Konsul Marseille Merasa Tertipu

BENSON Rea, mantan Konsul Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Marseille, Prancis, merasa tertipu oleh Rektor Universitas Negeri Manado (Unima) Prof Dr Philoteus Tuerah DEA dan Prof Dr MIJ Umboh DEA. Program studi pascasarjana Competitive Intelligence (CI) Unima angkatan 2010/2011 juga diikuti putrinya. Hal itu diungkapkan Ade Yulita Rea, putri Benson, kepada Tribun Manado, Rabu (16/1/2013).

Ade menceritakan, pada 2008 ia pergi ke Marseille, Prancis, untuk melanjutkan studi di sana. Saat itu ayahnya yang menjabat sebagai Konsul Jenderal di Marseille sejak 2007 mengajak dia kuliah di sana. Sepakat dengan sang ayah, Ade mulai kursus bahasa Prancis sebelum mendaftar kuliah.

"Saat sudah hampir selesai kursus, pada 2010 datang Rektor Tuerah dan Prof Umboh (Ketua Program Studi CI Unima). Kebetulan mereka akan mengurus perpanjangan kerja sama dengan Paul Cezanne University Aix Marseille III (UPCAM). Kebetulan ayah saya menjadi penghubung antara mereka dengan pihak universitas Aix Marseille. Mereka kemudian menawarkan kepada ayah, bila punya anak yang mau kuliah bisa kuliah di Unima jurusan CI," kata dia.

Lanjut Ade, ayahnya kemudian memintanya kuliah di Unima karena program studi tersebut. Sesuai pemaparan Tuerah dan Umboh kepada ayahnya, prodi tersebut dapat ditempuh hanya setahun. Selain itu lulusan akan mendapat ijazah yang diakui di Indonesia dan Prancis atau two degree. Biaya kuliah juga tergolong ringan karena dapat bantuan dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti).

Ade yang tinggal enam bulan lagi menyelesaikan kursus bahasa Prancis dan ingin melanjutkan studi S-2 CI di Prancis akhirnya mengikuti tawaran sang ayah. Maka pada tahun 2010 ia kembali ke Indonesia dan menuju Sulawesi Utara yang sebelumnya belum pernah ia pijakkan kakinya. Di Sulut, Ade langsung diantar ke rumah Rosdiana Tuerah, adik Rektor Tuerah, di Matani, Tomohon. Ia tinggal secara kos di sana selama setahun. Selama itu pula ia menjalani kuliah baik di Manado maupun di Tondano.

Namun harapan mendapatkan gelar master CI dari Unima pupus jelang ujian tesis. Ketidakpastian dari pihak Unima membuat ia menelusuri penyebab hingga ke Prancis. Melalui korespondensi surat elektronik (email) kepada Prof Henry Dou yang beberapa kali menjadi dosen utusan University Aix Marseille ia mendapati bahwa program studi tersebut sudah tak ada lagi di Unima.

"Ayah saya heran mengapa mereka (Tuerah dan Umboh) menawarkan studi kepada saya sementara program studi tersebut sudah berakhir. Saya sendiri heran ayah saya yang seorang konjen bisa tertipu," ujar dia. Menurut dia, pernyataan Rektor Tuerah yang mengaku tidak tahu ada penerimaan mahasiswa angkata 2010/2011 tidak masuk akal. Hal itu merujuk pada kunjungan Tuerah dan Umboh kepada ayahnya dan ia sempat tinggal di rumah saudara Rektor Tuerah. "Saya sangat kecewa. Dia seorang guru besar seharusnya tidak seperti itu. Dan saya juga menyesalkan ungkapan Prof Umboh yang menyebut kami sebagai mahasiswa sial," kata Ade.

Kekecewaan juga dirasakan Jeffry Montolalu. Ia menganggap alasan Rektor Tuerah mengada-ada. Seingat dia, Rektor Tuerah sempat menemani Prof Henry Dou yang hadir memberi kuliah dirinya dan teman-temannya pada Januari 2011. Kala itu Prof Henry Dou baru saja memberi ujian tesis bagi mahasiswa angkatan 2009/2010.
"Saat itu Prof Dou mengajar kami hanya sehari. Sesuai jadwal seharusnya ia mengajar kami dua pekan. Karena kecewa ia cepat pulang. Kami yakin selama kehadirannya saat itu Rektor Tuerah tahu," ungkapnya.

Lanjut Jeffry, alasan Prof Umboh yang menyebut program studi tidak bisa diteruskan karena mereka tidak terdaftar sebagai mahasiswa di Unima juga mengada-ada. Pasalnya, selain menandatangani surat keterangan dirinya sebagai mahasiswa pada 9 Februari 2011, Prof Umboh juga menerima uang 550 Euro untuk pendaftaran mahasiswa di gedung Sisdiksat Unima. Penerimaan uang tersebut juga tertuang dalam kuitansi. Surat keterangan dan kuitansi tersebut Jeffry perlihatkan juga kepada Tribun Manado. "Dua bukti ini saja sudah cukup menjelaskan bahwa kami ini mahasiswa Unima," kata dia.

Saat diwawancarai Tribun Manado, Selasa (15/1/2013),  Rektor  Unima, Prof Dr Philoteus  EA Tuerah  mengatakan, kerja sama Unima dengan UPCAM, Prancis telah berakhir sejak ajaran 2009/2010.  Tuerah menjelaskan,  kerja sama itu terhenti karena pada tahun ajaran 2009/2010 tidak ada lagi mahasiswa yang mendaftar. 

"Program kerja sama ini telah berakhir karena tidak ada mahasiswa yang mendaftar. Pada angkatan terakhir ada 16 mahasiswa yang mendaftar, dan saya telah mengambil ijazah mereka di Prancis," ujarnya. Saat ditanya bagaimana bisa terjadi masih ada mahasiswa yang terdaftar dan mengikuti perkuliahan, Tuerah mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Dia bahkan mengaku bingung mengapa masih ada yang mendaftar. Dia  menegaskan,  adanya mahasiswa yang terdaftar dalam program ini di luar pengetahuan Unima.

Sedangkan Ketua Prodi CI, Prof Dr MIJ Umboh yang dihubungi, Selasa (15/1/2013). mengatakan  hambatan utama terhentinya program studi dan batalnya ujian tesis karena mahasiswa tidak terdaftar sebagai mahasiswa Unima. "Kita harus ikut aturan. Kan aneh jika mereka belum terdaftar sebagai mahasiswa kemudian akan ujian tesis. Ini sudah standar dan ketentuan dari Dikti. Mereka  meminta kami mengurus asalkan mereka juga kerja sama. Tidak sulit kok mendaftar sebagai mahasiswa Unima," kata dia.

Berbeda dengan informasi Aix Marseille, Prof Umboh menyebut  kerja sama program CI  baru berakhir pada tahun ajaran 2012/2013. Itu setelah Rektor Tuerah berangkat ke Prancis dan menanyakan lagi kerja sama. "Mungkin ini karena faktor sial. Mereka (mahasiswa) sial saja. Ini juga karena pengaruh politik di sana. Selain itu kepala profesornya juga sudah meninggal," ungkapnya. (max)

Dosen Minta Macam-macam


MANTAN Ketua Bagian Kerjasama Luar Negeri Unima, Prof Dr Irene Umboh  menjelaskan pelaksanaan program pascasarjana dengan Universitas  Aix Marseille  digagas mantan Gubernur Sulut, AJ Sondakh dan Rektor Unima saat ini, Prof  Tuerah. Program ini dimulai sejak tahun 2002 yang tertuang dalam  nota kesepahaman antara Unima dan Universitas Aix.

Menurutnya, pada tahun pertama ada sekitar 20 mahasiswa yang daftar. Mereka menerima materi  kuliah dari dosen asal Prancis dan dosen Unima.  Umboh yang pensiun sejak tahun lalu ini mengakui ada masalah dalam kerjasama tersebut. Dia menyebut  dua penyebab utama program  itu tidak lagi  berlanjut.

Pertama, mahasiswa hanya mendaftarkan diri di Universitas Aix Marseille. Seharusnya mereka  juga mendaftar di Unima. Hal ini perlu  karena walaupun ijazah didapat dari Universitas Aix namun perkuliahan berlangsung di Unima.
"Setelah kami periksa, ternyata mahasiswa hanya mendaftarkan diri di Universitas Marseille. Padahal pada angkatan sebelumnya, semua mahasiswa mendaftar pada dua pihak," ujar Umboh kepada Tribun Manado, Rabu (16/1/2013).

Masalah kedua, kata dia, dosen dari Prancis mulai menuntut macam-macam. Menurutnya, sejak awal program itu, dosen dari Prancis yang datang ke Unima hanya dibiayai transport dan akomodasi. Namun, belakangan mereka menuntut bayaran per jam saat mengajar. "Mereka mulai minta yang aneh-aneh," ujarnya.
Umboh mengatakan, dalam nota kesepahaman  tidak diatur kalau pengajar dari Prancis harus mendapat bayaran per jam. Unima tidak mau melakukan hal di luar kesepakatan yang ditandatangani. Akumulasi dari dua masalah ini yang menyebabkan kerja sama itu terhenti namun masih ada mahasiswa yang terdaftar.
Saat ditanya mengapa masih ada proses belajar mengajar walau kerja sama telah berakhir, Umboh mengatakan hal tersebut dilakukan karena Unima masih berupaya menjalin kembali kerja sama dengan Universitas Aix  Marsaille. Menurutnya, sambil menunggu peluang itu, mahasiswa yang terlanjur mendaftar tetap mengikuti perkuliahan Prodi CI. "Pak Rektor (Tuerah) mencoba berbicara langsung dengan pimpinan  Universitas Marsaille pada November silam, namun tidak ada kata sepakat. Mahasiswa yang mendaftar masih tetap kami layani untuk perkuliahan dengan dosen dari Unima," ujarnya.

Profesor bidang biologi ini menjelaskan, karena program kerja sama itu sulit  diwujudkan, Unima berupaya mengalihkan semua mahasiswa yang terlanjur mendaftar pada program pascasarjana Unima. Namun masalah muncul karena semua mahasiswa ini tidak pernah mendaftar di Unima.

 "Ini buntut dari tindakan mahasiswa yang tidak mendaftar di Unima. Kami mencoba mengalihkan mereka ke program pasca sarjana Unima, namun tidak mungkin dilakukan karena mereka tidak terdaftar di Unima. Bagaimana bisa kami melakukan ujian pada orang yang tidak terdaftar," ujarnya. Umboh menjelaskan, cara agar mahasiswa bisa menyelesaikan studi strata dua mereka adalah mendaftar di Unima. Menurutnya, perkuliahan telah dilakukan dan tinggal mengikuti ujian. Jika telah terdaftar maka masih ada jalan keluar yang bisa ditempuh.

Tuntutan Prancis

Ada sejumlah tuntutan pihak Universitas Aix Marseille yang tidak dapat dipenuhi Unima sehingga program studi (prodi) tersebut berhenti. Tuntutan tersebut diungkapkan Prof Henry Dou melalui surat elektroniknya kepada Ade Yulita Rea tertanggal 10 Mei 2012.  Henry Dou merupakan bapak pendiri CI World. Selain sebagai guru besar program studi CI di Prancis, ia juga merupakan penasihat ekonomi Prancis. Dalam surat kepada Ade, Dou menyatakan keprihatinannya karena baik Rektor Prof Philoteus Tuerah dan Prof MIJ Umboh tidak pernah menyampaikan kepada mahasiswa bahwa program itu telah berhenti sejak 2009.


Adapun mengapa Universitas Aix Marseille menghentikan kerja sama, menurut surat Dou, karena Unima tidak mengirimkan data lengkap mahasiswa, riwayat hidup para pengajar dan silabus pendidikan program studi CI di Unima, sesuai standar yang berlaku di Aix Marseille. Tuntutan tersebut tidak terpenuhi selama lima tahun kehadiran prodi CI di Unima. Karena tidak ada data yang masuk pihak Aix Marseille akhirnya membatalkan ujian tesis bagi angkatan 2010/2011.

Dou juga menulis bahwa kerja sama dapat dilanjutkan jika ada mahasiswa peserta CI serta ada doktor atau profesor lulusan CI Economic dari Unima serta data lengkap mahasiwa dan dosen. Email kepada Ade tersebut ia teruskan juga kepada Rektor Tuerah dan Prof Umboh. (luc/max)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 17 Januari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes