Bung Karno Muda Kini Merenung di Taman Rendo

Bung Karno
Banyak cara untuk memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 1945. Tahun 2013, peringatan dilakukan dengan kembali ke tempat lima butir mutiara yang menjadi lima sila Pancasila itu ditemukan dan direnungkan Bung Karno: Ende di Pulau Flores.

Seperti layaknya daerah yang jauh dari Jakarta, Ende yang terus berbenah dan membangun memang tertinggal dalam banyak hal. Namun, pilihan pejabat dan politisi kembali ke Ende tepat. Renungan sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi dekat wujudnya.

Pejabat dan politisi yang datang ke Ende antara lain Wakil Presiden Boediono, Ketua MPR Taufiq Kiemas, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh. Peringatan di Ende tanggal 1 Juni 2013  itu sekaligus peresmian revitalisasi Monumen Bung Karno di Taman Rendo dan Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Kampung Ambugaga, Ende.

Acara berlangsung meriah di Lapangan Pancasila yang bersebelahan dengan Taman Rendo. Ribuan warga terlibat, khususnya sekitar 1.000 murid SMAN 1 Ende untuk bernyanyi. Lagu kegemaran Bung Karno, "Io Vivat", tentang kehidupan bersama dinyanyikan bersemangat.

Seusai acara di Lapangan Pancasila, Boediono didampingi Taufiq dan pejabat lain menuju Taman Rendo membuka kain tenun Ende yang menyelubungi patung Bung Karno duduk merenung. Di terik matahari itu, Boediono tersenyum.

Revitalisasi Taman Rendo disiapkan sejak janji Boediono diucapkan saat kampanye Pemilu Presiden 2009. Budayawan Goenawan Mohamad yang mendampingi Boediono lantas mengajak perupa Hanafi dan arsitek Andra Matin terlibat. Tahun 2010, rencana dimatangkan. "Patung tanah liat dibuat di Cinere dan cetakannya dibawa ke Yogyakarta untuk dicor perunggu setahun," ujar Hanafi.

Patung perunggu Bung Karno (kala itu berusia 33) dibawa ke Ende melalui Surabaya dengan kapal laut. Butuh waktu 8 hari untuk tiba di Ende. Lama perjalanan persis saat pengasingan Bung Karno menggunakan KM van Riebeeck, 14 Januari 1934. "Saat pengiriman, ada kelangkaan solar dan sempat membuat saya khawatir," ujar Hanafi.

Patung Bung Karno yang lebih representatif dari segi estetis dan sejarah ini menggantikan patung lama Bung Karno yang penuh lencana sebagai Panglima Tertinggi TNI. Di patung yang baru diresmikan ini, Bung Karno muda duduk merenung dalam suasana kontemplatif di bawah rindangnya pohon sukun.

Suasana kontemplatif diterjemahkan dengan kolam berukuran 8 meter x 45 meter. Di atas kolam jernih itu, bangku sepanjang 17 meter sebagai tempat duduk Bung Karno diletakkan. Bung Karno duduk sendiri menatap Laut Ende yang tenang.

Andra juga merevitalisasi Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Kampung Ambugaga milik Haji Abdullah Ambuwaru. Di rumah berjarak 300 meter dari Taman Rendo, Bung Karno bersama istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Amsih, dan dua anak angkatnya Ranta Juami dan Kartika tinggal empat tahun hingga 18 Oktober 1938.

Teduhnya pohon sukun yang menaungi Bung Karno membuat warga betah berlama-lama. Mungkin sekaligus merefleksikan wujud nilai-nilai Pancasila.

Soal pohon sukun, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga punya kenangan. Pada debat Pilpres 2009 SBY berjanji membuat mi instan dari buahnya. Boediono pasti ingat janji pasangannya itu. Selamat Hari Lahir Pancasila.

Sumber: Kompas.Com
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes