Dicari, Wartawan yang Dapat Dipercaya

(Catatan yang tercecer dari Dili)

Oleh JB Kleden *

TERUS terang saja karena berbagai kesibukan, artikel yang sebenarnya diperuntukkan sebagai catatan pada peringatan Hari Pers, 9 Pebruari lalu baru diturunkan pada kesempatan ini. Artikel ini mengambil posisi dari sudut pandang pembaca yang menginginkan media massa kita tumbuh menjadi media massa berkualitas dan dicari-cari pembaca, bukan media massa mencari pembaca.

Kepada beberapa orang rekan dosen Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang dan beberapa orangtua/wali murid TK/SD Assumpta yang setiap pagi suka membaca koran di halaman Gereja St. Maria Assumpta, saya pernah bertanya pikiran apakah yang paling menggugat saudara ketika membaca koran. "Saya ingin agar berita yang ditulis di koran ini dapat dipercaya kebenarannya," jawab pak Dolar salah seorang wali murid, tanpa memalingkan matanya dari headline Pos Kupang pagi itu, "Sembilan Parpol dukung Adoe-Hurek" (PK 13/3). Sebagai orang yang masih suka menulis sebagai free-lance, saya menjadi terpana. Berita yang dapat dipercaya?

NOT just for sentimental reason. Tidak semata hanya untuk sebuah kenangan cengeng jika dalam nuansa peringatan Hari Pers 2007 ini saya mengutip sebuah memori yang kendati surut ke belakang dengan rentang masa 10 tahun, namun masih segar dalam hard disk pikiran saya. Memori itu merekam kejadian suatu hari di bulan Februari 1995 di Dili Timor Timur, ketika saya melaksanakan tugas sebagai wartawan Harian Suara Timor Timur (STT) di bumi Loro Sae itu. Ketika itu bersama Yos Lema (Redpel STT) dan Om Marcel Weter Gobang (Persda Kompas yang ditugaskan untuk membackup STT), kami dipanggil menghadap Danrem 164/WD Dili, Kol (Inf) Kiki Syahnakri di ruang kerjanya terkait artikel saya "The Death in Liquica" yang muncul di Fokus Harian Umum Suara Timor Timur, Sabtu (18/2/1995). Artikel itu berkisah tentang insiden penembakan enam warga sipil di Gariana, Liquica 12 Januari 1995 yang oleh militer Indonesia diidentifikasi sebagai GPK Fretilin. Di samping Danrem Kiki Syahnakri, ada Wagub Timtim Brigjen J Haribowo, Wadanrem Kol Inf Glenny Khairupan, juga Dan Satgaspenrem Mayor Drs. Laeden L Simbolon serta sejumlah pejabat Korem 164/WD lainnya.

Pagi hari itu, ketika hendak berangkat menuju Markas Korem 161/WD di Caicoli, pesawat 22824 si ruang redaksi berdering. "Hai, om," suara Aderito Hugo, Koordinator Peliputan STT, terdengar seperti berteriak. Kemudian ia menyerahkan gagang telepon kepada saya. "Dari Jakarta, om Valdo!". Om Valdo adalah sapaankhas kami untuk Valens Goa Doy (alm) yang ketika itu mengemudikan STT selaku Pemred dari markasnya di Jakarta.

"Jack, sudah siap menghadap Danrem? Pergi saja, tak perlu cemas. Setelah om mempelejari artikelmu, tidak ada yang keluar dari asas jurnalisme, juga tidak melenceng dari fakta lapangan hasil investigsi Tim Komnas HAM yang turun ke Liquica yang dipimpin langsung ketuanya, Ali Said. Masa depan STT tidak ditentukan oleh militer di Timtim, kendati kita tidak bisa menafikan semua itu. Masa depan STT ada di tangan Anda sendiri dan seluruh wartawan di situ. Bukan di tangan om atau Om Marcel. Dan itu bisa akan terwujud jika Anda sebagai wartawan dapat dipercayai. Jika Anda dapat dipercayai, maka STT akan dihormati. Go a head, om mendoakanmu, salam untuk Yos dan Om Marcel," setelah itu Om Valdo langsung menutup telponnya tanpa memberikan jedah sedikitpun kepada saya untuk mengomentarinya

Peristiwa itu sudah lama berselang. Mungkin ada yang bertanya, untuk apa menghadirkan sebuah peristiwa masa lalu sementara hidup menderas maju. Saya sadar, menyajikan cerita tersebut kembali setelah kurun waktu lebih dari satu dasawarsa, akan ternyata, bukan saja sudah tidak ada kaitan urgensi dan proporsinya, tetapi bahkan sangat boleh jadi sudah kehilangan idenya, sejak yang bernama ide selalu mengalami perubahan nuansa dan problema sesuai kebutuhan zaman. Lagi pula sebuah cerita masa lalu, seperti kata para ahli sejarah, tidak seluruhnya dapat dipercaya karena ia selalu merupakan cerita kepahlawanan.

Tetapi berkenaan dengan peringatan hari pers dan keinginan pembaca untuk mendapatkan berita yang dapat dipercaya, nasehat sang maestro Persda Kompas, tersebut terdengar getir. Maka dalam kerendahan hati catatan kecil yang tercecer dari Dili tersebut dihadirkan kembali dalam artikel ini dengan asumsi bahwa betapapun subyektifnya ia dapat selalu digunakan sebagai titik tolak dan sumber inspirasi hari ini bagi rekan-rekan kawula kuli tinta (yang sesuai dengan perkembangan teknologi nomen klaturnya menjadi kawula kuli flash-disket) yang dengan jujur dan sungguh-sungguh senantiasa ingin menghadirkan berita yang sungguh dapat dipercaya.

****

SECARA umum, fungsi media massa adalah mengenali dan menyajikan informasi tentang kenyataan; memilih dan menafsirkan kenyataan; menyajikan dan meneruskan nilai-nilai sosial budaya kepada generasi penerus serta memberikan hiburan. Terkait dengan itu fungsi pengasuh media (baca: wartawan) adalah mengumpulkan informasi tentang kenyataan sebagai bahan berita, mengolah dan menyunting bahan tersebut dan selanjutnya menyajikannya sebagai news kepada publik. Ada juga tajuk rencana dan catatan by line sebagai wujud dari tugas wartawan menafsirkan kenyataan.

Berita dan analisis tersebut dihadirkan dengan minimal memenuhi kriteria aktualitas, manfaat, urgensi dan kelayakannya untuk dimuat (fit to print). Kriteria fit to print dikembangkan terutama di negara yang menganut paham tanggung jawab sosial (social responsibility system). Pers yang menganut sistem ini disebut juga pers yang bebas dan bertanggung jawab. Pers Indonesia menganut paham ini (kendati ada media kepentingan yang dengan sengaja mengabaikannya). Secara substansial, berita yang dipublikasikan media adalah fakta mengenai kejadian (event), kecenderungan (trend), atau berita tentang hal-hal yang akan terjadi (estimasi) dan konteks yang terus berproses (proceeding contex).

Masalah yang dihadapi pengelola media adalah keterbatasan waktu dan ruang, mengakibatkan kenyataan yang tersebar di tengah masyarakat tidak dapat disiarkan secara menyeluruh. Ada yang dengan sengaja tidak dipublikasikan karena tidak memenuhi kriteria media yang bersangkutan. Dengan demikian gambaran kenyataan yang dipublikasikan media massa tentu saja sudah merupakan kenyataan dan kebenaran menurut versi media. Jadi sebenarnya berita-berita media (fakta media/realitas media) sesungguhnya tidak pernah secara hakiki dapat mewakili kenyataan asli (pure reality) secara penuh. Mengapa demikian?

Ada banyak alasan, tetapi yang terpokok adalah urusan praktis. Industri media tidak mau rugi. Artikel Henry B Priyono, seorang peneliti tentang voyeurisme media dari STFK Driyarkara (Kompas, 1 Oktober 2003), memberikan jawabannya. Dalam bisnis media, pembaca atau pemirsa tv bukan tujuan. Tetapi pembaca menjadi tambang emas bagi media massa. Target utamanya bukan lagi to inform, to educate, dan to entertain, tetapi bagaimana menciptakan tambang laba dari pembaca/pemirsa. Jalan pintasnya adalah memainkan kawasan basic instink manusia yang bersifat libidinal. Dan sebagaimana kita pelajari dari psikologi, tidak ada batas pada libido manusia. Inilah kawasan yang terus menerus dieksplorasi dan juga dieksploitasi para pengelola media. Apa yang menjadi tujuan utama berita bukan lagi mengungkap fakta di balik realitas seperti yang dikumandangkan, tetapi bagaimana fakta itu relevan dalam memenuhi hasrat libidinal manusia. Jadi jangan heran kalau berita perselingkuhan, gaya hidup, kriminalitas, kekerasan meraup lebih dari 50 persen halaman koran atau jam tayang televisi kita.

Kendati demikian, dalam pandangan masyarakat media massa masih tetap mempunyai pengaruh yang begitu besar dan kuat bahkan dianggap sebagai salah satu pilar penting dalam penciptaaan demokrasi. Pandangan masyarakat yang sedemikian tingginya mengenai media mengakibatkan ketergantungan yang melahirkan anggapan bahwa berita media sebagai kebenaran, apalagi kalau berita itu seragam dan monolitik (kalau pembaca cukup jeli, sesungguhnya berita seperti ini dikutip dari kantor berita atau wartawan freelance yang sama). Berita yangseragam tidak saja berperan membentuk pendapat khalayak (publik opinion) tetapi cukup berpotensi membentuk pendapat umum (general opinion).

Terbentuknya pendapat umum bukanlah sesuatu yang buruk jika ia bertumpu pada berita yang sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya (pure reality). Tetapi akan menjadi persoalan serius jika landasan terbentuknya pendapat umum adalah "realitas media" yang tidak sesuai dengan pure reality. Inilah dilema yang dihadapi media massa dan wartawan idealis yang ingin jujur dengan fakta yang ingin ditampilkan. Mereka sadar bahwa telah meracuni pikiran masyarakat secara salah, namun mereka juga tidak bisa mengelak dari tanggung jawab untuk membuat medianya menjadi media yang laris manis.

****

JIKA kita membaca tulisan by line Pos Kupang mengenai `Wajah pers kita' yang merupakan hasil refleksi para wartawan mengenai jati diri mereka berkenaan dengan peringatan Hari Pers 2007, kita akan segera menemukan benang merah hubungannya. Ternyata harapan pembaca yang saya buat secara random, agar media massa di Kupang menjadi media massa yang dapat dipercaya bukan mengada-ada.

Betapa tidak, sekadar contoh saja, jika masyarakat menginginkan demokrasi ala pilkada langsung yang mengandaikan khalayak well informed, kita akan gigit jari karena halaman media massa kita semakin banyak dibeli para calon guna menyuarakan segala urusan berkenaan `payudara asmatis' alias tetek bengek mereka mulai dari poling SMS, sampai head-line news perdamaian mereka dengan para mantan isteri mereka sekadar menunjukkan kepada publik bahwa perceraian bukan kasus amoral dan tak perlu diributkan publik.

Kalau kita bertanya kepada pengelola media, mengapa kebenaran media bisa melorot menjadi obsesi ngintip dan nggosip pada lingkup personal seperti itu, jawabannya adalah mainstream : untuk itulah kami telah dibayar. Dan di situlah koran kami laku keras. Dengan demikian kita nantinya jangan heran bila pilkada justeru akan mengantar para badut, koruptor, preman, dan tukang jagal, terpilih sebagai pejabat di Propinsi Nusa Teramat Tandus ini. Tragis memang. Juga menyedihkan karena media massa ikut punya andil mengantar mereka ke singgasana korupsi! Jadi tampaknya pendapat masyarakat bahwa media massa sebagai pilar utama demokrasi tampaknya menjadi asumsi yang terlalu mulia.

****

MAKA sebagai catatan penutup kembali saya mengajak rekan-rekan wartawan untuk menyimak nasehat Om Valdo kepada saya di atas. Perhatikan, betapa pesan singkat dan padat Om Valdo itu bermakna klausal: Jika wartawan... dan karena itu pers...". Artinya kualitas pers ditentukan oleh kualitas wartawan. Pers yang dapatdipercayai tidak akan ditentukan oleh pakar atau pasar, tetapi oleh gabungan tindakan-tindakan yang tak terbilang banyaknya yang diambil wartawan di sini dan sekarang. Jika wartawannya dapat dipercaya, maka beritanya juga dapat dipercaya, dan pers akan kembali dihormati dan dicari pelanggannya.

Perhatikan penekannya pada fakta "jika wartawannya dapat dipercaya" bukan jika wartawannya disegani atau dihormati. Kalau disegani atau dihormati di dalamnya masih ada ruang untuk dibuat-buat. Tetapi kalau dipercaya di dalamnya tidak ada ruang untuk dibuat-buat. Wartawan yang dapat dipercaya merupakan aset media yang tak lekang oleh gegap gempita perubahan karena ia merupakan resultat dari karakter, integritas dan kemampuan profesional. Dan disitulah terletak masa depan pers yang sebenanya. Karena itu, memang dicari wartawan yang dapat dipercaya.
* Penulis PNS Kanwil Departemen Agama NTT
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes