Dilema Bibir bagi Manado

ilustrasi
BIBIR Manado menjadi buah bibir dalam Workshop Penajaman Visi di Ruang Serba Guna Pemerintah Kota Manado hari  Rabu 25 Juli 2012 yang lalu.

Diskusi hari itu  membedah dua branding yang ditawarkan Dinas Pariwisata Kota Manado. Dinas Pariwisata  menawarkan tagline  Nice Manado dan Dive Manado.

"Nice Manado menunjukkan keramahtamahan yang ditawarkan oleh Kota Manado.  Ini akan membuat orang akan selalu mengingatnya ketika ia berada di luar Manado. Dive Manado mengingatkan kita akan keindahan alam bawah laut di Bunaken. Kalau berdasarkan tiga B (Boulevard, Bunaken, Bibir)  ada satu kata yang bersifat negatif yaitu bibir. Tapi bibir berkonotasi negatif," ujar Petter Assa, Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Manado.

Kata bibir menurut Assa sudah berkonotasi negatif karena sering dihubung- hubungkan dengan prostitusi. Orang kemudian membubui kata itu seolah-olah Manado "begitu gampang" dalam hal yang satu ini. Kenyataannya tidak demikian. 

Beberapa kepala dinas yang mengikuti workshop itu mengungkapkan pandangan senada.  Salah satunya Kepala Dinas Perhubungan Kota Manado, YB Waworuntu. Ia mengatakan penggunaan kata bibir itu itu ada hubungannya dengan hidup sosial. "Bibir sudah terlanjur memiliki arti kurang baik dalam masyarakat," ujarnya.

Kepala Dinas Koperasi Kota Manado, Ester Lumingkewas mengatakan  bibir tidak cocok diterapkan sebagai dasar pembuatan branding Manado.  Sejak lama diksi bibir acap diolok-olok orang luar karena mengambarkan profil umum perempuan Manado yang supel, ramah dan enak diajak ngobrol oleh para  tamu. Diksi bibir berkonotasi negatif itu jelas tidak sejalan dengan kenyataan  Manado sebagai kota yang religius.

Usul untuk meminta pendasaran yang lain juga disampaikan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga J  Sondakh dan Kepala Dinas Tata Kota Manado, Amos Kenda.

Camat Wenang,   Danny Kumajas mengatakan image buruk tentang Kota Manado dengan kata bibir itu sudah terlanjur lama melekat di benak orang Manado maupun orang di luar Manado. Pendasaran branding itu harus hati-hati digunakan. Apalagi jika menyangkut kebijakan politik walikota dan wakil wali kota. "Ini bisa mempengarahi suasana politik," tuturnya.

Agus Sunaryo, pembicara kunci dalam workshop itu kemudian mengatakan jangan memposisikan kata bibir pada konotasi negatif. Bisa jadi itu berarti keramahtamahan. Tugas pemerintahlah dan masyarakat Manadolah  yang menempatkan diksi bibir secara positif.  "Saya ke Manado cari bibir dan saya menemukannya di hotel ketika tiba. Keramahan resepsionis yang menerima itu terlihat dari bibirnya yang selalu tersenyum ramah," kata Agus.

Diskusi tentang branding Manado tidak berhenti di situ. Saat membuat branding, banyak pilihan yang ditawarkan peserta workshop yang terdiri dari kepala dinas dan para pegawai. Ada lima belas tawaran yaitu Delicious City, Truly Paradise,  Great Manado, Manado Mina,  Nice City, Manado Mantap, Let's Go Manado, Kota Penjara, Spoon City,  Experience Manado, Colorful Manado, Spectakular Manado dan Manado Whatever You Want?

Kota Penjara dan Spoon City diberikan wakil Wali Kota Manado,  Harley Mangindaan untuk memenuhi harapan Agus bahwa branding harus menantang. "Kalau Spoon City bisa mengambarkan kuliner, bentuk Kota Manado yang lembah dan curamnya Bunaken," tutur Harley yang akrab disapa Ai.

Agus menginginkan kata Experience karena lebih menantang. Mereka yang datang harus mengalaminya sendiri Kota Manado.  Namun, diskusi hari itu belum mengambil kesimpulan serta memutuskan pilihan. Diskusi berlanjut  dengan pembahasan program setiap SKPD untuk menunjang program besar Manado sebagai Kota Ekowisata bertaraf internasional.

Dilema bibir bagi Manado agaknya masih butuh diskusi panjang. Image buruk itu mestinya bisa dikikis bukan?  *

Sumber: Tribun Manado 26 Juli 2012 hal 11

Anak Palue Melintasi Zaman

Mencari air di Palue (KOMPAS/EDDY HASBY)
HIDUP tak pernah mudah di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Warga harus menyuling panas bumi dan menoreh pohon pisang demi setetes air. Mereka pun di bawah ancaman karena setiap jengkal tanah Palue adalah tubuh Gunung Api Rokatenda.

    Kesulitan hidup dan bahaya yang mengancam tak menciutkan nyali orang Palue. Selama ratusan tahun mereka tinggal di pulau itu. Bergenerasi hingga kini, 9.990 orang menyesaki pulau gunung api yang hanya seluas 39,5 kilometer persegi itu.

    Masih pukul 08.00. Namun, matahari pada akhir Mei 2012 itu terasa memanggang Kampung Poa, Desa Rokirole, Kecamatan Palue. Wihelmina Wea (40) berjalan di antara pipa-pipa bambu di ladang panas bumi yang mengeluarkan asap. Ia berjongkok di ujung pipa bambu dan menuangkan jeriken berisi air ke dalam ember. VIDEO LIHAT DI SINI.

    Jeriken yang kosong kembali di taruh di mulut pipa bambu. ”Nanti sore airnya bisa diambil lagi,” kata Wihelmina. Dalam sehari, satu pipa bambu bisa menampung sekitar 20 liter air.

    Sejak ratusan tahun lalu keluarga Wihelmina dan warga Kampung Poa menggantungkan hidup pada tetes air yang disuling dari ladang panas bumi. Ketiadaan sumber air bersih membuat mereka mencari cara lain. Pulau Palue yang tersusun dari batuan gunung api yang keras tidak bisa menyimpan air.

    ”Memang tidak ada mata air di sini. Namun, orangtua kami mewariskan cara mengambil air dari panas bumi,” kata Bonefasis Woko (40), tokoh masyarakat Poa. ”Caranya mirip menyuling moke (minuman tradisional yang dibuat dari pucuk pohon lontar).”

    Pagi itu Bonefasis mempraktikkan cara mencari sumber panas bumi. Dengan sebilah tongkat besi, ia menusuk-nusuk tanah di halaman rumah dan memeriksa ujungnya. ”Jika ujungnya panas, ada panas bumi di titik itu,” katanya.

    Tak lama mencari, ia menemukan sumber panas di gundukan tanah. Ia menggali titik itu dengan linggis sedalam 50 sentimeter. Uap panas mengepul dari lubang galian itu.

    Bonefasis menancapkan bambu sepanjang 2 meter ke lubang galian. Bambu itu lalu dilubangi salah satu sisinya. Sebatang bambu lain yang lebih panjang disambungkan ke lubang itu secara mendatar.

KOMPAS/EDDY HASBY
    Uap panas bumi yang naik sebagian berubah jadi titik air yang lalu mengalir pelan ke ujung bambu. Jeriken di ujung bambu menampung tetesan air.

    Di Kampung Poa, ada sekitar 100 titik penyulingan panas bumi. Dimulai pada 1960-an, teknologi suling sederhana itu ditemukan setelah berbagai uji coba. ”Lapangan ini tanah adat yang kami jaga agar kami bisa mendapat air minum,” kata Bonefasis yang menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa Rokirole.

    Sekretaris Camat Palue Martin Luther Adji mengatakan, sumber panas bumi di Palue hanya ada di lima desa. ”Masih ada tiga desa yang sama sekali tak punya sumber air,” katanya.

Sejak 1990-an, Yayasan Dian Desa membuat proyek percontohan bak penampung air hujan di Palue. Bak itu lalu dikembangkan massal dengan tambahan dana alokasi desa. Tahun 2011, ada 750 bak di pulau itu.

Bak-bak itu diletakkan di bawah atap rumah sehingga bisa menampung air hujan hingga 5.000 liter. ”Air bak dapat disimpan dari Desember sampai Juli. Setelah itu, harus cari sumber lain,” kata Martin.

Batang pisang
    Bagi warga desa yang memiliki panas bumi, musim kemarau masih bisa teratasi. Namun, bagi desa tanpa sumber panas bumi, misalnya Tuanggeo, para warga harus mencari cara lain. Di desa ini, warga mendapatkan air dengan mengorek batang pisang.

    Bagian pangkal batang pisang dewasa dilubangi dengan parang sedalam 15 sentimeter. Lubang itu dikorek-korek dengan sendok sampai keluar sedikit air yang menetes. Tetesan itu ditampung batang bambu yang ruasnya sudah dibersihkan. Sehari, satu batang pisang bisa mengeluarkan air hingga lima ruas bambu.
KOMPAS/EDDY HASBY
Warga desa Tuanggeo, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (30/5), memanfaatkan uap panas dari dalam bumi untuk disuling menjadi air bersih. Dalam sehari mereka dapat mengumpulkan 20 liter air dari tetesan penyulingan dan digunakan untuk kebutuhan air minum.

    ”Air pisang bisa kami masak untuk minum. Kalau terpaksa dan tak ada air, ini juga untuk mandi, sikat gigi, dan segala keperluan,” kata Osta Metti, perempuan dari Desa Tuanggeo.

    Mandi saat kemarau panjang di Desa Tuanggeo dilakukan dengan mengelap badan menggunakan air pisang. ”Kami sudah biasa mandi seperti itu. Airnya kan terbatas,” kata Osta sambil tersenyum.

    Keterbatasan daya dukung lingkungan justru memicu warga Palue semakin kreatif.

    Tak hanya kemampuan mencari air, warga Palue juga memiliki kebijakan bercocok tanam. Adat mengharamkan warga menanam padi. ”Kalau ada yang berani tanam akan terjadi bencana di Palue,” kata Petrus Fidelis Cawa (70), tokoh adat Palue.

    Menurut kisah Petrus, nenek moyang mereka adalah Mboja Roja, suami-istri dari Ende. Dalam pelayaran ke Palue, bekal air di buli-buli tumpah. Hanya tersisa sedikit air tawar. Saat pertama tiba di Palue, mereka juga tak membawa padi, hanya jagung, ubi, dan kacang-kacangan. ”Seandainya Mboja Roja membawa padi dan air di buli-buli tidak tumpah, bolehlah kami menanam padi,” katanya. ”Namun, nenek moyang kami tiba di sini tanpa air dan padi. Kami sekarang harus hidup dengan yang ada di sini.”

    Palue memang tak cocok dengan padi. Jika dipaksakan, kemungkinan gagal panen bisa berisiko menimbulkan kelaparan. ”Makanan pokok kami di sini singkong, pisang, kacang hijau, dan jagung. Mau makan nasi bisa beli dari luar,” kata Petrus.

    Dengan kebijakan pangan lokal serta teknik menyuling air dari panas bumi dan pohon pisang, warga di pulau gunung api itu melintasi zaman....(Amir Sodikin/Samuel Oktora)

Sumber: Kompas.Com

http://tanahair.kompas.com/read/2012/06/26/17120718/Daya.Hidup.di.Pulau.Gunung.Api

Wisata Payudara di Flores

WISATA di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur tentu belum banyak terdengar di telinga para turis. Padahal, keunikan budaya dan alam yang tersebar di enam wilayah kecamatan tersebut tak kalah dengan obyek wisata di belahan Nusantara yang lain.

Obyek wisata Watu Susu Rongga misalnya. Obyek wisata ini berada di Kecamatan Kota Komba, terdapat di Kelurahan Watunggene, Manggarai Timur. Di lokasi ini dapat ditemui sebuah batu raksasa yang bentuknya sangat mirip dengan (maaf) payudara. Lokasinya berada di lereng Gunung Komba.

Untuk mencapai batu unik ini, pengunjung harus berjalan kaki selama empat jam menyusuri lereng gunung, atau berkuda selama sekitar tiga jam. Kepala Bidang Pengembangan Sumber daya dan Produksi Wisata (Destinasi) di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur, Damasus Ndama, Jumat (27/7/2012) mengaku, ia bersama enam staf dan sejumlah wisatawan domestik mengunjungi lokasi "Batu Susu" tersebut.

"Kami diundang organisasi pengelolaan destinasi Paradise on Earth Kabupaten Manggarai Timur untuk mengunjungi objek itu dengan horse trekking (perjalanan wisata berkuda)," katanya. "Selama perjalanan kami melewati tempat ribuan kerbau yang berada di Wae Mausui," kata Ndama lagi.

Setelah itu, rombongan dan wisatawan serta wartawan menikmat padang Mausui yang sangat luas dengan pemandangan yang sangat indah. "Selama berkuda di padang Mausui, kami menikmati ribuan kuda yang sedang makan rumput. Sungguh selama perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan yang indah," kata Ndama.

Ndama lalu menuturkan, sejauh mata memandang terlihat kemegahan alam, yakni Gunung Komba, Lembah Mausui, Pantai Waewole dan padang. Selain itu masih ada kemegahan Gunung Inerie di Kabupaten Ngada.

Sebelum tiba di dua batu raksasa itu,  pengunjung dapat singgah di situs bersejarah yakni kuburan tua Jawa Tu (pahlawan perang Komba), dan 20 anak tangga. "Terakhir kami melihat situs Istri Jawa Tu dan kuburan adiknya Nai Pati (pahlawan perang Komba)," katanya.

Ketua Paradise on Earth Kabupaten Manggarai Timur, sekaligus senior guide, Fransisco Huik De Rosari menjelaskan, obyek batu susu rongga menjadi salah satu tempat yang bisa 'dijual' kepada para turis mancanegara dengan program horse trekking. "Saya sudah beberapa kali ke sana dengan program horse trekking dengan tamu asing, dan domestik. Wisatawan mengagumi obyek wisata budaya itu. Namun, perlu penataaan dan promosi secara bersama kepada publik serta akses masuk ditata dengan baik," tuturnya.

Kepala Suku Ngeli selaku pemilik situs kuburan Tua, Jawa Tu dan Nai Pati serta Watu Susu Rongga, Gaspar Jala menuturkan, cerita secara turun temurun bahwa dua batu raksasa berbentuk payudara itu, terjadi saat perang Komba. Konon, di antara Gunung Komba dan gunung kecil lainnya terdapat lubang besar. Lalu, leluhur berinisiatif untuk menutup lubang itu dengan dua batu raksasa tersebut.

Namun ada syarat yang menyertai penutupan itu, yakni, selama batu di angkat dari wilayah pesisir pantai, semua orang harus diam dan tak boleh bicara kotor. Tak diduga, seorang perempuan yang tak mengetahui hal itu berteriak dengan mengeluarkan kata-kata kotor, setibany di lereng Gunung Komba . Seketika itu juga, kedua batu itu tidak bisa diangkat dan menancap ke tanah, hingga saat ini.

Staf Progam Officer Tourism Object dan Marketing Swisscontact Labuan Bajo, Annaas Firmanto mengaku senang dengan perjalanan menuju ke Watu Susu Rongga. Mulai dari Mbolata, acara adat di rumah Kepala Suku Ngeli, Gaspar Jala, pesisir Pantai Waewole yang indah, tempat ribuan kerbau yang menikmati airnya di bawah Lembah Mausui. Lalu, ada Lembah Mausui dan padang belantara Mausui dengan ribuan kuda dan sapi yang sedang makan rumput hijau.

"Saya menikmati wisata ke Watu Susu Rongga dengan alamnya yang indah. Di sana tempat yang sangat unik bagi wisatawan," kata Firmanto.

Firmanto lalu menyarankan, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Paradise On Earth Kabupaten Manggarai Timur bersama dengan tua-tua adat dan Pemerintah Kelurahan Watunggene membuat papan informasi yang lengkap dengan cerita-cerita sejarah Watu Susu Rongga tersebut.

Sementara, menurut Ndama, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur bersama dengan mitra kerja seperti organisasi pengelolaaan destinasi (Destination Management Organization-DMO) harus memiliki kemauan untuk mengembangkan dan mempromosikan obyek wisata yang begitu indah tersebut kepada wisatawan. (*)

Sumber: Kompas.Com

Mereka tak Kekurangan Kasih Sayang

Penghuni Panti Tuna Grahita St Anna Tomohon
TATATAN mata Lusi Faot (16) tampak kosong ketika duduk di ayunan taman bermain Panti Grahita Santa Anna, Kota Tomohon, akhir pekan lalu.

Jumat (20/7/2012) sore itu, meski duduk di ayunan tak ada niat Lusi memainkannya. Dia termenung sambil sesekali tersenyum.

Lusi merupakan satu di antara 50 klien di Panti Grahita Santa Anna. Tak seperti anak normal umumnya, Lusi dan anak-anak di Santa Anna mengalami kondisi keterbelakangan mental atau retardasi mental dengan tingkat berbeda. Lusi merupakan salah seorang yang retardasi mentalnya paling memprihatinkan.

Sore itu merupakan waktu bermain. Anak lelaki bermain bola di halaman depan, anak perempuan memilih bergoyang mengikuti irama musik caka-caka. Hanya Lusi di ayunan. Tiba-tiba Lusi berdiri dan menghambur ke dalam pelukan  Suster Felicite Lakada, Kepala Panti Grahita Santa Anna Tomohon yang baru tiba. Suster Lakada pun tersenyum menyambut Lusi yang terlihat manja dalam pelukannya.

Suster Lakada mengungkapkan, beginilah anak-anak Santa Anna menghabiskan keseharian mereka. Semua aktivitas sudah dijadwalkan dengan pengawasan penuh para pengasuh. Masa depan yang didambakan anak-anak normal serasa jauh dari jangkauan Lusi dkk. Membuat mereka bahagia merupakan cita-cita Suster Lakada dan 12 pegawai Santa Anna.


Suster Lakada tak pernah lupa 23 Juli merupakan hari spesial baginya karena  di hari itu ia bisa merayakan hari anak bersama penghuni Santa Anna. "Hari anak belum menggema seperti hari Ibu dan hari lainnya. Anak-anak khususnya di Santa Anna tak bisa dipungkiri kurang mendapat perhatian orangtua," ujar Lakada.

Suster Lakada mencontohkan, Lusi misalnya, gadis itu seorang piatu, sejak kecil diasuh di Santa Anna. Ayah Lusi menikah lagi, sementara ibu tiri tak menghendaki Lusi tinggal di rumah. Santa Anna pun jadi tempat labuhan hidup Lusi.

Kata Suster Lakada, Lusi beda dengan anak lainnya, hampir tiap hari dia menangis tanpa sebab jelas "Tiap malam menangis, dia (Lusi) bicaranya tidak jelas, ditanya pun  diam saja, kadang dia menangis sampai lelah dan tertidur," tuturnya. Meski begitu, Suster Lakada ingin di Santa Anna, anak-anak tersebut tak  kekurangan kasih sayang.

Memperingati Hari Anak Nasional, Santa Anna mengadakan kegiatan bersama. Di tempat Lakada berdiri bersama Lusi pun didatangi dua klien Santa Anna lainnya.

Seorang bernama Margaretha Sumampow (16). Gadis itu pun senasib dengan Lusi.
Ia dibawa neneknya ke Santa Anna 11 tahun silam, namun beberapa tahun belakangan kabar keberadaan keluarga Margereta  tak lagi jelas "Dia (Margaretha) di sini sejak usia 5 tahun. Awalnya keluarga sesekali datang. Di usia 9 tahun sudah tidak lagi. Sekarang malah keluarganya tidak tahu di mana," ujar Lakada.

Margaretha pun terlihat akrab dengan Suster Lakada. Meski tak jelas perkataan gadis itu, Suster Lakada coba mencerna maksudnya "Oh dia bilang mama mati. Ia, ibunya memang sudah meninggal," ujar Lakada. Meski aktif, Margaretha hampir tak punya harapan untuk keluar dari keterbelakangan mental. Kata Lakada, sebenarnya gadis itu punya rambut panjang terurai, namun digunting sendiri sampai habis "Aduh ini malah sudah bertumbuh, lalu habis digunting," tuturnya.

Ia mengungkapkan, emosi anak keterbelakangan mental cenderung tidak stabil, ada kalanya masalah sepele bisa memicu sikap agresif "Tak jarang barang-barang, pintu, jendela dirusak. Kadang saling senggol saja langsung ribut," katanya.

Gambaran-gambaran sifat agresif, pendiam dan kurang bersosialisasi tak semuanya dimiliki anak- anak Santa Anna. Monica Lepong (9) misalnya, gadis cilik asal Banggai Luwuk ini sekilas terlihat normal namun Monica termasuk kriteria educable atau mampu didik. Dalam kemampuan akademik Monica setara dengan anak kelas 5 SD. Meski tak lancar, ia bisa membaca, menulis. Ia pun tampak lincah dan riang ketika menghampiri Suster Lakada.

Monica punya cita-cita ingin j seperti Suster Lakada "Kalau besar mau jadi suster," ujar Monica tersenyum sembari berlalu. Setidaknya meski jauh dari kenyataan, ada keinginan anak-anak Santa Anna menjadi sesuatu yang dicita-citakannya, bahkan kata Suster Lakada, ada yang ingin menjadi dokter, tentara, polisi, pastor bahkan pilot.  "Kalau bicara soal cita-cita mereka punya, semangat sekali mereka membicarakan soal cita- cita," demikian Lakada.

Sejak pukul 05.00

Keseharian anak-anak Santa Anna dimulai sejak bangun pukul 05.00 pagi. Mereka memulai hari dengan ibadah dan sarapan. Kemudian, mandi dan berangkat ke sekolah khusus di samping asrama. Menurut Asteria Sri Tandiala, Sekretaris Santa Anna, anak-anak tuna grahita  mengenyam pendidikan.  "Kelasnya kita pisah yang mampu didik dan mampu latih. Yang sulit itu anak mampu latih," kata Asteria.

Usai sekolah, klien Santa Anna makan  dan tidur siang. Sekitar jam 4 sore, waktunya bermain, menunggu jadwal makan malam dan tidur.

Suka duka pun dirasakan pengasuh di Santa Anna. Menurut Feronica Rotikan, pengasuh Santa Anna. Ada rasa bahagia dalam keseharian Feronica bisa mengasuh klien Santa Anna, meski kadang emosinya muncul akibat ulah mereka "Seringkali susah diatur. Banyak kali mereka berontak, makanya hampir tiap bulan pintu, jendela, barang-barang rusak," ujarnya tersenyum

Anak-anak tersebut kata Feronica pun butuh kasih sayang "Mereka itu kadang maunya dimanja, datang minta dipeluk," katanya. Tiap hari tiba waktunya bekerja, kata ibu dua anak ini, selalu muncul kerinduan ingin cepat bertemu penghuni Santa Anna "Kerja di sini merupakan pelayanan kami kepada Tuhan. Saya sayang mereka sama seperti anak sendiri," tuturnya. (riyo noor)

Nasib Anak Sulut

Balita Terlantar:     6.116 orang
Anak Terlantar:  222.608 orang
Anak Nakal     :    46.302 orang   
Anak Jalanan  :       1.696  orang
Anak Butuh Perlindungan Khusus: 98 orang
Sumber: BP3A Provinsi Sulut 2011


Sumber: Tribun Manado 23 Juli 2012

Kumis

Ram Singh Chuachan
"Ciuman dari seorang pria yang tidak berkumis, seperti minuman sampanye tanpa gelembung-gelembung kecil."  (Ram Singh Chuachan, pria berkumis terpanjang di dunia versi Guinness Book of World Records)

KUMIS hari-hari ini menjadi trending topics. Setidaknya di Jakarta, di ibu kota negara Indonesia yang sedang berasyik-masyuk dengan pesta demokrasi bernama pemiluka. Dua pria berbeda profil dan gaya memasuki putaran kedua. Yang satu berkumis, yang lainnya klimis. Hahaha....

Laga final pemilukada DKI Jakarta mempertemukan juara bertahan Si kumis Fauzi Bowo alias Foke melawan Joko Widodo alias Jokowi asal Solo yang necis tak berkumis dan jambang. Dan, Foke kemudian identik dengan kumis.

Tom Selleck
Ini soal eksistensial. Perkara siapa yang akan menang dalam pesta tersebut tentu tidak ada hubungannya dengan berkumis atau tidak berkumis. Coretan isengku akhir pekan ini terinspirasi dari kata-kata Ram Singh Chuachan, pria India yang untuk sementara memegang rekor baru sebagai pria berkumis terpanjang di dunia.

Memiliki kumis terpanjang di dunia merupakan kebanggaan tersendiri bagi Ram Singh Chuachan. Seperti dilansir BBC, Sabtu 19 Mei 2012, kumis pria asal India ini sepanjang 4,29 meter dan memecahkan Guinness Book of World Records.

Menurut catatan BBC, sebenarnya  Chuachan telah menarik perhatian dunia jauh sebelum namanya masuk buku rekor dunia. Kumis lebarnya pernah muncul di film ternama James Bond, Octopussy tahun 1983 silam. Ia juga menjadi tampil di beberapa film Bollywood.

Charlie Chaplin
Bagi Anda  yang ingin memanjangkan kumis seperti dirinya, Chuachan  berbagi tips gratis. Chuachan menyarankan agar memanjang kumis saat masih berusia muda. Pasalnya ketika sudah berusia lanjut, produksi hormon menurun sehingga tdiak bisa memicu pertumbuhan kumis dengan maksimal. Ia juga sering menggunakan minyak kelapa untuk merawat kumisnya.

"Saya selalu  meminyakinya secara teratur dan mencucinya setiap 10 hari sekali," ujar Chuachan.

Albert Einstein
Lalu ada tokoh kunci yang mendukung impian Chuachan yaitu istrinya. Sang istri  selalu membantunya merawat kumis tersebut, dan tidak pernah memprotes keputusannya untuk memanjangkannya.

"Saya selalu mengatakan padanya, ciuman dari seorang pria yang tidak berkumis, seperti minuman sampanye tanpa gelembung-gelembung kecil," kelakar Chuachan kepada istrinya.
Hulk Hogan

                    ***

BICARA
tren yang menyangkut penampilan fisik, wanita mungkin hanya peduli pada gaya rambut. Namun bagi pria, rambut di wajah pun sangat berpengaruh. Berikut ini tujuh gaya kumis paling ikonik sepanjang masa. Ada yang jadi trendsetter bagi pria-pria lainnya, ada juga yang begitu unik sampai jadi ciri khas.

Tom Selleck
Jangan heran jika kamu melihat foto-foto pria di era 80-an dan menemukan banyak kumis seperti ini. Tom Selleck lah penyebabnya. Kumis lebat namun di-trim dengan rapi ini jadi trendsetter di seluruh dunia seiring dengan popularitas aktor Hollywood ini, terutama saat ia membintangi tokoh detektif di serial ternama "Magnum P.I."

Charlie Chaplin
Apa yang paling khas dari Charlie Chaplin? Selain tongkatnya, orang pasti akan menyebut kumisnya, yang dibiarkan tumbuh lebat namun dicukur di bagian pinggir dan disisakan hanya di bawah hidung. Namun gaya kumis ini tak sempat jadi tren bagi pria-pria lainnya karena kumis ini identik dengan Adolf Hitler.

Salvador Dali
Hulk Hogan
Kumis gaya ini sempat diberi nama "The Wrestler Moustache" alias Kumis Pegulat karena dipopulerkan oleh atlet gulat ternama, Hulk Hogan. Jika dirunut ke masa lalu, kumis gaya inilah yang kabarnya dipakai oleh Genghis Khan (tentu saja warnanya hitam, bukan pirang). Karena itulah kumis ini identik dengan tipe pria garang, bengis, dan macho.

Albert Einstein
Mungkin karena terlalu sibuk berpikir, Albert Einstein tak terlalu peduli dengan penampilannya. Rambutnya dibiarkan tumbuh gondrong awut-awutan, begitu pun kumisnya yang dibiarkan berantakan.

Salvador Dali
Sesuai dengan kepribadiannya yang nyentrik, pelukis Salvador Dali juga punya kumis yang nyentrik. Panjang, diberi gel, dan dilekukkan ke atas.

Mr. Pringles
Produk keripik kentang ini mulai dijual di Amerika Serikat tahun 1968 dan diedarkan ke seluruh dunia tahun 1970. Logonya begitu ikonik hingga orang bisa menebak hanya dari kumisnya. Apakah Anda mengenal pria yang berkumis seperti Mr. Pringles? (dari berbagai sumber)

FN:Buat komunitas kumis di mana saja berada.

Kegagalan Negara Singkong

CARILAH ironi yang mencabik-cabik harga diri bangsa agraris-maritim dan itu kita  temukan di negeri tercinta ini. Di abad ke-21 yang seharusnya kita lebih tangguh, lebih cerdas dan lebih bermartabat. Faktanya Indonesia terus melapuk karena salah urus, karena pemimpin lebih suka ribut ketimbang berpikir tentang kesejahteraan umum.

Sekadar urusan isi perut pun kita  tidak sanggup menghasilkannya dari tanah sendiri. Kita bergantung dari hasil kerja bangsa lain yang bahkan luas lahan pertanian serta lautnya cuma sejengkal.

Oh My God. Apa yang salah dengan Indonesia? Bayangkan saja dalam kurun waktu lebih dari 15 tahun untuk kebutuhan pangan rakyat negeri tropis yang kaya sumber daya alam ini bergantung dari impor. Sejak lama  Indonesia dikenal sebagai negara pengimpor  beras, garam, kedelai, daging, gula, garam, susu dan buah- buahan.  Paling menggelikan kejadian terakhir. Pemerintah Indonesia  mengimpor singkong dari Vietnam dan China.

Benar-benar berita pilu buat petani Indonesia. Bukan hanya beras, gula dan garam asing yang menyerbu pasar domestik. Hasil pertanian sekelas singkong pun harus bersaing keras   menghadapi gempuran produk impor yang pasti harganya lebih murah. Pemerintah sungguh mau enaknya saja.   Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri kran impor dibuka selebar-lebarnya. Silakan mekanisme pasar yang bekerja. Yang kalah bersaing pasti terjungkal.

Pemerintah tidak berpikir sebaliknya yaitu membangun bidang pertanian dengan sungguh-sungguh agar kebutuhan pangan dalam negeri bisa kita penuhi dari kebun sendiri.   Dari jumlah total penduduk Indonesia, sekitar 75 persen hidup dari pertanian. Maka betapa apesnya nasib mayoritas rakyat negeri ini. Yang disebut pemerintahan  pro rakyat hanyalah jargon. Sekadar pemanis bibir  politisi yang dalam praktiknya hanya berpikir untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Kaum cerdik cendekia sudah mengingatkan beribu kali bahwa salah satu ciri negara gagal adalah kebutuhan pangan bergantung dari impor.  Bukankah hari-hari ini Indonesia sedang berziarah dengan lekas menuju negara gagal? 

Kalau ada yang berteriak nyaring bahwa warning negara gagal itu berlebihan, sebaiknya tutup mulut karena sekadar singkong dan garam pun kita impor. Laut kita paling luas di Asia. Eh, garam saja dipasok dari luar. Singkong itu tanaman Nusantara yang menghidupkan anak Indonesia  sejak abad ke-15. Di awal abad ke- 21, pemerintahnya malah mengimpor dari negara tetangga. Kemunduran mengerikan!

Bagaimana dengan kita di Sulawesi Utara, di  bumi Nyiur Melambai yang mendapat anugerah dari Tuhan lewat alam yang subur? Berkatalah jujur Kawanua. Tak banyak lagi petani di Sulut yang berkebun singkong. *
Sumber: Editorial Tribun Manado 19 Juli 2012 hal 10

Mumi Kaki More di Flores

Tempat mumi Kaki More (Kompas)
Wolondopo adalah sebuah kampung tradisional yang terletak di Desa Nuaone, Kecamatan Detusoko, Kabupaten  Ende, Flores,  Provinsi  Nusa Tenggara Timur. Selain ragam ritual sakral saat pesta panen, kampung tradisional ini juga dikenal karena keberadaan Mumi dari sang kepala suku (mosalaki) bernama Kaki More.

Selama hidupnya, Kaki More tidak pernah mengonsumsi air putih.  Kaki More lebih sering mengonsumsi tuak, yang dalam bahasa Suku Lio disebut moke dengan jenis jengi jila (bakar nyala). Apabila Anda ingin melihat langsung Mumi Kaki More, maka perlu disiapkan sebuah ritual khusus yang dilakukan oleh seorang Kepala Suku di Kampung tersebut. Dalam budaya masyarakat Lio disebut Rera Pati Ka.

Makam mumi
Menjelang wafatnya pada tahun 1948 dalam usia 80 tahun, Kaki More berpesan agar jasadnya tidak boleh dikuburkan, tetapi dimasukan dalam peti lalu dipancangkan di pinggir kampung.

Konon, keberadaan mumi sang mosalaki bernama Kaki More di Kampung Wolondopo mulai tersiar di Kampung Wolondopo dan sekitarnya sejak tahun 1953, sesaat setelah bencana puting beliung menimpa kampung tersebut yang sekaligus merobohkan pohon beringin tua tempat disemayamkan jenazah sang Mosalaki bernama Kaki More.

Jenazahnya ditemukan warga tetap utuh diatas batang pohon beringin tua yang rebah. Akhirnya warga setempat  serta para penerus dan keturunan Mosalaki Kaki More pun membuat sebuah tempat khusus untuk semayamkan jeanazah tersebut dalam sebuah peti yang ditempatkan pada rumah khusus disamping Hanga (pusat ritual gawi/tarian adat).

Kabar yang tersiar dari mulut ke mulut akhirnya menimbulkan keingintahuan seorang pejabat Dinas Pariwisata Kabupaten Ende untuk datang melihat secara langsung keberadaan mumi Kaki More tersebut pada tahun 1973.

Setelah melalui ritual khusus dan peti dibuka, masyarakat semakin dikejutkan karena jenazah yang sejak tahun 1953 diketahui telah menjadi mumi tetap utuh dan tidak rusak. Hal tersebut membuat masyarakat Kampung Wolondopo semakin meyakini bahwa Sang Mosalaki yang mereka cintai bukan merupakan orang sembarangan, melainkan orang yang semasa hidupnya sangat jujur, berwibawa dan juga sakti.

Dengan membuktikannya sendiri, akhirnya sang pejabat tersebut akhirnya membantu untuk menyiarkan keberadaan mumi tersebut, hingga dikenal sampai saat ini.  Mumi Kaki More, kini disemayamkan khusus dalam sebuah rumah kecil yang selalu terkunci dan hanya dapat dibuka oleh penerusnya.

Sumber:  - Kompas.Com 
              - Sumber Lain



Kami Terlalu Mencintai Pulau Ini

BAHAYA selalu mengintai Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Nyaris seluruh bagian pulau seluas 39,5 kilometer persegi ini adalah tubuh gunung api Rokatenda yang kerap meletus. Bahaya terbesar adalah terjadinya letusun gunung yang disusul tsunami sebagaimana terjadi saat Rokatenda meletus tahun 1928.

Jejak vulkanis Rokatenda terlihat dengan penyebaran fumarola nyaris di seluruh tubuh Pulau Palue. Fumarola merupakan terobosan panas bumi yang merupakan sisa-sisa kegiatan gunung api pada masa lalu.

Gunung ini memang hanya memiliki ketinggian 875 meter dari permukaan laut. Namun, menurut Data Dasar Gunung Api Indonesia yang disusun Badan Geologi tahun 2011, ketinggian Rokatenda jika dihitung dari dasar laut mencapai 3.000 meter.

Gunung api yang muncul dari dasar laut ini pertama kali meletus tahun 1928. Lalu, gunung ini diam 35 tahun. Sebelum tahun 1928, gunung ini beberapa kali meletus.

Akhir tahun 1963, Rokatenda kembali meletus. Sejak itu, dalam kurun 1-8 tahun, Rokatenda meletus, yaitu tahun 1966, 1972, 1973, 1981, 1984, dan 1985. Ketika meletus, gunung ini umumnya menghasilkan kubah lava, seperti terjadi dalam letusan terakhir pada 23 Maret 1985.

Letusan tahun 1985 itu terjadi pukul 17.40, didahului suara gemuruh. Sumber letusan berasal dari lereng kubah lava yang terbentuk pascaletusan 1981.

Abu menyembur hingga setinggi 2.000 meter dengan lontaran material hingga 300 meter dari puncak. Hujan abu menyelimuti Kampung Nitung, Waikoro, dan Koa. Tak ada korban jiwa dalam letusan tahun itu.

Tsunami vulkanis

Letusan yang menimbulkan korban terjadi 4 Agustus-25 September 1928. Sebanyak 266 orang tewas saat itu. Letusan Rokatenda tahun 1964 juga menyebabkan tiga orang luka.

Banyaknya korban tewas pada letusan Rokatenda tahun 1928 ternyata karena letusan itu juga memicu gelombang tsunami. Menurut laporan penelitian Neuman van Padang dalam The Tidal Waves During Rokatenda Volcano Eruption (1930), kebanyakan korban tewas dalam letusan tahun 1928 itu karena sapuan gelombang tsunami.

Warga yang menghindari letusan Rokatenda berkumpul di pinggir pantai ketika tsunami tiba-tiba melanda. Tsunami kemungkinan dipicu gempa vulkanik yang beriringan dengan letusan Gunung Rokatenda.

Neuman menyebutkan, tinggi gelombang tsunami yang melanda perkampungan Palue mencapai 5-7 meter. Gelombang tsunami juga disebutkan melanda pantai utara Pulau Flores, 35 km dari Pulau Palue. ”Berdasarkan laporan Residen, 7 rumah di Maoroleh (Marole) rusak, 6 orang tewas, dan 5 kapal dagang hancur,” tulis Neuman.

Fenomena tsunami karena letusan gunung api juga pernah terjadi beberapa kali di Indonesia, yaitu saat meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda tahun 1883 dan Gunung Tambora di Sumbawa tahun 1815.

Tsunami karena letusan Krakatau tahun 1883 sejauh ini tercatat tertinggi dan berdampak terbesar dalam sejarah letusan gunung api. Tsunami yang menerjang pasca-letusan Krakatau merupakan faktor pembunuh terbesar yang menewaskan 36.000 jiwa.

James E Begét, peneliti dari Alaska Volcano Observatory (2000), menyebutkan, pada 250 tahun terakhir terjadi 90 tsunami yang diakibatkan gunung api, dan 25 persen di antaranya berdampak fatal terhadap kehidupan. Tsunami akibat gunung api yang tertua yang teridentifikasi terjadi saat letusan Gunung Santorini di Yunani pada 1638 sebelum Masehi. Kombinasi letusan gunung dan tsunami ini yang diduga menghancurkan peradaban Kreta.

Letusan Gunung Vesuvius di Italia tahun 79, yang mengubur Pompeii, juga disusul gelombang tsunami. Tsunami besar juga terjadi di Jepang saat Gunung Unzen meletus tahun 1792. Tinggi gelombang yang diduga terjadi karena longsoran saat Gunung Unzen meletus diperkirakan 55 meter dan menewaskan lebih dari 10.000 jiwa.

Penelitian Gegar Prasetya dari Amalgamated Solution and Research (ASR) menyebutkan, ada 18 gunung api di Indonesia yang berpotensi menimbulkan tsunami jika meletus. Selain Rokatenda, Krakatau, dan Tambora, yang juga rentan memicu tsunami adalah Banda Api dan Kie Besi (Maluku Utara).

Rentan terdampak

Dengan riwayat letusan Rokatenda yang mengerikan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasukkan seluruh Pulau Palue dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) II. Disebutkan, seluruh Pulau Palue berpotensi tertimpa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Adapun KRB III, yang berarti sangat berpotensi terlanda awan panas dan aliran lava, meliputi separuh kawasan Pulau Palue. Dengan kata lain, Pulau Palue sangat berbahaya untuk dihuni.

Namun, Pulau Palue ternyata tetap dihuni. Camat Laurensus Regi mengatakan, jumlah penduduk di Palue mencapai 9.990 jiwa yang tersebar di delapan desa, yaitu Maluriwu, Reuwarere, Kesukoja, Lidi, Lodaloka, Tuanggeo, Rokirole, dan Nitunglea.

”Orang Palue tidak akan betah meninggalkan pulau ini,” kata Petrus Fidelis Cawa (70), tokoh adat dari Kampung Ngalu, Ruewarere.

Saat Rokatenda meletus tahun 1963, Petrus memandu orang Palue pindah ke Maumere, Pulau Flores. ”Di sana kami diberi sawah. Namun, warga tidak betah dan akhirnya kembali ke Palue,” katanya. ”Kami terlalu mencintai pulau ini.” (Samuel Oktora/Amir Sodikin)

Sumber: Kompas.Com

Tsunami Merenggut Kekasih Jumali...

Pulau Babi, Mei 2012 (foto Kompas)
LAUT sebening kaca. Pantai berpasir putih. Ikan warna-warni berseliweran di antara terumbu karang. Namun, bagi warga Pulau Babi, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, keindahan itu hanya masa lalu. Sudah 10 tahun ini mereka meninggalkan pulau permai yang mengapung di Laut Flores itu.

Jumali (42) hanya delapan bulan mengecap kebersamaan dengan Wasa’a, istrinya yang saat itu mengandung enam bulan. Gempa dan tsunami yang melanda Pulau Babi pada 12 Desember 1992 telah merenggut kebersamaan pengantin baru itu. ”Sejak hari itu saya tak pernah melihat istri saya,” kata Jumali, warga Pulau Babi.

Tsunami yang melanda sekitar pukul 14.00 WITA menewaskan 263 orang atau seperempat penduduk Pulau Babi yang berjumlah sekitar 1.000 orang. Pulau Babi merupakan pulau kecil yang berdiameter sekitar 2,5 kilometer dan berjarak 5 kilometer di utara Flores.

Adapun di seluruh Kabupaten Sikka, korban tewas diperkirakan 2.100 jiwa.

Petaka tsunami itu bermula dari gempa berkekuatan 7,8 skala Richter yang tiba-tiba mengguncang. ”Guncangannya kuat sekali,” kisah Jumali, yang saat kejadian tengah mencari nener, anakan bandeng, di tepi Pantai Tanjung Darat, Pulau Flores.

Begitu gempa mengguncang, air laut surut sekitar 100 meter dari bibir pantai. Sepuluh menit kemudian tsunami datang.

”Begitu gempa, saya bersama teman-teman lari ke gunung, kurang lebih 300 meter dari pantai,” katanya. Jumali pun melihat gelombang laut menghajar Pulau Babi. ”Saat itu juga langsung lemas karena saya pikir kampung kami pasti tenggelam,” kata Jumali.

Di Pulau Babi, tsunami dirasakan seperti kiamat. ”Begitu air laut naik, saya mencoba lari. Tetapi, tahu-tahu, saya sudah dihanyutkan air hingga tersangkut di puncak pohon kelapa,” kata Iradat (27), warga Pulau Babi.

Saat kejadian itu, Iradat masih duduk di kelas III sekolah dasar. Dia kehilangan tiga anggota keluarga, yakni Bute (bibi), Fitri (adik), dan Sunanti (kakak). ”Kejadiannya seperti mimpi, serba singkat dan tiba-tiba semuanya sudah habis,” ujarnya.

Nurdin Buton, warga lainnya, juga mengalami nasib serupa. Nurdin tersapu tsunami ketika hendak mengambil Base, kakaknya, dan Bongko, istrinya yang sedang hamil tiga bulan.

Nurdin sempat membawa Johora, mamanya yang lumpuh, menuju masjid. Namun, saat hendak mengambil kakak dan istrinya, tsunami sudah menerjang. Bahkan masjid yang dijadikan tempat pengungsian itu roboh disapu gelombang.

Nurdin pingsan saat tsunami menghanyutkannya. Dia baru sadar ketika air laut sudah surut dan dirinya tersangkut di bukit. Mayat bergelimpangan, sebagian terperosok ke dalam rekahan tanah. Di rekahan itulah mayat kemudian dikubur massal.

Dikosongkan

Pada hari-hari itu, warga Pulau Babi yang selamat harus berjuang sendiri. Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Sikka dan TNI baru tiba di pulau itu tiga hari kemudian. Saat itu pula semua warga selamat langsung diungsikan ke Desa Nebe dan Nangahale.

Saat ini, pengungsi dari Pulau Babi itu mendiami tanah milik Keuskupan Agung Ende seluas 10 hektar yang kemudian dihibahkan kepada pemerintah. Permukiman baru itu diresmikan istri Presiden RI saat itu, Tien Soeharto, tahun 1993.

”Pulau Babi sekarang tidak ditinggali, hanya ada beberapa gubuk untuk singgah warga yang ingin menengok kebun atau ternak,” kata Jais, Kepala Desa Nangahale. Warga yang dicekam trauma mendalam tak berani kembali menetap di Pulau Babi.

Namun, kehidupan di Nangahale ternyata tidak mudah. Kampung itu menjadi salah satu kantong kemiskinan di Sikka. Selain nelayan kecil, kebanyakan warga bekerja sebagai kuli di kota dan membuat garam dengan merebus air laut. Bahkan, hingga kini masih banyak yang belum dapat kepastian status tanah yang ditinggali di Nangahale.

Teddy Boen, Senior Advisor of World Seismic Safety Initiative, dan Rohit Jigyasu, arsitek dan konsultan konservasi, memublikasikan hasil penelitiannya tahun 2000 yang mengkritisi model relokasi Pulau Babi pascagempa dan tsunami.

Keduanya mempertanyakan sistem relokasi yang tidak disiapkan dengan baik. ”Relokasi tidak sekadar memindahkan orang dan keluarga, tapi seharusnya memindahkan komunitas,” papar Teddy dan Rohit.

Warga Pulau Babi itu dihadapkan pada pilihan sulit. Itu yang membuat sebagian warga nekat pulang-pergi dari Nangahale ke Pulau Babi tiap pekan. ”Aih..., kalau saya tidak ke Pulau Babi, apa yang bisa saya makan? Sulit cari kerja,” kata Darmi (45), warga yang membangun gubuk singgah di Pulau Babi.(Amir Sodikin/Samuel Oktora/Ilham Khoiri/Ahmad Arif)

Sumber: Kompas.Com

Gajah Mengerdil dan Kadal Meraksasa


Victor Dau, warga  Rampasasa yang tubuhnya kerdil  (Kompas)
MENGAPA manusia kerdil Homo floresiensis hingga kini hanya ditemukan di Flores? Mengapa pula gajah purba paling kerdil di Indonesia, Stegodon sondaari, juga ditemukan di Flores? Pengerdilan selalu menjadi tema menarik di Flores yang hingga kini belum semuanya terjawab dengan memuaskan.

Tak hanya pengerdilan, ada juga kasus fauna yang justru meraksasa. Mengapa kadal raksasa Varanus komodoensis ditemukan di Flores dan pulau-pulau di sekitarnya dan bahkan hingga kini masih lestari? Tak hanya biawak, tikus Papagomys sp pun di Flores menjadi raksasa.

Fachroel Azis, ahli paleontologi yang pernah memimpin ekskavasi di cekungan Soa, memaparkan pendapatnya soal teori umum biogeografi pulau. Katanya, jika mamalia tinggal di pulau terisolasi, dia akan mengecil. Jika reptil, dia akan membesar.

”Di pulau terisolasi, sumber makanan terbatas. Jadi, kalau dia besar, kan, cepat habis makanannya,” kata Azis. Karena itu, stegodon yang ditemukan di pulau-pulau terisolasi akan lebih kecil dibandingkan dengan stegodon yang ditemukan di Jawa.

Reptil seperti komodo justru jadi besar di pulau karena hampir tak ada predator tandingan. Bahkan, di Flores, gajah purba stegodon adalah mangsa dari komodo.

Di Flores ada stegodon yang kecil (Stegodon sondaari) ada juga yang besar (Stegodon florensis). Namun, jika yang besar itu dibandingkan dengan yang di Jawa (Stegodon trigonocephalus), jelas masih lebih kecil.

Stegodon florensis yang di Liang Bua, sama-sama satu spesies di Flores pun, lebih kecil dari yang di cekungan Soa. ”Itu karena terisolasi lebih lama karena itu diberi nama Stegodon florensis insularis,” tutur Azis.

Liang Bua, Manggarai Flores (foto Kompas)
Geolog dan paleontolog yang mendalami stegodon dari Universitas Wollongong Australia, Gert D van den Bergh, yang saat ini sedang aktif meneliti di cekungan Soa, mengungkapkan, gajah di Flores dulu kerdil sebagai adaptasi kondisi pulau. Di Pulau kecil tak perlu badan besar karena tak ada pemangsa seperti harimau.

”Tak ada gunanya memiliki badan besar di pulau,” kata Gert. Badan besar seperti gajah Afrika mereka bisa keliling 200-300 kilometer untuk mencari makanan. Kalau di pulau, seperti di Flores, jalan 100 kilometer sudah dari ujung ke ujung.

Sifat dari sebuah pulau yang terisolasi adalah miskinnya biodiversitas. Jumlah spesies yang ditemukan di cekungan Soa pun terbatas karena sejak lama Flores adalah sebuah pulau yang terisolasi dari dataran besar. Tidak ada jembatan darat sehingga banyak hewan yang tidak bisa sampai ke Flores.

”Kalau gajah, dia cocok untuk menyeberangi laut karena badan besar sehingga puasa tiga hari tidak akan mati,” papar Gert. Gajah juga tak bisa tenggelam karena tengkoraknya banyak memiliki kantong udara serta memiliki snorkel sehingga bernapas lebih mudah.

Jadi, dalam satu juta tahun, kata Gert, sekali-kali ada gajah yang menyeberang, mungkin karena tsunami. Skenario tsunami ini kuat dugaannya karena banyak satwa endemik lain di Flores yang bukan perenang ulung, seperti komodo, yang ternyata ada di Flores. Sejak zaman es, Flores memang tak pernah tersambung dengan daratan Asia atau Australia.

Uniknya, ketika gajah punah, komodo hingga kini masih lestari walaupun lokasinya makin terbatas. Hingga kini, spesies biawak raksasa ini seolah menolak teori umum biogeografi bahwa di pulau terisolasi, spesies akan mengalami kepunahan yang lebih cepat.

Nyatanya, komodo di Flores justru menemukan rumahnya dan menjadi komodo yang endemik di Flores. Sebaliknya, di tempatnya di daratan yang lebih luas, komodo sudah tak lagi ditemukan secara endemik.(Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas)

Sumber: Kompas.Com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes