Menelusuri Museum Daerah Sulut

Patuang Toar dan Lumiuut
Di ujung lorong ditemukan peninggalan VOC dan di dekat pintu masuk museum terdapat peninggalan sejarah perjuangan sebelum dan sesudah kemerdekaan RI.

HUJAN deras baru saja membasahi kota Manado dan sekitarnya, Selasa (22/1/2013). Matahari belum berhasil menyibak lapisan mendung di langit. Tapi kegelapan itu tidak sebanding dengan kegelapan yang menyelimuti hampir semua ruangan Museum Daerah  Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Pemadaman listrik kerap dialami museum kebanggaan warga Sulut itu.

Walau demikian  terangnya sejarah bumi Toar Lumiuut ini mulai memendar dari ruangan pertama museum dari sisi kiri jalan masuk. Ruangan pertama diisi profil Provinsi Sulut dan kabupaten/kota yang tertampang penuh warna di dinding museum.  Beberapa perkakas yang biasanya dipakai masyarakat setiap daerah di Sulut memancarkan pesona tersendiri di balik kaca pameran. Bagian itu seakan menjadi prolog dalam perjalanan napak tilas terhadap sejarah umat manusia. Prolog itu berlanjut dengan pengembaraan ke masa lampau.

Sesosok patung Homo Erectus tampak berdiri tegak menunjukkan proses evolusi manusia, termasuk manusia yang menghuni bumi Minahasa. "Perjalanan evolusi  untuk saat ini berakhir pada homo sapiens," kata Robby Kolibu, salah seorang staf museum dari bagian Edukasi dan Publikasi

Perjalanan selanjutnya melewati lorong yang gelap. Lorong yang sebenarnya bercerita banyak tentang sejarah dinosaurus dan sejarah masyarakat Minahasa dahulu kala. Ruangan yang agak terang setelah bagian itu mulai bercerita lebih banyak. "Ini bagian yang banyak menunjukkan kuburan sekunder. Suatu peninggalan budaya yang dekat dengan Minahasa," tutur Kolibu lagi.

Di bagian kiri terdapat dua buah tempayan yang katanya berisi tulang belulang mereka yang telah dikuburkan lebih dahulu yang disebut Kure. Ini ditemukan di Kapitu dan Paso. Di bagian tengah terdapat sejumlah barang peninggalan almarhum yang juga diikutkan dalam kubur batu yang disebut Waruga. Robby menepis itu dipakai oleh arwah saat di alam baka. "Ini semacam peninggalan almarhum yang diminta untuk dibawa ke liang kubur. Banyak macamnya yang dibawa. Ada cincin, parang, piring dan  sebagainya,"ujar Kolibu.

Dialog pembedahan ilmu pengetahuan kemudian diperbanyak pada sebuah batu nisan yang agak menyerupai sebuah bangunan rumah. Bangunan yang terbuat dari kayu itu dinamakan Balosong. Kolibu menyebutnya lebih sebagai batu nisan. "Ada pengaruh animisme. Bisa jadi ini dianggap sebagai tempat arwah," ujarnya.

Bangunan ini memang unik. Sebuah bagian kuburan mirip Waruga tapi katanya hanya ada di Minahasa Tenggara. "Ini terekspos ketika ada kegiatan penelitian. Bangunan ini ada replikanya di Belanda dan diambil meseum nasional," kata Kasi Bimbingan Edukasi dan Preparasi Musium Sulut, Zusana Pontoh yang mendapatkan datanya dari Kasi Koleksi dan Konservasi. Lexi Nanne, SE.

Ada dua versi mengenai bangunan itu. Pertama bangunan ini merupakan kuburan, mirip Waruga. "Ini terbuat dari kayu Amurang yang keras. Bisa jadi ini menjadi tempat pesemayaman," ujar Lexi. Ada versi yang kedua, yakni jenasah dimasukkan dalam lubang kubur. Bangunan di atasnya kemudian menjadi rumah bagi arwah itu.  "Dengan ekspos di Tribun Manado, kami ingin ada peneliti atau orang yang mengerti di tengah masyarakat bisa memberi penjelasan tentang ini," tutur Lexi.

Pandangan Tribun kemudian  terarah pada barang lain di museum. Di ruangan yang sama ada lesung baru yang ditemukan di Kuala Morea. Kuat dugaan lesung batu ini merupakan tempat  mengiling emas. Di bagian lain ditemukan lesung yang lebih kecil yang biasa dipakai untuk mengiling padi.  Di dekatnya, ada dua buah batu yang sudah berbentuk. Batu itu disebut Batu Tumotowa. "Ini dipakai untuk menjaga kampung. Ada unsur mistisnya karena mereka yang masuk untuk berniat jahat tidak akan bisa masuk ke kampung itu," ujar Kolibu.

Perjalanan berakhir setelah melewati lorong sejarah masuknya umat Muslim di Minahasa yang dibawa Imam Bonjol dan Kyai Modjo. Ada beberapa marga perempuan Minahasa yang kawin mawin dengan pengikut kedua tokoh tersebut.  Di ujung lorong ditemukan peninggalan VOC dan di dekat pintu masuk museum terdapat peninggalan sejarah perjuangan sebelum dan sesudah kemerdekaan RI. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 23 Januari 2013 hal 1

Uniknya Kuburan di Siau

Jefry menunjuk kubur orangtuanya di kamar tidurnya
Kuburan kerap menyiratkan kesan angker bagi banyak orang. Kesan itu tidak berlaku bagi warga Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).

BAGI masyarakat Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara kuburan menjadi monumen kenangan, erat dengan kehidupan mereka  sehari-hari. Tak heran bila masyarakat Sitaro mendirikan kubur keluarga di pekarangan, bahkan banyak warga justru membangunnya di dalam rumah.

Bila dilihat sekilas ruangan ukuran 4 x 2 meter persegi  itu terlihat seperti kamar tidur pada umumnya. Berisi kasur, lemari, meja, sound sistem bahkan laptop.

Namun,  siapa sangka ruangan yang menjadi kamar tidur Jefry Toli (52) warga Kelurahan Paniki, Siau Barat itu juga merupakan tempat pemakaman kedua orangtua kandungnya. Kira-kira tepat setengah jengkal di bawah lantai tegel kamar itu, dua lubang sedalam dua meter sengaja dibangun untuk tempat peristirahatan terakhir jenazah Jafet Toli dan Paulina Rasubala. Jadi kamar tidur Jefry juga merupakan kuburan orangtuanya.

Untuk monumen peringatan perisitrahatan ayah ibunya, Jefry pun meletakkan dua buah nisan di dinding kamar tidurnya. Nisan itu tertulis nama sang bunda yang berpulang 9 April 1998 menyusul ayahnya 19 Januari 2004. Tepat depan kamar tidurnya itu, bahkan ia membuka usaha air mineral isi ulang. Di samping kamarnya ada warung yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Apa motivasi hingga Jefry berbuat demikian? Menurut dia, memakamkan kerabat keluarga dekat dengan tempat tinggal sudah merupakan adat istiadat masyarakat  Siau. Bahkan bukan hanya ia sendiri yang memakamkan jenazah dalam rumah, banyak warga Siau melakukan hal serupa.

"Kalau tanya ke saya kenapa, saya merasa bahwa kebaikan dari orangtua sangat berlebih. Apa yang bisa saya balas? Saya merasa belum sempat bahagiakan, orangtua sudah meninggal. Bagaimana caranya saya harus istimewakan tempat peristirahatan mereka, sehingga diputuskan bangun di dalam rumah," kata tokoh masyarakat Kelurahan Paniki itu.

Lagi pula, kata Jefry, saat masih hidupp orangtuanya sudah berpesan untuk dimakamkan berdampingan dekat dengan rumah. Sejak lama, Jefry meletakkan kasur untuk alas ia tidur, tepat di atas kuburan oran tuanya, namun tak sekalipun ia merasa terusik atau takut. Baginya orang yang telah mati raganya tak lagi berdaya, sementara jiwanya kembali ke Sang Khalik. "Sudah lama saya tidur di kamar itu, belum pernah mimpi atau orang bilang penampakan. Saya juga tidak takut," katanya.
Salah satu model kubur di pekarangan rumah warga Siau

Dari pantauan Tribun Manado selama perjalanan di Siau, hampir tak ditemui tempat pemakaman umum. Rata-rata tiap rumah punya kubur di pekarangan, ada juga yang meletakkan makam di teras rumah. Namun sebagian besar warga memilih pekarangan sebagai tempat favorit. Seperti  dilakukan Djamaludin Djumaati, warga Desa Paniki lainnya. Ia menempatkan bangunan makam anaknya David Richard Djumaati di samping kanan pekarangan rumah.

Bangunan tegel warna merah muda itu nampak masih baru, David meninggal 25 Februari 2013. Pemuda itu merupakan korban kekerasan kakak kelas di sekolah pelayaran Akademi Maritim Djadajat, Jakarta. Bangunannya sudah hampir selesai, ia tinggal meletakkan batu nisan tertera nama almarhum David. Kini makam David menjadi monumen memori bagi keluarga. Kata Djamaludin ia membangun makam anaknya di samping rumah karena sudah menjadi kebiasan masyarakat Siau sejak dulu.  Keuntungan lainnya, lokasi hanya di pekarangan hingga makam bisa dirawat dengan baik.  "Makam kalau sudah jauh biasanya kebersihannya sulit dijaga, kalau dekat bisa dibersihkan tiap hari," ucapnya.

Tempat Santai Keluarga


Tradisi masyarakat Sitaro memakamkan jenazah keluarga di pekarangan rumah sudah berlangsung turun-temurun. Seiring waktu berjalan, tradisi itu tetap terjaga, namun bangunan makam tak lepas dari sentuhan modernisasi bahkan sudah memperhatikan estetika. Tak jarang makam justru menjadi tempat bersantai keluarga.

Hari Rabu (12/6/2013) siang itu, keluarga Bogar di Kelurahan Paniki, Siau Barat dirundung duka. James Teddy Bogar (60) salah satu anggota keluarga berpulang ke pangkuan Sang Khalik. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Siau, jenazah James akan dikebumikan di pekarangan belakang rumah. Setidaknya tepat di depan  pekarangan rumah sederhana itu sudah ada tiga bangunan makam berjejer milik kerabat keluarga. Seperti kubur lazimnya, bangunannya terbuat dari beton berlapis tegel putih, lengkap dengan nisan dengan arca berbentuk salib.

Konsep bentuk makam semacam itu memang banyak ditemui di daerah Siau. Menurut Welhem Kahempe (63), tokoh masyarakat desa Paniki, konsep makam seperti itu  sudah bertranformasi dari bentuk zaman dulu, sewaktu Siau masih berbentuk kerajaan.

Kata Welhem, dulu kala bentuk makam masyarakat Siau khususnya para bangsawan menggunakan konsep yang disebut kubur palajawa  yakni sebuah bangunan kubur berbentuk empat persegi. Ia mengatakan, bila masyarakat Minahasa punya kubur waruga, di Siau disebut palajawa.

Kubur palajawa bisa disebut kuburan massal. Sebuah bangunan palajawa bahkan kata Welhem pernah ada memakamkan 45 jenazah anggota keluarga. Lokasinya tetap berada di pekarangan rumah."Jadi itu kubur keluarga besar, bila ada anggota yang meninggal diletakkan dalam palawija lengkap dengan peti. Di kemudian hari ada lagi yang meninggal tulang belulang anggota yang di dalam digeser, diletakkan lagi yang baru. Terus seperti itu," kata dia.

Sekarang, lanjut Welhem,  konsep makam seperti itu sudah tidak digunakan lagi. Hanya sisa-sisa kubur palajawa  masih terlihat meski sudah dimakan waktu. Tak bisa dipungkiri kesan angker tetap melekat.

Bentuk Minimalis
Pemerintah daerah Siau sejak lama mendorong masyarakat untuk menggunakan tempat pemakaman umum (TPU), namun hanya sebagian kecil memanfaatkan fasilitas TPU. Kalaupun memilih lokasi jauh dari pekarangan, warga menyiapkan tanah pribadi untuk lokasi khusus  pemakaman anggota keluarga. Ketimbang melawan arus tradisi, pemerintah menganjurkan kalau ingin bangun makam di pekarangan dibuatlah dengan memperhatikan estetika.

Transformasi bangunan kubur pun dibuat lebih fleksibel. Menurut Angky Manumpahi, warga Siau, selain untuk monumen peringatan, kubur di Siau  berfungsi sebagai tempat bersantai keluarga.

Bahkan kata Angky, ada bangunan kubur keluarganya dibuat dengan desain modern minimalis. "Ada kubur keluarga saya dibuat minimalis, selain enak dilihat tidak berkesan angker, bisa juga jadi tempat bersantai penghuni rumah," kata dia.
Seperti amatan Tribun di makam salah satu warga paniki. Makam tersebut dibangun di teras samping rumah. Seperti umumnya, makam lengkap dengan nisan, ditambahkan pula lukisan bertema rohani. Suasana cukup nyaman, karena dilapisi tegel putih bersih hingga memungkinkan untuk bersantai bahkan untuk berbaring.


Bagi khalayak umumnya, kata Angky,  memang hal semacam itu tidak lazim,  namun bagi masyarakat Siau hal itu sudah tradisi yang sulit lepas. Maknanya, kata dia, kehidupan dan kematian itu merupakan bagian utuh dalam perjalanan hidup manusia. Kematian sedari awal memang sudah ditentukan oleh Sang Khalik "Kita semua tetap akan menuju ke sana (kematian)," ujarnya. (riyo noor)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 15-16 Juni 2013 hal 1

CNR: Selamat untuk JWS

ilustrasi
TONDANO, TONDANO -  Calon Bupati dari koalisi Partai Golkar dan Partai Demokrat  Careig N Runtu (CNR) mengucapkan selamat kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Minahasa terpilih, Drs Janjte W Sajouw (JWS) - Ivan Sarundajang (Ivansa).

Saat diwawancarai Tribun Manado, Jumat (18/1/2013), CNR mengatakan menerima keputusan majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak semua gugatan pihaknya pada sidang pembacaan putusan di Jakarta, Jumat (18/1/2013). Menurutnya keputusan hakim MK adalah keputusan akhir yang harus diterima semua pihak.

CNR mengatakan tidak merasa kecewa atas hasil negatif yang didapat dalam persidangan sengketa Pemilukada Minahasa tersebut. CNR tetap bersyukur saat mendengar informasi kalau majelis hakim MK menolak gugatan mereka.
"Saya tetap merasa bersyukur atas hasil yang dicapai saat ini. Saya mengucapkan selamat pada Bupati dan Wakil Bupati terpilih," ujarnya.

CNR yang juga adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Minahasa ini  bahkan menjelaskan, setelah putusan MK ini dia meminta semua warga Minahasa untuk memberikan dukungan kepada pasangan pemimpin baru JWS-Ivansa. Menurutnya tugas Bupati dan Wakil Bupati Minahasa periode 2013-2018 adalah melaksanakan program demi mensejahterakan masyarakat.

"Banyak tugas yang harus dilakukan JWS-Ivansa dalam melaksanakan program membangun Minahasa. Semua warga harus bisa mendukung pemimpin Minahasa yang baru," ujarnya.

Ketua DPD Partai Golkar Sulut, Drs Stefanus Vreeke Runtu (SVR) mengatakan pihaknya juga menerima putusan dari MK tersebut. Menurutnya, keputusan itu adalah akhir dari tahapan demokrasi di Minahasa. Menurutnya semua pihak harus bisa menerima keputusan tersebut.

"Keputusan yang diambil MK adalah keputusan terakhir dalam momen pemilukada. Apapun keputusan itu harus dihormati oleh siapa saja. Kita tidak bisa lagi memperdebatkan keputusan MK karena itu sudah final," ujarnya.

Sukacita JWS
Calon Bupati Minahasa terpilih, Drs Jantje W Sajouw MSi (JWS) mengatakan, setelah mendengar putusan MK dirinya sangat lega dan dipenuhi sukacita. "Saat ini saya dipenuhi rasa sukacita sekaligus syukur karena putusan MK sesuai dengan harapan kami. Semua terasa lega saat mendengar majelis hakim menyatakan menolak gugatan pemohon. Artinya tidak ada perubahan dari hasil yang telah ditetapkan KPU Minahasa," ujarnya kepada Tribun Manado, Jumat (18/1).

JWS menjelaskan, sejak awal dirinya memang optimistis akan mendapat hasil positif dalam perkara tersebut. Menurutnya, apa yang dicapai saat itu adalah bagian dari anugerah Tuhan dalam kehidupannya. "Tahapan sidang telah selesai dan tidak ada lagi yang perlu dirisaukan. Majelis hakim menyatakan tidak ada pelanggaran dalam Pemilukada Minahasa," ujarnya.

Seperti diberitakan dalam rapat pleno KPU Minahasa, Senin (17/12/2012) lalu, pasangan Jantje W Sajouw dan Ivan Sarundajang (JWS- Ivansa) ditetapkan sebagai calon yang yang meraih suara terbanyak dalam Pemilukada Minahasa 12 Desember 2012. Pada rekapitulasi perhitungan suara, pasangan JWS-Ivansa berhasil meraih suara terbanyak yaitu 78.521 suara atau 36,96 persen. Pasangan Careig N Runtu- Denie J Tombeng berada di urutan kedua dengan perolehan 75.326 suara (35,45 persen) dan pasangan Hangky A Gerungan-Recky J Montong (HAG-RJM) di urutan ketiga dengan 55.223 suara (25,99 persen).

Adapun hasil lengkap rekapitulasi perhitungan suara Pemilukada Minahasa untuk kelima pasangan calon sesuai nomor urut adalah sebagai berikut. AFN-JJM meraih 817 suara (0,38 persen), HAG-RJM meraih 55.223 suara (25,99 persen), CNR-DJT meraih 75.326 suara (35,45 persen), pasangan JWS-Ivansa 78.521 suara (36,96 persen) dan pasangan Kamang 2.585 suara (1,22 persen).  (luc)

Tak Disertai Bukti Kuat


MAJELIS hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menolak sepenuhnya gugatan dari tim Careig N Runtu-Denny J Tombeng (CNR-DJT). Dalam pembacaan putusan kemarin, majelis hakim MK  yang terdiri dari Ahmad Sodiki, Ahmad Fadil Sumadi dan Anwar Usman menilai dalil gugatan yang disampaikan pemohon tidak disertai bukti yang kuat

Majelis hakim menyatakan, berdasarkan penilaian dan fakta hukum tersebut, menurut mahkamah tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa telah terjadi money politic yang dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan masif oleh pihak terkait sebagaimana didalilkan pemohon. Dengan demikian mahkamah berpendapat dalil pemohon tidak beralasan menurut hukum.

"Menimbang bahwa tentang adanya pelanggaran lainnya, menurut mahkamah, dalil pemohon a quo juga tidak dibuktikan dengan bukti yang cukup meyakinkan bahwa pelanggaran tersebut terjadi secara sistematis, terstruktur, dan masif yang secara signifikan mempengaruhi perolehan suara pemohon sehingga melampaui perolehan suara pihak terkait. Oleh karena itu, menurut Mahkamah, dalil Pemohon tersebut tidak terbukti dan tidak beralasan menurut hukum," demikian majelis hakim MK dalam putusannya yang dibacakan dalam sidang itu. Dalam amar putusannya seperti dikutip dari laman  MK (www.mahkamahkonstitusi.go.id), majelis hakim MK menyatakan menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya.

Tujuh hakim hadir dalam  Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi Terbuka untuk umum pada hari Jumat kemarin yakni Achmad Sodiki, selaku letua merangkap
anggota,  Harjono, Ahmad Fadlil Sumadi, Muhammad Alim, Maria Farida Indrati,
Anwar Usman, dan Hamdan Zoelva, masing-masing sebagai anggota. Didampingi Achmad Edi Subiyanto sebagai panitera pengganti serta dihadiri pemohon dan atau kuasanya, termohon dan atau kuasanya, pihak terkait dan atau kuasanya.

Anggota KPU Kabupaten Minahasa, Decky Paseki saat dihubungi Tribun Manado menjelaskan, dalam pembacaan putusan tersebut majelis hakim mencontohkan dalil soal politik uang yang tidak disertai bukti akurat. Selain itu, majelis hakim juga mengatakan, tunduhan soal politisasi APBD Sulut juga tidak dibuktikan.
"Intinya dalam putusan tersebut, majelis hakim menganggap apa yang dituduhkan pihak CNR-DJT tidak memiliki bukti yang kuat. Majelis hakim menolak sepenuhnya tuntutan dari pihak pemohon," ujarnya.

Dalam pelaksanaan sidang sebelumnya, tim CNR-DJT menyorot beberapa hal, seperti dugaan kesalahan prosedur perubahan DPT, politisasi APBD Provinsi Sulut, upaya sistematis Gubernur Sulut mengumpulkan hukumtua dan pemberian uang  kepada hukumtua serta beberapa dugaan penyimpangan lainnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Manado, dalam persidangan tersebut tidak tampak pasangan CNR-DJT. Mereka hanya diwakili  tim kuasa hukum yang diketuai Daniel Tonapa Masiku. Saat majelis hakim menyatakan menolak gugatan pemohon, JWS  yang saat itu ditemani istri beberapa pengurus Komisi Remaja Sinode GMIM  tersenyum lega. Mereka selanjutnya doa bersama. (luc)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 19 Januari 2013 hal 1

Konsul Marseille Merasa Tertipu

BENSON Rea, mantan Konsul Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Marseille, Prancis, merasa tertipu oleh Rektor Universitas Negeri Manado (Unima) Prof Dr Philoteus Tuerah DEA dan Prof Dr MIJ Umboh DEA. Program studi pascasarjana Competitive Intelligence (CI) Unima angkatan 2010/2011 juga diikuti putrinya. Hal itu diungkapkan Ade Yulita Rea, putri Benson, kepada Tribun Manado, Rabu (16/1/2013).

Ade menceritakan, pada 2008 ia pergi ke Marseille, Prancis, untuk melanjutkan studi di sana. Saat itu ayahnya yang menjabat sebagai Konsul Jenderal di Marseille sejak 2007 mengajak dia kuliah di sana. Sepakat dengan sang ayah, Ade mulai kursus bahasa Prancis sebelum mendaftar kuliah.

"Saat sudah hampir selesai kursus, pada 2010 datang Rektor Tuerah dan Prof Umboh (Ketua Program Studi CI Unima). Kebetulan mereka akan mengurus perpanjangan kerja sama dengan Paul Cezanne University Aix Marseille III (UPCAM). Kebetulan ayah saya menjadi penghubung antara mereka dengan pihak universitas Aix Marseille. Mereka kemudian menawarkan kepada ayah, bila punya anak yang mau kuliah bisa kuliah di Unima jurusan CI," kata dia.

Lanjut Ade, ayahnya kemudian memintanya kuliah di Unima karena program studi tersebut. Sesuai pemaparan Tuerah dan Umboh kepada ayahnya, prodi tersebut dapat ditempuh hanya setahun. Selain itu lulusan akan mendapat ijazah yang diakui di Indonesia dan Prancis atau two degree. Biaya kuliah juga tergolong ringan karena dapat bantuan dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti).

Ade yang tinggal enam bulan lagi menyelesaikan kursus bahasa Prancis dan ingin melanjutkan studi S-2 CI di Prancis akhirnya mengikuti tawaran sang ayah. Maka pada tahun 2010 ia kembali ke Indonesia dan menuju Sulawesi Utara yang sebelumnya belum pernah ia pijakkan kakinya. Di Sulut, Ade langsung diantar ke rumah Rosdiana Tuerah, adik Rektor Tuerah, di Matani, Tomohon. Ia tinggal secara kos di sana selama setahun. Selama itu pula ia menjalani kuliah baik di Manado maupun di Tondano.

Namun harapan mendapatkan gelar master CI dari Unima pupus jelang ujian tesis. Ketidakpastian dari pihak Unima membuat ia menelusuri penyebab hingga ke Prancis. Melalui korespondensi surat elektronik (email) kepada Prof Henry Dou yang beberapa kali menjadi dosen utusan University Aix Marseille ia mendapati bahwa program studi tersebut sudah tak ada lagi di Unima.

"Ayah saya heran mengapa mereka (Tuerah dan Umboh) menawarkan studi kepada saya sementara program studi tersebut sudah berakhir. Saya sendiri heran ayah saya yang seorang konjen bisa tertipu," ujar dia. Menurut dia, pernyataan Rektor Tuerah yang mengaku tidak tahu ada penerimaan mahasiswa angkata 2010/2011 tidak masuk akal. Hal itu merujuk pada kunjungan Tuerah dan Umboh kepada ayahnya dan ia sempat tinggal di rumah saudara Rektor Tuerah. "Saya sangat kecewa. Dia seorang guru besar seharusnya tidak seperti itu. Dan saya juga menyesalkan ungkapan Prof Umboh yang menyebut kami sebagai mahasiswa sial," kata Ade.

Kekecewaan juga dirasakan Jeffry Montolalu. Ia menganggap alasan Rektor Tuerah mengada-ada. Seingat dia, Rektor Tuerah sempat menemani Prof Henry Dou yang hadir memberi kuliah dirinya dan teman-temannya pada Januari 2011. Kala itu Prof Henry Dou baru saja memberi ujian tesis bagi mahasiswa angkatan 2009/2010.
"Saat itu Prof Dou mengajar kami hanya sehari. Sesuai jadwal seharusnya ia mengajar kami dua pekan. Karena kecewa ia cepat pulang. Kami yakin selama kehadirannya saat itu Rektor Tuerah tahu," ungkapnya.

Lanjut Jeffry, alasan Prof Umboh yang menyebut program studi tidak bisa diteruskan karena mereka tidak terdaftar sebagai mahasiswa di Unima juga mengada-ada. Pasalnya, selain menandatangani surat keterangan dirinya sebagai mahasiswa pada 9 Februari 2011, Prof Umboh juga menerima uang 550 Euro untuk pendaftaran mahasiswa di gedung Sisdiksat Unima. Penerimaan uang tersebut juga tertuang dalam kuitansi. Surat keterangan dan kuitansi tersebut Jeffry perlihatkan juga kepada Tribun Manado. "Dua bukti ini saja sudah cukup menjelaskan bahwa kami ini mahasiswa Unima," kata dia.

Saat diwawancarai Tribun Manado, Selasa (15/1/2013),  Rektor  Unima, Prof Dr Philoteus  EA Tuerah  mengatakan, kerja sama Unima dengan UPCAM, Prancis telah berakhir sejak ajaran 2009/2010.  Tuerah menjelaskan,  kerja sama itu terhenti karena pada tahun ajaran 2009/2010 tidak ada lagi mahasiswa yang mendaftar. 

"Program kerja sama ini telah berakhir karena tidak ada mahasiswa yang mendaftar. Pada angkatan terakhir ada 16 mahasiswa yang mendaftar, dan saya telah mengambil ijazah mereka di Prancis," ujarnya. Saat ditanya bagaimana bisa terjadi masih ada mahasiswa yang terdaftar dan mengikuti perkuliahan, Tuerah mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Dia bahkan mengaku bingung mengapa masih ada yang mendaftar. Dia  menegaskan,  adanya mahasiswa yang terdaftar dalam program ini di luar pengetahuan Unima.

Sedangkan Ketua Prodi CI, Prof Dr MIJ Umboh yang dihubungi, Selasa (15/1/2013). mengatakan  hambatan utama terhentinya program studi dan batalnya ujian tesis karena mahasiswa tidak terdaftar sebagai mahasiswa Unima. "Kita harus ikut aturan. Kan aneh jika mereka belum terdaftar sebagai mahasiswa kemudian akan ujian tesis. Ini sudah standar dan ketentuan dari Dikti. Mereka  meminta kami mengurus asalkan mereka juga kerja sama. Tidak sulit kok mendaftar sebagai mahasiswa Unima," kata dia.

Berbeda dengan informasi Aix Marseille, Prof Umboh menyebut  kerja sama program CI  baru berakhir pada tahun ajaran 2012/2013. Itu setelah Rektor Tuerah berangkat ke Prancis dan menanyakan lagi kerja sama. "Mungkin ini karena faktor sial. Mereka (mahasiswa) sial saja. Ini juga karena pengaruh politik di sana. Selain itu kepala profesornya juga sudah meninggal," ungkapnya. (max)

Dosen Minta Macam-macam


MANTAN Ketua Bagian Kerjasama Luar Negeri Unima, Prof Dr Irene Umboh  menjelaskan pelaksanaan program pascasarjana dengan Universitas  Aix Marseille  digagas mantan Gubernur Sulut, AJ Sondakh dan Rektor Unima saat ini, Prof  Tuerah. Program ini dimulai sejak tahun 2002 yang tertuang dalam  nota kesepahaman antara Unima dan Universitas Aix.

Menurutnya, pada tahun pertama ada sekitar 20 mahasiswa yang daftar. Mereka menerima materi  kuliah dari dosen asal Prancis dan dosen Unima.  Umboh yang pensiun sejak tahun lalu ini mengakui ada masalah dalam kerjasama tersebut. Dia menyebut  dua penyebab utama program  itu tidak lagi  berlanjut.

Pertama, mahasiswa hanya mendaftarkan diri di Universitas Aix Marseille. Seharusnya mereka  juga mendaftar di Unima. Hal ini perlu  karena walaupun ijazah didapat dari Universitas Aix namun perkuliahan berlangsung di Unima.
"Setelah kami periksa, ternyata mahasiswa hanya mendaftarkan diri di Universitas Marseille. Padahal pada angkatan sebelumnya, semua mahasiswa mendaftar pada dua pihak," ujar Umboh kepada Tribun Manado, Rabu (16/1/2013).

Masalah kedua, kata dia, dosen dari Prancis mulai menuntut macam-macam. Menurutnya, sejak awal program itu, dosen dari Prancis yang datang ke Unima hanya dibiayai transport dan akomodasi. Namun, belakangan mereka menuntut bayaran per jam saat mengajar. "Mereka mulai minta yang aneh-aneh," ujarnya.
Umboh mengatakan, dalam nota kesepahaman  tidak diatur kalau pengajar dari Prancis harus mendapat bayaran per jam. Unima tidak mau melakukan hal di luar kesepakatan yang ditandatangani. Akumulasi dari dua masalah ini yang menyebabkan kerja sama itu terhenti namun masih ada mahasiswa yang terdaftar.
Saat ditanya mengapa masih ada proses belajar mengajar walau kerja sama telah berakhir, Umboh mengatakan hal tersebut dilakukan karena Unima masih berupaya menjalin kembali kerja sama dengan Universitas Aix  Marsaille. Menurutnya, sambil menunggu peluang itu, mahasiswa yang terlanjur mendaftar tetap mengikuti perkuliahan Prodi CI. "Pak Rektor (Tuerah) mencoba berbicara langsung dengan pimpinan  Universitas Marsaille pada November silam, namun tidak ada kata sepakat. Mahasiswa yang mendaftar masih tetap kami layani untuk perkuliahan dengan dosen dari Unima," ujarnya.

Profesor bidang biologi ini menjelaskan, karena program kerja sama itu sulit  diwujudkan, Unima berupaya mengalihkan semua mahasiswa yang terlanjur mendaftar pada program pascasarjana Unima. Namun masalah muncul karena semua mahasiswa ini tidak pernah mendaftar di Unima.

 "Ini buntut dari tindakan mahasiswa yang tidak mendaftar di Unima. Kami mencoba mengalihkan mereka ke program pasca sarjana Unima, namun tidak mungkin dilakukan karena mereka tidak terdaftar di Unima. Bagaimana bisa kami melakukan ujian pada orang yang tidak terdaftar," ujarnya. Umboh menjelaskan, cara agar mahasiswa bisa menyelesaikan studi strata dua mereka adalah mendaftar di Unima. Menurutnya, perkuliahan telah dilakukan dan tinggal mengikuti ujian. Jika telah terdaftar maka masih ada jalan keluar yang bisa ditempuh.

Tuntutan Prancis

Ada sejumlah tuntutan pihak Universitas Aix Marseille yang tidak dapat dipenuhi Unima sehingga program studi (prodi) tersebut berhenti. Tuntutan tersebut diungkapkan Prof Henry Dou melalui surat elektroniknya kepada Ade Yulita Rea tertanggal 10 Mei 2012.  Henry Dou merupakan bapak pendiri CI World. Selain sebagai guru besar program studi CI di Prancis, ia juga merupakan penasihat ekonomi Prancis. Dalam surat kepada Ade, Dou menyatakan keprihatinannya karena baik Rektor Prof Philoteus Tuerah dan Prof MIJ Umboh tidak pernah menyampaikan kepada mahasiswa bahwa program itu telah berhenti sejak 2009.


Adapun mengapa Universitas Aix Marseille menghentikan kerja sama, menurut surat Dou, karena Unima tidak mengirimkan data lengkap mahasiswa, riwayat hidup para pengajar dan silabus pendidikan program studi CI di Unima, sesuai standar yang berlaku di Aix Marseille. Tuntutan tersebut tidak terpenuhi selama lima tahun kehadiran prodi CI di Unima. Karena tidak ada data yang masuk pihak Aix Marseille akhirnya membatalkan ujian tesis bagi angkatan 2010/2011.

Dou juga menulis bahwa kerja sama dapat dilanjutkan jika ada mahasiswa peserta CI serta ada doktor atau profesor lulusan CI Economic dari Unima serta data lengkap mahasiwa dan dosen. Email kepada Ade tersebut ia teruskan juga kepada Rektor Tuerah dan Prof Umboh. (luc/max)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 17 Januari 2013 hal 1

Frangky Malu Belum Raih Master CI

ilustrasi
SEJUMLAH mahasiswa pascasarjana Competitive Intelligence (CI) Universitas Negeri Manado (Unima) angkatan 2010/2011 bingung. Sudah dua tahun mereka belum dapat menyelesaikan studi magisterialnya. Di tengah perjalanan program studi (prodi)  tersebut dinyatakan berakhir dan ditutup.

Datang ke kantor Tribun Manado, Selasa (15/1/2013), lima mahasiswa CI mengungkapkan bahwa mereka sudah mempersiapkan ujian tesis. Dua kali waktu ujian disampaikan Rektor Philoteus Tuerah namun tidak juga terwujud.

"Keluarga sempat menggelar ibadah untuk persiapan saya ikut ujian. Sekitar satu kolom jemaat hadir dalam ibadah itu," ujar Stevanny Gumalang.
Mahasiswa asal Tomohon itu ikut program CI bersama istrinya, Chichilya Sondakh. Sebelum aktif kuliah ia mengembangkan usaha furnitur. "Usaha itu berhenti karena kami fokus di kuliah," ungkapnya.

Adapun Frangky Manoppo bingung saat keluarga bertanya kapan studinya selesai. Ia merasa malu karena orang-orang yang ia kenal selalu menanyakan kelulusannya. Kata dia, dirinya tertarik kuliah atas tawaran teman yang sudah selesai studi CI. Sebagai karyawan swasta ia termotivasi karena gelar yang akan diperoleh bisa mendatangkan pekerjaan yang lebih baik. "Saya sempat berpikir berhenti kerja dan fokus kuliah. Meski tak sempat berhenti, saya merasa malu karena banyak yang tahu saya kuliah S-2. Ini bukan masalah uang," ungkapnya.

Jeffry Montolalu mengatakan, dirinya dan teman-temannya sudah siap menjalani ujian tesis.  Pertama kali mereka mendapat kabar dari Rektor Tuerah pada April 2012 bahwa ujian akan digelar pada 9 Mei. Selanjutnya sekitar akhir Mei mereka kembali dikabari akan ujian pada 15 Juni 2012.

"Kami tahu ujian batal digelar setelah bertanya ke bagian administrasi. Ternyata bagian administrasi tidak tahu. Saat kami tanyakan ke Prof  Dr MIJ Umboh (ketua prodi), beliau meminta kami tanya ke rektor. Begitu kami tanya ke rektor, beliau bilang, Prancis belum datang," ujarnya.

Lanjut Jeffry, bukan hanya angkatan 2010/2011 yang bingung atas kelanjutan studi CI melainkan juga angkatan 2011/2012. Setahu dia, ada tiga mahasiswa pascasarjana angkatan 2011/2012 yang menantikan proses studi. Sebagai mahasiswa CI, Jeffry dan kawan-kawan sempat menjalani kuliah tatap muka di kampus Pascasarjana Unima di kompleks Universitas Sam Ratulangi Manado.
Semester pertama mereka kuliah selama empat atau lima hari dalam sepekan. Mereka mendapat materi kuliah di antaranya dari Dr Bambang Hermanto, Prof Dr Frangky Tulungen (anggota KPU Sulut), Prof Gerungan, Dr Herdy Liow (Sekretaris Program Studi), Prof  Dr AJ Lonan, Prof Waworoentoe, Dr Robert Winerungan. Rektor Tuerah juga masuk dalam jajaran dosen namun matakuliah yang diajarkannya diwakilkan kepada Herdy Liow.

Mereka yang lulus CI akan mendapat gelar MSc. Sebelumnya para lulusan mendapat gelar dari Prancis, DEA (diplôme d'études approfondies) seperti disandang Wali Kota Manado GSV Lumentut dan Rektor Unima Philoteus Tuerah. Lulusan CI juga sebelumnya mendapat gelar MEng.

Untuk menjadi mahasiswa mereka harus menyetor biaya 550 Euro (sekitar Rp 7 juta). Kata Jeffry, mereka pun seharusnya membayar SPP namun belum sempat menyetor. Pasalnya, sesuai keterangan dari bagian administrasi biaya SPP dibayar jelang ujian. Hal itu juga berlaku pada angkatan-angkatan sebelumnya.

"Setelah kuliah dan mendapat nilai dari para dosen, kami merasa proses perkuliahan ini hanya pura-pura karena program studi ini tidak ada lagi," kata Jeffry. Dia dan teman-temannya menyesalkan sikap Rektor Tuerah dan Prof Umboh yang tidak berterus terang bahwa program studi tersebut sudah berakhir. Selama informasi pasti tidak disampaikan, mereka anggap program studi dan perkuliahan tetap ada.

Telusuri ke Prancis
Karena merasa janggal Jeffry pun menghubungi pihak Universitas Aix Marseille pada 16 November 2012. Di situlah ia mendapati jawaban bahwa kerja sama program studi CI antara Unima dan Universitas Aix Marseille sudah berakhir. Email balasan tertanggal 22 Desember 2012 dari Gaëlle Flouw selaku penanggung jawab hubungan internasional Universitas Aix Marseille menyebut bahwa kerja sama program studi tersebut sudah berakhir tahun ajaran 2009/2010.

Penelusuran ke Prancis juga dilakukan Ade Yulita Rea yang fasih berbahasa Prancis. Dari Prof Henry Dou yang beberapa kali menjadi dosen utusan Aix Marseille, ia mendapati jawaban bahwa perjanjian kerja sama lanjutan antara Unima dan Aix Marseille tidak disepakati.  Alasannya, pihak Aix Marseille beberapa kali bertanya kepada Prof Umboh dan Rektor Tuerah tentang standar dan kualitas yang telah ditentukan namun tidak terpenuhi. Akibatnya pihak Aix Marseille memutuskan tidak lagi menerima mahasiswa CI dan membatalkan ujian tesis.


Namun alasan pihak Aix Marseille tersebut tidak disebutkan Prof Dr MIJ Umboh yang dihubungi terpisah, Selasa (15/1). Kepada Tribun ia mengatakan  hambatan utama terhentinya program studi dan batalnya ujian tesis karena mahasiswa tidak terdaftar sebagai mahasiswa Unima.

"Kita harus ikut aturan. Kan aneh jika mereka belum terdaftar sebagai mahasiswa kemudian akan ujian tesis. Ini sudah standar dan ketentuan dari Dikti. Mereka meminta kami mengurus asalkan mereka juga kerja sama. Tidak sulit kok mendaftar sebagai mahasiswa Unima," kata dia.

Berbeda dengan informasi Aix Marseille, Prof Umboh menyebut  kerja sama program CI tersebut baru berakhir pada tahun ajaran 2012/2013. Itu setelah Rektor Tuerah berangkat ke Prancis dan menanyakan lagi kerja sama. "Mungkin ini karena faktor sial. Mereka (mahasiswa) sial saja. Ini juga karena pengaruh politik di sana. Selain itu kepala profesornya juga sudah meninggal," ungkapnya. Pernyataan Prof Umboh berbeda dengan bukti yang disampaikan Jeffry dan kawan-kawan. Mereka mengantongi surat keterangan sebagai mahasiswa pascasarjana CI yang ditandatangani Prof Umboh sendiri pada 9 Januari 2011. (max/def)


Masih Ada di Situs Unima


PROGRAM magister (S-2) Competitive Intelligence (CI) masih terpajang di situs Unima, www.unima.ac.id. Pada laman utama situs tersebut pengunjung mudah mendapati tautan menuju laman CI. Pada laman CI tersebut, terpapar dalam bahasa Inggris penjelasan program studi yang diawali dengan pengenalan singkat tentang Unima dan Paul Cezanne University, Aix Marseille III (UPCAM). Program studi dipimpin Prof Dr MIJ Umboh DEA dan Sekretaris Dr H Dj Liow MEng.

Disebutkan, program pascasarjana tersebut merupakan buah kerja sama tahun 2010. Kerja sama dalam bentuk program pendidikan magisterial dalam Manajemen Publik dengan kekhususan pada Economic Intelligence and Regional Competitiveness.
Beberapa hal yang menjadi layanan UPCAM di antaranya penyeleksian calon mahasiswa, pengajaran 100 jam tatap muka khusus pada Economic Intelligence and Regional Competitiveness. Pihak UPCAM juga turut mendampingi mahasiswa, menyediakan pengajaran dalam bentuk makalah atau digital. UPCAM juga berwewenang menentukan mahasiswa sudah layak dalam program tersebut dan pada akhirnya menyandang gelar DEA.


Adapun kurikulum disediakan oleh Unima dan UPCAM. Unima mengajarkan bidang studi inti di antaranya, Fundamental of ICT, Enterpreneurship, Knowledge Management, Research Methodology, Competitive Strategy, dan International Macroeconomy. Sedangkan UPCAM mengajarkan bidang studi spesialisasi di antaranya, Concept of CI, Intellectual Property, Brain Mapping and Inonovation-Intellectual Property, Automatic Information Analyses and Dissemination, Approaches in Creating Competitive Intelligence Unit in Organizations  Research Project I-II.

Mahasiswa harus memenuhi 40 kredit dalam 100 jam tatap muka di kampus utama Unima di Tondano. Selain itu mahasiswa juga harus memenuhi tiga kredit tambahan untuk setiap bidang studi dalam 120 jam pelajaran. Metode pembelajaran bagi mahasiswa di antaranya secara individual, online, dan tatap muka. Pada laman yang sama juga tersedia tautan registrasi.

Disebutkan, kandidat mahasiswa bisa mendapatkan formulir pendaftaran di kantor program studi CI di Unima. Selain itu formulir bisa diperoleh dengan mengunduh pada tautan yang telah tersedia.  Calon mahasiswa harus mengisi formulir pendaftaran dan memasukkannya ke kantor program studi. Formulir terisi kemudian diteruskan ke UPCAM dan Pascasarjana Unima untuk proses validasi.
Sebelum proses validasi, calon harus membayar biaya pendaftaran dengan mentransfer uang ke rekening CI Master Program di Bank BTN dengan nomor  00000011 01 30 00421 0 atau ke BNI dengan nomor rekening 0066425348 atas nama Pascasarjana-Master CI. Ketika Tribun mencoba mengunduh formulir pendaftaran, muncul laman berbahasa Prancis yang tidak lagi menyediakan formulir pendaftaran."O, ya? Saya sendiri baru tahu," ujar Prof Irene Umboh.(max)

Tuerah: Kami Cari Tahu


REKTOR Unima, Prof Dr Philoteus  EA Tuerah MSi DEA mengatakan, kerja sama Unima dengan Paul Cezanne University, Aix Marseille (UPCAM), Prancis telah berakhir sejak ajaran 2009/2010 silam.

Saat diwawancarai Tribun Manado, Selasa (15/1/2013), Tuerah menjelaskan, kerja sama itu dimulai sejak penandatanganan nota kesepahaman pada tahun 2002. Menurutnya, dalam nota kesepahaman itu Unima dan UPCAM bekerjasama dalam hal pendidikan, khususnya program magister. Secara sederhana, UPCAM membuka kelas di Unima, dan mahasiswa yang mengikuti perkuliahan terdaftar sebagai mahasiswa universitas asal Prancis ini.

Tuerah menjelaskan, setelah beberapa tahun berjalan, kerja sama itu terhenti karena pada tahun ajaran 2009/2010 tidak ada lagi mahasiswa yang mendaftar.  "Program kerja sama ini telah berakhir karena tidak ada mahasiswa yang mendaftar. Pada angkatan terakhir ada 16 mahasiswa yang mendaftar, dan saya telah mengambil ijazah mereka di Prancis," ujarnya.

Saat ditanya bagaimana bisa terjadi masih ada mahasiswa yang terdaftar dan mengikuti perkuliahan, Tuerah mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Dia bahkan mengaku bingung mengapa masih ada yang mendaftar. Dia  menegaskan,  adanya mahasiswa yang terdaftar dalam program ini di luar pengetahuan Unima. Menurutnya, Unima telah menutup program tersebut dan tidak lagi mengakui mahasiswa yang terdaftar.

"Kami akan menelusuri bagaimana bisa masih ada mahasiswa yang mendaftar padahal program kerja sama telah ditutup. Kami akan mencari tahu siapa yang membuka pendaftaran ini. Hal ini sudah melanggar aturan," ujarnya.

Terkait nasib mahasiswa yang telanjur mendaftar, Tuerah menjelaskan hal tersebut di luar tanggung jawabnya sebagai rektor. Menurutnya, dalam beberapa hari mendatang pihaknya akan mengungkap siapa yang membuka pendaftaran tersebut.
Saat ditanya apakah Unima akan melanjutnya kerja sama dengan UPCAM, Tuerah menyatakan, kelangsungan kerja sama ini bergantung pada dua hal yakni  kesiapan mahasiswa dan kesediaan universitas di Prancis. Menurutnya jika dua hal tersebut bisa terpenuhi maka kerja sama dapat berlanjut. (luc)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 16 Januari 2013 hal 1

40 Meter Kubik Sampah Kotori Teluk Manado

ilustrasi
KOTORNYA perairan teluk Manado oleh sampah beberapa waktu terakhir ini ditanggapi Wali Kota Manado Vicky Lumentut. "Sampah banyak di laut, wajarlah karena hujan deras beberapa waktu terakhir," ujarnya kepada Tribun Manado, Senin (7/1/2013).

Menurut Vicky, kondisi seperti ini bukan hanya dialami Manado tetapi juga daerah lain yang berada di pesisir pantai. "Hujan deras turun, sampah kiriman melalui sungai dan wilayah laut lain masuk ke teluk Manado. Sama juga dialami daerah-daerah lain," jelasnya. Kesadaran warga yang masih rendah untuk tidak membuang sampah ke sungai diakui Vicky menjadi penyebabnya.

"Pemasangan jaring penahan sampah di sungai sebenarnya bukanlah solusi, tetapi menumbuhkan kesadaran warga termasuk semua pihak untuk tidak membuang sampah di sungai itulah pekerjaan besar yang terus diupayakan pemerintah kota Manado hingga saat ini," tutur Walikota.

Meskipun demikian, dirinya memastikan pemko Manado tidak membiarkan kondisi ini berlanjut terus-menerus. "Kami tentu saja terus berupaya dengan segala cara untuk atasi masalah ini," ujarnya. Terkait keluhan menurunnya minat turis mancanegara lakukan penyelaman di Bunaken dan Teluk Manado, Vicky Lumentut menyatakan hal itu tidak perlu dibesar-besarkan.

"Kalau dikatakan jumlah turis menurun karena perairan Bunaken kotor oleh sampah itu tidak benar semuanya. Tetapi menurut saya kondisi ini mungkin lebih dipengaruhi krisis ekonomi Eropa yang kemudian ikut berimbas pada menurunnya jumlah turis  yang berlibur ke Indonesia termasuk Manado," tandasnya.

40 Meter Kubik per Hari

Sebanyak 40 meter kubik sampah berbagai jenis mengalir dan mengotori perairan teluk Manado setiap hari. "Sebanyak 40 meter kubik ini baru sumbangan sampah khusus Manado saja belum ditambah suplai sampah dari daerah lain yang mengalir melalui sungai yang bermuara di Teluk Manado," ujar Kepala Dinas Kebersihan Kota Manado, Julises Oehlers,  Senin (7/1/2013).

Menurut Julises, masalah sampah yang kian mengotori laut apalagi saat musim hujan beberapa waktu terakhir ini jadi keprihatinan bagi pemerintah kota Manado.
"Kesadaran warga tidak membuang sampah di sungai masih sangat rendah," tuturnya. Diakui Julises, Pemko Manado terus berupaya menekan jumlah sampah yang masuk ke Teluk Manado hingga  perairan Bunaken.

"Kami sudah pasang tujuh jaring penahan sampah di daerah aliaran sungai Tondano, tetapi dengan kondisi hujan deras seperti ini terpaksa kami buka lagi karena akan rusak terbawa arus sungai," tuturnya.

Menurutnya, anggaran Rp 15 juta dari APBD Kota Manado hanya mampu adakan jaring penahan sampah biasa yang terbuat dari bahan tidak kuat."Akhirnya saat hujan deras dan arus sungai meningkat jaringnya ikut hanyut terbawa," ujarnya.
Untuk itu, menurut Julises, Pemko Manado berencana membangun jaring penahan sampah permanen yang akan dipasang di semua sungai yang bermuara di Teluk Manado.

"Jaring penahan sampah permanen ini dilengkapi sistem hidrolik sehingga mampu mengangkat sampah yang tertahan untuk kemudian diangkut," jelasnya.
Menurut Julises saat ini pemko Manado sudah ajukan permohonan bantuan dana ke pusat untuk pengadaan alat jaring penahan sampah permanen ini. "Estimasi anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 3 miliar," jelasnya.(ika)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 8 Januari 2013 hal 1

Korupsi Merajalela di Sulut

ilustrasi
Kapolda Sulawesi Utara (Sulut), Brigjen Pol Dicky Atotoy menyebut pihaknya sangat serius menuntaskan kasus tindak pidana korupsi yang terjadi di wilayah ini. Sejumlah kasus akan diusut di tahun 2013 untuk menyelamatkan lebih banyak uang negara.

"Kami akan membasmi korupsi," katanya dalam wawancara khusus dengan Tribun Manado, Jumat (4/1/2013). Kapolda optimistis sebab sejumlah kasus dugaan korupsi dengan nilai kerugian negara cukup besar sudah dituntaskan penyidik tipikor Polda Sulut sepanjang tahun 2012 yang baru lewat.

Data Ditreskrimsus Polda Sulut menyebut, kasus dugaan korupsi penggunaan APBD  Kota Tomohon tahun anggaran (TA)  2006 sampai dengan 2008 sebagai kasus dengan nilai kerugian negara terbesar yaitu Rp 33.762.489.375.

Kasus yang sudah berada di tahap dua (pengadilan) sempat menorehkan sepenggal kisah perburuan seorang tersangkanya yaitu Eduard F Paat, SE. Menghilang selama sembilan bulan, penyidik sempat mengira yang bersangkutan lari ke luar negeri.
Ternyata hampir sembilan bulan lamanya  ia sembunyi di sebuah bunker di hutan yang tak jauh dari rumahnya di Tomohon. Drama terjadi sewaktu aparat Polda Sulut hendak menangkapnya pada 5 September 2012.

Menyusup dari bagian belakang hutan untuk menghindari orang suruhan Paat, polisi menemukan dia di sebuah gubuk yang tak jauh dari bunker itu.   Semenjak Paat ditemukan, proses hukum terhadap dua tersangka lainnya yaitu Frans A Sambow dan Drs Yan Lamba menjadi mudah. Tak lama, kasus yang sudah P21 itu
meningkat statusnya menjadi tahap 2.

Di bawah kasus yang melibatkan trio Tomohon ini, ada kasus dugaan korupsi pencucian uang dana tunjangan penghasilan aparat pemerintah desa (TPAPD) TA 2010 dan TA 2011 di Kabupaten Bolmong dengan nilai kerugian negara Rp 4.425.000.000. Kasus dengan tersangka Mursid Potabuga dan Cymmy C.P Wua, S.STP,ME ini juga sudah naik meja hijau.

Kasus lainnya dengan nilai kerugian negara yang cukup besar adalah dugaan penyimpangan dana tugas pembantuan program P2MKT dan P4TRANS di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Minahasa Tenggara. Meski kerugian yang diderita negara cukup besar, tapi sigapnya aparat membuat uang sejumlah Rp 395.811.447 berhasil diselamatkan. Kasus ini pun sudah naik meja hijau.

Sembilan Kabupaten
Sebanyak 24 kasus korupsi yang diselesaikan Polda Sulut tahun 2012  terjadi di sembilan daerah kabupaten dan kota. Kasus- kasus itu terjadi kurun waktu beberapa tahun dan dilaporkan pada tahun 2010, 2011 dan 2012. Sebanyak tiga kasus korupsi di kabupaten Minahasa dan Talaud diselesaikan penyidik tipikor Polda Sulut.

Di Minahasa, dua kasus yang terjadi berhubungan dengan PNPM yaitu penyalahgunaan dana simpan pinjam perempuan (SPP) yang bersumber dari dana PNPM Kecamatan Kakas TA 2010 dan PNPM Kecamatan Tombulu.

Satu kasus lainnya berhubungan dengan dunia pendidikan yaitu dugaan tindak pidana korupsi atas permintaan, penerimaan dan pengadaan barang serta pertanggungjawaban dana fiktif di SMP Terbuka Langowan TA 2010.

Kasus PNPM - MP dan pendidikan juga terjadi di Talaud.  Satu kasus dugaan korupsi lagi terjadi di PLN Ranting Melonguane yaitu dugaan pungutan liar penyambungan KWH meter baru untuk konsumen rumah tangga daya R1/900 VA dan R1/300 VA tahun 2010.

Di Kabupaten Bolmong, sebanyak dua kasus berhasil diselesaikan dari sekian kasus yang masih mengendap di sana. Kasus pertama adalah dugaan korupsi pada kegiatan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RSRTLH) tahun 2010 untuk masyarakat di empat kecamatan.  Berikutnya, dugaan pencucian uang dana tunjangan penghasilan aparat pemerintah desa (TPAPD) TA 2011.

Di Bitung, kasus menarik yang berhasil diselesaikan yaitu dugaan penyalahgunaan dana bagi hasil pajak bumi dan bangunan di Dispenda kota Bitung TA 2004. Kasus yang bergulir sejak tahun 2010 itu, akhirnya maju di meja hijau pada tahun 2012.
Kasus lain yang cukup menyita perhatian yakni pembuatan jalan setapak di Kelurahan Motto Kecamatan Lembeh Utara menggunakan dana keserasian sosial berbasis masyarakat sebesar Rp 94 juta pun tuntas di tahun yang sama.

Sementara di lima kota/kabupaten lainnya yaituTomohon, Manado, Minut, Minsel dan Mitra, polisi berhasil menyelesaikan satu kasus untuk tiap kota dan kabupaten.
Di Manado, kasus dugaan penggelapan dana di PT Gapura Angkasa cabang Bandara selesai setahun setelah dilaporkan. Sebanyak Rp 395.811.447 terselamatkan dari total kerugian negara sebanyak Rp 1.561.646.250 pada kasus dugaan penyimpangan dana tugas pembantuan program P2MKT dan P4TRANS di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Mitra. (art)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 6 Januari 2013 hal 1


Air Pun Tergenang di Balai Kota

ilustrasi
Titik-titik banjir yang baru pun muncul tak beraturan di seantero Kota Kota. Seperti air di dalam balon yang terpancar dari lubang yang begitu banyak.
 
BANGUNAN baru tumbuh subur di Kota Manado. Manado memang makin maju. Tapi pembangunan itu tidak memberikan rasa nyaman bagi warganya seperti visi pemerintah kota lantaran abai terhadap perbaikan infrastruktur di bawah permukaan. Titik-titik banjir yang baru pun muncul tak beraturan di seantero kota. Seperti air di dalam balon yang terpancar dari lubang yang begitu banyak,  begitu pula air meluberi  badan jalan dari drainase di Kota Manado. Bahkan di beberapa titik air menjadi semacam selimut seluruh badan jalan.

Pantauan Tribun Manado, Jumat (4/1/2013), pemandangan miris itu mulai tampak di Jalan Martadinata. Dataran rendah di jalan masuk menuju Dendengan Dalam berubah jadi penampung air. Maklum di sebelah kanan jalan, selokannya tidak mampu menampung debit air yang besar. Tingginya tidak sampai setengah meter dan lebar sekitar 40 cm. Pasir mengendap keras di dasar beton tak bergigi itu.

Di belokan Jalan Sudirman, beton selokan tampak porak poranda. Beton, batu bahkan sampai sampah menyatu dengan kerikil dan pasir halus. Selokan ke Tikala Ares juga hanya tampak megah di permukaan. Selokannya pendek, kecil dan dangkal.

Di sisi kanan ke arah B W Lapian  juga demikian. Pekerjaan selokan yang belum selesai justru  menampung sampah dan berbagai material yang teronggok di hampir semua badan selokan. Padahal di dekat situ ada papan nama Dinas PU dan CV Archrist Minaesa yang memulai proyeknya 20 Juli 2012. Mestinya selesai dalam 150 hari kalender.

Di depan kantor DPRD dan Pemko Manado,  air pun sudah menggenani jalan Balai Kota. Posisi jalan yang lebih rendah dan selokan yang kurang baik membuat air tumpah di samping jalan. Air itu berasal dari buangan di kantor DPRD.

Kesan kecilnya selokan dan bentuknya yang tidak efektif juga tampak di sepanjang Jalan Boulevard. Bahkan bentuk selokan terlihat aneh di Jalan Pondol. Selokan dipenuhi air. Sampah bersinggahan dan bergantung ria di antara tiang-tiang. Air selalu meluber ke jalan ketika hujan deras tiba. Mobil semewah apapun seperti melalui jalan off road musim hujan.

Sayap-sayap jalan di sepanjang  Boulevard tergenang air. Bahkan air membanjiri badan jalan. Mobil harus mengambil jalan lebih ke tengah. Perlambatan kendaraan yang menyebabkan kemacetan makin menjadi-jadi.

Kepada Tribun Manado kemarin, Pendeta Billy Johanis yang lahir tahun 1971, mengatakan titik-titik banjir itu tidak muncul sebelum pemerintah menganti berbagai selokan. Menurutnya, selokan lama buatan Belanda paling baik mengalirkan air sampai jauh. Ia mengatakan  bentuk selokan Belanda miring seperti huruf V.

"Itu membuat sampah dan pasir tidak tertampung. Itu yang membuat kampung Tomohon yang berada di sebelah kanan kampung Kakas tidak pernah banjir. Bentuk lurus dari samping selokan tidak bisa membuat sampah dan pasir mengalir dengan lancar," kata Billy.

Ia ingat ketika kecil ia bisa masuk gorong-gorong yang hampir sekitar dua meter itu  dari Gereja Katolik di Wanea Selatan sampai ke pantai  (sekarang Boulevard) dengan tanpa hambatan. Mereka bahkan bisa berlompatan di kedua sisi selokan yang tingginya lebih dari dua meter itu karena bentuknya. Air mengalir dengan lancar dan tidak meluap. "Saat itu saya sudah sekolah di SD GMIM 2 yang sekarang menjadi persekolahan El Fatah. Saya dan teman-teman masuk di situ dan keluar di daerah SPBU sekarang," ujar Billy.

Jony Noya (51) mengatakan, dulu  hampir tidak ada sampah teronggok di situ. Bahkan beberapa jenis ikan air tawar bisa hidup di selokan. Bahkan belut bisa ditangkap dalam selokan itu.

Baik Jony maupun Billy menganggap apa yang menjadi sekarang karena konstruksi selokan salah. Ane (41, warga Wanea mengatakan konstruksi selokan saat ini mubazir karena tidak bisa mengalirkan air. Menurutnya, pemerintah harus membuat perencanaan matang agar Manado tidak tenggelam dalam air yang meluber di mana-mana. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 5 Januari 2013 hal 1

Petani Modoinding Raup Rp 450 Juta Sehari

Lahan pertanian di Modoinding, Sulawesi Utara
KENTANG merupakan komoditi primadona yang dihasilkan petani di Kecamatan Modoinding Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Selain kentang petani setempat juga menghasilkan jenis sayuran lainnya seperti kol, wortel dan sawi.

Hampir saban hari petani di sana memanen kentang yang langsung diserap pasar. Selain untuk  kebutuhan konsumen di  Sulawesi Utara (Sulut)  serta kota-kota lain di Pulau Sulawesi, kentang dari Modoinding pun dipasok ke luar daerah guna memenuhi permintaan dari Kalimantan, Maluku dan Papua.

Penelusuran Tribun Manado di Modoinding, Senin (10/6/2013) menyebutkan, total kentang yang diproduksi seluruh petani di sana sekitar 100 ton per hari. Dengan harga jual kentang jenis Super John  di tingkat petani saat ini  rata-rata Rp 4.500 per kilogram (kg), maka petani Modoinding meraup penghasilan dari komoditi kentang saja Rp 450 juta sehari.

Menurut data Pemerintah Kecamatan Modoinding, jumlah penduduk kecamatan di dataran tinggi yang sejuk dan subur tersebut sebanyak 12.448 jiwa. Dari jumlah tersebut, tercatat 10.222 orang berprofesi sebagai petani. Mereka umumnya mengolah lahan subur di Modoinding  pada hamparan seluas 6.080 hektare (ha).

Doni Walean, satu di antara distributor yang sudah sepuluh tahun menggeluti bisnis pengiriman sayuran ke luar daerah mengakui tingginya produksi kentang Modoinding tersebut. "Setiap hari di Modoinding ini selalu tersedia sekitar 100 ton kentang."Wajar karena setiap hari ada saja petani yang panen. Kalau wortel dan kol masing-masing sekitar 50 ton per hari," kata Doni.

Doni Walean mengaku biasa mengirim kentang puluhan ton untuk memenuhi permintaan dari Palu dan Kalimantan. "Sekali kirim bisa puluhan ton, sesuai dengan permintaan dari rekanan.  Kalau ke Balikpapan sekali kirim bisa mencapai 20 ton, dan paling banyak itu kentang sekitar 10 ton. Lainnya wortel dan kol. Kalau  ke Palu itu sekitar 5 ton saja, juga dominan kentang," ujarnya.

Dalam sebulan Doni bisa mengirim sampai empat kali atau sekali seminggu."Omset sekali kirim itu bisa Rp 60-70 juta. Namun, keuntungan bersih tergantung harga juga," katanya. Untuk kebutuhan lokal di wilayah Sulut, kata dia, biasanya rata-rata kentang yang dikirim sebanyak 1,5 ton per hari. "Itu diambil oleh mobil-mobil kecil," jelasnya.

Selain pebisnis sayur yang sukses, Doni pun merupakan petani Modoinding  yang sukses. "Saya sekarang punya 10 hektare lahan, ada yang warisan orang tua, namun ada yang saya beli dari hasil usaha sendiri. Tapi yang saya olah sekarang sekitar 3 hektare," katanya. Lahan 3 ha tersebut dia tanami kentang, wortel dan kol. "Paling dominan itu kentang, sementara wortel dan kol itu tanaman sampingan saja. Sebab  tidak bisa tanam kentang terus, harus selang seling supaya hasilnya bagus,"
tandasnya. Pada lahan seluas 3 ha tersebut, sekali panen bisa menghasilkan 60 ton kentang. "Itu biayanya dari tanam sampai panen, termasuk kita tinggal terima di rumah itu Rp 90 juta, sementara hasil penjualan pada harga standar bisa mendapatkan pendapatan kotor Rp 250 juta," kata Doni.

Keberhasilan tersebut tak lepas dari pengalaman dan pengetahuan yang dia peroleh ya, termasuk mengikuti penyuluhan di beberapa daerah."Pernah ikut penyuluhan di Jakarta, Malang, Bogor, dan beberapa tempat lain. Saya juga sempat mendapat penghargaan sebagai petani terbaik se Indonesia tahun 2009," kata Doni.

Menurutnya, kualitas kentang Super John yang dihasilkan petani Modoinding sudah diakui kualitasnya. "Kentang Modoinding tidak susah perawatannya, namun bisa bertahan satu bulan," jelas Doni yang dari hasil bertani dan berbisnis sudah memiliki rumah sendiri, beberapa unit mobil dan sepeda motor. Anak-anaknya pun sekolah hingga perguruan tinggi. 

"Di lahan saya sendiri, saya bisa menghasilkan 25 ton kentang sekali panen dan 17 ton wortel," kata Doni yang rutin memberi pembinaan terhadap Gapoktan se Modoinding. "Biasanya kami mengundang penyuluh, terutama penyuluhan soal hama dan penyakit. Juga sangat  dibutuhkan adalah budidaya dan teknologi terbaru," katanya.

Petani sukses lainnya, Hesry Walean pun mensyukuri  hasil yang dia peroleh dari tanaman kentang, kol dan wortel. "Ya lumayan, saya olah 2 hektare lahan, tanam bergantian antara wortel, kol dan kentang," kata Hesry. Untuk tanaman wortel, dia meraup penghasilan Rp 15 juta sekali panen. "Biasanya saya dapat 1.000 bantal per hektarenya. Jadi cukup, bahkan kelebihan," ujarnya semringah. Ukuran satu bantal wortel  bisa mencapai 48 kilogram.  (amg)


Sumber: Tribun Manado edisi cetak 11 Juni 2013 hal 1

Bertemu Penemu Kentang Super John

Lahan pertanian di Modoinding, Sulawesi Utara
NAMA varietas kentang Super John sudah tak asing lagi bagi petani Modoinding. Kentang jenis itulah yang banyak ditanami masyarakat. Lalu siapakah penemu varietas ini?  Ternyata  Super John diambil dari nama penemunya yakni John Walukow,  warga Makaruyen yang sehari-hari juga bekerja sebagai petani.
Ditemui Tribun Manado, Senin (10/6/2013), John menceritakan awalnya dia menanam kentang jenis Granola di kebunnya. Umbinya besar saat pertama kali ditanam.

Namun, lama-kelamaannya terus menciut umbinya. Suatu hari di tahun  1993, John menemukan satu di antara beberapa pohon kentang yang ditanamnya memiliki fisik yang berbeda. Batangnya lebih besar, daunnya pun  lebih rindang.

"Saya lihat satu pohon tersebut berbeda dari yang lain. Besarnya dua kali kali lipat dari yang lain. Nah, dari situ saya mulai teliti dan ternyata umurnya juga lebih panjang," kata John. Saat dipanen, ternyata ada 30 umbi dan besar-besar."Bibitnya saya pisah sendiri kemudian tanam lagi. Perlakuan sama dengan kentang lainya. Lagi-lagi ukuran umbinya jauh lebih besar daripada  kentang biasa dan jumlah umbinya jauh lebih banyak," jelasnya.

Pada 1999 ia panen 100 koli dan semuanya dijadikan bibit lalu tersebar ke petani Modoinding. "Kentang Super John sangat laris di pasaran karena umbinya bagus, tidak mudah rusak, kulitnya tidak mudah terkupas, ukurannya juga besar-besar. Yang paling besar beratnya sampai 8 ons," tuturnya.

John Walukow mengaku sudah kerap diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan seperti di Manado. "Mereka bilang kentang Super John  itu hasil mutasi spontan alam," jelas dia.  Menurut John, dia menemukan varietas unggul itu dari kegemarannya melakukan penelitian dan percobaan, meski dia tidak memiliki latar belakang pendidikan pertanian. Semata berdasarkan pengalamannya sebagai petani selama 36 tahun. "Nama Super John itu masyarakat dan petani yang beri, bukan saya," kata John sambil tersenyum. (amg)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 11 Juni 2013 hal 1

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes