Air Pun Tergenang di Balai Kota

ilustrasi
Titik-titik banjir yang baru pun muncul tak beraturan di seantero Kota Kota. Seperti air di dalam balon yang terpancar dari lubang yang begitu banyak.
 
BANGUNAN baru tumbuh subur di Kota Manado. Manado memang makin maju. Tapi pembangunan itu tidak memberikan rasa nyaman bagi warganya seperti visi pemerintah kota lantaran abai terhadap perbaikan infrastruktur di bawah permukaan. Titik-titik banjir yang baru pun muncul tak beraturan di seantero kota. Seperti air di dalam balon yang terpancar dari lubang yang begitu banyak,  begitu pula air meluberi  badan jalan dari drainase di Kota Manado. Bahkan di beberapa titik air menjadi semacam selimut seluruh badan jalan.

Pantauan Tribun Manado, Jumat (4/1/2013), pemandangan miris itu mulai tampak di Jalan Martadinata. Dataran rendah di jalan masuk menuju Dendengan Dalam berubah jadi penampung air. Maklum di sebelah kanan jalan, selokannya tidak mampu menampung debit air yang besar. Tingginya tidak sampai setengah meter dan lebar sekitar 40 cm. Pasir mengendap keras di dasar beton tak bergigi itu.

Di belokan Jalan Sudirman, beton selokan tampak porak poranda. Beton, batu bahkan sampai sampah menyatu dengan kerikil dan pasir halus. Selokan ke Tikala Ares juga hanya tampak megah di permukaan. Selokannya pendek, kecil dan dangkal.

Di sisi kanan ke arah B W Lapian  juga demikian. Pekerjaan selokan yang belum selesai justru  menampung sampah dan berbagai material yang teronggok di hampir semua badan selokan. Padahal di dekat situ ada papan nama Dinas PU dan CV Archrist Minaesa yang memulai proyeknya 20 Juli 2012. Mestinya selesai dalam 150 hari kalender.

Di depan kantor DPRD dan Pemko Manado,  air pun sudah menggenani jalan Balai Kota. Posisi jalan yang lebih rendah dan selokan yang kurang baik membuat air tumpah di samping jalan. Air itu berasal dari buangan di kantor DPRD.

Kesan kecilnya selokan dan bentuknya yang tidak efektif juga tampak di sepanjang Jalan Boulevard. Bahkan bentuk selokan terlihat aneh di Jalan Pondol. Selokan dipenuhi air. Sampah bersinggahan dan bergantung ria di antara tiang-tiang. Air selalu meluber ke jalan ketika hujan deras tiba. Mobil semewah apapun seperti melalui jalan off road musim hujan.

Sayap-sayap jalan di sepanjang  Boulevard tergenang air. Bahkan air membanjiri badan jalan. Mobil harus mengambil jalan lebih ke tengah. Perlambatan kendaraan yang menyebabkan kemacetan makin menjadi-jadi.

Kepada Tribun Manado kemarin, Pendeta Billy Johanis yang lahir tahun 1971, mengatakan titik-titik banjir itu tidak muncul sebelum pemerintah menganti berbagai selokan. Menurutnya, selokan lama buatan Belanda paling baik mengalirkan air sampai jauh. Ia mengatakan  bentuk selokan Belanda miring seperti huruf V.

"Itu membuat sampah dan pasir tidak tertampung. Itu yang membuat kampung Tomohon yang berada di sebelah kanan kampung Kakas tidak pernah banjir. Bentuk lurus dari samping selokan tidak bisa membuat sampah dan pasir mengalir dengan lancar," kata Billy.

Ia ingat ketika kecil ia bisa masuk gorong-gorong yang hampir sekitar dua meter itu  dari Gereja Katolik di Wanea Selatan sampai ke pantai  (sekarang Boulevard) dengan tanpa hambatan. Mereka bahkan bisa berlompatan di kedua sisi selokan yang tingginya lebih dari dua meter itu karena bentuknya. Air mengalir dengan lancar dan tidak meluap. "Saat itu saya sudah sekolah di SD GMIM 2 yang sekarang menjadi persekolahan El Fatah. Saya dan teman-teman masuk di situ dan keluar di daerah SPBU sekarang," ujar Billy.

Jony Noya (51) mengatakan, dulu  hampir tidak ada sampah teronggok di situ. Bahkan beberapa jenis ikan air tawar bisa hidup di selokan. Bahkan belut bisa ditangkap dalam selokan itu.

Baik Jony maupun Billy menganggap apa yang menjadi sekarang karena konstruksi selokan salah. Ane (41, warga Wanea mengatakan konstruksi selokan saat ini mubazir karena tidak bisa mengalirkan air. Menurutnya, pemerintah harus membuat perencanaan matang agar Manado tidak tenggelam dalam air yang meluber di mana-mana. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado edisi cetak 5 Januari 2013 hal 1
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes