Ribuan Penyu Bebas Bertelur di Toluan

Melky menangkar telur penyu di Toluan (foto lucky)
Bagi Melky mengawasi penyu  telah menjadi bagian dari kehidupannya dan pengabdiannya pada alam.

SEKITAR tahun 2001 silam, ratusan penyu dibantai saat akan bertelur di sepanjang pantai Kecamatan Kombi Kabupaten Minahasa. Saat berada di pantai, warga dengan mudah menangkap penyu dan mengambil telur mereka untuk dijual atau dikonsumsi.

Kondisi seperti itu sudah tidak terjadi lagi sekarang. Kini garis pantai mulai  dari Desa Makalisung, Kecamatan Kombi sampai Desa Tumpaan Kecamatan Kakas sepanjang 30 kilometer menjadi surga bagi lima jenis penyu untuk bertelur. Penyu kini bebas beraktivitas di pantai saat malam untuk melanjutkan siklus reproduksi mereka.

Warga di sepanjang garis pantai ini sudah sadar pentingnya menjaga dan kelestarian penyu serta ekosistem pendukungnya seperti mangrove, terumbu  karang dan lainnua. Bahkan saat ini ada tiga lokasi penangkaran penyu di lokasi tersebut. Lokasi penangkaran penyu  berada di Desa Lalumpe, khususnya di dusun jauh Tulaun, Desa Tulaun, Desa Lalumpe, Pantai Kawis Desa Tulap dan Pantai Parentek Kecamatan Kombi. Telur penyu dipindahkan ke lokasi penangkaran untuk menghindari predator seperti biawak, anjing, bahkan manusia.

Saat ditemui Tribun Manado, Sabtu (8/6/2013), Melky Kansil (42), pria yang menjadi pengawas penyu di kawasan konservasi menjelaskan, penangkaran penyu ini telah berhasil meningkatkan keberhasilan penetasan  sampai 90 persen. Menurutnya, satu ekor penyu bisa bertelur sekitar 70 sampai 130 butir.

Menurutnya,  dari tujuh jenis penyu di dunia, lima jenis di antaranya datang bertelur di kawasan tersebut. Jenis penyu ini adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Lekang (Lepidochelys olicacea), dan Penyu Tempayan (Caretta caretta).

"Di kawasan ini paling banyak adalah jenis Penyu Lekang. Ukurannya cukup besar mencapai panjang sekitar 70 centimeter. Semua jenis penyu datang bertelur malam hari mulai pukul 19.00  sampai 04.00 Wita," ujarnya.

Menurutnya musim bertelur penyu jenis Penyu Lekang, Penyu Belimbing, dan Penyu Tempayan adalah Februari sampai Juli. Penyu Hijau dan Penyu Sisik bertelur pada Agustus sampai November. "Hampir sepanjang tahun ada aktivitas penyu bertelur di kawasan ini. Jika datang malam maka bisa melihat puluhan penyu yang mendarat untuk bertelur di pantai. Bahkan beberapa penyu bahkan masuk sampai ke kampung dan bertelur di depan rumah penduduk. Ada pula penyu yang bertelur di depan pintu," ujarnya.

Fenomena penyu bertelur di kawasan ini telah terkenal sampai luar negeri. Menurut Melky, hampir setiap pekan ada turis atau peneliti dari luar negeri yang berkunjung dan menyaksikan aktivitas penyu bertelur. Namun, sangat jarang warga lokal yang datang untuk menyaksikan aktivitas hewan tersebut.

Sejak mengawasi penyu 2004 silam, Melky telah menetaskan puluhan ribu penyu. Menurutnya, kepuasan terbesar saat melihat tukik (bayi penyu yang baru menetas) keluar dari dalam pasir dan berjalan ke air dan berenang di lautan lepas. "Sekarang semua warga sama-sama mengawasi penyu yang bertelur dan tidak lagi menangkap penyu. Sanksinya sangat berat karena jika kedapatan menangkap penyu bisa dihukum penjara," ujarnya.

Di balik usaha menjaga kelestarian penyu di kawasan ini, Melky menghadapi kendala serius yaitu kekurangan tenaga dan dana. Menurutnya, sampai saat ini dia hanya bekerja sendirian mengawasi dan memindahkan telur penyu ke lokasi penangkaran. Walau daerah tersebut dikelola Dinas Kelautan Sulut, namun tidak ada tenaga tambahan yang secara reguler mengawasi kawasan yang luas tersebut.
"Sering kesulitan tenaga pengawas. Saya sedikit tertolong jika ada peneliti dari luar negeri yang kebetulan ada di Sulut. Mereka biasanya sukarela memberikan bantuan untuk melakukan pengawasan saat malam," ujarnya.

Selain itu, di balik tugas mulia yang diembannya, Melky ternyata tidak mendapat imbalan upah. Tidak ada honor yang diberikan Dinas Kelautan Sulut. "Tidak pernah ada upah untuk saya dari pemerintah. Saya hanya mendapat penghasilan jika ada turis dari luar negeri yang datang dan memberikan sumbangan sekitar Rp 200.000. Namun uang itu bukan untuk kebutuhan keluarganya, namun untuk biaya operasional membeli bahan bakar perahu untuk patroli," ujarnya. Walau tidak mendapat upah, Melky mengatakan dirinya tetap melakukan tugas mengawasi penyu. Menurutnya pekerjaan ini telah menjadi bagian hidupnya dan dianggap sebagai pengabdiannya pada alam. (lucky kawengian)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 9 Juni 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes