Benny Rhamdani Diarak Keliling Kampung

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sebelum palu diketuk KPU Sulawesi Utara, nama Benny Rhamdani masih bersaing ketat dengan Stefanus BAN Liow dalam rekapitulasi suara untuk DPD RI.

Suara anggota DPRD Sulut dan Ketua P/KB GMIM itu saling susul. Namun di akhir penghitungan, Benny Ramdhani menjadi pemilik kursi keempat menemani Maya Rumantir, Aryanthi Baramuli dan Fabian Sarundajang.

Suara Benny dan Liow hanya selisih 348 pemilih. Benny meraup 94.588 suara, sementara Stefanus Liow mengumpulkan 94.242.

Sebenarnya Liow masih unggul ketika perolehan suara di Manado dan Minahasa Utara belum masuk.

Namun Benny berbalik unggul ketika suara dari Manado masuk yakni 18.022 suara dan Liow memperoleh 10,106.

Kemudian ketika suara Minut masuk, Liow memperoleh 7.962 suara dan Benny 3.233. Di akhir penghitungan, Benny dinyatakan unggul.

Begitu meraih kemenangan, Benny pulang kampung untuk mengabarkan kebahagiaan. Dan Benny pun tak kuasa menahan haru kala dijemput ribuan pendukungnya, di Kotamobagu, Minggu (27/4/2014).

Ia mengaku bahagia, bisa pulang ke kampung halaman membawa kemenangan.

Benny mengungkapkan, kemenangannya merupakan kemenangan masyarakat Sulut. Benny bersyukur kepercayaan masyarakat dijawab tanpa melakukan money politics.

"Ini sejarah pertama kali BMR (Bolmong Raya) memiliki wakil di DPD RI," katanya.

Ia bangga selama berjuang dalam Pemilu 2014 tanpa bermain uang. Benny mengaku sebagai calon termiskin. "Saya caleg gakin (keluarga miskin). Modal dana kampanye saya Rp 57.710.850. Silakan buka buku rekening laporan dana kampanye," ungkapnya.

Dana awal pencalonannya, kata Benny, hanya Rp 400.000. "Sampai selesai pemilu, tidak pernah ada pemasukan sumbangan dari pihak luar. Alat peraga kampanye sangat terbatas, bahkan nyaris tidak terlihat," sebutnya.

Dikatakannya, kursi ia peroleh murni kepercayaan masyarakat. "Terima kasih warga Bolmong, sungguh suatu kehormatan terbesar bagi saya karena masih diberikan kepercayaan untuk mengemban tugas selama lima tahun di DPD RI, tentunya wujud syukur ini tak mampu saya ucapkan dengan kata-kata, namun akan saya wujudkan dengan tindakan dan kerja keras," ungkap mantan aktivis ini.

Kedatangan Benny di kampung halamannya disambut prosesi adat Itum-itum dan tarian adat Tuitan khas Bolaang Mongondow yang konon diartikan sebagai ungkapan kegembiraan atas torehan prestasi.

Ia didampingi istri diarak di keliling Kelurahan Sinindian, Kotamobagu tempat prosesi acara syukur penyambutannya.

Di atas truk yang disulap menjadi panggung dadakan, Benny mengucapkan rasa terimakasihnya kepada warga Bolmong.

"Terimakasih yang tak terkira. Harapan warga Bolmong Raya akan saya wujudkan dengan usaha keras," kata dia.

Kepada Tribun Manado di sela kesibukannya menerima tamu di rumahnya malam tadi, Benny mengakui keunggulan suaranya sangat dramatis. Suaranya hanya terpaut ratusan saja dari peringkat kelima, Stevanus BAN Liow. "Sangat dramatis," kata Benny.

Mantan aktivis mahasiswa ini mengatakan ada beberapa agenda yang suda disiapkanya di DPD. Pertama yang akan dilakukan adalah penguatan DPD yang saat ini posisi dan power politiknya kalah dari DPR. Benny berencana membentuk Kaukus Muda Senator RI (Kaukus RI) yang terdiri kaum muda di DPD RI.

"Para kaum muda yang progresif dan revolusioner ini pasti memiliki cita-cita dan mimpi besar untuk negara," kata dia.

Setelah itu, dia berjanji memperjuangkan posisi Indonesia Timur dalam kebijakan ekonomi dan politik. Menurutnya, kebijakan ekonomi dan politik Indonesai lebih mementingkan wilayah Indoesia Barat saja. Indonesia Timur, kata dia, sangat tertinggal jauh dalam segi pembangunan.

Ditanya tentang godaan untuk bertarung di kancah pemilukada, Benny mengatakan pilihan pertama dirinya bukan di eksekutif.

"Kalau diberi pilihan kemana arah politik saya yang paling ideal adalam pandangan hidup daya, saya ingin ke DPR RI. Saya ini tipikal destroyer, sebagai orang yang mengawasi bukan pelaksana. Saya ingin menuntaskan DPD selama lima tahun, setelah lima tahun akan ada pertimbangan lain," katanya.

Sementara itu, Vanda Sarundajang juga terpilih untuk kali kedua sebagai anggota DPR RI dari PDIP di Dapil Sulut. Putri Gubernur SH Sarundajang ini merasa sangat bersyukur karena boleh meraih dukungan dari masyarakat sehingga namanya merupakan urutan kedua caleg dengan suara terbanyak.

"Pertama-tama sebagai orang yang percaya tentunya saya bersyukur kepada Tuhan. Karena atas perkenanNya sehingga saya bisa terpilih lagi," ujar Vanda, Minggu (27/4).

Ia juga berterima kasih kepada masyarakat Sulut yang kembali mempercayakan dirinya sebagai wakil rakyat di DPR RI." Terima kasih juga untuk warga Sulut yang masih memberikan kesempatan kepada saya untuk berjuang di pusat," tuturnya.

Mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya, putri dari gubernur Sulut Dr Sinyo H Sarundajang ini tak banyak berujar. "Saya akan kembali fokus di DPR melanjutkan tugas pekerjaan sampai periode ini selesai di akhir September nanti," tandasnya.

Tak kalah sengit adalah pertarungan untuk DPRD Sulut. Dari sebagian besar calon incumbent, hanya 15 yang berhasil mempertahankan kursinya.

Netty Agnes Pantow, satu di antaranya incumbent yang memenangi satu kursi dari Dapil Minut-Bitung.

Kepada Tribun Manado, caleg Partai Demokrat itu mengungkapkan rasa syukurnya. Menurutnya, kemenangan ini tidak perlu disambut dengan menggelar pesta.

"Tidak harus pesta, rasa syukur disampaikan lewat doa dan mengiplementasi wujud kehidupan sehari-sehari," kata peraih 10.310 suara dukungan ini.

"Pertama bersyukur bangga Netty tidak money politics. Netty masih dicintai masyarakat, satu periode di lembaga, diperkenankan Tuhan terpilih kembali dengan jujur punya kebanggan murni terpilih," ungkapnya.

Terkait dana kampanye, Netty menolak menyebutkan jumlahnya. "Tidak mungkin kalau tidak keluar uang, tapi itu biaya politik, bukan money politics. Masa orang antar stiker tidak dikasih uang, sewa transportasi kampanye juga harus keluar uang," ungkapnya.

Ia mengakui banyak pekerjaan rumah variatif di DPRD Sulut, pembangunan berjalan tentu butuh kelanjutan. "Ke depan memang butuh perbaikan," katanya.

Terpisah, Ivone Bentelu, caleg PDIP Dapil Nusa Utara juga berhasil mengamankan satu kursi di Gedung Cengkih. Ia mengungkapkan syukur kepada Sang Khalik, dan ungkapan terima kasih kepada masyarakat Nusa Utara yang sudah memberikan kepercayaan kembali duduk di DPRD Sulut.

Gelar ucap syukur ia sudah jadwalkan dilakukan dengan kecil-kecilan saja. Justru di depan mata adalah ada tanggung jawab besar.

"Kepercayaan ini merupakan tanggung jawab yang harus dikawal untuk mewujudkan kerja keras dan kerja cerdas guna kesejahteraan masyarakat," ujar wanita yang menyemat profesi dokter ini.

"Yang pasti bersama teman-teman saya dari Nusa Utara, kita akan bergandengan tangan untuk mengawal aspirasi dari Kepulauan," ungkap Sekretaris Komisi IV DPRD Sulut ini. (ryo/suk/aro)


Sumber: Tribun Manado 28 April 2014 hal 1

Inilah Anggota DPRD Sulut Terpilih 2014-2019

Maya Rumantir (kanan) saat ke Tribun 25-4-2014
Berikut daftar nama lengkap peraih kursi DPRD Sulut yang akan huni Gedung Cengkih (DPRD Sulut) dan daftar nama yang melenggang ke senayan, Senin (28/4/2014).

* Penghuni DPRD Sulut:

Dapil Manado
1.  Andre Angouw (PDIP)
2. James Karinda (Demokrat)
3. Hanny Joost Pajouw (Golkar)
4. Novi Ferdinand Mewengkang (Gerindra)
5. Ayub Ali (PAN)
6. Teddy Kumaat (PDIP)
7. Siska Mangindaan (Demkorat)
8. Amir Liputo (PKS)

Dapil Minut-Bitung
1. Eva Sarundajang (PDIP)
2. Herry Tombeng (Gerindra)
3. Netty Agnes Pantouw (Demokrat)
4. Adriana Dondokambey (PDIP)
5. Cindy Wurangian (Golkar)
6. Denny Harry Sumolang (PKPI)
7. Frans Matthieu (Hanura)
8. Nori Supit (Nasdem)

Dapil Nusa Utara
1. Marvel Dicky Makagansa (PDIP)
2. dr Ivone Bentelu (PDIP)
3. Meiva Salindeho Lintang (Golkar)
5. Edwin Lontoh (Demokrat)
6. Ferdinand Mangumbahang (Gerindra)

Dapil Bolmong Raya
1. Muslimah Mongilong (PDIP)
2. Rocky Wowor (PDIP)
3. Hj Marlina Moha Siahaan (Golkar)
4. Affan R Mokodongan (PAN)
5. Julius Jems Tuuk (PDIP)
6. Rasky Mokodompit (Golkar)
4. Mursan Ardiansyah Imban (PAN)
8. Hj Ainun Talibo (PPP)
9. Muhamat Yusuf Hamim (Gerindra)
10. Rita Lamusu Manoppo (PKS)

Dapil MinseL-Mitra
1. Kristovorus Deky Palinggi (Golkar)
2. Franky Donny Wongkar (PDIP)
3. Billy Lombok (Demokrat)
4. Juddy Moniaga (Gerindra)
5. Felly Estelita Runtuwene (Nasdem)
6. Edison Masengi (Golkar)

Dapil Minahasa-Tomohon
1. Steven Kandou (PDIP)
2. Stefanus Vreeke Runtu (Golkar)
3. Vonny Jane Paat (PDIP)
4. Wenny Lumentut (Gerindra)
5. Inggrid Sondakh (Golkar)
6. Marthen Manuel Manopo (Demokrat)
7. Fanny Legoh (PDIP)
8. Bart Senduk (PKPI)

Kursi Parpol
* PDIP 13 Kursi
* Golkar 9 Kursi
* Gerindra  6 Kursi
* Demokrat  6 Kursi
* PAN  3 Kursi
* Nasdem 2 Kursi
* PKPI  2 Kursi
* PPP 1 Kursi
* Hanura 1 Kursi

* Melenggang ke Senayan:

DPD RI Utusan Sulut
1. Maya Rumantir (206.987)
2 Aryanthi Baramuli Putri (150.255)
3 Fabian Sarundajang (127.499)
4 Benny Rhamdani (94.588)

DPR RI Dapil Sulut
1 Olly Dondokambey (PDIP)
2 Vanda Sarundajang (PDIP)
3 Aditya Anugrah Moha (Golkar)
4 EE Mangindaan (Demokrat)
5 Yasti Soepredjo Mokoagow (PAN)
6 Wenny Warouw (Gerindra).(*)


Sumber: Tribun Manado 28 April 2014 hal 1

Inilah Wakil Bumi Nyiur Melambai 2014-2019

Berikut daftar nama yang lolos di senayan untuk wakili masyarakat Sulawesi Utara, Senin (28/4/2014).

DPD RI Utusan Sulut
1. Maya Rumantir (206.987)
2 Aryanthi Baramuli Putri (150.255)
3 Fabian Sarundajang (127.499)
4 Benny Rhamdani (94.588)

DPR RI Dapil Sulut
1 Olly Dondokambey (PDIP)
2 Vanda Sarundajang (PDIP)
3 Aditya Anugrah Moha (Golkar)
4 EE Mangindaan (Demokrat)
5 Yasti Soepredjo Mokoagow (PAN)
6 Wenny Warouw (Gerindra).


Sumber: Tribun Manado 28 April 2014 hal 1

Daging Kucing Paling Enak Pakai Bumbu RW

BAGI kebanyakan orang, kucing merupakan  hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Tapi bagi penggemar kuliner ekstrem,  dagingnya enak disantap Selain hobi makan daging kucing, mereka pun piawai meramu bumbu masakan hingga daging kucing nikmat disantap.

Michael Manawan, Fendy Paoh, Richi Maringka dan Youtu Sumuweng, warga Kelurahan Luaan Kecamatan Tondano Timur Kabupaten Minahasa termasuk kelompok yang doyan daging kucing.  Manawan mengatakan daging kucing paling enak jika dimasak pakai dibumbu RW dengan takaran lengkuas dan saribata agak dilebihkan. "Lengkuas dan saribata jadi bumbu khas daging kucing," ujarnya kepada Tribun Manado, Jumat (21/2/2014).

Dijelaskannya, sebelum daging kucing dibumbu, terlebih dahulu diasapi guna  menghilangkan rasa anyirnya. Lama masakannya berdurasi 45 menit "Kalau tak diasap, rasa anyirnya mengganggu cita rasa," ujar Manawan. Sumuweng menambahkan, daging kucing bisa juga dimasak dengan santan. "Rasanya juga enak," tuturnya.

Sudah lama Manawan jago memasak daging kucing, terlebih ia juga tumbuh dan besar dari keluarga koki. Ia memotong sendiri si meong, tanpa ada rasa iba dengan tampangnya yang lucu dan menggemaskan. "Kalau punya orang lain, saya berani," ujarnya.

Menurut Manawan, ada kekhasan cita rasa daging kucing dibandingkan daging hewan lainnya. Daging kucing juga diyakini bisa menyembuhkan penyakit asma. "Kucing itu berdaging putih, jadi tak akan kena darah tinggi. Berbeda dengan daging merah. Untuk kesehatan juga baik, menyembuhkan asma," jelasnya.

Setiap kali kesempatan tersedia hidangan menu daging kucing, Manawan tak mau melewatkan kesempatan emas tersebut. Apalagi untuk mendapatkan daging kucing lebih sulit dibandingkan daging hewan lainnya. "Di pasar,  jarang ada yang jualan kucing, kecuali ada yang memberi kucing untuk dimasak," tuturnya.

Berbeda dengan para koki dan pengemar daging kucing, Fabiola Kamasi merupakan wanita pencinta hewan termasuk kucing. Ia mengaku dari waktu ke waktu, rumahnya selalu ada kucing. "Selain menggemaskan, mereka juga berguna sebagai pengusir tikus. Jadi di rumah selalu ada kucing," ujarnya.


Fabiola sudah mengenal karakter hewan yang satu ini. "Kucing itu susah mati, pasti. Satu lagi mereka manja. Kalau dimarahin akan mengambek, tak mau makan dan juga buang hajat sembarangan," ujarnya

Ia pun sudah berapa kali kehilangan kucing peliharaannya. Entah apa penyebabnya, tapi kuat dugaan kehilangan tersebut untuk dijadikan santapan. "Sudah berapa kali kucing saya hilang. Itu biasanya pada kucing jantan, karena mereka sering keluar rumah, berbeda dengan kucing betina yang lebih banyak tinggal di rumah. Sebelum hilang kadang sudah ada tanda-tanda dulu. Kadang kucing saya sudah luka-luka. Mungkin sudah jadi sasaran, tapi lolos. Tapi akhirnya hilang juga," katanya.

Suatu waktu, kucing kesayangan anaknya hilang hingga anaknya  menangis berhari-hari. "Tahulah anak-anak, saat cari sudah tak ada, dia nangis berhari-hari," tutur Fabiola. Menurutnya, tak ada salahnya masyarakat punya hobi makan daging kucing. Tapi sebaiknya jangan mencuri milik orang lain. "Kalau makan hasil curian, hati-hati kena sakit," ujarnya sambil terkekeh. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado 22 Februari 2014 hal 1

Semangat Baru, Harapan Baru

Oleh Moldy R Mambu
Wakil Direktur RS Advent Manado

SUDAH sebulan bencana banjir bandang berlalu menyisakan duka dan penderitaan. Keadaan berangsur pulih di Kota Manado. Warga bersama relawan telah membersihkan lumpur sementara korban yang kehilangan tempat tinggal masih menginap di rumah saudara dan pengungsian.

Bencana dapat datang setiap waktu. Indonesia yang bagai zamrud di katulistiwa sekarang berhadapan dengan kekuasaan alam. Sementara negara berupaya untuk menaikkan kemampuan dan taraf hidup masyarakat diberbagai sektor, diluar dugaan menerima bencana. Bukan hanya Manado tapi pada beberapa wilayah di Tanah Air banjir memorak-porandakan permukiman. Air yang biasanya naik hanya sebatas lutut kini meningkat ke plafon rumah. Korban harta tidak terbilang jumlahnya apalagi terdapat korban manusia.

Berada di halaman rumah berlumpur yang telah kosong karena bangunan terbawa banjir tidak ada yang tersisa, sangatlah memiriskan. Tidak mudah menghadapi kenyataan ini apalagi beberapa keluarga yang kehilangan anggota keluarga. Melihat ketinggian air di antara 3-5 meter yang terjadi di setengah Kota Manado dapat dibayangkan tingkat kesulitan serta tegangnya masyarakat ketika hendak menyelamatkan diri. Banyak penduduk yang nanti melarikan diri ketika air yang naiknya begitu cepat telah mencapai pinggang.

Dari tahun ke tahun bencana bukan berkurang tapi malahan bertambah menjadi besar dengan wilayah melebar. Kawasan yang telah menjadi langganan banjir setiap tahun seperti telah menjadi biasa dengan datangnya air tapi kali ini jumlah air tidak sama dengan tahun-tahun kemarin. Sekarang yang datang adalah air bah dengan arus kencang. Air naik begitu cepat hanya dalam hitungan menit sehingga korban tidak sempat menyelamatkan harta bendanya. Bencana belakangan ini tidak sebatas melimpahnya air dan longsor tapi gunung yang meletus perlu diwaspadai. Gunung Sinabung yang pasif sejak tahun 1600 tiba-tiba menunjukkan kegiatan aktif dan meletus setelah tidur sekitar 400 tahun.

Siaga bencana perlu mendapat perhatian seluruh masyarakat. Antisipasi terhadap musibah banjir perlu diperhitungkan dan diwaspadai. Kota Manado yang kian bertambah penduduknya membutuhkan banyak lahan permukiman. Permukiman bertambah jamaknya disusul penyediaan fasilitas umum. Berdirinya area belanja dan hiburan telah menjadi bagian dari kota yang berkembang melengkapi permukiman baru. Kemudian seperti apa yang kita saksikan wilayah gundul tangkapan air hujan menjadi besar.

Air hujan dalam jumlah besar mengalir dari tempat tinggi kewilayah rendah mencari laut. Air di laut tetap lebih rendah dari daratan tapi Manado ternyata kekurangan jalan air yang bernama sungai untuk menjadi pembuangan air menuju pantai. Wilayah tangkapan air hujan di Manado dan sekitarnya menyalurkan airnya ke Sungai Tondano dan sungai di Sario. Kedua sungai ini kekecilan untuk jumlah air yang mem-bah.

Banyak pihak terkait dapat meredam keganasan banjir bandang dan menghindari korban. Di antaranya adalah kesadaran masyarakat dan pengembang permukiman untuk peduli lingkungan. Penanaman rumput dan penataan ruang kosong dengan pohon perlu diperbanyak membuat wilayah resapan air hujan bertambah. Hujan akan terserap oleh tumbuh-tumbuhan. Semua kita tahu tetapi itulah, sering kita abai. Lalu setelah banjir teringat menanam.

Hunian di bantaran sungai dan wilayah longsor sangat berisiko. Itu sebabnya perlu diperhatikan imbauan menjauhi pemukiman pada tempat-tempat berbahaya. Pemerintah tentu akan berusaha mencari solusi dalam mengatasi masalah banjir ini. Namun menangani banjir tentu bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata tetapi perlu mendapat perhatian seluruh masyarakat. Ada hal yang kelihatan kecil tapi penting untuk dibuat oleh masyarakat yakni menanam pohon bukan menebangnya. Menjaga kebersihan selokan dan tidak membuang sampah sembarangan. Hal ini perlu menjadi sikap hidup bermasyarakat. Bencana dapat terjadi di mana dan kapan saja, siap maupun tidak siap.

Pernakah mengamati bila sebuah kentang dan sebutir telur dimasukkan ke dalam belanga dengan air dididihkan? Air mendidih akan mengubah kentang dan telur itu. Tetapi perubahan yang terjadi kepada dua benda ini sangat bertolak belakang. Telur akan berangsur menjadi keras, sedangkan kentang akan berubah menjadi lembut. Mungkin dalam situasi yang paling berat di kehidupan ini, kita seperti berada dalam belanga yang mendidih dengan penderitaan, kesulitan, bencana serta musibah. Bagaimana sikap kita ketika keluar dari kesulitan ini? Menjadi keraskah, lembutkah?

Ada penderitaan yang terjadi karena ulah manusia. Pola hidup yang longgar dan cenderung boros sudah pasti berujung pada masalah kesehatan maupun kesulitan finansial. Ada penderitaan yang sulit diperkirakan serta berada di luar kemampuan manusia yang dikategorikan bencana. Air yang dalam jumlah kecil menjadi berkat namun bila jumlah banyak dan berada bukan pada tempatnya mendatangkan malapetaka. Bagaimana sikap kita menerima keadaan yang tidak terelakkan ini?

Sikap menghadapi suatu keadaan seperti bencana sangat menentukan untuk membangun kembali semangat dan asa manusia. Merasa terpuruk serta meratap berkepanjangan bukanlah solusi. Ungkapan bahwa ketika sebuah pintu dalam kehidupan tertutup pasti ada jendela kesempatan lain terbuka banyak benarnya.

Mengapa? Karena sudah pasti pada setiap peristiwa yang terjadi akan dikembari dengan hikmah. Menjadi korban dalam bencana banjir tentu membawa kesulitan dan duka. Tetapi setiap hari terbuka kesempatan baru. Untuk bangkit kembali, satu hal dominan adalah sikap penerimaan atas musibah yang terjadi. Mempunyai sikap positif akan mendorong semangat untuk bangkit lagi setelah melewati belanga yang mendidih. Memang secara manusia sangat berat menghadapi kerugian ekonomi dan kedukaan. Akankah mengeras seperti telur sehingga yang tampak adalah kegetiran serta kepahitan. Atau keluar dari kemelut bagai kentang, menjadi lebih lembut, bijak dan matang dengan semangat baru.(*)

Sumber: Tribun Manado, 25 Februari 2014 halaman 10

Gagasan Penanggulangan Bencana Banjir Manado

Oleh Seth Albert Lengkong
Pensiunan Pegawai Depdikbud


MULA-mula penulis ingin menyampaikan sungai-sungai yang mengalir ke Kota Manado yang menjadi penyebab banjir. Terdapat lima sungai, namun hanya tiga sungai yang bermuara di pantai Manado.

Kelima sungai dimaksud, yakni pertama Sungai Tondano. Sungai ini hulunya di Danau Tondano, lalu mengalir melalui Desa Tonsea Lama, Tanggari, Sawangan (Minahasa Utara), Kuwil, Maumbi, Kairagi, Kombos, Wenang Permai, Komo Luar, Karame, dan bermuara di jembatan Megawati/Soekarno.

Kedua Sungai Tikala yang berasal dari lereng utara Gunung Mahawu, lalu mengalir melalui Desa Rumengkor, Sampiri, Kaleosan, Sawangan (Kecamatan Tombulu), Tikela, Paal IV, Tikala Baru, Banjer, Tikala Ares, Tikala, kemudian bertemu dengan Sungai Tondano kira-kira 100 meter sesudah jembatan Tikala yang berada dekat dengan kediaman Panglima Kodamar. Tapi, sungai ini tidak bermuara di pantai Manado.

Ketiga sungai Saluhesem yang berasal dari lereng utara Gunung Mahawu lalu mengalir melalui Desa Kembes, Koka, Kamangta, dan bertemu dengan sungai Tikala di sekitar Desa Sawangan. Sungai ini juga tidak bermuara di Pantai Manado.

Keempat sungai Sario juga berasal dari lereng utara Gunung Mahawu lalu mengalir ke desa Koka, perumahan Citraland, kawasan Pasar Karombasan, melewati jembatan Sario dekat patung Sam Ratulangi melewati jembatan dekat Supermarket Hawa Baru, kemudian bermuara di sekitar Mantos.

Sungai Malalayang juga berasal dari lereng utara Gunung Mahawu melalui desa/kelurahan Kali, Lotta melalui jembatan Malalayang (dekat patung Imam Bonjol), Bahu, dan melewati jembatan dekat Pasar Bahu dan bermuara di pantai Manado.

Pengenalan di atas karena penulis sudah banyak kali melaluinya dengan berjalan kaki menuju Desa Tombuluan untuk menjenguk orangtua dan saudara pada masa Permesta. Makanya, duga gagasan yang hendak ditawarkan untuk menangulangi bencana di Manado, yakni mengalihkan aliran Sungai Tikala mulai dari sekita Desa Sawangan (Kecamatan Tombulu) ke aliran Sungai Tondano di sekitar Desa Maumbi Kairagi.

Daerah aliran sungai (DAS) Tikala hanya berjarak 1,5 kilometer dengan DAS Tondano dan tidak melalui perbukitan yang tinggi. Sesudah air yang telah bersatu melalui jembatan Kairagi selanjutnya disesuaikan dengan rencana Kota Manado yang akan membuat Water Front City, maka gagasan ini dapat menghilangkan daerah banjir, seperti Tikela, Paal IV, Tikala Baru, Banjer, Tikala Ares, Tikala, Perkamil, Dendengan Dalam/Kampung Merdeka.  Ditambah dengan rencana pembuatan Water Front City maka akan membebaskan daerah banjir seperti Kombos, Ternate Tanjung, Karame, Komo Luar, Calaca, Wenang Permai.

Kedua, mengalihkan aliran Sungai Sario dari sekitar Koka dan Kali menuju ke aliran Sungai Malalayang dekat Desa Lotta Pineleng. DAS Sario hanya berjarak 2 kilometer dengan DAS Malalayang dan tidak melalui perbukitan tinggi. Sesudah kedua air sungai menjadi satu, air itu mengalir dan bermuara di Bahu. Jika demikian, maka dapat menghilangkan daerah banjir seperti, Citraland, Pakowa, Wanea, Sario, Tanjung Batu, Ranotana, hingga Mantos.

Untuk melaksanakan kedua gagasan diperlukan biaya yang relatif rendah, dibandingkan dengan biaya yang diperlukan untuk merelokasi puluhan ribu penduduk yang mendiami daerah banjir. Gagasan ini hanya sebagai sumbangan pemikiran dari penulis, agar ada pertimbangan dari pemerintah untuk menurukan ahlinya ke lokasi guna melakukan peninjauan soal layak dan tidaknya.(*)

Sumber: Tribun Manado, 24 Februari 2014 halaman 10

Kembalikan Hak Kota

Oleh Henry Roy Somba 
Arsitek, Pemerhati Tata Kota dan Lingkungan

PERISTIWA banjir yang terjadi di beberapa daerah pada awal 2014 ini masih saja menjadi headline surat kabar dan media elektronik dalam negeri. Pemerintah dituntut untuk fokus bekerja keras melakukan upaya-upaya pemulihan kota dari terjangan air yang tiada ampun.

 Belajar dari banyak kasus air di beberapa negara, maka persoalan air dan melimpahnya air sungai Tondano bukanlah 100 persen diakibatkan oleh kondisi alam yang rusak, tetapi juga oleh ulah manusia sendiri. Banyak pakar coba menarik benang merah dari persoalan banjir dan tanah longsor yang menerjang Kota Manado dan sekitarnya.

Rusaknya lingkungan di hulu sungai, kurangnya resapan air di kota, buruknya drainase dan lain sebagainya mungkin adalah masalah teknis yang dapat juga diselesaikan secara teknis. Tetapi ada sebuah masalah besar yang sebenarnya harus diselesaikan oleh pihak berwenang yakni menyadarkan manusia/penduduk untuk menghargai alam sekitar yang notabene adalah anugrah Tuhan Yang Maha Esa, sebagai bagian dari ciptaan Tuhan untuk kelangsungan hidup bersama.
Tuan Castells dalam teorinya menegaskan bahwa orang/masyarakat harus paham soal "the right of the city", hak-hak dari kota itu sendiri. Industri dalam sebuah kota itu penting tetapi jangan sampai merusak alam sekitar.

Kota harus diberi ruang resapan air selain menutupinya dengan aspal dan beton, menumbuhkan pohon selain meninggikan gedung-gedung dan menara, membuka ruang publik selain ruang kapital mal-mal dan bussiness center, memberi tempat bagi kota untuk mengolah polusi dengan memperbanyak hutan kota/ruang hijau, dan lain sebagainya. Kondisi kehidupan kota yang menuntut masyarakat untuk mengeksploitasi lingkungan dan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, telah menjadi keharusan penduduk kota untuk bertahan hidup dan bahkan memperkaya diri. Tetapi kita sering tidak mampu memenuhi apa yang menjadi hak kota.

Hak 30 persen ruang terbuka hijau
Menurut S Gunadi (1974) dalam Yoshinobu Ashihara, ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dengan alam dengan memberi "frame", jadi bukan alam itu sendiri (yang dapat meluas tak terhingga). Elemen ruang terbuka kota meliputi lansekap, jalan, pedestrian, taman, dan ruang-ruang rekreasi.

Ruang terbuka hijau (green openspace) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, ruang terbuka hijau di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota.

Ruang terbuka hijau binaan (RTHB) adalah ruang atau kawasan yang lebih luas, baik dalam bentuk areal memanjang/jalur atau mengelompok, di mana penggunaannya lebih bersifat terbuka/umum, dengan permukaan tanah didominasi oleh perkerasan buatan dan sebagian kecil tanaman.

Kawasan/ruang hijau terbuka binaan sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara ruang terbangun dan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru-paru kota, peresapan air, pencegahan polusi udara dan perlindungan terhadap flora. Sebagai wahana interaksi sosial, ruang terbuka diharapkan dapat mempertautkan seluruh anggota masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya.

Selain itu, ruang terbuka hijau memiliki fungsi spesifik yaitu: 1) Daya dukung ekosistem. Perhitungan kebutuhan ruang terbuka hijau dilandasi pemikiran bahwa ruang terbuka hijau tersebut merupakan komponen alam yang berperan menjaga keberlanjutan proses di dalam ekosistemnya. Oleh karena itu ruang terbuka hijau dipandang memiliki daya dukung terhadap keberlangsungan lingkungannya. Dalam hal ini ketersediaan ruang terbuka hijau di dalam lingkungan binaan manusia minimal sebesar 30 persen.

2) Pengendalian gas berbahaya dari kendaraan bermotor. Gas-gas yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor sebagai gas buangan bersifat menurunkan kesehatan manusia (dan makhluk hidup lainnya), tertama yang berbahaya sekali adalah dari golongan Nox, CO, dan SO2. Diharapkan ruang terbuka hijau mampu mengendalikan keganasan gas-gas berbahaya tersebut, meskipun ruang terbuka hijau sendiri dapat menjadi sasaran kerusakan oleh gas tersebut. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan adalah mengadakan dan mengatur susunan ruang terbuka hijau dengan komponen vegetasi di dalamnya yang mampu menjerat maupun menyerap gas-gas berbahaya.

Penelitian yang telah dilakukan di Indonesia (oleh Dr. Nizar Nasrullah) telah menunjukkan keragaman kemampuan berbagai jenis pohon dan tanaman merambat dalam kaitannya dengan kemampuan untuk menjerat dan menyerap gas-gas berbahaya tersebut. Perkiraan kebutuhan akan jenis vegetasi sesuai dengan maksud ini tergantung pada jenis dan jumlah kendaraan, serta susunan jenis dan jumlahnya.

Sifat dari vegetasi di dalam ruang terbuka hijau yang diunggulkan adalah kemampuannya melakukan aktivitas fotosintesis, yaitu proses metabolisme di dalam vegetasi dengan menyerap gas CO2, lalu membentuk gas oksigen. CO2 adalah jenis gas buangan kendaraan bermotor yang berbahaya lainnya, sedangkan gas oksigen adalah gas yang diperlukan bagi kegiatan pernafasan manusia. Dengan demikian ruang terbuka hijau selain mampu mengatasi gas berbahaya dari kendaraan bermotor, sekaligus menambah suplai oksigen yang diperlukan manusia.

Besarnya kebutuhan ruang terbuka hijau dalam mengendalikan gas karbon dioksida ini ditentukan berdasarkan target minimal yang dapat dilakukannya untuk mengatasi gas karbon dioksida dari sejumlah kendaraan dari berbagai jenis kendaraan di kawasan perkotaan tertentu.

3) Pengamanan lingkungan hidrologis. Kemampuan vegetasi dalam ruang terbuka hijau dapat dijadikan alasan akan kebutuhan keberadaan ruang terbuka hijau tersebut. Dengan sistem perakaran yang baik, akan lebih menjamin kemampuan vegetasi mempertahankan dan mengontrol keberadaan air tanah sekaligus memperkuat fungsinya untuk peresapan air.

Dengan semakin meningkatnya areal penutupan oleh bangunan dan perkerasan, akan mempersempit keberadaan dan ruang gerak sistem perakaran yang diharapkan, sehingga berakibat pada semakin terbatasnya ketersediaan air tanah. Dengan semakin tingginya kemampuan vegetasi dalam meningkatkan ketersediaan air  tanah, maka secara tidak langsung dapat mencegah  terjadinya peristiwa intrusi air laut ke dalam sistem hidrologis yang ada, yang dapat menyebabkan kerugian berupa penurunan kualitas air minum dan terjadinya korosi/ penggaraman pada benda-benda tertentu.

4) Pengendalian suhu udara perkotaan. Dengan kemampuan untuk melakukan kegiatan evapo-transpirasi, maka vegetasi dalam ruang terbuka hijau dapat menurunkan tingkat suhu udara perkotaan. Dalam skala yang lebih luas lagi, ruang terbuka hijau menunjukkan kemampuannya untuk mengatasi permasalahan 'heat island' atau 'pulau panas', yaitu gejala meningkatnya suhu udara di pusat-pusat perkotaan dibandingkan dengan kawasan di sekitarnya.

Tingkat kebutuhan ruang terbuka hijau untuk suatu kawasan perkotaan bergantung pada suatu nilai indeks, yang merupakan fungsi regresi linier dari persentase luas penutupan ruang terbuka hijau terhadap penurunan suhu udara. Jika suhu udara yang  ditargetkan telah ditetapkan, maka melalui  indeks tersebut akan dapat diketahui luas penutupan ruang terbuka hijau minimum yang harus dipenuhi. Namun yang harus dicari terlebih dahulu adalah nilai dari indeks itu sendiri.

5). Pengendalian thermoscape di kawasan perkotaan. Keadaan panas suatu lansekap
(thermoscpe) dapat dijadikan sebagai suatu model untuk perhitungan kebutuhan ruang terbuka hijau. Kondisi thermoscape ini tergantung pada komposisi dari komponen-komponen penyusunnya.

Komponen vegetasi merupakan komponen yang menunjukan struktur panas yang rendah, sedangkan bangunan, permukiman, paving, dan konstruksi bangunan lainnya merupakan komponen dengan struktur panas yang tinggi. Perimbangan antara  komponen-komponen dengan struktur panas rendah dan tinggi tersebut akan menentukan kualitas kenyamanan yang dirasakan oleh manusia. Guna mencapai keadaan yang diinginkan oleh manusia, maka komponen-komponen dengan struktur panas yang rendah (vegetasi dalam ruang terbuka hijau) merupakan kunci utama pengendali kualitas thermoscape yang diharapkan. Keadaan struktur panas komponen-komponen dalam suatu keadaan thermoscape ini dapat diukur dengan mempergunakan kamera infra merah.

Keadaan panas suatu ruang lansekap yang dirasakan oleh manusia merupakan indikator penting dalam menilai suatu struktur panas yang ada. Guna memperoleh keadaan yang ideal, maka diperlukan keadaan struktur panas yang dirasakan nyaman oleh manusia. Dengan demikian, terdapat suatu korelasi antara komponen-komponen penyusun struktur panas dalam suatu keadaan thermoscape tertentu, dan rasa panas oleh manusia. Secara umum dinyatakan bahwa komponen-komponen dengan struktur panas rendah dirasakan lebih nyaman dibandingkan dengan struktur panas yang lebih tinggi.


6) Pengendalian bahaya-bahaya lingkungan. Fungsi ruang terbuka hijau dalam mengendalikan bahaya lingkungan terutama difokuskan pada dua aspek penting, pencegahan bahaya kebakaran dan perlindungan dari keadaan darurat berupa gempa bumi. Ruang terbuka hijau dengan komponen penyusun utamanya berupa vegetasi mampu mencegah menjalarnya luapan api kebakaran secara efektif, dikarenakan vegetasi mengandung air yang menghambat sulutan api dari sekitarnya.

 Ruang terbuka hijau juga sangat efektif sebagai zona peresapan air ketika terjadi hujan dalam waktu yang lama karena kemampuan akar-akar dari tumbuhan untuk meresap air ke dalam tanah sangat baik. Persoalan banjir di kota-kota besar akan bisa diminimalisir oleh ketersediaan ruang terbuka hijau yang cukup. Demikian juga dalam menghadapi risiko gempa bumi yang kuat dan mendadak, ruang terbuka hijau merupakan tempat yang aman dari bahaya runtuhan oleh struktur bangunan. Dengan demikian, ruang terbuka hijau perlu diadakan dan dibangun di tempat-tempat strategis di tengah-tengah lingkungan permukiman.

Nah, dari penjelasan yang sangat rinci di atas kita bisa memahami bahwa betapa pentingnya peranan ruang terbuka hijau dalam suatu kota, yang merupakan hak kota yang harus dipenuhi karena memberi manfaat yang sangat-sangat kompleks terhadap masyarakat dan lingkungan.

Pentingnya penataan ruang kota
Hakikat dari pada penataan ruang kota adalah mengatur pola pemanfaatan dan pengendalian ruang kota. Penataan ruang kota sangat penting untuk mendapat perhatian para pelaku pembangunan karena disadari bahwa adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan ruang dengan kebutuhan terhadap ruang tersebut. Penataan ruang kota bukanlah semata-mata pada penataan bangunan-bangunannya, tapi perlu memperhatikan faktor alam sebagai penyeimbang lingkungan dalam kota. Zona hijau dalam suatu kota harus melalui kajian dan perencanaan yang baik dengan memperhatikan berbagai aspek perencanaannya seperti bentuk, fungsi dan volumenya.

Pada 8 Nopember 2013 telah diadakan peringatan Hari Tata Ruang Nasional dengan tema "Harmoni Ruang dan Air untuk Hidup yang Lebih Baik",  yang diadopsi dari tema World Town Planning Day 2013 International "water and planning: the fluid challence". Peringatan Hari Tata Ruang ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik (masyarakat luas) dan para perencana terhadap penataan ruang dalam rangka menciptakan lingkungan yang layak huni.

Ada dua hal yang penting dari peringatan Hari Tata Ruang. Pertama, adanya upaya harmonisasi berbagai kepentingan, misalnya kepentingan ekonomi, lingkungan, dan lain sebagainya agar dapat berdampingan untuk memaksimalkan kemanfaatan ruang secara utuh yang ada di darat, air dan udara, dan bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Upaya harmonisasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan penataan ruang. Kedua, memperingati Hari Tata Ruang merupakan momentum untuk menkoreksi penyelenggaraan penataan ruang yang selama ini menjadi domain para teknokrat (dalam konteks ini profesi perencana) dan birokrat menjadi domain publik atau masyarakat luas.

Penataan ruang yang dimaksud di sini adalah mulai dari perencanaan, pemanfaatan ruang, hingga pengendalian pemanfaatan ruang. Momentum peringatan Hari Tata Ruang Nasional yang dilaksanakan pada November 2013 silam seharusnya memperbaharui semangat semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan era tertib tata ruang. Persoalan banjir yang kita saksikan dan alami sesungguhnya adalah persoalan ketidaktertiban pemerintah dan masyarakat terhadap penggunaan dan pemanfaatan ruang yang seharusnya ditata sebagaimana mestinya.(*)

Sumber: Tribun Manado, 21-22 Februari 2014 halaman 10

Bencana Alam Salah Siapa?

Oleh Ferol Warouw
Kandidat Doktor Lingkungan Universitas Indonesia


SEBULAN sudah (15 Januari 2014) bencana 'tsunami' menimpa Kota Manado dan sekitarnya. Setelah hujan beberapa hari di berbagai tempat di Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado, tanpa prediksi 'tsunami' tiba-tiba menerjang Manado dan beberapa kabupaten sekitar. Sebagian besar wilayah di Kota Manado luluh lantak oleh terjangan 'tsunami' yang datangnya dari wilayah pegunungan dan melewati beberapa sungai besar di Kota Manado.

Tercatat belasan jiwa yang akhirnya harus menjadi korban dan ribuan orang kehilangan harta benda dan tempat tinggal. Di Manado bencana alam ini berdampak di 11 kecamatan yang terdiri atas 56 kelurahan dengan 219 lingkungan. Adapun jumlah jiwa yang terkena dampak terdiri atas 86.335 jiwa serta merusak lebih dari 10.000 rumah. Pusat ekonomi hampir lumpuh dengan kerugian yang ditaksir hingga Rp 2 triliun.

Salah siapakah sehingga bencana ini terjadi? Sebelum mulai saling menuduh, mari kita telusuri berbagai data berikut ini menyangkut kondisi lingkungan kita.

    1.    Perubahan iklim akibat pemanasan global telah menjadi isu lingkungan utama dan menjadi perbincangan hangat tidak hanya di kalangan negara negara maju tetapi juga bagi negara berkembang. Pembicaraan yang dimulai secak era 80-an terus mengemuka hingga saat ini karena dampak yang ditimbulkannya berlaku secara global atau berdampak secara keseluruhan bagi umat manusia. Perubahan lingkungan mampu mengancam eksistensi wilayah suatu negara serta membawa pengaruh pada luas wilayah teritorial suatu negara. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan sistem manajemen negara dan cara pandang dalam manajemen perencanaan tata ruang wilayah.

    2.    Perubahan ekologis lewat pembangunan pada lingkungan telah membawa dampak penurunan kualitas lingkungan berakibat pada terjadinya bencana alam di berbagai tempat dan daerah termasuk di negara kita. Secara nasional, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan gambaran bahwa sebanyak 27 (termasuk Sulawesi Utara) dari 33 provinsi terdeteksi rawan banjir dan longsor. Ini baru menyangkut longsor dan banjir, belum gempa bumi dan ancaman gunung berapi.
    3.    Sebuah laporan ilmiah Australia pada 2010 mengemukakan, Asia-Pasifik sedang menghadapi ancaman bencana alam. Kejadian ini akan menyeret Asia-Pasifik memasuki era bencana besar hingga korban berjatuhan. Urbanisasi, perubahan iklim, dan kekurangan makanan turut membuat bencana alam semakin meningkat, satu kali bencana saja akan mencabut jutaan jiwa di mana Indonesia, Filipina dan China memiliki resiko tertinggi.

    4.    Bencana sepertinya sudah menjadi langganan bangsa kita yang berada di garis Khatulistiwa, rentang sepuluh tahun terakhir kita tak pernah lepas dari bencana alam, baik dari skala bencana yang kecil dan tak menimbulkan korban jiwa hingga hingga skala bencana besar yang merengut ribuan nyawa. Data yang dirilis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bahwa selang tahun 2008 - 2009 di Indonesia telah terjadi 359 bencana alam yang terjadi.

Sementara itu survei Environmental Performance Indeks (EPI) yang dilakukan oleh Yale University beberapa waktu yang lalu menempatkan Indonesia berada di urutan 102 dari 149 negara berwawasan lingkungan. Rangking ini sementara Malaysia berada di urutan 26 jauh di atas Indonesia. Survei ini menunjukkan kenyataan bahwa betapa kita sangat tidak peduli akan lingkungan. Akibat kepedulian yang rendah terhadap lingkungan akhirnya bencana tsunami dari gunung menimpa kita di Kota Manado.

Perubahan lingkungan memang telah menjadi keniscayaan dan bencana merupakan bagian yang akan mengikutinya. Jika kita tidak arif dalam mengelola lingkungan maka sudah barang tentu bencana akan terus mengintai kita. Dari keempat data di atas saya coba memilah beberapa hal pokok menyangkut kondisi semakin rentannya kita akan bencana yaitu:
    1.    Manusia vs lingkungan
Perubahan iklim akibat pemanasan global telah menjadi isu lingkungan utama dan menjadi perbincangan hangat tidak hanya di kalangan negara negara maju tetapi juga bagi negara berkembang karena dampak yang ditimbulkannya berlaku secara global atau berdampak secara keseluruhan bagi umat manusia mengancam eksistensi wilayah suatu negara serta membawa pengaruh pada luas wilayah teritorial suatu negara mengakibatkan terjadinya perubahan sistem manajemen negara dan cara pandang dalam manajemen perencanaan tata ruang wilayah. Secara geologis, klimatologis, dan geografis, wilayah Indonesia tergolong rentan terhadap bencana alam sehingga kita tak akan pernah tahu kapan bencana itu akan datang.

Sonny Keraf, mantan Menteri KLH, mengungkapkan bahwa krisis lingkungan terjadi bukan karena bangsa Indonesia tidak menguasai ilmu dan teknologi, melainkan karena kita mengabaikan etika dan moralitas. Hutan rusak, udara dan air tercemar, serta sederet masalah lingkungan terjadi bukan karena bangsa Indonesia tidak pandai dalam ilmu ekonomi dan teknologi, tetapi karena oknum-oknum di Indonesia telah sedemikian tidak bermoral, rakus, dan tamak, serta hanya memikirkan kepentingan sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain dan generasi mendatang dalam pemanfaatan potensi lingkungan.

    2.    Pemerintah, swasta, dan masyarakat
Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan eksploitasi lingkungan yang berlebihan yang mau tak mau harus dilakukan menyebabkan menurunnya daya dukung lingkungan. Berdasarkan data dari Wahana Lingkungan Hidup yang dirilis 2010 beberapa daerah di Indonesia sementara Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) menuliskan penduduk di Jawa dan Sumatera paling rentan terkena dampak banjir dan longsor. Kenyataannya bukan hanya Jawa dan Sumatera yang kemudian terkena bencana saat melainkan ini telah meluas hampir ke seluruh wilayah Indonesia.

    3.    Peran partisipatif sebagai kunci penangulangan bencana
Dalam pelatihan manajemen mitigasi bencana yang diselengarakan di Jogjakarta oleh Yayasan Church World Service pada 2008, telah mengemuka bahwa peran partisipatif masyarakat dalam menyelesaikan persoalan lingkungan sangatlah penting dalam menentukan keberlanjutan ekologis lingkungan agar nantinya membawa pengaruh pada berkurangnya bencana alam namun peran partisipatif masyarakat tidak akan berjalan jika tidak digerakkan oleh pemerintah dengan support swasta tentunya.

Bagaimana peran partisipatif ini kita kebangkan? Saya mulai dengan mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Prof Dr Emil Salim yaitu, "Gali, akui, dan kembangkanlah kearifan hidup berkelanjutan berbasis masyarakyat lokal. Perpaduan rakyat dan alam adalah modal pokok yang perlu dikembangkan dengan ekoteknologi dan ekonomi berbasis lingkungan. Bangunlah Tanah Air dan masyarakat dalam siklus pembangunan berkelanjutan yang saling berkaitan dan saling membutuhkan sebagai ciptaan Ilahi."

Dibutuhkan kearifan lokal yang sesuai dengan basis inisiatif masyarakat untuk dapat mengantisipasi bencana di masa mendatang. Kearifan lokal yang pertama adalah "Mapalus". Mapalus sebagai suatu sistem atau teknik kerja sama untuk kepentingan bersama dalam budaya suku Minahasa yang merupakan suku permukim dominan di Kota Manado. Secara fundamental, mapalus adalah suatu bentuk gotong-royong tradisional yang memiliki perbedaan dengan bentuk- bentuk gotong royong moderen.

Melalui mapalus diharapkan peran partisipatif masyarakat dapat terus ditingkatkan guna menopang proses pembangunan berwawasan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat itu sendiri agar masyarakat menunjukkan identitas dirinya berdasarkan what they have bergeser menjadi what they are. Bukti nyata mapalus masih hidup dapat dilihat dengan berbondong-bondongnya masyarakat (yang tak kena dampak bencana) datang bersama membersihkan Kota Manado. Ini menunjukkan bahwa mapalus masih ada dan belumlah mati. Hanya saja perlu diperhatikan adalah mapalus hendaknya dikembangkan dan diterapkan lebih pada rencana strategis antisipasi bencana dan pengelolaan lingkungan. Lebih spesifik dikembangkan dalam kegiatan guna saling membantu dan bersama dalam mengantisipasi keadaan alam dalam pembangunan, bukan membangun kembali keadaan lingkungan pascabencana. 

Kearifan lokal kedua yang perlu dikembangkan mekanisme peran tokoh agama/masyarakat dalam memberikan pencerahan menyangkut manusia sebagai pusat ciptaan melalui paham antoposentris (manusia sebagai pusat) digeser menjadi ekosentris (manusia dan lingkungan harus hidup sejajar dan berdampingan). Hal ini bisa dilakukan dalam berbagai struktur pertemuan komunitas secara intensif, seperti pertemuan di tingkatan wilayah jemaat, kolom jika komunitas gereja dijadikan contoh.

Sementara itu pemerintah harus turut aktif mendorong penemuan kearifan lokal berbasis masyarakat yang kemudian diterjemahkan dalam konsep dan strategi pembangunan utamanya dalam hal penataan ruang. Hal tersebut adalah pertama, mengakomodasi kegiatan partisipasi masyarakat (mapalus) kedalam rencana penataan ruang; kedua, pelibatan peran masyarakat yang sering terabaikan dalam pembangunan dan sering dituduh sebagai 'biang keladi' kerusakan lingkungan harus kemudian dilibatkan dalam program pembangunan lingkungan berbasis lingkungan lokal secara berkelanjutan; dan ketiga perlu diselesaikan secara cepat tumpang tindih pemanfaatan ruang lingkungan dan lahan permukiman.

Mapalus diharapkan mampu membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antarpenduduk setempat yang tumbuh guna menghindari dampak bencana dimasa akan datang. Hal  diatas perlu dilakukan sebagai bentuk manajemen mengantisipasi bencana sekaligus sebagai dasar (basic conceptual framework) dalam sistem mitigasi dan manajemen ketika bencana alam terjadi. Diharapkan sistem berbasis kearifan lokal ini mampu meminimalisasi bencana.

Bencana yang terjadi dan menimpa dapat  dijawab dalam satu gerakan penyelamatan lingkungan yang berbasis pada pemberdayaan partisipatif masyarakat itu sendiri. Gerakan ini sebagai bentuk gerakan bersama antarelemen masyarakat yang dalam praktiknya gerakan ini harus menjadi inspirator, inisiator, motivator, dan organisator menuju perubahan dalam hal: Pertama, meneruskan komitmen terhadap perjuangan moral bagi lingkungan.

Kedua, melanjutkan dan meningkatkan kualitas reformasi lingkungan. Ketiga, mewujudkan kegemilangan masa depan atas masa lalu (masa lalu bangsa ini ditandai dengan mismanagement sumber daya alam dan manusia). Keempat, mewujudkan apa yang menjadi tuntutan dan keinginan bersama seluruh masyarakat bahwa negara harus mampu menyejahterakan rakyatnya melalui peran masyarakat itu sendiri.

Akhirnya, siapa yang harus disalahkan akibat bencana alam ini? Saya berkesimpulan ini salah kita manusia, artinya salah kita semua yang serakah dan "pandang enteng" memperlakukan alam. Semoga bermanfaat.(*)

Sumber: Tribun Manado edisi 18-19 Februari 2014 halaman 10

Rumah Hijau

Oleh JF Walenta
Peminat Masalah Hukum dan Sosial

UNTUNG tak bisa diraih malang tak bisa ditolak, itulah kata yang dapat melukiskan bencana dasyat yang melanda kota Manado dan sekitarnya pada tanggal 15 Januari 2014. Tidak ada seorang pun dari warga kota ini berpikir bahwa suatu saat kota ini akan hancur lebur.

Wajah kota Manado yang  dulunya cantik bahkan tidak bisa dikenali lagi. Lumpur, sampah, bau busuk menjadi satu dalam aroma pilu di setiap jalan dan sudut kota. Tidak dapat dapat digambarkan bagaimana harapan warga kota ini untuk dapat meraih sukses di tahun yang baru. Warga kota ini telah menggantungkan harapan, cita-cita dan semangat setidak-tidaknya dengan usaha dan kerja keras agar dapat mengambil sedikit keuntungan untuk tetap hidup bersama kota yang penuh warna ini.

Jikalau kita pandai, jauh sebelum bencana melanda kota ini, sudah barang tentu kita dapat mereka-reka bahwa akan tiba saatnya kita disibukan dengan bencana dasyat. Tapi kita adalah masyarakat yang sungguh baik, tidak suka bicara, selalu menurut, tidak cukup pandai, acuh tak acuh dan terlalu sombong menikmati kebaikan alam serta tidak pernah bersyukur. Selebihnya kita betul-betul terpesona oleh pemimpin yang suka bersolek dan membual. Ketika bencana datang sontak kita  berdoa dan memohon belas kasihan, kemudian kita mulai menghitung kerugian akibatnya. Semuanya telah lewat. Namun sebagai warga kota yang baik, marilah kita melihat apa yang telah diperbuat oleh mereka yang telah kita percaya untuk menjadi pemimpin kota ini agar kita tahu bagaimana cara mengingatkan mereka.

Mulai Dari Pijakan Sederhana
Tidak perlu menggukanan kata yang terlalu rumit untuk mendefinisikan apa itu pemimpin.  Rakyat hanya tahu bahwa seorang pemimpin haruslah berada didepan untuk memimpin, selebihnya pemimpin adalah orang yang selalu memberikan contoh, panutan dan teladan yang baik kepada rakyat, tidak menipu dan membual, bicara santun, dapat dipercaya dan paling penting bukan seorang pemimpi, berada di garda terdepan untuk kepentingan rakyatnya sewaktu-waktu dibutuhkan.

Kalau pemimpin hanya untuk sekadar memimpin jadilah kota seperti sekarang ini, bermuka muram, dilanda duka, tidak lagi cantik, kurang bergairah, menguras energi warganya dan manfaat ekonomisnya menurun. Tidaklah baik kalau kita membandingkan kota ini dengan kota sedang dan besar lainnya dalam segi apapun, namun waktu sangatlah berharga bagi rakyat. Kadangkala kita harus menjadi tuan atas waktu kita oleh karenanya sedapat mungkin kita akan menghalau apapun yang menjadi penghalang bagi waktu kita. Akan tetapi kali ini akibat bencana dan kesemrawutan kota telah menghapus waktu dan harapan rakyatnya.


Kenyamanan yang Terganggu
Tengoklah baik-baik seperti apa pengelolaan sarana transportasi di kota ini yang setiap saat menjadi momok bagi waktu kita. Kemacetan bukan saja diciptakan oleh banjir bandang, akan tetapi sekalipun tidak banjir rakyat harus rela merayap. Lalu siapakah yang harus memikirkannya? Para pemimpin di kota ini sudah tahu kalau macet itu karena mobil banyak dan jalan sempit, tetapi untuk mengatasinya tidak semudah yang diucapkan. Kalau rakyat bertanya kepada pemimpin mengapa keadaan seperti ini masih terus terjadi? Adakah di antara mereka yang pintar untuk menjawab?

Alangkah baiknya sebagai rakyat, kita tidak perlu bermimpi untuk menikmati jalan yang nyaman tanpa kemacetan di kota ini. Kalau saja hari ini kita bicara tentang bencana banjir, kita tidak perlu  menyumpahi  alam sebagai penyebabnya. Lihat berapa banyak lubang mengganga di dalam kota. Namun meskipun demikian, faktanya pemimpin tidak pernah tahu kalau banyak jalan berlubang karena mereka menikmati jalanan dengan mobil mewah yang dibeli dengan mencekik rakyat melalui pajak dan berbagai macam kutipan lainnya.

Bagaimana drainase ditata bukan persoalan bagi pemimpin di kota ini. Mengatur sampah kota bukanlah prioritas, mengeluarkan izin untuk investasi konglomerat meski harus membabat hutan kota dan menggerus tanah hingga longsor adalah pekerjaan yang kalau bisa tidak boleh ditunda.

Permasalahan kota ini tidak berhenti pada banjir dan kemacetan semata, tidak bicara drainase yang kotor dan tersumbat, akan tetapi kita semua bicara bukan untuk hari ini saja tetapi besok atau lusa kota ini akan sama menakutnya dengan bencana banjir.

Siapa yang berani menikmati malam di kota ini tanda tanpa di ganggu oleh pemabuk, pembuat onar dan pencinta miras? Semua rakyat di kota ini tahu bahwa faktor utama pencabut nyawa di kota ini adalah miras, bahkan polisi dan serdadu pun mengatakannya demikian. Sudah banyak jargon yang diteriakan tapi tidak satu pun pemimpinnya memberikan contoh, adakah yang berani menutup pabrik miras di kota ini? Sudah barang tentu tidak, alasanya karena pabrik itu berfungsi sebagai mesin uang untuk membangun kota, selebihnya dipertahankan sebagai ciri khas kota yang cantik ini. Maka dibiarkanlah mesin uang itu untuk terus membunuh banyak rakyat dalam kota ini.

Menghormati kebebasan orang mencari nafkah adalah bagian dari cara kita menempatkan hak asasi manusia pada tempat yang baik, namum menghormatinya dengan membiarkan untuk terus menghitung  korban berjatuhan adalah naïf.

Kota yang berkembang pesat seperti kota ini, tidak hanya dapat dipimpin oleh orang yang biasa-biasa saja tetapi harus orang yang luar biasa. Tahu apa yang diinginkan oleh rakyat, tidak mondar mandir tanpa urusan yang jelas, tidak perlu bersolek dan mempercantik diri karena rakyat di kota ini sangat paham bersolek dan suka mempercantik diri demi kota yang memang benar-benar cantik. Kalau pemimpin hanya sebatas pemimpi dan pandai bersolek, angkah baiknya dia tidur lalu bermimpi menjadi pemilik rumah mode, maka kota ini akan ditinggalkan orang.

Menghadirkan Rumah Hijau

Dikota ini, banyak rumah berwarna hijau. Tidak terhitung jumlahnya, akan tetapi setelah bencana banjir bandang yang dasyat semuanya menjadi coklat. Itulah warna lumpur di musim hujan dan warna gersang di musim panas. Kota ini tidak dibangun dengan cerdas, terburu-buru dan manfaatnya sangat sedikit untuk rakyat. Pemimpinnya lebih mementingkan pertumbuhan kota secara ekonomis sementara mengenyampingkan sikap humanis. Dulunya hutan masih kita temukan di pinggiran kota, sebagian menghiasi  tengah kota walau rimbunannya tidak indah.

Tetapi sekarang rakyat bisa melihat akibat dari sebuah kota berkembang yang tidak diatur sedemikian rupa. Pemimpin tidak memiliki konsep pembangunan berbasis lingkungan, mungkin saja ada metoda dan cara semacam itu namun tidak pernah dilakukan untuk mewujudkannya. Kota ini terus saja dibangun dari batu dan besi dengan tidak memadukan konsep alami yang sederhana, akibatnya rakyat tidak lagi melihat pepohonan yang rindang, hutan kecil yang ditata dengan rapi, atau taman untuk sekedar berleha-leha meninikmati indahnya kota. Cobalah nikmati suhu udara yang semakin panas menyengat sekalipun di waktu pagi.

Penggunaan sumber daya untuk mendinginkan kota meningkat, di mana tempat kerja bos-bos pengelola kota ini tidak lagi dapat memanfaatkan udara sejuk, namun selalu menggunakan alat pendingin, inilah yang disebut tidak efisien menggunakan uang rakyat, karena ada harga mahal yang dibayar hanya untuk menikmati kesejukan yang seharusnya bisa didapat jikalau kota ini rindang dengan pepohonan.

Untuk Kota Ini
Sebagian dari kita tidak paham efek rumah kaca, tetapi rakyat tahu kalau banyak pohon rindang pasti akan ada udara yang sejuk. Oleh karenanya  rumah hijau adalah impian bagi setiap rakyat dalam kota ini, warna hijau tidak hanya menjadi corak bagi bangunan kota tetapi lebih jauh dari itu rumah hijau adalah kota tempat kediaman kita yang sejuk dengan pepohonan rindang, sehingga rakyat yang tinggal dan menjadi warga kota ini dapat menikmati kecantikan alami dari kota yang memang benar-benar cantik. Oleh karenanya baiklah mulai hari ini kita mewujudkan cita-cita  akan rumah hijau, tanamlah pohoh sebanyak yang kita mampu, sebagai rakyat dan warga kota ini teruslah berbicara untuk kemajuan kota, teruslah menjaga keamanan dan kenyamanan agar kita tidak digolongkan sebagai warga pembuat onar dalam masyarakat. Tinggalkan perbuatan terbaik kita bagi generasi mendatang dengan memilih pemimpin yang tahu bagaimana membangun kota dengan benar, agar kota yang cantik ini akan tetap dirindukan oleh banyak orang. (*)

Sumber: Tribun Manado, 8 Februari 2014 halaman 10

Konsep Water Front City, Solusi Mengelola Bantaran Sungai

Oleh Henry Roy Somba
Arsitek dan Pemerhati Tata Kota


KONSEP ini berawal dari pemikiran seorang 'urban visioner' Amerika yaitu James Rouse pada 1970-an. Saat itu kota-kota bandar di Amerika mengalami proses pengumuhan yang mengkhawatirkan. Kota Baltimore satu di antaranya. Karena itu penerapan visi James Rouse yang didukung pemerintah setempat akhirnya mampu memulihkan kota dan memulihkan Baltimore dari resesi ekonomi yang dihadapinya. Dari kota inilah konsep pembangunan kota pantai/pesisir dilahirkan.

Water front city adalah konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai, sungai, ataupun danau. Pengertian "water front" dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols, 2003). Water front city/development juga dapat diartikan suatu proses dari hasil pembangunan yang memiliki kontak visual dan fisik dengan air dan bagian dari upaya pengembangan wilayah perkotaan yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air di mana bentuk pengembangan pembangunan wajah kota yang terjadi berorientasi  ke arah perairan.

Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dalam Pedoman Kota Pesisir (2006) mengemukakan bahwa kota pesisir atau water front city merupakan suatu kawasan yang terletak berbatasan dengan air dan menghadap ke laut, sungai, danau, dan sejenisnya. Pada awalnya water front tumbuh di wilayah yang memiliki tepian (laut, sungai, danau) yang potensial, antara lain: terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan untuk minum, terletak di sekitar muara sungai yang memudahkan hubungan transportasi antara dunia luar dan kawasan pedalaman, memiliki kondisi geografis yang terlindung dari hantaman gelombang dan serangan musuh.

Prinsip perancangan water front city adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukkan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau sejenisnya. Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang dibatasi oleh air dari komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami.

Aspek yang dipertimbangkan adalah kondisi yang ingin dicapai dalam penataan kawasan. Komponen penataan merupakan unsur yang diatur dalam prinsip perancangan sesuai dengan aspek yang dipetimbangkan. Variabel penataan adalah elemen penataan kawasan yang merupakan bagian dari tiap komponen dan variabel penataan kawasan dihasilkan dari kajian (normatif) kebijakan atau aturan dalam penataan kawasan tepi air baik di dalam maupun luar negeri dan hasil pengamatan di kawasan studi (Sastrawati, 2003).

Penerapan water front city di Indonesia

Penerapan water front city di Indonesia telah dimulai pada zaman penjajahan Kolonial Belanda pada 1620. Pembangunan konsep water front diterapkan para penjajah yang menduduki Jakarta atau Batavia saat itu untuk membangun suatu kota tiruan Belanda yang dijadikan sebagai tempat bertemunya lalu lintas perdagangan. Penataan Sungai Ciliwung saat itu semata-mata hanya untuk kelancaran lalu lintas.

Pada zaman Indonesia merdeka, pembangunan yang berbasis kepada paradigma kelautan sudah didengung-dengungkan sejak terbentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan pada 1999 yang lalu. Pemicunya adalah kesadaran atas besarnya potensi kelautan dan perikanan perairan Indonesia yang secara laten terus menerus mengalami penjarahan oleh negara tetangga. Selain itu mulai berkurangnya pemasukan negara dari sektor hasil hutan dan tambang juga mejadi pemicu.

Fakta menunjukkan, sekitar 60 persen dari populasi dunia berdiam di kawasan selebar 60 kilometer dari pantai dan diperkirakan akan meningkat menjadi 75 persen pada 2025, dan 85 persen pada 2050. Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sendiri menyebutkan bahwa 166 kota di Indonesia berada di tepi air (water front). Banyaknya jumlah kota yang berada di daerah pesisir dapat menimbulkan beberapa permasalahan pada kota itu, jika tidak ditata dengan baik.
Permasalahan yang dapat ditimbulkan yaitu pencemaran, kesemerawutan lingkungan, dan sampah.

Kekumuhan lingkungan tersebut juga dapat menimbulkan masalah kriminalitas di daerah tersebut. Oleh karena itu, pembangunan kota pesisir di Indonesia harus memecahkan permasalahan tersebut. Penerapan water front city di berbagai kota di Indonesia diharapkan mampu untuk memecahkan permasalahan yang timbul akibat tidak tertatanya kota-kota pesisir yang ada.

Dampak bencana banjir di bantaran sungai dan upaya pencegahan dini
Fenomena terkini dalam dua tahun terakhir di awal 2013 dan 2014 ini, Ibu Kota Jakarta tergenang banjir. Tetapi beberapa daerah di Indonesia juga diterjang banjir dan tanah longsor, dan satu di antara daerah bencana yang tergolong parah yaitu Kota Manado dan sekitarnya. Banjir yang beruntun ini berakibat pada kerusakan lingkungan, infrastruktur dan korban jiwa, sehingga menyebabkan terhambatnya berbagai aktivitas perekonomian dan transpotasi, yang berakibat korban dan kerugian sangat besar nilainya.

Bencana tersebut dikarenakan perencanaan dan pembangunan tidak terpadu, akibat tidak seimbangnya kemampuan dan kecepatan pemerintah dalam membangun prasarana kawasan dalam mengembangkan penataan kawasan perkotaan. Ketidakmampuan koordinasi sistem tata air perkotaan dalam mengendalikan banjir, salah satunya dikarenakan kurangnya koordinasi dalam pengelolaan sumber daya air khususnya pada daerah aliran sungai yang kurang ditangani secara holistik dan profesional sehingga berakibat banjir di kawasan perkotaan. Hal ini dipicu oleh perilaku pengguna yang tidak peduli terhadap keberadaan fungsi sungai.

PBB setiap tahun memperingati 22 Maret sebagai World Water Day. Sebuah penelitian dilakukan untuk merumuskan model pengembangan water front city sebagai alternatif penataan kawasan dalam menanggulangi banjir di perkotaan melalui peningkatan peran serta masyarakat, dengan melibatkan keterpaduan antar-stakeholders secara holistik dan berkelanjutan dengan pendekatan partisipatif.

Rumusan model pengembangan water front city didasarkan pada metode panduan antara kajian laboratorium perencanaan dan perancangan tata ruang dan lingkungan perkotaan yang berbasis pada pendekatan mitigasi bencana, serta laboratorium sungai untuk penataan ulang tata air, tata ruang dan lingkungan sebagai perencanaan luapan aliran air dan area resapan yang ramah lingkungan. Konsep ini dimantapkan dengan kajian setting perilaku yang mengidentifikasi aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat dengan pendekatan partisipatif. Penataan ulang tata air, tata ruang dan lingkungan dikaji melalui pemetaan setting kawasan secara fisik empirik dan social mapping terhadap sosekbud masyarakat.

Penataan kawasan dilakukan dengan pendekatan SWOT yang dikaitkan dengan RT/RW setting lokasi kegiatan, sedangkan social mapping melalui partisipatif FGD dan PRA yang dikaitkan dengan kearifan lokal dari potensi sumber daya alam dan masyarakat. Lokasi penelitian pada kawasan daerah aliran sungai Bengawan Solo, Surakarta, sedangkan objek penelitian adalah penataan ulang tata air dan tata ruang yang berkaitan dengan apresiasi perubahan perilaku masyarakat.

Dari hasil penelitian tahun (2009) telah menghasilkan rumusan draft model pengembangan water front city sebagai alternatif penataan kawasan dalam menanggulangi banjir di perkotaan. Diawali dari pengertian akan harfiah Water front city dapat diartikan sebagai kota tepi air; atau kota yang menghadap/berhadapan dengan air. Namun demikian istilah water front city mengandung berbagai arti yang khas yang mengungkapkan sebab dan tujuannya, yaitu dapat diartikan sebagai kota yang memanfaatkan Sungai/saluran drainase sebagai sarana transportasi, rekreasi, dan sumber penghidupan lainnya.

Pengembangan water front city, akan mempunyai dampak Positif terhadap masyarakat sekitar sungai, karena masyarakat sekitar dapat manfaat dari naiknya muka air tanah, sehingga dapat dipergunakan sebagai sarana rekreasi/wisata tirta, olahraga dan alternatif transportasi. Adapun fungsi utama Water front city yaitu adanya kolam yang akan berfungsi sebagai retarding basin, yang akan meredam aliran banjir lokal sehingga berguna sebagai penampungan banjir sementara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam penerapan kebijakan, aturan dan pedoman, khususnya yang berkaitan dengan penataan kawasan yang humanis di daerah maupun perkotan.

Dengan demikian, sebagai langkah awal perlu dilakukan penelitian yang dapat menghasilkan rumusan model pengembangan Water front city sebagai alternatif menanggulangi banjir di perkotaan melalui peningkatan peran masyarakat dan kearifan lokal, sehingga terwujud city without flood

Penerapan Konsep Water Front City di Kota Manado
Kota Manado yang berada di pinggiran pantai sekaligus terletak di kawasan hilir dari sebuah sungai besar yaitu sungai Tondano, dan beberapa sungai kecil lainnya, sangat memungkinkan untuk diterapkannya konsep ini. Bencana diawal tahun ini dapat menjadi pengalaman berharga untuk secepatnya diteliti dan dipikirkan sekaligus dilakukan upaya pencegahan bencana dikemudian hari.

Beberapa masalah diidentikkan dengan banjir Manado. Mulai dari rusaknya lingkungan di wilayah hulu, pembangunan pemukiman yang sembarangan, berkurangnya daerah resapan air, buruknya system drainase adalah beberapa masalah hari ini yang menjadi pemicu terjadinya banjir. Ditambah factor prilaku masyarakat terhadap alam sekitar juga dapat menjadi pemicu. Daerah bantaran sungai yang paling sering merasakan dampak terburuk dari rusaknya lingkungan alam.

Konsep waterfront city dapat menjadi sebuah solusi mengelola salah satu titik rawan banjir yaitu bantaran sungai. Penerapan konsep ini memiliki banyak manfaat selain sebagai upaya pencegahan dari dampak banjir itu sendiri, dapat juga memberi nilai estetika, dimana biasanya daerah sungai menjadi area tersembunyi (belakang pemukiman) yang memungkinkan untuk dijadikan tempat pembuangan akhir dan yang pasti tidak terawat. Kondisi seperti ini harus segera diperbaiki oleh pihak terkait di Bumi Nyiur Melambai ini, Apalagi salah satu grand strategi Pemerintah Kota Manado Periode 2011-2015 ini, "Kawasan boulevard dan DAS Tondano menjadi waterfront city dengan infrastruktur dan fasilitas yang bertaraf internasional". Namun sayangnya point ini belum benar-benar diseriusi sehingga sampai hari ini dua kawasan yang dimaksud menurut saya masih jauh dari penerapan konsep ini.

Daerah bantaran sungai Tondano sebagian besar masih menjadi area belakang pemukiman penduduk yang tidak heran ketika awal tahun ini, intensitas curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir bandang dan memporakporandakan tatanan kehidupan masyarakat dibantaran sungai ini. Disisi lain pemanfaatan kawasan boulevard masih sepenuhnya untuk kegiatan komersil saja. Seperti di pesisir pantai dikawasan megamas dan bahu mall dijadikan pusat kuliner. Penerapan konsep waterfront city ini harus benar-benar dimengerti tujuan dan manfaatnya secara luas terhadap kota dan masyarakat.

Sumber: Tribun Manado, 28-29 Januari 2014 halaman 10

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes