Terobosan PS Kota Kupang

DI balik sukses penyelenggaraan Pekan Olahraga Sedaratan Flores dan Lembata (Pordafta) serta persiapan Pekan Olahraga Sedaratan Timor (Pordat) di Atambua, ada dua peristiwa olahraga yang menghentak kesadaran kita belakangan ini.

Pertama tentang warta kekalahan yang senantiasa menghiasi potret sepakbola Flobamora. Hari Selasa tanggal 13 Oktober 2009, kabar buruk itu datang dari Mataram, ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu tim sepakbola kebanggaan masyarakat NTT, Persap Alor kalah telak enam gol tanpa balas dalam pertandingan pertama penyisihan Grup XIX Divisi II Liga Indonesia. Persap Alor digilas 6-0 oleh kesebelasan tuan rumah, KSB Sumbawa Barat.

Skor kekalahan yang sungguh membuat kita mengurut dada. Mengapa demikian banyak gol yang bersarang ke gawang Persap? Skor kemenangan KSB memberi kesan kuat, Persap Alor tidak memberi perlawanan sedikit pun.

Menurut laporan media massa, kekalahan tersebut memang tidak semata terkait faktor keterampilan pemain mengolah bola di lapangan. Ada faktor X, salah satu yang disebut adalah buruknya kepemimpinan wasit. Tapi apapun argumentasinya, kekalahan Persap mesti diterima dengan jiwa besar.

Kekalahan Persap dalam kompetisi Divisi II Liga Indonesia sekadar contoh tentang buruknya prestasi tim jawara sepakbola NTT bila bertanding di luar kandang. Dulu kita pernah berharap pada PSN Ngada. Hasilnya toh sama saja. Pada saat-saat yang menentukan, kesebelasan NTT tumbang.

Sudah berulangkali kita angkat dalam ruangan ini bahwa prestasi sepakbola NTT memang tidak pernah masuk hitungan, bahkan untuk kawasan Bali dan Nusa Tenggara. Tetapi sepakbola masuk cabang olahraga prioritas di NTT. Mengapa?

Prioritas bukan karena prestasi atlet melainkan karena pesona sepakbola sebagai cabang olahraga masyarakat. Cabang olahraga yang paling digemari di daerah ini.
Telah berkali-kali juga kita garisbawahi bahwa prestasi olahraga tanpa kompetisi adalah bohong besar. Tidak mungkin meraih prestasi yang membanggakan bila keterampilan atltet tidak diasah melalui kompetisi yang ketat, rutin dan terukur.

Kompetisi sepakbola di NTT bisa dilukiskan sebagai mati suri. Satu-satunya agenda kompetisi yang bergulir adalah El Tari Memorial Cup. Kompetisi perserikatan di setiap kabupaten/kota tidak bergulir secara rutin. Kalau pun ada, sulit disebut sebagai ajang kompetitif dengan hasil yang memuaskan.

Kenyataan tersebut mengantar kita untuk memberi apresiasi terhadap terobosan pengurus PSSI Kota Kupang. Mulai tanggal 17 Oktober 2009, Persatuan Sepakbola Kota Kupang (PSKK) menyelenggarakan kompetisi antar-klub. Ini momentum yang baik. Setelah mati suri selama belasan tahun, PS Kota Kupang kembali menggulirkan roda kompetisi.

Kompetisi ini akan diikuti 25 klub yang resmi tercatat sebagai anggota PSKK. Sebelum memulai kompetisi tersebut, PSSI Kota Kupang menggelar pelatihan wasit. Sebanyak 25 orang wasit telah mengikuti pelatihan selama dua pekan dan kini mereka siap memimpin kompetisi yang bakal menjadi hiburan akhir pekan bagi penggemar sepakbola di Kota Kupang dan sekitarnya.

Sekali lagi kita sambut baik terobosan PSSK menyelenggarakan kompetisi sepakbola antarklub. Tentu masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pelaksanaan kompetisi nanti. Tidak apa-apa. Kekurangan selalu dapat diperbaiki kapan saja. Keterbatasan pun bisa dibenahi secara bertahap.

Keberanian memulai kompetisi, itulah poin penting bagi kemajuan sepakbola Kota Kupang di masa mendatang. Kita akan belajar banyak dari kompetisi tersebut. Kita pun akan memetik manfaatnya suatu hari nanti.

Indah sekali bila terobosan PS Kota Kupang diikuti perserikatan lainnya di Propinsi NTT. Jika semua pengurus perserikatan menggelar kompetisi antarklub, niscaya kualitas kejuaraan El Tari Memorial Cup akan lebih berbobot. Dan, tim juara kompetisi NTT tidak lagi sekadar jago kandang. *

Bola


HARI itu saat malam Minggu menjelang, beta terpaksa keluar dari tribun Stadion Oepoi Kupang menuju pelataran parkir untuk mencari udara segar. Setelah menyaksikan duel menarik selama satu setengah jam serta upacara penyerahan piala dan hadiah, beta sungguh tak tahan lagi berdesak-desakan dengan 35 ribu penonton yang berpesta pora. Mereka merayakan kemenangan klub Botung Anak Kupang alias Bonak menjuarai kompetisi Liga Kota KASIH (LKK) yang ketiga.

Di partai puncak hari itu, klub Bonak asuhan pelatih Petrus Abanat mengalahkan juara dua musim kompetisi sebelumnya AS Roma 1-0. Malang nian nasib AS Roma (singkatan dari Anak-anak Seputar toko Roda Mas) karena tim kebanggaan warga Kuanino itu cukup memerlukan hasil seri untuk pertahankan gelar. Tetapi tim asuhan Zeth Adoe lengah di menit akhir sehingga gelar juara di depan mata tak tergapai untuk ketiga kalinya. Bola memang bundar dan kini giliran Bonak berjaya.

Kembang api warna-warni menghiasi langit Kupang bersama terang bulan purnama kala itu ketika Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe menyerahkan piala bergilir LKK kepada kapten Bonak di tribun VIP. Ketua Umum Pengurus Cabang PSSI Kota Kupang, Drs. Daniek Hurek tersenyum ceria bersama jajaran pengurus teras seperti Pieter Fomeni, Melkisedek Madi, Felix Dando, Anton Kia dan lainnya.


Di tribun maupun di tengah lapangan Stadion Oepoi histeria penonton terekspresi dalam beragam wujud. Pengurus klub Bonak, pemain dan suporter
setia yang tergabung dalam Bonak Fans Club larut dalam pesta. Mereka bakupeluk, bakucium pipi kiri kanan, bersalam-salaman. Pesta Bonak masih berlanjut dengan pawai keliling Kota Kupang yang membuat jalanan macet total di sejumlah titik.

Kupang malam itu merayakan kemenangan sepakbola. Pesta untuk sukses Liga Kota Karang yang makin mendapat tempat di hati 400 ribu penduduk kota KASIH.
Sebagai juara kompetisi LKK, Bonak dapatkan hadiah uang sebesar Rp 150 juta. AS Roma (runner-up) Rp 75 juta, juara ketiga Kristal FC mendapat 50 juta dan Britama Kupang yang menempati ranking keempat mendapat hadiah Rp 25 juta.

Top Scorer atau pencetak gol tersubur diraih pemain Platina FC, Atus Karpitang dengan 26 gol. Atus berhak atas hadiah Rp 15 juta. Sedangkan pemain terbaik jatuh ke tangan striker AS Roma, Decky Kadja. Decky juga mendapat hadiah Rp 15 juta. Tim fair play direbut klub Sandelwood asuhan Paul Ngongo Bili.

Liga Kota KASIH merupakan perwujudan tekad pengurus PSSI pimpinan Daniel Hurek yang juga wakil walikota Kupang. Setelah bertahun-tahun mati suri, kompetisi antarklub perserikatan di ibu kota Propinsi NTT tersebut kembali diputar dengan manajemen lebih rapi dan konsisten. Sebanyak 24 klub di Kupang dibagi ke dalam dua divisi sesuai peringkat, yakni Divisi Utama dan Divisi I masing-masing beranggotakan 12 klub. Kompetisi sesuai format standar liga dunia itu menerapkan sistim promosi dan degradasi.

PSSI Kota Kupang menetapkan tiga tim promosi dan tiga tim degdarasi setiap musim kompetisi LKK yang bergulir selama delapan bulan. Jadwal pertandingan berlangsung setiap hari Sabtu dan Minggu di Stadion Oepoi. Mengingat Oepoi telah dilengkapi lampu sorot di empat sudut stadion, maka selalu ada pertandingan sore dan malam hari. Para pemain dimanjakan dengan rumput stadion yang lembut bagaikan permadani serta ruang ganti ber-AC.

Penonton pun menikmati pertandingan dari duduk tribun dengan kursi yang bagus.
Bergulirnya LKK diatur sedemikian rupa oleh PSSI sehingga tidak mematikan kompetisi yang sudah berjalan lama seperti Faperta Cup, Fosmab Cup, Imapem Cup, Ipelmen Cup, Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup, Angkasa Pura Cup dan lainnya. Event-event tersebut justru menjadi penopang mutu LKK.

Pelatih klub di sini semuanya bersetifikat nasional. Dan, terjadi peremajaan wasit besar-besaran. Usia wasit sesuai ketentuan FIFA. Sejumlah wasit dari Kupang, misalnya Abdul Muis, Kid Bokilia, Athen Bana, Lukman Hakim dan Chris Umbu Yogar bahkan telah dipercayakan PSSI memimpin pertandingan Liga Indonesia.

Setelah tiga tahun bergulir LKK mulai menebarkan pesona. Membius warga Kupang. Kompetisi itu menjadi hiburan akhir pekan. Penonton selalu berduyun- duyun ke stadion. Mereka menghargai event sepakbola dengan membeli tiket masuk, menonton dengan tertib, mengekspresikan rasa dengan santun. Tak ada adufisik karena spirit LKK adalah kompetisi kasih. Laga bola tanpa kekerasan.
Suasana stadion warna-warni. Suporter yang masuk anggota Fans Club menyanyi sepanjang laga, menabuh gong gendang, meniup terompet dan suling. Melambai- lambaikan atribut klub bermotif lokal NTT. Tiap pertandingan adalah pesta bola.

Tiket masuk setiap pekan ratusan juta rupiah. Tiket itu dibagi adil kepada para pihak sesuai ketentuan yang disepakati bersama. Sudah pasti ada jatah tetap bagi klub yang bertanding. Makin banyak penonton, pundi-pundi klub semakin tebal.

Dan, LKK sungguh menggairahkan ekonomi rakyat sebagaimana harapan duet pimpinan Kota Kupang, Daniel Adoe-Daniel Hurek. Tidak hanya pendapatan Ina, Ama pedagang kaki lima (PKL) meningkat pesat. Di kota ini tumbuh beragam usaha bisnis berkaitan dengan cabang olahraga apa saja. Partisipasi kalangan swasta melalui sponsorship terus meningkat. LKK menjadi ikon kebanggaan Kupang.

Setiap akhir musim, tim juara ujitanding melawan juara Divisi Utama Liga Indonesia di Kupang. Mutu LKK yang semakin baik menarik minat klub anggota Divisi Utama Liga Indonesia merekrut pemain berbakat asal Kupang. Kupang jadi lumbung pemain-pemain hebat di klub papan atas Indonesia. LKK juga jadi model kompetisi yang ditiru perserikatan lain di seluruh NTT. Luar biasa bukan?

Tetapi maaf beribu maaf. Kisah panjang lebar di atas hanyalah mimpi beta, salah seorang warga Kupang yang mencintai sepakbola. Mumpung sedang musim jual mimpi menjelang pilpres, maka izinkan beta menjual mimpi bola kepada tuan dan puan. Bukankah mimpi bisa menjadi kenyataan? (dionbata@yahoo.com)


Pos Kupang edisi Senin, 15 Juni 2009 halaman 1

Mella Divonis 2 Tahun 10 Bulan

SOE, PK -- Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) SoE yang dipimpin Maurid Sinaga, S.H, memvonis dua tahun sepuluh bulan penjara terhadap mantan Kepala Dinas Kehutanan (Kadishut) Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Drs. Johanis Christofel Mella, dalam kasus illegal logging 211 kayu jati di kawasan Hutan Fatuanas, Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara tahun 2004.

Amar putusan terhadap Johanis Christofel Mella, dibacakan bergantian oleh Ketua Majelis Hakim PN SoE, Maurid Sinaga, S.H, dan dua hakim anggota, yakni Amin Bureni, S.H dan Nunik Sri Wahyuni, S.H, di PN SoE, Rabu (14/10/2009). Tiga majleis hakim ini didampingi Panitera Pengganti, Daniel Betty.

Dalam amar putusan tersebut juga Johanis Christofel Mella, wajib membayar denda sebesar Rp 10 juta subsider dua bulan penjara. Hadir saat itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) SoE, Hendra Sudirman, S.H, penasehat hukum terdakwa, Jermias Haikase, S.H dan keluarga terdakwa.

Dibandingkan dengan tuntutan jaksa, putusan majelis hakim lebih ringan 14 bulan. Sedangkan JPUKejari SoE, Hendra Sudirman, menuntut terdakwa Mella, empat tahun penjara.

Dalam amar putusannya, majelis hakim meyakini terdakwa Drs. Johanis Christofel Mella bersalah melanggar pasal 78 ayat 5 jo pasal 50 ayat 3 huruf e Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Keyakinan itu diperoleh karena unsur dalam pasal itu terpenuhi sesuai fakta yang diperoleh majelis selama proses persidangan kasus ini berlangsung.

Majelis sepakat terdakwa Mella terbukti dengan sengaja menebang pohon atau memanen, atau memungut hasil hutan dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat berwenang berupa 211 kayu jati di Kawasan Hutan Fatuanas. Dengan keyakinan itu majelis memvonis terdakwa Mella bersalah dan dijatuhi hukuman sesuai ketentuan perundangan yang berlaku.

Terkait pembelaan penasehat hukum yang menyatakan tanggung jawab pidana kasus ini seharusnya dijatuhkan kepada mantan Bupati TTS, Drs. Daniel A Banunaek karena terdakwa melakukannya atas perintah Daniel Banunaek, majelis hakim mengesampingkannya. Majelis hakim menilai terdakwa melakukan perintah dalam keadaan sadar dan tidak dipaksa.


Selain itu, terdakwa sebagai Kadishut TTS saat itu mengetahui rencana penebangan itu melanggar aturan lantaran belum ada izin dari Menteri Kehutanan. Mestinya saat itu terdakwa tidak melaksanakan perintah bupati karena hal itu melanggar aturan.
Hal-hal yang memberatkan, penebangan kayu merusak ekosistem dan menimbulkan kerugian negara. Tidak hanya itu, akibat perbuatan terdakwa membutuhkan waktu lama dan biaya cukup besar untuk memulihkan hutan yang rusak.

Hal yang meringankan, terdakwa sopan dalam persidangan dan memiliki tanggungan istri dan anak-anak yang masih sekolah.

Terhadap putusan tersebut, terdakwa Mella melalui penasehat hukumnya, Jemi Haikase, menyatakan pikir-pikir. Hal yang sama dinyatakan JPU Kejari SoE, Hendra Sudirman. Kepada Mella dan JPU Sudirman, majelis hakim memberikan waktu tujuh hari untuk menyatakan sikap menerima atau banding. (aly)

Pos Kupang edisi Jumat, 16 Oktober 2009 halaman 1

Mantan Bupati TTS Dituntut Lima Tahun

SOE, PK -- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri SoE, Suhadi, S.H, menuntut mantan Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Drs. Daniel A Banunaek, lima tahun penjara dalam kasus illegal logging penebangan 211 kayu jati di kawasan hutan Fatuanas, Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara pada tahun 2004.

Tuntutan terhadap Daniel Banunaek lebih berat satu tahun dibandingkan mantan Kepala Dinas Kehutanan TTS, Jhon Mella, yang dituntut empat tahun penjara dalam kasus yang sama.

Tuntutan itu dibacakan Suhadi, S.H, dalam sidang lanjutan kasus illegal logging yang dipimpin Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) SoE, Maurid Sinaga,S.H, didampingi dua anggotanya, Amin Bureni,S.H dan Theodora Usfunan, S.H, Rabu (14/10/2009).

Suhadi menuntut Banunaek dengan pasal 78 ayat (5) jo pasal 50 ayat (3) huruf e Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, jo Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 jo pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP. Tidak hanya kurungan penjara, Suhadi juga menuntut Banunaek membayar denda sebesar Rp 20 juta subsider tiga bulan kurungan.

Suhadi meminta majelis hakim menyatakan terdakwa Banunaek bersalah melakukan tindak pidana kehutanan. Tindak pidana itu, yakni sengaja menganjurkan menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa, lanjut Suhadi, terdakwa melakukan perbuatannya saat masih menjabat sebagai bupati. Sebagai bupati seharusnya membantu pemerintah pusat dalam menjaga aset negara berupa hutan negara yang ada di dalam wilayah kerjanya. Namun, terdakwa malah merusaknya.

Selain itu, kata Suhadi, perbuatan terdakwa merusak citra aparatur negara. Perbuatan terdakwa juga berpotensi merusak lingkungan dan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap sumber daya alam.

Suhadi menyatakan, akibat perbuatan terdakwa membutuhkan waktu cukup lama dan biaya cukup besar untuk memulihkan kondisi hutan yang rusak. Dalam kasus ini, terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan tidak merasa bersalah.

Sementara hal-hal yang meringankan, demikian Suhadi, terdakwa bersikap sopan selama persidangan, belum pernah dihukum. Selain itu, terdakwa mempunyai tanggungan keluarga dan sudah sakit-sakitan.

Terhadap tuntutan itu, Ketua Majelis Hakim PN SoE, Maurid Sinaga, memberikan waktu kepada terdakwa bersama penasehat hukumnya menyusun pembelaan. Rencananya, pembelaaan Banunaek akan dibacakan, Rabu (21/10/2009). (aly)

Pos Kupang 15 Oktober 2009 halaman 1

Lidah

WANITA muda berwajah inosen itu terkejut diminta menjulurkan lidah. Meski terkesan malu-malu, gadis itu mau juga melakukannya mengingat yang meminta adalah mentornya dalam suatu pelatihan bagi calon tenaga kerja perusahaan.

"Seberapa penting lidah bagimu?" tanya sang mentor yang membuat gadis muda itu terkejut sekali lagi. "Penting sekali Bu. Tanpa lidah saya tidak bisa bicara dengan Ibu!" jawabnya. "Anak cerdas," kata sang mentor memuji.

Ya, tuan dan puan sulit membayangkan hidup tanpa lidah bukan? Lidah sangat penting bagi manusia dan hewan. Tidak butuh konfirmasi kepada hewan seperti monyet atau biawak komodo untuk membuktikan pentingnya peran lidah.

Lidah, satu di antara panca indera, merupakan sekumpulan otot rangka pada lantai mulut yang membantu manusia dan hewan mencerna makanan. Caranya dengan mengunyah dan menelan. Khusus bagi manusia, lidah membantu tindakan bicara. Tanpa lidah, tuan dan puan tak bisa omong!

Lidah adalah indera pengecap yang memiliki banyak struktur tunas pengecap. Bangunan lidah tersusun atas otot rangka yang melekat pada tulang rahang bawah dan tulang pelipis. Ada dua jenis otot lidah, yakni otot ekstrinsik dan intrinsik. Lidah memiliki permukaan kasar karena ada tonjolan yang disebut papila.

Bagi manusia, lidah tak terpisahkan dari bibir, gigi dan langit-langit mulut. Semua organ tubuh itu saling mendukung dan menopang dalam memainkan perannya. Lidah tetap butuh bibir agar komunikasi menjadi sempurna. Demikian pula sebaliknya. Tetapi bibir dan gigi tidak masuk kategori panca indera karena asas manfaatnya "kalah" bila dibandingkan dengan lidah.

Selain bermanfaat untuk pencernaan dan pengucapan, lidah manusia memiliki banyak peran. Lidah, misalnya, disebut-sebut cukup berperan dalam hal ciuman. Maka tidak mengherankan bila lidah kerap dihubung-hubungkan dengan konotasi erotis dan sensual. Menatap seseorang sambil "memainkan" lidah di bibir bisa dianggap menggoda. Ada maunya. Yang telah cukup umur tentu paham soal itu bahkan mungkin telah merasakan sensasi lidah yang sulit dilukiskan dengan kata- kata. Apa lagi manfaat lidah? Lidah digunakan pula untuk tindakan menjilat pada manusia dan hewan mamalia. Memang aneh kalau menjilat pakai bibir atau gigi. Bisa hancur obyek yang dijilati.

***
MENURUT ilmu lidah, di antara sederetan manfaat salah satu perkakas manusia tersebut, yang paling utama adalah perannya membantu tuan dapat bercakap-cakap dengan sesama. Barangkali karena itulah, maka kaum bijak bestari selalu mengingatkan: Jagalah lidahmu!

Iya, salah kelola lidah bisa bahaya. Gara-gara lidah, pamor seseorang bisa menjulang, bisa juga jatuh terhempas. Salah bercakap dapat mengobarkan perang. Ingat peribahasa, mulutmu harimaumu atau kata-kata lebih tajam daripada pedang. Tentang peran lidah, ada kiasan yang lebih terkenal, yaitu lidah tak bertulang, bersilat lidah dan keseleo lidah!

Mengapa beta panjang lebar mengulas lidah? Harap maklum, manajemen lidah itu kok relevan dengan suasana di beranda Flobamora belakangan ini. Sebagian anggota DPRD NTT dan DPRD Kabupaten/Kota di NTT yang sempat menyatakan menolak ikut bimbingan teknik (bimtek) di Jakarta, eh ternyata diam-diam sudah ke sana mengikuti acara bertitel: penguatan kapasitas kelembagaan DPRD. Kloter pertama DPRD NTT sebanyak 13 orang berangkat ke Jakarta, 4 Oktober 2009.

Mereka mengikuti kegiatan yang digelar Departemen Dalam Negeri (Depdagri) bersama anggota DPRD Rote Ndao dan Manggarai Timur sampai 8 Oktober. Para wakil rakyat yang terhormat (Yth) itu melahap materi penting seperti pengelolaan keuangan daerah, teknik menyusun APBD serta cara membuat peraturan daerah.
 

Setelah kloter pertama akan disusul kloter kedua dan seterusnya sampai 54 anggota DPRD NTT dapat giliran. Tidak penting apakah yang sudah "tua" di Dewan (baca: sudah dua tiga periode menghuni gedung Dewan) atau wajah baru nol pengalaman.

Salah seorang pimpinan DPRD NTT melukiskan kegiatan itu tidak wajib, tetapi dari sisi urgensi perlu diikuti wakil rakyat. Mengenai besar dana guna membiayai kegiatan itu, wartawan disarankan bertanya kepada Sekwan DPRD NTT. Sekwan berkata tegas, "Kami dilarang pimpinan Dewan memberi keterangan pers." Lidah oh.. lidah. Indah nian menyimak peranmu merangkai kata demi kata.

Rasanya masih segar dalam ingatan tuan dan puan ketika sebagian anggota DPRD hasil Pemilu 2009 menyatakan menolak ikut bimtek di Jakarta. Bahkan salah satu partai besar yang barusan menggelar Munas yang "riuh" di Pekanbaru -- melarang para kadernya yang terpilih sebagai legislator ikut kegiatan itu.

Kuat saran dan usul, bimtek diselenggarakan di NTT saja. Toh bisa menghemat anggaran sekaligus memanfaatkan pakar lokal. Kita tidak kekurangan pakar dari Undana, Unwira, UKAW, UMK, Ledalero, Unimor, Unipa, STKIP, PGRI dan lainnya. Mohon maaf Bapak/Ibu profesor, doktor, magister domisili kampung besar NTT. Kecakapan tuan dan puan tak laku. Sonde selevel orang Jakarta.

Hebat ooo... event organizer di Depdagri. Panen raya! Misalnya satu daerah menganggarkan dana rata-rata Rp 300 juta untuk bimtek, hitung sendiri berapa jumlah uang yang terbang ke Jakarta berlabel penguatan kapasitas Dewan. Kenapa tidak uang sebesar itu terbang rendah lalu mendarat di beranda Flobamora saja?
Nah, apa hadiah pertama bagimu yang memilih pada pemilu 2009? Ya, hadiah lidah. Bisa lidah tak bertulang atau sekadar keseleo lidah! Silakan tuan simpulkan sendiri. Apakah di sana mereka juga "bermain" lidah. Husss! Jangan tanya soal itu kepada beta. Bahaya kawan. Jaga lidah!! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 12 Oktober 2009 halaman 1

Lupa


SEMBAB menghiasai wajah Nanda. Di tengah renai hujan, dia menatap nanar ke arah alat berat yang sedang menghancurkan dinding gedung yang roboh. Di dalam reruntuhan beton itu, kemungkinan besar Fitria (14), anaknya, terperangkap.

Nanda duduk tak jauh dari reruntuhan bangunan bimbingan belajar GAMA. Gedung di Jalan Proklamasi Padang itu merupakan salah satu dari ratusan bangunan yang runtuh ketika gempa 7,6 Skala Richter (SR) melanda Padang, Sumatera Barat, Rabu (30/9/2009) lalu. Di dalam reruntuhan selain Fitria, juga terdapat puluhan murid yang terperangkap.

Tidak banyak yang bisa dilakukan orangtua seperti Nanda, selain duduk memandangi mesin pelubang beton dan puluhan petugas yang berusaha menyingkirkan puing reruntuhan demi menemukan korban. Ada harapan, meski terasa mustahil, melihat Fitria ditemukan dalam keadaan hidup. Sampai hari keempat pasca gempa, Nanda mulai pasrah. Dari 100 orang yang terperangkap di gedung GAMA, baru 50 korban tewas yang dievakuasi. Sisanya masih tertimbun reruntuhan. Nasib yang sama menimpa 200 orang di Hotel Ambacang, 30 orang di Pasar Raya dan 300 lainnya di Gunung Tigo, Padang Pariaman.


Total korban tewas akibat gempa Padang diperkirakan lebih dari 1.000 orang dan sejauh ini belum sampai 50 persen yang dievakuasi. Memilukan. Begitulah perasaan kita setiap kali bencana alam merenggut nyawa sesama. Dalam bulan September 2009 saja dua kali gempa besar melanda Indonesia. Tasikmalaya remuk pada 2 September. Dan, 30 September 2009, air mata tumpah di ranah Minang. Keesokan harinya, 1 Oktober 2009, gempa kembali mengguncang Jambi dan sekitarnya dengan kekuatan serupa.

Gempa Padang dan Jambi itu menggenapi kenyataan betapa kerak bumi Indonesia retak pecah tak karuan dalam waktu empat tahun terakhir. Sejak gempa disertai tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 26 Desember 2004, tercatat 12 kali gempa berkekuatan di atas 7 SR melanda RI. Setelah gempa NAD yang menelan korban lebih dari 130 ribu jiwa, korban kedua terbesar adalah gempa Yogyakarta 9 Agustus 2007 dengan korban 5.000 jiwa.

Sejak lama pakar gempa telah mengingatkan bahwa wilayah Indonesia berada di atas kulit bumi yang rapuh. Di sini ada empat lempeng bumi yang saling bertubrukan sehingga gempa merupakan peristiwa alam yang pasti terjadi secara periodik. Dengan pergerakan lempeng secara konstan 7 cm per tahun, maka tinggal menunggu giliran daerah mana lagi yang bakal jadi target gempa berikutnya. Soal kepastian waktu tak seorang pun tahu. Yang pasti gempa hadir tak terduga, cepat dan gesit meremukkan apa saja.

***

TEROR gempa ada di depan mata, tetapi beranda Flobamora agaknya diam-diam bahkan santai saja sejak gempa dan tsunami melanda Flores 12 Desember 1992. Kita sudah lupa. Lupa ditakdirkan hidup di tengah Cincin Api, kawasan yang dikelilingi gunung berapi dan lempeng tektonik aktif. Kita lupa hidup bersama gempa setiap detik. Lupa bahwa gempa bumi bisa datang kapan saja.

Hari Minggu kemarin gempa mengguncang Papua Barat dan Gorontalo. Jangan-jangan malam ini, besok atau lusa gempa bumi meluluhlantakkan beranda Flobamora! Tuan dan puan waspada? Beta tidak begitu yakin tentang itu.

Sudah terbukti di mana-mana, kebanyakan korban gempa tewas karena tertimpa bangunan atau tanah longsor. Tujuh belas tahun lalu ketika gempa bumi dan tsunami melanda Flores, kencang nian tekad pemerintah dan masyarakat NTT membangun rumah atau fasilitas umum dengan konstruksi tahan gempa. Model rumah dan bangunan tahan gempa disosialisasikan. Bahkan diujicoba ketahanannya terhadap gempa bumi berkekuatan dahsyat di atas 7 SR. Besar harapan pemerintah dan masyarakat NTT menjadikan model bangunan tahan gempa itu sebagai pedoman membuat kebijakan publik yang sadar gempa. Hari ini semua orang sudah lupa!

Waktu itu para pakar gempa bumi, baik dari dalam maupun luar negeri memberikan solusi serta rekomendasi antara lain, mendorong akademisi rutin melakukan riset gempa di NTT. Melalui riset bisa diperoleh gambaran utuh tentang kawasan rawan gempa. Melalui riset pemerintah dapat membuat pemetaan wilayah yang boleh dan tidak boleh jadi daerah hunian atau perkantoran. Dengan pemetaan jelas, program relokasi penduduk dapat dijalankan.

Pasca gempa bumi dan tsunami 12 Desember 1992, program mitigasi (suatu upaya meminimalkan dampak bencana) berkumandang nyaring di NTT. Penduduk mesti dilatih terus-menerus agar siaga terhadap bencana. Sadar dan siaga bencana mesti menjadi bagian dari gaya hidup orang NTT. Apa hasilnya? Lagi-lagi rekomendasi 1992 sekadar macan kertas. Seiring berlalunya waktu, beranda Flobamora kembali terserang penyakit lupa.

Coba periksa hari ini di mana ada rumah penduduk dengan konstruksi tahan gempa? Di mana bangunan sekolah, rumah ibadah atau perkantoran tahan gempa? Di kampung halaman kita berlaku formula ini: Rumah setengah tembok disambung dinding kayu atau bambu bukan rumah. Apalagi rumah berdinding bebak. Itu tanda orang papa. Rumah identik dengan beton. Rumah mesti terbuat dari adonan semen, kerikil, pasir, batu, air dan besi. Takarannya? Ah, terserah siapa yang punya rumah dan bangunan. Tahan gempa atau tidak cukup pakai rasa, bukan nalar.

Di sini banyak arsitek hebat. Konsultan konstruksi cerdas. Kita kaya pakar di Dinas Pekerjaan Umum. Pernahkah mereka berpikir tentang desain bangunan tahan gempa? Serius menjadikan konstruksi tahan gempa sebagai syarat mutlak dalam Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di daerah rawan gempa? Lupa. Lagi-lagi kita lupa sesuatu yang bisa membunuh kita secara massal kapan saja.

Tatkala bencana melanda, kita cenderung mengutuk alam. Mestinya ramai-ramai mengutuk pembuat kebijakan publik (pemerintah dan DPRD) yang tidak sadar itu. Yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman serta sukses bangsa lain seperti Jepang yang piawai merancang bangunan elastis. Berapapun kuatnya gempa, bangunan di Jepang siap mengikuti irama yang dimainkan gempa. Tanpa rontok dan kecil kemungkinan menimbun penghuninya.

Teringat nenek moyang dulu yang bangun rumah panggung di dusun dari bahan lokal. Rumah sederhana tapi tangguh melawan gempa. Padahal mereka tidak sekolah, tidak belajar arsitektur di universitas, tidak bergelar doktor dan profesor. Siapa lebih cerdas dibandingkan tuan dan puan sekarang? Tuan hidup di zaman GPS yang mampu melihat pergerakan kerak bumi dari menit ke menit. Nah, siapa lebih primitif? Maaf, lupaaa! (dionbata@yahoo.com)

Pos Kupang edisi Senin, 5 Oktober 2009 halaman 1

4 Penambang Mangan Mati Tertimbun

KUPANG, PK--Tambang mangan makan korban lagi. Empat penambang mangan di Kiumabun, Desa Oebola Dalam, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, tewas tertimbun batu mangan, Selasa (6/10/2009) pukul 14.00 Wita, ketika sedang menggali material galian ini.

Para korban tertimbun selama tiga jam hingga berhasil dievakuasi pada pukul 17.00 Wita oleh warga setempat. Selain empat penambang tewas, satu orang dalam kondisi sekarat. Kempat korban tewas itu, masing-masing Melianus Bariut (51), Petrus Sabloit (38), Ambrosius Seran (11) serta Marice Ton (38). Mereka langsung divakuasi ke rumah duka yang berjarak kurang lebih tiga kilometer arah barat.

Sementara korban yang selamat, Nikolaus Sabloit, mengalami gangguan pada batang leher dan dada akibat tertimbun batu mangan. Dia diselamatkan ke salah satu rumah milik kerluarga yang berjarak kurang lebih satu kilometer dai lokasi kejadian.

Sebelumnya, pada Jumat (2/10/2009) lalu, dua penambang mangan, Simon Lensini dan Etri Lensini tewas tertimbun saat menambang mangan di sekitar Kampung Taliat, Kelurahan Naioni, Kota Kupang.

Istri korban selamat Nikolaus Sabloit, Sarlina Sabloit Malafu, menuturkan, saat kejadian suaminya bersama empat korban lain masuk ke dalam lubang sedalam tiga meter dengan ketinggian tebing delapan meter untuk menggali batu mangan. Tiba-tiba, kata Malafu, tanah dan batu mangan dari permukaan tebing rubuh dan mengubur kelima korban, termasuk suaminya.

Saat itu juga dia berlari menuju lubang dan tidak melihat suaminya bersama empat korban lain, sehingga Malafu berteriak minta tolong. Selang beberapa menit kemudaian, warga sekitar berdatangan dan berusaha untuk menyelamatkan kelima korban dengan menggali tumpukan timbunan mangan. Kurang lebih tiga jam baru warga menemukan kelima korban, empat di antaranya sudah meninggal.

Marice Ton, satu di antara keempat korban yang meninggal, dihantar keluarganya ke Amarasi untuk dimakamkan di sana, sedangkan tiga lainnya disemayamkan di satu rumah milik orangtua mereka di Desa Oebola Dalam yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Kantor Camat Fatuleu.

Disaksikan Pos Kupang, Rabu (7/10/2009), ketiga korban tewas dibaringkan pada satu tempat tidur di sebuah rumah daun tanpa dinding. Keluarga dan sanak saudara duduk di atas bangku dan kursi mengelilingi ketiga jenazah yang terbaring kaku. Jenazah Ambros Seran, yang merupakan cucu dari dua korban lain, dibaringkan di tengah. Beberapa luka tampak jelas pada wajah ketiga korban yang membiru.

Di tenda duka, beberapa warga duduk bersama beberapa guru dari Ambros Seran. Mereka duduk secara berkelompok. Semua diam membisu, turut merasakan penderitaan keluarga korban. Turut hadir di tenda duka itu, Camat Fatuleu, Batarudin, serta Kapolsek Fatuleu, AKP Yohanes Hamsibu. Sementara di lokasi kejadian yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari rumah duka, tampak sepi, tidak ada aktivitas apa pun di sana.

Lokasi galian mangan itu terletak di bukit dan berada di antara hutan bambu liar di pinggir sebuah kali kering. Untuk mencapai lokasi itu, harus mengikuti jalan tikus melintasi kali kecil hingga 300 meter dari jalan umum. Kurang lebih 10 meter dari lokasi galian terdapat beberapa karung kosong dan 13 botol kosong miras. Di sisi kiri dan kanan lubang yang lebarnya kurang lebih empat meter dengan kedalaman tiga meter itu terdapat 118 karung mangan yang sudah berhasil dikumpul. Dari ke 118 karung mangan itu, 58 karung diletakkan di sisi kiri dan kanan lubang, sementara 60 karung yang diletakkan di depan lubang itu tertimbun tanah akibat evakuasi para korban.

Mangan di bukit ini baru mulai digali satu minggu terakhir. Bahan galian yang belakangan menjadi primadona warga itu masih dikumpulkan di lokasi, belum pernah dijual. (mas)

Pos Kupang 8 Oktober 2009 halaman 1

Sainoni Menanti Listrik dan Air

BERADA di serambi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan jaminan bagi warga Desa Sainoni di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) untuk hidup makmur. Pembangunan yang didengungkan oleh pemerintah pun masih jauh dari harapan desa yang berada sekitar 4 km dari garis batas negara itu.

Desa Sainoni merupakan salah satu desa yang berada di wilayah perbatasan. Meskipun tidak berbatasan langsung, jarak terdekat dari desa ini ke wilayah Distrik Oecusse, Timor Leste hanya sekitar 4 hingga 5 km atau membutuhkan waktu tempuh sekitar 15 menit dengan sepeda motor.

Meski jalan raya yang menunju ke wilayah Timor Leste melintasi desa ini, kekurangan utama yang dihadapi oleh warga desa ini adalah listrik dan air.
Masyarakat yang mendiami desa yang berada sekitar 20 km dari Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten TTU ini masih gelap gulita pada malam hari dan selalu kesulitan air bersih pada musim kemarau. Perhatian pemerintah untuk dua masalah ini masih jauh dari desa ini.

Kesulitan yang dialami warga desa ini sempat saya rasakan langsung selama tiga hari tinggal di wilayah ini. Untuk mengatasi masalah ini, warga desa yang mampu bisa mengusahakan mesin listrik ringan dengan kapasitas kecil. Namun, bagi mereka yang masih hidup dalam kekurangan harus menggunakan lampu-lampu minyak yang dibuat sendiri.

Demikian juga dengan air. Air bagi masyarakat Sainoni saat musim kemarau adalah kebutuhan yang sangat mahal. Warga yang mampu bisa menyiasati masalah kekurangan air ini dengan membangun bak penampung. Sementara bagi warga yang tidak mampu harus rela berjalan kaki sekitar dua hingga tiga kilometer untuk mendapat air bersih.

Bak penampung yang ada biasanya diisi dengan air bersih yang didatangkan dari Kota Kefamenanu menggunakan truk tangki. Air lima ribu liter tersebut dibeli seharga Rp 200 ribu hingga 250 ribu. "Kalau air habis, biasanya kita pesan air tangki dari Kefamenanu. Mereka antar sampai di sini," kata Milarius, warga Desa Sainoni.

Menurut Milarius, air seharga tersebut bisa digunakan satu hingga tiga bulan, tergantung tingkat kebutuhannya. Sudah belasan tahun warga desa ini kesulitan air bersih. Padahal dari desa ini tampak jelas berdiri kokoh gunung Mutis yang merupakan sumber air untuk daratan Timor termasuk wilayah TTU.

Kesulitan air bagi warga desa ini hanya terjadi pada musim kemarau. Sebab pada musim hujan, warga bisa mendapatkan air dengan menampung air hujan atau mengambil air dari beberapa sumber mata air yang muncul di beberapa titik di wilayah itu.

Sementara untuk listrik, warga yang mampu mengusahakan untuk membeli mesin genset kecil. Namun masalah lain muncul yaitu kesulitan bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin. Bensin di wilayah ini tergolong mahal dan tergantung persediaan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU) di Kota Kefemenanu. Bila persediaan bensin cukup, maka harga bensin di wilayah ini Rp 5000 hingga Rp 6000 per liter. Namun bila stok bensin di SPBU habis, maka bensin di wilayah ini menjadi sangat mahal atau ikutan habis juga.

Masalah kekurangan air dan listrik di wilayah ini sudah dirasakan oleh beberapa generasi di wilayah itu. Menurut beberapa warga, sebenarnya beberapa tahun lalu pernah ada pihak yang datang melakukan survei untuk memasang listrik, namun hingga saat ini listrik dari PLN belum pernah tersambung ke wilayah ini.

Oleh masyarakat bersama sebuah lembaga juga pernah secara swadaya memasang jaringan listrik dan menyediakan mesin generator. Sejenak warga pernah menikmati listrik, namun kurangnya koordinasi dan informasi antara masyarakat dan pengelola membuat wilayah ini kembali gelap pada malam hari.

Peran pemerintah Kabupaten TTU sebenarnya sangat dibutuhkan oleh warga desa ini. Karena sebagai bagian dari negara Indonesia, warga Desa Sainoni dan desa- desa lain di wilayah perbatasan RI-Timor Leste masih menanti dan ingin diperhatikan dan ingin merasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang sudah maju dari Timor Leste. (Alfred Dama)

Pos Kupang edisi Sabtu, 10 Oktober 2009 halaman 5

Antara Balmata dan Oetalu

AIR sudah menjadi kebutuhan dasar kita. Pemerintah harus bisa menjamin ketersediaan air bagi masyarakat, seperti diatur dalam konvensi internasional dan konstitusi.

Persoalannya, apakah pemerintah sudah menyediakan air secara memadai untuk memenuhi kehidupan dasar warga negaranya, terutama masyarakat miskin?

Ketersediaan adalah jumlah air yang mencukupi kebutuhan minimal untuk hidup keseharian baik sendiri maupun dengan keluarga. Sedangkan kualitas adalah mutu air yang dikonsumsi harus sehat dan layak, khususnya bagi anak-anak dan perempuan.

Keterjangkauan adalah air yang bisa dijangkau oleh setiap orang tanpa kecuali, baik fisik yaitu air yang higienis. Sisi ekonomis yaitu harga yang terjangkau bahkan bila dimungkinkan gratis. Sisi nondiskriminasi, yaitu tidak boleh ada pembedaan terhadap siapa pun dalam mengakses air, dan sisi informasi, yaitu ketersediaan informasi yang memadai tentang air.

Berbeda dengan kehidupan sekitar 34 kepala rumah tangga (KK) di RT 17 dan RT 18, Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, yang sampai saat ini masih kesulitan memperoleh air minum bersih. Mereka hanya bergantung pada mata air alam untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Begitu pula untuk ternak, mencuci dan bercocok tanam. Namun, masalah mereka kebanyakan tidak bercocok tanam di musim kemarau akibat kekurangan air. Meskipun ada, tapi harus ditempuh dengan jarak tidak kurang dari 1 kilometer.

Di tengah masalah kebutuhan dasar yang cukup vital sedang melilit mereka, warga setempat tidak kehilangan akal. Mereka tetap memanfaatkan sumber daya air yang ada di sekitar perkampungan mereka. Tanpa menunggu adanya dukungan dan bantuan pemerintah membangun sarana air bersih, warga di wilayah ini berupaya membuat sumur endapan di sekitar sumber mata air. Dua sumber air yang selama ini difungsikan untuk mengatasi persoalan air bersih di wilayah ini adalah sumber air Balmata dan Oetalu.

Sofia Taninhelon (64) dan Oktovina Taninhelon (44), dua warga setempat, mengatakan, dua sumber air itu sudah menghidupkan masyarakat setempat sejak puluhan tahun silam.

"Air ini sudah ada semenjak nenek moyang kami, karena ketika kami lahir dan besar, air inilah yang kami manfaatkan," kata Sofia Taninhelon.

Dijelaskannya, di kelurahan itu terdapat dua RT yang selama ini kesulitan air minum, namun mereka melakukan upaya swadaya, yaitu dengan menggali sumur di pinggiran sungai yang ada di wilayah itu.

"Dua sumber air ini dinamakan sesuai nama sungai. Dan masalah setiap tahun adalah debit air. Tapi, mau bagaimana tetap kita berusaha mengambil air. Sekarang ini kalau terlambat ambil air berarti harus menunggu hingga air kembali naik," katanya.

Tak pelak di wilayah ini juga warga sering membeli air tangki, apabila ada hajatan seperti pernikahan, duka dan sebagainya. Harga air tangki yang dibeli biasanya antara Rp 50.000,00 hingga Rp 60.000,00/tangki.

Oetalu adalah salah satu sumber air yang letaknya di RT 19, sehingga warga di RT 17 dan RT 18 yang hendak mengambil air ini harus menempuh jarak sekitar 1,5 km. Sedangkan sumber air Balmata berada di luar pemukiman warga setempat dengan jarak 1 km dari RT 17.

Bukan saja jarak. Untuk menempuh sumber air ini mereka harus berjalan kaki melewati lembah dan gunung. Kegigihan warga dua RT ini menunjukkan betapa besar semangat juang mereka untuk memperoleh setetes air guna menghidupi keluarga.
"Kalau kita senang mau ambil di Oetalu berarti harus sampai ke wilayah RT 18. Sedangkan kalau ingin ambil air di Balmata, maka kita harus melewati lembah dan gunung.

Tantangan ini harus dialami oleh warga dan semakin terasa pada musim kemarau seperti sekarang," kata Ketua RT 18, Petrus Taninhelon. (Obby Lewanmeru)

Pos Kupang, 3 Oktober 2009 halaman 5

80 Persen Daerah Pemekaran Gagal

Jakarta, Kompas - Selama 1999-2009 terdapat 205 daerah pemekaran baru, yang terdiri atas tujuh provinsi dan 198 kabupaten/kota. Namun, hanya 20 persen daerah pemekaran baru yang berhasil, sedangkan 80 persen dianggap gagal.

Hal itu dikemukakan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Muladi dalam seminar ”Urgensi Pemekaran Daerah untuk Meningkatkan Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat” di Gedung Lemhannas, Jakarta, Selasa (29/9/2009).

Bahkan, penambahan daerah otonom baru itu justru menambah beban keuangan negara. Setiap tahun, dana alokasi umum (DAU) yang dikucurkan pemerintah pusat untuk membiayai kebutuhan dasar, terutama gaji pegawai, terus bertambah.

”Pada tahun 1999, DAU yang dikucurkan ke daerah baru Rp 54,31 triliun dan tahun 2009 ini sudah sampai Rp 167 triliun,” ujar Mardiasmo, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Departemen Keuangan.

Daerah pemekaran baru juga berdampak pada berkurangnya proporsi DAU bagi daerah lain.

Beban lain yang harus ditanggung pemerintah pusat adalah penambahan dana alokasi khusus. Dana tersebut diberikan salah satunya untuk membantu menyediakan kantor-kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Kesejahteraan
Sementara peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik yang menjadi tujuan pemekaran daerah belum tercapai. Dana bantuan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah induk, biasanya habis untuk memberikan gaji kepada pegawai dan pejabat, termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah baru.

”Pengalaman di banyak daerah otonomi baru menunjukkan nilai tambah lebih dirasakan elite yang mendapat posisi atau jabatan baru,” kata Harun Al Rasyid, anggota Dewan Perwakilan Daerah periode 2004-2009.

Oleh karena itulah, diperlukan cetak biru pemekaran daerah untuk mengatur jumlah ideal daerah otonom di Indonesia, sekaligus persyaratan dan metode evaluasi. (NTA)
Sumber: Kompas
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes