Ketika Listrik Tiba-tiba Padam

Perjalanan ke Nusa Kenari (3)

NULE, Pantar Timur bukan sekadar pantai berbatu dan ombaknya yang ganas. Nule tidak cuma drum-drum solar buruk rupa dan penyok. Nule mewartakan kerinduan yang kental akan pelayanan PLN yang lebih baik. Juga keluh-kesah, kritik dan harapan.

Nule siang itu 1 Agustus 2006 terasa menggetarkan hati ketika Ibu Pendeta Helen Mapada-Meta buka suara dalam dialog dengan General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur, Manerep Pasaribu.Jika Soleman Waang, Mikael Pelang, Adam Waang, Rony Liem dan tokoh masyarakat Nule lainnya berbicara tentang pelayanan PLN, Pendeta Helen bertutur tentang sesuatu yang berbeda. "Saya bicara tentang keamanan petugas PLN.

Setiap kali listrik padam, petugas terancam keselamatannya. Mereka tidak hanya diomeli atau diprotes. Seringkali mereka dipukul oleh anggota masyarakat yang kecewa," kata Pendeta Helen dengan suara serak. Helen berusaha menahan tangis. Suasana haru pun tercipta di sana. Sebagai salah seorang pemimpin jemaat di Nule, kata Helen, ia menjadi tempat berlindung petugas PLN ketika keselamatan diri dan anggota keluarganya terancam.


"Saya mohon Pak Manerep dan pimpinan PLN di Alor, tolong pikirkan cara terbaik untuk menjaga keselamatan petugas. Biarkan mereka merasa aman bekerja di daerah seperti ini," ujar Pendeta Helen Mapada.Listrik tiba-tiba padam atau terpaksa padam bergilir karena gangguan mesin yang usianya rata-rata sudah tua atau masalah teknis lainnya -- kiranya bukan hanya di Nule.

Itu masalah umum yang bisa terjadi kapan dan di manapun. Sebagaimana diakui PJ Sub Ranting Nule, Lorens Misa, dia dan operator Aris Djahalela selalu menjelaskan kepada pelanggan masalah yang terjadi. Misalnya gangguan mesin pembangkit listrik bertenaga diesel atau jaringan tertimpa pohon tumbang. Namun, tidak semua anggota masyarakat (pelanggan PLN) dapat memaklumi kenyataan tersebut dan mau memahaminya.

Bagi mereka listrik harus menyala sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kesal, kecewa dan marah jika listrik tiba-tiba padam agaknya bukan monopoli pelanggan PLN Sub Ranting Nule. Siapapun Anda -- pelanggan PLN -- memang kerap terperangkap dalam pola pikir serupa. Kita tidak mau tahu dengan urusan mesin rusak dan sebagainya. Tetapi ekspresi kekecewaan itu berujung dengan pemukulan, apakah patut?Manerep Pasaribu cukup bijak menanggapi harapan Pendeta Helen.

Manerep mengatakan, menjamin keselamatan petugas PLN bukan tugas manajemen PT PLN semata. Keselamatan operator PLTD adalah tanggung jawab masyarakat dimana PLN melayani mereka. Peran tokoh masyarakat, tokoh agama serta aparatur pemerintahan desa sangat menentukan.

"Saya percaya Bapak dan Ibu tokoh masyarakat Nule ini dapat mencari solusi bersama mengenai aspek keamanan petugas kami. Saya mohon pengertian dan bantuannya agar petugas kami bekerja tanpa rasa takut. Kami menyadari tidak mungkin pelayanan kami sempurna. Tapi jika listrik padam tentu ada alasannya. Tidak ada niat petugas kami secara sengaja mengecewakan para pelanggan," katanya.Selain soal keamanan, para operator PLTD di daerah kepulauan Kabupaten Alor menghadapi kendala lain yaitu sarana komunikasi yang tidak memadai.

Jika terjadi gangguan mesin yang tidak dapat mereka atasi, persoalan itu tidak bisa segera disampaikan kepada pimpinan Ranting di Kalabahi guna mengadirkan teknisi yang lebih mahir. "Jadi tolong pak, kalau bisa petugas di sini diberi alat komunikasi radio," kata Rony Liem. Kondisi semacam ini kurang lebih sama dirasakan pimpinan sub ranting dan operator PLTD yang berkarya di Pulau Sabu, Rote, Adonara, Solor, Lembata, Semau, Palue dan Pulau Pemana. Masalah mereka sama dan sebangun yaitu ongkos angkut BBM (solar) via laut mahal dan tergantung cuaca juga sulitnya komunikasi (via radio).

***

DIALOG di Nule siang itu sungguh berat. Berat isinya tentang kompleksitas pelayanan kelistrikan di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. Di satu sisi, tuntutan masyarakat begitu tinggi dan terus meningkat dari hari ke hari, sementara PT PLN (Persero) memiliki keterbatasan yang tak gampang diatasi. Dialog siang itu akhirnya tuntas jua.


Harus diakhiri karena perjalanan kami belum usai. "Sekarang kita ke Sub Ranting Alor kecil," kata Paul Bolla, Humas PT PLN Wilayah NTT.Kami bersalaman dengan Lorens Misa dan keluarganya, Pendeta Helen Mapada dan warga Nule lainnya yang hadir saat itu. Kami pamit dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka mengantar kami ke pinggir pantai berbatu Nule. Sebagaimana saat tiba, kami menjalani proses "evakuasi" kedua.

Kali ini kami kembali ke kapal motor sewaan yang berlabuh sekitar 75 meter dari pantai. Semuanya berjalan lancar kendati beberapa wartawan masih juga dihinggapi rasa takut tenggelam.Setelah tali penambat dilepaskan, perahu motor putar haluan. Kini kami berlayar ke arah barat, menyisir kembali pantai Pulau Pantar yang bersih-alami.

Di atas perahu, ibu-ibu PLN Ranting Kalabahi menyambut kami dengan sajian makan siang. Baru teringat, perut kami memang sudah minta diisi. Tanpa komando -- seluruh anggota rombongan menyerbu meja hidangan. Ikan goreng segar, nasi putih dan sayur, sambal dan semua yang tersaji di sana nyaris tak tersisa. Sudah diprediksikan, ikan paling laris disambar wartawan. Berbeda dengan pelayaran sebelumnya dari Limarahing, ketika memasuki perairan Pulau Pura, kami mengitari pulau eksotik itu dari sisi yang lain. "Biar lihat Pura secara utuh," demikian Buce Lioe.

Menjelang pukul 16.30, kami tiba di dermaga Alor Kecil. Kami turun dari perahu motor sambil mengucapkan terima kasih kepada empat awaknya yang ramah. Satu unit bus dan mobil kijang sudah menanti kedatangan kami di dermaga kecil itu. Kami pun meluncur ke kantor Sub Ranting Alor Kecil yang jaraknya tidak lebih dari dua kilometer. Di sana, Ahmad Para, Arsyad Maine dan keluarganya menyambut kami dengan senyum. Selamat datang di Alor Kecil... * (Dion DB Putra, dipublikasikan Pos Kupang, 22-25 Agustus 2006).

Mesin Tua, Siapa yang Peduli?

Perjalanan ke Nusa Kenari (4)

PIMPINAN Sub Ranting PLN Alor Kecil, Ahmad Para dan operator Arsyad Maine menyambut kami sore itu dengan ramah di depan jalan masuk. Jalan kecil tak beraspal. "Selamat datang Bapak dan Ibu semua, silakan beristirahat dulu di sana," kata Ahmad sambil menunjuk deretan kursi di samping bangunan utama PLTD. Ibu- ibu terlihat sibuk menyiapkan minuman dan makanan ringan.

Dalam sekejap sudah tersaji di meja aneka kue khas Alor dan minuman segar. "Silakan dicoba Pak," kata mereka dengan ramah.Tak dipungkiri lagi keletihan tampak di wajah 17 wartawan dan wartawati dari Kupang. Maklum kami menjalani tour maraton sepanjang hari mulai pukul 06.00 Wita -- jika dihitung dengan waktu keberangkatan dari Bandara El Tari Kupang pada 1 Agustus 2006 itu.

Namun, keletihan kami sirna oleh sambutan yang hangat dan ramah. Kami menyadari ibu-ibu di Sub Ranting Alor kecil tentunya menunggu kami sejak pagi. Sebagai tuan rumah, Ahmad Para dan Arsyad Maine kali ini menjadi bintangnya. Mereka dikerumuni rombongan wartawan yang mengajukan aneka pertanyaan tentang masalah kelistrikan di wilayah tersebut terutama pelayanan kepada masyarakat. Seperti tercipta di Limarahing-Pura dan Nule, Pantar Timur, dialog dengan tokoh masyarakat juga berlangsung di Sub Ranting Alor Kecil. Alor Kecil tidaklah kecil dalam skala pelayanannya kepada masyarakat. Jumlah pelanggannya sebanyak 685 KK yang tersebar di sembilan desa.

Jumlah pelanggan tersebut jauh di atas Nule (218) dan Pura dengan 109 pelanggan. Dari sisi geografis, Sub Ranting ini terbilang lebih baik nasibnya bila dibandingkan dengan Pura dan Nule. Berada di ujung Pulau Alor, kawasan tersebut bisa dijangkau lewat jalan darat. Perjalanan ke dan dari Ibu kota Kalabahi dengan mobil atau sepeda motor dapat ditempuh selama 30 sampai 35 menit.

Jalan aspal mulus menghubungkan Alor Kecil-Kalabahi. Artinya, masalah yang dihadapi operator PLTD Alor Kecil tidak sesulit rekan-rekannya di Pura, Nule dan daerah lainnya di Alor. Misalnya dalam soal ketersediaan bahan bakar minyak (solar). Walau demikian tetap saja terungkap harapan dari tokoh masyarakat setempat agar PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) memberi pelayanan lebih baik lagi dari kondisi saat ini. Salah satu harapan terbesar dari masyarakat di wilayah kerja Sub Ranting Alor Kecil adalah terciptanya interkoneksi dengan Kalabahi.

Mengingat jarak Alor Kecil dengan Kalabahi cuma belasan kilometer, harapan tersebut cukup rasional. "Biar kami di sini pun bisa menikmati listrik selama 24 jam seperti warga Kota Kalabahi," kata Syaifulah, salah seorang tokoh masyarakat Alor Kecil saat berdialog dengan General Manager PT PLN (Persero) Wilayah NTT, Manerep Pasaribu saat itu.

"Interkoneksi itu adalah tekad kami juga untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat di sini. Tetapi mohon kesabarannya karena hal itu perlu kami pertimbangkan, disesuaikan dengan ketersediaan daya listrik," kata Manerep. Hal senada disampaikan Pimpinan Proyek Listrik Pedesaan (Lisdes) Nusa Tenggara Timur, Untung Haryanto.

DARI perjalanan jurnalistik ke Nusa Kenari Alor selama tiga hari (1-3 Agustus 2006) terungkap banyak hal menarik tentang masalah kelistrikan yang dihadapi manajemen PT PLN (Persero) Wilayah NTT yang menjadi unit bisnis mandiri sejak 25 Juni 2002 (sebelumnya bagian dari PT PLN Wilayah Bali, NTB dan NTT). Adalah kenyataan bahwa di berbagai ranting dan sub ranting PLN Wilayah NTT masih mengoperasikan mesin-mesin tua.

"Maka wajar bila mesin-mesin berusia tua itu mudah mengalami gangguan sehingga terjadi padam bergilir," kata Humas PLN NTT, Paul Bolla. Di saat PLN mengalami keterbatasan daya mampu mesin (daya listrik), permintaan sambungan baru dari calon pelanggan sangat tinggi. Secara finansial, manajemen PLN terus merugi setiap bulan lantaran tarif dasar listrik (TDL) yang berlaku saat ini sesungguhnya tidak pas lagi karena terdapat ketimpangan sangat besar antara harga jual dengan biaya pokok penyediaan. Menaikkan TDL merupakan salah satu solusi.

Namun, rencana tersebut dianggap belum tepat saat ini mengingat masyarakat pun mengalami penuruan daya beli akibat krisis ekonomi nasional yang belum berujung. Faktor lain yang menjadi kendala pelayanan PLN wilayah NTT adalah kondisi geografis (kepulauan), topografi berbukit-bukit, ketiadaan akses jalan sehingga biaya transportasi BBM berlipat ganda. Potret sejumlah sub ranting PLN di Alor setidaknya memberi gambaran cukup jelas tentang masalah tersebut.

Kondisi semacam ini seyogianya menggugah pemerintah daerah kabupaten/kota di NTT maupun pemerintah propinsi mengalokasikan dana untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di daerah masing-masing. Misalnya, membeli mesin baru, menambah jaringan atau subsidi BBM untuk operasional PLTD. Dalam semangat otonomi daerah, harapan semacam ini tidaklah berlebihan.

Perhatian untuk itu bukannya tidak ada sama sekali. Beberapa daerah, kata Manerep Pasaribu, sudah memberi contoh antara lain lewat pengadaan mesin baru. Ia menyebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur, Sumba Timur, Sumba Barat dan Lembata. Pemkab Flores Timur membeli 9 unit mesin, sedangkan Sumba Barat, Sumba Timur dan Lembata masing-masing menyediakan dua unit mesin untuk membantu rakyatnya. "Mudah-mudahan pemerintah daerah lainnya tergugah untuk memberikan bantuan serupa," kata Manerep Pasaribu.Manerep membeberkan data yang menggetarkan hati.

Dijelaskannya, secara keseluruhan PT PLN (Persero) Wilayah NTT baru melayani 25 persen penduduk daerah kepulauan ini. Sekitar 75 persen dari total penduduk NTT sebanyak 4.188.774 jiwa belum terlayani. PLN Wilayah NTT yang memiliki empat kantor cabang, 15 ranting dan 83 sub ranting di 16 kabupaten/kota baru melayani 220.080 KK (pelanggan).

Angka yang sangat kecil karena cuma sekitar 1 juta jiwa penduduk Propinsi NTT yang kebutuhannya akan daya listrik sudah terpenuhi. Sementara tiga juta orang lainnya masih hidup dalam "kegelapan" malam. Mereka "belum merdeka" dalam urusan yang satu ini sampai negeri tercinta berusia 61 tahun pada 17 Agustus 2006. Adakah di antara kita yang peduli? Siapakah yang berani memulai lewat langkah-langkah kecil tapi berarti? (Dion DB Putra, dipublikasikan Pos Kupang, 22-25 Agustus 2006. **

Sesaat di Rotterdam...

DAHLAN, sahabat saya yang juga Wakil Pemimpin Redaksi Harian Tribun Timur Makassar mendadak jadi pemandu wisata. Memperkenalkan kekayaan sejarah, kultur dan warisan bernilai tinggi dari kampung halamannya.

"Bung sudah beberapa kali ke sini tapi percuma kalau tidak sempat mengunjungi Museum La Galigo di Fort Rotterdam," kata anak Bugis itu berpromosi saat kami jalan-jalan keliling Kota Makassar, Selasa malam 4 September 2007 silam.

Saat itu, Dahlan menunjukkan kepada saya bangunan bersejarah baik warisan Belanda maupun warisan masa awal kemerdekan.Makassar atau dulu Ujung Pandang tidak begitu asing bagi saya karena bukan baru pertama kali ke sana. Tetapi ke Benteng Fort Rotterdam apalagi secara khusus mengunjungi Museum La Galigo belum pernah saya lakukan sebelumnya.

La Galigo sungguh menimbun rasa penasaran saya sejak ia menggemparkan dunia tahun 2004. Nama itu mengemuka saat kisah epik I La Galigo dipentaskan di berbagai kota dunia mulai dari Singapura, New York (Amerika Serikat), Amsterdam (Belanda), Barcelona dan Madrid (Spanyol) sampai Ravenna (Italia).Epik terpanjang di dunia yang usianya lebih tua daripada epos Mahabharata itu isinya sebagian besar berbentuk puisi dalam bahasa Bugis kuno.

Naskah asli terdiri dari 12 jilid. Disebut karya sastra terpanjang di dunia karena manuskripnya lebih dari 300.000 baris serta jalinan tokohnya berbelit-belit. La Galigo melebihi kitab Mahabharata dan Ramayana dari India atau sajak-sajak Homerus dari Yunani. Mahabharata cuma sepanjang antara 160.000 -200.000 baris.

La Galigo mengisahkan Sawerigading, pahlawan yang gagah berani dan juga perantau. La Galigo juga memberi gambaran mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14. Karya kuno setebal 6.000 halaman tersebut diangkat ke pentas teater kontemporer oleh sutradara kelas dunia, Robert Wilson bersama Restu Kusumaningrum dari Indonesia.

Pada saat pementasan I La Galigo di berbagai kota dunia termasuk di dalam negeri tiga tahun lalu, hampir semua orang berdecak kagum akan pesan dan makna ceritanya. Sebagai karya sastra, keindahan La Galigo terletak pada konvensi bahasa, metrum, sastra dan alurnya. Isinya meliputi berbagai sumber tradisi, norma serta konsep kehidupan manusia.

***

SAMPAI juga saya di museum itu pada hari Jumat, 7 September 2007 atau sehari sebelum kembali ke Kupang setelah mengikuti kegiatan selama sepekan di kota "Anging Mamiri". Benar 'promosi' Dahlan. Makassar tidak cuma memiliki wisata bahari dan kuliner yang menarik, tetapi punya jejak sejarah yang akan membawa kita menyelami Makassar tempo dulu. Salah satunya ada di Museum La Galigo.

Museum La Galigo terletak di dalam kawasan Fort Rotterdam alias Benteng Ujung Pandang atau Benteng Panyua karena bentuknya mirip seekor penyu yang sedang merayap menuju Selat Makassar. Dengan kendaraan roda dua atau empat, hanya butuh waktu lima menit dari Pelabuhan Makassar atau Pantai Losari dan sekitar 45 menit dari Bandara Hasanuddin.Di balik kokohnya dinding benteng Fort Rotterdam setebal 2 meter itu, Anda segera temukan Museum La Galigo.
Museum ini didirikan Belanda tahun 1676. Semula Museum La Galigo adalah kediaman Gubernur Jenderal Belanda, Cornelis Speelman asal Rotterdam. Gaya arsitektur gotik dari abad ke-17 sangat menonjol dengan ciri tembok samping menjulang tinggi diikat besi serta pintu tinggi dan lebar, pilar teras bundar dan kastel. Dalam perkembangannya, Museum La Galigo pernah menjadi markas komando pertahanan, kantor pemerintahan dan perdagangan serta tempat tinggal.

Pada masa revolusi fisik (1945-1950) museum dijadikan pusat komando pertahanan. Dan, periode 1950-1969 menjadi tempat tinggal anggota militer dan sipil. Museum resmi diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1970.

Cukup lengkap benda peninggalan sejarah yang ada di sana, misalnya foto hitam putih Benteng Fort Rotterdam yang akan membawa kita melintasi waktu ke masa lalu. Terdapat catatan sejarah Sulawesi Selatan (Sulsel), mengenai pelautnya yang tangguh, peta topografi, bahasa, suku bangsa serta beraneka jenis perahu dan rumah tradisional khas Bugis, Toraja, Makassar. Ada bendi dan sepeda kumbang tua, ruangan prasejarah dan arkeologi yang menyimpan arca, alat-alat yang terbuat dari batu serta fosil. Kendi, manik-manik, miniatur candi, phallus, replika serta patung prasejarah Sulsel dan saringan air memberikan gambaran kondisi masyarakat daerah ini pada masa lalu.

Di museum ini bisa dijumpai alat tenun serta hasil tenunan khas Sulsel, alat-alat bercocok tanam serta hasil pertanian. Pemerintah Propinsi Sulsel memberi kesan sungguh-sungguh mengelola museum serta benteng Fort Rotterdam sebagai salah satu aset daerah yang bernilai tinggi.Lalu di mana naskah asli La Galigo yang tersohor itu?

Saya kemudian mendapatkan jawaban dari pemandu dan beberapa sumber tertulis bahwa naskah asli La Galigo kini masih terawat dan tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden-Belanda. Naskah tersebut dibawa Dr. Benjamin Frederik Matthes pada abad ke-19. Matthes dikirim ke Makassar oleh Nederlands Bijbelgenootschap untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Belakangan, ia tertarik meneliti Bahasa Bugis melalui naskah La Galigo. La Galigo lainnya tersimpan di AS dan Inggris.

***

TIDAK lengkap mengunjungi Museum La Galigo tanpa berkeliling melihat sisi lain benteng Fort Rotterdam. Sebagai dijelaskan di atas, museum La Galigo merupakan bangunan di dalam kawasan Fort Rotterdam. Total ada 15 bangunan dalam benteng seluas 28.593,55 meter persegi itu. Salah satu bangunan utama yang di tengah benteng dahulu merupakan gereja dan gudang senjata di lantai dasar.

Sebelum Fort Rotterdam dibangun, di tempat ini sudah berdiri benteng milik Kerajaan Gowa yang dibangun sekitar tahun 1545. Benteng lama dihancurkan Belanda ketika menduduki daerah ini. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani 18 November 1667, Belanda membangun benteng baru di lokasi yang sama yang kini dikenal sebagai Fort Rotterdam.Tinggi dinding benteng Fort Rotterdam bervariasi. Yang tertinggi 7 meter dan terendah 5 meter dengan ketebalan rata-rata 2 meter.

Dinding benteng agaknya dibangun dengan menyusun balok-balok batu padas yang dipahat rapi. Untuk mengikat balok batu menggunakan campuran semen kapur. Luar biasa kekuatannya karena bertahan lebih dari empat abad.Panjang dinding di sisi barat 225 m, sisi utara 164,2 m, sisi timur 193,2 m dan sisi selatan sepanjang 155,35 m. Terdapat lima sudut di dalam benteng itu yang diberi nama Bastion Bone, Bastion Bacan, Buton, Mandarsyah dan Bastion Amboina.

Dapat dikatakan Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang paling terawat di Indonesia. Sekitar 80 persen kondisi benteng dan 15 bangunannya masih terawat baik.Benteng Fort Rotterdam menyimpan nilai sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Di sinilah pahlawan nasional, Pangeran Diponegoro ditahan dan diasingkan Belanda selama 26 tahun hingga wafat. Makam Diponegoro dan sebuah monumen untuk mengenang pahlawan gagah berani dalam Perang Jawa (1825-1830) itu kini terdapat di Jl. Diponegoro, Makassar. Kamar tahanan Pangeran Diponegoro, anak Sultan Hamengku Buwono III dari Yogyakarta itu masih terawat baik.

Akhirnya, jika puas dan letih berkeliling Fort Rotterdam, di depan pintu gerbang benteng itu Anda akan menerima tawaran untuk menyeberang ke Kayangan, pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar di Selat Makassar. Di pulau wisata itu ada fasilitas panggung hiburan, restoran dan anjungan memancing. Anda bisa merasakan keramahan Makassar dari sisi berbeda. (Dion DB Putra, dipublikasikan Pos Kupang Minggu, 16 September 2007) **

Kisah tentang Ulat Bulu

Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (1)

WAIARA, 27 Oktober 2005. Jarum jam menunjuk pukul 12.20 Wita. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah terik matahari, di bawah hamparan nyiur melambai. Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi terlihat anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya, kental nian aroma persahabatan dan persaudaraan. Padahal yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional, Frans Seda (79) dan Jakob Oetama (74) serta tamu penting lainnya dari Jakarta dan Kupang.

Buyar sudah kesan serius dari kedua tokoh tersebut. Benarlah apa yang mereka katakan bahwa perjalanan bersama selama lima hari ke Nusa Tenggara Timur (NTT), 26-30 Oktober 2005 merupakan ziarah pribadi. Perjalanan pun lebih diwarnai kisah ringan tapi bernilai tentang kepribadian, pengalaman, tentang perjuangan hidup dan persahabatan. Tanggal 27 Oktober adalah hari pertama kunjungan Frans Seda-Jakob Oetama ke Maumere atau hari kedua ziarah mereka ke NTT. Sehari sebelumnya mereka tiba di Kupang -- menyampaikan gagasan besar tentang menemukan kembali Indonesia dan bermalam.

Suasana santai sudah merebak sejak mereka tiba di Bandara Waioti dengan pesawat Trans Nusa dari Kupang. Berlanjut saat makan siang di Waiara dimana Frans Seda selaku tuan rumah riang bercerita kepada sahabatnya, Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Jakob Oetama serta petinggi KKG lainnya, August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour dan Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho.

***

KHASIAT ulat bulu. Itulah antara lain kisah yang mengemuka siang itu. "Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," kata Frans Seda sambil tertawa lepas. Ulat bulu. Makhluk apakah itu? Nama yang tentu asing bagi Jakob Oetama. Tapi belum sempat beliau bertanya, Frans Seda segera menjelaskan tentang si ulat. "Ulat ini hidup dalam bambu," jelas Mantan Menteri Perkebunan, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan RI tersebut.

Ulat bulu adalah makanan tradisional bagi sebagian masyarakat Ende- Lio, Sikka dan daerah lain di Flores. "Tapi entahlah, apakah anak- anak sekarang masih suka makan atau tidak. Saya tidak tahu," lanjut Frans Seda.

Seperti dikatakan Seda, ulat bulu hidup dalam dalam bambu, umumnya jenis bambu aur. Dalam satu rumpun bambu, perhatikan batang muda yang kurang subur. Buku-bukunya agak rapat. Ruasnya cenderung bengkok. Di sanalah hidup ulat (kepompong) berwarna putih sebesar jari kelingking anak-anak dengan panjang 3-5 cm. Masak lalu dimakan, bisa dengan sambal. Digoreng atau lawar pun jadilah. Saat masuk mulut dan dikunyah akan terdengar bunyi krik..krik.

"Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St. Sularto saat itu. "Oh...khasiatnya luar biasa. Itu makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda yang tanggal 4 Oktober 2005 genap berusia 79 tahun.

Sisi lain Frans Seda adalah kecintaannya terhadap makanan tradisional dari kampung halamannya. Makanan khas daerah yang tidak mudah kita dapatkan sekarang ini di berbagai kota di NTT, termasuk Maumere.

Kecintaan Frans Seda terlihat jelas saat makan siang di Waiara maupun dalam acara syukuran ulang tahun di rumahnya di Maumere pada Kamis (27/10/2005) malam. Di meja makan tersaji are gau (ketupat), are merah (nasi dari beras merah), koro/horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil) yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o, singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) serta kura mbo (udang dan ikan dari sungai/kali).

"Pak Jakob, cobalah ini. Namanya are gau. Rasanya pasti lain, tidak sama dengan ketupat di Pulau Jawa," kata Frans Seda menunjuk are gau saat makan siang di Waiara. Jakob Oetama, tokoh kelahiran Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931 itu pun enggan menolak. "Memang enak ya.." katanya perlahan. Makan siang itu sungguh nikmat. Waktu satu jam terasa berlalu amat lekas. Pertanyaan Jakob Oetama menyadarkan kami. "Acara kita selanjutnya apa?"

"Oh, kita ke kampung dulu. Nanti terkutuk kalau saya tidak bakar lilin di kubur orangtua," kata Frans Seda kepada sahabatnya itu sambil terkekeh. Dengan tiga mobil Kijang kami meninggalkan Waiara lima belas menit menjelang pukul 14.00 Wita, melewati jembatan Napun Seda yang ambruk dihantam banjir 21 Oktober 2005. Kami menuju Lekebai, sekitar 40 km arah barat Kota Maumere. Di sinilah Frans Seda menghabiskan masa kanak-kanaknya, dibesarkan orangtua dengan cinta, dikasihi saudara dan keluarganya. Wajarlah bila ziarah perdana kedua sahabat itu ke sana. (dion db putra). Pos Kupang,Selasa 8 November 2005

Dipublikasikan SKH Pos Kupang secara serial pada tanggal 8-12 November 2005.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/10/edisi10/1011ceber.htm http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/11/edisi11/1111ceber.htm http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/12/edisi12/1211ceber.htm

Momen Indah di Hari Kamis

* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (2)

TIGA mobil beriring-iringan dari Maumere menuju Lekebai. Perjalanan ke kampung halaman Frans Seda itu memakan waktu kurang lebih 40 menit. Tidak ada suasana mencolok saat kami tiba di sana. Suasana biasa saja. Memang begitulah harapan Frans Seda dan Jakob Oetama. Kedua tokoh ini tidak membutuhkan penyambutan secara berlebihan. Toh kehadiran mereka di Lekebai adalah untuk berziarah ke makam orangtua Frans Seda serta bersilaturahmi dengan keluarga.

Turun dari mobil, Frans Seda mengajak rombongan Jakob Oetama masuk ke pelataran rumah yang berada dalam kompleks yang cukup luas. Di sana terdiri dari beberapa rumah, termasuk banguan rumah adat asli yang menurut Frans Seda tersimpan pusaka warisan nenek moyang secara turun-temurun. Warisan itu masih terjaga dengan baik.

Frans Seda kemudian mengajak Jakob Oetama dan petinggi KKG lainnya menuju makam orangtuanya. Frans Seda menyalakan lilin. Kami semua berdoa di sana. Kemudian mantan anggota Tentara Pelajar yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI itu menjelaskan kepada Jakob Oetama dan rombongan tentang seluruh anggota keluarga yang terbaring di dalam lokasi pemakaman itu. Jelas terlihat pemakaman keluarga tersebut terawat dengan baik.

Teh, kopi, ubi rebus dan kue sudah menanti ketika Frans Seda mengajak Jakob Oetama, August Parengkuan, St. Sularto, Julius Pour, Petrus Waworuntu, Rikard Bagun dan anggota rombongan lainnya menuju rumah induk terbuat dari kayu untuk beristirahat sejenak.

Mudah ditebak, ubi rebuslah yang paling laris "diserbu" para tamu ketimbang kue. Canda tawa pun tetap mewarnai acara sore itu. Selain bercerita tentang kampung halamannya kepada Jakob Oetama, Frans Seda menyempatkan waktu bertanya sejumlah urusan keluarga kepada adik-adik dan familinya yang tinggal di Lekebai. Sebelum kembali ke Waiara sekitar pukul 15.40, Frans Seda mengajak Jakob Oetama melihat Nua Bharaka-- kampung adat yang berada di puncak bukit kecil -- persis di sisi kanan jalan Lekebai-Maumere.

***

KEDUANYA berpelukan hangat. "Selamat ulang tahun, Pak Frans," kata Jakob Oetama dengan suara lirih menahan haru. Momen indah tersebut tercipta Kamis (27/10) malam, dalam acara syukuran hari ulang tahun ke-79 Frans Seda di Maumere. Syukuran yang dihadiri ratusan undangan diawali misa konselebran dipimpin P. Philipus Tule, SVD.
Para tokoh masyarakat Sikka hadir di sana antara lain, Lorens Say, Daniel Woda Palle, EP da Gomez, Alex Longginus dan Soter Parera. Juga diisi dengan peresmian Taman Bacaan Frans Cornelissen yang buku-bukunya sumbangan dari kedua tokoh nasional tersebut.

Jakob Oetama dan Frans Seda adalah dua sahabat karib. Dan, sebuah persahabatan yang unik. Satu berwatak NTT (Flores) yang keras, bicara lugas, blak-blakkan, apa adanya. Yang lainnya pria Jawa, Jawa Tengah yang berpembawaan halus, lembut bahkan malu-malu. "Bagi saya, Frans Seda adalah sahabat dalam suka dan duka. Memberi kekuatan dan meneguhkan hati di saat sulit. Tiada henti mendorong kami untuk maju," kata Jakob Oetama saat memberikan kesannya tentang Frans Seda malam itu. Kesan tentang Seda juga disampaikan EP da Gomez dan Bupati Sikka, Drs. Alex Longginus.

Secara khusus, Jakob Oetama kembali mengisahkan peran Frans Seda pada awal kelahiran Harian Kompas tanggal 28 Juni 1965. Bagaimana pergulatan mereka saat itu menghadapi bermacamragam tantangan yang tidak ringan. "Saya merasa beruntung mempunyai sahabat seperti Pak Frans," ujarnya. Mengenai Kompas yang tahun 2005 ini berusia 40 tahun, Jakob Oetama mengatakan bahwa sukses surat kabar itu dan usaha lainnya dalam KKG bukan karena kemampuan dirinya semata dalam memimpin. "Bagi saya, semua ini merupakan providentia Dei, itulah penyeleggaraan Allah," katanya mengakhiri sambutan.

"Itulah pembawaan Pak Jakob sejak dulu. Tidak pernah mau menonjolkan diri," kata Frans Seda yang langsung bangun dari tempat duduknya, menyambut sahabatnya itu dan keduanya kembali berpelukan.
Acara syukuran ulang tahun Frans Seda Kamis malam itu berlangsung sederhana namun berkesan. Tidak ketinggalan irama musik dan lagu- lagu daerah Lio-Sikka-Ngada. Tak terasa jarum waktu hampir menjelang pukul 24.00 Wita. Jakob Oetama dan Frans Seda pamit untuk beristirahat. Kami pun kembali ke Waira--melepas lelah mengingat esok hari ziarah dua sahabat itu masih panjang. (dion db putra). Pos Kupang, Rabu 9 November 2005

Dipublikasikan SKH Pos Kupang secara serial pada tanggal 8-12 November 2005.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/10/edisi10/1011ceber.htm
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/11/edisi11/1111ceber.htm

Kalau Rusak, Wah Cari Cucu...

* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (3)

"BESOK pagi kita ke Nilo dulu kan?" Itulah pertanyaan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bagun kepada Philip Gobang sebelum kami menuju pembaringan di Waiara, Kamis (27/10) tengah malam atau tepatnya Jumat (28/10) dinihari. Philip menganggukkan kepala.

Selain mengikuti acara utama di Ledalero, patung Bunda Maria Segala Bangsa setinggi 28 meter di Nilo merupakan tujuan ziarah Jakob Oetama dan Frans Seda pada hari kedua di Maumere, Jumat (28/10). Kami meninggalkan Waira pukul 07.15 bergabung dengan Frans Seda di Maumere kemudian menuju Nilo.

Suasana langsung berubah saat memasuki Ribang, Desa Takaplager, Nita. Tak dinyana, di ujung jalan masuk menuju bukit Nilo itu rombongan Jakob Oetama-Frans Seda disambut 'pasukan' gong waning yang menumpang mobil terbuka (pick-up).

Dipandu gong waning, perjananan menempuh jarak sekitar 7 km menuju bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita itu terasa lamban. Empat mobil perlahan mendaki jalan sempit yang pada beberapa lokasi dilapisi hotmix dan sedang dibuat drainasenya.
Ternyata ada kejutan baru yang lebih 'heboh' di puncak Nilo. Para tokoh dan warga bersama rohaniwan dari Kongregasi Pasionis sudah menanti di sana dengan acara spesial. Warga Nilo tampak berjubel, berdesak-desakan di sisi kiri dan kanan jalan.

Prosesi adat Huler Wair menyambut kehadiran Frans Seda dan Jakob Oetama. Bagi masyarakat Nilo, kedua tokoh nasional itu merupakan tamu terhormat mereka. Diawali sapaan dalam bahasa adat setempat-- Jakob Oetama dan Frans Seda diperciki air berkat kemudian dikenakan selendang dan destar. Dandanan itu membuat keduanya tampak gagah.
Anggota rombongan dari Jakarta dan Kupang pun tak ketinggalan. Mereka dikalungi selendang. Warga Nilo kemudian "menyerbu" Jakob dan Frans Seda untuk bersalaman. Ada juga yang memeluk dengan riangnya. "Terima kasih ya," kata Jakob Oetama. Frans Seda pun mengucapkan hal yang sama. "Tapi maaf e...saya tidak bisa omong bahasa Sikka. Pakai bahasa Lio saja, bisa mengerti to?" katanya.

Selepas acara Huler Wair, kedua sahabat itu diantar memasuki rumah adat Nilo baru menuju Patung Bunda Maria Segala Bangsa yang berdiri anggun di bukit Keling. Di sana sudah banyak peziarah yang berdoa. Setelah berdoa dan mendapat berkat dari seorang pastor dari Kongregasi Pasionis, rombongan Jakob Oetama-Frans Seda meninggalkan Nilo menuju Ledalero.

Waktu hampir pukul 10.00. Philip Gobang tampak melirik buku panduan acara Festival Ledalero. Tertulis di sana, Jakob Oetama bicara tentang pers mulai pukul 09.00 Wita. Nah? Mengertilah saya mengapa Philip beberapa kali terlihat bicara dengan P. Paul Budi Kleden, SVD lewat telepon selulernya.

***

MOHON maaf. Itulah kata pertama Jakob Oetama saat diberi kesempatan menyampaikan pikirannya sebagai pembicara tunggal dalam seminar di aula Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero pagi itu.

"Ke Flores ini, bagi saya adalah suatu penziarahan pribadi. Mohon maaf terlambat tiba di sini (Ledalero). Tadi saya dibawa lebih dulu ke Bunda Maria di Nilo. Tentu sebagai wartawan saya sudah bepergian kemana-mana. Tapi di sini saya melihat panorama, lingkungan alam yang kaya, yang memikat, mencerminkan kebesaran Tuhan. Jarang ada panorama, suatu lingkungan, suatu langit biru bersih seperti tanjakan tujuh kilometer ke Bunda Maria di Nilo itu. Luar biasa. Luar biasa..." kata Jakob mengungkapkan kekagumannya.

Menurutnya, keindahan panorama alam itu harus diketahui, tidak hanya masyarakat Flores, NTT, tetapi masyarakat Indonesia dan dunia. "Masalahnya bagaimana dikenal sehingga menarik peziarah rohani maupun wisatawan domestik dan mancanegara. Perlu dikomunikasikan dengan memanfaatkan kekuatan teknologi informasi, kekuatan media massa," kata Jakob Oetama.

Jakob Oetama yang berbicara dalam seminar bertema: Peran Pers Indonesia dalam Membentuk Budaya Politik Demokratis itu antara lain, menggarisbawahi perubahan yang dihasilkan oleh revolusi teknologi informasi yang membuat segala peristiwa di seluruh dunia ini penyebarannya berlangsung serentak-seketika dan interaktif.

"Perubahan yang dibawa oleh revolusi teknologi informasi luar biasa. Orang macam saya ketinggalan zaman. HP (handphone) saja hanya pakai untuk telepon, SMS saya belum menggunakannya, sangat ketinggalan! Komputer saya sudah pakai, tapi hanya sekadarnya. Kalau rusak, wah...cari cucu. Kalau cucu di sekolah, telepon kantor. Orang macam saya seharusnya malu karena bergerak di bidang komunikasi, tapi dalam menghandel teknologinya ketinggalan. Tentu saja lembaga (KKG-Kompas) tidak boleh ketinggalan," katanya sambil tersenyum disambut aplaus peserta seminar yang memenuhi aula STFK Ledalero saat itu.

Setelah seminar dan makan siang bersama di Ledalero, rombongan Jakob Oetama-Frans Seda kembali ke Maumere dan Waiara untuk beristirahat. Petang harinya ke Ledalero lagi mengikuti acara peluncuran logo Festival Ledalero 2005-2006 dan menonton Pentas Teater dan Budaya yang antara lain menampilkan monolog kondang asal Yogyakarta, Butet Kertaredjasa.

Butet yang kocak dan 'nakal' itu sungguh menghangatkan malam romantis di bukit Leda, Ledalero, tempat Sandar Matahari yang kokoh berdiri sejak 1935. Dua sahabat itu terpingkal-pingkal bersama hadirin lainnya. Hampir lupa--malam terus merangkak. Kami tiba lagi di Waira hampir pukul 24.00. (dion db putra/bersambung). Pos Kupang, Kamis 10 November 2005


"Biar Saya yang Bawa"

* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (4)

BIARA Pertapaan (Trappist) Lamanabi, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim). Itulah tujuan ziarah kami hari Sabtu (29/10). Hari itu rombongan terbagi dua. Karena suatu urusan, Jakob Oetama lebih dahulu ke Denpasar bersama Rikard Bagun, Julius Pour dan August Parengkuan dan bermalam di Pulau Dewata itu.

Sedangkan Frans Seda berziarah ke Lamanabi bersama St. Sularto, Petrus Waroruntu dan Wandi S Brata. Belakangan, Petrus Waworuntu memilih berziarah ke kota Reinha Larantuka dengan mobil. Sejak Jumat (28/10) malam, kami sudah diingatkan Manajer Flores Sao Resort (FSR), Heribertus Ajo bahwa perjalanan ke Tanjung Bunga dengan kapal berkapasitas 8-10 orang itu mulai pukul 06.00 Wita. "Jangan lupa besok bangun pagi-pagi ya," katanya malam itu.

Pukul 05.00 kamar kami sudah digedor staf FRS. Mata sebenarnya masih terasa berat karena tidur belum genap tiga jam. Frans Seda? Aih, orang tua itu sudah di Pantai Waiara pukul 06.00. Di sana sudah ada St. Sularto, Wandi S Brata dan Heri Ajo. Kapal pun sudah siap. Tergopoh-gopohlah saya, Philip Gobang dan Heri S Soba (wartawan Pembaruan yang kebetulan sedang cuti di Maumere). Kami berlari-lari kecil menuju pantai. Saya bahkan orang paling akhir berkumpul karena "curi waktu" sekejap untuk minum kopi. Khawatir kepala pening dalam perjalanan ke Lamanabi.

Sekitar pukul 06.45 kami meninggalkan Pantai Waiara. Kapal itu membawa delapan orang--termasuk dua ABK. Kami dikawal speed boat kecil berkapasitas dua penumpang. Pagi yang cerah. Perjalanan terasa nikmat. Sudah terbayang di depan mata Tanjung Bunga-Lamanabi karena perjalanan dengan kapal mesin ganda dengan masing-masing berkekuatan 150 PK itu hanya sekitar dua jam.

Tiga puluh menit kemudian drama itu datang. Satu mesin kapal tiba- tiba mati. "Solar banjir," kata sang kapten asal Lembata, Om Nikolaus Nara. Heri Ajo ambil-alih kemudi. Om Niko mengutak-atik mesin. Sepuluh menit berlalu. Mesin hidup tapi mati lagi. Gantian Heri menghadap mesin, Niko pegang kemudi. Kapal tetap melaju walau perlahan karena satu mesin tetap berfungsi dengan baik.

"Jalan terus saja. Tidak apa-apa," kata Frans Seda sambil bercerita tentang keindahan alam bawah laut Maumere, pantai pasir putih Pulau Besar serta sisi lain Pulau Babi kepada St. Sularto dan Wandi S Brata. Penerima Bintang Mahaputra Adipradana dari pemerintah RI itu terkesan cuek. Seolah tak ada masalah. Philip Gobang berbisik pelan ke telinga saya, "Orang tua ini pintar mengalihkan perhatian, biar kita tidak memikirkan mesin kapal mati. He..he.."

Heri dan Niko tetap bolak-balik mengurusi mesin itu tapi tak kunjung berhasil. "Heri, coba kontak speed boat pengawal kita. Mana mereka? Pengawal tidak boleh jauh-jauh. Panggil mereka biar kita pakai kapal kecil itu saja," kata Frans Seda. Wah?

Heri Ajo mengambil radio (HT) menghubungi dua pengawal. Mereka tidak bisa dikontak. Heri melambaikan tangan sambil memberi tanda agar kembali. Tak ada tanda-tanda mereka mengurangi kecepatan atau mendekati kami. Malah semakin melaju. Dalam sekejap hilang dari pandangan kami. Celaka duabelas!

"Tidak apa-apa. Terus. Jalan terus," kata Frans Seda seraya bangkit dari tempat duduknya. Dia menuju kemudi. "Niko, kau urus mesin, biar saya yang bawa," katanya sambil tertawa tanpa beban. Wakil Pemimpin Umum Kompas, St. Sularto dan Wandi S Brata terbahak-bahak.

Pak Sularto menyodorkan kamera. "Mas Dion tolong ambil ya," katanya. Momen indah. Mantan Menteri Perhubungan RI berusia 79 tahun jadi kapten kapal. Kami lupa arus laut mulai menguat. Tak sadar hampir satu setengah jam berlayar. Posisi kapal sudah sejajar dengan Pulau Besar dan kurang 1 mil laut di depan Pulau Babi. Akhirnya, Heri Ajo membuat keputusan bijak. "Bapa, kita tidak bisa teruskan perjalanan. Kita turun di teluk Wair Terang saja," katanya. "Tapi kita harus tetap ke Lamanabi," kata Frans Seda.

Syukurlah. Sinyal HP masih ada. Heri menghubungi stafnya di Sao Wisata. Minta mereka menyiapkan dua mobil dan segera meluncur ke Wair Terang. Kami pun menuju ke sana. Kemudi tetap di tangan Frans Seda. Perasaan kami lega. Keputusan Heri Ajo yang memahami dengan baik lintasan Waiara-Tanjung Bunga itu paling tepat -- mengingat setelah Pulau Babi akan sulit mencari daratan terdekat jika terjadi apa-apa dengan mesin kapal yang satunya lagi.

Namun, drama hari Sabtu itu belum berakhir. Kegundahan melanda Gervasius Seda dan kawan-kawannya di ujung Nusa Bunga. Demi menjemput kami yang diperkirakan tiba sekitar pukul 08.00 Wita, keponakan Frans Seda itu lebih dulu meluncur ke Larantuka pada Jumat (28/10) malam dan pagi-pagi sekali menuju Tanjung Bunga. Tapi ia menanti kapal yang tak pernah datang. Menunggu sambil menahan lapar dan dahaga lebih dari 13 jam! Menanti dalam ketidakpastian di pinggir pantai yang sepi, tanpa telepon tanpa Handy Talkie (HT). Muncul sudah perasaan beragam, terbersit niat menghubungi tim SAR di Larantuka. (dion db putra/bersambung). Pos Kupang, Jumat 11 November 2005

Dipublikasikan SKH Pos Kupang secara serial pada tanggal 8-12 November 2005.



Alangkah Jauhnya Lamanabi

* Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (5)

UNTUNG pejemput di Tanjung Bunga hari Sabtu (29/10/2005) siang itu belum sempat menghubungi tim SAR. Jika sudah, bakal terjadi "kehebohan" besar karena informasi kapal yang ditumpangi rombongan Frans Seda dan petinggi Kelompok Kompas Gramedia (KKG) dari Waiara ke Tanjung Bunga "hilang" akan menyebar luas.

Di teluk Wair Terang-- speed boat yang dikemudikan Frans Seda akhirnya tiba dengan selamat di bibir pantai. Di sana sudah menunggu dua mobil pesanan Heri Ajo. Wair Terang merupakan pantai yang indah dengan pohon bakau dan kelapa masih terawat baik. Daerah yang masuk wilayah Kecamatan Waigete itu sudah lama dikenal sebagai lokasi wisata bagi warga Kota Maumere dan sekitarnya.


Turun dari speed boat, Heri Ajo dan Om Niko Nara melompat lebih dulu dari kapal. Dan, Om Niko langsung pasang pundak. Dibantu Philip Gobang dan Heri, Frans Seda pun duduk manis di pundak Om Niko saat meninggalkan kapal. Tiba di darat, orang tua itu masih sempat berkelakar. "Heri, jangan lupa kasih naik gajinya," kata Frans Seda. Heri Ajo, Manajer Sao Wisata menyambut dengan senyuman. Om Niko adalah salah seorang karyawan Sao Wisata yang setia, bekerja sejak awal kehadiran resort wisata tersebut.

Jarum jam hampir menunjukkan pukul 10.00 Wita. Setelah memindahkan barang bawaan dari kapal ke mobil, kami meninggalkan Wair Terang menuju Larantuka. Perjalanan relatif mulus sekalipun beberapa kali mobil berhenti karena Frans Seda membeli buah-buahan. Tidak hanya membeli-- mantan menteri lulusan Katholike Economische Hogeschool, Tilburg-Belanda tahun 1956 itu selalu meluangkan waktu bercakap- cakap dengan penjual buah. Menjelang pukul 12.00 kami masuk Larantuka. Istirahat 30 menit sambil menunggu mobil mengisi bahan bakar kemudian menuju Waiklibang. Jaraknya hanya 28 km tetapi terasa lama lama nian karena jalan bopeng di mana-mana. Ada aspal mulus. Lebih dominan jalanan berdebu, berbatu.


***


TIDAK ada pejemput di Waiklibang. Kemana gerangan? "Hanya dua kemungkinan. Mereka sudah ke Lamanabi atau masih di Tanjung Bunga," kata Heri Ajo. Tadinya Heri bermaksud mengecek dulu ke Tanjung Bunga--tetapi mobil yang ditumpangi Frans Seda, St. Sularto dan Wandi S Brata yang berada di depan kami langsung belok kanan menuju Lamanabi. Mau tak mau kami harus membututi mereka.

Jarak Waiklibang-Lamanabi hanya sekitar 16 atau 17 kilometer. Tapi Lamanabi terasa jauh sekali. Perjalanan tertatih-tatih. Mobil kijang merayap melewati jalan sempit berbatu. Di banyak tempat batu berceceran hingga sopir harus ekstra hati-hati. Untung musim kemarau. Sulit membayangkan jalan ke sana bila musim hujan tiba. Tapi ke Lamanabi memendam pesona tersendiri. Tidak sekadar meliuk- liuk, memutar melewati punggung bukit.

Ada jalan menurun dan tikungan tajam. Juga kali kecil, hutan dan lembah serta padang luas. Rasa penat dan dahaga terobati lantaran pemandangan alam sungguh memanjakan mata. Dari ketinggian bukit kami menikmati laut biru, Pulau Adonara dan ujung Flores berdiri kokoh-kelabu. Tapi di manakah manusia? Kami tidak menemukan pemukiman penduduk sepanjang jalan itu, kecuali dua rumah sekitar 5 km sebelum Lamanabi.

Setelah merayap hampir satu jam tibalah kami di pertapaan itu. Tak disangka, Biara Lamanabi berdiri anggun di kaki bukit. Apik, penuh bunga warna-warni. Waktu hampir pukul 14.00. Suasana begitu hening. Ternyata kamilah tamu pertama siang itu. Jelas sudah penjemput masih di Tanjung Bunga. Mereka baru menyusul kami setengah jam kemudian setelah kami kenyang menikmati makan siang!

Adalah Frater David Bue, OCSO yang menyambut kami di ruang tamu biara. "Tugas saya ya.. menerima tamu. Mau tahu kenapa? Muka saya ini memang jelek, tapi saya penerima tamu terbaik sejak di Rawaseneng. Dulu, pertama kali saya terima tamu 120 orang, bibir saya sampai kejang karena harus tersenyum dengan cara berbeda. Senyum untuk orang tua beda dengan anak-anak, beda juga kalau tamunya wanita," kata frater asal Koting, Maumere tersebut. Frans Seda terbahak-bahak. St. Sularto dan Wandi terpingkal-pingkal. Lupa sudah keletihan selama perjalanan dari Waiara hampir 13 jam.

Berkisahlah pula David tentang pengalamannya sejak usia muda hidup di Biara Pertapaan Rawaseneng, Temanggung-Jawa Tengah, di Belanda dan negara lainnya. Diceritakanya juga tentang Lamanabi (biara pertapa kedua di Indonesia setelah Rawaseneng) yang fondasinya sudah ada sejak 1996 dan Frans Seda sudah pernah dua kali ke sana.
David yang jalannya tertatih-tatih ini sungguh menghibur.

Gelak-tawa membahana--mulai dari ruang tamu sampai di meja makan saat kami menikmati hidangan yang lezat, minum teh hangat serta beragam kue yang membangkitkan selera. Luar biasa! Makanan dan minuman itu disiapkan sendiri para frater dan imam penghuni Lamanabi yang seluruhnya 18 orang, tua dan muda. Ada wajah Jawa, Manado dan keturunan Tionghoa. Mereka pun akrab dengan alam.

"Kami masak pakai kayu bakar," kata David yang kala itu ditemani seorang frater asal Waibalun. "Kami biasa menerima tamu di sini, umumnya dalam rombongan. Ya, syukur kalau kami bisa meringankan beban hidup sesama," katanya. Tepat pukul 15.00 Wita, David mengajak kami ke Kapel St. Lucia untuk doa bersama penghuni biara.
Akhirnya Lamanabi kami tinggalkan sekitar pukul 16.00 dengan membawa kenangan indah di hati masing-masing. Kenangan tentang para pertapa yang tampak hidup terasing tapi tak asing dengan sesama.

Sejenak kami mampir di Larantuka. Frans Seda dan petinggi KKG bertemu Bupati dan Wakil Bupati Flotim, Drs. Simon Hayon dan Yosni Herin, S.Sos serta Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr. Kami baru tiba di Waiara pukul 21.00 Wita. Lelah! Tapi acara belum usai. Makan malam menelan waktu lebih dari satu jam. Frans Seda seolah tak pernah kehabisan cerita. Itulah jamuan terakhir kami bersama beliau karena Minggu (30/10) pagi, ia terbang ke Denpasar. Bergabung lagi dengan sahabatnya Jakob Oetama yang menunggu di sana kemudian petang harinya pulang ke Jakarta. (dion db putra/habis). Pos Kupang, Sabtu 12 November 2005

Dipublikasikan SKH Pos Kupang secara serial pada tanggal 8-12 November 2005.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/10/edisi10/1011ceber.htm

Melebihi Pilot

SEORANG bupati hasil pilihan rakyat secara langsung memilih cara ini untuk mengingatkan bawahannya yang terkenal "tukang jalan" atau doyan menggunakan SPPD. "Saya kagum pada Bapak-Ibu kepala dinas, kantor dan badan di daerah ini. Kalau dikalkulasi secara cermat, jam terbang Anda dalam sebulan saja bisa melebihi seorang pilot."
Demikian pernyataan bupati tersebut pada suatu kesempatan memimpin rapat koordinasi di kantornya. Ada kepala dinas, kantor dan badan yang wajahnya bersemu merah. Ada kepala bagian yang lirik ke sana-sini. Sejumlah orang menahan tawa. Ada pula yang tertunduk malu. Entah pura-pura atau karena sentilan bupati memang pas. Sesuai dengan kenyataan.

Rajin bepergian ke mana-mana bukan hal baru. Hari ini berada di Jakarta, besok sudah di Gorontalo. Lusa kembali via Makassar. Hari berikutnya ke Bali. Minggu depan melanglang ke Bangkok atau Singapura. Anak kecil juga tahu jumlah hari dalam sebulan maksimum 31. Namun, ada yang memakai SPPD sampai 50-an hari. Terhadap kebiasaan macam ini, pegawai atau staf mengomel dan kesal. Mereka marah, tapi tak sanggup mengamuk. Mereka tahu namun tak mungkin meraung. Mereka lebih memilih "malas tahu!".

Bukankah kisah serupa itu tersiar riuh di sini? Di beranda rumah besar Flobamora? Rasanya tidak keliru sentilan bupati di atas. Ada orang kita dengan jam terbang melebihi pilot pesawat terbang. Pola hidup hemat sekadar pemanis bibir. Belum dalam tindakan konkrit. Di kantor, komunikasi antar-bagian pakai telepon. Malas berjalan kaki meski jarak cuma 20-30 meter. Bicara per telepon berjam-jam. Telepon famili atau kolega tanpa rasa bersalah menggunakan fasilitas negara atau perusahaan. Buka kran air lupa tutup kembali. Listrik menyala malam dan siang. Aktifkan komputer untuk bermain game.

Pemborosan! Itulah kebiasaan yang hari-hari ini perlu digubris. Patut dipercakapkan lagi ketika Indonesia menjerit soal krisis pangan dan energi. Harga minyak menjulang langit. Pangan pun langka. Negeri yang sudah rapuh ini kembali terpuruk. Bangsa yang kenyang dengan prahara gizi buruk -- menerima pukulan telak terbaru. Hempasan badai yang lebih mengerikan. Siapa pun paham kalau orang lapar bisa nekat.

Sejak dua bulan terakhir harga-harga kebutuhan pokok di pasar melonjak antara 25-30 persen. Antre minyak tanah merupakan pemandangan rutin. Dan, kegundahan merebak di mana-mana ketika pekan lalu pemerintah tak sekadar memberi sinyal, tetapi memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan dinaikkan. Paling lambat akhir bulan Mei 2008. Baru rencana, antrean panjang telah mewarnai SPBU di Atambua dan Kefa.

Bukan baru sekali pemerintah mengungkap alasannya. Dengan harga rata-rata minyak 116 dolar AS per barel, beban subsidi adalah Rp 120 triliun dan lonjakan subsidi bisa menembus Rp 200 triliun. Menaikkan harga BBM tak mungkin dipending.

Besar kenaikan masih misteri. Namun, Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi memperkirakan, misalnya pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 30 persen, akan menambah orang miskin 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa (Kompas, 8 Mei 2008). Menurut data BPS, jumlah orang miskin se-Indonesia adalah 16,85 persen dari total populasi atau sekitar 36,8 juta jiwa.

Siapa dan di manakah orang miskin itu? Mereka bukan orang lain. Si miskin papa adalah anggota keluarga kita sendiri dan sebagian besar mereka ada di sini, kampung besar Nusa Tenggara Timur. Sense of crisis. Itulah yang antara lain diharapkan dari para pemimpin, para kepala atau atasan, pada level apa pun dan di instansi manapun. Juga dibutuhkan keteladanan dalam menghadapi situasi sulit dewasa ini. Maka bupati yang menyentil "tukang jalan" mestinya tahu memberi contoh bagaimana mengikis kebiasaan itu.* (email: dionbata@gmail.com)


Pos Kupang edisi Senin, 12 Mei 2008, halaman 1

Bukan Makan Siang Biasa

DI meja paling depan dekat podium berlogo burung Garuda, duduk berdampingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). SBY memakai baju safari kesukaannya. Wapres Jusuf Kalla berkemeja putih. Duet pemimpin nasional itu ditemani Presiden Komisaris Kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama, tokoh pers Rosihan Anwar, pemilik jaringan TV Trans Corp, Chairul Tandjung dan pemilik Media Group, Surya Paloh. Mereka menikmati santap siang sambil bercerita tentang macam-macam persoalan.
Di deretan meja lainnya tampak pemilik Jawa Pos Group, Dahlan Iskan, Direktur Utama RRI, Parni Hadi, Pemimpin Redaksi Kompas, Bambang Sukartiono, Karni Ilyas dari TV One, Siane Indriayani (Global TV), Rosiana Silalahi (SCTV), Olan Fatah (Radio Trijaya FM) dan para pemimpin redaksi media cetak dan elektronik lainnya. Wajah familiar dari Kabinet Indonesia Bersatu juga hadir di sana antara lain, Menko Polkam, Widodo AS, Menko Perekonomian, Budiono, Menteri Sekretaris Negara, Hatta Rajasa, Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhamad Nuh, Menteri Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi dan Kapolri Jenderal Sutanto.

Para menteri itu duduk berbaur dengan undangan. Acara jamuan makan siang sungguh jauh dari kesan formal. Suasana begitu cair. Presiden SBY mohon pengertian karena menu yang disiapkan tuan rumah ala kadarnya. Ada gado-gado. Ada nasi liwet. Ala kadar yang membanggakan karena semua produk lokal.
Acara yang lebih mirip reuni insan pers Indonesia itu tercipta di Istana Merdeka-Jakarta, hari Senin 5 Mei 2008. Para pemilik media massa, tokoh pers, pemimpin redaksi media cetak dan elektronik, anggota Dewan Pers dan pimpinan asosiasi kewartawanan hadir di sana. Jumlahnya mendekati 100 orang. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia memenuhi undangan Presiden Republik Indonesia untuk makan siang. Tentu bukan makan siang biasa.

Pertemuan dengan pemimpin media massa bukan pertama kali dalam masa kepemimpinan SBY-JK. Tetapi 5 Mei 2008 itu memiliki catatan tersendiri. Paling besar dari sisi jumlah yang diundang. Tidak dominan pemimpin media berbasis di Jakarta dan yang hadir adalah pemilik sampai pemimpin redaksi. Jelas kaya makna dalam konteks kebangsaan dan pengelolaan negara. Pemerintah memandang posisi pers strategis, menyadari perannya sebagai mitra sehingga membutuhkan pandangan media terhadap masalah bangsa dan negara. Sebuah tradisi yang perlu ditumbuhkan terus-menerus. Tentu tidak dalam konteks membungkam kebebasan pers atau mengintervensi kebijakan redaksional.

"Saya dan wakil presiden mengundang Bapak/Ibu sekalian untuk mendengar langsung dari kami tentang kondisi bangsa dan negara kita saat ini dan apa yang akan ditempuh pemerintah. Kita menghadapi masalah berat akibat krisis energi dan pangan. Kita paling merasakan dampak dari krisis global itu," kata Presiden Yudhoyono ketika menyapa undangan.

***
SAPAAN presiden itu memastikan apa yang telah diprediksi para pemimpin media ketika menerima surat dari Sekretariat Negara. Dalam surat undangan itu hanya ditulis "Jamuan Santap Siang bersama Presiden Republik Indonesia". Namun, pemimpin media massa sudah bisa menebak materi yang bakal disampaikan presiden. Presiden kemudian membeberkan secara rinci dampak krisis energi terhadap Indonesia dengan meningkatnya harga minyak hingga 116 dolar AS per barel. Pemerintah mau tak mau harus mengambil langkah tidak populer yaitu menaikkan harga BBM yang realisasinya mungkin dalam satu dua hari ini. "Setelah pertemuan ini saya akan memimpin rapat kabinet membahas rencana kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak). Pemerintah butuh bantuan media untuk mempublikasikan secara arif kepada masyarakat," kata presiden.

Setelah menjelaskan posisi dan langkah pemerintah, presiden memberi kesempatan kepada pemimpin media menyampaikan pandangan dan sikap. Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama mendapat kesempatan pertama disusul Ketua SPS, Dahlan Iskan dan Karni Ilyas dari media elektronik. "Ya, saya ini mulai dituakan sehingga diberi kesempatan pertama bicara," kata Jakob Oetama yang membuat presiden, wapres, para menteri dan undangan tersenyum. Suasana pertemuan sungguh akrab.

"Suatu kehormatan bagi kami diundang untuk mendengarkan penjelasan pemerintah. Kita memang tidak siap. Tidak siap menghadapi krisis pangan dan energi sekarang. Tetapi Bapak presiden dan wakil presiden, wartawan Indonesia adalah wartawan dengan komitmen yang kuat. Memiliki komitmen terhadap kepentingan bangsa dan negara. Jika media mengecam, mengeritik atau mengontrol jalannya pemerintahan, tetap dalam frame kepentingan bangsa dan negara. Kami memahami beban pemerintah sekarang dan menyambut ajakan bapak presiden," kata Pemimpin Umum Harian Kompas itu.

Dahlan Iskan melukiskan kondisi negara saat ini ibarat ibu yang "hamil tua". Menurutnya, rencana pemerintah menaikkan harga BBM dapat dimengerti. "Menaikkan harga BBM adalah langkah yang tidak terelakkan. Kami memahami masalah itu," kata Dahlan. Dengan harga rata-rata minyak 116 dolar AS per barel, beban subsidi pemerintah Rp 120 triliun dan lonjakan subsidi bisa menembus angka Rp 200 triliun. Hanya dengan menaikkan harga BBM, angka subsidi bisa ditekan.

Dahlan juga mengungkapkan kondisi yang dihadapi media. "Sejak bulan lalu, media massa nasional sudah mengalami kondisi yang berat dengan kenaikan harga kertas hampir 25 persen. Jika pemerintah menaikkan harga BBM lagi, kami mendapat pukulan kedua," kata Dahlan. Dahlan mau mengingatkan semua pihak bahwa tidak satu pun di negeri ini yang bebas dari dampak krisis energi dan pangan. Biaya operasional media massa cetak maupun elektronik mengalami peningkatan dua sampai tiga kali lipat. Hal senada disampaikan Karni Ilyas. Ketua ATVSI tersebut menggarisbawahi salah satu dampak kenaikan harga BBM yaitu jumlah orang miskin di Indonesia bakal bertambah. Pemerintah perlu mengambil langkah yang tepat untuk menekan jumlah kelompok miskin itu. "Masyarakat kecil paling merasakan dampak kenaikan harga BBM nanti," demikian Karni Ilyas.

Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi memperkirakan, misalnya pemerintah menaikkan harga BBM sebesar 30 persen, akan menambah orang miskin 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa (Kompas, 8 Mei 2008). Menurut data BPS, jumlah orang miskin se-Indonesia adalah 16,85 persen dari total populasi atau sekitar 36,8 juta jiwa. Jamuan makan siang di Istana Merdeka 5 Mei 2008 berlangsung akrab. Warna persaudaraan, pengertian, memahami posisi, peran serta tanggung jawab demikian kental.

Sebelum meninggalkan Istana Merdeka Senin siang itu menuju kantornya untuk memimpin rapat kabinet, Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla menyalami tamunya satu per satu. "Terima kasih sudah datang memenuhi undangan kami," kata presiden. Belum 200 meter keluar dari pintu Istana Merdeka, kemacetan lalulintas Jakarta menyambut riang. Klakson mobil dan sepeda motor bersahutan di tengah terik ibu kota. Krisis ini tidak cuma memerlukan komitmen tetapi butuh aksi nyata (dion db putra). ** Pos Kupang Minggu, 11 Mei 2008, halaman 1.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes