Ibu Rumah Tangga Raih NTT Academia Award 2011

Penerima NTT AA 2011 (foto Edy Royanto)
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Maria Loretha, seorang ibu rumah tangga asal Kabupaten Flores Timur (Flotim) berhasil meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori I, Bidang Sains dan Inovasi keteknikan.

Selain Loretha, masih ada tiga orang lainnya yakni John Ndolu, Agus Dapaloka dan Bobby Koamesah yang juga meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori berbeda.

Loritha yang adalah seorang petani oleh tim juri dinilai berhasil di bidang sains dan inovasi keteknikan atas usahanya membudidayakan sorgum, jelai, jewawut, padi hitam dan wijen. Dia pun mengolah pangan lokal menjadi panganan ringan kering.

Maria Loretha terima trofi dari Leo Nahak
John Ndolu adalah fasilitator pengembangan di WVI. Dia terpilih sebagai penerima NTT Academia Award untuk kategori Inovasi Pembangunan berkas gagasan dan tindaknnya dalam hal revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pesta pora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak).

Agus Dapaloka adalah seorang guru bahasa dan sastra Indonesia pada SMAK Andaluri, Waingapu. Agus meraih NTT Academia Award tahun 2011 untuk kategori Humaniora dan inovasi sosial budaya atas karyanya mengubah pola pikir terhadap wanita melalui sebuah buku novelnya yang berjudul “Perempuan itu Bermata Saga”.
John Ndolu (kiri)

Sedangkan Bobby Koamesah adalah seorang dokter dan dosen Fakultas kedokteran Undana Kupang yang punya hobi beternak babi berhasil meraih pengghargaan untuk kategori Enterpreneurship/kewirausahaan. Dokter Boby berhasil mengembangkan bibit babi unggul dan pakan ternak murah tapi berkualitas.

Penyerahan hadiah dan penghargaan kepada empat pemenang berlangsung di Aula Museum Daerah NTT di Kupang, Sabtu (14/01/2011). Turut hadir pada acara penganugerahan ini adalah salah satu anggota DPR RI, Farry Djemi Francis yang juga merupakan anggota FAN NTT.

Para pemenang NTT Academia Award 2011 mendapatkan pengghargaan berupa piagam, trofi dan uang tunai yang diserahkan Kepala Museum NTT, Leonardus Nahak, panitia dan juga anggota DPR RI, Farry Djemi Francis.

Dari FAN yang diwakili salah satu anggotanya, Fary Francis dalam sambutannya mengatakan, malam penganugerahan kali ini merupakan suatu hal yang luar biasa berbeda dengan tahun sebelumnya karena para pemenang tidak pernah diketahui oleh panitia maupun anggota FAN NTT.

Tahun ini katanya, acaranya lebih istimewa. Dia mempertanyakan mengapa tidak ada satupun perwakilan dari pemerintah baik pemerintah kota Kupang maupun propinsi NTT. “Panitia undang (pemerintah) atau tidak?” lalu dijawab oleh panitia bahwa telah mengundang pemerintah untuk hadir dalam kegiatan malam itu namun tidak ada satupun perwakilan pemerintah yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap karya-karya anak Floamora.

“Sangat disayangkan kalau pemerintah setempat tidak ada perhatian terhadap karya-karya anak negeri seperti ini,” katanya kepada Pos Kupang usai acara malam itu. Farry berharap agar dengan penganugerahan penghargaan ini, semakin banyak orang NTT yang berusaha berbuat demi orang banyak.

Sementara Kepala UPT Museum NTT, Leonardus Nahak mengatakan orang NTT harus bangga menjadi orang NTT, banyak hal yang bisa dilakukan atau dibuat untuk NTT asalkan bekerja dengan hati.

Ketua Panitia kegiatan, Candra K Dethan mengatakan, FAN telah selama lima tahun berturut-turut membuat kegiatan serupa dengan mememilih orang-orang yang sudah berbuat banyak bagi perubahan masyarakat tapi belum diperhatikan pemerintah. “Dan di tahun 2011, panitia melalui dewan juri independen telah menetapkan empat tokoh yang telah berbuat lebih untuk NTT dan dunia,” katanya.

Penganugerahan Academia Award 2011 ini diawali dengan diskusi publik bertema refleksi empat pilar kebangsaan yakni, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika dengan narasumber Beny Tukan. (gg)


Komentar mereka
1. MARIA LORETHA : sehari-hari bekerja sebagai petani. Petani budidaya sorgum, jelai, jewawut, padi hitam, wijen. Dan mengolah pangan lokal menjadi panganan ringan kering contoh: jagung pulut menjadi criping jagung pulut, pisang menjadi pisang sale, kue kering dari tepung sorgum, chips ikan, dan lain-lain. Semua makanan ringan kering ini hanya diproduksi saat musim panas. Karena membutuhkan tenaga surya matahari. Sementara budidaya benih lokal hanya terpusat di kebun saya sebagai pusat BANK BENIH. Penyebaran hanya pada kelompok tani-kelompok tani (poktan) yg membutuhkn, ada kesadaran diri pribadi untuk mengembangkan dan melestarikan. Saya diundang poktan dulu baru saya datang bagi benih.
Jagung solo atau watabolong atau lepang atau sorgum bukan makanan kelas dua. Dia sengaja dilupakan dan ditinggalkan padahal dari segi gizi jauh di atas beras. Sebagai orang NTT saya bangga dengan kekayaan sumber pangan NTT yang sangat beragam. Kepada pemerintah, NGO dan seluruh masyarakat NTT, mari dukung perempuan penghasil pangan.

2. JOHN NDOLU : Saya bekerja selama 24 tahun tiga bulan di WVI sebagai Fasilitator Pengembangan. Dan kebetulan mendapat penghargaan dan Jaminan hidup dari Ashoka maka saya mundur dari WVI karena tidak boleh menerima gaji dobel. Maka sekarang saya melayani masyarakSat sambil bertani.
Saya melakukan revitalisasi budaya yakni penyederhanaan pesta pora dan membuat inovasi Tu’u pendidikan (pengumpulan dana bersama untuk biaya kuliah anak) Mengapa harus tu’u pendidikan? Karena pendidikan merupakan investasi pembangunan bangsa.

3. AGUS DAPALOKA: “Perempuan itu Bermata Saga” adalah sebuah novel yang berkisah tentang cinta seorang wanita. Wanita yang selama ini dipandang sebagai lemah dan selalu kalah dari laki-laki. Pandangan itu begitu keliru sebab telah ternyata bahwa dengan cinta dan sentuhan kelembutannya, wanita menunjukkan kekuatan yang dasyat. Tidak mudah seorang wanita menerima resiko “Tetap teguh mencintai” saat sebuah perubahan pada apa yang dicintai begitu menawarkan ketakutan. Cara berpikir terhadap wanita harus diubah dan berhenti meremehkan wanita.

4. DR. BOBBY KOAMESAH : Inti bisnis peternakan babi. Produksi bibit babi unggul, produksi pakan ternak murah dengan kandungan bahan lokal 2012 mulai produksi pakan. Pengembangan peternak dengan bantuan bibit, pakan, bantuan teknis dan manajemen dengan satu keluarga lima ekor, dapat meningkatkan penghasilan Rp 1 juta perbulan untuk peternak. Saat ini produksi 1.000 sampai 2.000 ekor bibit per tahun. Sedangkan produksi pakan berkualitas dua sampai lima ton setiap hari.



Penerima Tahun Sebelumnya


Tahun     2007:  Kusa Bill Nope, MT, Dosen Poltek Kupang, kategori sains dan keteknikan menyuling air laut menjadi air tawar dan tim robotika “PNK Smart Furute, mahasiswa politeknik Kupang. Tim Pelajar SMUN 2 Kupang    Dengan paper berjudul “pengaruh pembuatan kapur terhadap peningkatan kerusakan terumbu karang” dalam munas Terumbu karang coremap II di Jakarta 10/09/2007.

Tahun 2008: Siprianus Paulus Dawan    Mahasiswa FST Undana, karena temuan pada tahun 2007 berupa kolektor gerak surya memberi solusi mengatasi kekurngan air di daerah pesisir pantai NTT. et Malelak    Inovasi pembangunan (Dusun Uel, Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur) berswasembada jagung bahkan surplus jagung. Yovita Meta Bastian    atas karyanya menduniakan tenun ikat NTT, khususnya dari TTU.


Tahun 2009: Sr. Dr. Susi Susilawati    Penelitian tentang pengelolaan air hujan untuk pertanian di daerah kering dan pulau-pulau kecil (pulau sabu raijua). Yie Gae Tjie    Pengusaha aneka kerajinan Flores dan seorang motivator dan inspirator bagi masyarakat Kota Maumere.

Tahun 2010: Aliansi Masyarakat Motor Peduli ternak (Geng Motor IMuT)    Inovator teknologi terapan dengan memamfaatkan limbah ternak dan limbah industry rumah tangga menjadi biogas.    Pdt. Sefnat Sailana, S.Th    Motivator pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya air di Desa Apui, Alor. Pater Robert Ramone, CSsR    Melestarikan dan menduniakan kekayaan alam dan budaya sumba via lensa kamera.

Sumber: Pos Kupang.Com, Minggu 15 Januari 2012

Hermensen dan Kisah Sukses Seorang Petinju Amatir

Hermensen Ballo (HPN Kupang 2011)
BANYAK atlet berprestasi di negeri ini dilaporkan mengalami masa depan suram setelah meraih berbagai prestasi gemilang di bidang olahraga, baik di tingkat nasional maupun internasional untuk mengharumkan nama bangsa dan negara tercinta Indonesia.

Namun hal itu tidak berlaku bagi mantan petinju nasional dan internasional asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Hermensen Bertholens Ballo (40) yang kini menjadi pegawai negeri sipil di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) NTT selepas menjadi petinju amatir beberapa tahun lalu.

Ketika ditanya soal malang nasibnya sejumlah mantan atlet berprestasi yang kini mengalami hidup susah secara ekonomi dan tidak memiliki pekerjaan, pria kelahiran Kupang 27 Februari 1971 itu dengan enteng mengatakan, "itu kesalahan atlet sendiri".

"Saya pikir perhatian pemerintah pusat dan daerah terhadap atlet berprestasi sudah sangat cukup. Mereka memberi kita bonus yang begitu banyak, tinggal kita mengelola dan memanfaatkannya dengan baik untuk merenda masa depan bersama keluarga," ujarnya.

Hermensen adalah peraih medali emas tinju SEA Games XX 1997 Jakarta yang pada partai final menang angka atas petinju Thailand Pramuansak Phosuawan untuk kelas terbang 51 kilogram.

Menurut suami Jane Magdalena Abineno itu, perhatian Pemerintah Provinsi NTT terhadap atlet NTT yang berprestasi cukup bagus dengan memberikan penghargaan dan bonus berupa uang dan rumah.

"Sebagai manusia, apa yang diberikan pemerintah Provinsi NTT kepada saya sudah cukup lumayan berupa dua unit rumah dan uang puluhan juta rupiah serta pekerjaan sebagai PNS," ujarnya Hermensen yang kini menjadi pelatih tinju di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar milik Dinas PPO NTT.

Hadiah dua unit rumah di kompleks perumahan Lopo Indah Permai BTN Kolhua Blok V No.07 dan Blok R2 di Kelurahan Kolhua Kupang merupakan hadiah dari Gubernur NTT Herman Musakabe saat berhasil memperoleh medali emas pada PON XIII Tahun 1993 dan PON XIV Tahun 1996.

Secara ekonomi, kehidupan raja tinju amatir di kelas layang pada era 1987-2004 itu tergolong cukup memadai, karena dirinya mampu merenda masa depan bersama keluarga dari hadiah serta bonus yang diberikan pemerintah atas prestasinya di ring tinju, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Hermensen tiga kali mengikuti PON mewakili NTT dan berhasil menyabet tiga medali emas, yakni PON XIII Tahun 1993 di Jakarta, saat di final menang angka atas Amos Aninam, petinju asal Papua di kelas layang ringan 45 kilogram.

Selain itu di PON XIV 1996 di Jakarta, di partai final ia menang angka atas petinju asal Maluku La Paene Masara di kelas layang 48 kilogram dan PON XVI Tahun 2004 di Palembang, Sumatera Selatan, di final menang angka atas petinju Kalimantan Barat Daud Yordan di kelas terbang 51 kilogram.

Di ajang Piala Presiden, Hermensen berhasil meraih tiga medali emas dan satu medali perak. Saat berlaga pada 1993 di Jakarta, di final ia kalah angka atas petinju Roel Velasco dari Filipina di kelas layang 48 kilogram.

Tiga medali emas Piala Presiden diraih pada 1994, 1995 dan 1996. Pada event terakhir ia, dinobatkan sebagai "the best of boxer" atau petinju terbaik.

Menurut Hermensen Ballo, dari 55 kejuaraan yang diikuti mulai dari tingkat nasional hingga international, ia berhasil menyumbangkan 33 medali emas, 12 perak dan delapan perunggu untuk Indonesia dan NTT. "Hanya dua kejuaraan yang saya ikuti yang tidak memperoleh medali yakni di Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat dan Kejuaraan Dunia pada 1994 di Bangkok," kata ayah tiga orang anak itu.

NTT memiliki sejumlah atlet tinju yang berbakat dan cukup disegani di ring tinju, baik ditingkat nasional maupun internasional antara lain Johny Asadoma yang kini menjadi Komandan Pasukan Garuda Polri untuk Pemeliharaan Perdamaian di Darfur, Sudan, Anis Roga, Alex Bajawa, Dikson Ton, Nelson Oil, Max Oil, Roy Muskanan, Karel Muskanan, David Hari, Hendrik Mure, Deny Hitarihun, dan Atris Neolaka.

"Ada kebanggaan tersendiri ketika berlaga di kejuaraan tinju mewakili Indonesia di tingkat internasional dan NTT di tingkat nasional. Artinya, bila kita benar-benar serius dan fokus, kita bisa mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional dan nama daerah di tingkat nasional," kata Hermensen.

Hermensen Ballo sebenarnya sudah mengenal olahraga tinju sejak umur delapan tahun, ketika masih duduk di bangku kelas dua pada sebuah sekolah dasar (SD) di kota dingin SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan.

"Kakak saya, Yonas Ballo yang memberi motivasi dan dorongan kepada saya untuk menjadi petinju. Saya menjadi sangat termotivasi untuk terus berlatih dan berlatih sampai harus melakukan 'push up' 2.500 kali sehari," katanya mengenang masa lalu.

Untuk pertama kalinya, Hermensen tampil di atas ring tinju saat berlangsungnya kejuaraan antarsasana di SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan pada 1987 dan berhasil meraih sebuah medali emas dan memboyong Piala Bupati Timor Tengah Selatan (TTS). Pada kejuaraan yang sama tahun 1988, Hermensen kembali mencatat prestasi gemilang dengan merebut medali emas dan memboyong Piala Bupati TTS.

"Saya sangat mengagumi sosok pelatih Ken Balawa. Dirinya penuh kharisma sehingga membuat saya jadi terkenal berkat kepelatihannya selama ini," katanya dan menambahkan sejak awal membuka lembaran dunia tinju, dirinya tidak pernah berorientasi untuk mengejar materi, kecuali prestasi dan terus berlatih.

Pahit dan Manis

Dalam karir tinjunya, Hermensen juga mencatat sebuah pengalaman pahit yang dialaminya ketika tampil pertama kalinya di Kejuaraan Dunia di Berlin, Jerman pada 1995, ketika ia langsung tumbang di ronde pertama dan dinyatakan kalah KO dari petinju asal Bulgaria Daniel Petrov Bojilov di kelas layang 48 kilogram.

"Sebelumnya saya pernah menang atas Daniel Petrov Bojilov di arena World Cup Boxing, namun karena terlalu percaya diri akan menang lagi membuat saya tidak kontrol pertahanan, akhirnya rahang terkena pukulan telak membuat saya jatuh dan dinyatakan kalah KO," katanya menuturkan pengalaman pahit itu.

Sedangkan, saat paling menyenangkan bagi dirinya ketika berhasil memenangi pertarungan dalam kejuaraan Piala Raja (Kings Cup) XX di Chiangmai Thailand melawan petinju Li Wu Chun dari China di kelas layang 48 kilogram.

"Itu kemenangan luar biasa dan mukjizat dari Tuhan karena satu jam sebelum naik ring saya kena diare dan tensi naik turun tidak beraturan," katanya sambil menambahkan bahwa kemenangan tersebut kemudian menobatkan dirinya sebagai petinju Indonesia pertama meraih medali emas dalam kejuaraan Kings Cup yang hingga kini belum diraih oleh petinju Indonesia lainnya.

Bagi Hermensen profesi tinju adalah sebuah jalan hidup yang tidak hanya dilihat secara ekonomi, namun juga merupakan sebuah harga diri dan masa depan bangsa yang harus tetap diharumkan dari masa ke masa.

Guna menarik minat masyarakat NTT menjadi petinju profesional, Hermensen Ballo mendirikan sebuah sasana tinju di Kupang bernama Benteng Concordia BC sebagai wahana untuk melatih anak-anak NTT yang berbakat di bidang olahraga tinju.

"Apa yang diberikan pemerintah kepada saya sebagai petinju berprestasi sudah sangat cukup. Saya mengelola dan menata semua pemberian itu dengan baik untuk masa depan keluarga dan anak-anak," katanya sambil mengingatkan atlet berprestasi lainnya agar mampu merenda masa depannya dengan hasil yang diperoleh dari sebuah prestasi yang diraih. (Oleh Laurensius Molan dan Paulus Tokan/ANTARA)

Hidup Dibalut Cincin Api

Gunung Ile Lewotolok atau Ile Apa (istimewa)
YA, sebagian besar penduduk Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mesti menyadari bahwa mereka hidup dibalut cincin api yang panas membara. Api dari perut bumi yang kapan saja bisa mendatangkan bencana. Bencana dengan daya rusak mengerikan. Tidak sekadar meludeskan harta benda tetapi mencabut nyawa anak manusia.

Cincin api merupakan kawasan yang dikelilingi gunung berapi dan lempeng tektonik aktif. Pulau Flores, Adonara, Lembata dan Alor merupakan wilayah Nusa Tenggara Timur yang masuk dalam balutan cincin api tersebut. Di Pulau Flores, misalnya, terdapat 17 gunung berapi aktif yang rata-rata setiap lima menit selalu melahirkan goncangan gempa vulkanis.

Geliat cincin api yang panas membara kini mengguncang Pulau Lembata. Gunung Lewotolok atau Ile Ape menunjukkan peningkatan aktivitas sejak 2 Januari 2012. Petugas Pos Pemantau Gunung Api Lewotolok mencatat hingga Sabtu (7/1/2012) malam masih terjadi gempa tremor yang mengeluarkan asap dan api diam.

Sampai saat ini status gunung tersebut tetap siaga. Ratusan warga dari empat desa di sekitar gunung sudah meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengungsi ke Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata. Warga mengungsi karena menderita menikmati siraman debu serta asap belerang yang dimuntahkan perut Gunung Lewotolok.

Lembata adalah salah satu pulau terindah di NTT. Pulau sekecil itu tidak hanya memiliki satu gunung berapi aktif. Selain Ile Lewotolok yang tinggi menjulang dekat Kota Lewoleba, masih terdapat sekurangnya dua gunung api aktif lain yaitu Gunung Batutara dan Hobal. Hobal bahkan termasuk gunung berapi di bawah laut yang pernah menimbulkan bencana dahsyat di masa lalu. Sebagai gunung berapi aktif maka selalu ada kemungkinan Gunung Batutara dan Hobal menunjukkan peningkatan aktivitas yang membahayakan manusia dan lingkungannya. Hanya soal waktu yang tak dapat diprediksi dengan pasti.

Apakah pemerintah dan masyarakat Lembata menyadari hidup dibalut cincin api? Maaf saja jika kita belum melihat geliat dan aksi nyata meskipun mereka tahu kampung halamannya akrab dengan gunung berapi aktif yang jika tiba saatnya bisa meletus atau sekurang-kurangnya menebarkan asap belerang dan debu seperti Ile Lewotolok saat ini.

Sejak Lembata menjadi daerah otonom sepuluh tahun lalu, kita belum melihat kampanye yang serius dan sungguh-sungguh untuk mengutamakan keselamatan manusia manakala gunung berapi di Lembata memuntahkan sesuatu dari perutnya.

Cara berpikir dan cara bertindak kita masih seperti dulu. Kita masih bergaya ala petugas pemadam kebakaran. Ada bencana dulu, ada korban dulu baru bersibuk ria mengurusnya. Manajemen penanganan bencana di daerah ini masih jauh dari harapan untuk tidak mengatakannya sebagai sangat amburadul.

Menurut pandangan kita, peningkatan aktivitas Gunung Ile Lewotolok saat ini mesti menjadi momentum bagi pemerintah dan semua pemangku kepentingan di Lembata untuk menata manajemen bencana alam daerah yang lebih profesional dengan target jangka panjang dan permanen. Langkah jangka pendek yang bisa dilakukan adalah memastikan jalur evakuasi serta tempat perlindungan bagi penduduk bila terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi. Yang terjadi dengan warga sekitar Gunung Ile Lewotolok saat ini adalah mereka bingung harus bergerak lewat jalur mana agar aman dari muntahan asap belerang dan debu vulkanis yang mengancam kesehatan.

Tugas paling penting membangun kesadaran masyarakat Lembata bahwa mereka hidup berdampingan dengan gunung api. Mereka harus tahu kapan berlindung manakala gunung menunjukkan tanda akan meletus atau sekadar batuk-batuk menebarkan asap dan debu. Dalam peristiwa terkini yang menimpa Ile Lewotolok kita menyaksikan betapa sebagian warga masyarakat sudah mengungsi meskipun aktivitas Ile Lewotolok belum masuk kategori bahaya. Ketidaktahuan sungguh membelenggu mereka.

Pemerintah Kabupaten Lembata dengan duet pemimpin baru yang dipilih lewat pemilu kada yang demokratis tahun lalu ditantang untuk melakukan terobosan. Indah nian bila suatu saat nanti Lembata menjadi kabupaten contoh di NTT tentang manajemen penanganan bencana alam yang melahirkan decak kagum. Lembata pasti bisa jika mereka mau. *

Pos Kupang, 9 Januari 2012 hal 4

Natal dan Spirit Memberi Diri

TENTANG Natal ada pepatah lama yang berkata demikian. "Christmas means a different thing for a different person". Natal memiliki makna berbeda untuk orang yang berbeda. Setiap orang Kristen merayakan Natal dengan penghayatan sendiri-sendiri. Mengecapi pengalaman personal. Pengalaman yang sangat pribadi. Natal 2011 boleh jadi membawa sukacita. Tetapi bisa juga peristiwa Natal justru hadir dalam suasana duka.

Sekilas pandang kita mudah menemukan peristiwa Natal yang marak meriah dengan segala sesuatu serba baru. Tembok dan dinding rumah dicat baru, sofa, kursi, meja lama diganti, kain pintu dan jendela baru, baju, celana, sandal atau sepatu baru. Natal juga indentik dengan harum kue dan aneka jenis minuman. Belakangan ini pernak-pernik Natal bertambah satu lagi. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa bermain petasan dan kembang api. Juga terompet. Bunyinya memekakkan telinga. Mereka bermain tak kenal waktu. Pagi, siang ataupun larut malam saat orang membutuhkan keheningan untuk tidur.

Di berbagai pojok kota dan dusun pun orang membuat pohon terang dengan ornamen yang indah dan unik. Suasana Natal sungguh terasa, setidaknya di kampung besar Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Di lingkungan gereja, Natal berarti melakukan berbagai kesibukan mulai dari menghias gereja dengan berbagai asesoris yang indah, termasuk pohon terang dan kandang Natal. Kesibukan anggota paduan suara atau koor pun meningkat. Jadwal latihan menyanyi bertambah. Kalau sebelumnya sekali seminggu, menjelang Natal bisa dua sampai tiga kali sepekan.

Anak-anak dan remaja sibuk latihan drama, menari serta aktivitas lain yang berkaitan dengan Natal. Aktivitas jemaat gereja selalu meningkat pesat selama Desember. Ada orang sangat sibuk bahkan super sibuk selama persiapan Natal. Pemandangan itu biasa kita saksikan. Bukan di tempat yang jauh. Suasana itu ada di sekitar lingkungan domisili Anda. Tidak salah memang. Natal, hari kelahiran Kristus Sang Juru Selamat umat manisia perlu dirayakan dengan indah, meriah dan sukacita.

Apakah dengan segala hal yang serba baru, dengan kesibukan yang sangat tinggi menyongsong Hari Kelahiran Yesus akan sungguh menjamin hadirnya makna Natal sejati? Lagi-lagi setiap orang akan berkata dengan bahasa berbeda. Ada yang bahagia menjalaninya. Kesibukan itu dimaknai sebagai tanda syukur atas anugerah berlimpah yang cuma-cuma dari Tuhan. Tidak sedikit pula orang yang setelah sibuk dengan berbagai kegiatan Natal malah tidak merasakan apa-apa lagi. Segera setelah bulan Desember berlalu, tak ada lagi yang tersisa. Hatinya tetap kosong. Kecenderungan berbuat dosa berlanjut.

Setiap kali merayakan Natal mestinya kita kembali memperbaharui semangat hidup sesuai teladan Yesus Kristus. Teladan macam apa? Teladan Yesus yang mengasihi. Ini sangat dibutuhkan dalam dunia yang penuh kebencian dan persaingan pada masa sekarang. Yesus rela berkorban dan spirit-Nya memberi diri hingga mati di kayu salib penting untuk kita teladani dalam dunia yang makin egois, dalam dunia yang tidak peduli pada sesama yang kurang beruntung. Dunia di mana manusia saling memangsa satu sama lain. Kita biasanya lebih ingat diri ketimbang memberi diri untuk kebaikan sesama.

Yesus juga memberi teladan tentang kesederhanaan. Sungguh relevan dengan pola hidup zaman kita yang lebih menonjolkan kemewahan fisik. Ukuran nilai hidup cenderung memuja kebendaan ketimbang harta rohani. Di tengah gaya hidup kita yang makin konsumtif dan gemerlap, kiranya penting direnungkan bahwa Tuhan dan Juru Selamat Dunia itu justru lahir di dalam palungan. Di kandang Betlehem. Semoga damai dan sukacita Natal senantiasa menyertai kita dalam kebersamaan dengan sahabat dan anggota keluarga. Selamat Natal. *

Pos Kupang, 24 Desember 2011 hal 4

Wanita Terpendek di Dunia

Seorang gadis bernama Jyoti Amge asal Nagpur, negara bagian Maharastha, India tengah, berhasil memecahkan rekor sebagai wanita terpendek.

Gadis yang tepat berusia 18 tahun pada 16 Desember 2011 ini, resmi dinyatakan sebagai wanita dunia terkecil oleh Guinness Book of Records, dengan tinggi 62,8 cm.

Pembatasan ketinggiannya adalah karena anomali pertumbuhan yang disebut achondroplasia.

Dari foto dapat dilihat sebera besar Jyoti Amge, yang lahir 16 Desember 1993. wanita terpendek di dunia itu, memperlihatkan tanggannya yang dihiasi henna di kediamannya di Nagpur, India.

Dalam perayanan ulang tahunya, Jyoti Amge terlihat senang. Dia memakai topi pesta berwana hijau. Lihat fotonya di sini.

Jyoti Amge juga terekam saat menawarkan sepotong kue ulang tahun kepada Rob Molloy dari The Guinness World Record di Nagpur. Saat diukur dengan meteran, Jyoti masih terlihat senang.• VIVAnews

Kelimutu Berubah Warna Lebih dari 10 Kali

Danau Tri Warna Kelimutu, Ende-Flores
ENDE, PK – Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, tiga danau berbeda warna di puncak Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende sudah berubah lebih dari sepuluh kali. Perubahan warna tersebut selalu diawali dengan aktivitas vulkanis di gunung api aktif tersebut.

Kepada Pos Kupang di Ende, Jumat (16/12/2011), Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu, Sri Mulyani menjelaskan, pihaknya masih mengumpulkan data lebih detail tentang perubahan warna ketiga danau tersebut untuk banyak kepentingan di masa datang. “Namun, dalam dua puluh lima tahun terakhir sudah terjadi perubahan lebih dari sepuluh kali,” katanya.

Perubahan terbaru terjadi tanggal 26 November 2011. Warna air danau yang berada di tengah yaitu danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri berubah dari hijau terang ke warna biru. Perubahan itu terdeteksi tanggal 26 November 2011 pukul 05.00 Wita.

Sebelum terjadi perubahan warna di Danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri, kata Sri Mulyani, pada malam tanggal 25 November 2011 terjadi getaran-getaran kecil yang tercatat di seismograf Pos Pengamatan Gunung Api. Menurut Muliany, aktivitas vulkanis di Kelimutu biasanya berdampak pada perubahan warna danau. Perubahan warna tidak bisa diprediksi atau tidak tetap jangka waktunya.

Menurut catatan Pos Kupang, pada bulan Desember 2008, perubahan warna terjadi pada danau Tiwu Ata Polo. Warna danau itu berubah dari warna cokelat kehitaman menjadi hijau tua. Perubahan berikutnya terjadi bulan Oktober 2009 yang menimpa danau Tiwu Ata Mbupu yang sebelumnya hijau kehitaman berubah menjadi hijau muda. Dengan demikian pada bulan Oktober 2009 itu kedua danau berwarna sama yaitu hijau.

Sejak diteliti oleh B.C.Ch.M.M van Suchtelen tahun 1915, warna air danau Tiwu Ata Mbupu memang sama dengan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang dominan hijau. Perubahan warna Tiwu Ata Mbupu dari hijau kehitaman ke hijau muda itu berlangsung tanggal 5 Oktober 2009.

Warna air danau Kelimutu pernah diteliti tim Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2007 ketika warna danau Tiwu Ata Polo masih cokelat kehitaman, danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri berwarna hijau muda dan Tiwu Ata Mbupu berwarna hijau lumut.

Namun, sampai sekarang belum ada penjelasan ilmiah lebih rinci tentang perubahan warna tersebut. Pada tahun 1970-an, ketiga danau tersebut berwarna merah, biru dan putih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada ketiga danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan tertentu.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antara danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter. Pemerintah Indonesia menetapkan Kelimutu sebagai Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992. (oma/osi)

Pos Kupang, 17 Desember 2011 halaman 1

Warna Danau Kelimutu Berubah Lagi

Tiwu Koo Fai Nuwa Muri 22 Oktober 2011
ENDE, PK – Untuk kesekian kalinya warna air danau Tri Warna Kelimutu di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende mengalami perubahan. Danau Koo Fai Nuwa Muri yang berada di tengah berubah warna dari hijau terang ke warna biru. Sementara dua danau lainnya tidak mengalami perubahan warna.

Kepada Pos Kupang di Ende, Kamis (15/12/2011), Kepala Kantor Balai Taman Nasional Kelimutu (TNK), Sri Mulyani menjelaskan, perubahan warna air danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri itu baru terdeteksi tanggal 26 November 2011 pukul 05.00 Wita.

"Kalau dua danau lainnya,yaitu Tiwu Ata Polo (warna hijau kelam) dan Tiwu Mbupu (berwana hitam) tidak mengalami perubahan warna saat ini. Sebelumnya kedua danau tersebut lebih sering ganti warna, ada yang dari putih ke coklat atau ke warna merah bata," kata Mulyani.

Sebelum terjadi perubahan warna di Danau Tiwu Koo Fai Nuwa Muri, kata Mulyanti, malam tanggal 25 Novembe 2011 terjadi getaran-getaran kecil yang tercatat di seismograf Pos Pengamatan Gunung Api. Menurut Mulyanti, aktivitas vulkanis di Gunung Kelimutu biasanya berdampak pada perubahan warna danau. Perubahan warna tersebut, jelas Mulyani, tidak bisa diprediksi atau tidak tetap jangka waktunya.

Ia mengatakan,tidak ada kerusakan ekologi maupun habitat di hutan Kelimutu menyusul adanya getaran pada 25 November 2011. Namun, getaran itu tingkat kelabilan tanah di sekitar danau. "Informasinya, dulu di punggung bukit danau antara warna hijau muda dan hijau terang dapat dilalui manusia. Tetapi sekarang ini tanah tersebut sering jatuh akibat getaran, akhirnya punggung itu menjadi sempit atau tidak dapat dilintasi manusia lagi," kata Mulyani.

Mulyanti mengingatkan, Kelimutu merupakan gunung api yang masih aktif, sehingga wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata tersebut harus tetap waspadai. "Kita harus hati-hati karena pengalaman seperti gunung Bromo dan Merapi yang juga berada dalam kawasan taman nasional," ujarnya.

Terkait kewaspadaan tersebut, lanjut Mulyani, belum lama ini pihaknya menggelar seminar tentang mitigasi bencana geologi yang diikuti aparat dari 24 desa dan 5 camat di Kabupaten Ende. Mereka merupakan aparat pemerintah yang wilayahnya berada di sekitar Gunung Kelimutu yakni Kecamatan Detusoko, Wolojita, Kelimutu, Ndona, dan Ndona Timur.

Kegiatan lain yang dilakukan, kata Mulyani, yaitu sosialisasi mengenai kegunungapian terkait dengan bencana gunung api kepada masyarakat serta kegiatan pengamanan dan pemberdayaan. (oma)

Pos Kupang 16 Desember 2011, halaman 1

RSUD Johannes Kupang dan Ketidakadilan Itu

ilustrasi
BARANGKALI sudah membosankan membahas tentang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Bosan sebab lebih kerap kita mendengar warta pilu ketimbang sukacita. Lebih sering kisruh daripada senyum. Pasien berontak karena pelayanan tidak memuaskan atau paramedis mogok kerja karena hak mereka tidak terpenuhi tepat waktu sudah lumrah. Ini sekadar contoh soal yang menempatkan rumah sakit terbesar di propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut selalu menjadi berita hangat media massa.

Mumpung kita segera memasuki tahun anggaran baru 2012 dan terutama menjelang Hari Ulang Tahun ke-53 Propinsi NTT 20 Desember 2011, mari kita bicara tentang ketidakadilan. RSUD Prof Dr. WZ Johannes adalah gambaran nyata selama bertahun-tahun tentang ketidakadilan itu. Pemimpin tertinggi pemerintahan propinsi serta wakil rakyat NTT bukan tidak tahu. Mereka tahu ada ketidakadilan tetapi mereka memilih diam

Ketidakadilan pertama menyangkut alokasi dana APBD Propinsi NTT untuk bidang kesehatan. Saban tahun anggaran, kurang lebih 70 persen dari total dana untuk bidang kesehatan dialokasikan untuk RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Sementara 90 persen layanan rumah sakit milik pemerintah Propinsi NTT tersebut hanya dinikmati warga Kota Kupang dan sekitarnya.

Kota Kupang jelas bukan representasi NTT yang menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2010 total populasinya 4,7 juta jiwa, tersebar di 21 kabupaten dan kota. Mereka bermukim di Flores hingga Rote Ndao, dari Pantar hingga Komodo, Alor sampai Sumba. Enak betul warga Kota Kupang dan sebagian Kabupaten Kupang. Selama puluhan tahun Anda menikmati layanan rumah sakit yang dibiayai oleh pajak seluruh rakyat NTT. Apakah ini adil?

Hari Rabu 7 Desember 2011, kita mendengar kabar baru dari Ketua Komisi C DPRD NTT, Stanis Tefa. Menurut Stanis, dalam tahun anggaran 2012, RSUD Johannes Kupang akan mendapat subsisi dana dari pemerintah propinsi sebesar Rp 113 miliar. Tidak mengejutkan. Sudah tradisi tahunan kok. Untuk pengelola rumah sakit di daerah tidak perlu berandai-andai, misalnya dana Rp 113 miliar itu disubsidi untuk RSUD TC Hillers Maumere atau RSUD Sumba Barat yang juga butuh dana guna memperbaiki pelayanan kepada rakyat.

Ketidakadilan kedua adalah kisah berikut. Daerah kaya seperti DKI Jakarta, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Bali, rumah sakit milik pemerintah propinsi mereka serahkan kepada pemerintah pusat sehingga biaya operasional setiap tahun ditekel Kementerian Kesehatan RI lewat APBN. Manfaatnya luar biasa besar. Selain masyarakat mendapat layanan lebih baik karena fasilitasnya memadai, keberadaan rumah sakit tidak lagi menyedot dana APBD saban tahun. Kalaupun ada, persentasenya sangat kecil sehingga alokasi dana kesehatan dialihkan untuk membenahi bidang lain yang lebih urgen.

Bagaimana dengan NTT? Usul agar RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang diserahkan kepada pemerintah pusat sudah berkali-kali disuarakan. Paling akhir kerinduan itu disuarakan Darius Beda Daton dari Ombudsman Propinsi NTT saat kegiatan sosialisasi penghitungan unit cost dan tarif RSUD Johannes Kupang di aula El Tari Kupang, Kamis (24/11/2011). Entah mengapa, suara-suara itu selalu mentok di tengah jalan. Belum pernah dieksekusi mereka yang berwenang. DPRD NTT pun menganggap hal ini biasa saja.

Pernyataan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Kesehatan RI, dr. Ratna Rosita, MPH di Kupang 2 Desember 2011 mungkin semakin meninabobokan kita. Menurut Rosita, rumah sakit berada di bawah Kementerian Kesehatan harus dengan pengakuan bahwa pemerintah daerah tidak sanggup mengelola. Karena itu tidak dianjurkan menjadikan RSUD Kupang sebagai RSU vertikal karena RSU tersebut merupakan kebanggaan pemerintah daerah NTT.

Rosita tidak salah. Dia harus bicara begitu sebab kalau RSUD Johannes menjadi RSU vertikal berarti memindahkan beban anggaran pada Kementerian Kesehatan RI. Beban APBN. Maka Rosita memilih diksi kebanggaan daerah agar kita makin bangga. Soalnya di mana keadilan? Mengapa rumah sakit Jakarta, Denpasar, Semarang yang kaya raya dibiayai APBN? Sementara Kupang (NTT) yang miskin tidak boleh?

Mudah-mudahan pemerintah daerah ini yang getol bicara tentang spirit pro rakyat melihat ketidakadilan itu dan berani melakukan sesuatu. Semoga para wakil rakyat NTT yang setiap kali kampanye pemilu bicara tentang kesejahteraan rakyat sampai mulut berbusa mulai tahu diri. Finansial daerah kita memang tidak mampu kok? Mengapa malu mengakuinya? *

Pos Kupang, Senin 12 Desember 2011 hal 4

Socrates

Socrates
Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira. Nama panggungnya Socrates, lahir pada 19 Februari 1954 di Belem do Para, Brasil. Punya sederet predikat jempolan, sebagai mantan kapten tim nasional Brasil, sebagai gelandang handal, dan sebagai aktivis laga politik. Oke!

Aneka predikat itu seakan turut merayakan Brasil sebagai "negara sepak bola" (o pais do futebol). Sampai-sampai ajang pemilihan umum di negeri itu kerapkali disekrup dengan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA. Wah.

Sehebat apapun politik merayu sepakbola, sekuat apapun politik meracuni sepakbola, akhirnya sang Maestro menyerah kalah kepada jawaban atas pertanyaan, bahwa keberadaan manusia menuju kepada kematian (Sein-zum-Tode), meminjam istilah filsuf Heidegger.

Dapat dibaca bahwa keberadaan manusia bukan menuju kepada politik, tetapi kepada sukacita sepakbola. Buktinya? Dan Socrates menggenapi keniscayaan itu.

Ia meninggal dunia karena menderita infeksi usus, Minggu (4/12/2011), kata juru bicara Rumah Sakit Albert Einsten, Sao Paulo, Brasil. Socrates meninggal di usia 57 tahun. Ia mengeja alfabet laga kehidupan bahwa setiap orang mendapati dirinya dalam kondisi sama bahwa setiap manusia "terkutuk" untuk mati.

Disebut-sebut sebagai pesepakbola yang berusaha memahami siapa sebenarnya manusia, Socrates punya asa menggenapi sepak terjang filsuf Yunani Socrates. Tidak kebetulan punya nama sama, keduanya menonjolkan syahwat laga politik.

Socrates yang pesepakbola, turut ambil bagian dalam arus perjuangan politik demokrasi bagi warga Corinthian di pertengahan tahun 1980-an untuk menentang bercokolnya rezim militer di Brasil. Ia disandera oleh bara revolusi yang dikobarkan oleh sosok fenomenal di laga sosialisme Kuba pada tahun 1950-an, Fidel Castro dan Che Guevara.

Socrates yang filsuf, menurut staf pengajar STF Drijarkara, Simon Petrus L. Tjahjadi, berpendapat bahwa tugas negara adalah memajukan kesejahteraan warganya dan membuat jiwa mereka aman sentosa. Akibatnya, penguasa negara dituntut memiliki pengertian mengenai "yang baik". Socrates tidak menyetujui sistem pemerintahan demokratis yang berlaku di Athena.

Waktu itu, para elite politik di Athena dipilih berdasarkan mayoritas suara dalam suatu undian, padahal mereka tentu mempunyai pengertian tentang yang baik. "Kalau kita mempercayakan kesehatan kita hanya kepada seorang ahli dalam itu, yaitu seorang dokter, mengapa kita mempercayakan urusan negara kepada seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan dan pengenalan mengenai 'yang baik'," kata Socrates.

Dipandu oleh Castro dan Guevara, pesepakbola Socrates menyatakan kepada wartawan BBC, "Rakyat memberi aku daya kekuasaan sebagai pemain sepak bola tersohor." "Jika rakyat tidak memiliki hak bersuara, maka saya berkewajiban mewakil dan menyuarakan mereka. Jika saja saya berseberangan dengan mereka, maka tidak ada seorang pun yang bakal mendengar pendapat saya," katanya.

Dalam Apologia atau pembelaan Socrates, sang filsuf mengingatkan kepada warga Athena agar sekuat tenaga mengupayakan tercapainya "jiwa yang baik" (eudaimonia) atau kebahagiaan. Caranya? "Dengan memiliki keutamaan pengetahuan akan yang baik. Kalau kita mengetahui yang 'yang baik', kita tentunya akan melakukan yang baik pula," kata Socrates mengungkapkan.

Nah, bagi Socrates asal Brasil, hal 'yang baik' dalam sepakbola yakni dapat mengetahui dan memahami siapa sebenarnya manusia. "Saya mendapati bahwa sepakbola memberi kesempatan kepada saya untuk bersua dan berbela rasa dengan mereka yang miskin dan terlantar di masyarakat. Saya dapat menyaksikan mereka yang berkelimpahan harta dengan mereka yang serba kekurangan," katanya.

Socrates asal Yunani mengajarkan kepada Socrates asal Brasil bahwa upaya mencari dan menemukan "yang baik" dalam kehidupan politik terpulang kepada penalaran atau argumentasi (ho logos). Jika kesalehan atau ketaatan tidak dikendalikan oleh nalar, maka kesalehan dan ketaatan dapat dengan mudah tergelincir menjadi "kebengisan yang saleh". Weleh...weleh.

Sang filsuf sampai-sampai menolak bujukan sahabatnya Krito agar Socrates segera melarikan diri untuk meluputkan diri dari hukuman mati kemudian bergegas lari ke pembuangan. Sebaliknya, Socrates si pesepakbola justru menghambakan diri kepada bujuk rayu alkohol. Dua sisi dari satu mata uang.

Socrates, yang menjadi kapten Brazil pada Piala Dunia 1982 dan dikenal sebagai pemain Brazil terhebat yang tidak pernah menjuarai Piala Dunia, telah dirawat di rumah sakit sebanyak dua kali pada Agustus dan September tahun 2011 ini. Ia mengalami pendarahan pada sistem pencernaannya, yang disebabkan oleh masalahnya dengan alkohol, khususnya ketika ia masih aktif sebagai pesepakbola.

Dalam sebuah wawancara televisi terakhirnya, Socrates mengatakan, baginya alkohol merupakan ’teman’. "Alkohol tidak mempengaruhi karierku, di sisi lain hal itu disebabkan (karena) saya tidak pernah membangun fisik untuk permainan ini," tuturnya saat itu.

Kalau Socrates mencari "yang baik" dalam sepakbola yang dialiri dengan alkohol, maka ia diganjar dengan keterasingan diri (alienasi).

Sosialisme yang dieluk-elukan oleh Socrates mengajarkan bahwa kematian mengajarkan bahwa makna hidup tidak terletak dalam "memiliki". Kematian menghapus segala milik pribadi. Kematian mengajarkan bahwa setiap manusia lahir dan besar sebagai sesama manusia.

Barcelona, 5 Juli 1982, Italia menundukkan Brasil 3-2. Socrates bersama dengan Zico, Serginho dan Eder mengalami kekalahan menyesakkan akibat kepongahan dan kepercayaan diri berlebihan akan politik pencitraan diri bahwa Brasil adalah "negara sepakbola" (o pais do futebol).

Socrates boleh jadi keblinger dengan politik pencitraan diri bahwa Brasil berkarakter menyerang, sementara Italia berkarakter bertahan. Socrates terbuai dengan kenangan sejarah yang meninabobokan bahwa Brasil telah melibas Italia pada final Piala Dunia 1970 di Mexico City dengan skor 4-1. Waktu itu Brasil diperkuat Pele, Jairzinho, Tostao, Rivelino.

Jika sepakbola diracuni politik, maka tuahnya kematian. Dari liang lahat, Socrates berpesan, "Pep (Pep Guardiola, pelatih Barcelona) latihlah timnas Brasil. Ia memiliki keberanian. Siapa yang bermain di pertahanan Barcelona? Mereka tidak butuh defender." Brasil menjemput ajal dengan kehilangan gaya pemainan khasnya, yakni Jogo Bonito, kombinasi antara "yang baik" dan "yang indah". (A.A Ariwibowo/ANTARA)

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/287863/socrates-bila-politik-meracuni-sepak-bola

Los Felidas

ilustrasi
Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh di seluruh kota. Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.

Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada di kantong. Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun.

Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh. Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat di bawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini."
Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali. Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, dan bila malam tidur di emperan toko itu. Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya.

Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah dimana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak di tempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju ke pabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota.

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah di pusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya.

Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi. Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya.

Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo. Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu.

Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang mengubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi dan di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri.

Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu di telinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni.

Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi di antara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhumah memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang.
Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya.
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu.

Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian di seluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari mantan pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil.

Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.
Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus-menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.....Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang.

Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya.

Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil di tepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya, tapi di luar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya.

Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik. Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur.
Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya. Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka.
"Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi." Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, di pinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main di tepi jalan.

Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi ke jalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi ke jalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang".

Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja". Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ".

Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung ke ujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan di tengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

Mobil mereka berhenti di antara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang.
Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya dan turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu ." Serrafona memandang tembok di hadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya.

Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat. "Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia..Jadi mama tidak menyia-nyiakan saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. "Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak , tiap hari - antara sadar dan tidak kini menjadi kenyataan.

Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..." Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan satu jam saja, satu jam saja ". Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu.
Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Sahabat, mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup di tengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan.

Sumber: dari milis pertemanan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes