Banyak Gurita di Pantai Tiwoho

ilustrasi
Apa yang ditabur warga, kini mereka menuai hasilnya. Dengan terjaganya terumbu karang tangkapan ikan pun makin banyak.

DARI pinggir pantai Tiwoho, Laurens Loho menunjuk deretan pulau di lautan lepas.
"Itu Mentehage, Nain dan Siladen," tuturnya menyebut nama-nama pulau tersebut, Jumat (7/6/2013).  Dua spot diving terdapat di sekeliling tiga pulau itu serta satu lagi berada tak jauh dari pantai.

Kiri kanan pantai itu terdapat hutan bakau, sedangkan di tengah pantai tertambat empat perahu karena pantai sedang surut.  Kerang mudah dijumpai di pasir pantai, juga kepiting dan binatang lainnya. Itu, kata dia, merupakan bukti dari berhasilnya program konservasi yang dirintis sejak tahun 1999.

Sebelum itu pemboman ikan serta peracunan kerap terjadi di wilayah perairan Tiwoho, Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara (Minut), menyebabkan  terumbu karang rusak. "Sebelumnya terjadi perusakan besar-besaran terumbu karang dengan peracunan dan bom ikan," kata Laurens yang  berperan sebagai Koordinator Rayon Utara Forum Masyarakat Peduli TNB Bunaken.

Konservasi dimulai oleh KSDA dengan mengundang tokoh masyarakat. Selanjutnya diadakan pelatihan kepada masyarakat di bawah bimbingan Yayasan Kelola.  Aksi pertama yang mereka lakukan adalah persemaian mangrove di lahan yang sebelumnya digunakan untuk tambak.

Persemaian melibatkan murid sekolah dasar (SD). Alasannya anak-anak lebih mudah diajarkan serta dapat menularkan itu kepada orangtua mereka. "Aksi ini melibatkan anak-anak," tuturnya.  Sentuhan tangan para siswa SD  ini terbukti ampuh dengan pesatnya perkembangan mangrove. Dari sepetak, hingga kini sudah menjangkau kawasan hingga 20 hektare.

Dalam hal ini, Laurens Loho  menyebut peran seorang warga bernama Ben. Kepada siswa Ben mengajar dengan metode yang membuat mereka mencintai tanaman.
Demikian pula dengan terumbu karang, Ben mengajarkan siswa hal praktis semisal tidak membalikkan terumbu karang. "Ia mengajar anak - anak cara merawat terumbu karang," tuturnya.

Dari para siswa, pesan untuk tidak memasang bom atau racun saat menangkap ikan menyebar ke para orangtua.  Kini tak ada lagi warga yang menangkap ikan dengan racun. "Mereka malu jika melakukan pemboman  ikan," tuturnya.

Mengubah perilaku masyarakat bukan tanpa kendala.  Banyak warga yang salah paham ketika diadakan pembagian zona laut, dimana dari warga dipotong 25 persen. "Waktu itu warga banyak yang protes, tapi akhirnya mereka dapat memahami," kata Laurens. Apa yang ditabur warga, kini mereka tuai hasilnya. Dengan terjaganya terumbu karang membuat tangkapan ikan makin banyak.

Hal yang jarang terjadi, kini terjadi yaitu ditemukannya gurita di sekitar pantai Tiwoho. "Saat ini banyak boboca  (gurita) ditemukan di pinggir pantai, sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi," tuturnya.  Langkah yang kini ditempuh Laurens adalah melakukan patroli dibantu warga. "Kami patroli setiap hari, kadang juga ada warga yang menelepon jika melihat kejanggalan," tuturnya.

Hukum Tua Desa Tiwoho Maramis Kodoati menyatakan, aparat desa mendukung konservasi dengan menyiapkan sejumlah peraturan. "Kami siapkan perda untuk mendukung itu," tandasnya. Bagi yang kedapatan melakukan pemboman langsung diberi hukuman. Meski begitu, budaya malu sudah tercipta di kalangan masyarakat setempat sehingga mereka tidak lagi merusak lingkungan. (arthur rompis)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 8 Juni 2013 hal 1

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes