Romo Nus dan Gerakan Sayang Mama

Peserta evaluasi program dukungan AIPMNH di Sanur, 27-5-15
* Evaluasi Program Dukungan AIPMNH di NTT (1)

SUATU hari di bulan Juni 2011, Romo Konstantinus Nggajo atau yang akrab disapa Romo Nus mendapat undangan mengikuti seminar lintas sektor tentang membangun jaringan donor darah. Seminar itu diprakarsai Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health (AIPMNH)  atau kemitraan Australia Indonesia untuk kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seminar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ekapata, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat itu sungguh mengejutkan bagi Romo Nus. Pastor yang sehari-hari bertugas di Gereja Katolik Waikabubak ini seolah 'disadarkan' tentang pentingnya setetes darah guna menyelamatkan ibu yang alami perdarahan saat melahirkan.

"Saya sama sekali tidak tahu bahwa angka kematian ibu begitu tinggi di kabupaten ini (Sumba Barat). Dan, ternyata setetes darah saya dapat menyelamatkan nyawa ibu atau bayi. Jadi saya merasa harus melakukan sesuatu," kata Romo Nus.

Seminar itu menggudah Romo Nus terlibat aktif.  Dia pun mendirikan Gerakan Sayang Mama. Gerakan ini mendorong masyarakat agar mau mendonorkan darah demi menyelamatkan ibu dan bayi. Pada hari Minggu setelah seminar di rumah sakit itu, Romo Nus mengumumkan kepada 500 umatnya bahwa dia akan mendonorkan darahnya sendiri sekaligus mengajak umat mengikuti jejaknya.

Persoalan donor darah juga diungkapkannya kepada sesama biarawan-biarawati dalam pertemuan mingguan paroki. Dia tak henti menggalang dukungan. Pada bulan itu juga Romo Nus mengundang staf rumah sakit menyelenggarakan  pemeriksaan golongan darah gratis di aula paroki. Lebih dari 100 orang mengikuti kegiatan tersebut dan 30 orang di antaranya langsung mendonorkan darahnya.

Sekitar tiga bulan setelah Romo Nus mengikuti seminar lalu mendirikan Gerakan Sayang Mama, rumah sakit melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam  jumlah calon pendonor darah yang terdaftar resmi.  Pada bulan Juni RSUD Ekapata hanya miliki 31 pendonor. Bulan Juli 2011, jumlahnya  119, Agustus menjadi 218 dan bulan September tahun yang sama 172 orang lagi yang terdaftar.

Dengan umat lebih dari 8.000 orang yang setia menghadiri misa, pencerahan dari Romo Nus tentang pentingnya setetes darah bagi ibu dan bayi telah menyentuh hati ratusan calon pendonor darah potensial.

Seperti pastor lainnya, setiap hari Minggu Romo Nus lazim mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada umatnya berupa salam dan kutipan dari Injil. Romo Nus menambahkan lagi dengan ajakan mendonorkan darah yang menurut dia berhasil membangkitkan rasa ingin tahu umatnya. Romo Nus memanfaatkan media itu guna membangun jejaring calon pendonor darah potensial. Mereka siap dipanggil rumah sakit ketika dibutuhkan.

Perdarahan merupakan salah satu penyebab utama tingginya angka kematian ibu di Provinsi  NTT, selain asfiksia, dan masih banyak rumah sakit tidak memiliki stok darah yang cukup untuk kasus-kasus gawat darurat. Itulah sebabnya keterlibatan tokoh agama seperti Romo Nus memotivasi masyarakat mendonorkan darah niscaya dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Romo Nus tidak sendirian. Hari-hari ini sudah menjadi pemandangan lumrah di berbagai pelosok NTT bila  Anda melihat pastor dan pendeta atau tokoh agama lainnya fasih bicara tentang kesehatan ibu dan anak. Tidak sekadar fasih bercakap, mereka pun terlibat aktif bersama masyarakat guna memastikan persalinan yang aman bagi ibu dan bayi di fasilitas kesehatan (faskes).

                                                                                  ***
KISAH tentang Romo Nus yang dikutip dari buku Kompilasi Cerita Sukses (AIPMNH, 2015) hanyalah satu contoh dari begitu banyak praktek cerdas yang
yang diperoleh melalui kemitraan AIPMNH. Sejak bekerja di Provinsi NTT lima tahun lalu,  program kemitraan antara Pemerintah Australia dan Indonesia tersebut berhasil meningkatkan pelayanan bagi kehamilan dan persalinan, memperkuat sistem kesehatan serta meningkatkan akuntabilitas dan kinerja.

Demikian antara lain yang mengemuka dalam rapat evaluasi program dukungan AIPMNH di NTT yang berlangsung di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, tanggal 27-28 Mei 2015.

Sepintas, kiprah AIPMNH di bumi Flobamora seolah tak terpisahkan dengan Desa Siaga. Sejak awal AIPMNH memang tiada henti mendukung pembentukan Desa Siaga di NTT mengingat perannya penting amat dalam menyelamatkan nyawa ibu dan bayi. Di Desa Siaga, partisipasi masyarakat sungguh dirajut dengan indah.

Masyarakat desa membangun jejaring dana, Keluarga Berencana, transportasi dan donor darah demi memastikan ibu bisa bersalin dengan selamat di faskes bukan di rumah  dengan bantuan dukun beranak yang tidak terlatih, faktor lain yang ikut memicu tingginya angka kematian ibu dan bayi di Flobamora.

Melalui Desa Siaga, tradisi yang mengekang perempuan seperti ritual Naketi  Naho'e di Desa Tuabatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) diarahkan ke hal  positif yang menyelamatkan ibu dan bayi. Juga munculnya kaum pria menjadi kader Posyandu sebagaimana diperankan dengan luar biasa oleh kraeng Sebastianus Jelalu di Desa Nenu, Kabupaten Manggarai.

Selain Desa Siaga, AIPMNH juga mendukung program Reformasi Puskemas, Sister Hospital serta Pelatihan PONED. Reformasi Puskesmas adalah program pendukung pelayanan klinis yang bertujuan meningkatkan keterampilan staf Puskemas dalam menyajikan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).

Melalui program ini  petugas kesehatan mendapat pelatihan di bidang layanan  non-klinis antara lain mengenai prosedur operasional standar, etika, transparansi dan kerja sama tim serta dukungan untuk pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP) yang memberi informasi kepada pasien mengenai hak mereka serta advokasi bagi Puskemas.  Praktek cerdas Reformasi Puskemas antara lain sudah  tercipta di Puskemas Pasir Panjang, Kota Kupang dan Puskemas Wolowaru, Kabupaten Ende melalui kehadiran Rumah Tunggu "Napa Ana", tempat ibu hamil berteduh.

Melalui program Sister Hospital, AIPMNH membantu 11 RSUD kabupaten di NTT dengan  mengontrak tim spesialis dari beberapa rumah sakit ternama di Indonesia, misalnya RS Dr. Sutomo Surabaya dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta,   guna menangani kasus-kasus emergensi dan mengembangkan  kapasitas teknis tenaga kesehatan rumah sakit. Tim tersebut memberi pelatihan  bidang-bidang seperti penanganan emergensi tingkat lanjut, anestesi, transfusi darah dan pengendalian infeksi. Melalui pengembangan dan pelatihan mengenai SOP,  program Sister Hospital ingin mewujudkan  standar klinis yang lebih baik dan memperkuat sistem penyajian layanan kesehatan dan pelayanan medis.

Manfaat program Sister Hospital sudah dirasakan masyarakat. Sebut misalnya pasien ibu hamil di SoE, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang alami komplikasi tidak perlu lagi dirujuk ke Kota  Kupang karena sudah bisa ditangani RSUD SoE. Sebelum program Sister Hospital tahun 2010, RSUD SoE menangani sekitar 200 persalinan selama enam bulan.

Pada tahun 2012, jumlah tersebut meningkat dua kali lipat yaitu 537 persalinan. Sebelumnya, RSUD SoE tidak mampu menangani operasi caesar. Namun, pada paruh kedua 2012, ada 182 dari 537 persalinan  melalui operasi caesar.  Tanpa operasi caesar, mungkin banyak dari ibu dan bayi tersebut sudah pergi mendahului kita. (dion db putra/bersambung)

Sumber: Pos Kupang 1 Juni 2015 halaman 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes