 hari pertama kehidupan dipercaya dapat memberikan kontribusi besar untuk penurunan kematian neonatal di NTT

Komplikasi selama kehamilan, neonatus lahir dengan komplikasi dan mempunyai riwayat komplikasi merupakan faktor resiko utama kematian neonatus di NTT. Manajemen komplikasi obstetrik dan neonatus harus diperkuat dan faktor-faktor yang mendasarinya (underlying factor) seperti anemia dan malaria harus ditangani dan dipantau lebih seksama. Pendidikan dan promosi kesehatan berkaitan dengan konsumsi Fe dan pencegahan dan pengobatan malaria pada ibu hamil terutama di daerah endemik perlu mendapatkan perhatian lebih.

Menurut Asnawi, tindakan  perawatan dini neonatus yang efektif merupakan langkah penting untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir dan mencegah kematian dini. Kunjungan rumah neonatus harus dilakukan secara teratur dan harus diprioritaskan serta perlu penguatan upaya pendidikan kesehatan bagi ibu sehingga mampu mendeteksi dini penyakit pada neonatus.

Hasil penelitian itu juga menunjukkan, melahirkan di rumah masih relatif banyak; peran dukun beranak masih cukup dominan dan ini merupakan tantangan utama dalam menurunkan angka kematian bayi di NTT. Social marketing untuk mendorong persalinan di pelayanan kesehatan perlu terus dilakukan secara efektif dan Revolusi KIA perlu terus didukung oleh berbagai pemangku kepentingan.

Metode Kangguru juga ditemukan sebagai faktor yang menentukan kelangsungan hidup neonatal, terutama untuk neonatus lahir dengan berat badan rendah. Ini merupakan metode sederhana dan murah namun mempunyai kontribusi dalam penurunan resiko kematian neonatal. Maka dianjurkan agar metode ini perlu terus dipromosikan terutama untuk bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).

Pemberdayaan Masyarakat

Menghadapi fakta sebesar 70 persen bayi di Provinsi NTT mati pada umur 0-1 bulan, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Ny.  Lusia Adinda Lebu Raya, S.Pd, MM menawarkan konsep pemberdayaan masyarakat dan keluarga.

Dalam forum rapat evaluasi program dukungan AIPMNH di Sanur 27 Mei 2015, Lusia memaparkan tiga strategi. Strategi tahap pertama adalah menyelamatkan bayi yang lahir agar tidak mati. Strategi tahap kedua, meningkatkan kualitas bayi yang akan lahir dan menghindarkan  bayi dari kematian melalui pemantauan ibu hamil dan peningkatan gizi ibu hamil. Strategi tahap ketiga,  meningkatkan kualitas calon orangtua bayi agar melahirkan bayi sehat dan berkualitas melalui pendampingan pasangan usia subur dan remaja.

"Yang sudah kita laksanakan di lapangan adalah strategi tahap pertama. Sedangkan strategi kedua dan ketiga masih dalam masih proses perencanaan  dan analisa," kata Lusia Lebu Raya. Menurut dia, strategi tahap pertama itu melalui pemantauan bersama, kolaborasi antara pemberdayaan masyarakat oleh kader PKK, Posyandu dan pelayanan kesehatan.

Lusia Lebu Raya mengatakan, setiap desa atau kelurahan  di NTT memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai untuk melakukan pemantauan bersama terhadap bayi. Mereka adalah para kader PKK di desa yang rata-rata beranggotakan 10-16 orang, kader Posyandu rata-rata 15 orang, perangkat desa, bidan desa, tenaga kesehatan yang rumahnya di desa/kelurahan, orangtua dan keluarga bayi serta masyarakat di sekitar bayi.  Untuk desa tertentu malah ada kader siaga, kader dasa wisma dan pendamping Desa Mandiri Anggur Merah.

"Rata-rata di NTT ini hanya ada tiga sampai empat orang bayi yang dilahirkan per desa per bulan. Jumlah yang tidak terlalu banyak untuk dipantau secara rutin sehingga bisa menekan resiko kematian bayi," kata Lusia Lebu Raya.

Adapun sumber dana yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan itu antara lain Anggaran Dana Desa (ADD) yang besarnya Rp 50 - 100 juta per desa bahkan lebih sesuai amanat UU Desa. Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)  yang memang prioritas  untuk promosi kesehatan termasuk kunjungan rumah (Rp 250 juta per puskesmas), bantuan Pemprov NTT melalui BPMPD dan lainnya.

Dijelaskannya, tugas tim adalah memantau secara intensif  bayi usia 0-1 bulan agar mendapat penanganan cepat jika dibutuhkan. Setiap bayi memiliki format pemantauan tanda-tanda bahaya yang berpotensi menyebabkan kematian. Orangtua, keluarga dan kader diberi bimbingan  cara memantau setelah bayi lahir.
Pemantauan rutin terhadap bayi baru lahir sudah terbukti mampu menekan angka kematian. Hal tersebut diakui Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos yang hadir dalam rapat evaluasi program dukungan AIPMNH di Sanur.

"Pemantauan rutin merupakan salah satu cara yang efektif. Kami di Flores Timur sudah melakukan itu dengan hasil positif," kata Kepala Dinas Kesehatan Flotim, dr. Yoseph U Aman saat berbagi dalam sesi diskusi di forum evaluasi tersebut.

Strategi pemberdayaan masyarakat yang ditawarkan Lusia  Lebu Raya adalah langkah elok demi menopang keberlanjutan Revolusi KIA di NTT. Apalagi poin kedua dari sembilan rekomendasi rapat evaluasi di Sanur pekan lalu tegas menyebut pentingnya partisipasi masyarakat.

Hal itu sejalan pula dengan catatan kritis Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo bahwa  peran serta masyarakat menjadi garansi bagi keberlanjutan Revolusi KIA. Tanpa partisipasi para pemangku kepentingan, sederet panjang praktek cerdas yang diperoleh berkat dukungan program AIPMNH di NTT sejak tahun 2010 akan sia-sia. (dion db putra/habis)

Sumber: Pos Kupang 4 Juni 2015 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes