Menelusuri Museum Daerah Sulut

Patuang Toar dan Lumiuut
Di ujung lorong ditemukan peninggalan VOC dan di dekat pintu masuk museum terdapat peninggalan sejarah perjuangan sebelum dan sesudah kemerdekaan RI.

HUJAN deras baru saja membasahi kota Manado dan sekitarnya, Selasa (22/1/2013). Matahari belum berhasil menyibak lapisan mendung di langit. Tapi kegelapan itu tidak sebanding dengan kegelapan yang menyelimuti hampir semua ruangan Museum Daerah  Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Pemadaman listrik kerap dialami museum kebanggaan warga Sulut itu.

Walau demikian  terangnya sejarah bumi Toar Lumiuut ini mulai memendar dari ruangan pertama museum dari sisi kiri jalan masuk. Ruangan pertama diisi profil Provinsi Sulut dan kabupaten/kota yang tertampang penuh warna di dinding museum.  Beberapa perkakas yang biasanya dipakai masyarakat setiap daerah di Sulut memancarkan pesona tersendiri di balik kaca pameran. Bagian itu seakan menjadi prolog dalam perjalanan napak tilas terhadap sejarah umat manusia. Prolog itu berlanjut dengan pengembaraan ke masa lampau.

Sesosok patung Homo Erectus tampak berdiri tegak menunjukkan proses evolusi manusia, termasuk manusia yang menghuni bumi Minahasa. "Perjalanan evolusi  untuk saat ini berakhir pada homo sapiens," kata Robby Kolibu, salah seorang staf museum dari bagian Edukasi dan Publikasi

Perjalanan selanjutnya melewati lorong yang gelap. Lorong yang sebenarnya bercerita banyak tentang sejarah dinosaurus dan sejarah masyarakat Minahasa dahulu kala. Ruangan yang agak terang setelah bagian itu mulai bercerita lebih banyak. "Ini bagian yang banyak menunjukkan kuburan sekunder. Suatu peninggalan budaya yang dekat dengan Minahasa," tutur Kolibu lagi.

Di bagian kiri terdapat dua buah tempayan yang katanya berisi tulang belulang mereka yang telah dikuburkan lebih dahulu yang disebut Kure. Ini ditemukan di Kapitu dan Paso. Di bagian tengah terdapat sejumlah barang peninggalan almarhum yang juga diikutkan dalam kubur batu yang disebut Waruga. Robby menepis itu dipakai oleh arwah saat di alam baka. "Ini semacam peninggalan almarhum yang diminta untuk dibawa ke liang kubur. Banyak macamnya yang dibawa. Ada cincin, parang, piring dan  sebagainya,"ujar Kolibu.

Dialog pembedahan ilmu pengetahuan kemudian diperbanyak pada sebuah batu nisan yang agak menyerupai sebuah bangunan rumah. Bangunan yang terbuat dari kayu itu dinamakan Balosong. Kolibu menyebutnya lebih sebagai batu nisan. "Ada pengaruh animisme. Bisa jadi ini dianggap sebagai tempat arwah," ujarnya.

Bangunan ini memang unik. Sebuah bagian kuburan mirip Waruga tapi katanya hanya ada di Minahasa Tenggara. "Ini terekspos ketika ada kegiatan penelitian. Bangunan ini ada replikanya di Belanda dan diambil meseum nasional," kata Kasi Bimbingan Edukasi dan Preparasi Musium Sulut, Zusana Pontoh yang mendapatkan datanya dari Kasi Koleksi dan Konservasi. Lexi Nanne, SE.

Ada dua versi mengenai bangunan itu. Pertama bangunan ini merupakan kuburan, mirip Waruga. "Ini terbuat dari kayu Amurang yang keras. Bisa jadi ini menjadi tempat pesemayaman," ujar Lexi. Ada versi yang kedua, yakni jenasah dimasukkan dalam lubang kubur. Bangunan di atasnya kemudian menjadi rumah bagi arwah itu.  "Dengan ekspos di Tribun Manado, kami ingin ada peneliti atau orang yang mengerti di tengah masyarakat bisa memberi penjelasan tentang ini," tutur Lexi.

Pandangan Tribun kemudian  terarah pada barang lain di museum. Di ruangan yang sama ada lesung baru yang ditemukan di Kuala Morea. Kuat dugaan lesung batu ini merupakan tempat  mengiling emas. Di bagian lain ditemukan lesung yang lebih kecil yang biasa dipakai untuk mengiling padi.  Di dekatnya, ada dua buah batu yang sudah berbentuk. Batu itu disebut Batu Tumotowa. "Ini dipakai untuk menjaga kampung. Ada unsur mistisnya karena mereka yang masuk untuk berniat jahat tidak akan bisa masuk ke kampung itu," ujar Kolibu.

Perjalanan berakhir setelah melewati lorong sejarah masuknya umat Muslim di Minahasa yang dibawa Imam Bonjol dan Kyai Modjo. Ada beberapa marga perempuan Minahasa yang kawin mawin dengan pengikut kedua tokoh tersebut.  Di ujung lorong ditemukan peninggalan VOC dan di dekat pintu masuk museum terdapat peninggalan sejarah perjuangan sebelum dan sesudah kemerdekaan RI. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 23 Januari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes