Kisah tentang Ulat Bulu

Ziarah bersama Jakob Oetama-Frans Seda (1)

WAIARA, 27 Oktober 2005. Jarum jam menunjuk pukul 12.20 Wita. Di kejauhan sana, puncak Gunung Egon berselimut kabut tipis putih. Egon sedang ramah. Kota Maumere tampak membentang luas di tengah terik matahari, di bawah hamparan nyiur melambai. Persis di depan mata, Pulau Besar, Pemana dan Pulau Babi terlihat anggun berdiri. Laut utara Flores tenang membiru. Udara bersih. Semilir angin Waiara Beach menyapu lembut wajah kami. Tapi tak ada keheningan.

Gelak tawa dan canda membahana sepanjang acara makan siang. Sungguh jauh dari suasana formal. Benar-benar bersahaja, apa adanya, kental nian aroma persahabatan dan persaudaraan. Padahal yang menyantap menu makan siang di restoran Flores Sao Resort hari itu adalah dua tokoh nasional, Frans Seda (79) dan Jakob Oetama (74) serta tamu penting lainnya dari Jakarta dan Kupang.

Buyar sudah kesan serius dari kedua tokoh tersebut. Benarlah apa yang mereka katakan bahwa perjalanan bersama selama lima hari ke Nusa Tenggara Timur (NTT), 26-30 Oktober 2005 merupakan ziarah pribadi. Perjalanan pun lebih diwarnai kisah ringan tapi bernilai tentang kepribadian, pengalaman, tentang perjuangan hidup dan persahabatan. Tanggal 27 Oktober adalah hari pertama kunjungan Frans Seda-Jakob Oetama ke Maumere atau hari kedua ziarah mereka ke NTT. Sehari sebelumnya mereka tiba di Kupang -- menyampaikan gagasan besar tentang menemukan kembali Indonesia dan bermalam.

Suasana santai sudah merebak sejak mereka tiba di Bandara Waioti dengan pesawat Trans Nusa dari Kupang. Berlanjut saat makan siang di Waiara dimana Frans Seda selaku tuan rumah riang bercerita kepada sahabatnya, Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG), Jakob Oetama serta petinggi KKG lainnya, August Parengkuan, St. Sularto, Rikard Bagun, Petrus Waworuntu, Wandi S Brata, Julius Pour dan Pemimpin Umum Pos Kupang, Damyan Godho.

***

KHASIAT ulat bulu. Itulah antara lain kisah yang mengemuka siang itu. "Ulat bulu itu makanan kesukaan saya sejak kecil. Rasanya enak sekali, Jakob," kata Frans Seda sambil tertawa lepas. Ulat bulu. Makhluk apakah itu? Nama yang tentu asing bagi Jakob Oetama. Tapi belum sempat beliau bertanya, Frans Seda segera menjelaskan tentang si ulat. "Ulat ini hidup dalam bambu," jelas Mantan Menteri Perkebunan, Menteri Keuangan dan Menteri Perhubungan RI tersebut.

Ulat bulu adalah makanan tradisional bagi sebagian masyarakat Ende- Lio, Sikka dan daerah lain di Flores. "Tapi entahlah, apakah anak- anak sekarang masih suka makan atau tidak. Saya tidak tahu," lanjut Frans Seda.

Seperti dikatakan Seda, ulat bulu hidup dalam dalam bambu, umumnya jenis bambu aur. Dalam satu rumpun bambu, perhatikan batang muda yang kurang subur. Buku-bukunya agak rapat. Ruasnya cenderung bengkok. Di sanalah hidup ulat (kepompong) berwarna putih sebesar jari kelingking anak-anak dengan panjang 3-5 cm. Masak lalu dimakan, bisa dengan sambal. Digoreng atau lawar pun jadilah. Saat masuk mulut dan dikunyah akan terdengar bunyi krik..krik.

"Apa sih khasiatnya Pak Frans?" tanya Wakil Pemimpin Umum Kompas, St. Sularto saat itu. "Oh...khasiatnya luar biasa. Itu makanan bergizi tinggi. Makanya saya sehat dan kuat sampai sekarang," kata Frans Seda yang tanggal 4 Oktober 2005 genap berusia 79 tahun.

Sisi lain Frans Seda adalah kecintaannya terhadap makanan tradisional dari kampung halamannya. Makanan khas daerah yang tidak mudah kita dapatkan sekarang ini di berbagai kota di NTT, termasuk Maumere.

Kecintaan Frans Seda terlihat jelas saat makan siang di Waiara maupun dalam acara syukuran ulang tahun di rumahnya di Maumere pada Kamis (27/10/2005) malam. Di meja makan tersaji are gau (ketupat), are merah (nasi dari beras merah), koro/horo ipu dan mbarase (sambal dengan bahan utama ikan kecil) yang mudah diperoleh di perairan Paga-Maulo'o, singkong rebus, ae mage (kuah asam-ikan) serta kura mbo (udang dan ikan dari sungai/kali).

"Pak Jakob, cobalah ini. Namanya are gau. Rasanya pasti lain, tidak sama dengan ketupat di Pulau Jawa," kata Frans Seda menunjuk are gau saat makan siang di Waiara. Jakob Oetama, tokoh kelahiran Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931 itu pun enggan menolak. "Memang enak ya.." katanya perlahan. Makan siang itu sungguh nikmat. Waktu satu jam terasa berlalu amat lekas. Pertanyaan Jakob Oetama menyadarkan kami. "Acara kita selanjutnya apa?"

"Oh, kita ke kampung dulu. Nanti terkutuk kalau saya tidak bakar lilin di kubur orangtua," kata Frans Seda kepada sahabatnya itu sambil terkekeh. Dengan tiga mobil Kijang kami meninggalkan Waiara lima belas menit menjelang pukul 14.00 Wita, melewati jembatan Napun Seda yang ambruk dihantam banjir 21 Oktober 2005. Kami menuju Lekebai, sekitar 40 km arah barat Kota Maumere. Di sinilah Frans Seda menghabiskan masa kanak-kanaknya, dibesarkan orangtua dengan cinta, dikasihi saudara dan keluarganya. Wajarlah bila ziarah perdana kedua sahabat itu ke sana. (dion db putra). Pos Kupang,Selasa 8 November 2005

Dipublikasikan SKH Pos Kupang secara serial pada tanggal 8-12 November 2005.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/10/edisi10/1011ceber.htm http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/11/edisi11/1111ceber.htm http://www.indomedia.com/poskup/2005/11/12/edisi12/1211ceber.htm

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes