Berburu Ikan di Danau Tondano

Danau Tondano
Sejak ratusan tahun lalu Danau Tondano menjadi penopang hidup warga Minahasa dan sekitarnya.

SAAT ini keberadaan danau ini bahkan makin vital karena melalui Danau Tondano sebagian besar warga Sulut bisa menikmati listrik, sebagian warga Manado bisa mendapatkan air bersih, dan ribuan nelayan di sekitar danau ini bisa mendapatkan penghasilan sehari-hari.

Sebagai sumber air tawar terbesar di Sulut, tidak heran kalau Danau Tondano menjadi penyuplai terbesar kebutuhan ikan mujair dan ikan mas di Sulut. Ikan dari Danau Tondano dipasarkan ke seluruh pasar tradisional di Minahasa, bahkan sampai pasar modern. Bisnis ikan air tawar di Danau Tondano sangat besar karena sekitar 300 orang membuka usaha tambak ikan di sana.

Jika berjalan mengelilingi Danau Tondano, bisa terlihat tambak jaring berjejer hampir mengelilingi danau tersebut. Hampir semua tempat ada patok bambu dan petak-petak jaring berisi ikan. Putaran uang dalam bisnis ini mencapai miliaran rupiah per bulan. Umumnya usaha tambak ikan ini dikelola orang-orang berduit karena membutuhkan modal yang besar.

Di antara persaingan para pemodal besar yang berlomba-lomba memperbanyak jaring ikan, terselip kisah perjuangan hidup ratusan nelayan tradisional yang hidup dan bekerja dengan cara sederhana. Hari Jumat (8/3/2013) siang awan hitam menggantung di wilayah Kecamatan Remboken. Seorang pria bercelana pendek menenteng kacamata renang dan sebilah papan yang berbentuk seperti senapan menuju Danau Tondano.

Jerry Saerang adalah seorang nelayan tradisional yang setiap hari menghabiskan waktu mencari nafkah di danau tersebut. Caranya menangkap ikan bukan dengan jaring atau pancing, melainkan menggunakan senjata sederhana yang dibuat sendiri.
Papan dipotong sedemikian rupa dan dilubangi pada bagian pangkal. Sebuah batang besi yang ujungnya telah diruncingkan dimasukkan d iatas bilah papan itu. Ban dalam sepeda motor dipotong memanjang dan berfungsi sebagai pegas untuk meluncurkan potongan besi tajam. Alat sederhana inilah yang setiap hari menemani Jerry memburu ikan di Danau Tondano.

Saat berbincang dengan Tribun Manado, ayah dua anak ini mengatakan telah menggeluti usaha memanah ikan sejak lima tahun silam. Pekerjaan ini tidak membutuhkan modal besar namun hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. "Hampir setiap hari saya turun ke danau untuk berburu ikan. Cara ini lebih mudah dibanding memakai jaring dan ikan yang didapat lebih besar. Saya pernah bertahan dalam air sekitar lima jam, masuk pukul 09.00 Wita dan keluar danau pukul 14.00 Wita," ujarnya.

Dia berkisah, dalam berburu ikan menggunakan panah dia harus menyelam dan menahan napas sekitar dua menit dan  kembali ke permukaan untuk mengambil napas. Dalam air dia leluasa memilih ikan yang akan ditangkap. Ikan kecil diabaikan dan hanya memanah ikan yang berukuran di atas seperempat kilogram.
Selama lima tahun bekerja sebagai pemanah ikan dia pernah menangkap ikan mujair seberat 5 kilogram. Panjang ikan itu hampir satu meter. Saat melihat ikan besar itu dia langsung mengarahkan ujung senjatanya dan menekan pelatuk. Besi tajam meluncur kencang menembus badan ikan. Saat dipasaran, harga ikan hasil buruan jauh lebih mahal dibanding ikan budidaya. Harga ikan liar hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding ikan yang dipelihara dalam jaring.

"Kalau ikan hasil buruan kami lebih mahal. Kalau misalnya harga ikan budidaya sekitar Rp 25.000 per kilogram, ikan liar yang kami tangkap sekitar Rp 50.000 per kilogram. Alasannya ikan liar lebih enak dan lebih manis karena ikan ini hanya makan lumut. Berbeda dengan ikan yang diberi makan pelet," ujarnya.

Setiap kali berburu ikan yang didapat berkisar tiga sampai tujuh kilogram. Namun ada saat-saat dimana hasil buruan hanya beberapa ekor ikan berukuran sedang. Dapat hasil yang banyak atau sedikit sudah dianggap hal yang biasa karena bagi para nelayan  tradisional rejeki sudah diatur oleh Tuhan. (lucky kawengian)

Sumber: Tribun Manado 9 Maret 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes