Sang Mahaguru Kearifan Indonesia dari NTT

Ben Mboi
(Sebuah Noktah Putih yang Ia Torehkan di Hatiku)

Oleh Fary Dj Francis
Anggota DPR RI


TANGGAL 22 Juni yang lalu saya berada di Surabaya dalam rangka kunjungan kerja dan kembali ke Jakarta pada malam harinya. Baru saja tiba di rumah, sebuah pesan pendek dari Pak Esthon Foenay masuk ke handphone saya. "Telah dimuliakan Bapa di Sorga bapak Dr. Ben Mboi jam 00.30. Jenazah disemayamkan di Jalan Muhasyim VII Cilandak Jakarta Selatan. Jenazah akan dimakamkan di TMP Kalibata hariKamis. Mohon diteruskan ke seluruh wargaNTT+Tksh."

Saya menerima berita duka itu pukul 03:25 dini hari dan sejak detik itu tidak bisa tidur sama sekali hingga fajar pagi menjemput. Tiba-tiba saja wajah Pak Ben menjadi begitu nyata di hadapan saya. Senyum khasnya yang penuh wibawa berulang kali mampir dan pergi. Serak suaranya masih terdengar tegas dan mempesona di telinga.

Masih tegas terpandang gurat-gurat perjuangan yang bercampur baur dengan kerut kesepuhan yang sulit disembunyikan. Inilah tokoh yang sebenar-benarnya.Yang disanjung bukan semasa punya kuasa seperti kebanyakan punggawa negeri ini. Ia justru disanjungelukan ketika telah menjadi 'rakyat jelata yang tidak punya apa-apa.' Ya. Pak Ben adalah seorang patriot pejuang yang telah menggadaikan hidup dan menaburkan cinta sejatinya bagi rakyat, bangsa dan negeri ini. Maka tak pelak lagi kalau Pak Ben pun pantas menuai cinta, kerinduan dan kehangatan kemana, dan di manapun kakinya menjejak di seluruh pelosok negeri ini di usia tuanya, teristimewa kampung halamannya Nusa Tenggara Timur. 

Saya adalah salah satu warga NTT yang sangat beruntung. Betapa tidak, sejak saya dilantik menjadi anggota DPR RI, sudah 6 kali saya mendapatkan kesempatan yang istimewa, bisa berdua dengan Pak Ben dalam suasana yang sangat intim, seperti ayah dan anak. Kasih sayangnya begitu tulus sehingga ia tidak pernah kikir menyampaikan pujian bagi siapapun yang ia pandang segaris dengan perjuangan dan patriotismenya. Sebaliknya ia pun tanpa tedeng aling-aling melontarkan teguran dan kritik pedas terhadapa siapapun yang mengkhianati cita-cita perjuangan dan patriotism. Itulah Pak Ben yang saya kenal dari lubuk hati yang paling dalam.


Mendengar bahwa ia telah dimuliakan Bapa di Sorga, saya pun teringat saat pertama kalinya bertemu seorang pribadi dan tokoh istimewa yang fenomenal ini. Pada suatu sore di bulan Mei 2010, saya menyetir sendiri ke rumah Pak Ben di Cilandak, Jakarta. Ia yang saat itu duduk di kursi roda bergegas menyongsong saya di teras rumahnya. Saya sungguh terkesima dengan pesona kebapaan dan kharisma keprajuritannya, lembut tetapi tetap tegas.

"Jadi kau ini Fary. Saya dengar kau punya nama dari orang-orang. Kau anak yang baik. Hanya kau yang sempatkan datang bertemu saya. Mari duduk, saya sudah cukup lama di kursi roda, tetapi semangat dan perjuangan masih seperti di Trikora." Sapaan pembuka yang menghentak nurani dan menggugat kekinian saya yang dilimpahi dengan berbagai berkat dan kemudahan. Kalaupun saya anggap panggilan tugas saat ini adalah perjuangan, tetap tidak sebanding dengan pengorbanan Pak Ben di masa itu.

Kami, lebih tepatnya Pak Ben, bincangkan banyak hal pada sore itu. Saya lebih banyak menyimak dan meresapi pesan-pesan bijaknya. Salah satu pesan yang masih terpahat sangat dalam di hati nurani saya ialah membangun NTT dalam semangat berbangsa dan berani bertanggungjawab terhadap setiap keputusan yang menyangkut rakyat.

Tentang NTT sendiri, Pak Ben tandaskan agar generasi sebaya dan sesudahnya tidak lupa sejarah. Bahwa NTT memutuskan berpisah dari Sunda Kecil guna mengusung 3 visi sekaligus misi yang mulia yakni menguatkan kerja sama Katolik dan Protestan; mensejahterakan masyarakat NTT; dan menyiapkan orang-orang NTT untuk menjadi pemimpin-pemimpin nasional. Untuk membuktikan komitmennya menjaga keutuhan dan kemuliaan perjuangan para pendiri NTT ia bahkan bersumpah kepada mendiang El Tari untuk tidak mau dan tidak pernah akan memberikan dukungan terhadap setiap upaya yang mengakibatkan terpecah belahnya Flobamora dengan alasan apapun, termasuk pemekaran provinsi baru.

Pertemuan berikutnya terjadi di Aula Gereja Katolik Santu Stefanus Cilandak, dalam acara ulang tahunnya yang ke 75. Malam itu ia tampak segar dan raut wajahnya penuh sukacita. Ketika saya menghampirinya memberikan ciuman ulang tahun, ia menyapa dengan menyebut nama saya. Rasanya saya dan dia sudah berkenalan bertahun-tahun lamanya. Ini lagi satu kelebihan yang istimewa pada Pak Ben ialah dalam segala kebesarannya, ia tidak mudah lupa, apalagi melupakan orang yang pernah bertemu dia. "Ingat, layanilah rakyatmu dengan penuh cinta." Tegasnya singkat.

Ketika terpilih menjadi penerima Academia NTT Laureates 2012, kami bertemu untuk ketiga kalinya. Pada saat itu, Forum Academia NTT menganugerahkan kepadanya Lifetime Achievement-NTT Academia Award atas smart leadership yang dijalankannya selama menjadi Gubernur NTT dalam periode 1978-1988. Pada periode itulah, rakyat NTT merasakan benar kehadiran seorang pemimpin dan mereka menjadi saksi bahwa di dalam diri seorang Ben Mboi pemerintah sungguh-sungguh bekerja dan berhasil menciptakan perubahan dalam berbagai sektor termasuk konservasi lingkungan dan hutan yang dari masa ke masa paling sulit dilakukan. Melalui Operasi Nusa Hijau, wajah NTT mulai tampak lebih cerah.

Meski Pak Ben sudah tahu akan menerima Lifetime Achievement Award tersebut ia tidak pernah besar kepala. Sehari sebelum acara tersebut saya sengaja mengundang Pak Ben ke Resto Nekamese dengan niat untuk berguru kearifan yang telah menjadi darah dagingnya. Suasananya sangat santai. Beragam nostalgia selama menjalankan karir kemiliteran dan kedokterannya di Ende sampai dengan sepak terjangnya sebagai Gubernur NTT ia tumpahkan di situ.

Trik kepemimpinannya amat sederhana tetapi efeknya mendunia. Di Resto Nekamese ia berkisah tentang loyalitas yang harus dimiliki seorang pemimpin yang ia temukan dalam ziarah hidupnya. "Kamu tahu, selama ini dalam hierarki kebudayaan maupun etika, di birokrasi atau kemiliteran, orang dituntut bahkan dipaksa menjalankan loyalitas bottom up. Yang mudah menghormati yang tua, murid harus mendewakan guru, staf harus patuh pada atasan dan prajurit harus taat pada perintah komandan. Itulah bottom up loyalty" simpulnya. Itulah mentalitas pejabat.

"Kalau kamu adalah pemimpin, hendaknya jangan lupakan ini, top down loyalty yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang rendah hati dan lembut budi untuk dapat menjalankannya. Dan, kepemimpinanmu menjadi lengkap bila di dalamnya ada horizontal loyalty yang menumbuhkan, merawat dan memperkuat solidaritas dan kesetiakawanan. Sempurnalah sudah bila kamu dapat mempersembahkan 3 watak loyalitasta di dalam melayani rakyatmu. "Untuk yang terakhir ini saya sendiri menamakannya ministry loyalty untuk menyebutkan kepemimpinan yang bercorak pelayanan.

Waktu terus bergulir. Pada bulan April 2013, saya mendapat kesempatan mengunjungi Pak Ben di rumahnya yang terletak di Kelurahan Oetona Kota Kupang, bertetangga dengan rumah almarhumah mertua saya, ibunda dari isteri saya. Saya waktu itu mendampingi Pak Prabowo. Meski kami tidak sempat berbincang secara pribadi, namun aura kearifannya tetap tidak pernah lekang dimakan usia maupun tempat. Dalam pertemuan itu Pak Ben dan Pak Prabowo banyak bertukar keprihatinan dan kepedulian terhadap nasib bangsa dan rakyat Indonesia. Pandangan keduanya sangat selaras hampir dalam setiap agenda perjuangan pembangunan Indonesia. Saya sungguh bangga bisa ada bersama dua tokoh fenomenal tersebut dalam ruang dan waktu yang sama.

Akhirnya dalam acara bedah buku "Koepang Tempo Doeloe" di auditorium Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal pada tanggal 23 September 2013 saya bertemu lagi dengan Pak Ben, dan kali ini kami berbincang akrab tentang berbagai hal termasuk perkembangan pembahasan RUU Provinsi Kepulauan di mana saya menjadi Ketua Pokjanya. Ia sangat antusias dengan perjuangan tersebut dan berharap bisa terealisasi dalam waktu dekat karena itulah salah satu handicap pembangunan di NTT; sebuah provinsi yang berpulau-pulau tetapi kebijakan pembangunannya continental.

Ibarat anak sungai yang telah bersua samudera, Pak Ben pun akhirnya menyudahi ziarah fananya dan kini bergabung dengan keabadian. Raganya sudah tak tampak lagi di batas horizon, namun roh kearifannya akan tetap berkobar dalam hidup dan hati sanubari seluruh pewaris Indonesia di Nusa Tenggara Timur. Selamat jalan Pahlawan. Engkau legenda nusa kita.*

Sumber: Pos Kupang 25 Juni 2015 halaman 4
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes