Ketika Listrik Tiba-tiba Padam

Perjalanan ke Nusa Kenari (3)

NULE, Pantar Timur bukan sekadar pantai berbatu dan ombaknya yang ganas. Nule tidak cuma drum-drum solar buruk rupa dan penyok. Nule mewartakan kerinduan yang kental akan pelayanan PLN yang lebih baik. Juga keluh-kesah, kritik dan harapan.

Nule siang itu 1 Agustus 2006 terasa menggetarkan hati ketika Ibu Pendeta Helen Mapada-Meta buka suara dalam dialog dengan General Manager PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur, Manerep Pasaribu.Jika Soleman Waang, Mikael Pelang, Adam Waang, Rony Liem dan tokoh masyarakat Nule lainnya berbicara tentang pelayanan PLN, Pendeta Helen bertutur tentang sesuatu yang berbeda. "Saya bicara tentang keamanan petugas PLN.

Setiap kali listrik padam, petugas terancam keselamatannya. Mereka tidak hanya diomeli atau diprotes. Seringkali mereka dipukul oleh anggota masyarakat yang kecewa," kata Pendeta Helen dengan suara serak. Helen berusaha menahan tangis. Suasana haru pun tercipta di sana. Sebagai salah seorang pemimpin jemaat di Nule, kata Helen, ia menjadi tempat berlindung petugas PLN ketika keselamatan diri dan anggota keluarganya terancam.


"Saya mohon Pak Manerep dan pimpinan PLN di Alor, tolong pikirkan cara terbaik untuk menjaga keselamatan petugas. Biarkan mereka merasa aman bekerja di daerah seperti ini," ujar Pendeta Helen Mapada.Listrik tiba-tiba padam atau terpaksa padam bergilir karena gangguan mesin yang usianya rata-rata sudah tua atau masalah teknis lainnya -- kiranya bukan hanya di Nule.

Itu masalah umum yang bisa terjadi kapan dan di manapun. Sebagaimana diakui PJ Sub Ranting Nule, Lorens Misa, dia dan operator Aris Djahalela selalu menjelaskan kepada pelanggan masalah yang terjadi. Misalnya gangguan mesin pembangkit listrik bertenaga diesel atau jaringan tertimpa pohon tumbang. Namun, tidak semua anggota masyarakat (pelanggan PLN) dapat memaklumi kenyataan tersebut dan mau memahaminya.

Bagi mereka listrik harus menyala sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kesal, kecewa dan marah jika listrik tiba-tiba padam agaknya bukan monopoli pelanggan PLN Sub Ranting Nule. Siapapun Anda -- pelanggan PLN -- memang kerap terperangkap dalam pola pikir serupa. Kita tidak mau tahu dengan urusan mesin rusak dan sebagainya. Tetapi ekspresi kekecewaan itu berujung dengan pemukulan, apakah patut?Manerep Pasaribu cukup bijak menanggapi harapan Pendeta Helen.

Manerep mengatakan, menjamin keselamatan petugas PLN bukan tugas manajemen PT PLN semata. Keselamatan operator PLTD adalah tanggung jawab masyarakat dimana PLN melayani mereka. Peran tokoh masyarakat, tokoh agama serta aparatur pemerintahan desa sangat menentukan.

"Saya percaya Bapak dan Ibu tokoh masyarakat Nule ini dapat mencari solusi bersama mengenai aspek keamanan petugas kami. Saya mohon pengertian dan bantuannya agar petugas kami bekerja tanpa rasa takut. Kami menyadari tidak mungkin pelayanan kami sempurna. Tapi jika listrik padam tentu ada alasannya. Tidak ada niat petugas kami secara sengaja mengecewakan para pelanggan," katanya.Selain soal keamanan, para operator PLTD di daerah kepulauan Kabupaten Alor menghadapi kendala lain yaitu sarana komunikasi yang tidak memadai.

Jika terjadi gangguan mesin yang tidak dapat mereka atasi, persoalan itu tidak bisa segera disampaikan kepada pimpinan Ranting di Kalabahi guna mengadirkan teknisi yang lebih mahir. "Jadi tolong pak, kalau bisa petugas di sini diberi alat komunikasi radio," kata Rony Liem. Kondisi semacam ini kurang lebih sama dirasakan pimpinan sub ranting dan operator PLTD yang berkarya di Pulau Sabu, Rote, Adonara, Solor, Lembata, Semau, Palue dan Pulau Pemana. Masalah mereka sama dan sebangun yaitu ongkos angkut BBM (solar) via laut mahal dan tergantung cuaca juga sulitnya komunikasi (via radio).

***

DIALOG di Nule siang itu sungguh berat. Berat isinya tentang kompleksitas pelayanan kelistrikan di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. Di satu sisi, tuntutan masyarakat begitu tinggi dan terus meningkat dari hari ke hari, sementara PT PLN (Persero) memiliki keterbatasan yang tak gampang diatasi. Dialog siang itu akhirnya tuntas jua.


Harus diakhiri karena perjalanan kami belum usai. "Sekarang kita ke Sub Ranting Alor kecil," kata Paul Bolla, Humas PT PLN Wilayah NTT.Kami bersalaman dengan Lorens Misa dan keluarganya, Pendeta Helen Mapada dan warga Nule lainnya yang hadir saat itu. Kami pamit dan mengucapkan selamat tinggal. Mereka mengantar kami ke pinggir pantai berbatu Nule. Sebagaimana saat tiba, kami menjalani proses "evakuasi" kedua.

Kali ini kami kembali ke kapal motor sewaan yang berlabuh sekitar 75 meter dari pantai. Semuanya berjalan lancar kendati beberapa wartawan masih juga dihinggapi rasa takut tenggelam.Setelah tali penambat dilepaskan, perahu motor putar haluan. Kini kami berlayar ke arah barat, menyisir kembali pantai Pulau Pantar yang bersih-alami.

Di atas perahu, ibu-ibu PLN Ranting Kalabahi menyambut kami dengan sajian makan siang. Baru teringat, perut kami memang sudah minta diisi. Tanpa komando -- seluruh anggota rombongan menyerbu meja hidangan. Ikan goreng segar, nasi putih dan sayur, sambal dan semua yang tersaji di sana nyaris tak tersisa. Sudah diprediksikan, ikan paling laris disambar wartawan. Berbeda dengan pelayaran sebelumnya dari Limarahing, ketika memasuki perairan Pulau Pura, kami mengitari pulau eksotik itu dari sisi yang lain. "Biar lihat Pura secara utuh," demikian Buce Lioe.

Menjelang pukul 16.30, kami tiba di dermaga Alor Kecil. Kami turun dari perahu motor sambil mengucapkan terima kasih kepada empat awaknya yang ramah. Satu unit bus dan mobil kijang sudah menanti kedatangan kami di dermaga kecil itu. Kami pun meluncur ke kantor Sub Ranting Alor Kecil yang jaraknya tidak lebih dari dua kilometer. Di sana, Ahmad Para, Arsyad Maine dan keluarganya menyambut kami dengan senyum. Selamat datang di Alor Kecil... * (Dion DB Putra, dipublikasikan Pos Kupang, 22-25 Agustus 2006).
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes